Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 7


__ADS_3

Tibalah hari senin dimana aku akan


dipulangkan keasrama,jujur aku enggak betah


aku ingin bebas bersama teman- temanku Viva,bisa bertemu Riandi setiap minggu.


Karena jarak sekolah aku jauh dari kampung empat jam dari kota aku.


Aku berpisah dengan Riandi Dikota T,karena arah rumah Riandi dipinggir kota T,Riandi juga mengantarkan aku kedalam Bus yang menuju kota M. Sewaktu aku mau naik Bus sedangkan Mama duluan naik,aku pamit dengan Riandi.


Riandi :Adek belajar yang giat ya sayang abang percaya adek tidak nakal.


Aku : Aku enggak mau lagi kesana bang,aku enggak mau lagi di asrama itu.


Aku mulai menangis dihadapan Riandi,tak kuasa airmata ini kutahan sedari tadi.


Riandi : Ehh jangan bilang begitu,kasian orang tua membayar uang sekolah adek,pasti abang kirim surat buat adek,percayalah.


Mata Riandi berkaca-kaca saat mengantar aku kedalam Bus,sekali lagi kami berpisah mungkin ini yang paling lama dan aku tidak tau kapan aku bisa balik lagi kekampung.


karena aku sudah sebulan izin sakit di sekolah.Mungkin bulan ramadhan baru libur disekolah.


Selamat tinggal kekasihku,pakistanku,kalau kita berjodoh pasti kita bertemu lagi.Setialah Riandi aku juga begitu,Riandi melambaikan tangan pada saat Bus melaju secara perlahan, melihat lambaian tangan itu dan mata sendu Riandi aku tak berdaya, ingin aku keluar dari Bus dan memeluk dia tetapi apa daya itu hanya khayalan aku saja. Riandi berlalu dari pandangan aku karena Bus sudah melaju dengan kencang.


Empat jam berlalu akhirnya kami sampai dikota M,aku dan mama turun dari Bus dan naik angkutan umum,huh sebel kesini lagi kesini lagi,malah mama minta cepat pulang lagi setelah antar aku.


"Hati-hati ya ma" kataku sambil melihat mama naik Bus kembali.


"Jangan nakal ya,belajar yang baik" Balas Mama sambil tersenyum,lalu Bus yang dinaiki mama melaju dengan kencang.


Sewaktu aku menuju kekamar asrama, aku disambut teman-teman dan kakak kelas lainnya.


" Yun sudah sembuh dek?,ukhti senang sekali lah melihat Yunita sudah sembuh dan pulang kemari " Ucap ukhti Melsa yang sudah duduk dilantai kamar asrama.


" Iya Yun kami rindu sekali lah sama kau " ujar Nordiannah teman sekelas aku.


Nordiannah satu angkatan sama aku,sebenarnya dia sudah kelas tiga SMP, tetapi karena ketrbelakangan mental dia tinggal kelas terus,walau begitu dia masih semangat untuk bersekolah disini.


Mata Nordiannah sedikit cacad bawaan lahir,


kelopak mata atas menyatu seperti orang tertidur,tetapi dia masih bisa melihat dengan cara mendongakkan wajahnya keatas.


"Terima kasih Ukhti- Ukhti,termaksud Ukhti angkat aku Melsa,Ummi juga berikan Yunita semangat dan mendoakan Yunita cepat sembuh" ucapku kepada mereka.


Aku juga bercerita kepada Melsa dan Nordiannah,Junia, juga Rina mereka semua taman aku yang selalu mensuport aku,


bercerita dimana saat aku dioperasi lalu sembuh.Tetapi tentang Riandi tidak aku ceritakan.


Teman aku yang diasrama tidak seperti Viva atau yang lainnya dikampung,mereka sangat tabu bila berbicara tentang cowok.Karena sekolah kami khusus Putri saja,didalam kelas juga perempuan semua,syukur enggak ada yang lesbian ahaha.maklum Pesantren khusus Putri


--------------


*Seminggu Kemudian*


"Mak aku enggak mau lah tinggal diasrama lagi pindah sajalah mak kekampung sekolahnya" ucapku pada saat Mama menelfon dari kantor.


" Kenapa yun ?" Nada suara Mama terkejut aku dengar didalam telfon rumah ini.


"Makanan sembarangan dikasih orang dapur, Yun mau kos sajalah mak,biar bisa ketringan" Sahut aku lagi, aku berkata begitu lihat kanan kiri dulu takut ada yang dengar, mereka kira aku tukang ngadu lagi, padahal memang iya Hehehehe.


