
Ucapan Riandi tidak main-main, Riandi minta izin pada Mama dengan alasan main kekampung Riandi,entah kenapa Mama setuju padahal dia tidak suka kalau aku dibawa seorang pria.
Setelah beberapa waktu berlalu akhirnya aku dan Riandi naik bus menuju rumah Riandi,sedikit cemas apa yang akan dikatakan Ibu Riandi bila bertemu akum,tapi sebelum kerumah Riandi kami kerumah tante Riandi yang tidak jauh dari rumah Riandi.
"Assalamualaikim Tante, mama sudah pulang? kata Riandi yang berdiri didepan pintu utama Tante.
"Waalaikum salam,Riandi ternyata,aduh mama belum pulang Rian,adik kamu semalam juga pergi jemput Mama kamu,tapi entah kenapa sampai sekarang belum ada kabar" Ujar tante yang lagi duduk disofa.
Sambil Tante Yeni bicara pada Riandi diruang tamu, aku hanya diam saja karena tidak tau mau bilang apa pada Tante Riandi.
"Tante ini Yunita tante,adik sayang Rian ini tante" kata Riandi sambil percaya diri.
" Aih-aih umur berapa nak?,kamu tidak nyesal kenal keponakan tante yang ganteng dan penyayang ini" kata Tante Yeni dengan senyum lebar.
"Umur saya enam belas tahun tante" ucapku sengan senyum malu.
"masih baru tumbuh ya,mekar-mekarnya itu, Rian nakal kamu ya pilih calon mantu dibawah kamu" jawab tante Yeni dengan maksud bercanda.
"Hus tante buat Rian malu saja,jadi mama kapan pulang Tan, rencana Rian mau kenalkan sama Yunita" sambung Rian jadi kecewa.
"Wah kurang tau tante Nak,nanti coba tante telfon ya " jawab tante.
"Tunggu ya dek, abang kekamar mandi dulu" Kata Rian sambil beranjak pergi.
Saat Riandi kedalam kamar mandi,tante Yenni menyiapkan dua gelas Teh hangat untuk aku dan Riandi.
"Diminum nak jangan dilihati,oh iya Rian itu sifatnya lembut lho,penurut lagi sama keluarga bertanggung jawab deh,apalagi baru -baru ini ayah Rian meninggal dia sangat terpukul,kasih semangat ya nak buat Rian " ucap tante panjang lebar.
"Iya tante,Yun akan jaga Rian" jawab aku dengan merasa bersalah,bersalah telah menduakan Riandi.
Setelah Riandi dari kamar mandi,kami ngobrol sebentar lalu pamit kepada tante Yeni, Riandi berencana untuk pulang kerumah periksa keadaan kondisi rumah Riandi.
Kami berjalan kerumah Riandi,sampai didepan pintu rumah riandi,aku masuk kedalam rumah dan duduk diatas sofa,
sementara Riandi sibuk mondar-mandir memeriksa apa ada maling atau yang lain dirumah ini.
"Ngapai sih bang dari tadi sibuk,adek bisa bantu apa enggak?" kataku yang merasa tidak enak duduk terus.
"Enggak usah sayang,adek diam saja disofa pasti kamu capekkan, oh iya pasti adek laper , abang keluar rumah bentar sayang biar kita makan" kata Riandi sambil memakai sendal.
"Jangan lama ya Abang" balasku dengan senyum.
"Iya sayang,enggak akan lama" Riandi tersenyum.
Riandi pergi tinggalkan rumah,untuk membeli makanan buat aku,laper sih dari perjalanan jauh tadi dan memang kami belum makan siang.
Sembari menunggu Riandi supaya tidak jenuh aku coba membongkar dan melihat album foto keluarga Riandi,Album foto tersebut terletak dibawah lemari televisi.
Ada satu foto yang membuat aku bertanya didalam hati,Foto itu seperti Riandi yang memakai seragam sekolah bergandengan tangan dengan seorang cewek,wajahnya sih sedang- sedang saja, dibandingkan dengan wajah aku sepertengahnya saja.
"Siapa ya perempuan ini,aku penasaran, apa ini mantan Riandi ? " gumam aku sendiri saat memandang lekat foto tersebut.
