
Kini aku fokus membawa motor kearah rumah Juan,aku sangat cemas ketika Juan merengek kesakitan ditambah tubuh Juan panas sekali.
"Deg deg deg "
Jantung aku berdetak kencang saat digerbang rumah Juan,apa reaksi orang tua itu saat melihat cucunya terkulai lemah karena datang kerumah kontrakan aku.
"Kenapa dia?,kenapa cucu aku?"
Ujar Opung saat melihat aku memapah Juan masuk kedalam rumah.
"Dia demam,sepertinya sa -----"
Perkataan aku terputus saat kemarahan opung memuncak.
"Kau Yunita,mulai saat ini jangan kemari lagi, jangan bertemu lagi dengan cucuku,mulai detik ini aku tidak merestui hubungan kalian !!,sekarang juga kau pergi dari rumah ini !!" ketus wanita yang membesarkan Juan.
"Jedduaaar"
Hatiku bagai disambar petir pedih terhiris sembilu dengan perkataan orang yang selama ini aku kagumi,butiran cristal bening tanpa sengaja jatuh dikedua pipi ini,terlihat Juan melihat lemah dan bersedih ketika opung yang iya sayangi membentak dan mengusit aku tanpa basa basi lagi.
"Mama...!!"
Lemah suara Juan memanggil aku karena aku berlari keluar rumah dengan kecewa,Juan berusaha mengejar aku tetapi apa daya wanita tua itu menarik lengan Juan.
"Pulang,ayo pulang,apa kau enggak kasihan sama opung?" Ucap Wanita tua tersebut dan menarik lengan Juan.
Aku berlari dengan kaki telanjang menuju jalan raya,aku tidak perduli orang-orang melihat aku yang menangis sengunggukan ditepi jalan ini.
Aku berjalan dikegelapan malam tanpa seseorang yang menemani,hati ini sangat hancur sekali,dengan gemetar aku merogoh ponsel didalam saku dan berniat menelfon Hanzi supaya aku bisa pulang.
Tubuh lelah ini terduduk dibawah pohon jambu air,pikiran kosong hanya ucapan wanita tua tersebut yang terngiang-ngian ditelinga serta pikiran aku.
"Hal..haloo,hanz...Huhuhuhu"
Aku berbicara didalam telfon dengan Hanzi,aku tidak mampu berkata-kata lagi,yang aku minta dengan Hanzi untuk menjemput aku ditepi jalanan ini.
Ada setengah jam berlalu sebuah sepeda motor berhenti didepan aku,pria berambut gondrong turun dari atas motor dan mendekati aku yang masih menangis histeris.
"Aku disuruh Hanzi jemput kamu Yun,kok kamu nangis gitu?" Ucap Pria gondrong tersebut sebut saja namanya Yanto.
"Enggak apa-apa,aku kuat kok"
Balas aku sembari dipapah yanto naik keatas motor kawasaki kepunyaan Hanzi.
Yanto membawa aku disebuah warung dimana Hanzi dan teman lainnya mengadakan acara pesta memanggang ikan,tidak lupa juga tuak sebagai minuman mereka.
"Yun kok muka kamu sedih gitu?"
Tanya Hanzi dengan heran saat melihat aku duduk didepan Hanzi.
Aku tidak perduli lagi pada siapa aku mengadu,semua teman-teman Hanzi juga mendengar cerita dan kejadian yang aku alami tadi,padahal yang berkumpul diwarung ini semua berkelamin pria.
"Sabar saja Yun,mungkin dia bukan jodoh kamu,makan nih ikan,hari ini ulang tahun teman aku" Ucap Hanzi menyodorkan ikan nila panggang untuk aku.
Aku meluhat teman Hanzi ternyata keturunan tionghoa semua,cuma aku yang pribumi perempuan sendiri lagi dan aku tidak perduli yang aku fikirkan saat ini kepedihan dan bubungan aku bersama Juan.
