
Kami menjenguk dengan bergiliran karena tidak boleh ramai-ramai,aku dan Indar duduk digang ruangan pasien ini.
"Tadi malam adik aku kejang-kejang woi " ucap Wati dengan sedih.
"Sabar Wat mudah-mudahann adek cepat sembuh biar main-main lagi "
Sambung Indar dengan tersenyum.
"Ayo keluar kedepan,aku enggak tahan bau obat" Bisik Merry kepada aku.
Aku dan Merry pamit untuk mencari udara segar,sedangkan Puput dan Indar didalam sedang bercerita bersama Wati.
Aku dan Merry duduk dikusi papan panjang,jami bercerita sekelak sedangkan Hamdani dengan Yudi keluar untuk merokom.
"Yun kau pernah opname sini?"
Merry bertanya ditengah obrolan kami.
"Pernah,aku operasi usus buntu disini juga aku mengenal Riandi Mer" Jawab aku mengingat masa lalu.
"Ahk mulai melow lagi kau,kayaknya kau enggak usah pacaran dululah Yun,aku perhatikan kau melow terus,mending jomblo kau,kalau bisa pacaran buat makan-makan minta gratis" Kata Merry muncung nya panjang bercerita serius pada aku.
"Hem enggak tau Mer,mungkin nasib aku tidak beruntung,kenal Riandi datang Wijaya nongol merusak hidup aku,kalau Anto aku tidak sakit hati,dapat yang sempurna seperti Raja kagak taunya diambil Tuhan" Sahut aku dengan membendung air mata.
"Sabar Yun,pasti nanti kau dapat lagi seperti Raja,Maaf Yun aku sebut nama Almarhum aku takut kau sedih lagi" Merry menepuk bahu aku.
"Aku udah enggak apa Mer,sudah bisa menerima kepergian Raja,dia akan tetap jadi Raja dihatiku sampai kapanpun" Jawab aku sembari bersedih.
Aku melihat kursi yang kini aku duduk bersema Merry dikursi ini juga aku pernah bersama Riandi,didepan itu aku melihat tempat kami bercumbu dahulu disamping ruangan pasien.
Aku melamun sendiri,sementara Merrylagi berdiri sembari ngobrol dengan Yudi dan Hamdani yang baru saja datang,Jantung aku memompa lebih kencang dan mata aku terbelalak ketika aku melihat sesorang yang aku kenal dekat dahulu.
Riandi lewat dengan seorang wanita yang lagi berbadan dua,Riandi tidak sadar aku ada disamping kiri,aku pura-pura tidak tau saja rasa ini bercampur padu antara heran,bingung dan dilema.
"Ternyata dia sudah move on dari aku,semiga kau bahagia Abang Riandi,aku turut senang" Ujar aku didalam hati sembari melamun sendiri,Riandi berlalu dari pandangan aku.
"Yun temani aku yok kekanti depan,aku haus mau beli minum" Indar datang dengan tiba-tiba membuat lamunan aku buyar.
"Ayo...aku juga haus"
Aku beranjak dari duduk dan berjalan barengan Indar menuju kantin rumah sakit.
Aku dan Indar masuk kedalam kantin dan membeli apa yang ingin kami beli,Indar memiih air mineral,sedangkan aku minuman bersoda dengan keadaan dingin,setelah itu kami beranjak dari kantin untuk kembali keruang pasien anak.
"Yunita..!!"
Suara lelaki dari belakang memanggil nama aku,dengan cepat aku membalikan badan dibarengin Indar yang juga penasaran siapakah gerangan yang memanggil aku.
Aku terkejut suara itu,ternyata wajah pakistan yang dulu aku kagumi dan aku puja-puja.Aku terdiam diri saat Riandi berjalan mendekati aku dan Indar.
"Siapa Yun?,kok tau nama kau"
Indar bertanya dan menyenggol lengan kiri aku.
"Dia Ndar orang yang aju critakan dulu,cinta pertama aku" Jawab aku sambil melihat Riandi berjalan semakin mendekat.
"Ow..iya,itu mantan tunangan kau,ganteng juga Yun mirip orang pakistan,kalau menurut aku sih hampir imbang dengan alamrhum,bedanya almarhum lebih putih dan babyface" Indar tersenyum menutup mulut.
"Raja is the best dihatiku,dia spesial lain dari yang lain" Aku memuji Almarhum karena sampai sekarang aku masih sangat mencintai Raja.
