Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 64


__ADS_3

Setelah diantar Alex semalam aku kini sudah didalam rumah aku,aku sudah mandi bersih dan siap-siap untuk pergi kekampung atas,karena hari ini sudah ada janji bersama Indar dan Wati untuk kerumah Puput.


"Tin tin tin "


Indar dan Wati sibuk klakson motornya didepan rumah aku,sementara aku sudah jenuh menunggu kedatangan mereka berdua.


"****** lama kalilah kalian datangnya,bedak adek sudah luntur abang" ucap aku dengan bergurau sembari memakai sendal hells.


"Sabarlah ces,inikan kami sudah jemput adek" Sahut Wati yang masih diatas motor.


"Ayo jalan,selendang kau mana? tapi sekalian kekuburan" Tanya Indar dengan heran.


"Ingatlah,adek sudah bawa selendang,nih didalam tas" jawab aku menunjukkan tas kecil yang aku bawa.


Tanpa kata-kata lagi aku kini sudah naik diatas motor kepunyaan Indar,lalu Wati membawa motor menuju rumah puput.Hati ini sedikit sedih bila ingat jalanan ini saat bersama Almarhum.


Walau jantung ini sedikit berdegup kencang,aku berusaha santai saat didepan rumah Puput,Aku melihat Puput lagi duduk santai dibalkon teras depan rumah Puput.


"Puput,oh adek rindu sama abang Puput" canda aku dan memeluk Puput.


"Abang juga rindu sama kamu dek" ucap Puput antara senang dan terkejut dengan kedatangan aku.


"Sudah macam lesbian saja kalian"


Kata Wati sambil parkirkan motor didepan rumah Puput.


"Mata Almarhum,asal lihat Puput pasti hati inu jadi sedih lagi" Batin aku saat bicara dengan Puput saling bertatap mata.


"Ayolah kita kekuburan?"


Ajak Wati yang tidak mau mengulur waktu lagi.


"Aku diluar saja ya,aku lagi dapet enggak bisa ziarah" ucap Indar sambil gigit bibir bawah.


"Ya tau"


Kata Wati sambil toyong kepala Indar,lalu Indar menepis lengan Wati mereka mulai lagi tetapi gurauan itu tidak berlangsung lama.


Kami semua pergi menuju kuburan Alamrhum Raja,sesampai disana aku melihat pusara kekasih yang pernah sangat aku cintai.


"Raja kau sudah tenang sayang,aku udah kotor dengan pekerjaan aku ini,sayang aku tetap mencintai kamu bang,akan aku ingat kamu sampai aku tua nanti" Ucap batin aku sambil elus papan nama yang tertancap dipusara ini.


"Baca doa lah woi,siapa yang pimpin?"


Tanya Wati,Suara Wati membuat lamunan aku buyar.


"Aku saja ya"


Tawar Puput saat duduk berhadapan dengan aku.


Sejumlah butiran kerist ini ternyata keluar juga dari persembunyian,sekian lama aku bendung tidak tahan juga ingin keluar dari mata ini,air mata ini jatuh ditanah kuburan Alamarhum Raja,Puput melihatku dengan sendu dan ikut menangis sembari membaca doa untuk kakaknya


Setelah baca doa selesai terlihat Puput menyeka air matanya,sedangkan Wati turut bersedih juga,tinggalah aku yang masih menangis pilu sambil mengelus puasara almarhum.


"Sayang mata cokelat aku,adek pulang ya abang,semoga aku bermimpi tentang kamu malam ini" ucap aku sambil peluk erat batu nama pusara milik Raja.


"Sudah jangan melow,ayo biar dia tenang disana Yunita" Kata Puput sambil memegang bahu aku.


Aku mengikuti kemauan Puput,lalu kami keluar dari pemakaman umum tersebut menuju Indar yang menunggu diatas motor.


"Lah kok pada mewek?" ucap Indar yang melihat wajah Wati sedih.


"Dua orang ini yang mancing,aku jadi sedih" balas Wati yang masih mewek.


"Sudah ayo kerumah Puput,kita ngobrol disana saja" ucap Indar tidak mau lama didepan pemakaman karena dia penakut.


