
Hari ini aku dan Wati beserta Indar jalan kesungai bawah,kami dapat kenalan baru,Wati tukang meloroti cowok-cowok kalau lagi gabung,minta jajanan yang mahal atau apalah yang bisa membuat kenyang.kami berencana lari ketika sudah kenyang diteraktir dua cowok bermuka sedang.
"Yun kau jalan duluan,terus Indar nyusul dari belakang " bisik Wati saat kami hendak kabur.
"Iya aku tau maksud kamu,kita tinggalkan cowok ini?, aku juga sudah muak banyak kali ceritanya " Sambung aku berbisik pada Wati.
"Koko kami pergi dulu ya aku kebelet " Kata Indar beranjak dari duduk.
"Boleh-Boleh" Ucap Koko yang lagi bercerita terus dengan aku.
"Yunita ayo temani aku, kebelet kali nih " Ajak Indar sambil meraih lengan aku.
Aku ngikut saja mau Indar,para cowok itu tidak tau kalau kami bersandiwara,padahal kami ingin kabur dari tempat itu.
Lima belas menit telah berlalu tapi aku dan Indar tidak muncul juga.
"Kemana teman kamu Wat,padahal belum puas cerita" kata Diki teman Koko.
"Mungkin sakit perut,tadikan kau dengar kalau mereka mau kekamar mandi" Jawab Indar yang sudah kesal tapi tak terlihat.
"Coba aku lihat mereka,sudah lama enggak muncul-muncul siapa tau ada masalah" Kata Wati pura-pura cemas.
Setelah Wati menaruh rokok kedalam saku, Wati juga berjalan meninggalkan KoKo dan Diki yang masih asyik duduk didalam Joglo.
"Cepat-cepat hidupkan motor kalian" Dari jauh Wati sudah memberi kode.
Kami dengan buru-buru meninggalkan tempat itu,supaya tidak terlihat Diki dan Koko. Kami berjalan sembari cekikikan.
"Sudahlah boneng percaya diri kali nembak aku" Ujar aku saat diatas motor.
"Haaahaha bukan kau saja sama aku juga bilang begitu" kata Indar tersenyum manis.
"Diki juga begitu Hahaha" Indar terbahak-bahak.
Kami akhirnya memutuskan pulang karena sudah sore,kedua sahabat aku mengantar sampai pulang kerumah.
Sampai didalam rumah aku melihat Mama masak didapur,lalu aku berdiri didepan meja makan.
"Besok kita pergi kesekolah kamu Yun,mama sudah datang tadi kerumah kepala sekolah kamu,katanya kau boleh sekolah " kata Mama sembari mengupas kentang.
"Waah benar mak,ya sudah mak aku siapi dulu susun buku belajar didalam kamar" Jawab aku dengan semangat empat lima.
Hari ini aku seperti dapat lotre,dapat makan gratis dsri cowok-cowok tadi,bisa sekolah lagi aku jadi bahagia.
--------------------------------------------------------------
*Esok Hari*
Jam enam pagi dengan penuh semangat
aku mandi dan siap siap berangkat untuk sekolah,mama mengantar aku menuju sekolah dengan berjalan kaki.
Tidak aku sangka cuma Indar dan Rafa yang perduli padaku,sedangkan teman yang lain tidak seperti dulu ramah dengan aku.
Setelah mengikuti beberapa pelajaran kini jam istirahat datang,semua murid berjalan keluar untuk membeli makanan.
"Ayo Yun kita kerumah bolek lontong,kamu sudah lama tidak kesana" ajak Indar saat didalam kelas.
Saat aku dan Indar jalan kewarung semua mata melirik aku dari mulai kakak kelas dan kaka aliyah (sma ) mereka berbisik- bisik,aku seperti artis dilihati terus.
"Ayo enggak usah perduli biarkan saja mereka bilang apa ,yang penting aku enggak begitu " Indar menarik jemari aku.
Sampai kami kerumah warung bolek lontong,
aku bertemu Merry yang tersenyum manis padaku dan aku duduk disebelah Indar.
