
Ya Allah aku sudah takut tinggal disini keluar dari kandang singa,masuk kekandang buaya
Jon awas kau suatu hari kau akan dapat karmanya,ingat kau punya anak perempuan
sumpah aku di dalam hati.
Aku benci Jon dia pria tua beranak dua,perutnya buncit,wajahnya bulat,kulitnya putih
orangnya pendek cebol,botak lagi,aku dendam padamu Jon,tapi aku gak berdaya.
Malam harinya aku dan Milla tidur di kamar tempat kejadian tadi,aku teringat kejadian tadi pagi dikamar ini,aku tidak bisa tidur,aku terus menangis tersedu-sedu tanpa satupun orang yang tau ,ya Allah kenapa nasib aku begini?
kenapa pria tua itu melecehkan aku?,
aku tidak mau tinggal dikota ini lagi,mama aku ingin pulang....pulang...!!.
Jeritan pilu hatiku disaat tak satupun orang yang tau betapa kejinya dirimu Jon.
---------------------
*Esok pagi*
Pagi ini aku cepat-cepat bergegas kesekolah,
aku menghindari Jon, aku tidak sarapan,aku takut kalau Jon menyakiti aku lagi,aku tidak mandi dari rumah laknat itu,aku takut diintip Jon, aku takut ya Allah.
Sesampainya disekolah aku hanya melamun dan murung,aku trauma,bagaimana ini?,aku harus cerita dengan siapa?,aku tak sanggup cerita dengan Milla karena ancaman Jon,aku juga malu menceritakan kejadian semalam pada orang lain,ini aib aku.
" Kenapa kau dari tadi pagi diam saja dikelas?,ada masalah Yun?,kamu bisa cerita padaku" Kata Rina yang duduk bersamaku didalam kelas.
Aku hanya diam saja tidak peduli pertanyaan Rina,apa aku harus cerita pada Rina karena aku belum percaya pada Rina,aku juga malu aib aku diketahui Rina,tak satu orangpun disini yang bisa aku percaya.
" Enggak apa Rin, aku cuma kangen pada kampung halaman,itu saja tidak ada masalah Rina " kataku yang akhirnya menjawab pertanyaan Rina.
" Jangan bohong kau Yun,kau teman aku yang ceria setiap hari,tidak mungkin tiba- tiba jadi anak pendiam,apa karena masalah Junia kemarin?,jam istiahat tadi kau didalam kelas terus,ayolah cerita padaku" paksa Rina yang penasaran kenapa aku begini terus.
"Aku bilang tidak ada masalah Rina,soal Junia aku sudah melupakannya" sangkal aku dan pura-pura senyum pada Rina,padahal aku terpaksa senyum supaya Rina tenang.
Rina tidak mau menanyakan itu lagi, mungkin dia mengerti,lalu membiarkan aku sendiri dikelas,saat jam istirahat kedua,aku berjalan keatas atap sekolah,sesampai diatap sekolah aku duduk dipinggir atap sambil menangis tersedu-sedu,aku sendirian,apa salah dan dosaku sampai mengalami kejadian buruk ini.
ingin sekali aku melompat dari atap ini gedung lantai empat ini,tapi aku masih ingat keluarga yang dikampung,aku jadi tambah terluka dan bersedih.
" Aku sudah tau kau pasti punya masalah, coba ceritakan padaku mungkin aku bisa membantu kamu, agar masalah kamu selesai" tukas Rina yang ternyata ada dibelakang aku,ternyata Rina mengawasi aku dari tadi.
" Kalau aku cerita kau bisa aku percaya Rin?" ucapku yang mulai berterus terang sambil terduduk dilantai.
" Tenang saja aku bisa membantu kamu" ucap Rina yang berjongkok dihadapan aku.
Akhirnya aku menceritakan kejadian semalam kepada Rina,mulut Rina tercengang mendengarkan ceritaku dan matanya berkaca -kaca mendengar penderitaan aku. Rina sangat terkejut.
" Aku benci Jono Rina,aku jijik disentuh dia !!!, aku hampir diperkosanya !!!, aku ingin pergi dari sini,aku tak sanggup lagi Huaaaaaaa"
Isak tangis aku membasahi bahu Rina saat dia memeluk aku,Rina berusaha membuat aku tenang.Deru tangis aku terus pecah dan mengalir tanpa henti.
" Tenangkan dirimu Yun,aku mengerti penderitaan kamu Yunita,nah sekarang kita kebawah,hapus air mata kamu, jangan sampai orang tau kau menangis,nanti ratu gosip melihat kamu begini" ujar Rina sambil mengelus punggungku.
"Laki-laki biadab kau Jon,aku akan buat kau hancur dan keluarga kamu akan tau, tenang saja Yunita aku akan membantu kamu" sumpah Rina didalam hati.