Kami langsung saja kerumah puput sesampai dirumah aju melihat lagi Pria setengah baya yang lagi duduk santai.


"Aduh kenapalah sikawan ini mesti disini,


situa mesum buat pening aku" Batin aku saat turun dari atas motor.


"Dari mana kalian?"


Ucap bapak Puput dengan nada tegas.


"Habis jumpa sama abang pak"


Jawab Puput yang lagi berdiri didepan bapaknya.


"Oh gitu,suruh istirahat teman-teman kamu"


Ucap Bapak Puput dengan tersenyum ramah kepada Indar dan Wati termaksud aku juga.


"Iya pak"


Balas Puput tersenyum kepada bapaknya.


Syukur saja aku pakai pakaian tertutup sehingga mata liar pria tua ini tidak dapat melihat dada aku,kami semua lagi duduk diruang tamu sedangkan pria tua itu duduk juga disamping ruang tamu tanpa kata.


"Ayo woi diminum tehnya,nanti berjamur" ucap Puput saat duduk disebelah aku.


"Inikan diminum"


Jawab Wati yang icip secangkir teh manis tersebut.


"Bapak keluar dulu ya,kalau mama pulang tanya bapak,bilang saja bapak diwarung bawah" ucap Bapak puput berdiri dari duduk.


"Ok pak"


Kata Puput tersenyum manis dan melihat orang tuanya sudah berjalan keluar rumah.


Aku bernafas lega karena mata liar itu tidak ada lagi melirik tubuh ini,walau begitu dia tetap bapak Almarhum juga aku tetap hormat walau setengah hati kepadanya.


"Put kau masih sama Yudi ?"


Tanya aku dengan penasaran.


"Masih Yun ,tapi ini hari kami tidak ketemu"


Jawab Puput dengan senang.


"Ooh iyanya,langgeng ya,aku senang"


Ucap aku dengan angguk kepala dan naikkan alis.


Kami lanjut mengobrol lagi,dengan asyik tertawa lepas kami dikejutkan dengan kedatangan Mama Puput,aku langsung berdiri dan salam wanita yang telah melahirkan orang yang aku cintai.


"Wah da tamu rupanya,sudah lama kalian nak?" ucap mama Puput tersenyum ramah.


"Lumayanlah bu,kami habis ziarah tadi"


Jawab aku melontarkan senyum lebar.


"Oww,ya sudah,ibu masuk dulu ya mau istirahat" Ucap Mama Puput sambil elus rambut aku.


"Iya bu"


Jawab aku dan melihat wanita tua itu berjalan masuk kedalam kamar.


"Yun sudah lama kita enggak kesungai bawah lho" ucap Puput dengan kernyit dahi.


"Enggak ada lagi lho cowok yang mau kesitu" jawab aku dengan nada ragu.


"Iya Hamdani enggak sama Ndar lagi,iya kan Ndar ?" ucap Puput melirik Ndar.


"Huh Hamdani lagi Hamdani lagi,coba kau kabari Yudi suruh bawa cowok-cowok lain,sambil bawa tuak" Usul Indar sambil berfikir.


"Boleh juga itu"


Kata Wati yang biasanya lain pikiran dengan Indar,entah kenapa hari ini mereka berdua rukun-rukun saja.


Puput menghubungi Yudi dengan berjalan menuju depan,karena ada teman Yudi yang sering lewat biar menyampaikan pesan dari Puput,karena kami semua belum mempunyai ponsel.


"Kata teman Yudi,Yudi lagi kumpul dirumah temannya,tapi-----" Wajah puput jadi risau dan tidak mau melanjutkan ucapan Puput.


"Tapi apa Put?"


Tanya aku dengan heran dan bimbang.


"Dia bilang Hamdani baru pulang dari bagan batu,aku takut pasti mendengar nama Indar,Hamdani jadi minta ikut" Ucap Puput jadi enggak enak kepada Indar.


"Ahk sial,aku malas jadinya"


Jawab Indar dengan wajah jutek dan melipat tangan dengan geram.

