
Tahun 2014
Aki masih berstatus pacaran dengan Juan,entah mau dibawa kemana hubungan ini?, sepertinya aku akan pindah dari kontrakan ini, karena uang yang terkumpul selama aku kerja dan ikut arisan lumayan bisa menyewa rumah toko yang pertahun sekitar lima belas juta.
Aku sengaja sewa rumah toko ini supaya bisa menyekat kamar dan menampung anak indekos,siapa tau balik modal dan mendapat untung supaya aku berhenti bekerja didunia malam ini,karena sudah genap aku menjanda selama tujuh tahun lamanya.
Tetapi impian aku tidak sesuai harapan karena uang serta harta yang aku kumpul hancur dan hilang didalam rumah toko yang aku sewa ini.
Mari kita simak detik-detik aku mendapat suami yang kedua.
------------------------------------------------------------------------
Saat aku didalam rumah toko bersama pemiliknya,pemilik rumah toko ini berdarah tionghoa,kalian pasti taulah setiap rumah toko alias ruko pasti pemiliknya sebagian orang tionghoa disetiap kota,entah kenapa aku bisa mwmilih tempat ini,mungkin karena harganya sedikit miring.
"Koko ini berapa rukonya pertahun?"
Tanya aku ketika berhadapan pemilik rumah toko ini.
"Lima belas jua saja,wa sudah renovasi rumah ini,lu beruntung wa kasih harga murah lho" Tukas pria setengah baya sekitar usia lima puluh tahun lebih.
"Saya kasih panjar sepuluh juta ya ko,sisa uangnya saya kasih sewaktu angkat barang" Ucap aku dan memberi uang kepada pria tua tersebut.
"Wa terima uangnya,entar angkat barang kita buat surat sewa rumah" Sambung pria tua tersebut dan menerima uang dari aku.
"Baiklah ko"
ucap aku dengan tersenyum ramah.
Impian aku sewa rumah besar ini supaya menampung anak yang mau indekos.
Ah semoga saja impian aku terwujud.
Seminggu kemudian
Hari ini aku angkat barang-barang,kedua orang tau aku juga datang untuk membantu angkat barang dari rumah kontrakan lama.Ayah juga membantu membuat sekatan kamar-kamar dilantai atas dan bawah.
"Yun sudah ada yang mau indekos ditempat ini?" Tanya mama yang sibuk merapikan pakaian aku.
"Ada mak dua orang,Monica sama Apin"
Jawab aku sembari membenahi gorden kamar.
"Mantaplah nak,ya sudah mama masak nasi didapur dulu" Tukas mama yang sudah siap menyusun pakaian kedalam lemari.
"Ya ma"
Jawab aku sembari tersenyum.
Gedung yang aku sewa ini berlantai dua,kamar aslinya ada tiga tetapi aku sekat lagi menjadi enam kamar,siapa tau banyak yang mau sewa kamar ini bisa mengembalikan modal aku yang tertanam disewa rumah gedung ini.
Selesai kami merapikan dan barang-barang telah tersusun rapi,aku dan mama serta ayah istirahat sebentar,setelah itu kami makan bersama,kebetulan mama membawa lauk dan sayur untuk kami sekeluarga,adikku Anton juga membantu.
"Yun mama pulang ya,sudah sore"
Tukas mama selesai makan.
"Iya mak hati-hati"
Jawab aku sambil merapikan piring bersih ketempatnya.
Setelah aku memberi uang kepada mama dan Ayah akhirnya pamit dengan naik sepeda motor,lalu aku berjalan kelantai atas hendak membantu Monic menyusun barang-barang milik Monic dikamar barunya.
Monic anak Indekos aku yang perdana,dia dikamar depan berhadapan dengan kamar aku,Monic juga wanita pekerja malam,dia seumuran dengan aku,aku kenal Monic sewaktu indekos dirumah kontrakan yang pernah dimassa dahulu.
Dulu monic peliharaan pria berdarah tionghoa.Monic suka dengan orang chenes, dia juga bisa bahasa hokyen tetapi bahasa mandarin Monic tidak bisa.
"Yun nanti malam kerja?"
Tanya Monic yang sibuk merapikan alat riasnya.