Kini Riandi sudah ada dihadapan aku dan Indar,aku kikuk dan tidak tau mau bicara apa,disisi lain Riandi tersenyum manis menatap wajah aku yang tertunduk.Sedangkan Indar senyum menutup mulut dan melirik aku sesekali.
"Wah ternyata betul kau ini dek?"
Kata Riandi memastikan kalau memang itu aku.
"Cari tempat duduk dulu yok, ngobrol enggak enak bicara berdiri " Ide Indar terlintas dibenak.
"Tidak usah Ndar,nanti dimarah istrinya"
Sambing aku yang melirik Riandi sesekali.
"Hah istri !,istri siapa dek !?"
Heran Riandi sembari berfikir.
"Istri abang"
Jawab aku dengan singkat sembari senyum melihat wajah Riandi.
"Cari tempat duduk dulu kita,baru adek tau penjelasan dari abang" Balas Riandi sembari garuj kepala dengan ucapan Aku.
Aku ikuti saja kemauan Riandi,Indar juga ikut bersama kami,aku penasaran juga apa yang ingin dibilang Riandi walau sebenarnya perasaan ini tidak seperti duku kepada Riandi.
Riandi memilih tempat duduk disamping kantin,tempat duduk tersebut pernah kami lalui sebagai tempat kencan,duduk disini membuat aku semakin canggung berhadapan dengan pria yang lama tidak aku temui ini.
"Gimana kabar mama dek sehat?"
Riandi duduk disebelah kiri aku.
"Eh bentar ya Yun maaf ya,nanti aku balik lagi, aku antar dulu minuman untuk Hamdani" Indar berdiri dari duduk sebelah kanan aku,mungkin Indar sengaja pergi karena tidak ingun ganggu kami berdua.
"Jangan lama-lama ya Ndar nanti jadi fitnah " Sambung aku sambil melirik Riandi yang diam sambil berfikir keras.
"Ok Yun,aman itu"
Indar berjalan terus menuju tempat Hamdani duduk bersama Yudi dan Merry.
"Adek ditanya enggk jawab malah dibilang jadi fitnah,abang belum nikah dek" Tutur Riandi melihat aku dengan tatapan penuh arti.
"Oh ya bang?,jadi siapa wamita hamil yang aku lihat tadi?" Aku penasaran padahal bukan urusan aku,entah kenapa hati ini ingin tau peribadi Riandi.
"Hhahaha..itu istri kawan abang,tidak percaya lihat mereka berdua diruang tunggu dokter,dia lagi nunggu dokter kandungan sama suaminnya" Kata Riandi sambil tertawa renyah.
Aku jadi malu saat Riandi menjelaskam siapa wanita itu,aku takut Riandi jadi salah paham kalau aku masih ada rasa padanya,padahal tidak lagi walau sebenarnya masih ada secerca rasa rindu ini.
"Oh ianya aku percaya bang,mama aku alhamdulilah sekeluarga sehat bang"
Akhirnya aku menjawab pertanyaan Riandi.
"Adik sedang apa disini?,abang lihat tadi teman adik disini" Riandi penasaran juga pada aku.
"Jenguk adik Wati bang,ow iya kalau boleh tau abang kok belum nikah-nikah?" Aku ingin lebih dalam lagi bertanya dengan Riandi.
"Ahh abang udah ada sih pacar tapi belum siap abang nikahi,masih inget- inget dulu dek tentang kita " Kata Riandi sembari menatap aku sendu.
"Soal dulu maafkan aku ya bang,aku tidak bermaksud menyakiti sekalian sekeluarga"
Jawab aku dengan nada bersedih.
__ADS_1
"Ya bang paham,adek pasti tau pacar abang yang sekarang" Riandi tersenyum manis.
"Ahk mana kenal aku bang,kitakan udah hampir setahun enggak bertemu" jawab ku .
" itu lho dek pasien disebelah adik kemarin pasien ibu-ibu yang menjaga anak gadis namanya pika" Balas Riandi lagi kali ini dengan serius
"Jadi abang sama pika?"
Aku terkejut dan menyimpan rasa aneh didalam hati entah itu kecewa atau senang.
"Iya dek,waktu kita putus abang panik terus kenalan sama dia,kami pendekatan kagak taunya nyambung dia selalu mendengar curhat abang tentang kita" Riandi mengingat masa lalu lagi.
"Semoga abang jodoh ya sama dia" Kata aku sambil tersenyum kecil.
"Cepat banget kamu move on,putus dari aku jangka satu hari udah dapat pacar baru" Batin aku kecewa sedikit.