Akibat patah hati aku terus menenggak minuman yang ada didepan mata tanpa jeda sedikitpun,Hanzi hanya menjadi pendengar dan penonton dengan aksi yang aku buat minum tuak tanpa jedah,terus dan terus.
"Jangan banyak-banyak minum entar kamu cepat mabuk tau" ucap Hanzi dengan merampas gelas dari tangan aku.
"Aku ingin mabuk,aku ingin melupakan Juan"
Ucap aku denga suara parau dan bernada sedih.
"Glek glek glek"
"Glek glek glek "
Aku tidak perduli dengan larangan Hanzi,malah menjadi-jadi mungkin ada sepuluh gelas tuak aku habiskan sendiri,teman Hanzi yang lain hanya geleng kepala saja.
"Wah gila kau Yun,jangan buru-buru gitu,wa mohon hentikan" Kata Pria bermata sipit yang bernama Aguan.
"Biarin akyu mau mabuk Hahahha"
Sambung aku dengan tunduk kepala karena mulai berputar-putar kepala ini.
"Koko sudah mabuk Yunita"
Bisik Yanto geleng kepala.
"Lu jangan pusing,entar wa yang bawa Yunita pulang,wa ngerti hati yang dilema" Tukas Hanzi mengambil tempat duduk disamping aku.
Kini aku mulai tidak sadarkan diri,aku berani bersandar dipundak Hanzi,sementara Hanzi santai dan tidak canggung dekat dengan aku.
Karena malam semakin larut pesta mereka bubar,perlahan Hanzi memapah aku untuk naik keatas motor warior nya,setelah itu Hanzi mengantar aku pulang kerumah kontrakan.
Subuh dini hari sekitar jam lima aku terbangun dengan kepala sedikit puyeng,aku terkejut saat diatas kasur tanpa busana lebih parahnya lagi Hanzi juga ada diatas kasur.
"Apa yang aku lakukan?,kenapa aku enggak pakai baju?, kenapa cina ini disini?" Ucap aku menelan ludah ketakutan dan terkejut.
Aku lihat Hanzi tanpa busana juga sedang tertidur pulas,aku goncang badan Hanzi supaya dia terbangun dari tidur.
"Hanzi...,bangun hanzi !"
Ucap aku dengan heran dan berfikir keras.
"Mmmmm apa sayang?"
Kata Hanzi sembari mengucek mata.
"Apa yang kita lakukan?,kok jadi begini,apa kita melakukan itu?" Tanya aku sambil melihat wajah tampan Hanzi yang mengumpulkan nyawa sehabis tidur.
"Tadi malam kamu ganas betul sampai aku lepas kontrol,aku juga mabuk Yunita" Kata Hanzi dengan wajah menyesal.
"Apa...!!,kenapa kamu tidak langsung pulang,kita enggak pacaran kok jadi tidur bareng" Ucap aku dengan memijat dahi.
"Aku laki-laki normal tidak mungkin diam saja" Tukas Hanzi menatapku dengan tersenyum.
"Arggggg,aku ingin sendiri,tolong tinggalkan aku" Ucap aku sembari bangkit daru ranjang memakai pakaian.
"Jangan marah dong,besok kita ketemu lagi"
Kata Hanzi membelai rambut aku dengan mesra.
Oh Tuhan apa yang aku lakukan bersama Hanzi,Juan sedang sakit kenapa aku malah tidur dengan Hanzi membuat aku merasa bersalah.
Malam hari tiba aku lagi duduk santai diatas ranjang,suara motor kepunyaan Hanzi terdengar dari lorong rumah kontrakan aku,entah kenapa pemuda berdarah tionghoa ini datang lagi untuk bertemu dengan aku.
Hanzi datang dan bergabung bersama Yanto dikamar bawah,aku masih dilantai atas perlahan aku turun untuk melihat keramaian dilantai bawah,ternyata mereka ngobrol sembari minum tuak dikamar Yanto.
Yanto memetik gitar sedangkan mata Hanzi tidak berhentinya menatap diriku aku,memang aku mengambil posisi duduk didepan Hanzi sehingga pemuda ini dengan leluasa melihat diriku.
