
Morgan sudah berada di kantor tapi dia belum melakukan pekerjaannya sama sekali. Morgan berdiri di depan sebuah cermin besar yang ada di dalam ruang pribadinya, dia melakukan hal itu untuk melihat penampilannya. Semua itu dia lakukan karena ucapan Eliana yang menganggap penampilannya biasa saja.
Tiba-Tiba Morgan jadi ingin tahu, apakah penampilannya tidak menarik sehingga Eliana menganggapnya biasa saja? Ataukah wanita itu tidak menyukai penampilannya saat ini? Sial, kenapa dia jadi seperti tidak percaya diri saja?
Lupakan, lagi pula tidaklah penting. Eliana hanya wanita asing saja, mungkin jawaban yang diberikan oleh Eliana supaya dia tidak salah paham dengan apa yang wanita itu katakan pada kedua putranya. Sebaiknya dia tidak memikirkannya apalagi sampai membuat dirinya seperti tidak percaya diri.
Sebaiknya dia bekerja dari pada melakukan hal seperti itu. Morgan tidak ingin mengingat perkataan Eliana yang menganggap dirinya biasa saja tapi entah kenapa dia tidak berhenti memikirkan perkataan Eliana yang menganggapnya biasa saja.
Ck, sepertinya dia harus pergi merubah penampilan agar tidak dianggap biasa saja oleh Eliana lagi. Yeah... dia harus melakukan hal seperti itu. Lagi pula dia sudah lama tidak merubah penampilan. Morgan sudah memutuskan, dia ingin lihat apakah Eliana masih akan menganggapnya biasa setelah dia merubah penampilannya nanti. Tiba-Tiba dia jadi penasaran reaksi Eliana dan kedua putranya.
Morgan sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa tahu jika Camella datang ke rumahnya untuk menginap. Semenjak kejadian di rumah hantu, dia belum menghubungi Camella karena dia masih kecewa dengan apa yang Camella lakukan pada kedua putranya di mana mereka ditinggalkan oleh Camella begitu saja di rumah hantu.
Saat itu, bagaikan Nyonya rumah, Camella melakukan apa yang dia mau sesuka hatinya. Dia tidak peduli sekalipun para pelayan mencegah dirinya untuk masuk ke dalam kamar Morgan. Tas yang dia bawa diletakkan, Camella menepis tangan seorang pelayan yang masih berusaha mencegah dirinya.
"Nona, Tuan Besar akan marah," ucap pelayan itu.
"Aku kekasihnya, dia tidak mungkin marah!" ucap Camella dengan nada tinggi.
"Tapi dia selalu berpesan agar tidak membiarkan siapa pun masuk ke dalam kamar pribadinya!"
"Diam! Dia tidak akan marah apalagi aku adalah kekasihnya dan calon istri masa depannya. Jadi jangan banyak bicara jika tidak aku akan meminta Morgan untuk memecatmu!" teriak Camella marah.
Sang pelayan tampak ketakutan, mau tidak mau pun pelayan itu keluar karena dia tidak mau dipecat. Camella mendengus saat pintu tertutup tapi tidak lama karena dia segera melangkah menuju ranjang dan menjatuhkan diri di sana.
Camella memejamkan mata, aroma tubuh Morgan yang tertinggal di atas ranjang pun dihirup perlahan. Dia suka aroma ini, dia pun menyukai pemiliknya. Dia datang untuk bertarung dengan wanita asing dan juga anak kembar nakal yang menghalangi langkahnya. Semakin dia dekat dengan Morgan, semakin besar peluangnya untuk mendapatkan Morgan.
"Siapa pun kau, aku tidak akan membiarkan kau mengambil Morgan dariku," ucapan itu dia tujukan pada Eliana karena keberadaan wanita asing itu adalah ancaman terbesar.
"Dan kalian berdua anak nakal, aku akan membalas apa yang telah kalian lakukan padaku," tentu saja perkataan itu ditujukan untuk Edwin dan Elvin.
Sebaiknya dia mulai melakukan balas dendam dengan beberapa benda yang dia bawa. Sebelum kedua anak nakal itu kembali, dia sudah harus selesai membuat kedua anak nakal itu takut dan menangis dengan keras tapi apa dia mengira si kembar yang nakal luar biasa itu akan takut?
__ADS_1
Camella melakukan aksi balas dendamnya, dia pasti akan selesai sebelum si kembar kembali dan memang, Edwin dan Elvin tidak langsung kembali setelah selesai pulang sekolah. Mereka ingin makan pizza karena mereka sudah lapar.
Eliana mengajak mereka makan, dia juga tidak ingin cepat kembali karena dia ingin mencoba mencari keberadaan kedua putranya. Mungkin mengunjungi tempat bermain anak-anak atau semacamnya bisa memberinya petunjuk.
"Mommy, kenapa Mommy tidak makan?" tanya Edwin karena sedari tadi Eliana seperti selalu memperhatikan orang-orang yang lewat.
"Mommy sedang tidak berselera makan, kalian makan saja," ucap Eliana.