Beberapa menit kemudian Riandi pulang dengan membawa dua bungkus makanan,cepat-cepat aku kembali duduk disofa sambil memegang album Foto tersebut.
"Abang ini siapa ya?,mesra banget" ujar aku sambil menunjukan foto tersebut.
"Oh itu,adek jangan marah ya,itu mantan abang " jawab Riandi yang melirik kearah Foto yang aku pegang.
"Sudah mantan masih disimpan fotonya huh " aku mendengus kesal dan memutup Album Foto itu.
"Dek abang kasih tau ya,kita pacaran kalau putus baik-baik artinya tidak jodoh,kita masih nisa bersahabat dengan mantan kita" kata Riandi sambil tersenyum.
"Emang berapa banyak pacar abang? " tanyaku dengan nada cemburu.
"Kamu yang ke dua sayang" jawab Riandi sembari duduk disamping aku.
"Beneran?,aku tidak percaya abang ganteng gini pacarnya sedikit" Kataku sambil cemburut dan lirih.
"Sayang, abang bukan cowok sembarangan mencintai orang,abang pemilih susah jatuh cinta" kata Riandi sembari belai rambut aku.
"Hem kenapa abang bisa putus sama perempuan difoto itu?" Aku masih penasaran dan ingin tau.
"Bawel ya,abang sama dia cuma sebentar pacaran diwaktu sekolah,cinta monyet saja enggak lebih enggak kurang" ucap Riandi meyakin aku.
__ADS_1
"Yang aku tanya malah enggak dijawab" kataku sambil buang muka.
"Duh bawel,dia sudah meninggal sayang sakit lambung" kata Riandi dengan kernyit dahi.
"Ow...maaf"
Aku jadi merasa bersalah bertanya terus saam Riandi,aku sungguh payah jadi perempuan menyesal aku bertanya soal mantam Riandi.
"Tidak apa, abang enggak marah dia sudah disurga,dan sekarang cuma adek yang abang sentuh sampai sejauh ini,juga yang abang cinta" Riandi sambil kecup kening aku mesra.
"Ya Allah aku jadi kecil hati sama Riandi, dia masih perjaka suci, beda dengan aku yang hina dan ternoda" Batin aku berkecamuk.
"Malah melamun, ayo makan" kata Riandi membuka bungkusan nasi dengan lauknya.
Riandi memang baik dia menyulangi aku makan, ya Allah perhatian banget, aku jadi merasa berdosa saat aku dengan Anto dan Wijaya jadi ingin menangis tapi tak kuasa karena aku enggak mau air mata hina ini jatuh didepan Riandi.
Tidak terasa waktu menunjukan pukul empat sore, kami siap-siap ingin pulang kerumah aku,sedikit kecewa karena tidak bertemu Ibunda Riandi,tapi tidak apa mungkin diwaktu yang lain aku akan bertemu.
"Jdaaaar"
Tiba-tiba suara petir datang,angin berhembus dengan kencang, titik-titik air jatuh perlahan membasahi tanah akhirnya hujan datang,padahal kami sudah siap hendak pulang.
"Aduh abang gimana nih?,mau pulang kita malah hujan" kataku yang cemas dan bingung.
"Sabar sayang, berdoa saja entar lagi juga reda hujan ini, kita tunggu saja " jawab Riandi tersenyum lalu duduk lagi atas sofa.
Jam lima sore kami kira hujan akan berhenti tidak taunya malah semakin menggila, air nya deras ditambah suara petir menggema belum lagi angin yang berhembus kencang sekali.
"Mati kita dek hujannya tidak berhenti,kamu tau kan rumah abang ini jauh dari kota, tidak mungkin kita berjalan kaki sampai dengan cepat" kata Riandi dengan mijat dahi.
" Adek juga bingung,malah Bus arah kekampung habis jam lima lewat,gimana kalau abang telfon saja mama melalui telfon kantor,bilang kalau disini hujan deras tidak bisa pulang" kata aku yang tak kehabisan akal.
