
Cemella menghabiskan waktunya di salon, dia harus berpenampilan cantik hari ini agar Morgan semakin tertarik dengannya. Malam ini dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan. tidur dengan Morgan adalah tujuan utama agar dia bisa memiliki bayi dari Morgan.
Dia yakin tidak akan ada yang bisa menyingkirkan dirinya setelah dia mengandung anak Morgan. Malam ini dia juga berniat berbicara dengan Eliana. Dia harus mengusir wanita tidak tahu diri itu pergi dari rumah itu agar wanita itu tidak mengganggu hubungannya dengan Morgan tapi malam ini, Morgan mengundangnya untuk mengakhiri hubungan mereka.
Penampilan sudah rapi, Camella tampak begitu percaya diri dengan kecantikan yang dia miliki. Ayam kalkun yang akan dia bawa sudah dia beli, sekarang saatnya berangkat ke rumah Morgan. Malam ini akan menjadi malam yang berarti baginya, yeah... malam yang berarti.
Suasana rumah Morgan juga terlihat aneh, suasana terasa suram. Edwin dan Elvin sangat heran karena ayah dan ibu mereka tidak berbicara satu kata pun sedari tadi. Eliana selalu berada di dalam kamar, dia lebih nyaman berada di sana. Morgan pun tidak masuk ke dalam kamarnya lagi, dia juga lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarnya.
"Kakak, apa yang terjadi dengan Mommy dan Daddy?" tanya Elvin. Mereka berdua sedang bermain di luar.
"Aku tidak tahu, mungkin saja Mommy masih sakit," jawab Edwin.
"Tidak mungkin, Mommy sudah terlihat baik-baik saja tadi. Sepertinya terjadi sesuatu antara Mommy dan Daddy tanpa kita ketahui."
"Jika begitu ayo kita cari tahu," Edwin beranjak, begitu juga dengan adiknya. Mereka segera berlari menuju kamar Eliana dan masuk ke dalam. Eliana sedang berbaring tapi dia tidak tidur karena dia sedang memikirkan banyak hal.
"Mommy, apa Mommy masih sakit?" Edwin dan Elvin mendekati ibu mereka dan naik ke atas ranjang. Tangan mereka pun berada di dahi Eliana, untuk mengukur suhu tubuh Eliana.
"Mommy baik-baik saja, tidak perlu khawatir."
"Lalu apa yang terjadi antara Mommy dan Daddy?"
"Tidak terjadi apa pun, ada apa?"
"Mommy bohong," ucap Edwin.
"Benar, pasti terjadi sesuatu jika tidak Mommy dan Daddy tidak mungkin seperti ini!" ucap Elvin pula.
"Tidak terjadi apa pun pada kami, Sayang. Mommy hanya ingin berbaring dan Daddy kalian sedang sibuk jadi tidak terjadi apa pun pada kami."
"Mommy tidak berbohong?" tanya si kembar. Mereka curiga sudah terjadi sesuatu apalagi orang dewasa suka berbohong untuk menghindari sesuatu.
"Yes, apa yang kalian lakukan sedari tadi?" tanya Eliana.
"Kami bermain, apa Mommy mau menemani kami bermain?"
__ADS_1
"Tentu saja, ayo kita bermain," Eliana beranjak, mungkin ini akan menjadi terakhir kali dia bermain dengan mereka berdua.
Edwin dan Elvin sangat senang, mereka curiga telah terjadi sesuatu tapi mereka akan mencari tahu nanti. Eliana pun keluar untuk menemani mereka bermain. Walau singkat berada di sana tapi dia memiliki pengalaman sehingga apa yang harus dia lakukan jika dia sudah bertemu dengan kedua putranya.
Mereka bermain bersama, suara teriakan Edwin dan Elvin terdengar. Morgan dapat mendengarnya, sepertinya dia harus memisahkan mereka agar kedua putranya tidak terlalu dekat dengan Eliana lagi. Selama berada di dalam ruangannya dia telah mengambil keputusan untuk meminta Eliana pergi dari rumah mereka.
"Edwin, Elvin," Morgan memanggil kedua putranya setelah dia keluar tapi dia berdiri di depan pintu saja.
"Ada apa, Dad?" tanya si kembar.
"Kemarilah, ada yang hendak Daddy bicarakan dengan kalian!"
"Pergilah," ucap Eliana.
"Kami akan segera kembali, Mom," Edwin dan Elvin segera berlari menghampiri ayah mereka.
Eliana memandangi mereka sampai mereka masuk ke dalam kamar. Mainan pun dirapikan, setelah ini dia akan kembali masuk ke dalam dan tidak akan bergabung dengan mereka untuk makan malam. Eliana masih sibuk merapikan mainan si kembar saat pintu rumah dibuka dan Camella masuk ke dalam.
