Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 17


__ADS_3

Pakaian yang sudah aku siapa beserta tas ransel yang aku bawa setiap pergi,kini sudah siap untuk aku bawa pulang kerumah.Sedih rasanya meninggalkan rumah Uak Murni,sudah hampir sebulan aku disini.


"Dek aku antar ya sampai kerumah adek" Kata Anto dengan nada sedih saat melihat aku sudah siap untuk pulang.


"Karena mama dan ayah sudah pulang kemarin sore,jadi apa salahnya abang yang antar aku" jawab aku sambil susun barang- barang yang lain.


Aku dan Anto pamit pada Uak Murni dan suaminya beserta Jaka juga aku salam. Lalu kami beranjak pergi dari rumah Anto.


" Adek jangan sedih dong,abang juga inap satu hari dirumah kamu, lusa abang sudah kerja juga sayang" Kata Anto yang sibuk angkat tas ransel kepunyaanku.


" Aku enggak sedih bang, cuma takut kita enggak berjodoh,kenapa setiap aku sudah mencintai pria mereka meninggalkan aku sendiri" Jawabku dengan menahan air mata.


" Eehhh,nanti abang setelah pulang kerja dari lintas,abang datang kerumah adek lagi " Kata Anto berusaha menghibur aku.


Aku hanya anggukan kepala saja dengan menjawab perkataan Anto, walau perkataan Anto tidak membuat aku puas dihati.


Sesampai disimpang rumah,aku dan Anto naik mini nus yang menuju terminal kearea rumahku,diperjalanan sampai keterminal genggaman jemariku dan Anto tak kunjung jua lepas,lalu kami naik Mini Bus lagi menuju kampung halamanku.


Setelah satu jam lebih kami akhirnya sampai kerumah aku, kami turun dari Bus sembari melangkahkan kaki ini menuju rumah.Lalu tidak berapa lama akhirnya kami sampai kerumah disambut hangat Mama dan Ayah.


"Anto juga ikut ?,katanya mau kerja?" ujar Ayah yang masih salaman dengan Anto.


"Lusa pakcik Anto kerja,Yunita takut pulang sendiri jadi Anto yang antar dia heehehe" Balas Anto dengan alasan yang masuk akal.


"Ya sudah....istirahat dulu kalian karena baru sampai " balas Ayah sembari duduk didepan televisi.


Kami duduk santai diruang tamu, sementara Anto bercerita panjang dengan Ayah, Aku langsung jalan masuk kedalam kamar.Dari ucapan Mama sepertinya mencurigai hubungan kami, kecurigaan Mama semakin menjadi saat kami pergi berdua pamit untuk Jalan-jalan pada saat malam hari.


Anto pamit dengan Mama dan Ayah sembari mengajak aku keluar malam ini.


" Ayah lihat tuh mereka pergi malam- malam gini sambil gandengan tangan " ucap mama dirumah sambil nonton televisi.


" Yah aku juga curiga dek, karena gelagat mereka mesra dan akrab " balas Ayah yang duduk disamping Mama.


"Aku tidak setuju kalau mereka pacaran yah !!, saudara tetap saudara walaupun bisa kita jodohkan mereka aku tetap tidak setuju, anak aku masih remaja perjalanannya masih panjang" balas Mama dengan ketus.


" Ahk kalau mereka saling suka biarkan saja yang penting mereka tau batas hubungan mereka, kau jangan keras kepala dek , semakin anak kau kekang semakin dia melawan dan penasaran" balas Ayah sembari kernyit dahi.


"Alah intinya aku enggak setuju titik" balas Mama dengan nada ketus.


"Keras kepala" kata Darman merasa tidak senang dengan istrinya itu.


Sementara dua sejoli itu yang dimabuk asmara sedang jajan ditepi jalan sambil tertawa lepas.


" Pak martabak kacang satu,kacangnya di banyakin ya" ucap Anto sama tukang martabak.


" Baik bang ..sabar ya bang " jawab tukang martabak yang sibuk memanggang martabak.


