
Perlahan aku buka lipatan surat Joko karena masih didalam sampul,aku buka surat Joko hanya kata- kata singkat saja yang ada.
*isi surat joko*
Samlekom dek
Maaf aku tiba-tiba mengirim surat padamu,
jangan berfikir negatif dulu ya Yun
sore nanti kau harus datang
ketempat biasa kami.
penting tentang Wijaya
salam Joko Semerawut
"Ahk ada apa Joko sama Sutono ingin sekali bicara dengan aku,aku jadi penasaran
apa yang dibuat Wijaya shingga sahabatnya
ingin memberi tau rahasianya" gumamku.
Sore hari tiba,aku berjalan menuju tempat yang dijanjikan Joko untuk bertemu,sesampai disana Joko dan Sutono sudah menunggu aku sedari tadi.
Digubuk tersebut kami bertiga duduk, lalu Joko dengan serius menyampaikan Hal yang membuat aku harus menelan kepahitan dan kenyataan tentang Wijaya.
Joko bilang wijaya sudah tunangan dengan perempuan yang bernama Eva,ternyata Eva bekerja kemalaysia untuk bantu Wijaya untuk biaya menikah, Joko bilang aku hanya bahan permainan Wijaya, Joko juga bicara soal Wijaya yang menceritakan sangat puas mendapatkan kesucian Yunita.
"Kalian enggak bohongkan?,kalian pasti bercandakan iyakan ? " ucap ku sambil membentak dan berdiri dari duduknya.
" Tenang Yun ...tenangkan dirimu jangan menangis disini,nanti ada orang lewat dikira kami aneh-aneh dengan kamu " ucap Joko panik ketakutan.
"Kami kasih tau cerita ini karena enggak tega Yun sama kamu,supaya kau jangan terlena dan buta" ucap Tono.
"Engg-enggak itu enggak benar, kalian pasti bohong, tidak....wijaya tidak seperti itu, kalian bohong ....Hiks.....hikss" Kataku yang geleng kepala berjalan mundur seakan hendak lari dari Joko dan Sutono.
"Kalian JAHAT !! " Teriakku pada Joko dan Sutono.
Tanpa pamit pada Joko dan Sutono,aku berlari hingga tersungkur jatuh karena tidak sengaja menendang batu yang ada didepanku,aku bangkit kembali tidak perduli jempol kakiku uang berdarah, dibandingkan dengan rasa sakit yang aki rasakan didalam hati.
Tanpa alas kaki aku tetap berlari tak tentu arah kemana akan berlabuh, pohon-pohon karet yang rimbun,aku tak perduli saat duri putri malu menusuk telapak kakiku tetap aku melanjutkan berlari.
Karena lelah mulai berlari,dan nafas tersengal
aku berjalan pelan-pelan dipadang rumput sebelah kebun karet,terletak disamping ada jurang yang curam dibawahnya seperti aliran sungai.
"Huaaaaaaa Hiksss....Aaaaaaa"
"WIJAYA KENAPA KAU TEGA LAKUKAN INI PADAKU!!, AKU BENCI KAU WIJAYA,AKU BENCI KaU Hikss...."
Aku berteriak dipadang rumput itu,disana tidak ada orang lain sama sekali. "hikhiks hikss" aku terduduk dipadang rumput padahal dibawahnya banyak sekali tanaman duri putri malu, aku tidak perduli malahan duduk terkulai layu diatasnya.
"Wijaya kau ingat cinta kita? aku salah apa?" Kataku samar sembari berlinang air mata.
"WIJAYA AKU BERSUMPAH HIDUP TIDAK AKAN PERNAH BAHAGIA...!!!! " Teriakku sekencang mungkin supaya aku puas dengan derita ini.
"WIJAYA KAU LEBIH LAKNAT DARI PADA JONO !!" Teriakku untuk kesekian kalinya.
"Hiks ....Hikss....Hikkssss"
Air mata terus mengalir saat mengingat kenangan indah dengan Wijaya, ternyata semua palsu,Aku saja yang bodoh dan buta,saking cintanya aku jadi egois pada diri sendiri dan keluargar.
"WIJAYA .....!!!" Teriakku terus menerus sampai suara ini habis, aku tau sampai air mata darah kejadian ini takkan bisa diputar kembali untuk memperbaiki yang salah.Yang ada hanya rasa Sesal belaka.
