Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 23


__ADS_3

Hari esoknya aku dan keluarga Riandi datang kerumah untuk mengantarku dengan baik-baik,Indi dan Darman menyambut hangat kedatangan keluarga besar Riandi,lalu Indi dan Darman mempersilahkan mereka duduk.


"Saya mama Riandi bu" Ucap Ibu Ani dengan bersalaman dengan Indi dan Darman.


"Oh iya ibu, saya Mama Yunita dan ini ayahnya Yunita" Balas Indi sambil melihat Darman yang ikut bersalaman.


Cerita punya cerita para keluarga berbicara dan mengusulkan dua minggu lagi untuk melamar aku,Riandi hanya menjadi pendengar saja begitu juga aku.


"Saya hari ini berkumpul dulu ya ibu


merencanakan dulu,karena mendadak begini saya belum sempat beli ini itu nya,dua minggu lagi kami datang lagi bawa antaran lamaran untuk Yunita, lagian bapak Riandi belum ada setahun meninggal" Ucap Ani mama Riandi yang duduk diatas sofa.


"Iya bu saya paham betul,saya berterima kasih ibu mau datang kesini, mari ibu,bapak diminum tehnya " ujar Indi tersenyum ramah.


Setelah ngobrol lagi keluarga aku meminta syarat kami hanya bertukar cincin dulu,


peresmiannya setelah aku tamat sekolah, keluarga Riandi menyetujui usul tersebut,lalu mereka ngobrol sampai sore tiba.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya ibu dan bapak" Ujar Ibu Ani beserta paman dan tante Riandi juga.


Pamannya Riandi adalah suami tante Yeni mereka juga hadir,mereka juga berbicara hangat dengan Darman dan Indi.


Lalu tidak berapa lama keluarga Riandi akhirnya pulang,mungkin pemikiran Indi dan Darman cepat menikahkan Yunita supaya tidak berbuat hal aneh yang tidak diinginkan.


Aku setuju tapi masih berat,hatiku masih mengganjal dan setengah hati, aku ingin bertemu Wijaya untuk terakhir kali,aku ingin menampar wajah Wijaya sekali saja, aku tidak ikhlas perawan aku dia yang ambil bukan Riandi yang selalu baik pada aku.


Setelah keluarga Riandi berlalu dan pergi aku dipanggil mama untuk diceramahi,aku hanya diam duduk disofa ruang tamu.


"Lain kali kalau dibawa laki-laki inap jangan mau ya,kau itu masih labil,kau sudah dengar percakapan kami tadi? dan sekarang jagalah kehormatanmu,kalau sudah tukar cincin nanti sama Riandi tentu separuh diri kau menjadi milik Riandi sebelum diresmikan,jaga amanah itu jangan banyak tingkah lagi" Ucap Indi beserta Darman dengan panjang lebar.


Aku hanya diam saja mengikuti ucapan Mama dan ayah, setelah itu aku mengambil bekas gelas yang diminum keluarga Riandi.


Membawa kedalam dapur hendak mencuci piring dan gelas tersebut.


------------------------------------------------------------------


*Esok Harinya*


Hari ini aku sekolah dengan biasanya, teman- teman aku tidak ada yang tau kalau aku bakal tunangan dua minggu lagi, aku takut mereka terkejut, aku juga tidak berani lagi lirik- lirik Putra atau cowok lain yang suka dengan aku.


Setelah aku pulang sekolah,aku menjalani seperti biasa terkadang membantu mama didapur beres-beres,terkadang juga main kerumah Viva dibelakang rumah aku.


-----------------------------------------


*Satu minggu kemudian*


Tidak terasa acara pinangan seminggu lagi akan terlaksana,aku jadi deg-degan menyambut minggu depan,apa yang akan terjadi bila aku dengan Riandi bertunangan.


Hari ini hari selasa tanggal lima mei, tak terasa juga aku sebentar lagi akan tamat sekolah, entah kenapa hari ini aku sangat bimbang risau dan kacau.


Siang hari setelah aku pulang sekolah aku berjalan mau kerumah Wati, ditengah perjalanan aku melihat Wijaya melintas dijalan dekat rumah Wati.