Setelah martabak siap Anto membayar jajanan itu,Lalu kami melanjutkan perjalanan sembari pulang kerumah.


" Adek capek jalan atau tidak?" Tanya Anto yang khawatir.


"sedikit sih, ayo kita istirahat dulu dibangku itu" kataku yang menunjuk bangku panjang yang didekat pohon karet.


Anto menurut saja sambil mengikuti aku yang jalan lebih dulu menuju bangku yang bisa muat tiga orang.Lalu kami duduk santai,Entahhal apa yang membuat hati ini jadi sedih seketika aku menangis.


"Hiks....hikss.." Deru tangisku didengar Anto.


"Kenapa nangis, jangan nangis kamunya, aku tidak tahan kalau melihat cewek menangis"


Anto meraih kepalaku lalu kepala ini bersandar dibahu kekar Anto,aku jadi sedikit tenang dengan perlakuannya.


" Sedih ini malam terkahir kita bang, besok abang sudah pulang" kataku yang ternyata tidak mau berpisah dengan Anto.


"Jangan bilang ini malam terakhir kita, aku janji sewaktu aku dapat libur kerja,aku pasti duluan melihat adik disini,jangan berfikiran aneh sayang" Jawab Anto sembari lengan Anto merangkul aku dari samping.


Sewaktu kami berdua berdiri dari duduk dengan cepat Anto memeluk aku erat sekali,kepala ini tenggelam didada bidang Anto yang lebar dan keras,Hangat....hangat sekali pelukan Anto saat ini,aku merasa tentram dengannya.Airmata tidak bisa aku bendung lagi saat Anto melepaskan pelukan mesra ini dan mengecup mesra keningku.


"cup..cup"


"Jangan nangis terus, aku jadi enggak enakan" Kata Anto sembari menghapus air mata dipipiku.


Aku tak mampu berkata lagi dengan ucapan Anto karena hati ini keburu dilanda kesedihan Hanya air mata ini yang menjawab bukti rasaku kepada Anto saat ini.


"Jujur aku juga enggak mau kita pisah,tapi kota punya tanggung jawab masing-masing sayang,hanya waktu yang bisa memjawab minggu depan,bulan depan bahkan tahun depan kalau kita jodoh kita akan dipersatukan kembali" Kata Anto panjang lebar berusaha membuatku tenang.


"Saat ini aku sangat sayang sama kamu" perkataan yang aku lontarkan terucap begitu saja.


"Aku juga begitu, apalagi kita baru jadian pasti masih hangat-hangatnya sayang,sudah jangan nangis lagi ya, ayo kita pulang" kata Anto sembari berjalan menarik jemariku.


Sepanjang jalan pulang Anto tak lepas merangkul pinggangku,aku hanya diam saja tanpa kata, tidak berapa lama kami akhirnya sampai didepan rumah,Anto melepas pelukannya supaya tidak kepergok Ayah Atau Mama.


Anto berada diruang tamu, sedangkan aku berjalan masuk kedalam kamar,mama datang kekamar aku.


"Tutup pintu ini rapat, semua ditutup" kata Mama dengan nada ketus.


" iya mak " Jawabku dengan heran.


---------------------------------------


*Esok Hari*


Siang hari Anto menyusun pakaian dalam kepunyaan Anto,karena hari ini dia akan pulang,aku yang melihat itu jadi sedih dan langsung masuk kedalam kamar.


"Dek buka pintu,aku mau pamit" Kata Anto yang berdiri didepan pintu kamar.

__ADS_1


Dengan berat langkah aku membuka pintu kamar dan langsung memeluk tubuh kekar Anto.


" Sayang aku bentar kok,Ssssst jangan menangis nanti Mama kamu yang didapur tau" Kata Anto sambil mengelus rambutku.


Anto melepas pelukanku lalu iya mengecup mesra kening ini,tak kuasa berpisah dengan Anto yang membuatku nyaman selama ini, Anto melihat Ayah datang dengan cepat kami menjaga jarak.