"Ih ngapai anak ini gabung lagi disini,kalian enggak merasa woi bau limbah getah,Hahaha dulu bisalah ratu kelas sok paling cantik, sekarang kau jadi ratu limbah " Ucap Fandi sambil bertolak pinggang.
Pandangan Putra juga beda dengan aku sekarang,seperti tidak suka pada aku saat gabung dengan mereka.
"Buukkkk "
Rafa hampir saja memukul fandi yang usil dan menghina aku,hinaan Fandi membuat Ku hampir menangis.
"Mulut kau bicara pakai otak,jangan asal saja kurang ajar, syukur tembok rumah ini yang aku pukul bukan matamu itu " ucap Rafa berhadapan dengan Fandi.
"Sudah-sudah,kau fandi kalau enggak suka gabung kami,enggak usah lagi kau gabung !" kata Indar juga kesal.
" deg deg deg "
Aku terdiam saja duduk mematung sehina itu kah diriku sekarang?,nyaris butiran salju ini jatuh dipelupuk mata aku.
"Aku memang pantas dihina sama kamu Rafa,tapi asal kau tau saja,apa kau yang aku rugikan?,apa kau keluarga aku?!" Tanyaku dengan suara parau dan sedih.
"Pergi kau taik,dasar enggak punya hati" ucap Merry juga kesal.
"Sudah Yun jangan dengari,kau lagi Putra kalau enggak senang jangan gabung kami lagi,sikap kau juga berubah sama Yunita !" bentak Indar.
"Huh menjijikan " ucap Putra sambil berdidi dari duduk.
Putra dan Fandi pergi dari rumah tersebut,
aku tidak sangka Putra yang dulu suka dan naksir aku berubah total karena aib aku ini.
"Sudah Yun mereka udah pergi,kau tidak perlu memikirkan mereka, mereka itu hanya sampah disekolah ini" ucap Indar sambil merangkul aku dari samping.
__ADS_1
"Makasih ya teman-teman" Kata aku sambil tersenyum kecil.
Jam istirahat berakhir sudah kami semua hendak masuk kedalam kelas,sebelum wali kelas masuk aku melihat Fandi sedang jahil dengan murid yang cupu,saat aku melintas dari depan Fandi.
"Jangan dekat-dekat kau,bau ratu limbah " ucap Fandi sembari menutup hidung.
Semua murid didalam kelas tertawa dan terpingkal-pingkal seakan puas dengan ejekan dan nama baru aku yang dibuat Fandi,Indar,Puput dan Merry tidak tertawa,ibu guru mendengar ucapan Fandi ternyata sudah didepan pintu kelas.
"Keluar kau,keluar " ucap Wali kelas dengan kesal.
"Bu apa salah aku " ucap Fandi merasa heran.
"Keluar ibu bilang,biar kau tau salah kamu apa" ucap wali kelas sambil mendorong Fandi keluar kelas.
Semua murid yang tertawa tadi jadi diam sambil baca buku karena takut dengan Wali kelas,Fandi melangkah keluar kelas dengan rasa kesal dan emosi.
"Huh ngangkang dilimbah saja dibela- bela,puas kau Ratu Limbah nama kamu bukan Yunita tapi Ratu Limbah" Fandi langsung kabur.
"Fandi mulut kamu taik!!!" jerit Indar jadi kesal.
"Anak-anak saya bilang sama kalian semua, tidak boleh mencela teman sendiri,kalau ada yang mengejek teman sendiri lapor kepada ibu" Ucap Wali kelas.
"Baik Inu wali kelas "
Murid-murid menjawab serentak, betapa hancurnya hati aku dikelas ini walau sakit malu tentang hinaan Fandi aku trima saja,aku tidak boleh bersedih dan berkecil hati,karena tidak merugikan siapapun yang ada didalam kelas ini.
Pelajaran telah berakhir kami semua sudah bisa pulang kerumah masing-masing,aku pulang bersama Indar,sedangkan Merry sudah lebih dulu kerumah karena rumah Merry dekat dari sekolah kami.
