
Belum lagi masalah semalam saat aku dipukul Ayah,hari ini aku dipanggil kekantor Polisi, mereka mengintrogasi aku dan meminta keterangan kronologis cerita yang sebenarnya.
Luka lama,luka baru aku mulai nalar dan aku bisa gila dengan sejumlah pertanyaan Bapak Polisi ini kepadaku.
"Coba jelaskan luka lama ini kapan terjadi?, dan luka baru ini juga " ucap Polisi itu saat melihat hasil visum aku.
"Saya enggak mengerti maksud bapak ?" jawab aku serasa tidak paham,padahal aku mengerti sedikit.
"Maksud saya disurat visum ini tertulis luka lama, berarti kamu sebelum kejadian ini kamu sudah pernah melakukannya dan luka baru ini tentu saja malam kejadian kasus kamu, karena bukti celana dalam kamu masih ada sisa cairan pria,sudah jelas?" Ujar Polisi tersebut dengan penjelasannya.
" deg deg deg deg "
Aku mulai mengerti maksud visum ini semua,
artinya luka lama melalui jalan lahir aku dan luka baru, aku tidak mungkin bilang Wijaya yang mengambil kehormatan aku,itu sangat Memalukan kalau aku menjelaskannya,terus Riandi juga itu terjadi sekali saja,luka baru itu apakah Wijaya juga yang membuatnya saat aku pingsan?, ataukah orang lain?. gumam aku sendiri menjadi bingung.
"A- anu pak saya pusing,bisa enggak besok kita lanjutkan lagi" aku beralibi karena tidak sanggup lagi menceritakan aib aku.
"Ok,besok saya introgasi kamu lagi,dek disini kau harus jujur apa adanya,biar cepat kasus ini ditangani,kamu korban,jadi berikanlah keterangan yang jujur dan akurat" ucap polisi itu sembari beranjak dari duduk.
Setelah itu polisi mengantar aku pulang kerumah, pak polisi juga bilang sewaktu aku masih opname,kawan-kawan aku menjadi saksi dan dipanggil kekantor polisi,sebab mereka yang bilang Wijaya bawa aku malam itu.
"Aduh kawan-kawan aku kenapa mereka jadi saksi,ahk aku malu pasti mereka enggak mau lagi berteman dengan aku" Gumam aku sendiri.
------------------------------------------------------------
*Malam hari*
Aku hanya mengunci pintu didalam kamar karena trrus memikirkan semua ini, butiran keristal terus saja jatuh dipelupuk mataku yang mulai sembab dan bengkak,mungkin ini pelajaran untuk aku supaya kuat dan tidak bodoh lagi.
"Bika pintu, makan !!" ketus Mama saat berdiri diluar pintu kamar
"Iya"
Hanya itu yang aku jawab pada Mama, mama masih saja ketus dan marah pada aku,apalagi
Ayah aku juga tidak mau berbicara dengan aku selepas kejadian minyak lampu semalam,Ayah aku yang begitu cuek pada aku kini lebih dingin tak mau melihat wajahku lagi.
"Tok tok tok ,tok tok tok"
Pintu rumah kami diketuk orang dari luar, Ayah yang duduk sembari melmun cepat-cepat membuka pintu utama rumah.
"Selamat malam pak ,saya dari kantor polisi" Ucap laki-laki yang memakai jaket kulit beserta pistol dibelakang punggungnya.
"Oh bapak masuk-masuk pak silahkan " ucap Darman sambil berdiri didepan pintu.
"Kedatangan saya kesini mau memberi kabar kepada bapak,surat perintah penangkapan Wijaya sudah ditanda tangani atasan,besok malam kami akan mengintai Wijaya dan merazia rumahnya,soal saya dapat info Wijaya lari dari daerah ini pak" Ucap Polisi yang bermuka sangar.
Polisi ada tiga orang datang keruamh,rencana mereka empat orang besok merazia atau menggrebek kediaman Wijaya dikampung sebelah.
"Baiklah kalau infonya seperti yang bapak bilang, saya selaku orang tua hanya menunggu laki- laki itu diberi ganjaran yang setimpal pak" Ujar Darman dengan berwajah sedih.
"Kami akan berusaha semampu kami pak" Kata polisi sangar tersebut yang bernama Rahmat.
"Mari minum tehnya dulu pak " ujar Darman dengan senyum ramah.
Mereka mengobrol terus membahas untuk penangkapan Wijaya esok hari, setelah puas mengobrol polisi itu pamit pulang.