Pika adalah cewek berambut sebahu,umurnya diatas aku kira-kira 5 tahun,cewek manis berhidung besar walau sedikit cemburu mendengar itu aku tidak boleh ambil hati toh nyatanya aku sudah tidak ada lagi hubungan dengan Riandi.
"Mudah-mudahan dik kami jodoh,adik belum ada pacar?,kalau boleh abang tau" Riandi garuk kepala takut aku tersinggung dengan pertanyaan Riandi.
"Fiuh...hem.." aku tarik nafas panjang gimana mau menjelaskan.
"Aku udah ada pacar bang baik sekali sama kayak abang bertanggung jawab,pandai mengambil hati keluarga aku tapi----" aku tidak melanjutkan pembicaraan ini,rasanya ingin menangis tapi aku tahan dan melihat atas supaya air mata ini tidak jatuh.
"Lho kok sdih,kenapa dik?"
Riandi kernyit dahi sembari memegang bahu aku.
"Iya bang sedih"
Aku tak kuasa lagi menahan butiran kristal dari pelupuk mata merembes begitu saja tanpa aku sadari lagi.
"Sudah punya pacar tapi kok sedih dek, mana pacar adik apa enggak ikut kesini?"
Tanya Riandi dengan penasaran.
Aku tidak mampu harus dari mana menjelaskan kalau dia sudah tiada lagi didunia ini,Riandi menunggu jawaban dari aku dengan kernyit dahi heran.
"Di-dia sudah bahagia bang,sebulan yang lalu dia dipanggil yang kuasa" Sambung aku terbata-bata sembari menghapus air mata ini yang jatuh dikedua pipi.
"Astagfirullah,innallillahi... maaf ya dek abang enggak tau,jadi abang buat adik sedih "
Riandi mengelus punggung aku mungkin supaya aku tenang dan nyaman.
Riandi masih mengelus punggung aku membuat aki sedikit lega tetapi seorang wanita datang menghampiri kami.
"Ow jadi gini sewaktu aku enggak ada kamu mesra-mesraan disini ya sama dia !" ketus dan menunjuk aku.
"Oh adek udah datang abang capek lho nunggu adek " Riandi langsung bangkit dari duduk.
"Ngapai kalian duduk berdua disini?,kalian mau balikan ya,atau sudah balikan" Wanita itu masih saja ketus dan melotot pada aku.
"Sabar mbak kami hanya cerita kabar saja, jangan salah paham mbak!" Balas aku berdiri dari duduk sudah siap kalau ribut dengan wanita ini.
"Dek ini pacar abang Pika,ingat kan!"
Riandi menggandeng Pika dan pamer pada aku,mungkin supaya Pika tidak marah lagi.
Aku mengulurkan tangan kepada Pika tetapi pika menepis lengan kanan aku,mungkin aku rasa dia cemburu,aku paham perasaannya walau aku sudah mulai kesal dan marah.
"Sudah ya,ayo bang aku malas lama-lama disini" Pika menarik lengan Riandi lalu berjalan begitu saja tanpa basa-basi lag pada aku.
"Dek maaf ya abang pulang" Riandi dari kejahuan masij sempat bicara pada aku.
"Dasar wanita gila padahal kami cuma bicara positif sok kecantikan kau,aku udah mengalah sama kau tadi,uh sebelum kau rasakan burung Riandi aku lebih dulu dari pada kau Pika" Gumam aku sendiri sambil menggeram.
Aku berjalan keruang anak dengan wajah cemberut dan kesal,Indar dan teman lain memperhatikan aku yang berwajah masam.
"Kampret kau enggak balik lagi"
Kata aku sambil duduk dengan cemberut.
"Emangnya kenapa?,wajah kamu kok masam apa ada masalah,aku tidak mau ganggu kalian Yun siapa tau kalian balikan lagi"
Indar cengengesan saja.
"Coba kau ikut tadi duduk sama kami,pasti enggak gitu kejadiannya,hampir aja aku bertengkar sama Pika gila itu " Aku menggerutu sekali.
"Ahk siapa itu Pika?,istrinya?,waduh gawat Yun" Indar tepuk jidat, sedangkan Merry dan Hamdani serta Yudi kernyit dahi.
"Ehh ternyata dia belum nikah,aku lagi ngobrol sama Riandi,tidak tau nya Pika pacar Riandi datang marah,disalam kagak mau lagi"
Aku cemberut dan kesal terus.
"Hahahahah...sabar Yun"
Indar tertawa renyah,semua teman jadi senyum-senyum juga.
"Kalian malah ketawa semua !"