Kami tidak ada kata jadian hubungan ini terjadi begitu saja,tuak ini yang menyatukan aku dan Hanzi,entah karena nafsu atau apalah sampai aku bisa dekat dengan Hanzi.
Kini aku sudah mabuk karena memikirkan Juna yang tidak ada kabar sama sekali,Hanzi mengambil kesempatan disaat aku mabuk aku dibawa kedalam kamar oleh Hanzi,lalu aku melakukannya lagi dengan Hanzi.
Singkat cerita aku sudah sebulan berpacaran dengan Hanzi,walau Juan sembuh dan datang lagi kepadaku perasaan cinta kepada Juan terbagi untuk Hanzi,apalagi kejadian malam sewaktu aku diusir wanita tua itu jujur persaan ini mulai mentah kepada Juan.
Awalnya Indah sekali saat berdua dengan Hanzi,tetapi rasa ini surut seketika mendengar kejujuran dari Hanzi kalau sesungguhnya Hanzi sudah punya pacar terlebih dahulu.
"Siapa nama gadis itu?,aku lihat dia chat BB kamu" Tanya aku sewaktu berduaan didalam kamar bersama Hanzi.
"Sudah lumayan lama aku pacaran dengan dia,tapi aku jarak jauh saja,sbulan sekali kami bertemu" Jawab Hanzi melihat aku yang termenung.
"Aku tanya nama gadis itu kamu tidak jawab,apa dia orang cina juga?" Tanya aku lagi karena penasaran.
"Tidak,dia sama seperti kamu pribumi"
__ADS_1
Kata Hanzi memegang jemari kau diatas ranjang.
"Jadi ceritanya aku orang ketiga dihubungan kita ini?,oh Tuhan" Ucap aku hembus nafas panjang.
"Tidak,jangan bicara seperti itu Yun,aku juga merebut kamu dari Juan,kita impas,Aku juga menggoda kamu dikamar ini,tolong jangan bicara begitu lagi". Balas Hanzi dengan wajah sedih.
"Kita putuskan saja pacar-pacar kita,kamu sudah bertahun sama pacar kamu,aku juga sudah bertahun sama Juan hubungan yang enggak jelas buang-buang waktu saja" sambung aku menatap serius Hanzi.
"Kalau untuk itu maaf aku belum bisa Yun"
Ucap Hanzi berfikir keras.
"Apa...!!,bilang saja kamu masih mencintai gadis itu" Kataku dengan mendengus kesal.
"Sayang jangan marah dong,aku pikir-pikir dulu ya,aku pulang dulu,besok aku datang lagi" Balas Hanzi sibuk memakai pakaian.
Aku mendengus kesal ternyata Hanzi bukan pria yang sesungguhnya untuk jadi pendamping hidupku,gara-gara tuak ini aku bisa jadian sama Hanzi,aku jadi sangat kesal.
Esok Hari
Malam ini seperti biasa aku menunggu Hanzi,tetapi dua jam berlalu Hanzi tidak kunjung datang membuat aku dilema dan gelisah ada apa gerangan Hanzi tidak datang malam ini?,karena tidak mau pusing aku chating Yanto teman dekat Hanzi sekaligus sepupu Hanzi.
"Kalian dimana posisi Yan?,kenapa Hanzi tidak datang?,kemana dia?" Tanya aku didalam chating kepada Yanto.
"Yun kamu jangan sakit hati ya,pacar Hanzi datang,nih kami lagi ngumpul ditempat biasa" Balas Chating Yanto.
Dengan gemetar dan menahan rasa sakit hati serta cemburu meledak-ledak seketika rasa ini sedikit mentah kepada Hanzi.Yanto juga menjelaskan pacar Hanzi anak kuliahan.
"Mungkin aku hanya sebatas budak *** bagi Hanzi,aku kalah dengan gadis berstatus anak kuliahan,apalah aku ini janda beranak satu mana mungkin Hanzi mau serius kepadaku" Gumam aku yang lagi dilema didalam kamar sepi ini.
