
Akhirnya ajaran tahun baru sekolah telah masuk,libur panjangku telah usai,aku bersekolah dikota T itu hal yang aku inginkan memang sejak tamat dari SMP,sebut saja sekolah Dipa.
Karena ayah aku karyawan dikebun ini aku mendapatkan fasilitas Bus untuk berangkat kekot T,Ya..itu memang spesial Bus sekolah antar jemput untuk anak karyawan.
Aku masuk kedalam Bus,semua muda-mudi campur aduk duduk didalam Bus dari sekolah yang berbeda-beda.Aku sepertinya akan membuka lembaran baru saat SMA ini,selamata tinggal masa lalu.
Bus melintas disekolah Dipa,aku melangkah turun dibarengi murid yang juga sekolah sama dengan aku tapi berbeda kelas,sampai dipintu gerbang wali kelas sudah menunggu murid-murid baru dan menyuruh murid baru berbaris,termaksud aku.
Setelah bari berbaris usai aku masuk kedalam kelas baru,didalam kelas aku berkenalan dengan teman baru,teman sekelas bernama Fitri,Nova,Risda dan Evi tentu masih banyak lagi yang berkenalan dengna aku,tidak mungkin aku sebut satu persatu,Intinya teman baru semua,
Tidak berapa lama aku dikejutkan kedatangan murid baru yang aku kenal,sosok yang aku benci selama SMP.Dia duduk sambil melirik aku yang sudah cemas melihat dia.
"Aduh kok bisa pula siresek ini satu sekolah lagi sama aku,Fandi sijahil gawat nih bisa tau teman baru aku soal kasus tempo dulu" Batin aku cemas saat melirik Fandi yang pura-pura tidak kenal.
Aku mengawasi Fandi terus-menerus tapi tidak ada kejanggaln yang membuat aku kesal,Fandi sedikit berubah didalam kelas baru ini,dia jadi pendiam tidak seperti dulu lagak jadi jagoan didalam kelas,mungkin karena ini dikota jadi Fandi tidak berkutik.
Aku dan Fandi pura-pura tidak saling kenal,aku malas menegur dia karena dari dulu dia yang selalu menghina aku didalam kelas.
Jam istirahat tiba,semua murid berhamburan keluar kelas mungkin karena merasa lapar,aku dan teman baru ini menyusun buku kedalam laci meja.
"Yun ayo kekantin,aku lapar"
Ucap Risda yang sudah siap menyusun buku sejarah miliknya.
"Boleh,sabar ya"
Aku tergesa-gesa merapikan buku dan kotak pensil kepunyaan aku.
Kini Aku,Risda dan Fitri sudah berjalan kaki menuju kantin sekolah,Kami ngobrol pribadi karena saling mengenal dengan lebih dekat.
Risda badan beby sugar,kulit putih mulut tebal,mata cipit,rambutnya pirang sedikit karena dicat dengan ukuran sebahu syukur dia pandai berhias.
Sedangkan Fitri rambut panjang sepinggang, lurus seperti baru smoothing,hidung mancung,berkulit cokelat tapi terawat Ftri terlihat pandai berhias,style nya juga Ok,berbeda dengan aku yang penuh tindik dikuping dan bergaya apa adanya.
Sekolah swasta ini besar dan lengkap ada SMP, SMA,SMEA dan STM,Posisi kantin ditengah pinggir antara sekolah STM dan SMEA jadi terlihat ramai Muda-mudi berlalu lalang dihalaman sekolah ini.
Aku dan teman baru ini cuci mata saat melihat anak STM berdiri berkumpul ramai didepan kami,mereka bersih dan rapi serta tampan-tampan.
"Banyak betul yang ganteng"
Risda salah tingkah saat melihat geng cowok yang ada didepannya.
"Mantap cuci mata"
Sambung Fitri menunjukan pesonanya saat dilirik pemuda yang ada didepan kami.
"Eva kemana ya,kok enggak ikut?"
Ucap aku dengan tersenyum,aku biasa saja melihat cowok yang bermuka tampan,karena udah sering dapat yang tampan kagak tau nya pergi.
