
Hari demi hari aku lalui dengan bahagia bersama Raja yang selalu disamping aku,menemani aku suka ataupun duka,hati ini telah tertambat mati hanya untuk Raja.Mama dan Ayah juga suka dengan Raja dan Puput mensuport hubungan kami,sungguh lengkap kebahagiaan aku saat ini sehingga aku tak mau jauh dari Raja,tak terasa hubungan kami hampir setahun.
Malam ini malam minggu seperti biasa Raja menjemput aku dari rumah untuk kencan kami yang kesekian kalinya. Raja pamit pada Mama saat sudah datang dirumah aku.
"Ibu saya izin bawa Yunita"
Raja dengan senyum ramah duduk diatas sofa ruang tamu rumah.
"Jangan lama-lama pulang ya nak Raja"
Mama tersenyum Ramah dan memberi izin kepasa Raja.
Mungkin nurani kedua orang tua aku tau kalau Raja adalah anak baik dan bertanggung jawab,pelajaran aku disekolah juga menaik berkar Raja yang selalu suport aku didalam belajar mungkin juga itu yang membuat mama dan ayah suka pada Raja.
Raja dengan ngebut membawa motor untuk jalan-jalan dengan aku,kedua tangan ini melingkar mesra dipinggang Raja.
"Sayang kita kemana ?" Ucap Raja yang bingung akan kencan kemana.
"Kestadion sayang, Wati dan Indar disana sudah lama kita tidak gabung sayang"
Dengan senyum indah kepala ini bersandar dipunggung Raja dengan nyaman.
"Ok sayang,kita ngebut"
Raja menambah kecepatan motor dan melaju dengan kencang.
"Pelan-pelan sayang,entar kita kecelakaan gimana?" Aku panik saat Raja ngebut menuju stadion.
"Aduh...sakit sayang"
Karena kesal aku cubit pinggang Raja karena tidak mau mendengarkan aku.
"Habisnya abang ngebut sih ,asal kita jalan pasti ngebut terus,hati-hati sayang"
Entah kenapa hati ini tidak enak sekali.
"Iya crewet "
Raja mendengus kesal tetapi iya malah senyum dan mengelus rambut aku diatas motor.
Sesampai kami distadion aku dan Raja melihat Wati dan Indar lagi ngumpul sembari bercanda ria dipadang rumput tersebut.
"Wah cessss enak kau ya jalan-jalan terus ama yayang nya" ucap Wati meledek aku yang lengket terus dengan Raja.
"Ya iya dong" Jawab aku sembari tersenyum terus.
Wati dan Indar hari ini jomblo,gantian aku yang ada pasangan,Hamdani pacar Indar enggak bisa datang sementara Wati baru putus sama gebetannya.
"Ih ada gitar,abang main gitar yok,sejak disungai itu kita enggak pernah nyanyi lagi" Aku turun dari atas motor dengan senang.
"Itu Wati yang bawa,semalam berantam sama pacarnya ,jadi gitar itu diambil Wati siapa tau Wati bokek Hahaah" Indar tertawa renyah melirik Watu yang mendengus kesal.
"Hahaah ada-ada saja akal kamu Wat" Ucap aku dengan berdiri sambil menggandeng jemari Raja.
"selow kalian"
Wati hanya cengengesan saja dan tersenyum licik.
Raja sudah memegang gitar dan memainkan nya saat sudah duduk dipadang rumput tersebut,Wati dan Indar duduk berdampingan sedangkan aku merapat duduk didekat Raja.
"Jangan jauh- jauh sayang,entar indar dan Wati dekat-dekat sayang" Aku menjulurkan lidah pada Wati.
"ihh sok kali kau,kami enggak Lenni ya godain cowok orang " Balas Wati sambil mencibir.
"Ya..aku tau, lagian becanda tolor" Aku tersenyum pada Wati.
" Jreeng jreeeng"
Raja mulai memetik gitar dia berfikir mau melantunkan lagu apa,sedangkan Wati dan Indar tidak tau menyanyi.
" Nyanyi apa sayang?" ucap Raja menatap aku penuh kehangatan.
"Lagu rita effendi ,selamat jalan kekasih"
Entah kenapa aku ingin sekali menyanyikan lagu itu.
"Sedih banget lagu itu,janganlah kamikan lagi jomblo Huhuhu" ucap Wati berwajah sedih.
