Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 122


__ADS_3

Ozy pindah indekos akhirnya kamar bawah kosong terpaksa aku mencari anak indekos yang baru,susah benar mencari uang dengan cara begini mau mengeluh aku jadi pusing.


"Tok tok tok"


Pintu kamar aku diketuk orang,dengan rasa malas aku bangkit dari kasur dan membuka pintu kamar,ternyata Monic yang ketuk pintu kamar ini,aku melihat Monic sudah rapi dengan membawa tas ransel dibelakang punggung Monic.


"Yun aku pulang ya mau berobat"


Tukas Monic dengan wajah pucat pasi.


"Sepertinya kau sakit mon?,wah badan kamu panas,pucat lagi" Kata aku yang sibuk pegang kening Monic.


"Iya Yun,aku disuruh pulang sama keluarga aku,aku takut sakit aku semakin parah" Sambung Monic lemah gemulai.


"Hati-hati ya Mon,kamu lekas sembuh supaya kita kerja bareng lagi" Kata aku dengan nada bersedih melihat Monic yang pucat pasi.


"Iya yun,kalau begitu aku pergi dulu ya yun"


Kata Monic dengan suara lemah berjalan pergi kelantai bawah.


Monic juga wanita malam,iya janda tidak mempunyai anak,Monic anak sulung dari empat bersaudara dan entah kenapa ayah dan ibunya beprisah sehingga Monic yang bertanggung jawab biaya sekolah serta makan untuk ibunda dan ketiga adik-adiknya.


Aku mengunci pintu kamar setelah Monic berlalu dari kontrakan ini,aku hempaskan tubuh ini keatas kasur sembari hembus nafas panjang,sepi juga rasanya sendirian tanpa pacar dan teman.


"Tring...tring.."


Suara ponsel aku berdering seperti ada chating masuk diponsel blackberry ini,ternyata Yanto yang chating aku.


Yanto bilang ada anak perempuang yang ungun indekos dirumah kontrakan aku,aku memberi izin kepada Yanto membawa anak perempuan yang ingin indekos tersebut.


Tidak berapa lama terdengar suara motor dilantai bawah,dengan cepat aku keluar dari kamar menuju lantai bawah untuk membuka Pintu rumah.


"Halo mbak Yun,masih kenal sama akukan?,kita pernah satu ktv lho" Ujar seorang anak perempuan berumuran dibawah tiga tahun dengan aku.


"Ow iya,kamu lindakan?,ayo masuk lihat kamar baru kamu" Ucap aku dengan ramah dan memgingat siapa Linda.


Ternyata perempuan yang mau indekos dikontrakan aku bernama Linda,Linda adalah sales promotion girls disatu perusahaan rokok ternama,Linda juga aktif didunia malam jika ada panggilan.


Kini Linda masuk kedalam kontrakan aku bersama seorang pemuda yang iya bawa,mereka berdua melihat kamar baru yang berada dolantai bawah.


"Juna ini bagus kamarnya?,cocok kau rasa?,kamu mau kita tinggal disini? " Tanya Linda kepada pemuda tersebut yang berdiri didekat pintu kamar.


"Terserah kamu saja,kamu yang mau indekos bukan aku" Ujar pemuda tersebut yang ternyata bernama Juna.


"Lumayan lho murah"


Sambung Yanto berdiri didekat aku.


"Mbak ini uang separuhnya ya,aku mau indekos disini,entar malam aku angkat barang aku kasih lagi uangnya" Kata Linda dengan hari riang.


"Baiklah say"


Kata aku sembari mengambil uang dari tangan Linda sebagai bukti pembayaran indekos dikontrakan aku.


Aku tidak tau pemuda uang dibawa Linda,mungkin pemuda yang bernama Juna pacar Linda,karena aku lihat mereka brgitu akrab sekali.


-----------------------------------------------------------------------


Disaat aku pulang kerja dari tempat karaoke,aku melihat banyak sedepa motor terparkir dihalaman kontrakan aku,lalu aku naik anak tangga kelantai atas dengan berfikir dan bingung motor kepunyaan siapa saja.