__ADS_1


"Sudah Ndar biar saja dia datang,kan ada kami,entar kalau dia macam-macam aku jotos kepala Hamdani itu" ucap aku menepuk bahu Indar.


"Yasudah...,terserah kalian saja"


Jawab Ndar dengan garuk kepala.


Setengah jam kami semua menunggu kedatangan Yudi,lalu terlihat dari kejahuan Yudi datang bersama Hamdani membuat mulut Indar jadi panjang dan buang muka,Indar merasa tidak nyaman melihat wajah mantan kekasihnya itu.


Diperjalanan menuju sungai bawah Hamdani berusaha mendekati Indar terus,tetapi Indar menjaga jarak dengan berjalan cepat meninggalkan Hamdani.


"Apa kabar Ndar?, sehatkan dek?"


Kata Hamdani berusaha ikut berjalan cepat juga.


"Sehat"


Jawab Ndar dengan mendengus kesal.


Aku senggol siku Wati dan Wati mengerti maksudku untuk melihat Indar dan Hamdani yang kejar-kejaran berjalan menuju sungai.


"Cie cie CLBK"


Ledek Wati dengan cengengesan.


"Diam kau kurus,sok tau kau"


Ucap Indar dengan emosi dan cemberut.


Sesudah sampai disungai kini giliran aku yang terbawa perasaan,karena disungai ini tersimpan kenangan indah saat bersama Almarhum Raja.


"Sudah jangan melamun,teringat mendiang ya?" Ucap Ndar membuat lamunan aku terhenti.


"Tau aja kau Ndar,eh Yudi ambil dong gitar kamu" Sahut aku yang tidak mau berlarut sedih lagu seperti dulu.


"Entar aku ambil ya Yun,kita masih baru sampai disini" Jawab Yudi yang baru duduk berdua bersama Puput.


"Aman Yud"


Ucap aku dengan tersenyum.


Kami semua duduk-duduk disebrang sungai saling mengobrol,Hamdani tidak mau menyerah sesekali mencoba bicara dengan Indar walau balasan ucapan Indar sedikit kasar,pria ini tetap bersahaja.


"Ndar enggak mandi dek"


Kata Hamdani yang duduk dihadapan Indar dan Aku.


"Enggak,sudahlah jangan banyak tanya,aku malas bicara" ucap Ndar mendengus kesal dan membuang muka kepada Hamdani.


"Ya Allah juteknya"


Kata Hamdani dengan melontarkan senyum kecil.


Melihat Hamdani dan Indar kami hanya diam dan tersenyum memperhatikan saja,karena merasa kasihan dengan Hamdani aku jadi meledek Indar.


"Nodai adek bang,adek sudah lama enggak khilaf" Ucap aku dengan melirik Indar.


"Hahahaha iya bang adek sudah lama enggak dicium abang" Sambung Wati paham maksud ucapan aku


"Monyet-monyet kalian ya,sindir terus"


Sahut Indar kesal dengan aku dan Wati.


"Sudah-sudah ayo hidupkan api"


Ucap Puput dengan mengumpulkan ranting kering.


"Untuk apa hidupkan api Put?,kan enggak ada ikan" Kata Wati dengan bingung dan kernyit dahi.


"Selow kalian mancing dulu,ikan cencen atau mujahir banyak disungai ini" jawab Puput dengan santai.


"Alah paling ikannya kecil,mana enak Put"


Cibir Wati merasa malas memanggang ikan kecil.


"Hahah enakin ajalah yang penting ada yang dipanggang" ucap Yudi sudah siap dengan ka yang iya bawa tadi.


Yudi dan Puput berjalan menuju sungai yang tenang dan dalam,mereka mancing ikan dengan tenang,sementara aku dan Wati beserta Indar menyalakan api,sedangkan Yudi turung tangan juga walau sesekali melirik Indar.


Mengobrol dengan santai aku melihat kesebalah arah kanan sungai,terlihat tempat dimana dulu aku memadu kasih dengan dia yang sudah tiada.


"Seandainya kau masih hidup sayang,pasti aku tidak begini,sekolah aku tidak putus,mungkin sebentar lagi kita akan menikah" Ucap Hatiku dengan sedih.