Eliana melihat ke arah pintu, Camella pun melihat ke arahnya. Sungguh kebetulan, dia memang ingin berbicara dengan wanita itu secara pribadi. Camella melangkah masuk, dia juga melihat sekitar. Benar-Benar kebetulan yang luar biasa karena tidak ada Morgan dan kedua putranya.
"Ternyata kau sangat tahu posisimu di rumah ini, kau benar-benar sangat cocok menjadi pembantu," ucap Camella mencibir.
"Apa kau tidak mendengar aku?" tanya Camella.
"Aku dengar tapi maaf, aku tidak mau mencari perkara dengan siapa pun."
"Sebaiknya kau pergi dari rumah ini, kau hanya orang asing yang tidak penting. Jangan mengganggu hubunganku dengan Morgan jadi segeralah pergi!" ucap Camella sinis. Dia harap Eliana segera pergi.
Eliana beranjak dan tersenyum, dia memang sudah akan pergi. Dia tidak akan mencari perkara pada siapa pun karena dia hanya orang asing yang kebetulan lewat saja.
"Dia milikmu, aku tidak merebutnya karena aku memang sudah akan pergi!" setelah berkata demikian, Eliana berlalu pergi dan masuk ke dalam kamar. Dia semakin yakin untuk segera pergi demi kebaikan mereka semua.
"Bagus jika kau sadar, kau memang harus segera pergi dari tempat ini dan jangan kembali lagi!" Camella mendengus, dia menang. Walau kedua putra Morgan menyukai wanita itu tapi dia tetap akan menjadi pemenangnya.
Eliana masuk ke dalam kamar, sedangkan Camella melangkah menuju dapur untuk meletakkan ayam kalkun yang dia bawa. Malam ini adalah malamnya, wanita itu tidak boleh mengganggu dan berada di antara mereka.
__ADS_1
"Morgan, aku sudah datang!" teriaknya.
"Oh tidak, penyihir sudah datang!" teriak Edwin dan Elvin.
"Ingat, jangan terlalu nakal!" ayahnya mengingatkan.
"Tentu saja tidak, Dad," Edwin dan Elvin segera berlari keluar dari ruangan. Morgan pun melangkah keluar, tentunya Camella sangat senang melihat kekasihnya yang tampan sedang melangkah mendekatinya.
"Morgan, aku sudah membelikan hadiah untukmu," Camella mengangkat benda yang dia bawa, "Aku membelikan bantal baru untukmu," ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Tidak butuh, bawa itu kembali," Morgan melangkah melewatinya dan cuek saja.
"Apa, kenapa?" Camella mengejar, dia akan tetap memberikan bantal itu sampai Morgan mau.
"Sudah aku katakan tidak butuh, Camella. Jangan membuat aku kesal."
"Baiklah, aku bawa makanan yang akan kita nikmati bersama. Mana kedua putramu? Kita bisa makan bersama."
"Kami di sini, Aunty," Edwin dan Elvin sudah berdiri tidak jauh dan tersenyum manis.
"Oh, anak-anak yang manis," dia rasa kedua anak itu akan menyukai dirinya kelak.
"Aku akan memanggil Mommy," ucap Edwin.
"Tidak perlu, Edwin. Biarkan dia tidur!" ucap Morgan.
"Tapi, Dad?" Edwin dan Elvin menatap ayah mereka dengan tatapan heran. Kenapa mereka tidak boleh memanggil ibu mereka? Sepertinya dugaan mereka tidaklah salah, pasti telah terjadi sesuatu pada ayah dan ibu mereka.
Camella bersorak dalam hati, sepertinya Morgan tidak menyukai wanita itu. Jika demikian maka tidak akan ada yang mengacaukan kebersamaan mereka dan dia yakin, sebentar lagi Morgan akan menendang wanita itu pergi.
"Kami mau mengajak Mommy makan!" Edwin dan Elvin berlari menuju kamar di mana ibunya berada. Eliana sedang tidur saat mereka masuk. Dia memang sengaja karena dia tidak mau bergabung dengan mereka dan merusak suasana.
"Mommy sedang tidur, Kak," ucap Elvin.
"Sepertinya Mommy masih kurang sehat, sebaiknya kita tidak mengganggu Mommy."
__ADS_1
"Kakak benar, ayo kita beri pelajaran pada penyihir itu agar dia tidak kembali lagi!"
Si kembar berlari keluar, saatnya mengerjai penyihir itu agar dia tidak kembali lagi untuk mengganggu ayah mereka. Camella tersenyum manis saat Edwin dan Elvin kembali tanpa adanya Eliana tapi malam sialnya, sebentar lagi akan dimulai.