
Cctv sudah diaktifkan kembali tanpa ada yang tahu. Sebuah cctv juga disembunyikan di dalam kamarnya dan kamar kedua putranya. Kamar Eliana pun tidak luput, dia harus melihat semua yang terjadi di rumah. Tentunya tidak ada yang tahu akan hal itu, kedua putranya pun tidak karena Morgan memasangnya saat semua orang sedang terlelap.
Pagi itu, Edwin dan Elvin bangun lebih pagi karena mereka harus pergi ke sekolah. Si kembar berlari menuju kamar ayahnya karena mereka tahu, ayah dan ibu mereka ada di kamar itu. Tidak ada teriakan, mereka bahkan meletakkan jari ke bibir agar tidak ada yang bersuara di antara mereka. Pintu kamar bahkan dibuka dengan perlahan lalu ditutup dengan perlahan pula.
Eliana masih tertidur di dalam pelukan Morgan yang hangat. Edwin dan Elvin naik ke atas ranjang dengan perlahan dan membangunkan ayah mereka. Morgan meletakkan jari ke bibir, agar mereka tidak berisik sehingga membangunkan Eliana.
"Ayo, Dad. Buat sarapan untuk Mommy," ajak Edwin dengan berbisik.
"Biarkan saja pelayan yang membuatnya!" tolak ayahnya karena dia malas beranjak dan meninggalkan Eliana.
"Ayolah, Dad. Buat Mommy senang. Daddy mau mendapatkan perhatian Mommy atau tidak?" ucap putra bungsunya.
"Baiklah, tapi kalian pergilah ke dapur terlebih dahulu. Daddy akan menyusul setelah mencuci wajah!"
"Oke... jangan lama-lama, Dad!" Edwin dan Elvin turun dari atas ranjang dengan hati-hati, lalu mereka keluar dari kamar.
Morgan yang masih memeluk Eliana tampak enggan, dia lebih suka seperti itu tapi dia harus meninggalkan Eliana untuk memenuhi keinginan kedua putranya. Sebelum beranjak, Morgan mengusap wajah Eliana sebentar dan memberikan ciuman di dahinya. Tidak cukup, sungguh tidak cukup. Dia sangat ingin melakukan lebih dari pada itu bahkan tatapan matanya sudah jatuh di bagian dada Eliana. Sudah berapa lama dia tidak menyalurkan hasratnya? Sesuatu mulai bergejolak dan jika dia tidak bergegas, kemungkinan dia akan mengunci pintu kamar dan bercinta dengan Eliana.
Morgan mengumpat, sebaiknya dia bergegas. Eliana hanya bergerak sedikit saat Morgan melepaskannya dan turun dari atas ranjang. Mencuci wajah terlebih dahulu barulah bergabung dengan kedua putranya yang saat itu sedang menginterogasi dua pelayan yang ada di dapur namun yang mereka dekati bukan Violet, melainkan Liona.
"Aunty, kenapa aku seperti pernah melihat Aunty?" tanya Edwin.
"Benar, Aunty terlihat tidak asing," ucap Elvin pula.
"Apa? Kita tidak pernah bertemu, Tuan Muda. Aku pendatang baru yang baru bekerja di sini," jawab Liona.
__ADS_1
"Benarkah?" Edwin dan Elvin menatap pelayan itu dengan tatapan penuh selidik.
"Benar, Tuan Muda. Kami berdua datang dari daerah yang sama," sela Violet.
"Baiklah, kami kira pernah melihat Aunty," ucap Edwin.
"Apa yang kalian lakukan, Boys?" tanya Morgan saat itu sudah berada di dapur.
"Tidak ada, Dad. Kami hanya ingin mengenal pelayan baru saja," jawab Edwin dan Elvin.
Morgan melihat kedua pelayan barunya dengan tatapan penuh curiga. Kedua pelayan itu menunduk dan terlihat takut. Seperti kedua putranya, entah kenapa dia juga curiga dengan kedua pelayan itu. Morgan meminta mereka untuk keluar karena dia ingin bersama dengan Edwin dan Elvin saja. Jika kedua pelayan itu berani melakukan sesuatu, maka tidak akan dia ampuni.
Setelah kedua pelayan itu pergi, mereka bertiga sibuk membuat sarapan untuk Eliana yang saat itu sudah terbangun dari tidurnya. Eliana melihat sekitar, kamar tampak sepi namun teriakan Edwin dan Elvin terdengar dari luar sana. Kini dia sudah bisa sendiri karena ada tongkat. Eliana ingin melihat apa yang Edwin dan Elvin lakukan oleh sebab itu dia keluar dari kamar. Walau agak sulit karena dia belum terbiasa, Eliana berusaha ke dapur menggunakan tongkat.