Sesampai dianak tangga terakhir aku melihat keramaian didalam kamar Yanto,baru kali ini kontrakan jadi ramai membuat aku kesal,aku takut tetangga marah dengan keributan yang mereka buat didalam kamar Yanyo,sebab ini sudah sangat larut malam bahkan sampai dini hari tiba.


"Ramai betul disini,duh takut tetangga terganggu jam istirahat mereka" Gumam aku sendiri.


Aku berjalan menuju kamar Yanto dan aku melihat Yanto beserta dua temannya ditambah Linda dengan tiga temannya lagi sedang teller didalam kamar sembari mendengarkan musik disco remix.


"Astaga baru saja pindah udah pesta miras disini" Ucap hatiku kesal.


"Mbak Yun ini sisa uang sewa kamar aku,enggak apakan aku bawa kawan- kawan minum disini?" Tanya Linda sembari memberi sejumlah uang kepadaku.


"Ah enggak apa dek,tapi suara musik kalian kecilkan sedikit entar tetangga terganggu" Kata aku lagi langsung mengambil uang dari tangan Linda.


"Mbak Yun sini gabung,kita tidak pernah kan woi gabung sama ibu kost" Kata Yanto yabg sedikit teler karena minuman keras.


"Ya mbak,gabung saja sama kami" Ajak Linda dengan tersnyum ramah.


"Sebentar saja ya,aku juga capek baru pulang kerja" Ucap aku yang mengambil tempat duduk didekat pintu kamar.


Aku melihat Yanto sedang mengobrol dengan Linda dan dua pemuda,sedangkan dua pemuda yabng lain duduk sedikit dekat dengan aku.


"Mbak kenalkan nama aku Nanda" Ucap seorang pemuda berambut keriting mengulurkan tangan kepada aku.


"Yunita"


Ucap aku dengan datar karena tidak tertarik dengan pria pendek.


"Mbak tau enggak,kata Juna tadi mbak itu mirip sekali dengan mantannya" Tukas Nanda dengan polos.


"Hem masa sih,apa iya?"


Jawab aku dengan kernyit dahi dan melihat Juna duduk disamping Nanda.


"Kampret kau,enggak mbak dia bohong"


Sangkal Juna dan menampol kepala Nanda.


"Iya mbak,memang mirip katanya Juna tadi,kau bilang saja susah amat,masa aku yang harus bilang" Kata Nanda dengan cengengesan.


"Bising amat kau,tidak perlu dibilang sama orang nya" Kata Juna dengan suara pelan padahal aku mendengar perkataan Juna kepada Nanda.


"Wajah aku ini jangan samakan sama orang,enggak ada yang mirip aku dikota ini" Ucap aku dengan nada datar dan tidak tertarik.


"Mirip kok"


Sangkal Nanda lagi dan saling tatap dengan Juna.


"Mirip,mirip,gini cantiknya kau dibilang mirip mantan pacar Juna,apa mau mantan pacarnya yang mirip aku sama Juna,udah jelek hitam,matanya besar bibirnya tebal idih ogah" Batin aku merasa jijik melihat wajah Juna yang jelek dan bukan type aku sama sekali.


Emang sih Juna tinggi semampai cocok dengan kriteria cowok yang aku inginkan,tapi sayangnya wajah Juna mirip udin sedunia Hahahah...


-----------------------------------------------------------------------


Esok hari


"Hoamzz"


Aku terbangun dari tidur dan melihat arloji sudah jam dua sore,seperti ini setiap hari aku menjalani hidup seperti vampir,malam hari berkeliaran mencari pundi-pundi uang dan siang hari terbangun dari tidur.


Aku baru ingat kalau bolam lampu kamar ini mati,tidak afdol rasanya berhias didepan cermin tanpa sinaran bolam lampu yang menerangi,dengan langkah malas aku berjalan menuju lantai bawah hendak kekamar Linda.


