Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Penyusup


__ADS_3

Lagi-Lagi bukti sudah ditemukan, Edwin dan Elvin memang mengikuti seorang wanita sesuai yang dikatakan oleh kelima berandalan yang telah mereka interogasi. Alamat Eliana pun sudah didapatkan, alamat itu sudah dikirimkan untuk Morgan.


Morgan masih berada di hotel, di mana dia menginap tapi dia tidak bisa tidur sama sekali. Berbaring tidak tenang, makan pun tidak tenang karena tidak hentinya Morgan memikirkan keadaan kedua putranya.


Apa mereka makan dengan benar? Apakah mereka tidur di tempat yang nyaman? Apakah mereka berdua baik-baik saja saat ini? Banyak pertanyaan yang muncul sehingga membuatnya tidak tenang melakukan apa pun. Kepalanya bahkan semakin terasa sakit, tubuhnya pun terasa sangat lelah akibat kurang beristirahat. Dia harap hari ini dapat menemukan kedua putranya agar dia dapat beristirahat jika tidak maka besok dia akan berakhir di rumah sakit.


Setelah menikmati segelas kopi dan sepotong roti, Morgan bergegas pergi menuju alamat yang dia dapatkan tapi sebelum itu dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk ke alamat itu terlebih dahulu dan mengintai rumah itu apakah Edwin dan Elvin benar-benar ada di sana atau tidak namun sayangnya, saat anak buahnya sudah tiba di rumah Eliana, rumah itu terlihat sepi karena Eliana sudah mengajak Edwin dan Elvin pergi.


Setelah selesai sarapan, Eliana mengajak Edwin dan Elvin pergi ke kebun binatang. Si kembar sangat senang, mereka sampai melupakan rencana mereka menangis dengan keras untuk membujuk Eliana agar mau mengikuti mereka pulang dan tinggal bersama dengan mereka karena ajakan ibu mereka.


Itu hal baru bagi mereka, sebab itu mereka sangat senang dan melupakan rencana mereka. Selama ini mereka tidak pernah pergi ke kebun binatang karena ayah mereka selalu sibuk dan tidak pernah mengajak mereka untuk bersenang-senang di luar. Ayah mereka hanya mengajak mereka makan malam saja, selain itu tidak ada yang lainnya.


Taman bermain, kebun binatang. Mereka sangat ingin menghabiskan waktu di tempat itu tapi ayah mereka tidak pernah mengajak mereka tapi sekarang, mereka bisa menikmati waktu mereka di tempat yang sangat mereka inginkan.


Tas ransel yang mereka bawa sudah penuh dengan makanan ringan juga susu untuk mereka nikmati saat berada di dalam kebun binatang. Edwin dan Elvin memegangi tangan ibu mereka dengan erat karena mereka tidak mau terpisah. Eliana juga berpesan agar mereka tidak jauh-jauh karena ramainya pengunjung di kebun binatang dan sangat berbahaya jika mereka terpisah. Tentunya Edwin dan Elvin mematuhi perkataan Eliana, oleh sebab itu mereka tidak melepaskan pegangan tangan ibu mereka.


"Jadi, apa yang ingin kalian lihat terlebih dahulu?" tanya Eliana. Mereka akan menikmati waktu mereka di sana karena banyak yang bisa mereka lakukan.


"Kami ingin naik mobil itu, Aunty," Edwin dan Elvin menunjuk ke arah mobil safari yang bisa mereka naiki untuk membawa mereka berkeliling melihat beberapa binatang buas dan beberapa binatang lainnya di alam terbuka.


"Jika begitu, ayo kita mengantri dan membeli tiketnya," ajak Eliana.


"Hore.. Kami sayang dengan Aunty," ucap Edwin dan Elvin sambil berteriak.


Eliana tersenyum, anak-anak cerdik dengan mulut yang sangat manis. Mereka benar-benar pandai mengambil simpati seseorang dan tentunya mereka sangat menyenangkan.


Edwin dan Elvin sangat tidak sabar untuk menaiki mobil safari dan melihat binatang. Mereka tidak menyesal sudah melarikan diri dari rumah karena jika mereka tidak melakukan hal seperti itu maka mereka tidak akan bisa melakukan hal menyenangkan seperti saat ini.

__ADS_1


"Aunty, maukah besok mengajak kami ke taman bermain?" tanya si kembar. Mereka sudah ke taman bermain waktu itu tapi mereka tidak bisa memainkan apa pun karena tidak ada yang mendampingi mereka.


"Apa kalian tidak mau pulang?" Eliana menatap si kembar dengan serius, entah kenapa dia merasa kedua anak itu memang tidak mau pulang.


"Tidak mau, kami mau menikmati waktu kami karena Daddy selalu bekerja dan tidak pernah mengajak kami melakukan hal menyenangkan seperti ini!" jawab Edwin.