Wijaya lewat dengan kereta Rx.king tersebut


menghampiri aku dan menatap aku,


aku buang muka dan berlari meninggalkan Wijaya tanpa sepatah kata,Wijaya bingung


dan berteriak memanggil aku.


"Dek,dek kenapa lari,sebentar sini abang mau bicara" Teriak Wijaya dari kejahuan.


Aku tidak perduli dengan seruan Wijaya,aku terus berlari menghindar dari Wijaya,alhasil aku tidak jadi kerumah Wati,aku berniat pulang saja.


Sesampai dirumah aku langsung masuk kedalam kamar,lalu menangis tersedu-sedu.


kenapa? disaat aku bilang benci bertatap muka dengannya aku jadi tak kuasa,apa rasa aku ini masih ada?.


"Tidak...., tidak aku harus membenci Wijaya.


Ya Allah tunjukanan lah kebenaran ini aku sudah mendapatkan Riandi tetapi kenapa Wijaya muncul kembali,malah hatiku luluh lantak" Hatiku berkata terus kadang berusaha menghilangkan rasa pada Wijaya tapi tak berdaya.


Malam hari entah kenapa tiba-tiba aku ingin sekali keluar rumah karena tadi siang tidak jadi kerumah Wati,mungkin malam ini bisa ajak ngobrol Wati,sudah lama tidak kerumah Wati lagi.


Aku juga ingin cerita pada Wati dan beri kabar


kalau aku akan bertunangan dengan Riandi,sekalian cari pendapat teman apa salahnya.


Aku berjalan kerumah Wati dengan sendirian,


sesampai dirumah Wati ternyata Wati lagi jalan dengan mbak Lenni.


"Ahk sial, kemana sikurus Wati" Aku menggerutu kesal tidak bertemu dengan Wati.


Aku berjalan mencari Wati saja siapa tau ketemu dijalan, diperjalanan aku malah bertemu dengan Indar, Indar membawa teman-temannya juga yaitu Neng, Ratri dan Anisa.


"Dari mana kau Yun?, sini saja gabung kami "


Kata Indar yang lagi duduk dijoglo bersama teman Indar.


"Habis dari rumah Wati,tapi Wati enggak ada "


jawab aku jadi duduk dijoglo tersebut.

__ADS_1


"Oh Wati,tadi dia terlihat aku jalan sama kakaknya kekampung sebelah,aku rasa dia main ketempat saudara? " balas Indar tersenyum manis.


"Lah tadi katanya dia jalan sama Mbak Lenni, mama Wati yang bilang" Balas aku jadi bingung.


"Ya mungkin Lenni juga ikut Yun" kata Indar lagi.


Indar ternyata dipanggil oleh ibunya terpaksa dia pamit pulang sebentar,aku jadi gabung bersama Neng,Nisa dan Ratri sekolah kami berbeda jadi aku kurang kenal mereka dengan sifat mereka juga,kami jadi duduk ngobrol pendekatan dan tukar pikiran.


Disaat kami sedang mengobrol suara motor Rx.king melewati joglo dimana kami duduk.


"Woi itu kayaknya abang Wijaya" kata Ratri dengan girang.


"Deg " kenapa mesti dia sih yang lewat" gumam aku jadi risau,ternyata dia familiar ya disini semua gadis kenal dia.


"Panggil paman kamu Nis,sudah lama enggak ngobrol-ngobrol " Tutur Neng jadi girang.


"Kegatalan,kenapa mereka heboh,Nisa manggil Om sama Wijaya,apa Nisa ini keponakan Wijaya?" aku membatin dan bertanya didalam hati.


Cerita punya cerita Neng bilang pada aku kalau Nisa itu memang keponakan Wijaya, Ayah Nisa adalah abang Wijaya,lalu Wijaya jadi singgah didepan Joglo tersebut.


"Dari mana OM aku,kok buru-buru lewat saja?" Tanya Nisa yang lagi berdiri didepan Wijaya.


"Eh ngapai disini?cepat pulang nanti dimarahi ayah kamu" kata Wijaya sambil duduk diatas motornya.