"Linda mana teman pria kamu yang tinggi itu?" Tukas aku yang sudah berada didepan kamar Linda.


"Juna mbak,emangnya ada apa mbak mencari Juna?" Kata Linda dengan heran.


"Bola lampu mbak putus dikamar,mbak mau minta tolong sama Juna" Jawab aku dengan penuh harap.


"Sebentar lagi Juna pulang,mbak tunggu aja disini dulu" Ucap Linda dengan ramah.


"Sebenarnya Juna itu pacar kamu ya?,kalian tidur bareng sama teman kamu yang lain" Ucap aku dengan nyeplos.


"Teman mbak,semua yang datang cowok kekamar aku teman,kalau pacar aku seminggu sekali baru datang" Jawab Linda yang sudah duduk disamping aku.


"Oh gitu"


Kata aku lagi dengan nyengir.


Obrolan kami terputus disaat Juna datang membawa dua kantungan yang berisi dua bungkus nasi campur.


"Jun tolong dulu ibu indekos kita ini,pasang bola lampu dikamarnya" Kata Linda saat melihat Juna sudah datang.


"Ih aku malas kekamar mbak itu,cantik sih tapi auranya seperti mau makan cowok" Bisik Juna kepada Linda.


"Cih...perasaan cowok ini,sudah jelek banyak pula tingkahnya". Batin aku karena sedikit mendengar suara bisikan Juna kepada Linda.


"Sudahlah,itu ibiu indekos kita longor"


Kata Linda dengan samar.


"Ini mau enggak bantu?"


Ucap aku dengan datar dan berwajah serius.


"Mau dia mbak,sana kau bantu mbak Yunita"


kata Linda sambil mendorong tubuh Juna.


Kini aku dan Juna naik barengan kelantai atas,kami tidak mengucapkan sepatah kata dilorong menuju kamar aku,aku melirik Juna seperti ketakutan dan itu membuat aku jadi bingung dengan sikap Juna.


"Naik saja keranjang dek,biar bisa masang bola lampu itu" Kata aku dengan datar.


"Tid-tidak apa naik keatas ranjang mbak?" ucap juna canggung dan tidak berani bertatap muka dengan aku.


"Duh pakaian mbak ini terbuka sekali,kalau aku naik kearas apa tidak terlihat dari bawah semuanya,penggoda banget sih,sumpah aku takut sekali diperkosa" Batun Juna ketakutan saat naik keatas ranjang.


"Lama banget sih,kayak ketakutan cowok ini,jangan-jangan dia mikir aneh lagi,duh sumpaj mana selera aku cowok jelek begini secara pacar aku ganteng-ganteng semua" Batin aku sedikit kesal.


"Duh tinggal naik saja keranjang terus pasang bola lampu itu selesai dek,malah melamun gitu" Ucap aku dengan geram dan kesal.


" Maaf mbak"


Kata Juna langsung naik keatas ranjang dan memasang bola lampu tersebut.


Dengan tangan gemetar Juna memutar bola lampu diatas langit-langit kamar aku,lalu setelah selesai Juna turun dari atas ranjang aku.

__ADS_1


"Terima kasih ya"


Tukas aku tersenyum kecil.


"Sama-sama mbak"


Kata Juna langsung keluar dari kamar aku dengan tergesa-gesa.


"Ih enggak pamit lagi,dasar"


Gumam aku dengan geram.


---------------------------------------------------------------------


Malam Hari


Malam ini aku sibuk berhias didepan cermin,aku poles bibir mungil ini dengan lipstik berwarna merah darah,bulu mata palsu yang lentik menghiasi kelopak mata aku yang bulat.Hari ini aku ada janji dengan Hanzi untuk kencan didalam kontrakan saja.


"Tin..tin tin"


Suara klakson motor warrior kepunyaan Hanzi terdengar dari lorong jalan menuju kontrakan aku,aku langsung keluar dari kamar menuju lantai bawah untuk melihat kekasih hati.