-----------------------------------------------
*Pagi harinya*
pagi sekitar jam sembilan polisi yang bernama Rahmat datang untuk menjemput aku,Setelah sampai dikantor polisi seperti semalam aku takut dan malu menceritakan keronologis kejadian malam itu.
"Sudah bisa jawab pertanyaan semalam?" Ucap Paka Rahmat yang duduk didepan aku sambil mengetik-ngetik.
"Hem iya pak,sebelum kasus ini saya sudah pernah melakukan pertama kali dengan Wi-wijaya dia yang mengambilnya,saya mau melakukan itu karena dijanjikan untuk dinikahi, karena mama tidak setuju kami pacaran" ucap aku yang mulai buka suara.
"Hemmm Ok saya sudah paham pelaku nya hanya dia,nanti malam penggerebekan kekasih kamu akan terlaksana,kenapalah kau buat begitu dik,sayangnya kau dek masih muda,cantik lagi" Ucap Rahmat dengan wajah serius.
Aku hanya diam tertunduk duduk dikantor ini,lalu pak Rahmat mengantarkan aku pulang
aku sudah lega karena tidak ada lagi pertanyaan aneh-aneh dan aku tidak menyangkut pautkan Riandi dengan luka lama yang aku alami,karena aku tidak mau Riandi yang baik jadi terserat juga dengan aku yang dibawah umur ini.
Sore hari masih seperti biasa aku mengurung diri didalam kamar,tetapi aku mendengar seperti suara teman aku yang mau menjenguk aku.Sepertinya suara Wati saat bicara pada Mama didapur.
"Yun,sehatnya?" Wati sudah nongol didepan pintu kamar aku.
"Wati"
__ADS_1
Aku berjalan cepat membuka pintu kamar,lalu memeluk Wati dan mencurahkan isi hati inu dengan menangis pilu.
"Sabar Yun tenang,kata mama kamu Wijaya akan ditangkap biar jelas siapa yang melakukan ini padamu " ucap Wati sambil melepas pelukan lalu membawa aku masuk kedalam kamar.
"Wat,hidup aku sudah hancur,masyarakat disini pasti memebenci aku,aku semalam jalan cowok-cowok yang suka padaku semua menatap hina, apalagi ibu-ibu disini, entahlah" Kataku dengan menghembus nafas panjang sambil mengusap airmata.
"Sabar Yun ambil hikmah dari kejadian ini
tegar ayo maju,semangat jangan berlarut- larut itu tidak akan menyelesaikan masalah kamu,mengerti !, Yun maaf aku tidak bisa lama disini " ucap Wati sambil tertunduk sedih saat duduk disamping kiri aku.
"Kenapa wat ??" Aku jadi heran tidak biasa nya Wati hanya sebentar jika main kerumah aku.
"Aku tadi mau kerumah kamu bawa teman- teman yang lain,tapi....." Wati tidak melanjutkan perkataan nya.
"Kenapa Wat?,katakan saja" Aku jadi bingung dan cemas.
"Tapi Indar dan teman lain,Viva juga,Merry apalagi semua dilarang sama orang tua mereka untuk menemui kamu, katanya takut seperti kau,mereka takut anak-anaknya berkawan sama kamu jadi ngikut- ngikut,maaf ya Yun aku juga sebenarnya dilarang bapak bertemu dengan kamu, tapi aku tetap ingin jumpa sama kamu" ujar Wati sambil menggigit bibir bawah takut aku jadi sakit hati.
"Tidak apa Wati mungkin sudah nasib aku, tapi aku terima kasih padamu, kamu masih perduli dengan aku" kata aku sambil memeluk Wati dan butiran keristal ini jatuh untuk kesekian kalinya.
"Ssst...kamu tetap sahabat aku apapun yang terjadi,jadi jangan berkecil hati,entar kalau ada waktu lagi aku akan jenguk kamu disini" kata Wati sambil mengelus rambut aku.
Wati akhirnya pulang, aku mengerti dengan Wati saat pulang begitu cepat,Wati juga mungkin takut kena marah dengan orang tua Wati.Tuhan tabahkanlah hatiku yang dilanda sengsara ini.
*Malam Hari*
Polisi datang lagi kerumah aku, pada jam satu malam mereka bergerak mengintai rumah Wijaya dikampung sebelah,aku takut sekali
katanya Wijaya melarikan diri dari kampung ini karena Wijaya sudah tau Ayah aku melapor kepolisi.