"Hajar saja itukan lagu" Sajut Indar kernyit dahi.
"Jreng jrengg jreng "
Suara gitar mengalun merdu aku terhanyut tanpa sadar menyanyi dengan lepas,indah malam ini berdendang ria pacar ada disamping,bisa melihat pacar tampan aku hati ini sudah puas.
"Berpisah denganmu tlah membuatku semakin mengerti,betapa indah saat bersama
yang kini masihku kenangggg,
reef: selamat jalan kekasihh...
kaulah cinta dalam hidupku...u.
aku kehilangan mu....
untuk slama-lamanya.." Aku terus bernyanyi sembari melirik Raja yang fokus bermain gitar.
"Jreng jreng jreng"
"aku cinta pada mu ....uu
aku masih menyayangimu ..
walau dihati saja untuk
slama-lamanya..a...Hu..Hu.." akhirnya aku selesai bernyanyi.
Wati dan Indar terbawa emosi dengan nada dan syair lagu yang aku nyanyikan mereka mewek.
"Suara dek merdu,dek kok tau nyanyi ?" ujar Raja sambil meletakan gitar diatas rumput.
"Ohh begini- gini Yunita pernah naynyi,Viva yang ajari dia" Bukan aku yang menjawab pertaan Raja,tetapi Indar.
"Iya benar sayang, teringanya Viva kemana ya,sudah lama aku enggak ketemu dia" Aku Rindu juga sama Viva.
"Dia show terus enggak ada waktu untuk main,banyak job pesta" Jawab Indar
"Kapan-kapan kita kerumah Viva yuk ,sejak aku pindah rumah kami jarang jumpa,dia itu guru nyanyi aku Heheh" jawab aku cengengesan.
"Dek enggak lapar?,kalian enggak lapar?" ucap Raja yang sedari tadi diam saja.
"Wahhhh abang mau traktir kami?, ayok-ayok" ucap Wati dengan semangat empat lima.
"Eh kalau kau,cepat respon ada yang gratis" Indar kecap mulut dan geleng kepala.
"Huhh syirik " Wati sambil toyong kepala Indar,Indar malah tertawa.
Kami semua memutuskan makan bakso dikampung sebelah, sampai dikampung sebelaj warung bakso itu ramai sekali maklum karena cuma warung ini yang menjual bakso.
__ADS_1
"Eh ramai woi malam minggu !,duduk diluar saja " ucap aku yang bingung cari tempat enak.
"Boleh lah"
kami ambil tempat duduk diluar,gadis-gadis ngumpul dengan gengnya masing-masing, sewaktu Raja masuk kedalam warung Raja jadi pusat perhatian gadis lain.
"Temani sana nanti diambil orang lho,banyak kembaran Lenni disni Haahah" Ucap Wati menakut-nakuti aku.
"Biar saja aku percaya Raja gimana" Sahut aku saat melihat Raja memesan dari dalam warung.
"Yakin !!!, ciuss!!, kira dia enggak mau sama itu cewek,kau kan tau cowok kamu itu ada cewek susah langsung respon,Raja itu bukan tipe tegaan" ujar Indar mulai menakuti aku juga.
"Ahk taik kalian buat aku dilema" Aku beranjak dari duduk.
Aku cepat-cepat susul Raja takut juga kalau diculik,Raja aku suruh balek duduk saja karena banyak gadis didalam warung,Raja nurut dan langsung pergi keluar Warung.
"Dek kenapa kawan kalian itu posesif sama abang " ucap Raja yang duduk bersama Indar dan Wati.
"Takut ada Leni dua kali bang,ya namanya sayang" ucap Wati dengan kernyit dahi.
"Abang cinta ya sama Yunita?, kami sebagai kawannya kasihan lihat dia dulu bang,rapuh kayak enggak ada semangat hidup,sejak kenal abang dia seperti hidup lagi " kata Indar kepada Raja.
"Benar bang kasihan Yunita dulu,sejak kenal abang dia ceria kembali seperti pertama kami ketemu " sambung Wati lagi.
"Iya abang paham,abang tau kisahnya dulu dia udah crita,biar kalian tau kami ada komitmen kalau kami sudah tamat dan mapan kami akan menikah" Raja senyum menceritakan didepan Wati dan Indar.