Wijaya suruh keponakannya pulang mungkin Wijaya takut kalau keponakannya itu jadi ganjen.


"Sok suci suruh Nisa pulang,kamu itu gimana?, hidup taunya merusak anak gadis orang"Batin aku jadi ngeri.


Aku duduk jongkok dibalik badan Indar, Indar datang lagi kejoglo tersebut,Wijaya awalnya tidak melihat aku karena suasana Joglo sedikit gelap,Indar lalu berdiri dari jongkok sementara aku yang dibelakang jadi terlihat jelas dimata Wijaya.


"Eh adek apa kabar ?" tanya Wijaya jadi girang saat melihat aku.


"Eh dasar lelaki tak tau malu bisa- bisanya dia biasa saja,apa enggak tau dia sudah ambil mahkota aku,seperti itu dia berkata padaku?" Gumamku jadi benci.


aku tidak menjawab pertanyaan Wijaya dan membuang muka,tapi hati dan rasa ini sedikit menyimpan rasa pada Wijaya,apa karena dia yang pertama merenggut kesucian ini jadi aku tidak mampu menepis rasa ini.


"Eh sombongnya,enggak dijawab abang tanya" ujar Wijaya yang merasa heran.


Indar tau apa yang menimpaku dengan Wijaya magkannya Indar juga diam, cuma Neng,Ratri dan Nisa tecengang pada aku kenapa Wijaya bisa seramah itu padaku.


"Jangan cuekin O'om aku Yun, baik itu gantengkan !" ucap Nisa merasa bangga.


"Dia memang ganteng bahkan paling ganteng dikampung ini tetapi dia juga Iblis berkepala dua" batin aku menyumpah.


"Sudah-sudah ayo kita duduk lagi" Indar mengalihkan pembicaraan.


Sewaktu aku mengikuti Indar duduk didalam joglo lagi Wijaya menarik lengan aku


dan memaksa aku naik keatas motornya.


"Biasa sajalah" jawab aku dengan ketus tapi tetap saja aku masih duduk diatas motornya.


Kami meninggalkan orang Indar dan Nisa mereka bingung saja kenapa aku kelihatanya dekat dengan Wijaya, mungkin Indar mengerti jadi dia diam saja.


Awalnya Wijaya membawa aku ditempat dia ngumpul bersama temannya, Joko dan Sutono kebetulan tidak ada disana,teman Wijaya semua sudah teler.


"Minum apa dek?" tanya Wijaya kepadaku yang lagi duduk dibangku.


"Terserah" aku tetap saja dingin, tetapi entah kenapa aku senang saat ini ketemu dia.


Setelah kami duduk diwarung tuak itu Wijaya membawa aku kesebuah teras rumah Nenek Wijaya,keadaan teras itu remang sekali lalu sedikit kotor.


"Untuk apa abang bawa aku kesini ?" Tanya aku yang lagi berdiri sambil lipat tangan.


"Kenapa adek jauhin aku?,sudah lama kita enggak bertemu,kenapa balasannya begini?" jawab Wijaya heran padaku.


"Kau mau tau?,aku tanya sama kamu pernah kau memikirkan aku?,pernah kau memikirkan perasaan aku yang pernah kau tinggalkan tanpa kabar?,terus pernah kau memikirkan perasaan Eva yang banting tulang cari biaya nikah kalian?" Ucap aku dengan nada geram.


"Dari mana kau tau soal Eva?,cepat katakan.


aku bukan tidak perduli padamu, aku lagi kerja aku suka padamu kamu enggak percya?" Jawab Wijaya pasang wajah sendu


"Bullshit smuanya mulai detik ini jangan cari cari aku lagi hikkss hiksss " ujar aku sampai menangis dan buang muka.


"Ow gitu katamu terakhir kali aku tanya siapa yang meracuni pikiran kamu?,sehingga kau yang manja terhadap aku berubah jadi ketus gini" Kata Wijaya jadi heran.


"Yunita yang kau kenal dulu polos sudah mati dan Yunita yang baru sekarang dihadapan kamu !" ketus aku sambil menjaga jarak pada Wijaya.