Aku berniat menelfon Rando,Rando adalah teman Yanto sebagai teman curhat aku,aku penasaran juga gimana wajah gadis yang dicintai Hanzi,sehingga Hanzi lupa dengan janjinya untuk bertemu dengan aku.
Tidak berapa lama Rando datang dengan sepeda motor miliknya,dengan cepat aku berjalan menuju lantai bawah dan membuka Pintu.
"Nelfon tiba-tiba,emangnya embak mau kemana?" Tanya Rando yang masih diatas motor.
"Ayo kita mengintip orang dibelakang stasiun, aku hanya ingin tau ucapan Yanto benar apa tidak" Ucap aku langsung naik keatas motor Rando.
"Duh aku tau yang embak maksud,aku sudah lihat mereka semua memang ada ditempat itu,mereka ngumpul mbak,pacar Yanto juga ada,termaksud pacar------" Rando tidak mau berbicara lagi mungkin takut aku marah atau sekedar menghargai.
"Alah bilang saja pacar Hanzi juga ada,ayo cepat jangan ulur waktu" Sambung aku tidak sabar lagi untuk melihat gadis itu.
"Oaleh mbak"
Kata Yanto langsung menhidupkan sepeda motor dan motor melaju kearah stasiun kereta api.
Aku tidak bermaksud untuk membuat keributan,aku hanya ingin melihat gadis itu saja dari kejauhan,motor Rando kini melintas kearah tempat dimana Hanzi berkumpul.
"Lewat saja enggak usah mampir"
Ucap aku disaat mendekati tempat Hanzi berada.Motor Rando melintas secara perlahan dengan leluasa aku melihat seorang gadis berambut panjang lagi duduk didekat Hanzi.Hanzi melihat aku dengan mata tebela sedangkan aku pura-pura tidak mengenal mereka semua.
"Sudah lewat mbak,cemana puas?"
Tanya Rando ketika motor melaju pergi dari tempat perkumpulan mereka.
"Sumpah aku cemburu,mentah betul melihat Hanzi,cukup tau saja" Balas aku bernada marah dan kesal.
"Sabar mbak,sekarang kita kemana lagi?"
Tanya Rando dengan bingung.
"Antar pulang saja aku,lagi enggak enak hati"
Jawab aku dengan nada sedih.
"OK mbak"
Rando menarik gas motor dan motor melaju kencang menuju rumah kontrakan aku.
Sesampai dirumah Rando tidak mampir iya langsung pamit untuk pulang,sedangkan aku langsung masuk kedalam rumah kontrakan membuka pintu kamar langsung hempaskan tubuh ini diatas kasur.
Karena bosan kesal aku mengutak atik media sosial,didalam media sosial banyak juga fans yang terus inbox aku,aku ladeni saja inbox lelaki dimesenger ini siapa tau ada yang jelas dan ganteng.
Aku membuka salah satu poto profil lelaki yang meminta kenalan,dengan tersenyum aku membalas chatingan lelaki yang bernama Iwan,difoto iya terlihat manis apalagi umurnya jauh lebih mudah daripada aku.
Aku janjian dengan pemuda bernama Iwan tersebut,Iwan juga penasaran dengan wajah aku,terkadang didalam media sosial poto tidak sama dengan aslinya.
Ada setengah jam suara motor satria FU berhenti didepan rumah kontrakan aku,motor berwarna merah seperti yang dijelaskan Iwan didalam chatingan media sosial.
"Mbak Yun"
Suara Iwan dari bawah terdengar jelas dikamar aku.
"Sabar ya"
Ucap aku langsung turun dari lantai atas menuju lantai bawah untuk membuka pintu rumah.
Ini pertemuan pertama kali,aku menatap pemuda ini dengan senyum khas aku,memang Iwan sangat manis aku tidak menyesal kenal dengan lelaki ini walau lewat media sosial.
"Maaf ya,enggak lamakan?"
Tanya aku yang masih menatap kagum wajah Iwan yang penuh pesona.