"Jangan diambil hati ucapan Fandi, dia memang belum dewasa " ucap Indar karena melihat aku sedari tadi diam saja.
"Enggk apa Ndar,lama-lama nanti terbiasa" Balas aku dengan tersenyum kecil.
Aku berpisah dengan Indar dipersimpangan jalan,sesampai dirumah pintu rumah terbuka
aku melihat ada sendal seorang Pria didepan teras rumah.
Aku langsung masuk kedalam kamar,aku tidak perduli ada tamu dirumah ini, didalam kamar aku mendengar suara orang ngobrol berada didapur,suara itu seperti aku kenal,suara orang yang pernah aku sayang.
Cepat-cepat aku buka pintu kamar dan melihat kearah dapur.
"Bang Anto !!" Panggil aku dengan rasa haru.
Pada saat itu mama tidak dirumah,ayah masih kerja,adik aku yang ternyata ngobrol didapur dengan Anto. seraya aku ingin memeluk Anto sekali saja dan mengadu luka hati aku ini, tapi itu tidak aku lakukan.
"Apa kabar dek?, masih cantik aja ya?" ucap Anto tersenyum manis
"Alhamdulilah sehat bang,kapan sampai disini?" Kataku yang lagi duduk disamping Anto saat didapur.
"Baru saja dek,pulang sekolah ya?, ganti baju dulu sana" Anto pencet hidung aku dengan genit.
"Aku ganti baju dulu ya"
Setelah selesai mengganti pakaian aku mengajak Anto makam bersama didapur,maklum baru pulang sekolah aku sangat lapar sekali.Setelah selesai makan kami berjalan keruang tamu dan duduk disofa sambil bercerita ria.
"Abang kangen sama adek?,adik duluan yang abang ingat,mangkannya abang kerumah ini" ucap Anto sambil tersenyum manis.
"Anto tau enggak ya tragedi aku dikampung ini?, kalau dia tau pasti dia membahas nya sekarang,artinya dia belum dengar" Batin aku khawatir.
" aku Juga bang,ow iya abang inap disini?" Jawab aku sambil tersenyum kecil.
"Cuma satu malam dek,besok aku pulang" ucap Anti sambil mengacak rambut aku.
Asyik ngobrol dengan Anto tak terasa sudah sore hari, mama pulang kerumah tapi wajah nya masam saat melihat aku duduk dengan Anto,Mama memang tidak suka aku dekat dengan Anto.
Malam harinya Anti berniat ajak aku jalan-jalan,syukur Mama pergi dengan ayah kondangan dikampung sebelah, sambil berjalan kami cari tempat nyaman untuk duduk dan ngobrol,kami langsung duduk dibawah pohon karet,sebuah kursi terletak didepan jalan ini.
"Sudah lama ya dek kita enggak berdua begini" Ucap Anto yang duduk disamping aku.
"Iya bang" Jawab aku nyengir saja.
"Kok cuma iya saja?,aku mau bilang sesuatu sama kamu !" kata Anto dengan wajah serius.
" deg deg deg "
" jangan katakan kalau kau sudah tau soal kasus aku Anto,aku rela kalau kita tidak hubungan lagi,lagian rasa aku sudah mati untuk lelaki" Gumam aku sendiri.
"Kelihatannya mama kamu tidak suka kita hubungan,sekarang abang mau tanya Yunita
gimana soal kita ini?" Tanya Anto bermuka serius.
Ternyata Anto cuma mau bilang tentang hubungan kami,aku sempat salah paham kepada Anto.Artinya memang dia tidak tau kasus aku.
"Iya bang dia enggak suka,katanya saudara ya tetap saudara,aku jadi pusing bang" Ucap aku tertunduk dihadapan Anto.
Anto hendak mencium aku lalu aku menghindar seakan menolak dia secara halus,sayang nya rada didalam hati udah tidak ada untuk Anto,walau saat ini aku lihat dia sangat tampan dan semakin jantan.
