Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Tiga Pria Yang Mengincar


__ADS_3

Eliana merasa sedang diincar. Di berjalan ke kiri, mata Morgan mengikuti. Eliana ke sebelah kanan, tatapan mata Morgan juga mengikutinya. Eliana jadi merasa tidak nyaman, sebisa mungkin Eliana menghindari kontak mata dengan Morgan.


Morgan melakukan hal itu tanpa sadar, dia sendiri tidak tahu kenapa dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Eliana. Sebab itulah tatapan matanya selalu mengikuti ke mana pun Eliana pergi. Morgan tidak menyadari jika tindakannya itu membuat Eliana takut. Eliana bahkan melotot ke arahnya saat meletakkan dua piring makanan yang baru saja dia buat.


"Kenapa kau melihat aku seperti itu?" tanya Eliana sinis.


"Melihatmu? Jangan terlalu percaya diri, aku tidak melihatmu!" elak Morgan.


"Kau melihatku tiada henti, bagaimana mungkin kau berkata tidak melihatku?!"


"Ck, aku hanya melihat dapur ini saja jadi jangan terlalu percaya diri!"


"Sebaiknya kau pergi melihat Edwin dan Elvin apakah mereka sudah mandi atau tidak!"


"Mereka sudah besar, mereka bisa mandi sendiri," Morgan tersenyum, ternyata menyenangkan berdebat seperti itu.


Eliana benar-benar kesal, dia sedang menyiapkan makan malam untuk Edwin dan Elvin saat itu tapi Morgan, justru berada di dapur dan mengganggu pemandangan.


"Jika kau memang senang berada di sini, maka aku yang akan keluar. Kau bisa melanjutkannya!" Eliana hendak pergi, namun Morgan meraih tangannya sehingga langkah Eliana terhenti.


"Jangan pergi, aku hanya ingin berbincang denganmu saja," ucapnya.


"Sepertinya tidak ada yang perlu kita bincangkan!"


"Tentu ada, aku ingin tahu tentang dirimu, Eliana. Kau tidak keberatan, bukan?"


"Tidak ada yang spesial jadi kau tidak perlu tahu!" Eliana menepis tangan Morgan dan kembali membuat makanan.


"Apa harus ada yang spesial terlebih dahulu baru aku boleh mengenal dirimu lebih jauh?" Morgan juga melangkah mendekat dan berdiri di sisi Eliana.


"Yeah, jadi jangan banyak bertanya!"


"Jika begitu, apa kau tidak mau mengenal aku?"


Eliana berpaling, menatap pria itu dengan tatapan heran. Kenapa Morgan bertanya demikian? Apakah mereka harus saling mengenal? Tidak, dia tidak mau ada yang tahu akan kehidupannya jadi lebih baik mereka tidak saling mengenal dan dia pun tidak mau tahu apa pun tentang Morgan.


"Tidak!" jawab Eliana seraya melangkah pergi.


"Kenapa, Eliana? Kenapa kau bersikap begitu dingin padaku?"

__ADS_1


"Aku memang selalu seperti ini dan asal kau tahu, aku bukan orang yang suka berbasa basi apalagi dengan pria sehingga menimbulkan kesalahpahaman. Aku berada di sini karena kedua putramu, bukan untuk mengejar dirimu jadi aku akan bersikap selayaknya orang yang menumpang. Aku harap kau segera menikah sehingga aku bisa pergi dari sini."


"Apa kau begitu tidak menyukai aku?"


"Stop melontarkan pertanyaan yang bisa membuat orang salah paham, Morgan. Kenapa kau bertanya demikian padaku? Apa kau menyukai aku?" Eliana menatapnya tajam, Morgan tidak menjawab sama sekali.


"Jika tidak maka jangan melontarkan pertanyaan yang bisa membuat aku salah paham!" setelah berkata demikian, Eliana berlalu pergi.


Morgan masih berdiri di tempatnya, apa dia menyukai Eliana? Entah kenapa pertanyaan itu menjadi pertanyaan yang harus dia temukan jawabannya. Apa benar dia menyukai Eliana ataukah dia hanya penasaran saja karena Eliana adalah wanita pertama yang sudah begitu berani menolak dirinya.


Eliana masuk ke dalam kamar karena dia ingin mandi. Seperti yang Morgan katakan, semua sudah disediakan. Pakaian yang dia butuhkan sudah berada di dalam lemari. Dia tidak akan berterima kasih akan hal itu, tidak sama sekali karena dia tidak meminta dan pria itu yang mau menyiapkannya.


Edwin dan Elvin sudah selesai mandi, mereka berlari keluar menuju meja makan untuk mencari ibu mereka namun di sana hanya ada ayah mereka saja yang sedang termenung seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa dengan Daddy?" tanya mereka.


"Boys, apa kalian benar-benar menyukai wanita itu?"