"Entar lagi nyusul,dia didalam perpus ada tugas" Kata Risda dengan tersenyum
"Ooo gitu"
Mulit aku berbentuk angka O saat mendengar perkataan Risda.
Kami melanjutkan lagi perjalana menuju kekantin,tiga langkah lagi kami sudah sampai didal kantin ternyata semua anak STM juga gabung didalam kantin,ramai sekali seperti didalam pasar tradisional.
"Mau makan apa kalian?"
Tanya Risda yang mengambil tempat duduk dipinggir kanan.
"Woi gabung sini"
Evi melambai ternyata lebih dahulu sampai kekantin.
"Oh kau disini"
Kata Fitri saat kami semua mendekat ditempat duduk tengah,Evi duduk bersama teman-teman lain.
"Aku lontong sayur enggak pakai telur"
Pada saat pelayan kantin datang menawarkan jualannya.
"Aku nasi goreng ya bu"
Ucap Risda saat ibu pelayan mencatat apa yang kami minta.
Kami bercerita sembari makan menikmati jajanan ini,setelah selesai puas kami ngobrol dan makan,aku dan semua teman berniat masuk kedalam kelas lagi.Pada saat melwati pintu kantin aku melihat satu orang cowok yang membuat aku tidak berhenti meliriknya.
Putih bening mata besar,hidung mancung alla pakistan,bibir merah bak delima ,badan tinggi semampai dengan seragam STM yang iya kenakan sekarang,Pria bermuka timur tengah itu melewati aku dia tidak melirik sama sekali aku jadi kecil hati ternyata dia cuek.
"Eh aku kenal cowok yang baru lewat itu"
Ucap Risda saat jalan menuju kelas.
"Kenal dari mana?"
Kata Evi heran dan penasaran.
"Waktu Aku SMP swasta dia juga disana , namanya primanda,mamanya jual lemang dikota, muka mamanya cantik benar kayak orang arab gitu hidung mancung pokoknya keluarga mereka cantik-cantik" Kata Risda dengna wajah serius.
Aku melirik Fitri seperti kagum melihat pemuda yang bernama Primanda itu,aku jadi tarik diri lagian aku sudah berjanji tidak mau pacaran dulu sejak putus dengan Raju.
Sampai didepan pintu kelas Evi dipanggil yayasan untuk kekantor,aku tau dari Risda kalau Evi itu keponakan yayasan sekolah ini jadi kami sedikit segan.Evi tidak begitu tinggi hampir sama dengan Risda baby sugar juga , mulut kecil,kulit putih dan dia ramah sekali.
Aku pertama masuk memilih kursi ditepi pintu jadi bisa melihat luar kelas,saat guru menerangkan pelajaran sosok pemuda lewat yang baru aku kagumi sedari tadi.
"Serr "
Pemuda yang bernama Primanda itu melewati kelas kami,aku sedikit salah tingkah sih walau semua orang dikelas ini tidak memperhatikan aku.
"Dok dok dok"
Aku terkejut sekali pada saat papan tulis diketuk wali kelas,aku jadi canggung dan kebingungan,kini mata aku berpusat dan berfokus kepapan tulis,Bapak guru melihat kearah aku dengan tatapn killer.
"Yunita kemana mata kamu,apa tidak kamu perhatikan saya menerangkan didepan?,percuma kamu duduk dibangku depan"
Ujar Bapak Guru dengan nada tegas.
"Hemmm iy-iya pak"
Aku gugup sekali saat ini,apalagi semua murid melihat kearah aku,kini aku jadi pusat perhatian membuat aku semakin canggung.
Bapak guru tidak marah saja dia bahkan menyuruh aku berdiri didepan papan tulis, itu membuat aku malu dan takut didepan semua teman kelas.
"Kalian lihat kuping kawan kalian ini,antingnya berjejer" Pak Guru melihat telinga aku dengan rinci sekali.
Aku diam saja tertunduk malu,muka ini sudah menjadi tembok apalagi semua murid berbisik-bisik,ada juga tersenyum menutup mulut.