Sampai didepan pintu rumah kontrakan aku melihat Hanzi sudah turun dari atas motor besarnya,Hanzi juga membawa sejumlah cemilan dan dua kantung tuak untuk iya minum.


Tidak berapa lama teman-teman Hanzi juga datang membuat ramai rumah kontrakan aku,


Teman Hanzi juga warga keturunan tionghoa.


"Sayang enggak usah minum ya nanti kamu mabuk" Tukas Hanzi langsung kecup kening aku sekilas.


"Dengaren,biasanya aku boleh minum"


Ucap aku dengan gembira.


"Tidak usah ya,entar kamu kerja mabuk gimana?,temani aku saja minum" Kata Hanzi yang sudah duduk dilantai beralaskan tikar.


"Iya deh"


Kata aku yang duduk disebelah Hanzi,sedangkan teman-teman mengambil posisi enak dilantai ini juga.


Hanzi memang tampan walau bermata sipit,suara Hanzi juga merdu saat bernyanyi dan aku teman duet Hanzi jika menemani pria tionghoa ini minum.Tapi sayang aku tidak boleh mencintai Hanzi dengan sepenuh jati karena Hanzi ada wanita lain diluar sana.


Linda ikut bergabung minum bersama aku dan Hanzi,tetapi entah kenapa setiap pacar-pacar aku datang Juna tidak mau bergabung,beda kalau Linda membuat acara sendiri tanpa pacar aku Juna mau ikut bergabung itu yang membuat aku aneh dan penasaran.


Ponsel aku berdering bertanda panggilan kerja datang,lalu aku pamit kepada Hanzi untuk kerja terlebih dahulu,sedangkan Hanzi menunggu dirumah kontrakan aku sampai aku pulang kerja.


----------------------------------------------------------------------


Keesokan Hari


Sore hari aku lagi duduk santai didalam kamar Linda,Linda lagi sibuk bermain ponsel sedangkan aku duduk santai sembari melamun tetapi entah apa yang aku pikirkan ibarat pikiran kosong dan terlihat Linda berwajah masam melihat ponselnya.


"Mbak minum tuak yuk,kita kesawah sana aku lagi stres habis bertengkar sama pacar". Ucap Linda berwajah masam dan sedih.


"Ayo,aku juga stres mikiri hubungan aku sama Hanzi,enggak jelas semua cowok" Balas aku sembari bangkit dari duduk dengan semangat.


Kini aku dan Linda naik keatas motor kepunyaan aku,lalu kami pergi menuju warung tuak yang terletak ditepi kota P.S ini,Linda membeli tuak dua teko,bayangin kami cuma berdua saja bakal menghabiskan tuak dua teko.


Beberapa menit kemudian aku dan Linda mengambil lokasi persawahan ujung yang terlihat sepi sekali,jalan setapak kami lalui walau sepi lokasi begitu nyaman dan asri tepatnya diujung kota P.S ini.


Pohon pisang berjejer rapi seperti ada yang sengaja menanam pohon pisang tersebut,ditepi sawah ini terletak sungai kecil yang indah dan bening,dengan hati riang aku mengambil duduk didekat pohon pisang.


"Mbak disini saja jangan disitu"


Kata Linda yang mengambil tempat duduk didekat kolam kecil.


"Kampret ladang pisang ini banyak nyamuknya" Ucap aku langsung berdiri mendekati Linda.


"Disini tidak ada nyamuk"


Sahut Linda yang menuang tuak kedalam gelas pelastik kami bawa dari rumah kontrakan aku.


Karena stres Linda terus minum tuak tanpa jeda,sedangkan aku ngikut saja minum banyak tidak mau kalah dari Linda,sedikit pusing melanda membuat kami bicara ngawur sambil cekikikan ditengah ladang pisang ini.


"Huaa..Hikss,semua cowok kurang ajar mbak Yun" Tiba-tiba Linda menangis terisak-isak mungkin sudah mabuk berat.


