
Raju masih duduk disamping aku dengan kecewa karena aku tidak jomblo,sedangkan Indar melihat gelagat Raju yang resah.
"Sudah bang tapi udah tidak ada,Raja sudah pergi kesisi Tuhan " Indar bernada sedij mengingat almarhum.
"Astaga..Maaf ya abang tidak tau"
Raju tepuk jidat antara terkejut dan semangat kembali,sempat tadi Raju lemas.
"Tidak apa bang,syukur Yunita mabuk kalau mendengar kita cerita tentang almarhum pasti Yunita nangis-nangis terus" Indar hembus nafas panjang.
Entah kenapa aku mabuk yang kedua kali bawaan tenang dan diam saja,aku menunduk terus seperti orang tidur.
"Ajak cakap dia nanti tertidur,Raju tolong lihat- lihat jangan sampai dia minum lagi"
Kata Hamdani ternyata cemas juga pada aku.
Tidak berapa lama aku lepas kontrol dan aku lihat ada cowok disamping aku,Aku peluk dari samping pria tinggi ini,aku kira dia adalah Raja.
"Abang Raja,Jangan tinggali adek"
Kata aku yang lepas kontrol sembari membendung airmata.
"Ya...Ya..abang disini,mana mungkin abang pergi" Raja dengan senang membalas pelukan aku.
Indar,Hamdani dan Merry serta Yoga melihat saja adegan drama itu,mereka tersenyum saja mungkin maklum karena aku lagi mabuk.
"Oieee ngambil kesempatan,enak kali kau bang dipeluk-peluk" Indar mulai merepek.
"Hahahah..kayak mana mau nolak,kalian masa tidak tau aku suka dia dari pandangan pertama" Raju masih memeluk aku dari samping,sedangkan tangan aku melingkar dipinggang Raju.
"Ahk kurang ajar kali kau bang huh,nyeplos saja abang ini" Sambung Merry melihat Raju senyum-senyum.
Perut aku mulai mual aku berdiri hendak muntah,dengan cekatan Raju membawa aku kebawah pohon seri yang besar.
"Huek huek"
Aku tidak perduli lagi Raju ada disamping dan aku tidak malu lagi,Raju memijit leher aku,setelah siap muntah aku tidak sanggup berjalan entah kenapa tangan Raju yang kekar mengangkat gampan tubuh ini,aku tanpa sadar melingkarkan lengan dileher Raju.
"Lihat kawan kalian ini"
Kata Raju yang masih menggendong aku alla bridal style,seperti pengantin saja.
Raju ambil duduk setelah itu memangku aku sedangkan lengan ini masih melingkat dileher Raju,semua teman-teman tecengang.
"Hemm biarkan saja,yang penting dia enggak buat kita repot " Kata Hamdani tersenyum nyengir.
"Belikan dulu Yoga jus jeruk kesana,biar sadar Yunita ini" Kata Raju mengeluarkan uang didalam saku.
Yoga menurut pada Raju mungkin karena seniornya,Yoga mengambil uang dari tangan Raju lalu berjalan keparkiran sepeda motor.
"Raja cium adek bang Hahahahak"
Dengan genit aku merengek manja membuat Raju tersenyum nan malu.
"Wih gawat ces,cium saja ces"
Kata Hamdani tersenyum licik.
"Jangan-jangan,enggak boleh itu kawan aku kalian pikir Yunita bahan" Indar mulai kesal dan mencubit pinggang Hamdani karena bicara seperti itu.
"Aduh maaf ya sayang,aku bercanda"
Kata Hamdani sembari mengelus pinggang yang terasa sakit.
"Kalian jangan ribut,jangan negatif ya saya ini cowok baik-baik,saya tidak mau mengambil keuntungan dari orang mabuk" Kata Raju dengan tersenyum pada Indar dan Hamdani.
"Iya bang"
Kata Indar melirik Yunita uang masih nyaman dipangkuan Raja.
Tidak berapa lama Yoga datang membawa jus jeruk pesanan Raju,Yoga turun dari atas motor memberikan jus jeruk,setelah itu Raju menyulangi aku minum,Raja ingin menaruh tubuh aku duduk disebelahnya tapi aku menggeleng kepala tetap keras melingkarkan tangan dileher Raju.
"Sudah biarin bang yang penting dia tidak nangis- nangis" Kata Merry tersenyum menutip malu,Merry duduk bersebelahan dengan Yoga.
