
Eliana ketakutan di kamar mandi, dia tahu Morgan tidak bercanda apalagi pria itu pria pendendam. Morgan pasti serius untuk membalas benjolan di dahi akibat jam weker yang dia lemparkan. sekarang dia harus melarikan diri karena Morgan sedang tidak ada.
Morgan memang meninggalkan Eliana di kamar mandi karena dia ingin mengambilkan baju ganti untuk Eliana yang sudah dia siapkan sebelumnya. Morgan berdiri di depan lemari yang sudah terbuka, tatapan matanya tidak lepas dari gaun tipis yang menerawang juga pakaian dalam super seksi yang hampir tidak menutupi apa pun itu. Pakaian itu sengaja disiapkan untuk menggoda Eliana namun Eliana tidak menyentuhnya tapi malam ini, sepertinya dia bisa membuat Eliana menggunakan gaun malam tipis dan pakaian dalam seksi tersebut.
Seringai menghiasi wajah, pakaian itu pun diambil. Morgan segera keluar dari kamar Eliana, jangan sampai Eliana menunggu lama dan jangan sampai kedua putranya sudah bangun saat dia sedang bersenang-senang sehingga kesenangannya terganggu.
Eliana melarikan diri dengan merangkak, dia sudah keluar dari kamar mandi. Dia harus lari, jangan sampai Morgan bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan karena dia tidak sudi. Eliana sudah hampir mencapai pintu namun pada saat itu, pintu kamar terbuka. Eliana terkejut, Morgan menatapnya dengan tajam karena Eliana hendak kabur.
"Apa yang kau lakukan, Eliana?" Morgan melangkah masuk dan mengunci pintu kamarnya.
"Ja-Jangan macam-macam, Morgan!" Eliana memundurkan tubuhnya, dia harus bisa melarikan diri dari kamar itu.
"Aku tidak akan melakukan apa pun, aku hanya meminta imbalan dan membalas perbuatanmu saja!" Morgan melemparkan pakaian yang dia ambil ke atas ranjang.
"Kau gila! Apa aku harus memberikan tubuhku sebagai imbalan atas bantuan yang kau berikan?" teriak Eliana marah.
"Apa kau lebih suka menyerahkan tubuhmu pada pria tua itu dari pada aku?"
"Ti-Tidak, aku tidak sudi menyerahkan tubuhku pada pria menjijikkan itu!" jawab Eliana.
"Bagus, jika begitu seharusnya kau bersyukur karena pria tampan dan gagah seperti aku yang menggantikan pria tua jelek itu!" Morgan tersenyum, Eliana semakin ketakutan apalagi Morgan melangkah mendekatinya.
"Ja-Jangan mendekat, Morgan!" Eliana memundurkan tubuhnya kembali karena Morgan semakin mendekat.
"Kau tidak bisa lari, Eliana. Aku ingin menikmati waktu kita berdua di dalam kamar mandi!"
"Tidak, jangan!" teriak Eliana yang segera berbalik dan merangkak cepat menuju pintu namun sialnya, Morgan sudah meraih pinggangnya dan membawanya menuju kamar mandi.
"Lepaskan aku, Morgan. Lepaskan!" teriak Eliana sambil memberontak.
"Kali ini kau tidak akan bisa lari, Eliana."
__ADS_1
"Edwin, Elvin, tolong Mommy!" Eliana berteriak memanggil kedua putranya, berharap si kembar mendengar dan masuk ke dalam untuk menolongnya.
"Sayang sekali, mereka sedang tidur!" Morgan tersenyum penuh kemenangan.
"Lepaskan, aku tidak mau!" Eliana masih terus meronta. Kedua tangan memukul. Jika kedua kakinya tidak sakit, sudah dia tendang Morgan saat ini. Semua gara-gara ibu tirinya, jika kedua kakinya sudah sembuh dan dia bertemu dengan ibu tirinya di jalan maka dia akan menginjak kedua kakinya.
Pintu kamar mandi pun tertutup, teriakan Eliana pun tak henti terdengar. Dia berusaha melawan, berusaha mencegah Morgan melepaskan gaun pengantin yang dia gunakan dan berusaha menghentikan pria itu namun usahanya sia-sia.
Guan pengantinya sudah terlepas, Eliana memaki dan mengumpati Morgan namun pria itu tidak peduli. Eliana begitu kesal, rasa malu dan amarah campur aduk apalagi yang dia kenakan saat itu hanya pakaian dalam bagian bawahnya saja. Kedua tangan menutupi dada, Eliana memalingkan wajahnya karena dia tidak mau melihat ke arah Morgan.