"Wijaya kenapa kau lari?, kenapa kau tidak menyerahkan diri saja kalau kau bukan pelakunya? Wijaya cepatlah kau ditangkap,
aku ingin bertanya siapa yang ambil kesempatan disaat aku pingsan" Batin aku saat didalam kamar.
Didalam kamar sepi ini aku terus berdoa supaya Wijaya ditemukan air mata ini sudah kering tak bisa lagi menetes karena mungkin aku sudah lelah menangis terus.Percuma aku menangis toh tidak selesai masalah ini kalau aku menjadi gadis yang rapuh.
Pagi hari sekitar jam delapan kami menunggu berita soal penangkapan Wijaya, terlihat Darman mondar mandir diruang tamu, sedangkan Indi duduk terdiam tanpa kata,aku yang ketakutan masih duduk didalam kamar sepi ini.
Tidak berapa lama polisi datang kerumah dan memberi kabar yang tidak membuat Darman puas.
"Gimana pak,apa lelaki tengik itu sudah ditangkap?" ujar Darman yang duduk didepan Pak Rahmat.
"Saya ingin Lelaki otu tertangkap secepat nya pak" Geram Darman dan mengepal tangan.
"Kami akan berusaha Pak, jangan khawatir" Ucap Rahmat lagi.
Polisi pamit dengan alasan kerja yang lain,Mereka akhirnya pergi dari rumah,setelah itu ada satu jam berlalu Ayah dan Mama juga pergi entah kemana,sementara aku sendirian dikamar sepi ini.
"Aku enggak boleh dikamar imi terus,aku harus semangat menjalani hidup,aku mau cari udara segar" Gumam aku sambil bangkit dari kasur.
Selesai mandi aku coba untuk keluar rumah terpaksa memasang muka tembok bila tetangga mencibir aku, aku sudah tidak perduli lagi gunjingan tetangga aku.
Saat aku melangkah dijalan ini banyak mata yang melihat dengan jijik,aku sih cuek sepertinya peran baru aku dimulai yaitu peran muka tembok.
Aku berjalan tanpa arah hanya mencari udara segar,aku juga tiadak tau harus jalan kemana lagi, mending aku ketempat rahasia aku saja
dipohon sawit itu sambil hirup udara segar.
Setelah aku sampai dikebun sawit aku duduk sembari melihat panorama alam yang luas,tempat ini sangat sejuk membuat hati tenang.
"Yunita,kenapa kau disini?" Suara pria dari belakang memanggil nama aku.
"Jo-joko" aku memalingkan wajah kebelakang, melihat Joko berdiri dengan tersenyum.
"Kamu kenapa menangis disitu, sudahlah Yun aku juga sudah dengar soal kasus kamu" Ucap Joko duduk disamping aku.
"Sedih jok, kamu jangan dekat aku entar ada yang lihat kita berdua disini jadi fitnah" Ucapku takut.
"Ahk taik kucing,mana perduli aku omongan orang,aku yang tau sifat kamu,walau kau labil tapi aku masih tau kayak apa kau Yun " ujar Joko sambil tersenyum.
"Jok selama kejadian itu kau mendengar apa saja ?" ujar aku sambil menatap pepohonan yang ada didepan mata.
Aku juga melihat Joko memandang kedepan menatapi persawahan yang terletak didepan kami.
"Ahk banyaklah yun,aku pusing mendengarkan itu semua,kampung atas juga dengar yun,bahkan disekolah kamu juga gempar" ujar Joko sambil garuk kepala padahal tidak gatal.
"Aku enggak tau jok,entah masih diterima lagi aku disekolah itu atau tidak,critakan Joko aku ingin dengar dan aku sudah siapa mendengar apapun cerita aibku" ucap aku yang sudah pasrah.
"Banyak yang bilang kau diperkosa lalu dibuang kedalam limbah,aku tidak percaya Yun aku itu teman aku,Wijaya juga teman aku, aku cuma mau bilang Yun seandainya Wijaya bertemu dengan kamu,dia menikahi kamu apa kamu mau Yun ?" ujar Joko dengan kernyit dahi.
__ADS_1
"Aku belum berfikir untuk kesitu saat ini Joko, hatiku masih sakit dipermainkan dia,aku juga kasihan sama keluarga aku yang menanggung malu atas perbuatanku" Ucapku muali menangis lagi.
" Yang kamu bilang benar Yun,Ok Yun aku gerak dulu ya,aku masih cari kayu bakar buat kandang lembu aku" ujar Joko berdiri dari duduk.
"Hati-hati ya Jok, makasih kau masih mau perduli dengan aku !" ucapku tersenyum.