" Bodoh....bodoh....aku bodoh, cewek murahan, alu enggak pantas bidup lagi" kataku samar sembari memukul-mukul kepalaku, karena rasa sesal yang menyelimuti keegoisan ini semakin menjadi-jadi.
"Huaaaaaaa huaaaaaa"
Masih saja menangis walau sudah satu jam berlalu,Hampa yang kurasa,sakit yang aku derita saat ini aku sendiri menghadapi ujian hati yang aku buat sendiri.
"Astaghfirulla ..Yunita...."
Joko datang setelah lelah mencari aku,karena suara teriakan aku dia jadi tau aku diarea mana.
"Aduh mati aku menyesal aku bercerita,kalau kau ternyata serapuh ini dek" Kata Joko yang sudah mendekatiku.
Joko menarik lengan aku supaya aku bediri,tapi aku enggak bisa berdiri karena kaki aku penuh duri putri malu.
"Bodoh kalau kamu melakukan hal ini demi lelaki yang jahat sama kamu" kata Joko.
Pelan-pelan joko membantu menarik duri ditelapak kaki aku,sebenarnya sakit tertusuk duri itu,tetapi aku tahan karena hati yang kacau ini.
" Inget orang tua kamu Yun,ayo semangat adek,masih ada kami para sahabat kamu,ada Wati disana,ada Viva jugakan ada aku dan Sutono kenapa kau serapuh ini,semangat dik ini bukan hari akhirmu,ini pelajaran buat kamu supaya kamu kuat,kamu tegar" kata Joko saat memapah Yunita.
"Huaaaaa...Hiksss...Hikss"
Tanpa sadar aku memeluk Joko yang sudah berniat baik, aku hanya ingin ketenangan saat ini,aku masih saja menangis walau masih didalam pelukan Joko,Sakit banget tak terrandingi luka yang aku rasa saat ini.
"hiksss hiksss hiksss...Aku enggak ingin hidup, aku enggak suci lagi" Kataku sambil melepas pelukan Joko.
" Pergi sana kalau mau mati. Supaya kamu puas dan Wijaya senang !!" Joko marah.
__ADS_1
"Ayo biar aku bantu !!" ketus Joko padaku.
Joko menarik aku ketepi jurang yang curam dibawahnya sungai dan bebatuan,aku hanya melirik jurang itu lalu berdiri mematung saja ditepinya.
"Kenapa takut...!?,tapi ingin mati !, hah !!...
bodoh,bukan ini jalan Yunita,kalau kau nekat melompat,aku enggak akan sudi kasih tau orang kau mati dijurang itu" ketus Joko.
"Sini "
Kata Joko menarik lenganku,aku menurut saja,sebenarnya aku sangat malu dengan pria yang sekarang ada dihadapanku,dia sudah tau semua aibku bersama Wijaya,semoga saja dia tidak seperti hewan Rubah.
"Aku enggak mau pulang" kataku pada Joko disaat aku mulai tenang.
" Aih matilah aku,bisa dibacok nanti aku sama Ayah kamu,hemmm ...gimana kalau kita ketempat Wati,nah setelah itu Yunita sama Wati kerumah kamu minta izin mau inap di rumah Wati" saran Joko terlintas begitu saja dibenak.
"Terserah mana baiknya"
Aku menurut saja pada Joko, Joko memberikan sendal jepitnya padaku, lalu aku naik diatas Motor Joko,lalu Joko membawaku kerumah Wati,aku akui memang lelaki ini baik sekali,seandainya sifat Wijaya seperti Joko pasti sempurna,tapi hanya ilusi aku saja semua itu tidak mungkin.
Sampai dorumah Wati,aku dan Joko turun dari motor,berjalan sedikit sampai diteras Rumah Wati.Wati terkejut melihat aku yang berpenampilan kacau sekali,Lalu Joko menceritakan Kronologis kejadia Aku.
"Apa !!, enggak sangka aku Wijaya sampai hati begitu, maaf Yun aku enggak tau bisa jadi begini " ucap Wati mendekati aku.
"Enggak usah minta maaf Wat, aku yang bodoh,mau saja dirayu Wijaya,aku memang murahan hiksss hiksss" Aku jadi menangis lagi.
Joko menarik tangan Wati keluar rumah,Wati jadi heran dengan sikap Joko.
"Apa sih narik lengan aku, nanti,nanti kamu naksir aku tau !!" kata Wati sambil tolak pinggang.
