
Edwin dan Elvin sangat senang tapi Camella babak belur. Tidak saja wahana roller coaster, mereka sudah menaiki beberapa wahana menyenangkan lainnya. Rambut Camella yang rapi sudah hancur berantakan, topi besarnya sudah terbang entah ke mana. Sepertinya hilang saat dia menaiki sebuah wahana yang berputar.
Camella pun muntah beberapa kali, perutnya terasa diaduk saat dia harus menaiki wahana hysteria di mana pemain akan diangkat tinggi lalu di turunkan dengan kecepatan tinggi namun wahana yang mereka naiki tidak terlalu ekstrem karena wahana itu untuk anak-anak. Dia dikerjai habis-habisan oleh si kembar yang nakal, Camella tidak berani mengadu karena dia tidak ingin Morgan marah.
Mereka sedang beristirahat, Camella sudah tampak tidak berdaya. Eliana sedang mengusap punggungnya saat itu karena Camella merasa mual. Edwin dan Elvin tampak begitu puas, mereka puas bermain dan puas mengerjai Camella. Si kembar sedang duduk dengan ayah mereka sambil menikmati es cream yang baru saja dibelikan oleh ayah mereka.
"Apa sudah puas?" tanya ayahnya.
"Belum, Dad. Kami belum puas. Kami belum masuk rumah hantu, kami juga belum bermain wahana air," jawab Edwin.
"Benar, masih banyak yang belum kami mainkan," ucap Elvin pula.
"Baiklah, habiskan es cream kalian dan setelah ini kita masuk ke rumah hantu."
"Apa Daddy dan Mommy akan ikut?" si kembar menatap ayah mereka dengan tatapan penuh harap.
"Apa kalian tidak takut?" tanya ayah mereka.
"Tentu saja tidak!" ucap Edwin dan Elvin sambil memperlihatkan senyum lebarnya.
"Rumah hantu?" Camella berpaling, melihat ke arah si kembar. Sepertinya dia bisa memulai membalas kedua anak anak nakal itu di rumah hantu.
"Aku ikut," sela Camella.
"Apa kau tidak mau istirahat?" tanya Eliana.
"Tidak, aku datang untuk bermain!" tolak Camella.
"Apa Aunty tidak takut dengan rumah hantu?" tanya Elvin.
"Tentu saja tidak, aku tidak takut dengan apa pun!" Camella menyombongkan dirinya padahal dia tidak suka rumah hantu tapi demi membalas kedua anak itu, dia akan berusaha bertahan nantinya. Di rumah hantu itu pula akan dia jadikan kesempatan untuk dekat dengan Morgan.
Dia akan dekat dengan kekasihnya dan berpura-pura takut lalu dia akan mengambil kesempatan untuk mencium Morgan. Sudah lama dia tidak melakukan hal itu, setelah babak belur dia butuh stamina.
"Wah, Aunty keren. Ayo cepat, Aunty. Kita pergi ke rumah hantu," Edwin dan Elvin sudah beranjak dan menghampiri Camella. Kedua anak nakal itu bahkan sudah memegangi kedua tangannya.
__ADS_1
"Ayo, Aunty. Kita akan bersenang-senang," ajak Edwin dan Elvin.
"Anak-Anak manis harus bersabar," Camella beranjak, dia sudah tidak sabar karena dia sudah memiliki akal licik.
Edwin berlari menghampiri ayahnya, Edwin sedikit berjinjit karena dia ingin membisikkan sesuatu pada ayahnya agar tidak di dengar oleh siapa pun.
"Jangan menyia-nyiakan kesempatan, Dad. Jaga Mommy baik-baik selama di dalam rumah hantu karena Mommy takut hantu!" setelah berkata demikian, Edwin kembali berlari mendekati adiknya dan Camella.
"Ayo Aunty," Edwin menarik satu tangan Camella, sedangkan Elvin menarik satu tangan yang lainnya.
Morgan memandangi Edwin, apa maksud perkataan yang diucapkan oleh Edwin? Tatapan mata sudah tertuju pada Eliana yang sedang melambaikan tangan ke arah Edwin dan Elvin. Apa wanita itu merencanakan sesuatu untuk mendekatinya?
Eliana mengambil tas, dia pun melangkah mengikuti si kembar dan Camella menuju rumah hantu. Tidak, sepertinya Eliana tidak merencanakan hal itu karena wanita itu tampak cuek saja bahkan tidak mengajaknya untuk ikut serta. Apa ini semacam tipuan saja agar dia yang mengejar wanita itu? Sepertinya hal ini juga tidak.
Karena tidak ingin sendirian, Morgan mengejar. Eliana tampak tidak peduli saat Morgan berjalan di sisinya karena yang sedang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya agar dia bisa bertemu dengan kedua putranya. Eliana bahkan tidak begitu memperhatikan saat mereka sudah berada di rumah hantu.
Edwin dan Elvin berteriak karena senang, Camella pun mendekati Morgan dan menggandeng lengannya. Sekarang saatnya dengan Morgan dan ketika waktunya sudah tiba nanti, dia akan mengerjai kedua anak nakal itu.
"Aunty?" Edwin dan Elvin menatap ke arahnya dengan tatapan heran.
"Apa yang kau lakukan, Camella?" tanya Morgan.
"Tidak apa-apa, ayo dengan Mommy saja," Eliana menggandeng Edwin dan Elvin dan mengajaknya untuk masuk ke dalam.