"Enggak kok mbak,ternyata cantik ya sama persisi didalam foto,Fotonya enggak menipu" Kata Iwan dengan rasa kagum.
"Naiklah mbak"
Kata Iwan lagi berharap aku naik keatas motornya.
"Ah gombal ayo pergi,aku ikut kemana kamu mau,lagi suntuk pikiran aku" Balas aku langsung naik keatas motor Iwan.
Iwan mengajak aku untuk minum disebuah kedai,aku tidak suka minumam alkohol didalam botol,karena kalau mabuk aku jadi usil dan ribut,aku lebih suka minum tuak walau harganya murah tapi bisa membuat aku mabuk cantik.
"Mbak malah melamun,diminum ayo"
Ucap Iwan yang memandang aku penuh arti.
"Kamu bisa enggak panggil aku mama saja,aku masih muda lho,belum umur tiga puluhan" Ucap aku dengan manza saat menenggak segelas tuak ini.
"Entar aku panggil sebutan sayang kamu marah,sebenarnya aku suka sama mbak pada pandangan pertama" Balas Iwan tanpa ragu dengan percaya diri.
"Kamu tahun berapa lahirnya?"
Tanya aku dengan penasaran.
"Bicara soal umur aku jadi malu,aku lahir tahun 1993 mbak,masih muda aku" Balas Iwan dengan malu sembari minum segelas tuak yang iya tuang dari teko.
"Pantas wajah kamu muda sekali,imut lagi"
Gombal aku yang mulai puyeng karena sudah lima gelas aku minum.
"Embak mulai mabuk ya?"
Tanya Iwan sambil meledek.
"Eng-enggak kok,ayo kita cheers"
Ucap aku sambil angkat gelas.
"Cherss"
Suara gelas beradu aku dan Iwan menenggak minuman ini dan saling pandang satu sama lain.
Dua jam kami duduk nongkrong aku mulai mabuk,tidak mau berlarut mabuk aku mengajak Iwan untuk jalan-jalan.Diperjalanan kami ngobrol sampai disebuah tempat sepi motor Iwan berhenti.Lalu kami ngobrol lepas tanpa ada yang mendengar.
"Pertama kali aku lihat foto kamu langsung penasaran,sumpah aku jadi ngefans,tapi kamu jarang aktif ya dimedia sosial?" Kata Iwan dengan tersenyum.
"Alah gombal terus kamu"
Kata aku mendorong pundak Iwan saat diatas sepeda motor.
__ADS_1
"Serius aku,kalau kamu mau aku bisa kok jadi pacar kamu,kalau diterima sih,kalau enggak ya aku enggap apa". Ujar Iwan dengan ragu-ragu takut aku menolak.
Aku sedikit aneh dengan Iwan,segampang itu dia mengucapkan kata cinta,hati ini tidak bergetar walau sebenarnya aku kagum dengan ketampanan Iwan,tetapi aji mumpung aku terima saja cinta Iwan walau belum tau itu palsu atau tidak,ya hitung-hitung sakit hati tentang Juan dan Hanzi dapat terobati dengan kehadiran Iwan.
"Kita enggak bisa pacaran,kamu taukan media soaial aku masih status berpacaran sama Juan,bagai mana kalau kita TTM saja teman tapi mesra,kalau kamu enggak keberatan" Kata aku sembari melirik wajah Iwan yang sedang berfikir.
"Aku fans kali sama kamu,kayak mimpi bertemu sama kamu,jadi teman mesra juga enggak apa" Ucap Iwan dengan kernyit dahi.
Iwan memegang kedua tangan aku,hati ini sedikit terhibur walau aku masih dilema mengingat Hanzi maupun Juan.
"Kamu non muslimkan?"
Tanya aku dengan penasaran.
"Iya mbak,aku katolik"
Ujar Iwan dengan tersenyum manis.
Syukur aku enggak pacaran sama Iwan,sama saja beda agama seperti aku dengan Juan,duh kenapa sih Tuhan memberi aku cobaan terus?.
"Kenapa kok melamun Ayy?"
