
Bayi bau, julukan itu sudah melekat pada bayi Eleanor Barnest tapi meski begitu, Eleanor sangat disayangi oleh kedua kakaknya. Edwin dan Elvin akan menjaga adik mereka setelah pulang sekolah. Yang mereka cari pertama kali pasti adik mereka yang manis.
Berkat mereka, Eliana bisa mengerjakan apa yang hendak dia kerjakan seperti menyiapkan sesuatu untuk putrinya. Eleanor sedang berbaring di atas ranjang, Edwin dan Elvin berbaring di sisi kanan dan sisi kiri adik mereka yang manis.
Edwin dan Elvin tak henti memandangi wajah Eleanor, terkadang mereka memegangi tangan kecil sang adik yang manis.
"Kakak, jika ada laki-laki yang mau dekat dengan adik bau, aku akan pasang badan duluan!" ucap Elvin.
"Jangan, kau masih cengeng. Bagaimana jika kau mendapat sebuah pukulan nantinya? Kau pasti akan menangis dan berlari pulang."
"Tidak, aku sudah tidak cengeng dan aku kuat!" ucap Elvin seraya memperlihatkan kedua otot lengannya.
"Kau kuat dalam menangis!" ucap Edwin.
"Tidak, aku sudah tidak cengeng!" teriak Elvin tidak terima.
"Kau masih cengeng jadi biar aku saja yang maju," teriak Edwin.
"Aku juga mau maju, kakak. Jadi biarkan aku maju juga," rengek Elvin.
"Apa yang sedang kalian bahas, Boys?" tanya Eliana yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Kami ingin menjaga adik bau dari pria jahat, Mom!" jawab Elvin.
"Wah, siapa yang mau mengganggu adik kalian?"
"Jika ada pria jahat yang hendak mengganggu adik bau maka kami akan memukulnya!" ucap Elvin sambil tersenyum lebar.
"Bagus, tapi jangan memanggil adik kalian sebagai adik bau jika di luar nanti karena Eleanor akan malu dan marah pada kalian. Mengerti?"
"Mengerti, Mom. Itu julukan yang hanya boleh kami sebutkan saja!" ucap Edwin.
"Adik bau!" teriak Elvin sambil menutup.
__ADS_1
"Benar, adik begitu bau!" Edwin pun menutup hidung.
"Eleanor habis minum susu," Eliana menggendong putri kecilnya yang memang bau.
"Kenapa adik bayi hanya makan dan tidur saja, Mom?" tanya si kembar.
"Anak bayi memang seperti itu, Sayang."
"Benarkah?" tanya kedua putranya lagi.
"Yes, tunggu di sini. Mommy harus membersihkan Eleanor sebentar."
"Baik, Mom," jawab Edwin dan Elvin.
Eliana membawa putrinya ke kamar mandi, Edwin dan Elvin berbaring di atas ranjang sambil membicarakan sesuatu. Eliana sedang sibuk dan setelah putrinya sudah bersih, dia pun keluar dari kamar mandi. Eliana menghampiri ranjang dan tersenyum melihat kedua putranya yang sudah tertidur.
Edwin dan Elvin pasti kelelahan, apalagi mereka baru pulang sekolah. Eliana membaringkan putrinya di atas ranjang karena dia ingin menyusui putrinya yang sedang lapar. Beruntungnya ranjang itu besar, sehingga mereka bisa berbaring bersama.
Eliana bahkan tertidur tanpa sadar, tangan yang melingkar di pinggang dan sebuah ciuman yang mendarat di pipi mengejutkan dirinya. Eliana terbangun, senyuman menghiasi wajah saat melihat wajah suaminya.
"Kenapa sudah kembali?" tanyanya.
"Aku merindukan kalian, Eliana," Morgan kembali mencium pipi istrinya.
"Bukankah kita setiap hari bertemu?"
"Hm, tapi aku tidak bisa berjauhan dari kalian. Apa kau tahu kenapa?" tanya Morgan.
"Karena kau suamiku dan ayah dari anak-anakku," jawab Eliana.
"Yes, tapi bukan itu saja. Aku tidak ingin berjauhan dari kalian karena kalian begitu berharga bagiku," ucap Morgan.
Eliana kembaliĀ tersenyum karena dia benar-benar bahagia. Sekarang dia pun sudah mempercayai Morgan. Eliana berbalik dan memeluk suaminya, sepertinya sudah saatnya membuang surat perjanjian itu.
__ADS_1
"Terima kasih," ucapnya.
"No, akulah yang berterima kasih," Morgan memberikan ciuman di dahi istrinya.
Eliana menetapkan hati, dia benar-benar yakin untuk membuang surat perjanjian mereka.
"Mengenai surat perjanjian yang kita sepakati," ucapnya.
"Kenapa?" tanya Morgan.
"Aku rasa sudah saatnya aku membuang surat itu."
"Apa kau sudah mempercayai aku, Eliana?"
"Yeah, aku sudah melihat ketulusanmu. Maafkan jika aku tidak percaya padamu selama ini."
"Sudahlah, tetap simpan surat itu. Aku tidak keberatan."
"Tidak, Morgan. Akan aku buang nanti. Sebagai suami istri, kita memang harus saling mempercayai," ucap Eliana.
"Aku senang mendengarnya, Eliana," Morgan memeluk Eliana dengan erat dan kembali mencium dahinya. Kedua mata Eliana terpejam, tidak ada keraguan lagi karena dia mempercayai Morgan. Mereka tidak mengatakan apa pun lagi namun kebersamaan mereka sudah menunjukkan jika mereka berdua sudah saling mencintai.
"Mommy," Edwin yang terbangun memanggil.
"Kemarilah," pinta Eliana.
"Daddy sudah pulang," ucap Elvin pula yang sudah terbangun juga.
Edwin dan Elvin menghampiri ayah dan ibu mereka dan berbaring bersama. Morgan dan Eliana memeluk kedua putra mereka, Eliana dan Morgan pun saling pandang sambil tersenyum. Di sanalah mereka, dengan keluarga kecil mereka dan tentunya mereka berdua bahagia.
End
Sekali lagi terima kasih ya, Guys. Jangan lupa untuk mampir di karya baru, di tunggu.
__ADS_1