Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 52


__ADS_3

Dua bulan berlalu juga sejak kehilangan Prima dan calon Bayiku,aku masih dirawat direhabilatasi ini,kini aku duduk sendiri sepi didalam kamar yang kosong.Aku takut bila dikarantian dan membuat keributan lagi.


"Sudah lumayan ya ibu,Yunita udah mau makan walau dikit,mandi juga sudah mau" Kata suster saat ajak ngobrol mama didepan ruangan aku.


"Alhamdulilah sus,berkat kalian kini anak saya bisa diajak ngobrol walau kadang tidak nyambung" Tukas Indri yang duduk dengan tersenyum.


Setiap hari mama mencekoki aku obat dari luar,dia membelinya ditoko herbal cina yang ada dikota T,bentuk obatnya bulat berbungkus seperti timah emas dengan berkotak seperti kotak perhiasan.


Malam harinya aku masih menjerit-jerit kadang tertawa,karena aku membuat kebisingan pasien lain terlihat suster berlari menuju kamar aku.


"Aaaaa aaaaa tidaaak mana bayi aku,kalian jahat...jahat...Prima kau dapatkan hukaman nanti,Rajaaa...aku mau ikut kau saja..!!" teriak hesteris saat aku terduduk sipojok kamar.


"Jangan berisik,Sssst"


Suster sibuk membuat injeksi untuk aku, sementara Mama kebingungan membuat aku diam.


"Dia kumat lagi sus"


Kata Mama sembari menahan dan membendung air mata yang hendak jatuh kepipi wajah tuanya.


"Tapi dia enggak berbuat nekat kan bu?,kalau seperti kemarin terpaksa kami isolasi dia dan mengikatnya seperti kemarin" Kata Suster yang memapah aku untuk berbaring dibrankar ini.


"Tolong jangan Sus,jangan diikat anak saya,biar saya yang menjaganya" Mama sangat sedih dan berwajah murung.


Setelah aku disuntik obat penenang,suster pamit keluar memeriksa pasien lain,Mama duduk ditepi kasir melihat aku yang sudah tertidur mungkin reaksi obat olyang disuntikan suster.


"Cepatlah sembuh nak,mama janji kalau kamu sembuh,mama tidak akan melarang-larang lagi" Mama belai rambut aku,air mata jatuh tanpa sadar diwajah tua mama.


------------------------------------------------------------------------


Pagi harinya aku dimandikan mama,karena mulai mau makan aku disuapi mama sarapan pagi ini,aku tidak bicara sekata apapun tetapi jika terlintas Pria bencong itu aku terus menjerit-jerit.


Selesai makan terlihat dokter ditemani para suster datang memeriksa kesehatan dan kejiwaan aku.


"Gimana dokter anak saya?"


Ucap Mama berharap aku segera sembuh.


"Sudah lumayan,dia sudah mau respon kalau orang ajak ngobrol,sudah mau makan dan mandi,ini kemajuan yang bagus,sabar ya Ibu anak ibu bisa sembuh" Kata dokter dengan tersenyum memberi harapan kepada Indi mama Yunita.


Aku sudah diizinkan keluar untuk berjalan ditaman rumah sakit rehabilitasi ini,Langkah aku terhenti saat aku pandang sebuah


ruangan,diruangan itu ada seorang pemuda yang lagi duduk tertunduk kadang menjerit-jerit,katanya dia pecandu narkoba.


Tempat ini bukan hanya tempat orang sakit jiwa,tetapi orang pecandu narkoba dan depresi berat.


---------------------------------------------------------------------


Empat bulan berlalu aku sudah mulai ada kemajuan,aku sudah mulai mau bicara dan mau ngobrol serta mandi sendiri.


"Yunita ayok jalan-jalan,lihat dihalaman banyak bunga,udara juga sejuk" Kata Suster saat melihat aku didalam ruangan terduduk melamun.


"Ya sama mau keluar"


Kata aku karena mulai respon orang mengajak bicara.


Suster sengaja menyuruh aku menghirup udara segar supaya aku tidak bosan didalam kamar,saat ini aku sudah keluar dari ruangan aku,aku menuju taman rumah sakit ini.


Aku melihat kagum bunga-bunga tertanam rapi dipekarangan taman,juga menghirup segar udara pagi yang asri,hati ini serasa sejuk,aku melontarkan senyum sendiri saat menikmati indahnya taman rumah sakit ini.


"Adek juga pasien sini?"


Kata seorang pemuda yang datang menghampiri aku ditaman rumah sakit ini.


