Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Promosi Besar-Besaran


__ADS_3

Morgan sudah berada di stasiun, untuk mencari keberadaan Edwin dan Elvin. Cctv stasiun pun sudah ditelusuri. Kedua putranya terlihat menaiki kereta mengikuti dua orang dewasa. Sebab itulah mereka tidak dicurigai oleh petugas yang berjaga.


Edwin dan Elvin memang cerdik, lagi pula mereka sudah mempelajarinya. Morgan tahu kedua putranya memiliki banyak akal, sebab itu mereka bisa pergi dengan mudah. Sekarang dia harus segera menemukan keberadaan kedua putranya sebelum mereka pergi jauh. Jangan sampai mereka pergi dari kota Paris dan pergi ke kota lain karena jika sampai hal itu terjadi maka dia akan semakin kesulitan menemukan keberadaan kedua putranya dan waktu yang terbuang akan semakin banyak.


Tujuan kereta yang dinaiki oleh kedua putranya pun dilacak, kereta itu berhenti di beberapa tempat. Tentunya itu menjadi masalah baru karena dia harus mencari dengan teliti ke mana kedua putranya turun dari kereta. Setelah mendapatkan tujuan kereta yang dinaiki oleh Edwin dan Elvin, Morgan pergi dari stasiun tersebut menuju stasiun berikutnya di mana kemungkinan kedua putranya turun dari kereta yang mereka tumpangi. Dia bahkan menyebar anak buah untuk mencari di stasiun lain agar dia segera menemukan keberadaan Edwin dan Elvin.


Morgan tidak peduli dengan apa pun, yang dia inginkan hanya menemukan keberadaan kedua putranya saja. Panggilan telepon dari Camella pun dia abaikan karena dia tidak sedang ingin berbicara dengan kekasihnya. Lagi pula dia sudah mengatakan pada Camella untuk tidak mengganggunya tapi Camella tidak juga mengerti.


"Sir, kami tidak menemukan mereka di sini!" anak buah yang ada di stasiun lain memberi laporan. Tentunya mereka mengecek Cctv di setiap stasiun yang mereka datangi.


"Terus cari!" perintah Morgan. Tidak mungkin kedua putranya tidak turun dari kereta, dia tidak percaya itu.


Morgan juga mengecek Cctv di stasiun yang dia datangi, rasa khawatir akan kedua putranya membuatnya harus membayangkan hal yang menakutkan. Dia sungguh khawatir, walau kedua putranya cerdik tapi mereka tetaplah anak-anak. Semoga tidak ada musuh yang tahu akan hal ini, selama ini dia memang menyembunyikan keberadaan Edwin dan Elvin dengan begitu baik. Jika Ray masih hidup, apakah hal ini akan terjadi? Dia rasa tidak, sepertinya dia terlalu keras dengan kedua putranya selama ini.


Kepalanya bahkan sakit, kurang tidur dan tidak makan dengan benar akibat mengkhawatirkan Edwin dan Elvin membuatnya jadi seperti itu. Di stasiun yang dia datangi pun tidak terlihat kedua putranya, Morgan mulai frustasi. Dari semalam dia mencari tapi dia belum bisa menemukan keberadaan Edwin dan Elvin.


"Sebenarnya kalian pergi ke mana, Boys?" Morgan melangkah menuju mobil, dengan perasaan kacau.


"Daddy tidak akan menghukum kalian, tidak akan jadi segeralah pulang!" ucapnya lagi. Wajah diusap dengan kasar, kepalanya semakin sakit dan penyesalan karena telah mengancam kedua putranya pun semakin memenuhi hati.


Morgan menunggu laporan dari anak buahnya di dalam mobil. Dia tidak memiliki tujuan, dia hanya bisa menunggu laporan dari anak buahnya saja. Kedua mata terpejam, tapi dia tidak tidur. Semoga saja salah satu anak buahnya menemukan petunjuk ke mana Edwin dan Elvin pergi jika tidak dia akan mengerahkan semua anak buahnya dan menempatkan mereka di semua daerah yang ada di kota Paris. Dia juga tidak ragu untuk membayar orang-orang handal untuk menemukan mereka berdua.


Morgan menunggu di dalam mobil cukup lama, semakin lama kepalanya semakin sakit karena memikirkan keadaan kedua putranya. Setelah beberapa saat menunggu, salah satu anak buahnya pun memberi laporan jika seorang petugas stasiun memang melihat mereka turun dari kereta di stasiun tersebut.

__ADS_1


Kabar baik yang dia dapatkan membuat Morgan bergegas menuju stasiun tersebut. Ternyata kedua putranya pergi lumayan jauh, semoga petunjuk itu mempertemukan dirinya pada kedua putranya.


