
Hari demi hari aku lalui dengan Wijaya,kami sering berjumpa setiap malam,batas waktu aku keluar malam hanya jam sepuluh itu juga mama tetap saja marah.
Malam ini aku lagi kencan dengan Wijaya,kami semakin dekat sehingga perasaanku pada Anto menghilang,cuma Wijaya yang kini nempel dihatiku,aku semakin cinta dengan Wijaya karena aku hanya berfokus padanya.
" Abang besok siang kita ketemu yok?, selama kita pacaran belum pernah ketemu siang hari" tanyaku dengan Wijaya
" Ok sayang, gimana besok abang tunggu jam satu siang dibelakang rumah Wati " balas Wijaya yang lagi memelukku dengan erat.
"Boleh...besok aku tunggu ya" kata aku sambil girang dan senang.
--------------------------------------------
*Esok hari*
Siang ini aku sudah bersiap jalan kerumah Wati,aku senang ketemu Wijaya siang ini, waktu kami berdua jadi banyak,bila malam hanya dua jam,kalau siang ini pasti lama waktu berlalu sampai sore. "Asyik".
Ternyata Wijaya sudah lebih dulu menunggu aku, aku langsung naik keatas motor Wijaya.
Motor Wijaya meluncur maju menyusuri setiap jalanan sepi,entah kenapa setiap jalan sama Wijaya pasti ditempat yang tak pernah orang melintas.Tetapi aku tetap senang.
Aku bercumbu dengan Wijaya dibawah pohon sawit yang luas sekali,tempat ini jadi saksi bisu kisah kasih kami berdua,aku sangat bahagia sekali hari minggu ini.
Sepulang aku habis berjumpa dengan Wijaya,sesampai dirumah ternyata mama sudah menunggu aku dengan muka geram dan marah sekali.
"Dari mana kau ?!!, ketemu jantan kau kan di luar ?! aku tau selama ini kau temui dia !, kau pikir enggak ada yang mengadu sama aku, jujur kau ngapai saja di luar sana !!" Ucap Mama nada tegas dan murka
Mama menggeret paksa aku kedalam kamar,aku diam membisu ketakutan,dengan badan yang gemetar aku duduk tersudut diatas tempat tidur,aku lihat Mama berlari kedapur mengambil sapu lantai.
"Plak...plok..buaakk" Batang sapu lantai mendarat dikepala dan ditubuhku.Aku terpekik kesakitan sekali.
" Ampun mak,ampun mak,jangan pukul aku terus,cukup sewaktu aku masih kecil" ucapku sambil menangis dan merintih kesakitan.
Mama tidak menghiraukan tangisan dan keluhan sakit yang aku derita,dia menarik baju aku sampai koyak hingga tampaklah tanda kissmark yang dibuat Wijaya didada aku,melihat itu Mama semakin murka.
"Gubyakk plakkk praanngg "
Batang sapu lantai menyenggol gelas kaca yang terletak diatas meja sehingga pecah kebawah lantai ,bertubi-tubi pukulan demi pukulan mendarat ditubuh ini.
"Aku ingatkan sama kau ya itu laki-laki tabiatnya enggak baik,aku sudah lama kenal dia,aku tau bapaknya itu TUKANG KAWIN, TUKANG SELINGKUH diluaran dan pasti anaknya juga begitu !!! " Kata Mama sambil memukul aku lagi dengan batang sapu lantai.
"Satu lagi yang kau perlu tau Wijaya itu sudah BERTUNANGAN sama anaknya UAk Miran
namanya EVa !!,mereka pacaran dulu sering nongkrong diwarung misop aku,banyak juga yang bilang Wijaya sering memukuli Eva kalau mereka bertengkar karena perempuan lain !! ,gitu kau mau sama dia !!! " Teriak mama dengan lantang dan marah.
"CcetAArrr "
Suara petir menyambar hatiku,menyayat pilu direlung hatiku,sakit akibat batang sapu ini tidak seberapa denganku dibanding apa yang aku dengar dari mulut orang tua aku sendiri.
Mama memungut kaca gelas yang berserakan dilantai dan setelah itu dia mengambil batang sapu yang patah diatas kasur,batang sapu itu patah karena dengan sekuat tenaga melayang ditubuhku ini.