"Aku hanya membantumu mandi, tidak akan melakukan apa pun!" ucap Morgan karena dia hanya menggoda Eliana saja.
"Aku tidak perlu bantuan darimu!" ucap Eliana sinis.
"Ayolah, kau tidak bisa sendirian. Aku tidak akan melakukan apa pun. Tdak, belum. Jadi jangan takut."
"Apa maksudmu belum?" tanya Eliana heran.
"Sepertinya kau tipe orang yang bisa melakukan se*ks dengan siapa saja sekalipun tanpa adanya perasaan!" cibir Eliana.
"Se*ks adalah kebutuhan, terkadang memang harus dilakukan tanpa perlu melibatkan perasaan!"
"Jadi benar kau melakukan hal seperti itu?" Eliana menatapnya dengan tajam, dia juga melakukannya namun dengan sebuah alasan.
"Apa aku terlihat seperti itu?" Morgan balik bertanya.
"Aku takut membayangkannya!" Eliana kembali membuang wajah.
"Di negara bebas ini, apa ada yang begitu suci, Eliana?" tanya Morgan.
"Entahlah, aku tidak suka menilai orang lain karena aku juga tidak suci!" jawab Eliana.
__ADS_1
"Apa kau pernah memiliki kekasih sebelumnya?" tanya Morgan, dia sungguh ingin tahu akan hal ini.
Eliana diam,dia tidak menjawab karena dia merasa Morgan sudah mulai menanyakan sesuatu yang menyangkut kehidupan pribadinya.
"Kenapa diam saja?" Morgan berjongkok di depan Eliana dengan sebuah handuk basah.
"Jangan terlalu banyak tahu karena kau akan semakin penasaran!"
"Jadi aku tidak boleh tahu lebih banyak tentangmu?"
"Tidak, Morgan. Aku tidak suka ada yang tahu kehidupanku!"
"Sekalipun itu aku?"
"Yeah!" Eliana mengambil handuk basah yang ada di tangan Morgan dan kembali berkata, "Kita tidak memiliki hubungan apa pun jadi keluarlah. Tidak baik seorang wanita dan pria berada di dalam kamar mandi yang sama apalagi dalam keadaanku yang seperti ini. Aku tahu kau mau membantu, aku sangat berterima kasih tapi aku bukan kekasihmu dan kau juga bukan kekasihku. Aku memang sudah tidak suci tapi aku tidak akan mau melakukan se*ks tanpa adanya perasaan cinta!"
"Jika begitu, apakah kau mau menjadi kekasihku, Eliana?" tanya Morgan.
"Pertanyaan yang kau berikan ini, apakah karena kau menyukai aku ataukah kau meminta hal demikian karena kau hanya ingin bermain se*ks denganku saja?"
Morgan diam, tidak menjawab pertanyaan Eliana. Mereka berdua saling pandang, Morgan menatap ke dalam mata Eliana, seperti ingin mencari sesuatu di sana. Eliana pun tidak berpaling namun pada akhirnya Morgan beranjak dan melangkah menuju pintu kamar mandi.
"Panggil aku jika kau sudah selesai," ucapnya.
"Terima kasih!" ucap Eliana.
Morgan keluar dari kamar mandi, Eliana bernapas lega. Akhirnya dia bisa membuat pria itu keluar. Meski dia tidak tahu kenapa Morgan tidak menjawab pertanyaan yang dia lontarkan tapi dia tahu, Morgan hanya menginginkan tubuhnya saja untuk balas dendam atau mungkin untuk melampiaskan hasratnya saja.
Setelah keluar dari kamar mandi, Morgan melihat pakaian minim yang ada di atas ranjang. Apa yang dia pikirkan? Baju itu pun diambil dan dibuang ke dalam tong sampah. Jika dia memberikan baju itu pada Camella, maka Camella akan menggunakannya dengan senang hati tapi Eliana? Dia tahu Eliana tidak akan sudi.
Morgan keluar dari kamar untuk mengambil gaun tidur Eliana yang memang pantas dia kenakan. Kini dia pun berlaku sopan dengan mengetuk kamar mandi. Wanita yang berbeda, harus diperlakukan dengan berbeda pula. Entah kenapa dia jadi seperti itu. yang pasti dia tidak mau Eliana membenci dirinya dan menganggap jika dia menginginkan Eliana sebagai pelampiasan hasratnya saja.
__ADS_1
Tiba-Tiba dia jadi peduli dengan hal demikian dan wanita yang sedang mengenakan sebuah handuk itu, dengan senyuman manisnya tiba-tiba membuatnya merasakan debaran aneh, debaran yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Sial, jangan katakan dia mulai mengidap penyakit jantung akibat usianya yang sudah tidak muda lagi.