Aku meninggalkan atap bersama Rina untuk masuk kedalam kelas karena kami juga mendengar lonceng tanda istirahat telah usai
"Biasa saja ..rileks Yun " kata Rina sewaktu berjalan masuk kedalam kelas bersama aku.
Sambil menunggu wali kelas datang untuk memberikan mata pelajaran aku dan Rina duduk tanpa membahas yang lain.
" Sebentar ya Yun aku keasrama dulu,aku lupa mengambil buku sejarahku " ucap Rina dan beranjak dari duduknya.
" Jangan lama Rin,aku butuh kau disini,tetapi yang tadi kau harus janji jangan berita tau siapapun" tukasku bernada pelan.
__ADS_1
"Ya kamu tenang saja" kata Rina sembari meninggalkan aku didalam kelas.
Ternyata Rina keasrama bukan niat ambil buku sejarah,tetapi dia pergi kedapur menemui ibu tukang masak. sesampai Rina didapur asrama.
" Ibu ayo kekamar aku sebentar,ada yang ingin Aku beri taukan pada ibu penting !" kata Rina yang lagi bediri dihadapan ibu Gendut.
"Eh Rina ,ada apa ya nak?enggak biasanya kamu mau ngomong penting sama ibu,pakai ngomong didalam kamar lagi" Jawab Ibu gendut.
Ibu Gendut pergi dengan Rina kedalam kamar asrama,sesampai didalam kamar,Rina lihat kanan kiri dari pintu kamar,memeriksa situasi,ternyata sepi karena santriwati sudah masuk kedalam kelas semua. Rina menutup pintu kamar dan mendekati buk Gendut yang sudah duduk dikasur kepunyaan Rina.
" Begini buk,ibu jangan terkejut batin,aku ingin jujur pada ibu tapi ibu jangan marah " ujar Rina sambil duduk disebelah Ibu Gendut.
" Ada apa sih Rin, Ibu jadi takut sepertinya penting sekali" Jawab Ibu Gendut sembari penasaran dan heran.
Rina menceritakan kejadian semalam dirumah Ibu Gendut soal Yunita dilecehkan Jono,tersentak Ibu Gendut menangis tersedu -sedu dan ingin pulang memukul Jon, dia serasa tidak percaya dengan perbuatan anak sulungnya itu.
" Ak-aku hampir tidak percaya perkataan kamu nak ,tidak mungkin anak ibu yang penurut itu melecehkan anak kos ibu,ibu akan kerumah sekarang dan mencari tau kebenarannya" Emosi Ibu Gendut memuncak lalu berdiri dari duduknya.Ibu Gendut juga sedikit lemas mendengar kenyataan ini.
"Lega akhirnya menceritakan ini semua,kau akan dapat pembelaan Yunita" janji Rina didalam hati.
Ibu Gendut terseok lemas sembari berjalan menuju dapur asrama,sedangkan Rina keluar dari asrama menuju sekolah.
" Dari mana saja Rin?,kamu lama betul,buku sejarahnya mana?, kok tidak ada ?" tanyaku heran karena Rina datang dengan tangan kosong.
" Hemm itu buku ya? hem oh iya, aku cari dilemari,dibawah kasur tidak ada Yun,sepertinya aku kehilangan buku sejarah aku, kemana ya?" Rina pura-pura bingung dan mencari alibi supaya aku tidak curiga apa yang iya perbuat didalam asrama tadi.
" Ya sudah nanti saja kau cari buku itu, mungkin kau salah meletakkannya " kataku sambil membuka buku sejarah yang aku bawa.
Ada beberapa jam,pelajaran selesai kami sudah bisa pulang ,saat aku berjalan keluar gerbang sekolah,aku melihat Ibu Gendut memanggil aku dari tepi jalan didepan gerbang sekolah dan menyuruh aku pulang sama naik becak supaya cepat sampai kerumah.
"Kenapa ibu ini murung ya?,dari tadi diam saja, enggak biasanya dia ajak pulang aku naik becak" batinku berkata heran dan bingung.
Sesampai didalam rumah,aku ragu masuk karena aku malas bertatap muka dengan pria kurang ajar itu,tapi supaya Ibu Gendut tidak curiga,aku pura-pura biasa saja menyimpan deritaku ini,aku langsung masuk kedalam kamar.
Saat aku sudah didalam kamar,aku mendengar suara keluarga ini bertengkar hebat, suara-siara riuh itu terjadi diruang tamu rumah,aku juga mendengar suara tangisan Milla,suara Tony anak kedua Ibu Gendut yang berteriak sambil memukul wajah Jon.
" Sudah-sudah .Tony,nanti abang kamu mati, Jono kenapa kau lakukan itu nak, apa kau tidak ingat kalau kau punya istri?,apa kau tidak takut kalau dia melaporkan kamu kepenjara? ucap buk Gendut sampai menangis dan terisak-isak.