"Ayo biar pakcik antar kamu" kata Ayah sambil menyiapkan kendaraan diluar rumah.


Dari jendela aku melihat Anto berjalan kehalaman rumah,Anto melambai dan tersenyum setelah itu Anto berlalu dari pandanganku,seruan tangis dan kesedihanku pecah,aku hempaskan tubuh ini keatas kasur.


"Ya Allah kenapa semua sudah pergi,Riandi aku menghilang menggantung kan hubungan kami,Wijaya tidak ada kabar sama sekali,kini Anto yang melindungiku pergi juga,aku jadi dilema" Hiks ...Hiks.... Aku terus bergumam dan menangis.


" Yunita sini,ada yang mau bicarakan" Panggil mama dengan nada tegas.


"Iya ....."


Aku cepat-cepat bangkit dari tempat tidur, mengusap air mataku dan berakting biasa saja, lalu kaki ini melangkah menuju ruang tamu dimana mama sedang duduk.


"Ada hubungan apa kalian sebenarnya?, seumur-umur Anto itu enggak pernah inap dirumah kita, coba jawab pertanyaan aku ini"


tegas mama dengan nada ketus.


" deg deg deg "


Jantung memacu lebih cepat saat menjawab pertanyaan Mama,Bingung saja dari mana mama tau tentang aku dan Anto.


"Hemm....enggak ada apa-apa" Aku menyangkal sambil menundukan kepala.


"Aku peringatkan sama kau, aku tidak setuju kau sama Anto walau pun kalian nanti memohon padaku,aku tegaskan sekali lagi saudara tetap saudara titik,Jangan temui dia lagi ...!!!?, kau dengar itu Yunita !!" tegas mama dengan kemarahan nya.


" jedaarrrrrr "


Hatiku bagai tersayat pisau,jantung aku berdegup kencang,darah aku mendidih saat mendengar ucapan mama,aku berdiri mematung dihadapan nya,kenapa Anto yang baik mama tidak suka.


" MAMA JAHAT .....!!" teriak aku dengan menangis lalu aku pergi keluar dari rumah sambil berlari kencang.


"Yunita ....pulang kau !!"


Aku tidak perduli suara mama memanggil aku dari jauh, aku terus saja berlari tanpa arah tujuan yang tidak pasti,entah mau kemana kaki ini melangkah.


"Brumm brumm " suara motor yang aku kenali terdengar jelas dibalik gang sebelah,aku langsung memeriksa gang sebelah.


"Seperti suara kerera Wijaya" Gumam sendiri dan kernyit dahi.


Aku cari-cari disetiap gangadi,tetapi tidak ada apa aku berhalusinasi? aku terpaku diam direrumputan jalan sepi ini.


"Ehh gila ngapai kau duduk di semak-semak itu nanti ada ular Yun" teriak Wati yang lagi melintas.


"Eh Wati,bikin kaget saja kau,dari mana kau?" Balasku dan mendekati Wati.


"Aku juga ya Wati, aku ikut boleh" kataku sambil melepas jabatan tangan Wati.


Sambil berjalan kerumah Indarti,aku dan Wati mengobrol supaya tidak sepi.


"Kelihatannya kau lagi habis menangis?,


kenapa?, cie apa kau rindu Wijaya?" tanya Wati cengengesan


"Mau tau saja kau urusanku,wijaya enggak ada kabar udah sebulan kami envgak ketemu, mau kirim surat aku tapi tidak tau nitip sama siapa" Jawabku sambil berjalan.


"Untuk apa kau kirim surat dodol, kau enggak tau Wkjaya sudah pulang?,tadi malam kami kumpul sama dia di tempat Mbak Lenni " balas Wati tersenyum.


"Ow.....benar ya?,ya tapi bukan salah dia sih, aku juga enggak disini,aku baru pulang semalam dari tempat Uak" Balasku lagi.


