
Camella sudah siap dengan tas yang berisi pakaiannya karena dia akan menginap di rumah Morgan selama mungkin. Selama Morgan masih menjadi kekasihnya maka dia tidak akan ragu. kesempatan ini pun bisa dia jadikan kesempatan untuk mengandung anak Morgan agar posisinya semakin kuat. Jika dia mengandung anak Morgan, pria itu tidak akan bisa mencampakkan dirinya. Dia yakin dia pasti akan tidur dengan Morgan nantinya, wanita asing itu pun bisa melihat siapa dirinya.
Dia juga akan memberi pelajaran pada dua anak nakal yang sudah membuatnya malu. Beberapa barang-barang yang akan dia gunakan untuk membalas perbuatan kedua anak nakal itu pun sudah dia siapkan. Akan dia balas mereka lalu dia akan menyalahkan wanita asing yang tiba-tiba hadir di antara mereka.
"Tunggu saja kalian anak nakal, aku pasti akan memenangkan pertarungan ini," ucap Camella. Sudah saatnya pergi, kedua anak nakal itu pasti mendapatkan ganjaran atas apa yang mereka lakukan padanya selama ini.
Edwin dan Elvin terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Mereka berdua saling pandang, seperti akan ada sesuatu yang datang untuk mengganggu mereka.
"Apa kau merasakannya, Kak?" tanya Elvin.
"Benar, aku merasa tidak nyaman," jawab Edwin.
"Tanganku sakit, jangan mencubit tanganku lagi, Kak," pinta Elvin sambil melihat lengannya yang membiru di mana bekas cubitan kakaknya.
"Sorry, jika tidak rencana kita tidak akan berjalan dengan lancar."
"Baiklah, ayo kita mandi. Aku punya firasat kita akan menghadapi sesuatu yang tidak terduga."
"Apa Mommy akan pergi?"
"Jika kita tidak semakin pintar maka Mommy akan pergi. Ayo kita mandi terlebih dahulu," Edwin turun dari atas ranjang di susul oleh adiknya.
Mereka mandi saat Eliana masuk ke dalam kamar. Eliana tersenyum, dia kira mereka berdua belum bangun tapi nyatanya si kembar sedang mandi. Suara mereka yang heboh tidak pernah sepi, ada saja yang membuat mereka berteriak. Tentunya hal itu semakin membuat Eliana merindukan sosok keberadaan kedua putranya.
Pakaian yang hendak digunakan oleh si kembar pun disediakan. Eliana duduk di sisi ranjang untuk menunggu mereka selesai mandi. Edwin dan Elvin sangat senang mendapati ibu mereka berada di kamar mereka.
"Good morning, Mom!" Edwin dan Elvin berlari menghampiri ibu mereka.
"Morning, kenapa kalian begitu bersemangat hari ini?"
"Tentu saja, Mommy tidak akan pergi meninggalkan kami, bukan?" tanya Edwin.
"Tentu saja tidak, sekarang pakai baju kalian lalu kita sarapan bersama."
"Apa Mommy akan menemani kami pergi ke sekolah?" tanya Elvin.
"Kalian mau pergi ke sekolah?" dia tidak tahu akan hal ini sebelumnya.
__ADS_1
"Ya, Mommy mau menemani kami, bukan?"
"Boleh saja, Mommy akan pergi menemani kalian," kesempatan ini bisa dia gunakan untuk mencari keberadaan kedua putranya. Semoga saja dia bisa menemukan keberadaan mereka walau kecil kemungkinannya.
"Ho.... re!" Edwin dan Elvin bersorak senang.
Mereka segera mengambil baju sekolah, hari ini mereka akan pergi bersama dengan ibu mereka seperti yang mereka inginkan. Edwin dan Elvin sangat bersemangat, tidak perlu dibantu untuk memakai baju, mereka sudah bisa. Lagi pula si kembar sudah tidak berbuat nakal seperti yang dia lakukan sehingga babysitter mereka berhenti karena ulah mereka.
Morgan pun masuk ke dalam kamar untuk melihat kedua putranya. Eliana tampak canggung, dia bahkan tidak begitu mau melihat Morgan. Semua itu terjadi setelah ciuman tanpa sengaja yang diakibatkan Edwin dan Elvin.
"Daddy, hari ini kami akan ke sekolah dengan Mommy!" teriak si bungsu.
"Benarkah?"
"Benar, jadi Daddy tidak perlu menemani," ucap Edwin pula.
"Baiklah jika begitu, Daddy juga banyak pekerjaan tapi ingat satu hal, jangan berbuat nakal," semoga Edwin dan Elvin tidak nakal karena adanya Eliana.