"Tenang-tenang dek"


Balas aku yang masih sadar walau sedikit.


"Waduh mabuk aku hilang anak ini nangis terus,malah kami cuma berdua saja" Batin aku gelisah dan tidak tenang melihat Linda menangis terus.


Hari mulai senja pada pukul enam sore,mabuk kami semakin menjadi,Linda semakin gila dengan nekat dia menelfon pacarnya serta Juna juga.


Tidak berapa lama Linda bangkit dari duduknya,perempuan itu berjalan sempoyongan mendekati seorang pria yang berhenti dilokasi tempat kami minum.Pria hitam manis dengan gelisah datang kepada kami dan aku tidak begitu tau siapa pria itu.


"Kau sudah punya istri,aku enggak mau,aku enggak mau". Tukas Linda memukul dada pria hitam manis tersebut.


"Oh ternyata pacar Linda"


Sebuah motor bebek juga muncul ternyata Juna yang datang,Juna juga menonton drama yang linda buat bersama pacaranya,Juna melerai pertengkaran Linda bersama pria tinggi semampai itu.


"Jaga dia bentar Jun,abang mau beli air mineral dulu" Kata pacar Linda.


"Jangan lama ya bang"


Sambung Juna yang memeluk Linda.


"Mau kemana dia jun?"


Tanya Linda dengan kernyit dahi saat melihat pria itu pergi dengan motornya.


"Jangan menangis,duduk sini dulu dia cuma mau beli air mineral" Ucap Juna lalu mendudukan Linda didekat pohon pisang.


Aku hanya berdiri membatu melihat Juna dan Linda,Juna juga geleng kepala melihat tuak yang habis kami konsumsi berdua saja dengan Linda.


"Dek temani mbak pipis,mbak takut pipis disini " Kata kau yang sudah tidak tahan menahan buang air kecil.


"Ayo mbak,tapi jangan lama takut Linda berbuat aneh-aneh" balas Juna sembari menarik lengan aku karena tidak sanggup berjalan.


"Iya,baru minta tolong udah segitunya"


Kata aku yang mulai kesal.


"Hemm.."


Juna hanya geleng kepala lalu berjalan barengan dengan aku menuju pertengahan ladang pisang ini.


"Jelek saja banyak bicara,beruntung kamu temani cewek cantik mau pipis" Batin aku yang sudah sangat mabuk sekali.


Karena terbawa suasana mabuk aku nekat membuka celana didepan Juna,terlihat pemuda itu seketika menutup mata,walau suasananya sedikit remang tapi masih bisa terlihat mata manusia.


"Wadaw,mbak ini buka celana,matilah aku" Batin Juna gelisah sekali.


"Ngapai dia tutup mata,dia pikir aku mau menggodanya?,hemm aku kerjai saja cowok jelek ini" Batin aku dengan ide kotor terlintas dipikiran aku.


Dengan sengaja aku tidak menutup celana dan dalaman setelah buang air,malahan aku berjalan saja hendak mendekati Juna yang sedari tadi buang muka karena malu.


"Gubraak"


Kaki aku tersangkut pelepah pisang kering yang terletak diatas pasir,betapa malu nya aku terjatuh tengkurap tanpa menutup celana dan dalaman,Juna tau langsung mendekati aku.


"Pelan-pelan jalannya mbak,mabuk mbak ini,celana mbak pasang dulu" Kata Juna menarik lengan aku untuk bangkit dari jatuh.


"Iya,aku enggak bisa pakai celana"


Kata aku dengan manja.


Entah setan apa yang merasuki pikiran aku ini,ketika Juna menarik lengan aku untuk bangkit dari bawah tanah aku sengaja jatuh kepelukan pria hitam ini,aku tenggelamkan kepala ini dan melingkarkan tangan dipinggang kepunyaan Juna.


Bukan hanya memeluk Juna saja bahkan aku berani memperlihatkan area bawah yang sedari tadi belum aku tutup,entah Juna melihatnya atau tidak aku tidak tau,aku sangat puas mengerjai perasaan pria ini.