"Enggaklah buk,aku masih capek baru pindahan" Jawab aku sedang merapikan tempat tidur Monic.
"Kau udah putus sama Juan?"
Tanya Monic dengan penasaran.
"Menggantung bu,sakit juga digantung kayak gini" Jawab aku lagi sedang mendengus kesal.
"Sabar-sabarlah Yun,eh ini uang sewa kamar aku ya Yun" Ucap Monic memberikan sejumlah uang.
"Ok Monic,semoga betah disini ya"
Jawab aku langsung mengambil uang dari tangan kanan Monic.
"Betah dong"
Tukas Monic dengan tersenyum.
Selesai membantu Monic aku keluar dari dalam kamar Monic,dipertengahan jalan lorong menuju kamar aku,aku melihat Alpin dilantai bawah,Alpin juga sibuk merapikan kamar barunya,pria ini adalah anak indekos aku yang kedua.
Aku berjalan lagi menuju kamar,sewaktu menutup pintu kamar terlihat Alpin berjalan menuju kamar aku.Aku tidak jadi menutup pintu karena sepertinya Pria ini ingin bertemu dengan aku.
"Mbak ini uang sewa kamar aku"
Tukas Alpin satat didepan pintu kamar aku.
"Ok Alpin terima kasih"
Sambung aku dengan tersenyum ramah.
"Iya mbak,kalau begitu aku kebawah dulu ya mau susun barang" Kata Alpin dengan tersenyum ramah.
"Ya Alpin"
Jawab aku sembari menutup pintu kamar setelah Alpin berlalu menuju lantai bawah.
Memang aku tahun ini lagi naik daun,didalam pekerjaan aku laris manis,begitu banyaknya tamu yang meminta aku tampil menari striptise,sehingga aku sangat bahagia sembari menabung sedikit demi sedikit.
Tapi soal asmara aku tidak beruntung,putus dan putus lagi,aku selalu mencoba membuka hati tetapi tetap sama saja semua pengkhianat dan pengecut,padahal target aku menikah satu tahun lagi,aku tidak mau menikah saat usia ini menginjak kepala tiga.
Keesokan Hari
Malam ini seperti biasa aku mendapat Job menari tiga ktv,badan ini sudah lelah rasanya,sewaktu aku keluar dari tempat karaoke terlihat seorang wanita mengejar aku dari belakang menuju tempat parkiran.
"Yun,tunggu aku"
Tukas Monic dengan nafas tersengal saat berlari mengejar kau yang berjalan kaki dengan tergesa-gesa.
"Pakai acara lari kau Mon,kenapa?"
Tanya aku dengan heran dan penasaran.
"Aku numpanglah,malas naik gojek,bolehkan?" Jawab Monic dengan wajah berharap.
"Oaleh,rupanya minta numpang,Ayolah pulang bersama aku,jangan sungkan Mon" Ucap aku sambil naik keatas sepeda motor.
"Yun aku ada kenalan orang chenes,kami ada janji sekarang,mau kau gabung?" Kata Monic lalu naik keatas bangku tumpangan sepeda motor.
"Ah gabung kemana say?,kebetulan aku lagi suntuk,walau sebenarnya badan ini capek" Ucap Aku sambil menghidupkan sepeda motor.
"Tempat mereka dibelakang karaoke ini,ayolah biar aku kasih tau jalannya" Kata Monic dengan semangat empat lima.
Aku fokus membawa sepeda motor menuju sebuah lorong dan tempat pria itu berkumpul tidak begitu jauh dari tempat kerja aku dan Monic,ternyata sebuah kedai yang menjual minuman keras disitu semua para brondong chenes berkumpul dan salah satunya adalah pacar Monic.
"Enggak lama kan woi?"
Tanya Monic saat turun dari atas motor.
"Lumayan beb"
Jawab pacar Monic bermata sipit.
"Ayo Yun duduk sini,jangan takut ini semua teman pacar aku" Ujar Monic yang sudah duduk disamping kekasih hatinya.
"Yunita"
Ucap aku saat mengukurkan tangan kepada pria berkulit putih tersebut.
"Hanzi"
Pria bermuka tampan dan menyalam aku dengan senyum menyebut nama.
"Jiko"
__ADS_1
Pria ini juga tersenyum ramah kepadaku.