"Tentu saja tidak, kami sudah jadi anak baik. Benarkan, Mom?"
"Benar, kalian benar-benar anak baik."
"Good Boy, sekarang ayo sarapan," Eliana beranjak dan menggandeng tangan kedua putranya.
Mereka melewati Morgan saat melangkah keluar, Edwin dan Elvin tampak ceria. Si kembar bahkan tidak mempedulikan ayah mereka namun langkah mereka terhenti karena ayah mereka diam saja.
"Ayo, Dad. Kau harus mengantar kami pergi!" teriak Elvin.
"Daddy kira kau sudah tidak memerlukan Daddy?" Morgan mengikuti langkah mereka yang sudah melangkah keluar.
Eliana menyiapkan sarapan, sedangkan Morgan duduk di meja makan bersama dengan kedua putranya. Edwin dan Elvin melihat ke arah Eliana lalu melihat ke arah ayah mereka.
"Bagaimana, Dad?" tanya mereka berbisik.
"Apanya yang bagaimana?" tanya Morgan tidak mengerti.
"Apa Daddy sudah memiliki rencana untuk mendekati Mommy?" tanya Edwin.
__ADS_1
"Wow, rencana apa maksud kalian?"
"Ayolah, Dad. Jangan pura-pura. Orang dewasa tidak menyenangkan, lain di mulut lain di hati!" ucap Elvin pula.
"Wow... Wow, apa maksud perkataanmu ini?"
"Kami akan membantu Daddy untuk mendapatkan Mommy jika Daddy tidak bisa mendekati Mommy."
Morgan menggeleng, dia benar-benar kehabisan kata-kata. Entah dari mana kedua anaknya tahu akan hal itu tapi dia menebak mereka pernah melihat dirinya bersama dengan Camella. Mereka bahkan bisa merencanakan sebuah ciuman. Sepertinya dia harus bertindak hati-hati saat bersama dengan kekasihnya.
Sarapan di sediakan, mereka sarapan layaknya keluarga. Edwin dan Elvin begitu patuh pada perkataan Eliana, tidak ada kekacauan, tidak ada keributan seperti yang biasa mereka lakukan. Morgan memandangi kedua putranya yang menikmati makanan dalam diam, apa dia harus menikah agar kedua putranya tetap seperti itu? Sepertinya dia harus mempertimbangkan hal ini dan memikirkannya baik-baik. Dia memang tidak mau menikah tapi jika demi kedua putranya sepertinya dia harus memikirkan hal itu baik-baik.
"Mommy, apa kau sudah punya pacar?" tanya Edwin.
"Tidak, kenapa kau bertanya demikian?"
"Menurut Mommy bagaimana dengan Daddy?" kali ini Elvin yang bertanya.
Eliana melihat ke arah Morgan, secara refleks Morgan merapikan dasi yang dia pakai agar mendapat nilai lebih.
"Biasa saja," jawab Eliana.
"Apa?" Morgan tampak tidak terima, sedangkan Edwin dan Elvin tertawa.
"Kenapa, Mom? Apa Daddy tidak tampan?" tanya Edwin.
"Bukan begitu," Eliana jadi tidak enak hati untuk menjawabnya.
"Apakah Daddy bukan selera Mommy?" tanya Elvin.
"Anggap saja demikian," jawab Eliana seraya menatap ke arah Morgan. Pria itu memang bukan tipe pria idaman yang dia inginkan.
"Selera Mommy bagus, sedangkan Daddy tidak!" ucap si kembar sambil tertawa.
Morgan tampak tidak terima, dia merasa baru saja ditolak meskipun dia tidak sedang mengungkapkan perasaannya saat ini. Entah kenapa rasanya tidak terima tapi untuk apa dia jadi kesal?
"Daddy dengar, Daddy benar-benar payah!" bisik Edwin.
__ADS_1
Morgan menggeleng, kedua putranya benar-benar luar biasa. Sebaiknya dia tidak memikirkan hal itu tapi entah kenapa dia justru memikirkannya. Apa dia harus merubah penampilan? Sial, kenapa dia jadi merasa perkataan wanita itu begitu penting?
Dari pada memikirkan perkataan yang tidak perlu lebih dia mengajak kedua putranya pergi ke sekolah. Edwin dan Elvin bersorak, mereka akan melewatkan hari mereka yang menyenangkan namun setelah tidak lama mereka pergi. Camella datang. Peperangan dimulai, dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan pria yang sangat dia inginkan. Mau wanita asing itu atau dua anak nakal itu, mereka pasti bisa dia kalahkan. Ketika tidak mendapati Edwin dan Elvin di rumah, Camella tersenyum licik kerana dia bisa mulai melakukan pembalasan.