"Coba pegang dikit,punya aku botak lho"


Ucap aku sembari menarik jemari Juna.


"Mabuk mbak ini,pasang celana mbak"


Kata Juna dengan gemetar saat memegang area terlarang aku.


"Gila,masa aku disuruh pegang anunya,apa iya kalau mabuk mbak ini ganjen?" Batin Juna tidak percaya.


"Jual mahal cih,enggak biasanya cowok yang aku goda menolak,baru kali ini cowok menolak saat aku goda" Batin aku ngedumel kesal.


"Pakai celana mbak"


Juna menarik karet celana aku dan memasang supaya tetutup.


"Bodoh,biar aku saja yang pakai"


Aku menepis jemari Juna yang ingin menarik resleting celana aku.


Karena puas mengerjai Juna aku menyerah dan mengikuti kemauan Juna untuk kembali kepada Linda,terlihat Linda masih menangis sambil ngedumel dan berbicara tidak jelas ditepi kolam ini.


"Aku malas temani orang mabuk yang tidak kontrol,sepeti ini nangis terus tanpa sebab"Kata Juna yang mulai kesal berdiri didepan Linda.


"Lupakan saja Linda,lagian dia aman duduk disitu " Sambung aku yang mulai menggoda Juna lagi.


Kedua lengan aku melingkar dileher Juna,Pria ini diam kaku membisu,apalagi aku tatap mata besar Juna yang seperti kera dia tidak berkutik saat aku berusaha mendekati wajah oval kepunyaan Juna.


"Aku cium saja dia,apa respon dia"


Batin aku berfikiran kotor lagi.

__ADS_1


"Sumpah aku takut benar,mau apalagi Yunita ini" Batin Juna dengan jantung berdegup kencang.


"Mbak jangan git-------"


Bicara Juna terputus saat aku meraih bibir tebal kepunyaan Juna.


Perlahan aku cium bibir tebal kepunyaan Juna,awalnya Juna menolak dan mendongakkan wajah,tetapi jemari aku mendekam kepala Juna sehingga aku dapat meraih bibir Juna,akhirnya Juna menyerah dan membalas First kiss kepunyaan aku.


"Jual mahal,mau juga kau aku cium"


Batin aku merasa puas dengan apa yang aku lakukan saat inu.


"Oh Tuhan kenapa aku tidak kuat dengan godaan Yunita" Batin Juna dengan rasa takut.


Ciuman kami memanas sampai memutar-mutar kepala mengikuti alurnya,sedangkan Linda masih saja ngedumel tanpa arah dan kami tidak perduli masih saja berlaga bibir didepan Linda.


Juna menarik bibirnya disaat suara motor mendekati lokasi kami,ternyata pacar Linda sudah datang dengan membawa kantungan berisi air mineral.


Linda digeret keatas motor pria hitam manis tersebut,sedangkan aku masih bisa membawa motor aku sendiri,Juna membawa motor kepunyaan sendiri laku setelah itu kami barengan berjalan menuju rumah kontrakan.


"Mbak bisa bawa motor?"


Tanya Juna saat melihat aku fokus membawa motor.


"Aman Itu,aku winder women tau"


Ucap aku dengan tersenyum sembari menekan gas motor.


Sesampai dirumah kontrakan Linda dipapah Juna dan pacarnya masuk kedalam kamar kepunyaan Linda,sedangkan aku berjalan sempoyongan menaiki anak tangga untuk masuk kedalam kamar.


Beberapa menit kemudian keadaan suasana rumah menjadi sepi,suara Linda yang ngedumel sudah tidak terdengar lagi,karena penasaran aku bangkit dari rebahan diatas kasur sehingga kepala ini semakin pusing.


"Jun...Juna..!!"


Teriak aku dari lantai atas.


"Ya mbak"


Ucap Juna yang berjalan menaiki anak tangga.


"Kemana semua orang,Linda apa tidur?"


Tanya aku dengan penasaran.