"Yunita lepaskan anting kamu semua,cukup satu ditelinga,jangan berjejer banyak gitu"
Bapak guru bernada tegas dan menatap killer aku.
" Iy-Iya pak"
Jawab aku sembari lengan ini membuka satu persatu anting yang ada ditelinga aku.
"Nah gitu bagus"
Pak guru melihat aku memakai sepasang anting saja.
"Iy-iya pak"
Aku maduh gugup bercampur malu,mau emosi aku tidak kuasa karena dia guru aku dan guru wali kelas kami.
Saat dimadrasah sulu aku mengenakan hijab jadi anting ini tidak tersorot,sampai SMA aku kena tegur membuat malu dasar hari yang sial bagiku.
"Tet...tet...tet"
Bel tanda pelajaran akhir tiba,semua murid sibuk menyusun buku kedalam tas masing-masing termaksud aku saati ini,semua murid berhamburan keliar kelas karena bahagia akhirnya pelajaran telah usai.
Sewaktu keluar dari gerbang aku melihat pemuda yang bernama Primanda lagi,kali ini aku melihat dia dari jarak dekat aki terkagum melijat hidung bak timur tengah ditambah binir sensual nan merah delima,tapi hasrat ini aku tepis jauh-jauh aku tidak ingin terlena dengan cinta lagi.
Aku tergesa-gesa jalan melewati pemuda yang aku kagumi,walau dia tidak melirik aku sama sekali memandang saja aku sudah puas,Bus melewati sekolah kami,cepat-cepat aku naik kedalam karena tidak mau melirik pemuda yang bernama Primanda itu.
-------------------------------------------------------------
*Esok Harinya*
Hari kedua bersekolah saat jam istirahat usai aku hendak masuk kedalam kelas tapi gagal karena pemuda Itu terus saja melintas didepan aku,apa ini jodoh atau memang ketepatan saja.
"Yun serius amat lihat Prima?,dulu sewaktu SMP dia kumbangnya lho,banyak murid perempuan ngejar-ngejar" Kata Risda yang berdiri didepan aku.
"Artinya dia palyboy dong"
Kata aku dengan kecewa dan kernyit dahi.
"Ow dia suaranya mahal banget,orangnya cool banyak cewek lain yang iya tolak,biar gitu dia pemilih" Sambung Risda dengan wajah serius.
"Ow gitu?"
Kata aku sambil berfikir dan mematung didepan pintu kelas.
"Gimana jam istirahat kedua aku kenalkan kau sama dia" Usul Risda membuat aku salah tingkah.
"Tidak usah Risda,aku trauma sama cowok"
Tolak aku jadi khawatir.
__ADS_1
"Berteman aja tidak apa Yun,biar kau tidak penasaran,soal aku lihat kau kayak gimana gitu lijat Prima" Kata Risda meledek aku.
"Hem..kau sok tau"
Aku jadi salah tingkah saat Risda meledek aku.
Pada saat jam istirahat kedua Aku,Risda dan Fitri berjalan menuju kantin bawah,sewaktu melintas dari depan sekolah STM,aku melihat lagi dia ngobrol bersama temannya.Langkah aku terhenti semua aku lihat manis tapi kenapa dia yang terus aku lirik.
Sebenarnya aku tidak suka pacaran satu umur sama aku,tapi kenapa cowok yang satu ini buat aku tidak bisa tenang saat melihat dia.
Pemuda itu melihat kearah kami saat asyik bercerita,diam menatap tajam Aku dan Fitri serta Risda,aku jadi salah tingkah siapa yang ditatap Prima lama Diriku atau Fitri?.
"Risda sini"
Prima memanggil Risda dan tersenyum manis,Ow...tampan semakin lama dilihat manis,aku jadi kelepek-kelepek melihat satu senyumam yang dilontarkan Prima.
"Ayo kita dipanggil Prima"
Tutur Risda semangat sambil berjalan menuju Prima dan temannya.