"Wah benar bang,pasti anak kalian matanya cokelat smua,cantik-cantik nanti" jawab Wati dengan antusias.
"Hussss masih kecil cerita anak" Sambung Indar menganggap Wati mesum.
"Sudah jangan ribut" Raja hanya senyum kecil.
Tidak berapa lama bakso pesanan kami tiba,Yunita duduk kembali disebelah Raja,kami semua menikmati Bakso dengan ngobrol bareng lagi.
Wati melihat segerombolan Gadis baru masuk kewarung bakso tersebut, Wati senggol lengan Indar.
"Apa sih" kata Indar.
Indar menatap kedepan lalu buang muka, aku yang tak tau akhirnya mengerti maksud Wati yang memberi kode.
Leni melihat kami lalu gadis itu berbisik terus kepada temannya,kami cuek saja karena tidak diganggu.
"Sayang pulang yok,abang sudah kenyang" Raja berdiri dari duduk dan berjalan kedalam Warung,Wati dan Indar tersenyum saja dan menurut perkataan Raja. Aku emosi melihat Lenni dan tidak nyaman.
Setelah pergi dari warung tersebut,Wati dan Indar pamit pulang,kimi tinggal aku dan Raja berdua dijalan besar.
"Kemana kita sayang?" Raja mulai bingung mau main kemana lagi.
"Pulang saja sayang,istirahat dulu" ucap aku diatas motor.
"Baik tuan putri" Raja membelok dipersimpangan lalu putar arah balik kerumah aku.
Sampai dirumah aku baru ingat orang tua aku lagi kondangan,sedangkan adik aku masih main bersama teman diluar rumah,karena jam menunjukan masih pukul sembilan malam.
"Masuk aja bang tidak apa " ucap aku karena melihat Raja tidak mau masuk.
"Bang diluar aja gak sopan dek enggak ada mama sama ayah kamu" Jawab Raja mengambil duduk diteras depan.
"Enggak apa sayang" aku menarik paksa lengan Raja,memang Raja cowok yang penurut,dia ikuti kemauan aku.
Entah kenapa malam ini perasaan aku tiba-tiba tidak enak sekali,jantung aku kadang berdebar kencang padahal ada Raja disamping.
"Ayo lihat kamar aku" dengan manja aku menarik jemari Raja lalu masuk kedalam kamar.
"Enggak enak sayang,kalau mereka pulang apa enggak dibacok abang" Raja berwajah takut dan merasa ngeri.
"Enggak apa lho" Aku sangat agresif mungkin ini memang type aku.
"Kok bisa bulu mata abang lentik" Aku menatap Raja terus seakan tidak mau Raja pulang dari rumah ini.
"Hem...lalu kenapa?, entar kalau abang pulang adek jangan nakal ya" Raja tersenyum manis pada aku.
"Janji Raja sayang" Jawab aku yang berdiri dihadapan Raja.
Aku mengajak Raja melakukan itu untuk kedua kalinya,entah kenapa malam ini aku ingin sekali melakukan itu pada Raja, Raja menuruti kemauan aku,kami bercumbu menyatukan kulit kami dengan penuh cinta,selesai kami menuntaskan hasrat masing-masing kami ngobrol sekelak.
"Kenapa dek kita lakukan ini ?"
Raja memeluk aku diatas Ranjang dengan nafas yang tak beraturan karena baru melakukan senam malam.
"Tidak tau,aku ingin saja, perasaan aku enggak enak, entah kenapa" Aku memeluk erat tubuh Raja dengan penuh ketakutan.
Aku sentuh Wajah Raja dengan mesra,aku cium dengan ganas sehingga tiada tempat lagi yang tidak terkena ciuman aku.
"Sudah sayang,abang bisa mati gini,enggak bisa nafas lho" Raja mulai risih dengan perlakuan aku yang brutal.
Raja terkejut melihat jam dinding,waktu menunjukan angka sebelas malam,Raja memakai pakaian dengan tergesa-gesa.
"Abang pamit ya sayang sudah malam" Raja merapikan kemeja hitam yang iya kenakan.
"Aku enggak mau pisah,abang bobok sini aja dikamar Anton adik aku,lagian ini udah malam sayang" aku memohon pada Raja.