"Linda sudah pergi mbak sama pacarnya,katanya mau makan" Kata Juna.


"Sini dulu"


Ucap aku lagi menarik lengan Juna dengan paksa.


Juna mengikuti kemauan aku untuk masuk kedalam kamar,entah kenapa efek minuman ini menuju ***,aku sangat bergairah sekali.Sewaktu aku menutup pintu kamar Juna malah keluar dari dalam kamar aku.


"Bentar mbak,ponsel aku ketinggalan dibawah" Kata Juna langsung berlari begitu saja tanpa melihat aku.


"Cepat ya"


Ucap aku yang terduduk didekat pintu kamar sambil mebunggu kedatangan Juna.


-----------------------------------------------------------------------


Tentang Juna


Termyata Juna pergi berjalan kelantai bawah bukan untuk mengambil ponsel,melainkan Juna pergi dari rumah kontrakan,Juna berlari keluar karena takut dengan godaan Yunita.


"Ah.. cewek gila"


Kata Juna dengan nafas tersengal sehabis berlari.


"Kenapa kau lari-lari?"


Balas teman Juna yang menunggu dipersimpangan jalan.


"Ibu indekos Linda sudah gila,masa aku mau diperkosanya" Kata Juna dengan rasa ngeri.


"Bodoh,mau saja jarang-jarang cewek cantik mau sama kau" Ucap pemuda yang bernama Bimo.


"Kampret kau,tau aku dia itu cantik tapi kalau ganjeng gitu buat aku geli" Balas Juna kernyit dahi.


"Ahk intinya kau bodoh,ayo kita jalan Linda sudah menunggu kita" Kata Bimo sembari chating Linda didalam ponsel.


"Naik apa?,motor aku di bawa Linda sama pacarnya" Balas Juna yang sedang bingung.


"Ya sudah,aku suruh Yanto jemput kita,tunggu saja sebentar lagi" Balas bimo


Akhirnya dua pemuda ini menunggu jemputan untuk bergabung bersama Linda ditempat makan.


--------------------------------------------------------------------


Sementara didalam kontrakan.


Aku mulai kesal saat Juna tidak nongol didepan kamar,aku menutup pintu kamar dengan rasa marah dan kecewa.


"Cowok berengse,sok jual mahal,saat aku cium tadi mau sekarang aku ajak kedalam kamar orang nya melarikan diri argggg..." Ucap aku ngedumel sendiri.


Aku hempaskan tubuh ini diatas kasur dengan rasa kecewa bercampur marah,sebenarnya aku melihat Juna berlari menuju persimpangan jalan.Aku pejamkan mata ini dengan paksa akhirnya aki tertidur sebentar.


Ada dua jam aku tertidur dan terbangun dengan rasa sakit sedikit diarea kepala,kini aku sudah sadar dari mabuk.


"Aku tadi ngapai ya diladang pisang itu?,Sepertinya aku mencium cowok tadi" Gumam aku saat sadar dan bangkit dari tidur.


"Bah gawat,aku cium Juna tadi,mampos aku,apa yang aku lakukan,argggg..." Gumam aku sendiri sembari menyesal.


"Sumpah aku tidak mau mabuk tuak lagi,kenapa harus Juna,duh apa yang dipikirkan Juna sekarang,malu aku" Ucap aku sambil berfikir keras dan mengingat kejadian diladang pisang.


"Tring..tring"


Ponsel aku berdering dengan cepat aku angkat,ternyata Cahya memanggil untuk kerja ditempat karaoke,dengan cepat aku berdiri dari atas kasur.


"Bodoh amat mikirin perasaan Juna,mungkin Juna ngerti aku sudah mabuk tadi" Ucap aku sendiri sembari berhias didepan cermin.


Didalam ktv sewaktu kerja aku tidak nyaman karena memikirkan kejadian bersama Juna,sungguh aku menyesal melakukan itu kepada pria yang tidak aku taksir sama sekali.