"Ayo Yun"
Fitri menarik lengan aku,gadis ini sangat semangat buat aku tarik diri,aku tau Fitri pasti kagum juga dengan Prima,terlihat saat Fitri melirik Prima dari semalam.
"Aku kira kau lupa sama aku?,nih kenalo teman kelas aku" Kata Risda tersenyum manis.
"Ya ingatlah,kita satu SMP"
Kata Prima kepada Risda,lalu Prima menatap aku dan Fitri,sumpah jantung ini mau copot saat mata bulat besar itu melihat wajah aku.
"Kenalkan nama aku Primanda,panggil aja Prima"Tangan Putih itu mengulurkan kearah aku tepat didepan aku,aku jadi mematung dan melamun saat Prima mengulurkantangan.
"Aku Fitri"
Fitri menarik lengan Prima uang sudah siap menyalam aku lebih dulu,Prima terkejut sembari garuk kepala yang tidak merasa gatal.
"Yun"
Risda senggol bahu aku,lamunan ini jadi buyar buat aku malu dan canggung.
"Yun-yunita"
Aku merasakan tangan Prima lembut sekali terlihat dia belum pernah kerja keras,apalagi kulit dia lebih putih dari pada aku,rasanya aku minder dan malu.
"Jangan canggung gitu,aku enggak makan orang" Canda Prima saat melihat aku gugup dan malu.
"Iya Yun,kau aneh jadinya"
Sambung Risda lalu senggol lengan aku.
Dekat sekali jarak aku dengan Prima,matanya bening dan besar dihiasi bulu yang lentik,apalagi saat melihat bibir sensual nan merah milik Prima sumpah aku tidak kuasa melihat lagi.
"Oh jadi ini Yunita? salam kenal ya"
Prima melontarkan lagi senyum untuk kedua kalinya,kalau ingin pingsan aku sudah pingsan disini karena kagum sekali.
Prima mengajak gabung saat masuk kedalam kantin,Prima sekali-kali ajak ngobrol aku,aku tidak enak sama Fitri yang sudah berwajah masam,sepertinya Fitri tidak suka aku dekat-dekat dengan Prima.
Aku berjalan mundur sedikit supaya Prima tidak ajak aku ngobrol lagi,aku malah mendekati Fitri yang bermuka masam sekali.
"Fit...,kau suka sama prima?,kalau iya aku dekatkan mau?" Ucap aku nyeplos berbisik pada Fitri.
"Ngapai kamu dekatkan aku sama dia?,aku bisa sendiri kok" Fitri dengan ketus berjalan cepat melewati aku.
"Sok kali kau"
Gumam aku geram dan kesal,tapi aku tidak ambil hati aku anggap saja dia lagi cemburu karena aku tadi dekat Primanda.
Aku mengambil solusi sepertinya jiwa Fitri kurang bagus berteman,dia egois mau menang sendiri dikelas juga terlihat dia bicara kasar sama teman lain.
"Dimakan Yun,entar basi"
Canda Prima saat nelihat aku terdiam saja.
"Dih perduli banget Prima sama kamu"
Suara Samar Risda kekuping aku,bicara Risda didengar Fitri buat dia jadi berdecis kesal.
"Kau jangan ngomong gitu,lihat tuh Fitri suka sama Prima" Bisik aku sambil senggol kaki Risda saat duduk disebelahnya.
"Ow gitu"
Risda seperti malas saat melihat Fitri terus melirik Prima,Aku sudah tarik ulur menepis jauh-jauh perasaan lain kepada Prima,sekedar kagum tidak dosa biarlah seperti ini.
"Kai jangan mikirkan Fitri,belum tentu dia menjaga perasaanmu,dia itu kurang bagus gabung kekita" Kata Risda berbisik,sedangkan Fitri fokus meilirik Prim.
"Jangna bisik-bisik,makan lho"
"Iya prim"
Risda melanjutkan makan nasi goreng kesukaannya,sedangkan aku cangggug menatap lontong sayur kesukaanku.