"Ya"


Kata singkatku karena malas bicara sama orang asing,apalagi seorang Pria.


"Kalau saya bukan pasien,ibu saya yang jadi pasien karena depresi sejak usahanya bangkrut" Kata pemuda itu yang masih berdiri disamping aku.


"Siapa yang tanya?"


gumam aku sambil buang muka.


Aku menjaga jarak ketika pemuda itu duduk dibangku panjang ini,dia sekarang duduk disamping aku.


"Sama siapa nak ngobrol?"


Kata Mama yang sudah ada didepan aku.


"Enggak kenal ma"


Kata aku sambil geleng kepala.


"Maaf bu saya cuma bicara saja ajak ngobrol anak ibu" Kata pemuda itu tertunduk sopan.


"Iya tidak apa"


Tukas mama dengan tersenyum ramah.


Sejak aku sakit mama bicaranya beda,lembut tidak teriak-teriak lagi atau membentak-bentak aku,sekarang kini tidak pernah aku mendengar suara keras mama.


Ya...selama sakit aku tidak suka dengar suara keras apalagi berisik karena aku ingin ketenangan.Aku berjalan sendiri keliling ditaman ini,Pemuda tadi aku tinggal bersama mama.


"Disini jaga atau jenguk pasien nak"


Kata Mama menemani pemuda itu duduk dibangku.


"Saya jaga ibu saya"


Pemuda manis itu tersenyum ramah.


"Ibu kamu kenapa?"


Mama ingin tau lebih jauh cerita pemuda manis tersebut.


"Usaha kami bangkrut karena itu membuat ibu depresi" Tutur pemuda manis itu dengan wajah bersedih.


"Sabar dik,hibur saja terus supaya cepat sembuh" Sambung Mama yang kini duduk bersandar dibangku panjang besi.


"Maaf ya bu, bukan saya lancang kalau boleh tau anak ibu sakit apa?,sepertinya dia mulai membaik" Tukas pemuda itu kernyit dahi.


"Dia depresi berat sejak putus dengan tunangannya" Jawab mama wajah nya mulai bersedih.


"Oaleh...sabar ya bu,emang tunangannya itu kemana?" Pemuda itu tidak ada hentinya ingin tau soal pribadi Aku.


"Belum jodoh,tunangannya sudah pergi jauh"

__ADS_1


Jawab mama tersenyum kecut.


"Kalau begitu ibu masuk dulu ya"


Sambung mama yang beranjak dari duduknya.


"Panggil saja saya nanda bu"


Ujar pemuda itu ingin sekali kenal jauh.


"Baiklah Nanda"


Mama langsung masuk kedalam ruangan aku.


Aku masih berjalan perlahan menikmati udara yang asri ini,rambut panjang aku terisbak saat angin berhembus sedikit kencang,wajah ini mulai bersinar lagi mungkin karena tahap penyembuhan aku mulai ada.


"Dek sini ngobrol"


Nanda ternyata sedari tadi telah memperhatikan aku dengan detail.


Aku hanya diam sambil berjalan mendekati Nanda,kini aku berdiri didepan nanda karena menjaga jarak.


"Makasih Heheheh"


Aku tertawa kecil padahal tidak ada yang lucu,Sedangkan Nanda memaklumi tingkah aku karena aku pasien disini.


"Kasian ya masih muda udah begitu,kelihatannya gadis ini masih remaja,tapi kenapa udah begini,sayang ya cantik-cantik gila" Gumam Nanda dengan mijat dahi.


Nanda diam saja,aku juga tetap diam berdiri didepan Nanda,lalu tanpa pamit pada Nanda aku berjalan meninggalkan pemuda manis itu ditaman.


--------------------------------------------------------------------


Esok harinya saat aku ingin ketaman,aku melihat Nanda sudah duduk dibangku panjang semalam,aku jadi duduk ditepi bangku menjaga jarak dengan Pria tinggi hitam manis itu untuk kedua kalinya.


"Nama kamu siapa dik?,boleh kita kenalan,padahal sering ketemu tapi nama saja saya tidak tau" Kata Nanda uang melihat aku tersenyum manis.


"Yunita"


Jawab aku tanpa melihat Nanda dengan expresi datar saja.


"Boleh saya tanya kenapa kamu disini?,siapa tau beban kamu berkurang" Kata Nanda dengna nyeplos.


"Tanya apa?,aku tidak mau bicara yang aneh-aneh" Jawab aku tanpa melihatnya lagi.