Malam ini Merry pendekatan dengan Yoga, sedangkan Indar mau kencan dan pamit pergi keluar area stadion entah kemana mereka berdua.
"Capek juga Mer dipeluk gini "
Leher Raju mulai kaku dan paha Raju mulai keram.
"Coba abang balas peluk biar tenang dia"
Balas Merry dengan ide gilanya.
Raju memeluk aku karena ucapan Merry,aku memejamkan mata serasa hangat dan tenang sekali,ketika aku membuka mata dan menatap kedua bola mata Raju ternyata mata hitam bukan mata cokelat,aku langsung berdiri dan kelimpungan,aku nulai sadar mungkin karena minum jus jeruk tadi.
"A-aku ngapai ya bang?,aku kok duduk dipangkuan abang" Aku jadi berdiri tegak dengan pipi yang merona.
"Maaf dek tadi kamu mabuk"
Raju jadi garuk kepala padahal tidak gatal,Raju mulai salah tingkah.
"Sudah sadar kau?,Sudah puas minum, mangkannya curi terus minuman itu,oncop terus sudah kau cium-cium abang itu"
Canda Merry dengan wajah serius.
"Wah benar abang?,waduh gawat Ma-maaf ya bang" Aku dengan gugup dan tidak berani menatap Raju yang duduk dihadapan aku.
"Santai saja dek,apa yang dibilang Merry tidak ada,kamu tidak ada mencium abang" Kata Raju dengan tersenyim kecil pada aku.
"Jahat kau ya Merr"
Aku jadi bete pada Merry,sedangkan Merry tertawa renyah dihadapan aku.
"Masih pusing dek?,kalau iya sini abang bantu kita cari angin dulu naik motor" Tawar Raju berdiri dari duduk.
"Ya boleh"
Aku jadi mau diajak Raju untuk jalan-jalan,sebenarnya nama Raju adalah Arjuna, kadang dipanggil Rajuan,entah kenapa Yoga dan Hamdani memanggil dia Raju.
Raju membawa aku berjalan naik motor keliling jalanan kampung,aku diam saja dan tidak berani melingkarkan lengan ini dipinggang Raju,aku masih segan.
"Dek udah mending?"
Tanya Raju yang fokus membawa motor dengan kecepatan normal.
"Lumayan hang ,oh iya makasih karena abang mabuk aku sedikit hilang" Jawab aku yang dibelakang tubuh kekar Raju.
"Adik...abang boleh bicara penting"
Raju mulai bicara serius membuat aku berfikir aneh dam biasa saja,getaran hati juga belum ada saat berdua dengan Raju.
"Hem ujung nya enggak enak"
Ucap aku didalam hati.
"Bicara saja bang"
Kata aku sembari melihat deretan rumah warga saat kami melintas dikampung bawah.
"Abang tau dari indar soal pacar adik,maaf ya dek jangan sedih, kalau ada apa-apa curhat saja sama abang" Kata Raju Sambil tersenyum menoleh kepala sekilas kepada aku.
Mendengar ucapan Raju aku terkejut dan meminta Raju berhenti ditengah jalan aspal Ini,Raju menginjak pedal rem dan motor berhenti tanpa mematikan mesin,aku langsung turun dari atas motor Dibarengi Raju yang mematikan mesin motor dan berdiri dihadapan aku.
"Benar sampai saat ini aku serasa mimpi kehilangan dia,aku tidak percaya kalau dia sudah tidak ada" Aku membendung endapan air dari pelupuk mata ini tapi tidak bisa.
"Sudah jangan nangis disini dek" Kata Raju sambil mengusap air mata dipipi aku tanpa sadar merasa iba hati Raju memeluk aku dengan erat,aku tidak kuasa menumpahkan air mata ini,ingin sekali aku bercerita banyak kepada Raju tapi aku bari mengenal dia begitu segan hati ini kepada Raju.
Aku membalas pelukan Raju karena sudah tidak tertahan lagi kegelisahan yang selama ini menyelimuti hatiku,Menangis tersedu-sedu dibadan kekar nan tinggi membuat aku nyaman dan tenang sekali,tapi getaran hati belum dapat aku rasakan karena Raja tidak akan tergantikan dengan siapapun.
"Sudah tenang dek?, ayo kita pulang lagi"
Raju melepaskan pelukan dan menghapus lagi kedua pipi yang basah ini.
"Ayo"
__ADS_1
Jawab aku singkat karena tidak tau berkata apalagi,aku langsung naik keatas motor Raju lalu Raju menghidupkan mesin motor.Motor melaju dengan kecepatan normal menuju tempat semula.