"Tentu saja, kenapa Daddy bertanya demikian?" tanya Edwin.


"Jadi Daddy tidak boleh bertanya?"


"Sepertinya tidak, Kak. Daddy lebih tertarik dengan penyihir itu," ucap Elvin.


"Sepertinya Daddy lebih menyukai bibir tebalnya!" ucap Edwin pula.


"Selera Daddy memang payah!" ucap si cengeng lalu dia dan kakaknya tertawa.


"Stop tertawa, kalian belum dewasa jadi tidak mengerti!"


"Jika aku sudah dewasa, maka aku akan jatuh cinta pada Mommy di bandingkan penyihir itu."


"Benar, hanya pria bodoh yang tidak akan jatuh cinta pada Mommy."


"Jadi kalian mengira aku bodoh?" Morgan tampak tidak senang.


"Bukan begitu, Daddy pasti akan menyesal jika tiba-tiba ada yang mendekati Mommy!"


"Jangan sampai hal itu terjadi, Dad!" teriak kedua putranya yang sudah berlari menuju kamar di mana ibunya berada.

__ADS_1


Morgan menggeleng, dia pun beranjak dan melangkah menuju kamarnya. Suara kedua putranya yang heboh terdengar, Morgan menghentikan langkah, untuk mendengar pembicaraan kedua putranya. Suasana seperti inilah yang dia inginkan, tapi jika dia menginginkan kedua putranya selalu seperti itu maka dia harus membuat Eliana tinggal. Selain menjadikan Eliana sebagai istri, apa ada yang lain?


Morgan kembali melangkah sambil menghela napas, apakah dia menyukai Eliana? Lagi-Lagi pertanyaan itu muncul karena dia tidak tahu apakah dia hanya penasaran saja dengan Eliana ataukah memang dia menyukai wanita itu. Tiba-Tiba dia jadi pusing sendiri dan dia tidak menyukai hal itu. Ini kali pertama dia harus memikirkan perasaan. Biasanya jika dia mau dengan wanita itu maka dia akan menjalin hubungan karena dia akan berhenti setelah bosan tapi entah kenapa, hari ini untuk pertama kali dia harus berpikir mengenai sebuah perasaan, apakah dia suka atau tidak.


Morgan masuk ke dalam kamar untuk mandi dan tidak lama kemudian Eliana dan si kembar keluar dari kamar. Mereka menuju dapur karena mereka ingin makan malam bersama.


"Mommy, apa Mommy tidak menyukai Daddy?" tanya Edwin.


"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Eliana pula.


"Kami ingin tahu, apa Daddy kami yang tampan kurang menarik bagi Mommy?" tanya Elvin.


Eliana tersenyum dan mengusap kepala Edwin juga Elvin. Mereka masih kecil, dia rasa dia tidak perlu menjawab pertanyaan yang tidak mereka mengeri.


"Mommy akan siapkan makanan untuk kalian," ucap Eliana seraya melangkah pergi.


Edwin dan Elvin saling pandang, lalu mereka turun dari kursi dan berjongkok di bawah meja. Mereka melihat ke arah ibu mereka yang sedang sibuk lalu mereka mulai berbisik.


"Bagaimana ini, Kak. Sepertinya Mommy tidak menyukai Daddy."


"Kau benar, jika terus seperti ini maka Mommy akan pergi dari kita."


"Apa yang harus kita lakukan, Kak?" si cengeng menatap kakaknya dengan serius.


"Sepertinya kita harus menyatukan  Mommy dan Daddy," jawab kakaknya.


"Caranya?"


Si kembar mengintip dan melihat ibu mereka yang sudah akan kembali dengan dua piring makanan.


"Nanti kita bahas hal ini lagi, jangan sampai Mommy curiga" ucap Edwin.


Elvin pun mengangguk, mereka kembali duduk sebelum Eliana berbalik. Mereka tersenyum dengan manis saat ibu mereka kembali membawa makanan namun Eliana kembali pergi untuk mengambil beberapa piring  juga sendok dan garpu.


"Edwin, Elvin," tiba-tiba ayah mereka sudah berada di belakang dan berbisik di telinga mereka, "Setelah makan datang ke kamar Daddy," ucap Morgan lagi.


Edwin dan Elvin mengangguk, Morgan mengacak rambut kedua putranya. Mereka memang paling bisa diajak bekerja sama. Morgan duduk bersama dengan kedua putranya, tatapan mata mereka tidak berpaling dari Eliana yang sedang sibuk. Eliana merasa menjadi pusat perhatian dan benar saja, ketiga pria tampan itu seperti mengincar dirinya.


Eliana memandangi mereka dengan tatapan heran, entah kenapa dia jadi merasa seperti berada di sarang penyamun yang sedang mengincar dirinya.

__ADS_1


__ADS_2