"Oh gitu"


Nanda melihat kedepan,pertanyaan yang tersimpan dihati tidak berani iya ucapkan.


"Hem"


Aku hanya bergeming saat Nanda menatap aku penuh arti,lalu aku memalingkan wajah ini.


"Maaf kalau saya lancang,tapi bolehkah kita berteman?" Kata Nanda tersenyum ramah.


"Boleh kalau berteman"


Jawab aku dengan datar.


"Makasih ya,panggil saja saya Nanda"


"Iya,kalau begitu aku masuk kedalam ya" Kata aku debgan expresi datar dan beranjak dsri duduk,Pria itu diam dan angguk kepala saja mungkin segan karena reaksi aku tanpa senyum dan cuek.


Aku terduduk dikamar sepi bisu ini,aku melihat tangan kanan yang penuh dengan sayatan,aku mengingat kapan aku menyayat lengan kanan ini,karena aku kidal jadi tangan kanan ini yang menjadi korban.


Ya beberapa bulan yang lalu saat aku baru masuk kerumah sakit ini,aku memecahkan gelas yang dibawa mama dari rumah,dengan mudahnya aku menyayat lengan ini berniat bunuh diri,beberapa suster berlari menuju ruangan aku,karena aku meronta-ronta terpaksa mereka mengikat kedua tangan aku diatas berankar,lalu menyuntikan obat penenang kepada aku.


Sat jam berlalu ayah datang,lamunan aku tentang bunuh diri buyar,aku bahagia saat ayah menjenguk aku,cuma kedua orang tua yang tau aku direhabilitasi ini,tetangga dan teman-teman tidak ada yang tau,keluargaku merahasiakan ini semua.


Kedua orang tua aku mungkin malu mangkannya mereka tidak memberi tau siapapun,apalagi aku pernah membuat aib dikampung tentang Wijaya dahulu kalau mendengar Hal ini yang tidak suka pasti tertawa.


"Bagai mana dek?udah mendingan putri kita?" Tanya Darman yang duduk disamping Indi.


"Alhamdulillah udah mendingan,sudah mau mandi,makan sendiri,bicara juga mulai nyambung,tertawa sama menangis tiba-tiba sudah jarang terdengar" Indi tersenyum lega didepan suaminya.


"Alhamdulilah Ya allah,semoga putri tunggal kita seperti dulu lagi" Darman menepuk pundak Indi yang lelah mengurus Yunita.


Darman Memberi semangat terus kepada Indi,mereka tidak mau putri tunggalnya jadi gila seterusnya,jadi upaya apapun mereka sanggupi.


-----------------------------------------------------------------


Tahun dua ribu dua genap aku lima bulan direhab disini,aku sudah ada kemajuan,sudah nyambung diajak bicara,biaya rehab aku ditanggung pihak perkebunan,karena aku anak karyawan perkebunan,mungkin jika orang biasa mama aku tidak sanggup membayar tempat ini.


Hari ini mama aku memanggil pskiater teman curhat aku namanya Jennita,sesekali mama memanggil Jennita dengan biaya pribadi,entah berapa biaya yang dihabiskan mama demi aku yang tidak tau diri ini.


Mama aku wanita super yang tegar,saat menghadapi aib-aib yang aku buat,aku sangat egois,mungkin ini karma akuyang tak mau mendengar nasehat Mama.


"Mama terima kasih jasamu,aku tidak bisa membalasnya,mama maafkan anakmu ini" aku membatin saat pskiater duduk didepan aku.


"Hari ini Yun tampak sehat,ceritakanlah dengan tenang nak,saya siap mendengarkan keluh kesah kamu hari ini" Jennita tersenyum saat duduk berhadapan dengan aku.


"Aku sedih Ibu Jen kenapa aku begini,kenapa mereka tega mninggalkan aku,calon bayi aku juga sudah tidak ada" Ucap aku berulang-ulang hanya kata itu setiap Jennita bertanya tentang keadaan aku.


"Nakk,hidup ini cuma sebentar,ayo semangat bangkitlah disana masih banyak orang-orang yang menunggu kamu dan sayang padamu nak,buang jauh masa lalu kamu,itu pelajaran hidup kamu, lihat saya sayang pada kamu ,lihatlah mama dan ayah kamu sayangi lah mereka hanya mereka saat ini yang perduli sama kamu,masa depan kamu masih panjang nak, berdoa sama keyakinan kamu" Kata Jennit sambil menepuk bahu aku.