Disaat kami sampai ditempat nongkrong,aki dan Raju melihat Merry bertengkar hebat dengan seorang pria bertubuh kecil,Raju langsung turun dan berjalan cepat.
"Lepaskan-lepaskan !!!"
Teriak Merry meronta-ronta karena cengkaraman lengan lelaki tersebut.
Usut punya cerita ternyata itu mantan Merry,lelaki itu tidak terima diputuskan Merry,karena melihat Merry berduaan dengan Yoga lelaki otu langsung marah dan kesal sekali.
"Ehh bro apa ini !, jangan cari ribut disini "
Kata Raju dengan wajah sangar mendekati lelaki tersebut.
"Dia cewek aku,kau jangan ikit campur"
Ketus lelaki itu yang bernama Jose.
"Tidak...kita sudah putus,pergi kau sana ini teman-teman aku" Merru geleng kepala dan mulai menangis.
"Merr kamu mending pergi saja dengan dia,selesaikan secara baik-baik,enggak enak sama Yoga lho" Raju melihat Merry yang geleng kepala terus.
"Mau apalagi yang diselesaikan,kami udah putus,aku enggak mau lagi sama dia,aku sakit hati karena melihat dia ciuman sama cewek lain didepan mata aku sendiri" Merru berjalan mundur dan geleng kepala,gadis itu menangis tersedu-sedu.
"Maaf sayang,aku mohon sama kamu,aku sudah putuskan dia,aku milih kamu" sahut Jose dengan wajah memelas.
"Sudah Jose mending kamu pulang saja sana,apa tidak kasihan kamu melihat dia nangis kayak gitu,ngerti dikit dong sama cewek,Tolo----" ucapan Ku terputus karena Jose mulai nyolot pada aku.
"Hei kau diam saja !!, tidak usah ikut campur,siapa kau.!" Jose mengepalkan tangan dan menjadi marah.
"'Heii jangan kasar sama Yunita"
Raju jadi marah dan menarik kerah baju jose.
Pria pendek itu jadi tidak bernyali karena kerah bajunya ditarik Raju,Jantung jose tidak beraturan karena takut apalagi mata Raju yang bulat menjadi terbelalak ngeri.
"Hemm ya..ya aku akan pergi"
Jose memegang lengan kekar Raju berusaha melepaskan cengkaraman dikerah baju kaos tersebut,dengan kasar Raju melepas kerah baju Jose dan mendorong Jose hingga berjalan mundur.
"Ingat kau Mer,masih banyak cewek yang lebih cantik dari kau,kau juga Yunita aku peringatkan jangan ikut campur urusan orang berkaca kau Yun percuma cantik tapi tidak suci cuihh" Jose langsung berjalan jauh setelah menghina aku.
"Heii kurang ajar kau !"
Raju mengepalkan tangan dan berusaha mengejar Jose,langkah Raju terhenti karena aku dengan cepat menarik lengan Raju,Pria kekar itu menoleh kebelakang melihat aku geleng kepala.
"Jangan, biarkan saja dia"
Kata aku saat dihadapan Raju,Pria tampan ini menurut pada aku kini emosi Raju mulai reda.
Merry masih menangis Yoga langsung memeluk Merry dengan erat,aku Dan Raju menonton adegan sinetron tersebut.
"Sudah Merr...,dia sudah pergi,Yoga suruh dia duduk" Kata Raju yang sudah duduk santai disebelah aku.
Yoga mengajak Merry duduk kembali supaya tenang,setelah Merry tenang dan bicara seperti biasa,ada setengah jam Indar pulang bersama Hamdani dari kencan mereka.
"Ahk kalian duduk doang enggak ada hasil" ucap Indar turub dari atas motor Hamdani.
"Kau tidak tau kejadian barusan,jose ngajak ribut disini" Kata Merry yang matanya bengkak akibat menangis.
"Hah mau apa lagi dia Mer?,Yunita kau sudah sadar juga?" Tanya Indar dengan bingung.
Merry menceritakan kejadia tadi,sementara Hamdani dan Indar mendengarkan dengan kesal,sedangkan aku dan Raju diam duduk saja dihadapan mereka semua.
"Besok aku tegur itu jose,dia tetangga aku,aku enggak suka cowok kasar gitu" Geram Indar dengan kesal.
"Tidak usah Ndar,biarkan saja dia yang penting dia tidak ganggu aku lagi" Sahut Merry dengan senyum kecil.