"nanti malam kan malam minggu,ada yang pesta,ayo kita nonton hiburan keyboard disana yo,siapa tau jumpa Wijaya dijalan" balas Wati bernada senang.


"Ok lah jam delapan aku kerumah kau nanti malam,eh kita sudah sampai kerumah indarti" kataku sambil senang.


Kami makan kue dirumah indarti sambil ngobrol,sedikit terhibur suasana hati kumpul dengan Wati dan Indarti,sepintas teringat Anto lagi tapi aku tepis perasaan ini, ya mungkin sudah takdir perjalanan cintaku.


--------------------------------------------


*Malam Minggu*


Malam hari datang,aku mandi ,berhias tipis- tipis karena sudah janjian jam delapan kerumah Wati,tado sore aku pulang Mama tidak bicara lagi soal Anto, kami jadi diam-diaman.


Sudah siap dengan baju kaos ketat dan celana jeansku,aku berjalan kepintu depan hendak memakai sendal cantik.


"Mau kemana kau?,jangan menggatal diluar pulang jangan malam-malam,awas saja" tegas Mama yang lagi duduk nonton televisi.


"Iya .."


Aku menutup pintu depan,lalu berjalan kaki menuju rumah Wati,rumah Wati tidak begitu jauh dari rumahku melewati satu gang saja.


Sesampai dirumah Wati,ternyata dia sudah menunggu aku.


" Ces cepat kali kesini,semangat kali kau ya" Kata Indarti yang lagi duduk diteras rumah Wati.


"Paling dia enggak sabar ingin ketemu doi" Kata Wati sambil tersenyum.


"Kalian macam enggak senang aku ikut,nanti aku lama datang kalian merepek, aku cepat datang kalian curiga " Kataku sambil manyun.


"iya...iya..gitu saja sewat, ya sudah ayo kita jalan nonton" Balas Indarti lalu berdiri dari duduk.


Kami berjalan menuju arah tempat pesta untuk menonton keyboard,melihat seorang biduan dengan baju Wah nya menyanyi diatas pentas. Aku,Wati dan Indarti berposisi dibelakang pentas keyboard sembari memperhatikan orang lewat.

__ADS_1


"Bummm Brumm Numm" suara kereta Rx.king meluncur kearah kami,kami bertiga tersontak kejut,apalagi aku yang tak pernah ketemu dia.Wijaya bersama Joko ternyata.


"Yang mana namanya Yunita?" kata Joko bisik kekuping Wijaya.


"Baju kuning" suara samar Wijaya kepada Joko.


"Ow pantas Wijaya mengejar dia,ternyata memang benar kata orang dia bunganya disini,hem.....macan banget" batin joko memperhatikan Yunita atas bawah.


"Halo gadis cantik,wah wangi-wangi kalian,lagi nunggu ayang nya masing-masing ya" canda Wijaya menebarkan senyum,sehingga jadi pusat perhatian gadis lain yang ada ditempat ini.


"Bang Wijaya mau kemana?,mau kencan juga ya?" Wati dengan nada kegirangan.


"Iya dong,aku lihat sayang aku sama kalian, mangkannnya aku kesini" Ucap Wijaya sembari turun dari motor dan menghampiriku.


Aku diam saja dan buang muka seakan tak perduli dengan ucapan Wijaya, apalagi Wijaya mendekatiku.


"Merajuk dia bang,abang sih enggak ada kabar katanya " balas Wati dengan kernyit dahi.


"Aku mau temui romi ya, dia sudah nunggu ditempat janjian da da da " Indarti pergi meninggalkan kami tanpa menunggu izin dari kami.


"Ya sudah, aku juga mau ketemu beno pasti nunggu aku di tempat biasa " Wati pergi tanpa ucapan aku,buat aku kesal saja, mereka berdua seperti sengaja meninggalkan aku dengan Wijaya.


"Taik ayam semua,sahabat durhaka kalian pamit sudah direncanakan kayak sengaja orang itu" geram batinku bersuara.