"Rudi"
Terkahir bernama Rudi adalah pacar Monic.
Selain aku berjabat tangan kepada ketiga pria ini,aku juga berjabat tangan kepada pria lainnya,tidak bida disebut satu persatu lagi karena masih ada lima orang yang ikut gabung bersama Hanzi dan Rudi.
"Diminum Yun,entar jadi lengkong"
Kata Rudi saat melihat aku duduk bengong.
"Boleh minta pin BB?"
Tukas Hanzi saat duduk berhadapan dengan aku.
"Iya ko Rudi aku minum nih,Eh boleh Hanzi"
Ucap aku dengan sedikit canggung.
Entah kenapa aku tidak nyaman duduk didepan Hanzi,mata Hanzi terus saja melirik aku sedari tadi,seperti aku ini makanan enak bagi Hanzi.
"Jreng...jreng"
Jiko memetik gitar seraya ingin mengajak kami untuk bernyanyi,karena itu hobby yabg aku suka,aku jadi ikutan bernyanyi dengan riang walau sesekali aku juga melirik pemuda tampan bernama Hanzi ini.
"Kami pulang ya beb hampir jam tiga pagi nih" Tukas Monic saat melihat arlojinya.
"Wah sudah pagi,ayo Mon kita balik"
Ucap aku terkejut dan berdiri dari duduk.
"Aku antar ya bebeb,ini sudah pagi enggak mungkin kalian pulang berdua saja" Kata Rudy berdiri dari duduk.
"Baiklah sayang,Hanzi semuanya kami pamit ya" Suara Monic saat duduk diatas motor aku.
"Ok Mon,Yunita hati-hati ya"
Seru Hanzi dengan semangat saat melihat aku sambil tersenyum manis.
"Ya Hanzi.. bye"
Jawab aku sembari menghidupkan mesin sepeda motor.
Rudi mengiringi aku dan Monic berjalan menuju rumah,hanya bererap menit kami sampai didepan rumah kontrakan aku,ya lokasi kami minum tadi tidak begitu jauh dari rumah kontrakan aku,setelah itu Rudi pamit kepasa Monic dan aku.
"Yun kita nonton film sebentar ya,aku belum ngantuk lho" Tukas Monic saat menaiki anak tangga satu persatu.
"Ayolah kita nonton dikamar aku,sama aku juga belum bisa bobok" Sambung aku saat membuka pintu kamar.
Kemarin aku membeli banyak kaset Dvd,kebetulan aku dan Monic suka menonton,apalagi aku suka film horor.Sedangkan Monic suka film romantis,Monic sedikit penakut kalau menonton film horor.
"Yun kelihatannya Hanzi suka sama kamu" Ucap Monic saat berbaring diatas kasur sembari menonton.
"Aahh,ada-ada saja,aku masih status pacar Juan" Kata aku yang berbaring disebelah Monic,karena televisi tepat didepan mata kami.
"Hemmm,oh iya yun aku lupa mau kasih tau kalau alpin beri kabar tadi siang,katanya ada yang mau sewa kamar lagi,teman Alpin" Kata Monic sembari kernyit dahi.
"Ah siapa mon?"
Kata aku dengan semangat.
"Kata Alpin namanya Ozy,dia mau sewa kamar lantai bawah,sebelah kamar Alpin itu" Sambung monic dengan tersenyum.
"Suruh datang saja besok,kalau cocok langsung bayar Mon" Tukas aku lagi dengan semangat.
"Aman itu,lagian Pin BB kamu sudah aku kasih sama Alpin,besok kamu pasti dichating sama Alpin" sambung Monic lagi.
"Ya enggak apa Mon"
Sambung aku lagi dengan senyuman manis.
Aku dan Monic tidak mengobrol lagi karena film yang kami tonton semakin seru.
Esok Hari
Siang hari saat aku terbangun ponsel Blackberry ini berbunyi pertanda ada yang chating,ternyata pria yabg bernama Ozy,dengan cepat aku membuka knop pintu karena Ozy sudah berada dipantai bawah untuk melihat kamar kosong.
"Bagus mbak,aku mau dikamar ini mbak dan ini uangnya mbak,aku tau harga sewa kamar ini dari Alpin" Sambung pria bertubuh kecil itu kepadaku dan memberi sejumlah uang sesuai sewa kamar yang aku terapkan.