Tanpa tahu jika ayah mereka begitu mengkhawatirkan keadaan mereka, Edwin dan Elvin bersenang-senang bersama dengan ibu mereka hari ini. Beberapa tempat sudah mereka datangi. Eliana menuruti apa yang Edwin dan Elvin mau karena dia pikir setelah ini dia akan mengantar mereka tapi si kembar masih saja berpura-pura lupa bahkan saat Eliana menanyakan nama ayah mereka, Edwin dan Elvin pun masih saja berpura-pura lupa namun mereka tidak lupa untuk selalu mempromosikan ayah mereka pada Eliana.


Mereka sedang duduk di sisi dermaga, menikmati sepotong es cream. Eliana mengajak mereka untuk beristirahat sebentar karena mereka sudah berjalan jauh.


"Aunty, coba lihat pria itu," Edwin menunjuk ke arah seorang pria yang baru saja lewat.


"Kenapa, apa kalian kenal?" tanya Eliana.


"Tidak, tapi Daddy lebih tampan darinya," jawab Elvin.


"Wah, sedari tadi kalian begitu memuji Daddy kalian. Sepertinya kalian benar-benar sedang melakukan promosi besar-besaran."


"Kami hanya mempromosikan Daddy dengan Aunty saja, kami tidak pernah mempromosikan Daddy pada yang lain."


"karena Aunty cantik juga baik dan kami menyukai Aunty," jawab Edwin.


"Wah, Aunty sangat tersanjung tapi lain kali jangan mempercayai orang asing dengan begitu mudah. Kalian mengerti?"


"Tentu saja, Aunty," Edwin dan Elvin tersenyum lebar. Eliana juga tersenyum, mereka kembali menikmati es cream sambil memperhatikan orang-orang yang lewat.


"Lihat itu, Aunty. Tubuh Daddy lebih keren, dia bahkan bisa mengangkat kami berdua menggunakan lengannya saja saat pagi. Jika Aunty ikut kami pulang nanti, Daddy pasti bisa mengangkat kita bertiga," ucap Edwin.

__ADS_1


Eliana hampir tersedak es cream setelah mendengar perkataan Edwin. Dia tahu anak itu tidak memiliki maksud apa pun tapi dia jadi malu mendengar ucapan Edwin. Sudahlah, terkadang anak-anak memang berbicara tanpa maksud apa-apa.


"Benar, Aunty tidak akan menyesal. Jadi Aunty mau pulang bersama kami dan tinggal bersama dengan kami, bukan?" tanya Elvin.


"Baiklah, sekarang kita harus mencari rumah kalian terlebih dahulu," dia berharap Edwin dan Elvin mengatakan di mana rumah mereka tapi Edwin dan Elvin tidak juga mengatakannya karena mereka tidak ingin cepat pulang.


"Kenapa kalian diam? Apa kalian masih belum mengingat di mana rumah kalian?" tanya Eliana.


"Kami belum ingat, Aunty," jawab si kembar, mereka masih pura-pura lupa.


"Jika begitu, bagaimana Aunty bisa mengantar kalian pulang?"


"Aku tidak mau pulang, Aunty. Aku lelah dan ingin tidur," si cengeng beranjak dan duduk di atas pangkuan Eliana. Dia ingin tidur di dalam pelukan Eliana lagi karena terasa nyaman.


"Aku juga, Aunty. Aku ngantuk," Edwin juga melakukan hal yang sama seperti adiknya. Eliana tersenyum karena Edwin dan Elvin memeluknya dengan erat dan tidak butuh waktu lama, mereka benar-benar tertidur dalam pangkuan ibu mereka.


Eliana melihat jam, waktu sudah menunjukan pukul dua siang. Pantas saja Edwin dan Elvin sudah mengantuk. Sebaiknya dia membawa mereka pulang, sepertinya hari ini dia tidak bisa mencari keberadaan Ray dan Grace.


Padahal dia sudah memutuskan untuk mencari di sekolah tapi hari ini dia tidak melakukannya. Tidak masalah, akan dia lakukan nanti setelah dia menemukan keberadaan orangtua Edwin dan Elvin dan mengantar mereka kembali.


Eliana menggendong si kembar dengan susah payah karena mereka berdua cukup berat. Mau tidak mau dia pulang menggunakan taksi, lagi pula dia tidak mau mengganggu tidur Edwin dan Elvin yang begitu pulas dan yang sedang memeluknya dengan erat.


Saat itu, Morgan sudah tiba di tempat itu. Beberapa saksi pun sudah dimintai keterangan, mereka membenarkan melihat Edwin dan Elvin keluar dari stasiun kereta itu. Morgan meminta semua anak buahnya berkumpul, dia yakin kedua putranya masih berada di tempat itu.

__ADS_1


"Menyebar, cari mereka sampai ketemu. Malam ini juga kedua putraku harus ditemukan!" perintahnya.


Anak buahnya berpencar, untuk mencari Edwin dan Elvin di tempat itu. Dia yakin kedua putranya pasti tidak jauh dari sana. Setelah bertemu dengan mereka, dia tidak akan marah karena dia tidak mau kehilangan mereka lagi.


__ADS_2