Aku masih tetap saja diam dikamar
tidak mau keluar rumah,perkataan mama tengiang- ngiang ditelingaku,ada berjuta tanda tanya melayang dibenakku ini.
Kaki aku biru-biru bekas pukulan mama,kepala aku juga bendol,badan aku lemas karena seharian tidak makan,aku mngurung diri terus didalam kamar.
Sampai larut malam aku masih saja memikirkan perkataan mama, aku tidak memikirkan lagi memar-memar dibadan ini.
Dengan hati penasaran besar aku beranikan diri untuk melabrak Wijaya,mencari kejelasan dan mencari kebenaran dari ucapan Mama.
Karena keluarga aku sudah pada terlelap,
tengah malam aku nekat lompat dari jendela kamar untuk menemui Wijaya, setelah aku keluar dari rumah lalu berjalan menyusuri semak- semak dan pohon karet disetiap langkahku,hanya suara jangkrik menemaniku malam ini.
Dinginnya cuaca tidak aku hiraukan,aku benar-benar berjalan menembus kesunyian malam yang mencekam,sunyi gelap gulita aku tidak gentar dengan niatku kearea tempat kumpul Wijaya.
"Bang kau lihat itu siapa !, kayaknya yunita tuh,ngapai dia tengah malam begini" ucap joko dengan heran saat melihat Yunita berdiri ditepi jalanan tanah.
"Wah benar,kenapa dia kacau sekali,bentar ya" kata Wijaya yang bangkit dari duduknya.
Wijaya datang menghampiri aku,aku mencium aroma minuman keras dimulut Wijaya.
"Lho dek ngapai kesini tengah malam?aduh mati aku pakek nangis lagi " Kata Wijaya heran dan bingung.
__ADS_1
Aku diam saja tak menjawab perkataan Wijaya,aku menarik lengan Wijaya ketengah pohon karet ditempat sunyi hanya cahaya rembulan menyinari.
"Jawab pertanyaan aku bang?,apa benar abang sudah tunangan?,apa benar abang bohong pada aku selama ini?" tanyaku dengan murka dan menangis.
"Hikss...hiks.."
"Siapa yang bilang?!!,gosip mana lagi itu dek cuma adek pacar abang,sumpah demi Allah dek " Ucap Wijaya sambil kernyit dahi.
"Jangan bawa-bawa nama Allah,tidak mungkin mama aku bohong,kutanya terakhir kali,apa benar yang aku tanya??" geramku karena tidak puas dengan jawaban Wijaya.
"Ooh jadi mama kamu yang bilang,kami sudah putus sumpah dek percayalah sama aku, cuma kamu yang aku sayang saat ini" Wijaya memelukku dan membelai rambut aku
suara tangisku pecah.
"Huaaa hiks...hikss"
" Mama enggak setuju kita hubungan bang ,aku percaya sama kamu,gimana caranya agar dia setuju?" Tanyaku saat membalas pelukan Wijaya.
"Oh jadi mama adek enggak setuju,abang punya satu cara agar orang tua kamu setuju " ucap wijaya melepas pelukan.
" apa itu bang?" tanyaku penasaran.
"Kau harus hamil !,ya harus hamil supaya kita dinikahkan ?" ucap Wijaya memegang kedua bahuku disaat kami berdiri berhadapan.
" Hah memang itu cara satu- satunya bang,
aku belum pernah melakukan sampai ketahap itu bang,apa tidak ada cara yang lain?" kataku dengan polosnya.
"Itu jalan satu-satunya dek,cuma ide itu yang terlintas dipikiran abang,coba fikirkan kalau kamu hamil,pasti orang tua kita buru-buru akan menikahkan kita,mereka pasti takut orang kampung tau kamu hamil" kata Wijaya berkeras untuk meyakinkan aku.
Aku berfikir keras dan menelan perkataan Wijaya,sedangkan Wijaya menunggu jawaban aku.
"Kalau memang itu yang bisa buat mama aku setuju,aku pasrah abang dan mengorbankan segalanya buat kamu,demi cinta kita" kataku sambil menatap sendu Wijaya.
"ikan sudah terpancing,lugu sekali kau Yunita kesempatan aku untuk mencoba kamu sekarang Heheheh" gumam hati Wijaya.