"Benarkah? Bagaimana dengan Mommy kalian?" entah kenapa dia jadi ingin tahu akan hal ini.


"Daddy hanya peduli dengan penyihir itu saja dan kemungkinan Daddy ingin menjadikan penyihir itu sebagai Mommy kami!" ucap Elvin dengan ekspresi wajah cemberut.


"Benar, Aunty. Sebab itu kami tidak mau pulang dan ingin menghabiskan waktu kami. Jika Aunty mau ikut dan tinggal bersama dengan kami, maka kami akan pulang tapi untuk sementara waktu, kami belum mau pulang!" ucap Edwin pula.


"Baiklah, kita ke taman bermain besok!"


"Hore... Kami sayang dengan Aunty," Edwin dan Elvin tersenyum dengan lebar.


Eliana pikir mungkin saja mereka anak adopsi atau ibu mereka sudah meninggal. Dari pada berdebat dengan anak kecil yang bisa membuat mereka lari lagi sebaiknya turuti apa yang mereka mau. Setelah mereka merasa cukup, mereka pasti akan rindu dengan ayah mereka dan memilih untuk pulang.


Morgan bahkan meminta anak buahnya untuk mendobrak rumah Eliana dan menerobos masuk. Rumah Eliana pun digeledah, dua potong pakaian Edwin dan Elvin ditemukan sedang terjemur di luar.


Morgan melihat pakaian itu, benar. Itu adalah pakaian kedua putranya karena pakaian mereka selalu dibuat oleh seorang desainer ternama.


"Geledah dengan teliti!" printah Morgan.


Anak buahnya kembali mencari dengan teliti, sedangkan Morgan melangkah menuju kamar Eliana. Kamar seorang wanita, tidak ada tanda-tanda lainnya. Apakah dia harus menunggu di sana? Dia yakin wanita itu siapa pun dia pasti akan kembali dan dia harap wanita itu kembali bersama dengan kedua putranya.


"Sir, tidak ada apa pun!" lapor anak buahnya.

__ADS_1


"Pergi, tinggalkan aku sendiri tapi cari ke mana wanita itu membawa kedua putraku!"


"Yes, Sir!" para anak buahnya pergi, sedangkan Morgan berada di rumah itu menunggu kepulangan wanita yang sudah membawa kedua putranya.


Tanpa tahu ada yang menyusup ke dalam rumahnya, Eliana masih bersenang- senang dengan si kembar dan tentunya dia masih memancing mereka berdua untuk mengatakan di mana alamat rumah mereka.


"Apa kalian senang hari ini?" tanya Eliana.


"Tentu saja, Aunty. Setelah ini kami mau melihat burung," ucap Edwin.


"Rumah burung biasanya besar, apakah rumah kalian besar?" Eliana mulai memancing.


"Tentu saja besar, sebab itu Aunty tidak akan menyesal jika tinggal dengan kami," jawab Elvin.


"Wah, Aunty jadi penasaran. Sekarang katakan di mana rumah kalian agar kita bisa pergi melihat rumah kalian yang besar."


"Kami belum ingat, Aunty. Setelah Aunty membawa kami ke taman bermain dan setelah Aunty berjanji akan tinggal dengan kami mungkin kami akan langsung ingat."


Eliana terkekeh dan menghampiri kedua putranya. Sudah dia duga jika kedua anak itu ingat di mana mereka tinggal dan berpura-pura tidak tahu.


"Berbohong itu tidak baik, Sayang. Tapi Aunty tetap akan mengajak kalian ke taman bermain besok dan setelah itu, Aunty harap kalian mau mengatakan di mana rumah kalian. Apa kalian tidak merindukan ayah kalian?"


Edwin dan Elvin tidak menjawab, mereka berdua tampak menunduk dengan ekspresi sedih.


"Tidak perlu sedih," kepala Edwin dan Elvin diusap, "Kita datang ke sini untuk bersenang-senang, bukan? Jadi ayo kita lihat burung setelah ini," ucapnya lagi.


"Hm, kami juga ingin memberi makan binatang!" jawab Elvin.

__ADS_1


"So, let's go!" ajak ibunya. Mereka berteriak senang dan turun dari mobil yang sudah berhenti karena mereka akan melakukan petualangan berikutnya.


Eliana dan kedua putranya bersenang-senang, sedangkan Morgan menunggu mereka kembali dalam keadaan cemas dan dia pun tidak tahu jam berapa wanita itu membawa kedua putranya kembali. Menunggu bukanlah hal yang menyenangkan namun anak buahnya melaporkan jika wanita itu membawa Edwin dan Elvin ke kebun binatang dan tanpa membuang waktu karena dia sudah tidak tahan, Morgan segera pergi ke sana untuk mendapatkan kedua putranya dan membawa mereka kembali.


__ADS_2