Aku jadi tambah marah karena teman aku menertawai.
"Sudah-sudah sabar Yun,ayo kita pulang sudah jam lima woi" ajak Merry sambil berdiri dari duduk.
Aku melupakan rasa kesal ini karena memang hari mulai sore sekali,lalu kami semua pamit kepada Wati dan keluarga Wati.
"Wat kami pulang ya cepat sembuh adek kau!" Kata aku berdiri didepan pintu ruangan pasien.
"Iya makasih ya woii,dua lari lagi mama aku yang jaga siadek,kita pasi kumpul lagi"
Balas Wati dengan tersenyum manis.
"Pamit Wati"
Semua bersalaman setelah itu kami berjalan menuju parkiran rumah sakit,lalu naik keatas motor Yudi dan Hamdani.
"Motong jalan aja lagi takut ada polisi woi, kita orang tiga naik diatas motor" Kata Yudi sambil menghidupkan kunci kontak motor.
"Biar aku uang bawa jalan,aku tau jalannya" Kata Hamdani memutar gas motor dan motor kepunyaan Hamdani berjalan menuju jalanan raya kota.
Kami tiba dengan selamat tanpa gangguan polisi atau yang lainnya,setengah jam kami sudah sampai dikampung karena hampir jam enam aku belum mau pulang.
"Eik masih jam tengah enam jalan-jalan sore yok" Kata aku dengan bersemangat.
"Ya tapi jangan lama Yun,nanti mama aku marah " sambung Puput dengan cemas.
"Aman Put"
Jawab aku tersenyum,lalu kami semua berjalan menuju stadion,ternyata distadion lagi ramai karena ada latihan bola kaki, mereka latihan untuk pertandingan minggu depan antar perkebunan.
__ADS_1
"Ramai woi,pasti banyak cowok ganteng!"
Aku mulai kembali seperti dulu genit kalau lagi jalan-jalan.
Puput membalikan kepala dengan ucapan aku yang semangat dan senyum,mungkin pikir dia aku sudah mulai menerima kepergian Raja padahal sebenarnya hati ini belum siap sama sekali, aku pura-pura bahagia supaya teman-teman tidak bosan melihat ulah aku yang terus bersedih.
"Duduk disana woi "
Kata aku menunjuk sebuah kursi yang ada ditepi stadion terbuka ini.
Kami duduk ditepi stadion beramai-ramai mengobrol dan melihat latihan bola didepan kami,ternyata Hamdani kenal salah satu pemain bola tersebut.
"Wah itu yogi teman sekelas aku dulu" Kata Hamdani melihat dari kejahuan.
"Mana sayang?,ah yang tinggi itu?"
Indar mencari-cari pria yang dimaksud Hamdani.
Wajar mereka tinggi besar secara mereka pemain bola,Aku diam saja sambil menonton bola.
"Nanti aku panggil ya selesai ini,aku kenalkan sama kalian mana tau Merry naksir" ujar Hamdani melirik Merry yang lagi mengunyah jajanan.
"Huh enggak suka aku dicomblangi"
Merry buang muka sambil mencibir.
Tidak berapa lama Hamdani memanggil
pemain bola yang bernama Yogi,Yogi berjalan mendekati tongkrongan kami sambil membawa teman bernama Rajuan alias Raju.
Yogi cowok tinggi semampai,kulit kuning
hidung pesek,rambut catam,wajah oval dan bibir tebal sedang-sedang saja jika dipandang.
Sedangkan Raju cowok tinggi kira-kira 180,
rambut catam juga,kulit kekuningan
hidung mancung,bibir tipis jika dipandang sangat tampan.
Kami semua saling menjabat tangan sebutkan nama masing-masing,ketika Raju salam tangan aku,mata Raju seakan memberikan sinyal aura suka kepada aku,pandangan Raju berbeda sekali.
"Nanti malam kemana kalian bro?"
Tanya Raju melirik aku terus.
"Ahk enggak tau mau kemana,kayaknya kami mau minum" Jawab Hamdani yang duduk disebelah Indar.
"Kalau begitu nanti malam kita minum disini saja,kami inap dimess kebun manejer yang kasih" Sahut Raju dengan senyum manisnya.
"Kalian mana boleh minum entar dimarah pelatih kalian" ucap Hamdani.
"Selow kau aman itu,aku yang teraktir entar malam,tapi jangan lupa kau bawa yang itu " bisik Raju sambil melihat aku,Hamdani paham maksud Raju.
"Ahk gila kau men,ntarlah kalau dia mau" ucap Hamdani geleng kepala.