Ditengah pohon karet kami berbaring di bawahnya dengan beralaskan pakaian Wijaya dan aku.Aku menyerahkan sepenuhnya kesucian yang aku jaga selalu,dalam hentakan tiga kali Wijaya berhasil membobol pertahanan benteng mahkotaku.
Aku yang lugu ini tidak tau belangnya Wijaya.
"Terima kasih sayang,abang senang malam ini malam milik kita,kamu enggak menyesalkan?" Tutur Wijaya dengan senyum lebar.
" Enggak bang kalau memang perbuatan ini bisa buat aku hamil,aku akan melakukannya" balas aku dengan memeluk Wijaya.
"Masih sakit ya?" kata Wijaya sambil menatapku.
"Iya bang sakit sekali sampai keubun-ubun aku,ini masih sakit bang" balasku dengan polos nya.
" Makasih sekali lagi dek,abang sekarang sudah tau adek cinta mati sama abang, sampai perawan adek jadi saksinya " Wijaya langsung memeluk aku.
"Abang janji ya setelah kita begini jangan meninggalkan aku dan menghianati aku " balasku dengan menangis karena takut ditinggalin Wijaya.
"Iya sayang aku janji" balas Wijaya sambil mengecup keningku.
Wijaya mengantarkan aku pulanng dengan naik motornya, sampai digang belakang rumah motor Wijaya berhenti,lalu aku turun dari atas motornya.
"Adek cepat bobok ya sayang,besok kita ketemu lagi " ucap Wijaya sambil mencium keningku
"Abang hati-hati ya" kataku sambil melambai saat Wijaya pergi.
Sampai dirumah aku mengendap-endap dan menuju kamar seperti maling, syukur tidak ada yang bangun dan aku bisa bebas masuk kedalam kamar melalui jendela ini. Perih ini masih terasa tapi aku bawa tenang saja.
"Syukur Wijaya tidak lihat lebam-lebam dikulitku,karena suasana tadi remang" Gumam aku saat ganti pakaian tidur.
-------------------------------------------------------
*DiLapo Tuak*
"Wih...wih ceria nya abang aku ini,baru dapat lotre apa bang,kok semangat kali?" ucap Joko sambil minum dan melihat Wijaya baru datang dengan motornya.
"Dia memang perawan,aku sudah mendapatkannya, aku puas ahahahah" balas Wijaya terbahak sembari minum arak segelas.
"Hah ....kau lakukan itu bang,kok dia mau?, hemmm pasti kau iming-imingin janji kamu yang palsu" Kata Joko sedikit kecewa.
__ADS_1
"Trik tarik ulur namanya,jinak-jinak merpati disitu terpancing ikan,ikan akan menyerahkan dirinya,lalu kelepek-kelepek pasrah" Wijaya tampak puas sekali.
"Enggak ngerti aku bang cara-cara kamu itu , abang ingat bang hukum karma ada,jangan kau permainkan gadis lugu itu,mereka manusia bang bukan batu,sadar abang sadar,nikahi saja sibunga desa itu " balas Joko dengan nada kesal.
" Ahk kau enggak usah ikut campur Joko, ini urusan aku ... lagian inikan malam terakhir aku di sini, besok aku berangkat untuk kerja kejakarta selama sebulan entah juga empat bulan" Wijaya tampak tidak senang dengan ucapan Joko.
"Aku cuma mengingatkan kamu bang,Yunita gadis periang yang baik,kasian anak lugu begitu seharusnya disayang,dibimbing dan dijaga bukan habis manis kau buang " balas joko mulai emosi.
" Ahk bacot kau jok.... sudah...!!,jadi males gabung kau,mending aku pulang,ketimbang mendengar ocehan mulut sampah" balas Wijaya mulai terpancing emosi.
" ckckckcckck " Gumam Joko .
Wijaya meninggalkan Joko digubuk tempat mangkal mereka,Joko hanya geleng kepala saja, Sutono juga terdiam dan tercengang.
"Kau dengar kan Tono?, kasihan Yunita" ucap Joko setelah Wijaya berlalu.
"Iya kasihan Yunita,aku yang playboy tidak pernah sampai sejauh itu menipu gadis lugu demi nafsu birahi" sambung Sutono kesal.
"Samalah kita,banyak cewek aku,tapi aku tidak berani menodainya,aku takut kena karma,apalagi aku punya adik cewek " balas Joko dengan menundukan kepala.