"Adek kenapa enggak respon lagi,sudah enggak suka sama abang ?" ucap Anto heran karena aku menghindar saat dicium.
"Sariawan aku bang,sakit kalau dicium" Balas aku beralibi halus,supaya dia tidak sakit hati
"Ya sudah enggak apa sayang,aku ngerti kok " ucap Anto sedikit sedih.
Entah kenapa hati ini terasa beku,padahal dulu jika berdua dengan Anto terasa hangat dan nyaman,mungkin memang aku butuh sendiri dulu saat ini.
"Dek kok diem saja,eggak seperti dulu ?" ucap Anto lagi sembari membelai rambut aku.
__ADS_1
Dibelai Anto aku juga tidak terasa apa-apa malah membuat aku muak,tapi rasa muak ini aku tahan supaya Anto tidak ambil hati atas sikap dan penolakan halus aku.
"Eng-enggak apa bang mungkin aku lelah karena pelajaran diskolah tadi " Alasan aku pada Anto.
"Ya sudah dek mungkin adek sudah lelah,ayo kita pulang saja" ucap Anto sembari berdiri dari duduknya.
Aku dengan cepat tanpa sadar memeluk Anto mencari ketenangan disitu,bernaung kepala ini didada bidang Anto yang lebar sedikit saja mendapat ketenangan walau tak seperti dulu.
"Kamu kenapa sih?, aneh" kata Anto membalas pelukan dari aku.
"Biarkan bang kita begini dulu,aku tenang jika dipeluk " ucap aku saat kepala ini tenggelam didada bidang Anto.
Anto merasa aneh dengan sikap aku,lalu dia mengikuti saja kemauan aku,butiran keristal halus ini ingin terjatuh aku menahannya dengan sekuat hati didepan Anto.
"Abang soal hubungan kita biarkanlah mengalir saja,Kalau kita berjodoh pasti kita bisa bersatu" kata aku yang tak mau lepas memeluk Anto dengan erat.
"Iya dek abang ngerti,janji ya walaupun kita kelak enggak berjodoh,jangan pernah menjadi musuh,aku sayang Yunita" kata Anto menutup kedua matanya merasakan pelukan hangat dari aku.
Kami memutuskan untuk pulang saja, takut juga kalau mama keduluan pulang dan melihat kami jalan berdua. Sesampai dirumah Aku berdiri berdua didepan pintu bersama Anto.
"Dek bobok ya,abang juga mau tidur nih" kata Anto sambil mengecup mesra kening aku.
"Semoga impi indah" kata aku tersenyum manis.
Aku masuk kedalam kamar dan Anto kekamar sebelah tidur bersama adik aku,sebenarnya rumah ini kamar tidur ada empat,tetapi kamar yang terakhir terletak dibelakang jadi kamar iru dijadikan gudang saja.
---------------------------------------------------------------------
*Esok hari*
Pagi hari aku mandi dan berangkat sekolah,Anto juga ikut jalan bersamaku,sembari Anto menunggu Mini Bus karena hendak pulang.
Saat aku sampai disekolah Anto pamit pada aku.
"Dek kalau kita jodoh tunggu abang ya !!" triak Anto saat naik kedalam bus.
"Iya bang,hati-hati" Ucap ku dengan senyum tipis.
Akhirnya aku meneteskan air mata saat Anto sudah jauj dari pandangan aku, aku seperti kehilangan sosok abang yang sangat mencintai aku,kami berpisah baik-baik tanpa ada sengketa, mungkin karena itu aku menangis ini yang terbaik buat aku dan Anto,aku lebih baik fokus saja belajar,aku paksa rasa pada Anto tetap enggak bisa karena hati ini sudah jadi batu.
Sampai disekolah tetap saja Fandi bicara kasar padaku dan masih saja menghina aku, sedangkan Putra buang muka tak mau melihat wajah aku,aku belajar kuat dan cuel dari tingkah mereka.
