
Nama aku Yunita Ananta dari kecil aku sudah bertingkah selayaknya pria ,teman aku semua lelaki bukan perempuan selayaknya anak perempuan bermain dengan sesama jenis,apa lagi saat latihan karate hanya aku yang perempuan,aku anak yang jutek,ketus dan nakal,aku juga sering dibuli dengan anak lelaki lainnya.
"Woi jangan ikut kami !,kenapa sih ikut kami terus ,kamu cewek lho kenapa enggak ikut anak cewek lain saja " ucap Chiko saat main- main disekolah bersaa yang lainnya.
"Jadi kalian enggak suka aku main sama kalian?, ya sudah aku bisa main sama anak cowok lain" Tukas aku ketus dan bertolak pinggang didepan Chiko.
"Biarin saja sitomboi ini ikut kita,lagian dia jago silat ,pasti kalau Banu menantang kita nanti pulang sekolah,Yunita masih bisa kita andalin" Bisik Jefry dikuping Chiko.
"Ok,Yunita kau boleh kawan sama kami " ujar Chiko tersenyum licik.
"Baguslah kalau kalian mau berkawan sama aku" Sambung aku tersenyum puas.
Sepulang sekolah aku dan Chiko serta Jefry pulang bersama,tetapi murid sekolah lain yang bernama Banu mennghalangi jalan menunju rumah kami,Banu anak badung dari sekolah lain yang selalu usil dan mencari masalah.
"Hei anak Darman kenapa kau ikut-ikut musuh aku disini,mau melawan aku juga ya?!" Tukas Banu menatap lekat aku dan marah.
"Suka-sukalah,jangan kau sebut nama ayah aku pantang tau,kalian mau apa ?!" Tanya aku karen melihat Banu mengajak beberapa teman seraya ingin kerokyokan kepada kami.
"Kami mau mukul Chiko,awas kamu ikut campur !" ujar Banu sambil menunjuk muka aku.
"Yun aku takut sama Banu,Yun bantu aku " bisik Chiko dan lengan Chiko menggelayut dibaju aku.
"Tenang Chik,aku akan hajar Banu"
Bisik aku kepada Chiko sembari melirik Banu yang sudah siap ajak berkelahi.
Banu mendekati Chiko dan ingin melontarkan tinju kewajah Chiko tapi sayang kepalan tangan Banu dengan lincah aku tangkis.
"Hiyaat "
Kaki kanan aku hendak menyepak dada Banu tapi sayang karena pakai rok,Banu melihat dan membuat aku jadi kikuk dan malu.
"Ya warna merah Hahahaha, merah-merah merah-merah wekkkk ,cewek kok mau sepak aku" ujar Banu sambil menjulurkan lidah.
"Biarin merah, tukang ngintip awas kau ya !" Sambung aku dengan wajah memerah dan malu.
__ADS_1
"Chiko hari ini kau aku ampuni,kau enggak malu dibelain cewek,lihat saja kau ya nanti!"
Ancam Banu dan pergi dengan sejumlah temannya yang lain.
"Makasih ya Yun kamu bantu aku,Banu sering memalak uang aku Yun,aku emggak kasih ya dia malah mukul aku" ujar Chiko dengan wajah sedih.
"Ok Chik,lain waktu panggil saja aku kalau dia ganggu kamu lagi" Sahut aku dengan nada sigap dan mantap.
Malam harinya aku pakai baju selayar panjang selutut ,badan aku mulai besar tapi kenapa mama masih saja memakaikan aku baju selayar padahal bertolak belakang sama sikap aku yang mulai remaja dan mama tidak mau aku bergaya sebagai anak laki-laki terus karena pakai celana terkadang pakai topi yang biasa aku pakai sehari-hari.
Malam ini aku hendak menonton keyboard dikampung sebelah,aku berjalan sendiri menuju hiburan tersebut,dibelakang rumah kosong aku melihat teman sebaya aku dan satu kelas dengan aku.
"Woi Yun,kamu pakai jeans dong,sama baju kaos seperti aku ini" ucap Wati dengan nada sindiran.
"Biarin,Aku bukan kalian yang sudah dapat bulan,kata mama aku ini masih anak kecil,sedangkan kamu Wati masih anak kecil sudah punya pacar" ucap aku lagi merasa tidak senang.
"Hahaha,entahlah kenapa aku cepat dapat bulan,ok Yun aku kencan dulu" Kata Wati sambil tertawa dihadapan aku.
"Apa itu kencan?,entah apa saja yang dibilang Wati" gumam aku sembari nyinyir sendirian melihat Wati berjalan dengan seorang pria.
"Kita kemana bang?"
Tanya Wati yang berhenti berjalan.
"Sini saja, ayo sini duduk dek"
Tukas pria tersebut yang sudah duduk dibangku kosong belakang rumah tetangga.
"Mereka lagi ngapai ya?,pakai pelukan segala,hemm..lihat saja kali ini kena kau Wati" Gumam aku yang berjongkong dibalik tembok sembari intai Wati dan pacaranya.
Saat Wati ingin berciuman dengan pria itu,tangan kanan aku melempar pasir dari belakang Wati dan pria itu.
"craasss "
Pasri berserakan dirambut Wati dan Pria tersebut,mereka berdua terkejut dan berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Aduh rambut aku bang" ujar Wati menundukkan kepala membersihkan rambut Wati.
"Ada yang melempar kita dek,sebentar abang lihat dulu siapa yang usil ini" ucap pria tersebut dan melihat sekeliling area saat ini.
Ketika pria tersebut berjalan menuju arahku,aku langsung berlari meninggalkan tempat tersebut,aku sedikit tidak punya nyali karena kali ini aku yang usil dan membuat masalah.
"Woi,woi siapa itu yang lari !?"
Teriak pacar Wati saat melihat seseorang berlari sedikit jauh.Padahal itu sebenarnya aku yang terlihat pria dewasa tersebut.
"Rasain,masih kecil sudah ganjen pacar-pacaran" ngedumel aku sendiri sembari berjalan pulang menuju rumah.
-----------------------------------------------------------------------
Tujuh belas agustus perlombaan sekolah antar SD .
Guru : kemana murid cewek yang lain kenapa Yunita saja yang mau mendaftar ? .
Chiko : yang lain kurang mau pak lari maraton seratus Meter,lompat jauh,lari estafet,cuma Yunita yang mau pak.
"Gimana mau ikut,orang Wati dan gengnya takut panas,katamya mereka enggak mau ikut takut kulitnya gosong hedewww" Batin aku sembari memutarkan mata karena kesal.
Aku memenangkan lari marathon,lompat jauh semua juara satu,banyak hadiah uang,buku- buku belajar yang aku raih sendiri,beberapa piala juga aku dapatkan.
Saat SD aku berprestasi tapi dibidang olahraga dengan pangkas batok aku dan kulit aku jadi menghitam akibat latihan karate dijemur siang hari terus.
Mama mengajari aku dengan ketat,tetapi kenapa aku saat dewasa sial dan membuat aib,itulah takdir yang aku buat sendiri,nasi sudah menjadi bubur sekarang hanya penyesalan dan secercah pengalaman pahit yang aku terima,tetapi tanpa mencoba dan pengalaman aku mungkin tidak dapat belajar menjadi dewasa yang mana teman menusuk dari belakang,pacar mata keranjang serta lelaki hidung belang.
Inilah kisah aku.
TAMAT
__ADS_1