"Iya nya ?, ya sudah nanti mama tanya sepupu mama si Wadinah bisa enggak tinggal ditempat dia" Sahut mama dengan nada tegas.


"Ok mak " aku menutup telfon mama aku tanpa mengucapkan salam.


Lega sudah menelfon mama dari telfon rumah diasrama,Lalu aku kembali kekamar, mengerjakan tugas-tugas asrama dan disekolah,walau aku mengerjakannya dengan setengah hati tetapi aku harus tau diri biaya disini bukan murah membayarnya.


-----------


Beberapa minggu kemudian Mama datang jenguk aku, mungkin juga rencana aku pindah dari asrama ini sudah mama atur, Mama berjalan menuju kamar aku.


" Horeee mama datang " ucap aku dengan kegirangan langsung bangkit dari kasur.


Semua teman-teman diasrama sibuk kalau ada orang tua salah satu santriwati datang,mereka juga ikut nimbrung ngumpul didalam kamar.


" Ayo Yun kita kerumah Ibu Wadinah sepupu mama" Kata Mama sembari kumpulkan pakaian aku.


"Artinya jadi Yunita pindah mak?" Kataku dengan girang.


"Ya " jawab Mama lalu sibuk mengumpulkan barang kepunyaanku.


Teman-teman asrama sedih aku pindah apalagi Nordiannah dan Ukhti Melsa, tetapi mereka masih bisa ketemu sama aku disekolah jadi mereka tidak terlalu sedih.Kami juga izin sama Ummi penjaga Asrama. Setelah itu kami pergi meninggalkan asrama menuju rumah Wadinah.


Ibu Wadinah itu sepupu mama dari nenek . mamanya Ibu Wadinah adik kandung nenek aku dari mama,nah dia menikah dengan orang kaya,suaminya dosen disalah satu universitas negeri di kota M,sedangkan mertua Ibu Wadinah adalah kepala sekolah diPsantren kami,Ibu Wadinah sendiri guru bahasa disekolah kami tetapi dia sambil berkuliah juga.


Tidak begitu lama kami akhirnya sampai dirumah Ibu Wadinah. Aku dan Mama dipersilahkan duduk diruang tamu rumah mewah itu.


" Ibu apa kabar?" tanyaku pada Ibu Wadinah.


" Yunita sudah sembuh nak ?, maaf ya ibu enggak sempat jenguk ke kota T,karena sibuk urusi OM kamu dan kerjaan ibu " ucap Wadinah dengan lembut.


Tutur Ibu Wadinah lemah lembut gemulai dia adalah wanita tangguh dengan hijab nya,etika dan kepribadiannya bisa diacungin jempol,wajahnya sangat cantik dia juga ulas kasih.

__ADS_1


" Udah Bu, Alhamdulilah" sahutku sambil menyeruput teh yang disuguhkan dimeja tamu


Mertua IBu Wadinah keluar dari kamar,dia adalah kepala sekolah kami dipsantern dia juga paling killer disekolah,kami menjulukinya Nenek lampir disekolah.


"Yunita mau tinggal disini ? tapi harus disiplin ya,kemana -mana harus menggunakan hijab" Kata Mak Lampir yang sudah duduk gabung dikursi ruang tamu. Mak Lampir berceramah


enggak disekolah enggak disini sama saja,aku memanggil nya dengan sebutan "Nenek" kalau berada dirumah karena mertua sepupu Mama aku,tapi nanti disekolah harus panggil ibu kepala sekolah.


-------------


 


*Esok hari nya*


 


Aku akhirnya lepas dari kurungan asrama masuk kekurungan singa,sama saja disini juga enggak bebas,mau keluar izin dulu dengan alibi yang jelas,batas keluar rumah hanya dikasih sepuluh menit,buat aku enggak betah juga.


IBu Wadinah memberi kabar padaku kalau Nordiannah akan tinggal disini, karena Nordianah belum juga tamat Al'Quran jadi dia harus digembleng sama Mak Lampir.Sore harinya Nordiannah datang aku jadi ada teman sekamar.


-----------


Hari demi hari aku lalui seminggu tinggal di sini seperti neraka semua harus disiplin bangun harus jam empat subuh,sama saja seperti diasrama.Cuci baju sendiri aih-aih , tapi kelebihannya disini makan memang terjaga.


Sampai pada suatu ketika,aku izin keluar sebentar untuk membeli perlengkapan mandi kewarung dekat rumah.


" Bu beli sabun cuci sebatang,sama shampo ya bu" ucap aku kepada ibu yang punya warung.