"Betul itu sayang"
Sambut Yoga dengan nyeplos, Yoga jadi menutup mulut dengan jemari karena kami semua melihat Yoga sambil berfikir.
"Cie- cie udah jadian ya"
Aku menggoda Merry dan Yoga yang tersenyum malu dengan pipi merona.
Sambung Merry dengan manja sekali,padahal Merry menghabiskan semua sate padang,sehingga jatah kami juga diembat Merry.
"Inikan sudah jadian"
Yoga menatap Merry dengan hangat,Merry tersipu malu.
Aku turut senang akhirnya Merry dapat pacar baru,Malam semakin larut udara juga semakin dingin,Raju melihat Arloji yang ada ditangan kirinya.
"Sudah malam yok balik"
Raji berdiri dari duduk dan melihat aku ikutan berdiri dari duduk.
Akhirnya kami bubar kerumaj masing-masing,aku diantar Indar dan Hamdani, ketika aku berjalan menuju halaman rumah,aku melihat Dodo yang lagi duduk diteras depan rumah.
"Ngapai lagi dia datang,duh malasnya jadi jelek Mood aku" Gumam aku berjalan menuju teras rumah.
Aku tarik lengan kiri Dodo dan kami langsung berjalan jauh dari rumah,Dodo diam mengikuti saja kemana aku akan membawa Pria pendek ini.
"Abang ngapai malam-malam disini?"
Kata aku dengan kernyit dahi disaat lagi berdiri berhadapan dengan Dodo.
"Aku dari jam delapan menunggu lho,adek lama kali pulangnya" Jawab Dodo dengan wajah sedih.
"Ahk ampon dah,kalai lama ngapai abang tunggu duh" Sahut aku merasa malas.
"Aku mau bicara sama adek!"
Wajah Dodo serius saat menatap aku yang buang muka.
"Ngomong bang , aku dengar !"
Jawab aku dengan nada datar dan malas.
Kedatangan Dodo ternyata meminta kejelasan hubungan kami yang gantung begiti saja,hati ini sudah muak dengan permintaan Dodo.
"Untuk apa lagi sih bang ,maaf ya anang hatiku enggak bisa aku paksa !" sahut aki dengan ketus karena malas berbasa-basi lagi.
"Ow waktu abang enggak ada kau dapat cowok lain bisa,bisa juga kau lupakan Wijaya demi almarhum cowok kau itu !" Kata Dodo dengan nyolot mungkin sudah kesal.
"Lho abang kok marah sama aku,cinta itu enggak bisa dipaksa bang,aku enggak suka dipaksa-paksa,kalau aku salah aku minta maaf" Jawab aku dengan ketus.
Entah angin apa Dodo mencoba memeluk aku,dengan sekuat tenaga aku menolaknya,tapi Dodo tetap memaksa aku untuk memeluk dia.
"Lepas kan aku bilang,lepaskan !"
Aku mulai emosi dan meronta-ronta dari pelukan Dodo,syukur tidak ada yang lihat karena kebetulan dibelakang rumah sangat sepi.
"Enggak dek aku enggak mau melepaskan ini,aku udah terlanjur sayang sama kamu"
Dodo masih memeluk aku dengan erat.
"Aku bilang lepaskan tangan kamu !,aku Mohon hati ini enggak bisa dipaksa"
Aku mulai jenuh sekali masih dipelukan Dodo,aku sudah tidak meronta lagi karena tenaga sudah habis.
Dodo tenaganya memang kuat aku tau itu,sewaktu dulu kami latihan taikwondo dia yang paling unggul walau berbadan kecil,kini Dodo melepaskan pelukan paksa itu kepada aku.
"Apa mau abang sekarang,kalau mau balikan lagi maaf aku enggak bisa,aku belum mau pacaran lagi" Tolak aku dengan berterus terang dan tegas.
"Teganya ...."
Dodo membendung air mata mungkin karena cowok dia masih jaga Image.
"Tega kau dek,aku udah banyak berkorban sama kamu,ku buat ultah kamu meriah,aku kasih kau cincin emas,kawan-kawan kamu ikut juga,kalau memang enggak suka kenapa kamu dulu mau pacaran sama aku,kau beri aku harapan palsu !!" Bentak Dodo bernada marah.
"Oww jadi abang ungkit-ungkit,hem tidak sangka aku,aku kira abang baik tanpa pamrih sama aku,ternyata abang sama aja,tunggu dsini jangan kemana-mana" Aku berjalan menuju pintu dapur belakang rumah.