"Begitu juga boleh sayang,mudah- mudahan orang tua kamu mengerti disini gimana" kata Riandi yang sedikit ragu dengan ide aku.
"Iya,adek jadi khawatir kalau ayah tidak apa, tapi aku takutnya sama mama" kataku jadi merasa pusing dan takut.
"Berdoa saja supaya mereka tidak marah dengan kita" Kata Riandi sambil memijat kepala aku.
Hujan berhenti pada pukul tujuh malam membuat kami berdua jadi cemas, Riandi dan aku keluar dari rumah untuk menemui tante, Riandi berniat meminjam telfon rumah milik Tante untuk menelfon mama dikampung.
"Berdoa saja jangan cemas"
Riandi memberi ketenangan buat aku,lalu kami memutuskan untuk pulang terlebih dahulu,kami juga makan bersama lagi yang sebelumnya kami beli tadi saat keluar.
Malam semakin larut apalagi sehabis hujan, cuaca menjadi dingin membuat kami memakai jaket tebal.
"Adik tidur duluan ya dikamar,abang di sofa saja" kata Riandi sambil mencium kening aku dengan mesra.
"Nanti abang kedinginan aku tidak mau abang sakit, kita tidur saja didalam dibatasi bantal guling" kata aku yang tidak ingin Riandi kenapa-kenapa.
Riandi menuruti perkataan aku dan akhirnya kami tidur didalam kamar,dengan pembatas guling berada ditengah-tengah.Cuaca nemang malam ini sangat dingin menusuk tulang karena sehabis hujan
Benar kata orang jika sepasang kekasih berdua ditempat yang sepi pasti setan akan menghampiri,seperti kami saat ini yang mulai bercumbu sangat dahsyat.
Akhirnya malam ini aku memberikan apa yang selam ini dikendalikan Riandi,aku sangat menikmati gejolak rasa yang aku rasakan atas pelakuan Riandi,aku memberikan apa yang pantas untuknya.
Dibanding rasa bersalah aku telah khianati Riandi kali ini aku menebusnya dengan melakukan dengan Riandi malam ini.Aku serahkan apa yang seharusnya dikendalikan Riandi dulu.
" Adik tidak menyesalkan?,maaf dik" kata Riandi sembari memakai pakaian.
"Aku tidak menyesal bang,kamu memang pantas mendapatkannya" Sambung aku yang juga memakai pakaian.
" Pasti sayang lelah,ayo kita tidur" Balas Riandi sambil mengecup kening aku mesra.
"Ayo"
Kami berdua akhirnya tidur dengan lelah karena permainan yang kami buat,dia sangat tampan saat tertidur.
"Aku tidak menyesal melakukan dengan kamu malam ini,mungkin cara inilah supaya aku bisa menebus dosa pengkhianatan aku abang,sungguh walau rasa ini tidak seperti dulu lagi,tapi aku akan berusaha mencintai kamu sepertu dulu" batin aku saat mulai terlelap.
-------------------------------------------------------
*Esok Harinya*
__ADS_1
"Tok tok tok tok"
Suara ketukan terdengar dari luar pintu utama rumah Riandi,sementara aku dan Riandi masih terlelap tidur.
"Tok tok tok tok"
Ketukan kedua datang lagi dengan keras membuat aku dan Riandi terbangun. Riandi mengucek mata dan tersadar.
"Ada yang datang" kataku sambil bangkit dari tidur dan merapikan pakaian yang aku pakai.
"Abang kedepan dulu, kamu disini saja" kata Riandi sambil keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang depan.
Riandi membuka pintu rumah betapa terkejut hati ternyata yang datang orang yang tak diduga-duga.
"Rian ini kami, kenapa kamu lama buka pintu,kami mau bicara dengan kamu" Ucap Indi saat diluar pintu rumah.
Aku mendengar suara itu seketika jadi merinding ngeri karena yang datang kedua orang tua aku.
Mama dan Ayah dipersilahkan masuk,Riandi sedikit takut tapi iya berusaha tenang dan kini mereka bertiga duduk disofa ruang tengah.
"Mana Yunita?" Kata Darman dengan tegas.
"Dia lagi dikamar pak" Jawab Riandi dengan tenang walau jantung nya juga berdegup kencang.