Ibu yang punya warung membungkus belanjaanku dan menghitung jumlah uangnya.


"ini saja yang dibeli nak?" ucap penjual yang melontarkan senyum ramah padaku.


" ia bu " jawabku dan membalas senyum ibu tersebut.


 Sewaktu aku beranjak dari warung aku melihat seorang pria ganteng melintas masuk kedalam rumah yang punya warung tersebut.Sepertinya seumuran dengan aku, dia menatap aku seakan ingin memakan aku,


sepertinya dia anak yang punya warung.


Sesampai digerbang rumah langkahku terhenti karena mendengar suara anak kecil memanggil aku dari kejahuan.


" kak, kak tunggu !!" Anak kecil itu berlarian dan mengambil nafas saat sudah berada didepan aku.


" apa dek ?" kataku sambil menutup pagar rumah,aku takut kalau orang didalam rumah tau aku berbicara sama orang asing.


" Abang aku mengirimkan ini !" Jawab anak kecil tersebut sembari memberikan aku secarik kertas.


" Oh .. makasih iya dek " jawab aku sambil tersenyum kepada anak tersebut.


Lalu anak itu pamit pergi, sedangkan aku masuk kedalam rumah dan berniat membaca kertas yang aku dapat tadi .


Samlekom gadis cantik


nama aku Denny, kita boleh kenalan?


jangan tolak aku.


Isi kertas yang aku dapat tadi ternyata dari cowok yang aku lihat diwarung tadi.


Ih dasar cowok gila belum kenal saja sudah bilang jangan tolak aku,Eh aku sudah punya pacar lebih dewasa, ganteng lagi. Gumam aku didalam hati.


*Esok harinya*


 


" Kak tunggu kak , kata abang aku balasan suratnya mana ?" anak kecil semalam menghampiri aku lagi.


" Eh bilang ya sama abang kamu, nama kakak Yunita,kakak kelas dua SMP,sudah dek kakak buru-buru mau pergi kesekolah " jawabku sambil berjalan menuju pasar. Cepat-cepat aku menaiki angkot menuju sekolahku.


------------


Sore harinya adik kecil itu datang lagi menghadangku saat pulang sekolah,sewaktu aku belum masuk gerbang rumah Ibu Wadinah.Membuat aku merasa risih.


Nordiannah : kenapa sih anak kecil ini heboh kali yun?


Nordiannah disampingku pada saat didepan gerbang rumah.


Aku : Entah udah gila itu abangnya,oh iya namamu siapa dek?.


"Andi kak,ini ada surat lagi dari abang aku kak" Andi memberikan lagi secarik kertas bersampul biru.


Aku : makasih ya dek.


Nordiannah : Cie cie cie,patutan tadi malam serius kali baca buku,enggak taunya dapat surat cinta ya ahaaha.


Aku : Psstt ,kakak jangan kasih tau orang dirumah ya termasuk Ibu wadinah dan Mak Lampir itu.


Nordiannah : iya aku bisa jaga rahasia kau, tapi jangan lupa kasih aku contekan pelajaran IPA untuk PR besok.


"Huuh...sial" gumamku kesal.


Andi sementara sudah pamit dari hadapan kami, lalu aku dan Nordianah masuk kedalam rumah menuju kamar kami, cepat-cepat aku baca surat Denny karena aku penasaran.

__ADS_1


"Oh nama kamu Yunita,nanti malam bisa ketemuan soalnya nanti malam minggu,enggak pakai nolak " itu isi surat Denny.


"Kampret laki laki ini mau ajak aku kencan,belum pendekatan,baru kenal,enak saja bilang enggak pakai nolak" Gumamku sambil meremas surat Denny.


" Cie cie apa isi surat nya?" kepo Nordiannah dan berbaring dikasur bersamaku.


"Ahk... biasa saja cuma pengen kenalan" Jawabku simple sambil tanganku menaruh surat tersebut kedalam tas sekolah.


Sengaja aku menutupi isi surat Denny,aku takut Nor akan mengadu sama Mak Lampir bisa berabeh.


------------


 


*Tibalah saat malam datang*


 


" Pstt Yun Yun aku disini depan gerbang pagar " panggilan kecil dari Denny .


Aduh cowok ini betulan datang matilah aku,


aku tulis sebuah surat dan aku lempar kearah luar rumah dari cendela kamar.