Aku masuk kedalam kamar dengan tergesa-gesa untuk mencari cincin yang iya berikan kepada aku,setelah aku menemukan cincin emas itu didalam lemari,aku berjalan lagi menuju halaman belakang rumah dimana Doso berdiri mematung.
__ADS_1
"Nih makan"
Aku kasih cincin itu ditelapak kanan Dodo tetapi Dodo tidak menerima,malah iya kembalikan lagi ketelapak tangan kanan aku,
karena tidak mau aku dapat ungkitan dikemudian hari aku melemparkan cincin emas itu dihadapan Dodo.
"Maaf sebesar-besarnya kalau aku salah,nih semua udah aku kembalikan jangan ada ungkitan lagi,makasih ya bang" Kata aku dengan ketus.
Dodo diam tanpa bicara sepatah kata lagi,aku tanpa pamit langsung masuk kedalam rumah, sebenarnya aku tidak tega untuk bicara kasar kepada Dodo,tetapi itu terpaksa aku lakukan karena takut memberi harapan kepada Dodo lagi,seperti dulu.
Aku juga dapat menilai sifat Dodo yang ternyata memberi harus ada pamrih,apalagi Dodo mengungkit apa yang iya beri sama saja dia tidak ikhlas selama ini.
---------------------------------------------------------------------
*Esok hari*
Entah kenapa aku tadi malam tidak bisa tidur dengan tenang,apalagi habis bertengkar dengan Dodo padahal aku tidur memeluk poto Raja,mata ini tidak bisa aku pejamkan, terpaksa kesekolah dengan keadaan mengantuk berat.
Pagi ini aku sudah berjalan menuju sekolah,seperti biasa barengan dengan Indar ketemu dipersimpangan rumah.
"Hoammz..."
Aku menguap tanpa menutup mulut,aku tidak perduli dilihat orang banyak saking mengantuk mata ini.
"Aduh bau kali nafas kau, jam segini kau ngantuk belum lagi masuk kelas" Kata Indar sembari menutup hidungnya.
"Aku tadi malam enggak bisa tidur,enggak tau kau tadi malam Dodo datang kerumah aku"
Jawab aku dengan wajah serius.
"Jadi gimana?"
Kata Indar penasaran dan melihat mata aku sudah seperti panda saja.
Aku menceritakan soal Dodo kenapa datang,lalu menjelaskan juga soal cincin dan apa yang Dodo kasih selama ini sembari kami berdua barengan berjalan kedalam kelas.
"Ahk ngeri kali itu Yun,syukur deh kau enggak sama dia lagi" Kata Indar yang sudah duduk dikursi kelas.
"Iya Indar aku juga enggak cinta sama dia,enggak ada getaran dihati aku" Balas aku yang sudah duduk juga dibangku belakang,sedangkan Indar dibangku depan aku.
Kami tidak sadar diluar kelas ternyata ada murid yang terkena strap,dengan melihat keluar ternyata Fandi dan gengnya disetrap kepala sekolah.
"Ampon pak,ampon pak" ucap Fandi kesakitan karena jambang Fandi ditarik keatas oleh kepala sekolah.
"Huss Put kenapa itu?,apa orang Fandi buat kesalahan lagi?" Tanya aku karena penasaran.
"Semalam Fandi tidak masuk sama orang Rafa,mereka semua kepergok kepala sekolah waktu main judi tuok dirumah bolek lontong"
Jawab Puput yang sibuk mengintip Fandi sedang dihukum.
Puput menatap aku,aku lihat mata itu buat aku tidak bisa lepas dari bayangan Raja,aku buang muka takut melihat mata itu terus.
"Tadi kami tidak boleh masuk kekelas sebelum kalian datang" Sambung Puput lagi dengan wajah serius.
"Kenapa?"
Aku heran dan penasaran dengan ucapan Puput,aku juga melihat Indar yang mengintip sambil geleng kepala kepada Rafa yang berdiri diluar kelas.
"Selain judi tuok orang ini bawa cimeng,aku dengar disembunyikan didalam kelas,tapi kepala sekolah periksa barang bukti enggak ada" Balad Puput menatap aku lagi buat aku kalang kabut.
"Wihh ngeri ya orang Rafa sama Fandi pakai ganja segala" Kata aku geleng kepala saja.
Kami jadi berhenti ngobrol karena kepala sekolah bicara hal yang serius,semua murid melihat fokus keluat kelas dengan mengintip dijendela kelas,ada juga berdiri didepan pintu kelas.