Bel istirahat telah usai,kami bubar dari dalam kantin,terlihat Prima masuk kedalam kelas outomotif yang berjarak tidak jauh dari kantin.
Prima janji sepulang sekolah ajak kami jalan-jalan.
Sepulang sekolah Aku dan Risda berjalan kedepan gerbang,sedangkan Fitri ada dibelakang kami,terlihat Prima sudah menunggu diluar gerbang.
"Kalian aja yang jalan,aku ada janji sama mama" Kata Risda sambil menunggu angkutan umum.
"Hati-hati Ris"
Kata aku sambil melihat Risda melambai tangan didalam angkutan umum.
"Ayo kita jalan"
Prima berjalan lurus kedepan menunggu angkutan umum juga,Fitri tidak mau kalah barengan Prima sementara aku ada dibelakang mereka.
"Ayo kekota"
Kata Prima sambil tersenyum.
"Jalan jangan kayak bebek,cepetan dikit"
Fitri melirik aku yang ada dibelakang.
"Cihh"
Aku berdecis kesal dan emosi,Fitri tidak tau jalan aku bisa cepat,aku memang sengaja ada dibelakang mereka malas saja jadi rival Fitri,terlihat Fitri menyentuh lengan Prima sengaja atau tidak aku melihat itu sengaja.
"Lho kok dibelakang terus"
Prima menarik jemari aku supaya bersampingan dengannya,sedangkan Fitri disamping kanan Prima.
Fitri melihat jemari aku digenggam Prima walau sebentar,itu malah membuat Fitri cemburu dan lengan Fitri menggelayut dibaju Prima karena tidak ingin kalah dari aku.
Sampai dikota kami berhenti sekelak diwarung tukang cendol,Prima mengambil tempat duduk dipojokan.
"Makan apa kalian?"
Prima menawarkan sembari duduk ditengah-tengah kami.
"Aku minum saja"
jawab aku dengan tersenyum.
"Prima mau makan apa?,kalau mau aku juga pesan yang sama seperti yang kamu pesan" kata Fitri sembari melirik aku.
"Ya sudah"
Kata Prima dengan tersenyum.
Sambil menunggu pesanan datang Prima ajak ngobrol,aku sibuk memainkan mainan kunci pengait tas ransel aku.
"Yun tinggal dimana?"
Kata Prima sambil menatap aku.
"Diperkebunan,desa P namanya"
Jawab aku dengan malu-malu.
"Wah aku enggak pernah tau"
Kata Prima sembari berfikir letak kampung aku.
"Hehehe dekat kok dari sini,entar ada waktu kamu bisa main kekampung aku" Kata aku sambil mengambil jus yang dihidangkan diatas meja.
"Ow..kamu tinggal dikampung?"
Fitri mencibir dan tersenyum kecil.
" maksudmu?"
Aku jadi naik darah dengan ucapan Fitri.
"Enggak apa cuma ngomong aja"
Fitri jadi ciut saat melihat aku memasang wajah killer.
__ADS_1
Sementara Prima menilai kami berdua,lalu Prima fokus makan bakso yang terletak didepan dia.
"Selesai ini kita kemana?"
Kata Prima membuat perseteruan aku dengan Fitri jadi buyar.
"Temani aku yuk kerumah,sekalian ganti baju" Fitri bicara dengan manja jauh berbeda saat dia bicara dengan aku dan teman sekelas lainnya.
"Boleh,selesai ini kita gerak"
Kata Prima tersenyum kepada Fitri,buat Fitri salah tingkah,sementara aku terdiam saja.
"Cepat prim,biar kerumah aku"
Kata Fitri dengan akrab.
Aku diam saja Fitri dekat-dekat dengan Prima aku tidak urus, terserah Fitri mau jadi pacar Prima aku tidak iri hati dan marah.
Selesai kami makan kami beranjak dari duduk untuk berjalan menuju jalanan besar,aku sengaja jalan pelan dibelakang mereka berdua.
"Yun lama banget kamu jalan,supaya cepat kita kerumah aku" Ucap Fitri melirik aku dari belakang.