"Jangan egois sayang,besok abang masuk pagi kerjanya" Raja sembari melangkah keluar rumah.
"Terserah saja" Aku mulai kesal membiarkan Raja jalan keluar sendiri menuju parkiran motor Raja.
"Bawel"
Hanya kata itu yang diucapkan Raja,sewaktu Raja naik diatas motor entah kenapa perasaan ini tidak enak,rasa takut atau entah apalah yang mengganjal dihati,aku berlari mengejar Raja dihalaman Rumah.
"Cium aku sayang,aku mohon inap disini saja sayang" Aku memasang Wajah sedih untuk Raja.
"Sayang aneh deh tiba-tiba,enggak kayak biasanya" Raja mulai kesal melihat aku yang lepas kontrol.
"Perasaan aku tidak enak"
aku terus memeluk Raja dengan erat,aku juga mencium seluruh wajah Raja sekali lagi, membuat Raja tidak tega,tapi mau gimana lagi dia harus kerja besok.
"Jangan pergi"
Aku merengek terus pada Raja, sehingga Raja geleng kepala.
"Besok abang kesini lagi janji sayang,ngerti dong abang punya tanggung jawab sayang diluar sana, jangan marah ya" Kata Raja dengan wajah sendu.
Raja kecup mesra kening aku,entah kenapa aku begini tidak seperti biasanya,Raja mengelus Wajah aku membuat perasaan Aneh ini semakin menjadi.
"Abang pulang ya,janji besok kesini lagi" Kata Raja sembaro memutaf kunci kontak.Aku hanua anggukan kepala tidak tau mau bilang apa lagi.
"Daa Yunita sayang,sampai jumpa besok" Kata Raja saat melajukan motor tersebut.
"Dia tidak pernah sebut nama aku begitu,felling ini kuat sekali,ada yang ganjal tapi apa ya" Gumam aku saat melihat Raja dari kejauhan dengan motornya.
Tengah malam aku bermimpi aneh Raja tersenyum manis padaku seperti kami ditengah taman bunga yang luas.
"Hah...hah"
Aku terbangun dengan nafas terengah-engah,keringat mengucur deras ditubuh ini,aku memijat dahi sembari berfikir semoga Raja baik-baik saja dan sudah sampai ketempat tujuan.
__ADS_1
--------------------------------------------------------------------
*Esok hari*
Saat berangkat kesekolah walau rasa malas aku tetap paksa datang,karena aku ingat perkataan Raja harus rajin belajar,aku melihat Indar berlarian digerbang sekolah.
"Huft... capek betul" ujar Indar dengan mengatur nafas.
"Jangan lari gitu,gila kau" Kata aku sembari berjalan masuk kedalam kelas.
Aku tidak melihat Puput didalam kelas,Indar juga mencari Puput,aku tanya pada Merry tetapi dia geleng kepala,sewaktu bicara lagi pada Indar obrolan kami terhenti ketika Wali kelas masuk kedalam kelas.
"Innalilahi Wainailaihi Roji'un,anak-anak hari ini selesai jam istirahat kita akan kekampung atas untuk melayat,Teman kita Puput ada kemalangan,ibu baca surat izin dari keluarga Puput kalau abang puput meninggal dunia tadi malam" Wali kelas langsung duduk dengan wajah murung.
"Jdeeerr"
Aku dan Indar bersama Merry saling bertatap muka,aku geleng kepala tidak percaya kalau hari ini aku sedang bermimpi.
"Eng-enggak,bukan Raja,pasti buk-bukan Raja pacar aku" Aku geleng kepala sembari lemas dikursi kela, badan aku gemetar hebat terasa sesak didada.
Indar dan Merry juga terkejut mendengar kabar buruk ini, melihat aku yang lemas serasa mati Rasa Indar dan Merry panik.
"Kuatkan hatimu Yun,kita belum tau siapa yang meninggal dikeluarga Puput" Indar tidak percaya juga.
"A-aku salah apa,aku enggak lagi mimpi inikan,tolong jawab aku teman,tadi malam dia masih bersama aku kami mesra banget,enggak itu bukan Raja" Aku meronta-ronta syukur Wali kelas keluar sebentar.
"Tenang Yun,ya ampon tenang Yun
jangan gini ahk kami sedih banget" Indar memapah aku yang mulai tak sadarkan diri.