"Sudah pandai sekarang ya,sebulan tidak jumpa kau berubah drastis,cepat katakan siapa yang menghasut kamu untuk menjauhi aku?" Wijaya sambil mencengkram bahu aku sehingga aku merintih sakit.


"Lepaskan sakit tau !" bentak aku sambil menampik lengan Wijaya.


Aku tidak mungkin mengatakan joko dan Sutono,aku tetap akan merahasiakannya


aku enggak mau persahabatan mereka hancur.


"Ok kalau kau mau jawabannya,aku jawab dengar baik-baik,aku sekarang mau menagih janji kamu !,kau sudah mengambilnya sekarang tanggung jawab,ayo tanggung jawab,kalau kau berani, jumpai keluarga aku" balas aku dengan menantang.


"Oh,soal itu aku bilangkan sabar,itu semua botoh proses Yunita tidak gampang,aku belum mau cepat-cepat,aku masih mau mengenal kamu lebih lama lagi " jawab Wijaya berusaha memeluk aku.


"Aku sudah tau jawaban kamu,terima kasih kalau kau enggak mau juga,ini sudah larut malam sekarang kau antar aku kerumah aku dan pamit sama keluarga aku gimana ?!!" balas aku dengan menantang lagi Wijaya.


Wijaya terdiam dia memeluk aku tapi aku tepis lengan Wijaya karena masih marah,aku sedikit luluh dengan tatapan Wijaya tapi aku tepis dan aku simpan, aku tetap pada pendirian aku.

__ADS_1


"Kenapa kau diam !?" Ketus aku dengan harapan Wijaya memohon lagi.


"Ayo kita lari dari sini,ayo kita pergi dari sumatera ini jauh " balas Wijaya dengan serius.


"Kenapa kau ingin kita lari " ucapku dengan penasaran walau hati ini sedikit senang.


"Karena sebenarnya aku sudah mulai mencintai kamu dek" jawab Riandi meyakinkan aku dan berusaha.


Aku mulai luluh lagi dan mulai bimbang pikiran aku melayang terombang-ambing antara Riandi atau Wijaya mana yang harus aku pilih, Riandi cinta pertama aku sedangkan


Wijaya yang merampas mahkota aku.


Disaat aku diam Wijaya mengambil kesempatan untuk mencium aku,awalnya aku menolak lama-kelamaan aku jadi luluh dan menikmati percumbuan Wijaya.


Wajah yang super tampan menurut aku, mata Wijaya yang seperti magnet membuat hati aku semakin terhanyut,apalagi jujur aku memang merindukan Wijaya.


Disaat percumbuan kami memanas dan nafas Wijaya memburu dia meminta padaku, aku langsung menolak tubuh Wijaya sehingga iya berjalan mundur.


"Kenapa tidak mau,apa kau enggak suka lagi dengan aku,bukankah sudah pernah kita lakukan" Wijaya sedikit kesal pada aku.


"Bukan,bukan enggak suka aku benci kalau kita berzina lagi seperti ini,aku ingin sah dulu baru aku mau tidur dengan kamu " Jawabku dengan alasan seperti itu.


dengan kecewa Wijaya merapikan lagi pakaian yang iya pakai,aku buang muka dan sedikit kecewa dengan perlakuan Wijaya,seakan dia hanya nafsu saja dengan aku.


"Ayo pergi ini hampir pagi " ujar Wijaya yang sedikit kesal.


Aku ikut saja dengan ajakan Wijaya mungkin dia akan memgantar aku pulang dan bertanggung jawab padaku seperti Riandi dewasa dan berani.


Ternyata itu hanya halusinasi aku,Wijaya membawa aku ketengah pohon karet,


disamping jejeran pohon karet tersebut ada got yang besar seperti pembuangan limbah getah pohon karet, karena area pabrik karet tersebut tidak jauh dari tempat ini.


"Kenapa kesini,tapi kita mau lari,aku kira kau mau antar kerumah" ujar aku dengan kecewa


"Dek maaf bagaimana kalau adek aku antar saja ketempat Nata tetangga sebelah adek,kamu pura- pura tidur disana biar keluarga kamu tidak curiga" ujar Wijaya tanpa perasaan.