"Mau jalan lama atau cepat sama saja lho,yang pastinya kita naik angkot" Kata Aku dengan sedikit kesal.
"Sudah ahk..ayo naik"
Prima masuk kedalam angkutan umum tersebut dibarengi Fitri yang centil duduk disebelah Prima,sedangkan aku mengambil duduk sedikit berjarak dari mereka.
"Duduk disamping aku Yun"
Prima menarik lengan kiri aku,aku tak kuasa untuk menolak kemauan Prima,seketika wajah Fitri jadi masam dan buang muka.
Sampai dirumah Fitri kami masuk kedalam ruang tamu rumah Fitri,rumah Fitri sepi hanya saudarnya yang lagi duduk dibelakang dapur.
Fitri pamit untuk masuk kedalam kamar,setelah keluar kamar aku dan Prima melihat gadis itu memakai baju kaos ketat,celana jeans dengan rambut digerai menawan,memang dia manis aku akui itu.
"Prima diminum tehnya"
Fitri berkata dengan manja,sedangkan aku tidak ditawarkan aku cuek saja dan mengambil secangkir teh yang disediakan saudara Fitri.
"Siap ini kita kemana lagi?"
Kata Prima sembari meletakkan secangkir teh diatas meja.
"Gimana kalau kalian kerumah sakit tempat aku menunggu Bus sekolah" Usul aku karena melihat jam dinding sudah pukul empat sore.
"Boleh"
Prima langsung setuju, tapi Fitri sedikit keberatan dengan usulan aku,karena Prima setuju Fitri jadi ngikut saja.
Kami berjalan menunggu angkutan umum,sepertinya Fitri enggan ikut sehingga berjalan lamban.Sedangkan aku dengan semangat berjalan ditepi jalan aspal.
"Cepat jalan kamu Fit"
Kata aku seperti balas dendam.Prima tersenyum saja melihat kami berdua.
"Sabar"
Jawab Fitri mendengus kesal sambil melangkah lebih cepat.
Setelah itu kami masuk kedalam angkot,kami tidak bicara sedikitpun suasana jadi dingin,Prima bicara seperlunya saja aku tau itu Prima anak pendiam karena sebelumnya Risda sudah memberi tahu.
Sampai didepan rumah sakit angkutan umum itu berhenti,lalu kami keliar dari mini Bus tersebut,Kami semua berjalan masuk kedalam rumah sakit,terlihat bus sekolah perkebunan menunggu murid untuk pulang kedesa aku.
"Nagapai kemari sih kitakan enggak jenguk orang sakit?" Fitri kesal dan malas berjalan.
"Tadikan sudah aku bilang Bus sekolah aku menunggu ditempat ini" Kata aku melirik Fitri yang cemberut.
"Ya sudah Fit,kita disini saja"
Kata Prima yang lagi berjalan ditengah-tengah kami.
"Huh"
Fitri mendecis kesal dan geleng kepala,akhirnya Fitri menyerah kami bertiga jalan kerumah sakit,sambil jalan-jalan karena bus berangkat jam lima sore lewat dikit.
Aku melintas ditempat kenangan bersama Riandi,sekarang hati ini biasa saja melihat tempat kenangan itu,aku anggap itu masa lalu uang kelam.
"Duduk sini,aku capek"
Fitri mengambil tempat duduk didepan ruangan pasien.
"Sini Yun"
Prima duduk disebelah Fitri, sedangkan aku masih berdiri.
Aku tidak enak bertiga terus dengan mereka,sementara aku tau Fitri ada rasa dengan Prima,aku tarik lengan Fitri,Prima mendongak melijat tingkah aneh kami.
"Tunggu ya Prim aku kebelet"
Kata aku sembari membawa Fitri jauh dari Prima.Ditempat sepi aku membawa Fitri,gadis ini diam saja dan menurut.
"Kau suka ya sama Prima?"
Aku berterus terang karena sudah tidak tahan dengan situasi dingin bersama Fitri.
"Ahk Enggak"
Jawab gadis itu sambil melipat tangan dan bicara tanpa melihat mata aku.