" Ampunn mak,ampun mak,Jon janji tidak akan lagi melakukan perbuatan itu,maaf mak"
" Deg deg deg serrr " dari mana mreka tau?,cuma Rina yang aku kasih tau,tidak mungkin Rina senekat ini memberi tau mereka,jantung aku berdebar kencang.
Aku sembari mengintip dari celah pintu kamar melihat pertengkaran diruang tamu rumah ini.
" Hiks...tega betul abang berbuat begitu kepada kawan Milla bang,dia bayar disini bukan gratis dia numpang dirumah kita,
abang tidak kasihan sama Milla,abang tidak sadar,gimana kalau kejadian itu menimpa Milla hah......apa yang abang lakukan?" kata Milla sambil melotot pada Jono.
"Cepat katakan bang....!!, gimana kalau Milla diposisi dia!!!" ucap Milla lagi seakan ingin tau respon Jono dengan pertanyaan Milla.
"Ab-abang Khilaf dek, Maafkan lah abang" kata Jono sembari terduduk layu disofa.
"Milla Benci abang" Balas Milla dan Milla pergi meninggalkan ruang tamu tersebut.
Ibu Gendut berjalan kearah kamar aku,cepat-cepat aku usap air mata ini dan pura-pura berbaring diatas kasur seakan aku tidak mendengar pertengkaran mereka.
" Ibu mohon sama Yunita,kenapa Yunita tidak bilang sendiri kepada ibu kejadian itu?, kenapa ibu mesti tau dari orang lain,atas nama Jono ibu meminta maaf " ucap Ibu gendut yang duduk ditepi kasur.
Aku terdiam saja,aku tidak tau lagi apa yang ingin aku katakan,bingung bercampur sedih dan duka menyelimuti hatiku yang hancur ini.
" Samlekom,ada orang?" suara mama aku terdengar dari ruang tamu.
Serrr deg-deg jantung aku semakin kencang
ingin sekali aku menangis dipangkuan mama,mengadu tentang nasibku,tapi aku tak kuasa untuk mengadu.
" Itu mama kamu datang nak,ibu mohon jangan kasih tau kejadian semalam,kasihan anak-anak Jono dan istrinya bila dia dipenjara,ibu mohon sama kamu nak jangan beri tau mama kamu ya" ujar Ibu Gendut lalu berdiri dari duduknya.
Aku hanya diam saja dengan ochena ibu Gendut,percuma aku meminta keadilan toh semua sama saja.
"Ternyata kalian semua sama saja egois dan berhati batu,mungkin karena kalian tidak pernah merasakan yang aku alami,jadi dengan gampangnya meminta maaf kepadaku,hanya mamanya yang minta maaf
__ADS_1
bukan Jono sendiri,aku jadi benci keluarga ini" jeritan hatiku berucap sendiri.
Ibu Gendut keluar dari kamar dan menyambut mama aku dengan senyum dan tenang,seakan tiada terjadi apa-apa.
"Duduk dulu Ibu, Yunita baru pulang sekolah, sebentar ya saya akan buatkan Teh" Ibu Gendut buru-buru berjalan kearah dapur.
"Tidak usah repot-repot ibu" Kata mama Yunita, lalu dia berjalan kearah kamar anak gadisnya.
" Mak Yunita ingin pindah sekolah,tolong mak Yunita tidak mau lagi dikota ini" kataku saat Mama sudah masuk kedalam kamar.
"apa maksud kamu, jangan macam-macam Yun" balas Mama heran dan kernyit dahi.
Mama menolak permintaan aku,aku terus dan terus memohon agar pindah dari rumah ibu Gendut ,mending aku diasrama saja disana lebih aman tidak ada cengkraman laki laki bejat seperti Jono,kalau memang aku tidak dikasih pindah sekolah.
Karena rengekan dan suara tangisan aku yang memohon terus,akhirnya Mama menyerah padaku,dia setuju aku keasrama lagi,aku tidak permisi sama keluarga itu untuk pamit pindah keasrama,aku benci mereka semua.
---------------
*Esok harinya*
Aku menyusun barang-barang untuk pindah keasrama dan pergi dari rumah laknat ini,tanpa izin dari pemilik rumah aku main jalan saja keluar dari rumah itu tanpa melihat atau salam salah satu keluarga itu.
Sesampainya diasrama aku pikir aku akan tenang ternyata tidak,aib itu tersebar,sebagian santriwati sudah tau, aku malu,oh penderitaan apa lagi ini ya Allah.
" Rin tunggu Rina aku mau bicara sama kamu, kenapa Rin kau memberi taukan aib aku pada buk Gendut dan kenapa sebagian santriwati pada tau ?" tanyaku pada saat suasana sepi didalam kamar mandi asrama.