Edwin dan Elvin saling pandang, jangan sampai rencana mereka gagal. Mereka melihat ke belakang, di mana Camella begitu menempel pada ayahnya. Mereka mulai memasuki wahana rumah hantu, teriakan Camella yang sok manja terdengar, dia bahkan memeluk lengan Morgan dengan erat. Morgan berusaha menyingkirkan Camella, dia tidak suka Camella melakukan hal seperti itu pada kedua putranya.
Elvin melepaskan tangan ibunya dan berlari ke arah Camella dan ayahnya, dia tidak akan membiarkan penyihir itu semakin mendekati ayahnya.
"Aunty, kau bilang pemberani. Kenapa kau jadi seperti penakut? Apa kau menipu kami?" tanya Elvin.
"Tidak, bukan begitu. Aunty hanya ingin dekat dengan Daddymu saja," jawab Camella.
"Kau bilang ingin menemani mereka, Camella. Jangan menipu anak-anak," ucap Morgan.
"Ba-Baiklah," dengan perasaan kesal, Camella melepaskan lengan Morgan dan menghampiri Elvin.
__ADS_1
"Ayo Aunty temani," ucapnya.
"Aunty memang paling baik," Elvin tersenyum dengan manis.
Elvin menarik tangan Camella sehingga mereka berjalan di depan. Edwin melepaskan tangan Eliana dan berlari menghampiri adiknya. Eliana sangat heran, kini hanya dia dan Morgan saja yang ada di dalam ruangan itu karena Edwin dan Elvin juga Camella berada di ruangan lain.
Si kembar dan Camella berada di ruang penyiksaan yang dipenuhi dengan kejutan. Camella tampak melangkah dengan hati-hati dengan perasaan takut karena dia memang takut. Edwin dan Elvin sudah memiliki akal licik, tangan Camella pun dilepaskan dan setelah itu mereka berlari pergi meninggalkan Camella.
"Guys, where are you?" tanya Camella karena Edwin dan Elvin sudah tidak berada di sisinya lagi.
Suara kedua anak itu tidak terdengar, Camella semakin panik apalagi suara keras musik yang menakutkan membuatnya merinding. Jujur dia paling benci dengan hal demikian.
"Edwin, Elvin," Camella kembali memanggil.
"Anak-Anak, jangan tinggalkan aku sendiri!" teriaknya karena dia semakin ketakutan. Ruangan itu gelap, hanya lampu berwarna merah yang berputar saja menerangi ruangan tersebut.
Camella melangkah maju, suasana semakin mencekam. Sebaiknya dia mencari jalan keluar karena dia tahu kedua anak nakal itu sudah meninggalkan dirinya. Asap memenuhi ruangan, Camella menelan ludah dengan kasar. Sial, semoga tidak ada hal yang menakutkan namun apa yang dia khawatirkan pun terjadi, Sebuah tangan tiba-tiba saja menyentuh bahunya. Tentu saja hal itu membuat Camella berteriak histeris.
Tidak saja tangan itu, hantu lain yang menakutkan pun tiba-tiba keluar untuk menakuti dirinya. Teriakan Camella terdengar begitu keras, dia bahkan melompat ke sana ke mari untuk menghindari hantu yang semakin banyak keluar untuk menakuti dirinya. Teriakannya bahkan terdengar di ruangan di mana Eliana dan Morgan berada.
"Anak-Anak," ucap mereka berdua.
Morgan dan Eliana segera berlari menuju datangnya suara teriakan Camella yang tidak juga berhenti. Mereka berdua mengkhawatirkan keadaan Edwin dan Elvin. Mereka takut terjadi sesuatu pada si kembar.
"Edwin, Elvin!" teriak Eliana.
Pintu ruangan yang ada di buka, itu bukan ruangan di mana Camella berada tapi suara Camella semakin nyaring terdengar. Eliana lupa dengan sekitar, dia bahkan lupa jika berada di rumah hantu. Ruangan yang remang pun dilewati begitu saja dan pada saat hantu yang menakutkan muncul, Eliana berteriak karena terkejut. Tidak hanya satu, hantu-hantu yang lain pun muncul sehingga membuat Eliana semakin berteriak keras dan tanpa sadar melompat ke arah Morgan.
Morgan terkejut, kakinya melangkah mundur sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuh Morgan terjatuh ke belakang, sedangkan Eliana pun jatuh menimpanya. Mereka berdua terkejut, kedua tangan Morgan berada di pinggang Eliana untuk menahannya.
Jantung Eliana berdegup kencang, dia benar-benar terkejut karena hantu-hantu yang muncul secara tiba-tiba itu. Morgan memejamkan mata, menahan rasa sakit di bagian kepalanya akibat terbentur lantai.
"Ma-Maaf," ucap Eliana.
"Tidak apa-apa," mereka berdua saling pandang, Morgan merasa aneh. Perasaan saat memeluk wanita itu kenapa terasa tidak asing?
__ADS_1
"Maaf," Eliana segera beranjak dengan terburu-buru.
Morgan pun beranjak, sedangkan Eliana sudah keluar dari ruangan itu. Morgan memandangi kedua telapak tangannya, perasaan aneh apa yang dia rasakan saat ini? Tidak mungkin, bukan? Ck, tidak mungkin. Sepertinya dia yang terlalu banyak berpikir. Sebaiknya dia segera mencari Edwin dan Elvin karena dia takut kedua putranya tersasar di rumah hantu itu.