Aku lemas terkulai lay,aku hidup tapi serasa mati,kehampaan yang aku rasakan saat ini,
Indar membawa aku keruang UKS disamping ruang kelas kami.
Alasan Indar pada guru bahwa aku lagi sakit jadi aku bisa dibawa ke Uks,Merry dan Indar menemani aku terus sampai siuman.
"Gimana ini mer,kasihan Yunita baru saja bahagia malah begini" Indar juga tidak tahan menitikan air mata.
"Aku enggak sangka umur Raja pendek" Merry juga prihatin sembari membendung air mata.
Aku membuka mata melihat Indar dan Wati berdiri disebelah aku yang tertidur dibrankar Uks.
"Kau kuat kan Yun, ayo kita lihat dia,untuk terkahir kalinya" ucap Indar membuat aku semakin sedih.
Aku tidak bisa berkata-kata lain lagi, yang aku bisa lakukan saat ini hanya menangis pilu, didalam bus aku tiada hentinnya menangis sembari dipelukan Indar.
Sesampai dikampung Puput benar saja dikediaman keluarga saragih ramai orang yang melayat,kaki ini gemetar sembari berjalan kerumah Puput yang sudah Ramai sekali.
Kata orang Raja kecelakaan dari perbatasan kampung kami menuju kota,kepala Raja digilas truk countener,motor raja juga hancur penyok-penyok,Tubuh Raja masuk kedalam truk countener tersebut lalu mati mendadak ditempat kejadian.
Aku dan Indar masuk kedalam dapur, perlahan aku intip mayat yang terbujur kaku dipembaringan,gemetar badan ini hatiku bagai gelas yang terjatuh dilantai pecah berkeping-keping saat melihat Wajah kekasih aku yang pucat pasi.
"Rajaa"
Butiran salju ini deras mengalir jatuh dipipi tanpa sadar,Indar tetap memegang pundak aku takut aku lemas dan jatuh lagi.
"Sabar Yun sabar mungkin ini sudah takdir"
Indar juga menangis sembari merangkul aku dari samping,kami berdua melihat mayat Raja dari kejahuan.
Tidak kuasa hati ini hancur aku memeluk Indar dengan erat,mencari tempat bersandar supaya sedikit tenang walau dipaksa tetap saja Raja tidak akan hidup lagi.
"Hiksss...Huhu..Huaaa"
Aku menangis dan geleng kepala dipelukan Indar serasa ini mimpi disiang bolong,Puput dengar suara tangisan aku,lalu Puput berlari memeluk aku dengan tangis pilu.
"Yun kenapa abang cepat pergi?!, kenapa kenapa" Puput memeluk aku dengan erat.
Aku diam dan tidak bisa berkata-kata lagi
kami masih berpelukan dengan tangis pilu.
Puput memaksa aku untuk kedalam melihat Wajah Raja untuk terakhir kalinya,tapi aku tidak mau,aku belum kuat menerima kenyataan ini,kalau aku lihat Mayat Raja apakah aku sanggup?.
kami masih duduk didapur rumah,mayat Raja sebentar lagi akan disholatkan,acara terakhir ziarah kepada almarhum,mama Puput menangis hiteris dan tidak terima anaknya berpulang kerahmatullah.
"Kenapalah cepat diambil kau nak ! ,anakku yang paling baik enggak pernah melawan, penurut,membantu ekonomi kami dirumah ini Hiks" ujar mama Puput meratapi wajah yang pucat pasi terbunngkus kain kapan.
"Sabar ibu,kalau ibu begini alamrhum enfgak tenang di sana, ikhlaskan saja memang orang baik seperti Raja cepat dipanggil Tuhan " ucap seorang Wanita yang ternyata tetangga ibunda Puput.
"Gimana mau ikhlas,dia belum menikah saya belum sempat melihat dia menikah" Ibunda Puput menangis terisak melihat mayat Raja tersenyum sedikit.
Mayat akan pergi untuk disholatkan kemesjid terdekat,pada saat mayat Raja diangkut masuk kedalam ambulance,para keluarga menjerit-jerit histeris menangis,Puput dan ibundanya hampir pingsan.
Ketika kain kapan almarhum Raja ditutup aku mendekat dan melihat Wajah itu,wajah yang selalu aku pandang,aku cium bahkan aku kagumi,aku berjalan mundur karena tidak kuat melihat Wajah cintaku yang tak bernyawa,pandangan mulai kabur Indar mnyokong punggung aku yang nyaris terjatuh.