"Aku dengar ya,enggak usah bisik- bisik santai nanti malam kita gabung" Sahut Indar bersemangat.
Setelah ngobrol Raju dan Yogi pulang balik kedalam Mes perkebunan,sedangkan kami juga berniat pulang karena hari mulai gelap.
Aku diantar kerumah sama Puput dan Hamdani,sedangkan Hamdani mengantar Indar dan Merry,aku sudah didepan rumah.
"Put hati-hati ya,kirim salam sama mama" Kata aku sambil melambai kepada Puput dan Yudi.
"Aku pulang ya entar kita jumpa disekolah lagi" Balas Puput yang duduk diatas motor Yudi.
Puput sudah pergi hati aku tidak tenang entah kenapa,mungkin karena aku melihat mata Puput yang sama sepergi mata Almarhum, mata cokelat itu yang masih belum aku lupakan.
Jam tujuh malam aku siap-siap memakai jeans dan kaos ketat,sebenarnya aku malas gabung karena aneh melihat mata Raju yang melirik terus,tapi tidak enak dengan Indar.
"Sayang pergi dulu ya"
Aku mencium poto almarhum dengan semangat,kendati berat aku paksa untuk semangat namun tetap saja tidak bisa.
Setelah itu aku menunggu Indar diteras rumah,tidak berapa lama Indar muncul naik motor.
"Pakai bedak neng,masak pucat gitu wajah kamu,ini malam minggu dodol" Indar merepek sambil turun dari atas motor.
"Lagi malas berhias diri,ya sudah ayolah" Aku langsung berjalan mendekati motor Indar dan naik keatasnya.
Setelah pamit dari mama aku dan Indar berjalan naik motor menjemput Merry terlebih dahulu,setelah Menjemput Merry kami meluncur kestadion.
Sampai ditempat nongkrong ternyata Hamdani dan Raju serta Yoga sudah menunggu,kami turun dari atas motor lalu duduk dipadang rumput,aku melihat minuman tuak ,rokok dan sate padang makan-makanlah intinya malam ini.
"Lama kali sayang"
Kata Hamdani yang melihat Indar duduk disamping kiri.
"Nih putri-putri lama kali bedakan Sayang" Jawab Indar melihat aku yang diam berdiri saja.
"Sini dudk Yun, jangan sungkan kami baik kok enggak makan orang" ucap Raju menyuruh aku duduk disamping Raju.
"Ya sudah"
Tanpa bicara lagi aku langsung duduk disamping Raju,walau sebenarnya aku canggung.
Ditengah obrolan aku mencuri minuman karena suasana remang mereka tidak melihat aku,aku tenggak terus minuman tuak tidak perduli kalau nanti aku akan mabuk.
"Merokok aja kau Yun,Hamdani juga udah tau, kami ngerti kau pasti masih dilema" Kata Indar menaruh sebungkus rokok didepan mata aku.
"Tidak apakan hanya sebatang saja,biar tenang" Sambung aku sembari menghidupkan sebatang rokok yanv menyulut dimulut aku.
Aku mulai pusing sepertinya mabuk,aku tahan pusing yang melanda ini supaya mereka tidak tau kalau aku sudah minum,saat aku menghembuskan asap nikotin ini aku berhalusinasi Raja membisikan sebuah kata.
"Dek jangan merokok abang marah"
Kata itu yang terngiang ditelinga aku,langsung aku matikan rokok yang sedari tadi dijemari kiri aku.
"Yun kenapa kau tundukkan kepala,kau minum ya?" Indar curiga kelakuan aku mulai aneh.
"Coba kau dekati Ndar,mungkin Iya" Merry juga memperhatikan aku yang mulai diam dan tidak menggubris omongan mereka.
Indar berdiri dari duduk lalu mendekati aku,Indar mencium aroma minuman dimulut aku, gadis manis itu geleng kepala karena sudah tau kalau aku mabuk.
"Qah kacau lihat- lihat bang Raju,jangan sampai dia minum lagi,kalau dia mabuk rusak suasana kita" Indar senyum melihat Raju.
"Emang kenapa Ndar?, dia mabuk apa bikin rusuh?" sambung Raju kernyit dahi.
"Pokoknya dia jangan dikasih lagi minum bang,aku takut dua nangis-nangis seperti disungai kemarin" Indar geleng kepala dan mempeehatikan aku terus.
__ADS_1
"Oh Sudah ada pacar rupanya?"
Raju mengendus kecewa karena mendengar ucapan Indar.