"Joko, bawa saja kereta aku,kaukan mau kencan juga,aku sama Yunita mau jalan kaki saja dulu" bisik Wijaya kepada Joko.


"Enak kau ya dapat macan (manis cantik)" Bisik Joko pada Wijaya.


" Bising kali kau,cepat enyah,sudah dikasih kereta buat kencan banyak kali pertanyaan kau" kesal Wijaya pada Joko.


Joko pergi meninggalkan kami berdua dibelakang hiburan ini, banyak gadis yang melirik Wijaya karena memang suasana lagi ramai ditempat pesta ini,kami jadi pusat perhatian saat jalan berdua.


"Sudah dong merajuk nya,abang jadi gimana gitu" kata Wijaya sambil berjalan.


"Hemm...Iya iya" kataku singkat dan tersenyum malu.


Wijaya meraih jemari aku dan meboyong aku kebelakang rumah sepi ditemani lampu kuning yang remang.Dibelakang rumah tersebut disediakan bangku disamping juga tertanam pohon Mangga.


"Dek jangan marah terus, kitakan sudah ketemu" Wijaya mengambil posisi duduk.


"Siapa yang marah,enggak aku enggak marah" kataku juga mengambil posisi duduk.


"Duduk nya jangan jauhaan" Kata Wijaya langsung mendekati aku.


Wijaya bersandar dibatang pohon mangga, lalu Wijaya menarik lenganku berharap aku bersandar dipundaknya.syukur aku keramas jadi rambut aku harum dipeluk Wijaya dari belakang.


"Wangi ya adek ini " ucap Wijaya


"Kemana saja bang?,enggak pernah ada kabar, apa enggak kangen sama aku?" kataku sambil cemberut.


" adik yang kemana selama ini,seminggu yang lalu abang sudah pulang" Jawab Wijaya sambil elus rambut aku.


"Maaf deh, aku kerumah Uak dikampung" kataku yang mulai tersenyum pada Wijaya.


"Kamu enggak selingkuhkan?" Tanya Wijaya lalu menatap kedua bola mataku.


"Hemmm"


Aku bingung mau jawab apa dengan pertanyaan Wijaya,aku juga tak sanggup bila bola mata Wijaya melihatku, seperti memakai pelet pria yang satu ini,rasaku berbeda kalau ketemu peria ini.


"Dek lihat abang dong, masak abang lihat rambut kamu terus sini dekat" kata Wijaya sambil merapatkan duduk nya.


Pacar aku berbeda semua, Riandi lembut dan penyayang,Anto pecemburu dan berusaha melindungi aku, sedangkan Wijaya ini sikap dan kata-katanya terkadang susah ditebak.


Aku juga bingung sama hati ini ketemu Anto jadi cinta,ketemu Wijaya juga cinta, jadi bercabang cabang hati ini.


" Pakek peletnya abang, kalau kita jumpa pasti aku berdebar terus " kataku berterus terang.


"Pelet apa ada- ada saja adek ini,nanti dia yang pakek pelet hayoo- hayo" canda wijaya .


sambil mencet hidung kecilku.


"Asli natural ini aku " kataku.


Tanpa basa-basi lagi aku dan Wijaya bercumbu habis-habisan,dari mulai berciumam,berpegangan kami menikmati itu semua.


Malam hampir larut Wijaya mengantarkan aku pulang, tapi tidak sampai dekat rumah, Wijaya hanya mengantarkan aku dari belakang rumah saja.


aku berjalan sampai kerumah,setelah sampai kerumah,aku langsung kekamar karena takut ketemu sama Mama.


" Ngeluyur aja kau,menggatal kau kan,sudah jam berapa ini !!" bentak Mama yang tiba-tiba nongol didepan kamar.


Aku diam saja takut mau jawab apa, malas malam ini ribut lagi dengan Mama seperti tadi siang.


-----------------------------------------------


Arti :


Kaget : terkejut.


Pakek : pakai, memakai.


Kereta : sepeda motor


Kayak nya : sepertinya.

__ADS_1


__ADS_2