"Jadi kalian tadi malam dirumah ini hanya berdua?" Tanya Darman dengan kernyit dahi, sementara Indi pasang wajah masam.
"Hemm,anu pak ,adek Riand juga disini tapi tadi pagi dia berangkat susul Ibu Rian" Balas Riandi dengan berbohong.
"Tidak perlu basa basi lagi,ibu dan bapak mau bilang intinya saja !" jawab Indi dengan wajah masam sekali.
"Maaf ibu dan bapak pasti marah,Rian mengerti itu,tapi keadaan semalam sangat genting pak...hujan" kata Riandi dengan gelagat sedikit canggung.
"Tolong besok atau nanti Rian harus mengantar Yunita pulang beserta keluarga besar Rian harus datang juga, ibu tidak mau jadi malu sama tetangga,anak gadis ibu dibawa laki-laki mengingap" Indi dengan suara tegasnya
"Apa yang dimaksud ini kamu mengerti Rian?,semalam para tetangga lihat kalian jalan berdua,kini mereka tidak lihat anak kami, otomatis mereka pasti bercerita heran diluaran sana" Sambung Darman dengan nada tegas.
"Rian mengerti ucapan ibu dan bapak, kalau memang bapak dan ibu sudah setuju
dan minta pertanggung jawaban Rian, Demi Allah Rian akan nikahi Yunita" kata Riand sambil tertunduk.
"Baiklah kami akan menunggu kedatangan Riand dengan membawa Yunita secara baik-baik,kalau begitu kami pamit dulu karena bapak juga mau kerja" Sahut Darman sambil berdiri dari duduk.
Darman dan Indi akhirnya beranjak dari duduk dan berjalan kepintu utama, sementara Rian mengantar mereka sampai didepan rumah.
"Kenapa Mama dan Ayah bicara begitu?,apa artinya ini" Batin aku dipenuhi pertanyaan.
"Ibu enggak ingin jumpa Yunita dulu?" Riandi tidak ingin Indi kesal lagi.
"Enggak usah,aku tau sikap dia,pasti dia takut ketemu kami sekarang" Jawab Indi yang mulai tersenyum.
"Bapak dan Ibu hati-hati ya" kata Riandi sambil menghembus nafas lega.
"Kami pulang ya" kata Dadman yang sudah siap diatas motor.
Riandi memberi salam lalu kedua orang tua Yunita akhirnya perdi dari rumah Riandi.Lalu Riandi masuk kedalam rumah dan menutup pintu rumah.
"Adik sudah siap dengan abang?,sini duduk abang mau bicara serius" kata Riandi yang melihat Yunita muncul dari pintu kamar.
"Apa artinya ini semua bang?" kataku dengan heran dan duduk disamping Riandi.
"Begini dek,adik sama abang bersetatus lajang,tetangga pada tau semalam abang bawa adek,tapi jadi menginap,ketimbang jadi gunjingan orang dan tetangga buat gosip yang aneh,abang harus menutupi dengan cara bertanggung jawab,yaitu untuk lamar adek" kata Riandi panjang lebar.
"Apa kita akan menikah?" Tanyaku jadi terkejut batin dan kernyit dahi.
"Soal lamar melamar nanti keluarga abang dan keluarga adek yang putuskan,kita hanya menunggu keputusan mereka,apa adik tidak mau?" kata Riandi sembari menaikan alis.
"Terserah saja mana baiknya" kataku sambil tersenyum lalu Riandi mengecup kenin aku dengan mesra dan hangat.
"Aku seperti biasa saja ya,seperti enggak srek begini, karena belum bisa balas dendam pada Wijaya,jujur aku masih setengsh hati ini terjadi tiba-tiba tanpa aku fikirkan" batin aku berkecamuk sendiri.
"Abang mandi duluan ya sayang,lalu setelah itu abang telfon Ibu dan keluarga lainnya" kata Riandi lalu bangkit dari duduk.
" Baiklah bang" kataku sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
Riandi pergi berjalan kedalam kamar mandi, sedangkan aku masih duduk disofa sambil berfikir keras.