"Aku terkejut,apa kah ini permainan Wijaya?, apakah karena aku enggak mau bersetubuh dengannya sehingga dia mau mencampakan aku?,enak saja dia membawa aku satu malam ini malah berkata seenak perut Wijaya,dasar pria tidak bertanggung jawab" batin aku.


"Aku enggak mau !!,enak saja kenapa sudah jam enam pagi begini kau baru bilang begini !, puas kau permainkan aku?, mana rasa tanggung jawab kamu?" teriak aku sambil menangis histeris.


Aku berlari menjahui Wijaya karena kecewa sekali,emosi bercampur marah menghiasi hatiku,memang Wijaya hanya mau enaknya saja padaku, sesudah begini dia mau mencampakkan aku, bukannya dia lebih dulu tadi malam menggoda dan membawa aku.


"Dek tenangkan pikiran kamu dulu,jangan lari dek !!!," ucap wijaya sambil mengejar aku dengan teriak.


"Kurang ajar gadis ini membuat aku susah" gumam Wijaya sambil mengejar Yunita.


Pada saat aku berlari jauh dari kejaran Wijaya


aku jadi sangat lelah karena berlari, sedangkan Wijaya masih dibelakang aku,lelah tidak tidur dan lelah sehabis berlari.


"Bruukkkk" aku jatuh pingsan dan tak ingat apa-apa lagi.


Jam sembilan pagi aku ditemukan warga yang melintas dikebun karet tersebut,mereka menemukan aku pingsan disamping parit tempat pembuangan limbah karet, syukur aku katanya tidak jatuh kedalam limbah tersebut,


kalau jatuh aku bisa tewas terendam limbah dan mati.


Aku ditemukan dengan keadaan pakaian terbuka,Warga yang menemukan aku berfikir aku telah diperkosa,membuat geger seluruh kampung.


"Ada yang pingsan,tolong- tolong !!" ucap orang melintas saat menemukan aku pingsan"


Nama orang yang menemukan aku Hendra yang ternyata tinggal disebelah rumah Nenek aku, Hendra berlari untuk memanggil penduduk terdekat, penduduk jadi ramai mendengar teriakan Hendra.


"Ada yang pingsan didekat limbah,Tolong !" Teriak Hendra lagi.


Semua penduduk berlarian kelimbah dimana tempat aku tergeletak,mereka membopong aku kerumah dan memanggil ambulance.


"Kenapa pak dia? " ujar ibu- ibu yang melintas pada Saat aku masuk kedalam Ambulance.


"Engak tau aku menemukannya sudah begini" aku kenal ini cucunya pak Suandi anaknya Abang Darman ucap Hendra.


"Tutup pak bajunya,wah merah-merah itu dadanya,waduh berdarah ada lintah dikaki gadis itu, kasiannya Tuhan gadis yang malang" ucap salah satu penduduk.


"Eh pak Suandi orang yang kita segani Fanatik lagi sama Agama,kok cucunya bisa begini?" Tanya ibu-ibu mulai menggosip.


"Kelihatannya dia dperkosa" bisik ibu-ibu satu lagi dengan kernyit dahi.


"Huss ibu- ibu bukannya bantu malah menggosip,dirumah sana pulang !" bela pak Hansip yang ikut menolong.


Ambulance yang membawa Yunita singgah dulu kerumah Yunita karena pihak keluarga harus tau.


"Kak indi, tolong anak gadismu pingsan !!"


pak Hansip teriak didepan Rumah saat keluar dari Ambulance.


Indi yang sedang risau mencari Yunita satu malam ini hampir pingsan,karena melihat Yunita tergeletak didalam Ambulance.


"Kenapa dia !!, biarkan saja dia mati !!, aku tidak mau urus dia lagi !! " Kata Indi tiba-tiba emosi dan malu saat satu penduduk berkumpul didepan rumah.


------------------------------------------------------------------------


Disini kita bisa memetik hikmah dari buah yang dilakukan Yunita,para anak gadis jangan mau tertipu pria, iming-iming dengan janji palsu, jangan bodoh seperti Yunita ya.


salam dari autor muach

__ADS_1


jangan lupa like nya say.


__ADS_2