"Enggak usah ditutupi Fit,terlihat jelas dari cara kamu mekihat Prima" Kata aku dengan nyeplos.
"Kalau kau tau kenapa tanya lagi,kau juga sukakan?" Tanya Fitri dengan ketus
"Jujur suka,tapi aku hanya kagum saja,terserah kamu mau jadian sama dia tidak apa,aku tidak marah" Kata aku sambil tersenyum.
"Kalau kami jadian entar kamu nyesal"
Fitri lirih bicara sambil melirik aku dengan sinis.
"Terserah kamu deh,kalau gitu aku ketoilet bentar" kata aku langsung meninggalkan Fitri.
"Cih.."
Fitri menatap sinis kepergian aku,lalu gadis itu berjalan mendekati Prima yang mulai jenuh menunggu kami.
Aku berjalan menjauh dari mereka berdua,didepan ruangan mereka duduk aku bersembunyi dibalik tembok sembari memperhatikan mereka berdua.
"Tidak apa mereka jadian,toh aku masih bisa berteman dengan Prima" Gumam aku sambil melihat dua sejoli itu duduk semakin dekat.
Wajah Fitri berubah saat bicara dengan Prima,aku tidak tau apa yang mereka obrolkan,aku melihat lagi Fitri beranjak dari duduk dengan wajah sedih dan marah.
Fitri pergi meninggalkan Prima,sedangkan Prima masih duduk sambil garuk kepala dengan bingung dan heran melihat Fitri yang marah dan pergi begitu saja.
"Kenapa kau ditolak ya?"
Tanya aku dengan nyeplos saat aku kejar Fitri yang sudah sampai digang depan rumah sakit.
"Sok tau kau,aku enggak suka sama dia,ambil aja kalau kau mau,aku mau pulang saja" Jawab Fitri dengan ketus dan kesal.
"Ditanya malah nyolot"
Kata aku dengan sinis saat melihat Fitri berjalan pergi keluar area rumah sakit.
Aku membalikan badan ternyata Prima sudah ada dibelakang aku,sedikit terkejut sih tetapi saat melihat wajahnya aku jadi gugup dan buang muka.
"Ken-kenapa Prim?"
Tanya aku dengan gugup tidak sanggup ditatap Prima.
"Ayo"
Hanya kata itu yang diucapkan Prima sembari menarik jemari aku dan membawa aku kebelakang rumah sakit ditempat yang sepi.
"Kenapa Prim,kau bawa aku kemari?"
Tanya aku dengan heran,aku bersandar punggung ditembok ruangan rumah sakit yang tidak ditempati lagi.
"Tidak apa"
Kata Prima sambil menatap aku penuh arti,jantung ini mau copot ditatap Prima terus jujur aku tidak kuasa dan tersenyum malu.
"Fitri suka sama kamu,kenapa dia pulang apa kalian bertengkar?" Kata Aku ingun tau kejadian tadi.
"Aku tidak suka dia,aku suka sama orang lain"
kata Prima yang lagi berdiri didepan aku.
"Kamu ditembak dia?"
Aku jadi semakin penasaran.
"Awalnya kami berbicara,aku enggak suka aja dia berbicara seperti sombong,dia bukan type aku" Ujar Prima yang masih menatap aku seperti ingin memakan aku.
"Jadi type kamu kayak apa?"
Aku jadi malu saat bicara aku tidak berdaya menatap terus mata yang dipenuhi bulu lentik tersebut.
Prima diam saja dengan tiba-tiba merapatkan tubuhnya ketubuh aku,sehingga aku terpojok ditembok ini,jantung ini tidak bisa tenang malah berdetak semakin kencang apalagi kerlingan mata Prima tepat didepan mata aku,jarak satu inci kami bisa saja berciuman.
__ADS_1
Kedua tangan Prima menyokong dinding,tubuh aku berada ditengahnya dengan malu sekali,Prima tidak perduli dengan wajah aku yang merona sekali,malah jemari kanan Prima membelai rambut aku.
bersambung*