"Kenapa kalian bersenang-senang tanpa mengajak Mommy?" tanya Eliana.
"Kenapa kau tidak menunggu aku?" Morgan pun melangkah mendekatinya.
"Aku tidak mau merepotkan, lagi pula sudah ada tongkat."
"Ayo, Mom. Duduk di sini!" teriak Edwin yang sudah menarik sebuah kursi.
"Elvin akan menuntun Mommy," ucap si bungsu.
"Terima kasih," Eliana tersenyum, dia diperlakukan bagaikan ratu oleh mereka padahal dia bukan siapa-siapa. Setelah dia duduk, Edwin dan Elvin kembali sibuk dengan ayah mereka. Eliana tidak henti menatap ke arah si kembar. Rasanya sudah tidak sabar untuk mengetahui hasil tes Dna. Apakah ada cara lain agar dia bisa tahu lebih cepat apakah Edwin dan Elvin adalah putranya atau bukan?
__ADS_1
Eliana termenung, memikirkan cara apa yang harus dia lakukan agar dia bisa cepat tahu. Morgan tampak heran karena Eliana tidak melepaskan pandangannya dari Edwin dan Elvin. Eliana bahkan tidak menyadari jika Morgan meletakkan makanan di atas meja. Entah kenapa dia jadi semakin curiga.
"Mommy," Eliana tersadar saat Elvin memanggilnya.
"Kenapa Mommy diam saja? Apa kaki Mommy sakit?" tanya Elvin dengan ekspresi khawatir.
"Tidak, Mommy baik-baik saja. Bukankah hari ini kalian harus pergi ke sekolah?"
"Sebentar lagi, Mom," jawab Elvin.
"Pergilah mandi terlebih dahulu, sisanya akan Daddy kerjakan," ucap Morgan.
"Baiklah, Dad!" Edwin dan Elvin segera berlari menuju kamar mereka karena mereka memang harus mandi.
"Hari ini aku harus pergi ke kantor, apa tidak apa-apa di rumah sendirian?" tanya Morgan.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," mungkin ini bisa menjadi kesempatannya untuk mencari bukti.
"Baiklah jika begitu," Morgan duduk di hadapan Eliana, menatapnya dengan penuh selidik. Eliana tersenyum tanpa tahu maksud dari tatapan Morgan.
Edwin dan Elvin yang sudah selesai mandi bergabung dengan mereka untuk sarapan. Mereka begitu ceria, suara mereka di dengar oleh dua pelayan yang sedang sibuk dan tentunya salah satu dari mereka kesal setengah mati. Tidak, dia harus hati-hati jika tidak dia akan ketahuan apalagi kedua anak nakal itu sudah mencurigai dirinya apalagi dia baru saja berada di rumah itu. Jangan sampai dia ditendang keluar sebelum tujuannya tercapai.
Morgan mengantar kedua putranya pergi ke sekolah, salah satu dari mereka menemani si kembar. Eliana berada di dalam kamar, dia sudah bisa sendiri bahkan untuk mandi pun sudah bisa dia lakukan. Suasana rumah menjadi sepi karena tidak ada Edwin dan Elvin, Eliana jadi bosan karena dia hanya berbaring di atas ranjang.
Eliana beranjak, dari pada menghabiskan waktunya di dalam kamar, bukankah lebih baik dia mencari bukti? Akta lahir, jika dia bisa mendapatkan akta lahir Edwin dan Elvin maka dia akan mengetahui kebenarannya tanpa menunggu hasil tes Dna.
__ADS_1
Tongkat yang ada di sisi ranjang pun diambil, Eliana keluar dari kamarnya sambil melihat sekitar. Tidak ada siapa pun, yang tersisa hanya Liona karena Violet pergi mengantar Edwin dan Elvin. Liona sedang mengerjakan sesuatu saat itu, itu adalah kesempatan yang sangat bagus oleh sebab itu, Eliana masuk ke dalam kamar Morgan. Dia tidak tahu jika sebuah cctv sudah diletakkan Morgan di tempat tersembunyi, dia bahkan tidak tahu jika Morgan sedang melihatnya saat ini.
Semula Morgan tidak curiga karena dia mengira Eliana hendak tidur di kamarnya namun ketika Eliana berjalan menuju lemari pakaian. Morgan menegakkan duduknya untuk melihat apa yang Eliana lakukan. Eliana membuka pintu lemari, berdiri cukup lama tanpa melakukan apa pun. Morgan semakin heran, dia tahu sudah ada yang salah pada sikap Eliana saat berada di rumah sakit. Apakah Eliana sedang menipunya dan memanfaatkan situasi untuk mencuri sesuatu? Entah kenapa dia semakin curiga dan jangan katakan jika tebakannya benar apalagi sejak awal mereka adalah orang asing.