"Ehh siapa yang naksir sikrempeng,aku cuma mau bilang tolong jangan kau bahas- bahas dulu tentang Wijaya,dia belum tenang sepenuhnya,dia masih dilema nanti bunuh diri kau mau tanggung jawab ??" Joko niynyir pada Wati.
" Iya ya.... bodoh aku,iya iya aku enggak akan bahas-bahas didepan yunita soal Wijaya" Sambung Wati sambil mijat dahi.
Joko dan Wati kembali berjalan arah teras rumah, dimana masih ada aku yang duduk termenung.
"Yun...kamu mandi dulu ya,kalau kamu bersih kita kerumah kamu,biar aku minta izin sama Mama kamu,supaya kamu nisa inap disini" kata Wati sambil mengelus punggung aku.
"Iya Yun, tenang saja ada kami" kata Joko sambil tersenyum manis.
"Terima kasih ya" kataku dengan nada dingin.
"Kalau gitu aku pulang dulu ya,entar aku datang lagi" kata Joko sambil beranjak dari duduk.
"Ok"
Wati tersenyum pada Joko, Lelaki itu sudah pergi dengan motornya.Tinggalah Wati dan Yunita.
Aku menurut saja pada Wati,kami berdua jalan kedalam kamar Wati.
"Pakai ini " kata Wati menyerahkan handuk besar pada aku.
"Makasih ya Wati,kamu sahabat aku yang paling perduli" Kataku sambil menerima handuk dari Wati.
"Sudah jangan sedih lagi, mandi sana" kata Wati sambil tersenyum.
Setelah aku siap mandi ternyata mata aku yang sempat bengkak akibat menangis, sudah mendingan,Wati jadi senang melihatnya.
---------------------------------------
*Malam Hari*
Malam hari aku diajak Wati jalan-jalan karena
Joko dan Sutono datang,kami kumpul dilapangan bola kaki stadion
Stadion itu terletak antara kampung sebelah, biasanya para muda-mudi kumpul distadion tersebut,ada yang kencan,ada juga berkumpul minum-minum.
Mereka menghibur aku dan bersusah payah biar aku tersenyum kembali,hancur semua cita dan impian aku,karena kebodohan dan buta karena cinta.
mulai malam ini aku bersumpa siapapun pria yang menaksir aku, aku akan buat dia bertekuk lutut kepadaku
biar kalian para pria tau sakit nya
di permainkan.
Kami berempat duduk diluar staduion, bercerita dan bercanda.
"Oik Wat,kau enggak kencan sama beno ?" Sitono tiba-tiba tanya seperti itu
"Pengen tau saja kau pribadi orang, kenapa kau tanya itu?,kau naksir sama aku?" Wati begitu ceplos pada Joko.
"Wati ini pedenya 100% ya ahHhahHH" Joko ngakak dan buang muka.
"Kalau kau naksir aku Ton,boleh- boleh saja
tapi kau jadi nomor lima" Kata Wati sambil mencibir.
"Anjrit enak kali kau mau buat jadi yang kelima" Sutono terkejut sambil tersenyum kecil.
"Ih....apa ini sepertinya Bokong aku berair" kata Sutono sambil berdiri dari duduknya.
"Kenapa Ton ...coba periksa siapa tau kau duduki taik ayam" balas Joko sembari nyengir.
__ADS_1
Tono mencolek celana dari belakang,lalu memegangnya,tangan Sutono berair jadinya dan mengeluarkan bau.
"Sial ...benaran taik ayam,huekkk...huekk.." Sutono menjadi mual dan berlari kedalam kamar mandi stadion.
Bau taik ayam itu menyebar saat Sutono berlari melewati Wati,Joko dan Yunita duduk.
"Ih..bau,Tono bodoh duduk enggak lihat-lohat dulu,Hahahaahah" Joko ngakak jadinya.
"Enggak jadilah,mati rasa aku sama cowok jorok kayak Tono huekk....sshhh" ucap Wati terasa mual dan menutup mulut.
Karena Joko terus tertawa,Wati jadi ikutan tertawa,sedangkan aku hanya senyum saja.
" TuuuUuut broottt " Wati jadi terdiam karena pantatnya tidak sadar mengeluarkan gas beracun akibat tertawa terus.
"Ih...perempuan jorok banget, sana...sana" kata Joko sambil bangkit dari duduk.
" Eh..maaf-maaf ya woi,aku enggk sengaja sumpah, aduh maaflah" Wati jadi malu dan salah tingkah.