Air mata ini tidak sengaja terjatuh karena terharu mendengar ucapan Ibu Jennita Pskiater aku,Aku mengusap air mata dipipi karena malu dilihat Ibu Jennita.


"Terima kasih bu,selama ini ibulah yang terus mensuport aku juga,agar aku bangkit,ibu mau mendengar keluhan aku dengan sabar" Aku menjadi tersenyum karena kali ini bicara aku sudah menyambung,karena dulu bila ditanya atau diajak ngobrol aku mejawab hal lain yang tanpa sadar aku ucapkan.


"Nah ibu sudah tenang,ibu bukan kerja saja nak untuk mendapatkan uang,sudah puluhan pasien yang ibu dengar keluh kesahnya,baiklah sekarang Yunita Istirahat dulu" Jennita dengan lembut memapah tubuh aku untuk berbaring diatas berankar.


Lega rasanya ada yang mau mendengar


keluhan aku selama ini,keluhan yang aku pendam terus karena aku butuh perhatian lebih.


------------------------------------------------------


Esok harinya dokter memeriksa aku,aku sudah banyak kemajuan dan diperbolehkan pulang,mama semangat mengkemasi barang- barang aku karena kami akan pulang kerumah.


Saat aku melewati sebuah ruangan karantina yang sering aku lihat selama ini,ternyata masih sama seorang pemuda deperesi karena narkoba selalu saja menjerit,sebenarnya dia tampan walau orang cina,tapi sayang dia jadi seperti itu.


Dengan senang hati aku dan mama pulang dengan naik kereta api menuju kota T,kota yang dimana terletak sebuah kenangan pahit yang aku alami dengan Pria banci seperti Prima.


Mini Bus melintas kearah kampung aku,aku melihat stadion yang pernah dulu menyimpan berjuta kenangan dengan sahabat dan kekasih aku,sudah lama aku tidak menginjak stadion itu.Rasa Rindu menghiasi hati ini tapi sayang waktu tidak dapat diputar kembali.


Tiba dirumah aku langsung masuk kedalam kamar,aku heran melihat kamar pribadi aku ternyata sudah beda letak-letak terakhir aku meninggalkan kamar ini,mama mendekorasi kamar aku,surat-surat dari mantan dan Poto Almarhum Raja sudah tidak ada lagi.


Mungkin mama sudah membuang atau menyimpan kenangan tentang pacar aku,atau

__ADS_1


mungkin mama membuang kenangan aku


dikamar ini supaya aku tidak memikirkan masa lalu lagi,masa lalu penuh penderitaan hati.


"Makan Yun mama udah siap kan !"


Ucap mama saat berdiri didepan pintu.


"Ya mak"


Jawab aku yang duduk diatas kasur,aku masih penasaran kemana mama menyimoan poto almarhum,ingin sekali aku bertanya tetapi itu tidak aku lakukan karena aku sudah lelah memikirkan percintaan yang menyiksa batin ini.


Aku berjalan kedapur dan duduk dimeja makan,dengan lahap aku makan sendirian mama tau makanan kesukaan aku yaitu gulai daun singkong,ikan asin,tempe goreng serta sambal belacan.


"Tok tok tok "


Tiba-tiba pimtu depan rumah diketuk orang,mama berjalan menuju depan untuk membuka pintu utama rumah.


"Bolek...,Yunita udah pulang dari rumah sakit?" Kata Wati yabg mendengar kabar aku pulang kerumah.


"Oh sudah,alhamdulilah sakit kepalanya sudah sehat" Ucap Mama mempersilah kan Wati masuk kedalam.


Mendengar suara wati,makan aku langsung berhenti dan aku berlari kedepan memeluk Wati.


"Wah udah lama enggak ketemu, kau makin putih ya Yun,Pasti dikurung aja dirumah sakit aku dengar kau pulang mangkanya aku kemari,maaf aku enggak bisa jenguk Yun jauh dikota M" Kata Wati melepas pelukan.


"Aku senang kau datang,aku rindu kalian, mana Ndar?" tanya aku melihat Wati dengan haru.


"Entar lagi nyusul Yun"


Kata Wati sambil duduk santai disofa.


Kini kami melepaskan rindu duduk berdua dibalkon teras.Mengobrol dengan lepas walau rasa ini sedikit canggung tapi aku berusaha menutupinya, karena aku sadar hati aku ini sudah waras.Terlihat Indar berjalan mendekati kami.


"Hai Yun,aih kangennya aku lho,hei cepat sembuh kita nongkrong lagi, kampret makin putih kau ya " Indar memeluk diriku dengan senantiasa.