Pada saat jam istirahat kami berkumpul diwarung lontong biasa,aku yang mulai stres ini mencoba menghisap sebatang rokok filter saat duduk dirumah yang punya warung.
"Merokok kau,stres kali kau aku lihat "
ucap Indar menawarkan sebungkus rokok yang Indar punya.
"Iya Ndar stres aku ,kayaknya aku susah jatuh cinta lagi,entah kenapa perasaan ini mati" ucap aku sambil mijat dahi dan menerima rokok dari Indar.
"Sabar Yun,mungkin sakit kamu melebihi cinta yang kau derita jadi seperti itu, coba perlahan-lahan kau buka hati kamu dengan yang baru,yang pas buat kamu" ucap Indar sambil menghidupkan mancis membakar rokok yang aku sulut dibibir.
"Suatu hari akan aku coba Ndar,mana tau aku bertemu sama orang yang menambal luka hati ini karena ulah Pria laknat itu" ucap aku sambil melepaskan asap rokok hisapan pertama.
"Oh iya woii nilai aku anjlok sekarang,apa karena banyak mikiri jantan kali ya Haahahah" ucap Merry saat duduk didepan aku dan Indar.
"Kampret lihat kayak aku walau aku berjantan nilai aku kau lihatlah,seimbangkan sama hubungan,sekolah ya sekolah tekun,jantan ya nomor dua Oon" sambung Indar dengan mencibir.
"iya betul itu,aku juga lagi fokus belajar,sebentar lagi kita ujian kenaikan kelas" Sambung aku juga.
"Woi kita buat les tambahan ayo, satu jam saja belajar bersama" Usul Merry jadi semangat.
"Boleh....tapi dimana kita belajarnya?" sambung Indar sambil makan.
"Dirumah aku saja,sambil cari perhatian mama aku biar senang dia,Mama enggak pernah bahagia aku buat" Ide cemerlang terlintas difikiran aku.
"Kan,kau mulai sedih- sedih nanti kelamaan kau kami juluki ratu drama diskolah ini Hhaaha" sambung Indar menggoda aku.
"Ya ya iya aku enggak sedih lagi " jawab aku sambil manyun.
Setelah pukul satu siang pelajaran berakhir dan kami pulang dari sekolah,mau pulang cepat karena sore hari kami belajar kelompok dirumah aku.
Setelah aku berjalan sampai kerumah ,aku jadi semangat merapikan buku-buku, karena Indar dan Merry datang mau bahas
mate- matika pelajaran yang aku benci.
"Yunita ..Yun " suara Indar memanggil dari depan rumah,ternyata dia cepat datang.
Aku buka pintu rumah mereka semua masuk kedalam rumah dan duduk disofa, kami belajar diruang tamu, sewaktu kami belajar mama akhirnya pulang dari jualan,mama terkejut melihat kami belajar kelompok.
"Nah gitu bolek seneng kalau kalian maen- maen kemari untuk belajar " girang mama saat melintas diruang tamu.
"Iya bolek " jawab Mery dan Indar .
Mama jadi membuatkan kami cemilan bahagia sekali bisa ngumpul begini serasa hangat dan akrab.
"Ini enggak gitu bodoh" ucap Indar pada Mery yang fokus melihat buku.
"Salah ini kali kali aku?,ahk ngulang lagi jadinya aku,taiklah capek- capek ngitung" ucap Merry sambil garu kepala nya yang tak gatal.
Mereka berdua selalu saja beda pendapat aku jadi gak konsen melihat keributan mereka.
"Sudahlah kayak mana mau serius kalian saja makan saja sedari tadi,bahas jantan kalian cepat,bahas itu saja sampai keluar urat kepala kalian" ucap aku sambil cengengsan.
"Ini-nih sudah aku catatkan yang benar,katanya salah " sambung Merry jadi manyun.
__ADS_1
"Huh sudah salah melawan lagi"
Indar keras kepala bedaa sama Merry,semoga saja seperti ini terus persahabatan kami hangat dan akrab tanpa sengketa sama sekali,saat ini cuma sahabat aku yang aku punya.