"Kapan kau mau angkat barang?"
Tanya aku lagi saat mengambil sapu untuk Ozy yang ingin membersihkan kamar sewa miliknya.
"Besok mbak,aku bersihkan dulu ya"
Jawab Ozy yang membuka lemari dua pintu didalam kamar tersebut.
"Baiklah Ozy terima kasih mau disini,ini kunci duplikat pintu rumah kita,jadi besok kamu tidak perlu repot manggil saya" Ucap aku saat memberi kunci duplikat pintu utama rumah.
"Iya mbak"
Kata Ozy dengan tersenyum dan mengambil kunci dari tangan aku.
Aku membiarkan Ozy membersihkan kamar pribadinya,aku berjalan menaiki anak tangga menuju kamar aku,aku membalikan badan saat dipintu kamar karena Monic sudah bangun dari tidurnya.
"Yun sudah datang Ozy?,lumayan sudah tiga anak indekos kamu" Kata Monic saat keluar dari dalam kamar miliknya.
"Lumayan lah Mon tiga kamar sudah terisi,tinggal tiga kamar lagi kosong" Sambung aku sembari masuk kedalam kamar bersama Monic.
"Rudi pacar aku yang tadi malam,mau main kesini Yun,bolehkan?" Tanya Monic dengan wajah penuh harap.
"Disini bebas Mon,asal jangan buat keributan takut tetangga jadi terganggu" Jawab aku sembari duduk dikursi.
"Aman itu Yun,lagian aku mau tenang sewa kamar disini,enggak suka ribut,lebih enak sepi begini kita tenang mau istirahat,aku telfon Rudi dulu ya" Sahut Monic dengan semangat memegang ponsel miliknya.
"Iya Monic yang imut"
Kata aku sembari menghisap sebatang rokok dengan santai.
"Kalau begitu aku mandi dulu"
Ujar aku lagi mengambil handuk dan bergegas kedalam kamar mandi.
Beberapa saat kemudian selesai aku mandi,aku menggantu baju didalam kamar,tetapi aku melihat Monic tidak ada didalam kamar,aku melihat setiap sudut rumah ini dan melihat Monic didepan pintu rumah bersama seorang pria,ternyata Rudi sudah datang.Takut terlihat Rudi aku cepat-cepat mengganti pakaian.
"Yun,kau sudah bedakan?"
Tanya Monic saat masuk kedalam kamar bersama Rudi.
"Sudah Mon,silahkan duduk ko"
Ucap aku kepada Rudi untuk duduk disofa kamar aku.
"Terima kasih Yun"
Sambung Rudi mengambil duduk bersebelahan dengan Monic.
"Yun ini pizza"
Kata Monic menyodorkan dua bungkus Pizza berukuran jumbo.
"Tau saja koko Rudi ini kalau aku lagi lapar"
Ucap aku dengan senang dan mengambil potongan pizza untuk dimakan.
"Baru pulang dari kota M Yun,Monic minta ini sekalian jalan tadi" Sambung Rudi melirik Monic yang menikmati pizza.
"Jauh-jauh dari kota M cuma beli Pizza,gula kau Mon dikota ini juga ada pizzakan"
Ucap aku dengan heran.
"Beda dikit Yun,ini lebih enak tau"
Kata Monic dengan lahap makan jajanan tersebut.
"Enggak apa Yun,kamu nambah lho Yun"
Sambung Rudi dengan tersenyum.
Sebenarnya aku tidak suka makanan junkfood ini,karena aku lebih suka ikan asin sambal belacan dengan daun singkong rebus buatan mama,tapi menghargai perasaan Rudi membawa dari jauh aku mencoba makan dua potong pizza ini.
"Entar malam kalian kerja Yun?"
Tanya Rudi yang mengepulkan asap nikotin dari dalam mulutnya.
__ADS_1
"Enggak pernah libur ko,tapi enggak kaya-kaya aku Hahaha" Ucap aku dengan canda ria.
"Hahaha...uang enggak nampak kalau enggak dikumpul sayang,mangkannya sayang kasih aku lebih dong" Sahut Monic dengan cemberut.