"Hahahah Ndar aku kangen"


Tukas aku sambil membalas pelukan Indar.


Saking asyiknya ngobrol Putri dan lisa sudah ada didepan kami,mereka juga datang untuk menjenguk aku.Hati ini jadi nyaman dan tenang melihat semua sahabat lama aku.


"Ahk Yun udah sehatnya?, maaf Yun kami semua enggak bisa jenguk kamu, karena mama kamu melarang kami jenguk,lagian jauh" Kata Putri sambil mengambil duduk disebelah Lisa.


"Ahk tidak apa Lis,aku sudah sehat nih buktinya bisa gabung kalian lagi" Jawab aku dengan tersenyum manis.


"Eh Yun kau dicari Darma"


Putri cengngesan saja,saat aku kerut dahi.


"Lagi malas dekat laki-laki"


Sambung aku dengan nada datar.


Rumah heboh menceritakan pacar mereka masing-masing,aku mendengarkan saja cerita mereka kadang tertawa kadang tersenyum.


Mereka semua tidak tau kalau aku pernah hamil dan mreka tidak curiga aku opname sakit apa,aku enggan menceritakan masalah aku ini,biarlah orang tua dan aku yang tau masalah terakhir ini.


"Eh Yun,semalam Merry kirim surat lho sama aku,dia titip salam sama kamu" Ujar Indar yabg duduk bersama Wati.


"Wah gimana ?,gimana Merry sehatnya dia?" Sambung aku yang merindukan Merry juga.


"Sehat ,dia udah bahagia disana, dia udah dapat cowok baru ahai" Girang Indar tersenyum lebar.


"Oh iyanya baguslah kalau gitu,aku titip salam balik kalau kamu balas surat Merry ya Ndar" Sahut aku yang duduk disebelah kiri Lisa.


Mendengar kata cowok aku agak gemetar,Rasa takut ini sedikit ada,walau sebenarnya aku sudah sembuh,tapi aku coba kuatkan rasa takut inu supaya teman-teman tidak curiga.


"Minggu depan kita jalan-jalan ya" Ajak Lisa ide itu terlintas dipikiran Lisa.


"Iya makan-makan kita,eh hamdani kiirim salam lho katanya cepat sembuh" Indar tampak berseri-seri menyebut nama kekasihnya.


"Wah titip salam ya makasih bilang Ndar,eh dimakan cemilan mama aku ini enak lho,Wati kok diem aja kau nyet?" Kata aku dengan tersenyum kecil.


"Ahk ahah aku senang kita kumpul gini,iya aku makan goreng ini kan enak mumpung gratis" Tukas Watu tersenyum licik.


"Tolor senang kali kau sama yang gratis-gratis" Indar sambil toyong kepala Wati


"Hahahahahaha"


Putro dan Lisa tertawa renyah karena Indar nyeplos bicara.


"Udah bisa sekolah kau Yun?"


Tanya Wati yabg mengalihkan pembicaraan.


"Seeer"


Mendengar kata sekolah aku bergetar,


mungkin trauma aku dengan prima masih ada,tapi tidak aku tampakan didepan teman-teman,aku berusaha untuk santai.


"Hem aku rasa enggak lagi"


Jawab aku sambil memilin ujung baju aku.


Indar sepertimya tau membaca situasi aku yang tampak cemas,Indar langsung mentoyong kepala Wati.


"Tolor...,dia baru pulang dari rumah sakit, belum bisalah konsen belajar,kan kepalanya terbentur aspal masih belum boleh banyak berfikir" Kata Indar yang merepek kepada Wati.


"I-iya Wati"


Jawab aku sedikit gugup.


Aku terlihat kikuk dihadapan Wati,syukur ada Indar yang bisa membaca situasi


"Eh aku pulang ya, soal ada urusan dirumah Hehehe" Kata Putri beranjak dari duduknya.


Putri dan Lisa pamit pulang karena hari juga makin sore,kini tinggal bertiga kami duduk dibalkon teras.


"Eh aku enggak bisa lama juga,cepat sembuh ya Yun,besok aku kesini lagi" Kata Wati yang melihat arlojinya menunjukan pukul enam sore.


"Hati-hati Wat"


Kata aku sambil tersenyum kecil.


Tinggalha aku berdua bersama Indar, kami melanjutkan ngobrol lagi,sampai azan mahgrib berkumandang dengan merdu didalam mesjid.

__ADS_1


__ADS_2