"Ahk gak usahlah pala bilang gitu,Yun aku masih sahabat kamu kok,aku tau teman kamu sebagian menjahui kamu,tapi aku sama wati tidak" Ucap Joko sembari tersenyum.
Joko akhir nya pergi dari hadapan Yunita,Hari juga mulai gelap aku juga berjalan pulang kerumah,siperjalanan pulang tetangga gila menyindir aku.
"Ih masih hidupnya kau yun,masih sakit kok ngeluyur lagi nanti pingsan lagi ?" Ucap ibu Ros tetangga depan rumah.
Tangan teman Ros memberi kode seakan jijik dengan aku,aku jadi emosi.
"Urs saja anak uak,hati-hati dijaga,nanti sama seperti aku,ingat karma uak" Jawab ku sambil berjalan saja tanpa melihat wajah orang tua itu.
"Eh ditanya jawab nya gitu,melawan kau ya panteslah kau dibuang kelimbah" Ucap Ros menhadi kesal.
"Manusia enggak bermutu tau nya urusi anak orang,anak dia lebih parah tidur sama suami orang" ucapku merepek sendiri sambil berjalan.
Ya Allah sampai kapan derita ini habis,sampai kapan kasus ini lenyap,kembalikan orang orang yang perdulu dengan aku ya Allah,
sekarang aku tau mana kawan mana lawan
mana tetangga usil dan tidak usil.
Malam ini serasa sunyi sekali tidak ada kawan,keluarga juga pergi kerumah nenek, mau kerumah kawan tapi takut diusir orang tua mereka,karena tidak boleh berteman dengan aku yang hina ini.
Aku jadi membuka buku-buku sekolah aku.
" sreep " tanpa sengaja surat Riandi jatuh kelantai saat aku membuka buku sekolah.
Sakitnya aku melihat surat ini Riandi telah pergi karena kesalahan dan kegeoisan aku. Dengan gemetar aku baca lagi surat dari Riandi,aku ingat lagi wajah Riandi seketika butirna bening ini meleleh jatuh dikedua pipi aku.
Kenapa pria yang begitu lembut aku sakiti
aku berdoa smoga kau bahagia bang Riandi,
aku yakin kau baik pasti dapat gadis yang baik tapi bukan aku,aku tidak pantas bersanding dengan kamu sayang.
tengah malam aku gelisah dan teringat Ummi asrama berkata padaku aku dahulu.
"Sholat lah kamu nak,pasti kau akan mendapatkan ketenangan batin"
Hanya perkataan Ummi salma yang aku ingat,
dengan cepat aku ambil air wudhu lalu sholat isya,aku menagis tiada henti memohon ampun kepada yang kuasa agar memberikan aku jalan kedamaian,jalan ketentraman diri yang hancur ini.
Selesai sholat dilema hati aku berkurang, sudah lama aku meninggalkan ini semua,
aku baringjan tubuh ini diatas kasur dan mencoba memejamkan mata berharap hari esok lebih baik dari hari ini.
-------------------------------------
*Esok Hari*
disaat aku terbangun aku jadi bingung saat melihat mama menyusun perkakas rumah
seakan kami tidak tinggal disini lagi,mau bertanya dengan Mama aku takut sejak kejadian itu kami tak saling bicara dengan akrab.
"Dek ,,, dek ,, " pangil aku saat melihat Anton merapikan buku sekolah miliknya.
" apa kak " adik aku menjawab sambil tersenyum hangat.
"Kita mau pindah kemana dek? kenapa mama menyusun barang rumah kita?" ucap aku sambil bingung.
"Kata mama nenek pensiun jadi pindah ke kota,terus rumah dinas nenek yang dipondok depan pasar kosong, jadi kita pindah kesitu " Jawab Anton sambil melanjutkan susun buku.
"kapan pindahnya dek? " ucap aku seperti wartawan.
"kayaknya kak besok dan besoknya lagi" ucap adik aku dengan lugu.
"Oon kau, artinya lusa baru pindah " Kataku sambil tertawa.
".oh iya kak " Anton jadi garuk kepala dan cengengesan.
Memang rumah dinas ayah ini sudah tidak layak dilakai karena terbuat dari papan jadi mulai lapuk dan usang,rumah dinas depan berdinding tembok batu jadi lebih nyaman.
Sore berganti malam tidak bosan polisi terus datang kerumah untuk mengintai rumah Wijaya,sampai sekarang Wijaya belum juga ditangkap karena dia sepertinya tau kalau polisi akan datang kerumah Wijaya.
__ADS_1