" Maafkan aku Yunita,aku memberi tau sama Ibu Gendut supaya beban kamu berkurang,
sekarang nyatanya kau bisa pindahkan dari rumah itu,soal santriwati sebagian tau aku tidak tau siapa yang sebarkan aib kamu,aku mencurigai satu hal, sewaktu aku memberi tau Ibu Gendut dikamar semalam,sepertinya ada santriwati yang menguping" jawab Rina dengan jelas dan kernyit dahi.
" aku benci keluarga itu, percuma kau mengadu kepada mereka tidak mengurangi penderitaan aku,tapi malah menambah,aku tidak mendapatkan keadilan Rina dengan mereka,tapi aku berterima kasih padamu Rina,kamu mau perduli tentang aku" jawab aku sambil meninggalkan Rina ditempat sepi itu.
Setiap aku lewat dari kerumunan santriwati spertinya mereka jijik melihat aku,aku tidak tahan lagi berada di sekolah ini,aku tidak mau lagi,seharusnya mereka mensuport aku bukan menjatuh kan aku,aku ini korban.
Aku tidak tahan lagi desas-desus santriwati disini,dikamar,didapur,dikelas,dikamar mandi bahkan dikantin juga,aku mendengar mereka mencemoohkan aib aku,seakan- akan akulah yang menggoda Jono.
Oh aku tidak tahan lagi,keluarkan aku dari neraka ini ya Allah,mama dengarkanlah penderitaan anakmu ini,anakmu telah menjadi korban,bukan aku yang menggoda Jono,Tangis aku pecah lagi dikamar sepi ini.
Percuma saja aku menjelaskan pada mereka diasrama ini,mereka hanya mendengarkan saja bukan mengerti,jadi aku hanya diam dan terpuruk disini,mama aku ingin pulang !.
--------------------------------------
Keesokan harinya,aku jatuh sakit dan demam tinggi mungkin aku stres karena memikirkan masalah yang menimpa aku ini. Rina datang menjenguk aku.
" Yunita kenapa kau tidak sekolah?, kau sakit Yun ?"tanya Rina yang duduk ditepi ranjang.
Tiba-tiba Nordiannah datang dengan wajah sinis, aku bangkit dari ranjang.
" Hem betul kata akukan,kau sudah terima ganjaran merebut gebetan aku kemarin,Hahaha sakit kau memikirkan kejadian itu? kenapa enggak kau nikmati saja sama anak Ibu Gendut?" Kata Nor yang berdiri didepan pintu sembari lipat tangan.
aku diam saja dan tertunduk lemas,sahabatku eh bukan dia bukan sahabat aku lagi yang aku kenal polos,air mata aku mengalir begitu saja menelan bulat-bulat perkataan pedih Nordianah.
" Masih ada etika kamu Nor berbicara sama teman kamu sendiri !!,apa kau selama belajar disini tidak mengerti hah?, pergi kau dari sini jangan menambah luka Yunita disini,kau engga pantas berkawan sama kami , wajah kamu jelek, dungu lagi tapi mulut kamu sama kotornya persis wajahmu,dasar sampah" balas Rina dan membanting pintu mendorong Nordiannah keluar dari kamar Yunita.
" sudah-sudahlah Rin , aku memang pantas mendapatkan semua hinaan ini, aku memang pantas, aku ingin mati saja " Ucapku tak berdaya sembari menangis.
Rina berusaha buat aku tenang menyemangati aku,mengajak aku jalan- jalan keliling asrama,terima kasih Rina aku tidak membenci kamu juga.
Malam harinya aku baca lagi surat dari Riandi berbaring diatas kasur,air mata aku trus mengalir,sampai kapan akan berakhir persoalan ini,aku merasa sendirian,teman sekamar juga menjauh dariku.
" Yunita kamu sudah minum obat ?" Rina masuk kedalam kamar.Tangan Rina mendarat kekening aku,dia ingin tau suhu tubuhku.
" Belum Rin,aku tidak selera makan,tidak selera minum obat " Jawabku sembari sembunyikan surat dibalik bantal.
" Ya Allah Yunita kau jangan jadi gadis rapuh, semangat,inget orang tua kita yang berjuang membayar uang sekolah kita,ingat mreka Yun jangan menangis lagi aku jadi sedih juga " Kata Rina sambil tersenyum.
" aku tak ada gairah hidup lagi Rin , aku memang rapuh,aku bisa stres,baiklah demi kamu akan aku minum obat ini " jawabku sambil bangkit dari tidur dan ambil obat diatas meja.
" Nah sekarang istirahat Yun,besok kau bangun bisa pulih dan bersekolah lagi" tukas Rina yang duduk ditepi ranjang.
" Terima kasih Rin ," ujar aku sambil memeluk Rina.
__ADS_1
"Sama-sama Yunita"
Rina pamit setelah membuat aku tenang.