"Kalau soal uang cepat kamu sayang nalarnya" Tukas Rudi dengan geleng kepala.
"Heheheheh,biasa wanita ko banyak yang mau dibeli" Ucap aku dengan tersenyum.
"Emangnya bebeb bicara soal kerja ada apa?,apa ada acara sama koko Hanzi?" Tanya Monic dengan kernyit dahi.
"Teman ulang tahun,mau manggang ikan entar malam sayang" Jawab Rudi sembari mematikan puntung rokok didalam asbak.
"Sayang lupa ya,entar sore aku mau pulang kampung" Kata Monic sembari hembus nafas panjang.
"Lho Monic mau pulang kampung kok enggak bilang-bilang?" Tanya aku dengan heran sekali.
"Mendadak Yun,mama sms tadi suruh aku pulang kekampung" Jawab Monic dengan wajah sedih.
"Kalau urusan keluarga pulanglah Mon,mungkin keluarga kamu rindu" Kataku dengan tersenyum.
"Kalau begitu siap-siap saja sayang,ini sudah jam tiga sore,aku antar kamu ya" Sambung Rudi melihat Monic berdiri dari duduk.
"Ya sudah aku siap-siap,sebentar ya Yun"
Kata Monic bergegas keluar dari kamar aku menuju kamar Monic.
Setengah jam berlalu Monic sudah siap dengan tas ransel yang akan iya bawa kekampung,lalu Monic berjalan menuju kamar aku.
"Yun aku pamit ya,cuma dua malam aku pulang kampung" Kata Monic sambil mencincing ransel kepunyaannya.
"Hati-hati Mon,entar kalau sudah sampai dikamping,chating aku ya" Ucap aku saat melihat Monic berjalan kelantai bawah.
"Ya Yunita"
Kata Aku sembari mengantar Monic dan Rudi kepintu utama rumah.
"Mari Yun,permisi ya"
Sambung Rudi sambil membuka pintu mobil untuk Monic.
Kini Mobil kepunyaan Rudi berjalan menuju persimpangan rumah,sedangkan aku menutup pintu utama rumah.Akh berjalan kelantai atas dan masuk kedalam kamar.
"Kling kling"
Suara ponsel aku berbunyi bertanda ada chatingan masuk melalui pin BB aku,aku terkejut yang chating ternyata pacar aku Juan.
"Mama aku rindu,boleh aku datang?"
Chating Juan aku baca dengan heran.
"Datang saja"
Chating aku singkat saat membalas chatingan Juan.
Aku sedikit malas bertemu dengan Juan karena rasa ini mulai memudar,apalagi Juan tidak ada ketegasan dengan hubungan uang kami jalin berdua selama bertahun-tahun.
Sesaat kemudian aku mendengar suara sepeda motor kepunyaan Juan,aku berjalan turun dari anak tangga menuju lantai utama untuk menbuka pintu rumah.
"Masuklah"
Kata alu dengan singkat sembari melihat Juan masuk kedalam rumah.
"Lebar ya ma"
Kata Juan melihat sekeliling rumah aku.
"Kamar aku dilantai atas,ayo"
Ajak aku tanpa basa basi kepada Juan,walau aku bicara jutek kepada Juan tetapi Juan tidak marah dia anggap biasa saja tanpa beban sekalipun.
Itulah mengapa aku sangat mencintai Juan,dia sangat berbeda dengan yang lainnya,mau aku bentak,aku pukul,aku marahi Juan tetap sabar dan tidak membalas perbuatan aku.Kini aku dan Juan sudah masuk kedalam kamar kepunyaan aku.
"Sudah berapa anak kosnya ma?"
Tanya Juan langsung duduk dari atas kasur.
"Duduk didekat kau,kenapa menjauh?,anak kos aku sudah tiga" Tukas aku kernyit dahi saat duduk disofa kamar.
"Maaf ya ma,bukan maksud enggak ada kabar tapi aku udah mengundurkan diri dari tempat karaoke" Kata Juan dengan wajah sedih.
"Iya aku sudah tau dari mami Diana,ya sudah cari saja kerja lain papa" Kata Aku dengan tersenyum saat Juan duduk disebelah aku.