" Wati gadis jorok ahahahahaha " ujar Sutono ternyata mendengar adegan kentut tadi.
"Kau juga jorok tau" Wati enggak mau kalah.
Melihat semua itu aku jadi tertawa lepas seakan-akan tidak punya beban.
"Hahahahah..Tono dan Wati gila ahahahahahah" Aku terus terbahak-bahak.
Sutono, Joko dan Wati tersentak saling pandang,mreka senang lihat aku kepingkal- pingkal karena kentut Wati,padahal sedari tadi aku diam saja tanpa suara.
"Begitu dong Yunita,kalau kau senang aku juga ikut senang" kata Joko jadi terharu.
Joko memang teman Wijaya tapi dia yang lebih memperhatikan aku, Joko cowo manis,tapi rambutnya dikit itu pun keriting ikal, hidungnya mancung,kulitnya sawo matang ,tingginya 165 an gitu.
Sedangkan Sutono cowok cebol,tidak begitu tinggi ,kulit sawo matang ,ya wajah nya sedang sedang saja .
Saat kami kembali ngobrol seperti biasa aku sudah mulai respon dengan ucapan mereka,padahal awalnya aku enggan bicara.
" Brum brum " suara kereta menghampiri kami,obrolan kami terhenti,lelaki yang tinggi turun dari atas motornya,dia adalah Beno pacar Wati.
" Ayang ngapai di sini?"
Ucap Beno kepada wati sambil berjalan menghampiri kami yang berkumpul.
" Mampos aku,jangan lah marah dia" gumam Wati.
Wati pergi dengan Beno sebentar untuk jalan- jalan agar Beno tidak marah karena Wati
gabung dengan orang Joko dan Sutono .
"Pacar Wati marah apa enggak ya?" sahut Sutono.
"Alah baik itu Beno,tapi cupu,palingan dicium Wati udah kelepek-kelepek" Sahut Joko.
"Tidak apa Tono , aku tau banget Beno sayang sama Wati" kata aku tanpa expresi.
"Jadi lama kita disini,nunggu Wati kampret kencan,kalau kita pulang dulu mana bisa tanpa Wati,soal Yunita tidur dirumah Wati" ucap Sutono yang geleng kepala.
"Hemm betul itu,gimana kalau kita makan bakso aja ayo,sambil menunggu Wati "
saran Joko yang sebenarnya Joko lapar.
"Boleh....Ayo.." kata Sutono.
Aku angguk kepala saja dan mau ajakan Joko,sesampai diwarung bakso Joko dan Sutono asyik nyerocos bicara terus.
"Kau yang bayar ya aku lagi bokek" ucap Joko kepada Sutono.
"Kurang ajar kenapa tidak bilang dari awal kau,kalau aku ujung-ujungnya yang bayar makanan ini, licik kau Joko" sambung Sutono yang langsung minum air putih.
"Maaf aku kira bawa duit" kata Joko sambil nyengir-nyengir.
"Enggak bawa duit kau bilang, bilang saja enggak punya duit.. heleh sentul kenyot" kata Sutono. Lalu Sutono kearah kasir untuk membayar tagihan makan.
"Dia memang begitu,harap maklum" kata Joko pada Yunita.
"Iya iya " Jawabku singkat pada Joko.
Setelah makan bakso kami kembali lagi ke stadion untuk menunggu Wati.
"Kampret lama kali orang itu,yang buat mesumnya " kepo Sutono sudah lelah duduk distadion.
"Sabarlah,ktak kau mesum saja" sambung Joko yang lagi duduk disebelah aku.
"Yunita semangat ya,jangan bodoh lagi jadi cewek,tenang saja kalau Wijaya menganggu kamu lagi, kasih tau aku" ucap Joko sambil elus kepala aku.
"Bilang saja kau mau elus kepala Yunita,kau tidak takut sama Wijaya,huh cemen saja" kata Sutono sambil nyinyir.
"Otak kau memang mesum saja,aku perduli sama Yunita,bukan maksud lain-lain" kata Joko sambil kesal.
"Kalian jangan bertengkar, aku janji sama kalian aku coba untuk Move on,sudah jangan dobahas lagi" kataku sambil tersenyum kecil.
"Nah gitu baru sahabat aku yang periang , buang Yunita yang dulu,buka lembaran baru Yunita yang tegar dan pintar,semangat" sambung Joko berikan semangat.
Kami kembali ngobrol sembari menunggu Wati yang masih kencan dengan Beno.
__ADS_1