"Wijaya lelaki laknat,aku menyesal dulu memanggil Yunita untuk ketemu dengan Wijaya" tegas Sutono menjadi emosi.
" Nasi sudah jadi bubur Tono, enggak bisa diputar balik lagi, begitu cantiknya Yunita setega itu Wijaya menipu,Yunita jadi bunga desa layu karena udah enggak suci lagi" Ucap Joko sembari pijat kening.
"Kalau terjadi apa-apa sama Yunita suatu hari, aku ingin minta maaf juga padanya Jok, karena aku juga terlibat menjodohkan dia" ucap Sutono dengan menyesal .
"Bagai mana kalau kita menemui Yunita besok dan kasih tau sebenarnya sifat asli Wijaya" ujar Joko yang punya ide.
"Gila kau Jok, kau mau dibunuh Wijaya dia nekatan !" cegah Sutono bergidik ngeri.
"Aku enggak perduli,kasihan Ton,aku juga punya adek cewek, aku juga saksi kejadian ini malam,masa kita harus diam saja,enggak adil sama Yunita" balas Joko .
"Ahk aku takut tau Wijaya kalau kita mengadu pada Yunita" ucap Sutono sambil mondar-mandi berfikir.
"Kau dengar tadi Wijaya besok pergi dari kampung ini,otomatis dia tidak tau aku menemui Yunita" ucap Joko menatap tajam Sutono.
"Benar juga itu ,besok siang aku akan memanggil Yunita biar bertemu dengan kamu" ucap Sutono lagi.
" Ook ton,yuk kita bubar sudah jam tiga malam " Ajak Joko yang mulai ngantuk.
Tono dan Joko bubar kerumah masing masing.
---------------------------------------
*Sementara di rumah Yunita *
Semoga kejadian malam ini aku akan hamil lalu menikah sama Wijaya ...huh senangnya hatiku.Aku pengen pipis tapi takut perihnya belum hilang,Wijaya kau sangat perkasa, gumam aku sambil tersenyum.
Pagi harinya aku terbangun dari tidur,saat aku mandi membuka celana bercak darah kesucianku menempel masih ada,tapi sudah mengering.
" ahk sampe lupa ganti " Gumamku.
cepat-cepat aku cuci takut ketahuan mama,Setelah itu aku membantu sedikit mama yang sudah siap hendak jualan kesimpang kantor.
Minggu depan aku akan sekolah karena mama sudah mendaftarkan aku kemadrasah dekat rumah aku, tidak jauh hanya berjarak 200 meter dari rumah.
"Ahk untuk apa sekolah aku bakal hamil dan dilamar Wijaya "gumam hatiku dengan gembira.
"Wijaya saat ini lagi apa ya?" tanya aku dalam hati sambil melamun dibelakang teras rumah.
Mama juga sudah pergi berjualan, tinggal aku sendiri dirumah ini,disaat aku tersenyum gembira Sutono datang mengantar surat kepadaku.Aku jadi heran enggak biasanya Sutono datang.
"Eeh Yun apa kabar,makin cantik saja kau aku lihat eheh" kata Sutono yang udah berdiri diteras rumahku.
"Aih terkejut aku,ada apa ya Tono?,enggak kayak biasanya" Tanyaku lalu mempersilahkan Sutono duduk dibangku teras.
" Hemmm itu ... aku mau bilang Hem" Sutono seperti ragu.
"Mau bilang apa?,bilang saja enggak usah ragu gitu Ton" kataku jadi bingung.
"Ahk aku memang payah,maaf Yun anu ...aku mau memberi tau sebuah rahasia dengan kamu tapi aku enggak tega,biar joko sajalah yang cerita,ini tentang Wijaya" tegas Sutono dengan Hati-hati bicara.
"Kirain ada apa rupanya tentang pacar aku. " jawabku sambil tersenyum polos.
__ADS_1
Dengan wajah sedih sutono menyerahkan surat Joko kepadaku.Setelah itu dia pamit pulang padaku,aku penasaran apa isi surat joko, heran saja enggak akrab dengannya kenapa kirim surat padaku segala. Asal dia jangan naksir saja padaku tapi mana mungkin dia teman akrab Wijaya.
Aku meninggalkan teras untuk masuk kedalam kamar dan cepat membuka surat Joko karena aku sangat penasaran.