"Ya Allah sumpah demi apapun aku sangat mencintai dia" batin aku merasa sesak nafas ini.
"Kau bisa kan Yun kepemakaman?,aku takut kau enggak kuat " Kata Indar yang masih memegang pundak aku.
"Ak-aku pas-pasti ku-kuat,aku mau lihat di-dia untuk terakhir kalinya" Karena menangis pilu ucapan aku terbata-bata.
Semua keluarga sudah pergi menuju makam yang tidak jauh dari rumah,akhirnya Raja sudah tenang dipembaringan terakhir,semua yang ada sedang fokus doa,bahkan keluarga Puput masih saja menangis tersedu-sedu,kecuali aku dengan tatapan kosong melihat pusara Raja.
"Ayo Yun berdoa kita,jangan nangis terus nanti Raja enggak tenang disana " ucap ndar...
Aku diam saja dengan perkataan Indar karena tidak tau mau bilang apa lagi,setelah keluarga Puput dab pelayat yang lain pulang,aku berjalan mendekati pusara Raja.Kepala ini aku tidurkan diatas tanah yang masih basah,tanah yang dimana ada Raja dibawah.
"Bang cepat betul kau pergi,tadi malam kau masih bersama aku...Hikss...Huaaa...." Tangis pilu dan hancur dengan teriakan gundah aku,Indar hanya melihat aku yang seperti orang gila.
"Kau jahat bang,kau bilang akan bersama aku
sampai aku melahirkn anak-anak kita !,Tuhan kau enggak adil,Tuhan kembalikan Raja aku,aku enggak ikhlas...!!!, Huaaaa !!" Aku berteriak dengan gila kesadaran aku hilang.
"Tenang Yun,tenangjan dirimu,kasihan Raja disana pasti juga sedih kalau melihat kamu begini,aduh aku pun bingung " Indar menarik lengan aku supaya aku berdiri,terapi tangan Indar aku tepis.
"Aku enggak mau pulang, biarkan aku disini sendirian,aku mau temani dia pasti dia kedinginan Indar,kau enggak ngerti perasaan aku !" Bentak aku pada Indar sembari berurai air mata.
"Ayo Yun tolonglah Yun,jangan begini ayo Yun aku mohon,pasti Almarhum akan marah kalau melihat kau begini" Indar mulai kesal tetapi gadis ini mengerti gimana perasaan Yunita.
"Baiklah, Abang tunggu disini ya,besok adik datang lagi" Aku bicara sendiri didepan makam Almarhum Raja.
Indar membawa aku pulang kerumah,karena hari mulai sore kami tidak izin sama keluarga Puput,Indar memanggil bus yang melintas didepan jalanan pasar.
Didalam bus tiada kata yang terucap diantar aku dan Indar,hanya suara tangisan aku yang terdengar,Indar bersahaja sembari mengelus punggung aku.
"Kita udah nyampe rumah kamu Yun, jangan nangis kayak orang gila lagi ya,aku jadi sedih juga,disini masih ada aku dan para sahabat kamu,lihat itu mama kamu didepan" ucap Indar turun dari dalam bus dibarengi aku.
Aku dan Indar berjalan menuju pintu rumah,Mama heran melihat mata aku yang bengkak sekali,sedangkan Indar mengusap air mata yang ada dipipi aku.
"Lho kenapa kau nangis !?, kenapa ndar?" Mama heran karena tidak tau tentang Raja.
Aku diam saja hanya tertunduk,rasa takut kalau tidak menjawab pertanyaan mama yang biasa aku rasakan kali ini tidak ada,rasa yang ada hanya kehampaan.
"Ra-Raja meninggal ibu hiks hiks" Indar uang menjawab sembari menangis.
"hiks hiks Mama" tanpa sadar aku memeluk Mama yang terkejut mendengar kabar itu.
__ADS_1
"Sudah-sudah jangan sedih udah kekamar sana Indar bawa Yunita tenangkan dia disana" Ujar mama yang membendung Air mata,dia juga turut sedih.
Indar membawa aku masuk kedalam kamar,aku terduduk sembari menatap kosong tembok yang disebelah kiri.