Kata Iwan dengan heran.
"Eh maaf ya,iya mau pulang mana tau nanti malam aku kerja" Ucap aku dengan tersenyum.
"Iya aku antar kamu,kapan kita bisa ketemu lagi?" Tanya Iwan sembari hidupkan mesin sepeda motor.
"Entar aku chating kamu"
Ucap aku sembari memeluk pinggang Iwan dibelakang bangku tumpangan sepeda motor.
Kini aku dan Iwan sudah didepan rumah kontrakan aku,lalu dengan berani Iwan mengecup kening aku dengan sekilas,kini iwan pamit untuk pulang.
Beberapa minggu kemudian
Karenq sakit hati Hanzi tidak mau memutuskan pacarnya,aku langsung jadian juga dengan seorang pria bernama Wendy,padahal Wendy sahabat dekat Hanzi,aku sengaja berpacaran dengan Wendy hanya untuk balas dendam kepada Hanzy.
Mungkin aku sudah gila aku masih berstatus pacaran dengan Juan malah membuka hati kepada Hanzi,dekat juga dengan Iwan dan kini sasaran empuk aku Wendy untuk membuat Hanzi sakit hati.
Kini pacar aku ada empat orang,siapa yang serius akan membawa aku keplaminan walau nyatanya aku tau kalau itu semua sia-sia,aku terima walau akhirnya menyakitkan karena aku sudah siap untuk ditinggal,hati ini sudah kebal yang namanya putus dengan orang yang aku cintai.
Wendy akan datang setelah aku telfon,dia sama seperti Hanzi berdarah tionghoa,Aku juga menunggu kedatangan Monic,dia chating aku akan pulang hari ini juga.
Tidak berapa lama dari kejahuan aku melihat Monic berjalan kaki dari persimpangan rumah,aku melambai tangan saat berdiri didepan jendela kamar aku.
"Yunita,ah aku kangen sama kau" ujar Monic berlari dari lantai bawah menuju ke lantai atas.
"Monic naik apa kau pulang?,eh aku juga kangen" Aku memeluk tubuh kurus Monic dengan hati senang.
"Eh kata koko aku,kau jadian sama Hanzi,benarkah?" Ucap Monic dengan penasaran.
"Gimana ya,kami gak jadian tapi udah tidur sama,puas kau" Ucap aku dengan nada bercanda.
"Ah gila kau Yun,kalau enggak jelas tinggalkan saja" Sambung Monic duduk diatas ranjang kepunyaan aku.
"Selow kau Mon,aku sudah pasang empat cowok,saking takutnya aku dilema lagi sama satu orang,mending pasang banyak,galau sama yang ini yang satu lagi datang,jadi enggak ada kata galau" Ucap aku dengan senyuman manis dan duduk disebelah Monic.
"Sudah gila kau Yun,tapi iyalah aku tau kau galau gimana,kalau engak mabuk pasti uring-uringan pakai acara bunuh diri,hemm" Kata Monic mengerti maksud perkataan aku.
"Ya lah,aku enggak mau fokus satu cowok,sakit kalau dikhianati,mending begini,eh kau sudah makan?" Tanya aku saat melihat Monic lagi sibuj kotak-katik ponselnya.
"Sudah makan aku Yun,eh aku ganti baju dulu ya,bau keringat ini" Kata Monic berdiri dari duduknya.
"Entar kau kekamar aku lagi ya"
Sambung aku saat melihat Monic berjalan kearah pintu kamar.
"Iya bawel"
Tukas Monic sambil berjalan masuk kedalam kamar.
Malam harinya aku lagi santai baringan diatas kasur,Wendy tidak jadi datang kerumah ini,padahal aku berharap dia jadi datang,ternyata Wendy masih sibuk dengan pekerjaannya,tiba-tiba Monic datang dan masuk kedalam kamar aku.
"Yun,aku mau bertemu tamu aku dikaraoke SO,kau mau ikut ?" Ajak Monic sudah siap dengan makeup cantiknya.