 


isi surat ku :


 


"maaf ya Den aku enggak di kasih keluar sama orang di rumah ini,enggak boleh katanya anak gadis keluar malam , apalagi sama cowok,tapi aku punya ide jam dua belas malam orang dirumah sini sudah pada molor, nah kita ketemuan disamping tapi sebentar saja ya"


Denny berjalan pergi meninggalkan gerbang depan rumah,setelah membaca isi surat aku.


Teng teng jam dua belas malam tiba udah seperti cinderella,bedanya Cinderella waktunya pulang sedangkan aku waktunya keluar rumah. Aku keluar dari kamar secara perlahan-lahan lewat dari pintu belakang.


Benar dugaan aku jam segini semua sudah pada tidur dan gang depan rumah sunyi senyap ditambah cahaya bulan remang-remang.


Saat aku buka gerbang rumah, Denny sudah menunggu dengan gaya jongkoknya dibalik pintu gerbang rumah,lalu setelah itu kami ber jalan-jalan digang sambil cerita berbisik bisik.Karena takut kepergok orang.


Sesampai disamping tembok Ruko yang sudah tidak berpenghuni lama,sebab disana cahaya juga remang- remang dan sepi.


Denny : kamu sudah punya pacar Yun?


Aku : Aku panggil kamu apa ya ?,Denny atau abang?.


Denny : aku kelas tiga lebih tua setahun dari kamu , ya terserah mau panggil aku apa.


Aku : Denny aja ya.


Kami bercerita sambil berdiri,Denny menatap aku dan menembak aku langsung,aku diem saja belum jawab perasaan dia,perlahan Denny belai rambut Aku,takut sih tapi aku beranikan diri.


Denny : kayaknya udah satu jam kita disini tapi tidak ada jawaban kamu, aku diterima apa enggak jadi pacar kamu?


Aku: Besok malam saja aku jawab, aku enggak mau sekarang beri jawaban sama kamu,lagian aku takut orang dirumah bangun dan periksa kekamar aku.


Denny : Baiklah aku tunggu jawaban kamu besok malam kita jumpa disini ya jam dua belas malam.


Aku :Ok Denny.


Denny mengantar aku pulang,lalu aku masuk dengan mengendap-endap seperti maling,


syukur deh enggak ada yang melihat aku.Aku masuk kedalam kamar langsung pura- pura tarik selimut dan tidur.


------------------------


*Malam senin*


Hujan mengguyur kota malam ini, aku kira Denny tidak akan menuntut janjiku, ternyata aku salah, pada jam dua belas malam aku melihat bayangan Denny menunggu didepan.Buru-buru aku keluar dari pintu belakang.


Aku : Gila kali kau ya , ini lagi grimis,gimana kalau kamu sakit besok hari senin kita sekolah.


Denny : Aku menunggumu disini demi untuk satu jawaban yang kau janjikan semalam,mau apa tidak cuma itu saja.


Kami pergi lagi berjalan menuju ruko semalam,aduh aku ingin pulang tapi mau menghargai Denny yang sudah berkorban demi jawaban aku untuk jadi pacar Denny, dia rela juga basah-basah aku jadi enggak tega.


Denny : ayolah jawab sayang, aku sudah gila karena kamu.


Denny dengan mata berkaca-kaca


"aku ......aku ...hem" Kataku jadi gugup dan gelisah, apalagi ini masih gerimis.


Denny memeluk aku erat dia tau aku kedinginan,melihat usaha dia begini aku jadi tambah enggak tega. Gimana ini?.


Denny : kau permainkan aku? ,kenapa enggak jawab ?,kalau diam artinya mau.


Semenit aku diem terus,aku bingung mau jawab apa,aku ingin menolak tapi kasihan lihat Denny basah-basah begini,tiba-tiba Denny mencium aku dengan lembut aku diem saja karena kedinginan.


Denny mencumbui aku dengan penuh gairah,sehingga dia mulai sampai batasnya,jujur aku menikmati setiap inci sentuhan Denny, tetapi Denny malah meminta lebih,lalu dengan keras aku menolaknya.


" Maaf Denny aku enggak bisa,aku masih perawan " ucap aku sambil menangis.

__ADS_1


Aku tinggalkan Denny yang nafsunya sudah diujung tanduk,aku berlari menuju rumah lewat pintu belakang,lalu aku masuk kedalam kamar.


Mengingat kejadian tadi aku jadi merasa jijik pada Denny walau aku menikmati itu tapi itu bukan mau aku, aku menyesal kenal dengan Denny. Dia sangat beda dengan Riandi, aku menghujat diriku sendiri karena merasa telah berkhianat pada Riandi.


__ADS_2