"Kenapa, Mom? Apa Mommy sedang memikirkan sesuatu?" tanya Elvin pula.
"Tidak, Mommy hanya tidak suka pizza. Segera habiskan makanannya, kita pergi jalan-jalan sebentar," Eliana tersenyum agar Edwin dan Elvin tidak curiga.
"Jika begitu kita harus mengajak Daddy dan meminta Daddy untuk datang."
"Tidak perlu, Sayang. Kita bertiga saja. Apa kalian mau pergi bermain?" mungkin dia bisa mengajak Edwin dan Elvin bermain di pusat perbelanjaan. Di sana banyak anak-anak, semoga saja ada petunjuk.
"Mau," jawab Edwin dan Elvin serempak.
Edwin dan Elvin begitu bersemangat, pizza pun dihabiskan dengan cepat. Mereka juga merasa enggan pulang, seperti ada sesuatu yang tidak menyenangkan di rumah. Camella menunggu mereka dengan perasaan kesal karena mereka begitu lama. Tidak saja kedua anak nakal itu, Morgan juga belum kembali. Itu karena Morgan sedang ingin merubah penampilannya di sebuah salon.
Beberapa gaya rambut sudah diperlihatkan namun tidak ada yang dia sukai, model rambut terbaru pun tidak dia sukai. Entah model seperti apa yang dia sukai dia sendiri tidak tahu.
"Apa yang harus aku lakukan pada rambutmu, Tuan?" tanya si tukang cukur yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Entahlah, buat aku lebih muda saja!" pinta Morgan.
"Perkara mudah, gaya rambutmu memang sudah kuno sehingga wajahmu terlihat semakin tua," ucap si tukang cukur yang tidak bermaksud apa-apa namun karena perkataannya itu membuatnya mendapatkan tatapan yang tajam.
"To-Tolong jangan marah, Tuan. Aku berkata jujur!"
Morgan memandangi penampilannya di depan cermin, apakah dia sudah terlihat tua? Dia memang sudah berusia tiga puluh enam tahun, tidak muda lagi. Jangan-jangan hal inilah yang membuat penampilannya tidak menarik. Sepertinya dia memang harus merubah penampilannya agar terlihat lebih muda dan semakin menarik.
__ADS_1
"Sekarang, buat aku terlihat lebih muda!" perintahnya.
"Baik, Tuan. Kau datang pada orang yang tepat!"
Morgan membiarkan tukar cukur itu melakukan pekerjaannya. Sepertinya dia sudah gila. Gara-Gara perkataan Eliana sampai membuatnya benar-benar merubah penampilannya. Semoga kedua putranya tidak menertawakan dirinya saat melihat penampilannya yang sudah berubah nanti.
Si tukang cukur melakukan keahliannya, merubah penampilan Morgan. Tidak butuh lama, penampilan Morgan sudah berubah. Dia sudah terlihat lebih muda dan tentunya semakin tampan. Penampilan barunya benar-benar lebih baik dari pada penampilan lamanya. Sekarang dia kembali merasa percaya diri lagi.
"Perfect!" puji tukang cukur yang merubah penampilannya.
Morgan tampak puas, semua gara-gara ucapan Eliana sehingga dia harus datang ke tempat itu. Penampilan sudah berubah, sekarang saatnya menjemput Edwin dan Elvin yang saat ini sedang bermain dengan Eliana. Dia tahu mereka sedang pergi bermain karena Eliana sudah mengabari dirinya.
Morgan segera bergegas pergi menuju pusat perbelanjaan untuk menjemput kedua putranya. Edwin dan Elvin sedang asik bermain. Tidak sulit menemukan keberadaan mereka, Morgan melihat kedua putranya sedang bermain di sebuah mesin jepit boneka. Mereka berteriak saat mesin jepit boneka sedang bekerja untuk menangkap boneka yang mereka mau.
"Ambil yang itu, Mom. Ambil!" teriak Edwin dan Elvin.
"Sabar, Sayang. Tidak mudah mendapatkannya."
"Mommy pasti bisa!" Edwin dan Elvin memberi semangat.
"Apa Daddy mengganggu?" tanya Morgan.
Edwin dan Elvin berpaling, begitu juga dengan Eliana. Mereka terkejut melihat penampilan baru ayah mereka yang terlihat begitu berbeda.
"Bagaimana penampilan Daddy?" tanya Morgan. Tatapan mata tertuju pada Eliana.
"Woaahhh! Daddy keren," puji mereka.
"Benarkah?" tanya Morgan. Tatapan mata masih tertuju pada Eliana tapi sayangnya Eliana kembali serius menjepit boneka yang diinginkan oleh si kembar tanpa mempedulikan dirinya.
Morgan jadi kesal karena Eliana begitu cuek. Apa penampilan barunya masih tidak menarik sehingga wanita itu tidak mempedulikannya dan lebih tertarik dengan tumpukan boneka jelek yang ada di dalam kotak kaca itu? Rasanya jadi kesal karena boneka itu lebih menarik di bandingkan dirinya.
__ADS_1