"Aku antar saja ya kau kesana,terus aku pulang lagi,aku ada janji Mon" Ucap aku berdiri mengambil jaket.
"Ya sudah Yun kalau begitu,tapi entar kalau kau suntuk gabung saja kektv lima karaoke
S.O" Ucap Monic sembari memakai hak hells tinggi.
"Ya monic yang cantik"
Sambung aku sembari menutup kamar.
Monic berbadan beby sugar dan imut,wajahnya juga manis seperti berdadah tionghoa,padahal dia suku padang,mungkin dia suka berpacaran dengan chenes sehingga mirip orang chenes.
Setelah aku mengantar Monic,aku langsung pulang kerumah kontrakan,rumah sangat sepi tidak ada penghuni karena semua sibuk dengan pekerjaannya masin-masing.
Aku sudah buat jadwal ketemu dengan pacar-pacarku,tiga malam aku bersama Hanzi,siang hari bersama Juan walau sesekali,lalu dua malam lagi aku bersama Wendy,kalau sepi aku chating Iwan untuk datang.
Hari ini aku chating Iwan saja untuk janjian bertemu,Wendy tidak bisa datang padahal baru jadian,tapi tidak apa Iwan masih ada,apalagi Iwan tepat janji disuruh datang pasti langsung cepat.
Ada setengah jam seperti pikiran aku Iwan sudah nongol didepan rumah kontrakan aku,aku dengan cepat melihat kearah jendela karena mendengar suara sepeda motor Iwan.
"Sayang !!"
Suara Iwan dari bawah memanggil aku.
"Masuk saja tidak dikunci"
Ucap aku dari arah jendela lantai atas.
Iwan berjalan kelantai atas dan masuk kedalam kamar aku,didalam kamar aku duduk dengan Iwan berdua tanpa ada orang lain yang tau.
"Tumben kamu chat aku untuk datang?"
Tanya Iwan dengan senyum dan menatap aku penuh arti.
"Aku kesepian,ayo kita nonton film saja"
Jawab aku sembari sibuk mencari kaset dvd.
Perlahan tangan Iwan merangkul pundak aku sembari menonton,aku diam saja dengan perlakuan hangat Iwan,jujur sepi ini jadi hilang karena kehadiran Iwan,lalu seiring berjalannya waktu entah kenapa bibir Iwan sudah melekat dibibir aku.Kami berciuman hangat sekali.
Sebenarnya ada cerita tentang Aib Wendy,sewaktu baru jadian aku melihat foto seorang wanita yang berumuran empat puluh tahun,tapi foto didalam ponsel Wendy tidak aku bahas,yang penting Wendy mau kasih aku uang banyak setiap kali kami bertemu.
Ternyata Wendy jual diri sebagai simpanan tante-tante kaya,tante itu juga berdarah tionghoa sehingga Wendy dapat uang banyak dari tantenya,tapi Wendy tidak pelit malah uang dari tante tersebut dikasih aku sebagian,ya aku sih terima saja uang itu.Siapa sih yang mau nolak rezeky nomplok.
Ciri-ciri Hanzi.
Rambut alla korea,badannya tidak terlalu tinggi sekitar 165,kulit kuning langsat,hidung mancung,mempunyai bibir seperti bayi dan bermata sipit,dia seumuran dengan Yunita.
Ciri-ciri iwan.
Tinggi badan sama dengan Hanzi,rambut lurus,dia tidak tampan tapi manis,semakin dilihat semakin manis,warna kulitnya juga kuning langsat,bibir tipis menawan dihiasi kumis tipis.
Ciri-ciri Wendy.
Tinggi badan 180 lebih,kulit putih bening, rambut alla korea,tampan ya karena dia gigolo kali ya jadi emang tampan sekali,tapi dia sedikit tempramen,Wendy tergila-gila pada Yunita.
Kalau ciri-ciri Juan kalian sudah taukan pembaca.
Ayo tebak yang mana jadi suami Yunita?.
kalau penasaran episode selanjut nya akan Author tulis.
__ADS_1