Karena tidak nyaman aku cepat-cepat minta pulang kepada tamu yang diberikan Cahya,syukur tamunya baik aku shingga aku diperbolehkan untuk pulang.


Sesampai didepan kontrakan aku mmematikan mesin motor dan memasukkan motor secara perlahan,aku takut kepergok Juna dan aku malu bertatap muka dengan pria itu,kalau bertemu rasa-rasanya harus pasang muka tembok.


"Hei mbak audah pulang?"


Kata Linda yang melihat aku melintas didepan kamar Linda.


"Sud-sudah,kau buat aku terkejut saja"


Balas aku dengan kikuk dan melihat kamar Linda tidak ada orang lain atau Juna.


"Mbak saja jalannya seperti maling,mbak minta maaf ya pasti aku mabuk merepotkan mbak" Kata Linda dengan wajah sedih.


"Ah tidak apa dik,aku keatas dulu ya ganti pakaian" Ucap aku dengan tergesa-gesa.


"Syukur tidak ada Juna"


Batin aku lega dengan cepat naik kelantai atas.


Kini aku sudah didalam kamar saat aku hendak menutup gorden jendela tidak sengaja aku melihat Juna berada dibawah,Juna juga melihat kearah jendela tetapi tatapan mata Juna malah memandang aku dengan sinis,aku jadi buang muka merasa bersalah.


"Cowok jelek ini apa benci sama aku?,apa karena aku kerjai tadi?" Gumam aku sendiri sembari menutup gorden jendela.


Aku berfikir keras sembari berbaring diatas kasur,hati ini berfikir soal Juna dan perasaan pria itu,aku jadi malu sendiri.


-----------------------------------------------------------------------


Sementara didalam kamar Linda.


Juna membawa dua bungkus nasi campur,ternyata Linda menyuruh Juna membeli makan.Juna duduk didekat Pintu kamar bersama Bimo.


"Sudah pulang ternyata Yunita"


Kata Juna dengan geleng kepala.


"Sudah dari tadi pulang,sudah sikat saja sepertinya dia suka sama kamu" Ucap Linda dengan meledek.


"Bukan suka tapi dia mabuk tadi,mabuk ganas,mesum lagi dasar cewek gila,apalagi aku lihat banyak cowok berdatangan temui Yunita" Kata Juna dengan merepek.


"Sikat saja lah mayan ibu Indekos,mana tau uang indekos aku bisa gratis kalau kau jadian sama Yunita" Kata Linda dengan senyum licik.


"Itu namanya azas menfaat,kau pikir aku cowok seperti itu?,eh biar jelek begini aku masih punya harga diri,aku enggak suka mainin perasaan cewek tau" Jawab Juna dengan kesal.


"Ah tadi aku lihat sendiri kau ciuman sama Yunita,eleh sok jual mahal kau,kau pikir aku enggak lihat,walau aku mabuk,aku tau kau tadi ciuman sama Yunita" Kata Linda meledek.


"Wah sudah dicium,enak betul kau Juna,kalau Jadi aku wih..." Sambung Bimo berfikiran kotor.


"Mau gimana lagi,dia paksa aku ciuman,ya terpaksa khilaf,lagian kalau aku jahat saja mungkin sekarang aku sudah mau tidur dengan Yunita" Kata Juna bernasa serius.


"Iya dia tadi lari kepasar sewaktu jemput aku,Ayo men kau tolak daging Hahaha" sambung Bimo memukul bahu Juna.


"Kampret kau bim"


Ujar Juna sembari menampol kepala Bimo.


"Apa kalian tidak kasihan sama Yunita,aku perhatikan pacar-pacarnya seperti pelampiasan nafsu saja,datang pergi gitu aja,aku simpatik sama dia asal pulang kerja mabuk" Ucap Juna berfikir keras.


"Dih yang mulai ada rasa"


Sambung Linda dengan meledek.

__ADS_1


"Gila kau,sudah aku mau tidur"


Kata Juna dengan malu lalu berbaring diatas kasur.


__ADS_2