"Iya ma,semoga betah ya ma dirumah ini"
Kata Juan sembari melihat sekeliling kamar baru aku.
"Sudah makan?"
Tanya aku saat melihat Juan terdiam saja.
"Sudah ma,kalau mama sudah makan?"
Juan bertanya balik dengan senyuman dibibirnya.
"Sudah dari tadi,tuh ada Pizza,pacar Monic yang bawa,kalau mau makanlah" Kata aku sembari mengambil Pizza dari bawah meja.
"Monic mana?,kenapa mama sendirian disini?,anak kos lain juga enggak ada" Kata Juan dengan heran.
"Satu jam yang lalu Monic diantar kokonya keterminal,kalau anak kost yang lain aku rasa kerja pa" Jawab aku sesekali melirik Juan yang menikmati sepotong pizza.
Semakin malas dengan hubungan ini,Juan saja tidak mau membahas soal hubungan cinta kami yang mau dibawa kemana,sedikit kesal dengan perkataan Juan yang bertanya terus seperti wartawan.
Sore berganti malam Juan masih ada didalam kamar aku,Juan tidak izin terlebih dahulu dengan opungnya,aku ikuti saja kemauan Juan yang mau menginap dikamar aku.
Sewaktu aku menonton film dengan Juan ponsel aku berbunyi,aku meraih ponsel dan melihat siapa yang chating kau dari BB.
"Datang kamu Yun,teman ada yang ulang tahun,Rudi juga ada disini" Aku membaca chating Hanzi dengan kernyit dahi.
"Maaf Hanzi aku tidak bisa datang,karena pacar aku datang" aku membalas chatingan Hanzi,terlihat Juan melirik saat aku sibuk dengan ponsel aku.
"Kling,kling"
Suara ponsrel aku berbunyi lagi saat aku letakkan dilantai begitu saja,Juan sedikit curiga tetapi diam saja seperti biasa.
"Ok Yun,kalau kamu berubah fikiran datang saja ya" Chatingan Hanzi.
"Ya Hanzi"
Aku menutup chatingan ini dengan Hanzi.
"Sibuk amat ma,siapa yang chat kamu?"
Tanya Juan dengan heran dan penasaran.
"Teman pacarnya Mona,mereka buat acara ulang tahun teman satunya lagi,mereka undang aku" Jawab aku dengan teliti.
"Oh gitu"
Kata Juan sembari berfikir keras.
Aku tidak tau sejak kapan Juan berbaring terus ditempat tidur ini,sedangkan aku heran saat menonton film.Aku berdiri dari duduk untik mendekati Juan yang terbaring tanpa kata.
"Pa...ow pa,kamu kok diam saja?"
Tanya aku saat duduk disamping tempat tidur.
Juan diam saja,aku juga melihat badan Juan sedikit menggigil,aku balikkan badannya dan memeriksa kening Juan.
"Duh panas,papa kamu demam kok enggak bilang" Kata aku dengan risau dan panik.
"Papa kenapa?"
Tanya aku lagi dengan panik sekali.
"Ras-rasanya sesak ma,sakit banget dada aku" Ucap Juan denga suara bergetar.
"Ayo kita pulang kerumah opung,ini tidka bisa dibiarkan" Ucap aku hendak menuntun Juan untuk pergi.
Saking takutnya melihat tubuh Juan yang sangat panas,aku tidak peduli lagi untuk mengantar Juan kerumah opungnya.Apapun nanti perkataan orang tua itu aku akan terima semua yang penting Juan dapat probatan dan pertolongan pertama.
Aku memapah Juan sendirian menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.Jujur hati ini tidak tega melihat Juan sakit tidak berdaya.Kini aku dan Juan sudah ada diatas sepeda motor kepunyaan Juan.Kekasihku ini tidak mampu membawa motor,terpaksa aku yang membawa.
"Peluk aku pa badan kamu panas sekali,aku takut kamu jatuh" Kata aku sembari menghidupkan mesin sepeda motor.
Juan diam saja tidak menjawab atau membalas perkataanku,hanya intstruksi dariku Juan mengerti dan memeluk aku dengan erat diatas sepeda motor,Juan juga mengigau tidak jelas membuat aku semakin panik dan gelisah.
Bersambung ***
__ADS_1