"Kalian lihat ya sekali lagi bapak melihat kalian berjudi,atau bapak dengar lagi kalian pakai narkoba bapak tidak akan segan mengeluarkan kalian dari sekolah ini !" Tegas kepala sekolah sambil melihat Rafa,Fandi Beserta anak nakal lainnya.
Kepala sekolah sudah pergi,anak yang terkena hukuman sudah diperbolehkan masuk kedalam kelas,terlihat Fandi dan Rafa masuk barengan dengan wajah masam sekali.
"Apa lihat-lihat..!,aku perkosa kau nanti dilimbah mau kayak dulu" Kata Fandi dengan ketus kepada aku.
"Jaga omongan kau,kurang ajar kau Fandi"
Aku mulai melawan dan marah sekali kebetulan kurang tidur jadi cepat emosi.
"Plaaak", " Buuhk"
Aku menampar pipi kanan Fandi setelah itu meninju meja sekuat tenaga karena aku lepas kontrol emosi ini tak terkendali lagi.
"Kau...berani-beraninya kau"
Kata Fandi hendak membalas perbuatan aku atas dirinya.
Teman-teman mulai ribut kericuhan terjadi semua membela aku,Fandi tidak bisa berkutik mungkin hari sial buat Fandi entah kenapa kepala sekolah lewat dari kelas kami.
"Fandi,Yunita sekarang juga kekantor"
Kepala sekolah berdiri didepan pintu dengan tegas berbicara,sedangkan wali kelas belum datang.
Aku berjalan dibelakang Fandi menuju kantor kepala sekolah,aku malas dekat-dekat Fandi karena aku mulai membenci Fandi.Setelah kami masuk kedalam ruang kepala sekolah
"Kalian kenapa bertengkar?"
Kepala sekolah melihat kami berdua tertunduk kepala.
"Enggak suka aku sama dia pak !, gatal !"
Sambung Fandi karena dia memang pelawan.
"Fandi dewasa sikitlah kau,aku salah apa sama kau?,kau terus ejek aku ratu limbahlah apalah,kau pikir selama aku diam aku takut" Kata aku karena tidak senang ucapan Fandi.
"Sudah- sudah Fandi kau tadi udah bermasalah sama bapak,sekarang mau buat masalah baru lagi,sekarang kau salaman sama Yunita" ucap kepala sekolah dengan tegas.
Aku berjabat tangan dengan Fandi,walau tidak ikhlas aku menurut saja,setelah itu kami disuruh kekelas lagi,sampai didalam kelas Putra buang muka padaku,aku salah paham selama ini aku kira mereka berubah ternyata tidak.
Sebentar lagi juga kami akan tamat dari sekolah ini,lalu aku duduk dibangku kelas Indar serta teman lain sibuk bertanya pada aku.
"Eh cemana kau enggak apakan Yun" ucap Puput.
"Enggak put,memang dia harus ditegur kalau enggak mengganggu aku,kau pun seringkan digangguinya !" Sambung aku sambil melirik Fandi yang lagi ngobtol sama Rafa.
"Dulu sering sekarang udah jarang Yun"
Sahut Puput dengan tersenyum pada aku.
"EH buk guru datang"
Kata Indar lalu dia sibuk mengeluarkan buku dari dalam laci meja belajar,aku juga begitu.
Pada jam istirahat pertama aku dan teman-teman berjalan menuju warung bolek lontong,
Ternyata Fandi,Rafa dan Putra sudah lebih dulu nongkrong diruang tamu rumah bolek lontong.
"AYok Yun jangan sini lagi ada rafa!"
Kata Indar menarik lengan aku.
"Oh iya Ndar kenapa kalian putus sebenarnya kau belum cerita lho,udah lama kalian enggak sama,terus kau sama Hamdani sekarang"
Aku memang penasaran dari dulu,baru ini bertanya lagi.
"Iya Ndar kami juga bingung kenapa kalian putus" Kata Puput yang bersama kami didepan halaman bolek lontong.
"Sebenarnya kami enggak ada kata putus, kami gantung aja,aku juga enggak tau sama hubungan ini" jawab Indar menaikan kedua bahu.
Kami semakin tidak mengerti dengan jawaban Indar,aku sungkan bertanya lagi cukup saja kali ini bertanya sama Indar.
------------------------------------------------------------------------
haloo saay
jangan lupa like ya
oh ia nama nama di novel ini
nama samaran smua ya ...
__ADS_1
salam author cantik muach :*