"Wah lumayan ada panggangan untuk tuak kita" ucap Wati dengan girang.


"Cepat panggang ikannya"


Kataku berusaha santai dan menutupi hati ini.


"Iya-iya bawel"


Kata Wati menyediakan alat panggangan ikan.


Ketika sibuk memanggang,melintas seekor ular lidi kecil berenang didalam sungai,Indar melihat itu jadi menjerit keras karena ketakutan.


"Aaaa...ular-ular bang !!"


Jerit Indar sembari memeluk tubuh Hamdanni tanpa sengaja.


"Mana-mana,ular lidinya"


Kata Hamdani menyingkirkan ular lidi tersebut dengan ranting kecil yang iya dapat.


Kami awalnya terkejut tetapi tertawa juga karena melihat Indar ketakutan,Indar terus saja memeluk Hamdanni tanpa sadar.


"Cie-cei cinta lama bertemu kembali"


Ejek Wati sambil cengengesan.


"Alah Ndar ukar itu kau takut,ular yang didalam celana tidak taku" Ucap aku juga sambil senyum menutup mulut.


"Awas kalian ya,uh puas kali kalian sindir aku"


Kata Indar yang sudah bertolak pinggang yang sebelumnya melepaskan pelukan kepada Hamdanni.


"Maafin aku sayang,aku merantau sudah pamit sama kamu,tapi enggak kamu kasih,jujur aku merantau cari uang nikah kita" Kata Hamdanni menatap sedih Indar.


"Cuit-cuit gombal nih yee,ceritanya"


Kata Wati sambil tersenyum.


"Sudah baikan saja dong,apalagi.yang ditunggu" Ejek aku melirik Indar.


"Iya dek abang masih sayang sama adek kita lumayan lama pacaran lho" sambung Hamdanni dengan wajah penuh harap.


"Janji ya jangan pergi-pergi lagi"


Balas Indar yang sembari berfikir keras.


"Abang janji,dek maaf ya" Kata Hamdani sambil cium kening Indar.


"Cium-cium enggak izin dulu !,dilihat mereka" ucap Ndar buang muka kepada Hamdanni.


"Enaknya yang punya pacar,bisa jumpa terus, lihat kami dua Aku dan Wati punya pacar,tapi enggak bertahan lama" Sambung aku sambil geleng kepala.


"Kita ?,elo aja kale"


Sambung Wati tidak mau disamakan dengan Yunita.


"Kampret Wati kurus...!!"


Ucap aku sambil cemberut kepada Wati.


Terlihat Puput selesai memancing dengan Yudi,mereka berjalan kearah kami yang duduk didepan api unggun kecil,Puput memberikan hasil pancingan ada lima ekor ikan mujahir,walau ikan yang mereka pancing kecil tetapi cukuplah untuk teman minum tuak.


Indar juga mulai tersenyum kepada Hamdani,aku turut senang karena mereka balikan lagi,Puput dan Yudi juga terlihat bahagia sedangkan Wati dan Aku hanya gigit jari melihat kemesraan mereka.


"Yun gosong itu,sipantek ini melamun aja" ucap Wati yang sudah sibuk angkat panggangan ikan diatas bara api.


"Eeh maaf Wati,aduh...!"


Sahut aku sambil kebingungan karena melihat beberapa ikan yang menghitam.


"Uh mamposlah dimarahi Puput kita,capek- capek Puput mancing ikan,malah kau buat hangus" Kata Wati yang terlihat nyinyir.


Puput berjalan mendekati aku dan Wati,gadis mungil putih itu mendengar ocehan Wati kepadaku,jadi Puput samperin kami.

__ADS_1


"Ada apa wat ?,hah kok gosong kayak pantat sayang" Kata Puput saat melihat ikan yang menghitam itu dan melirik Yudi.


"Hus ayang ini tak bisa jaga rahasia" jawab Yudi yang merasa malu.


"Hahaah kok tau kau Put, pantat Yudi gosong?, hayoo- hayoo" Ucap Wati bernada curiga.


"Ssssst...,yang udah pernah diem aja,cukup tau lho Hahahah" Sambung aku tertawa renyah.


"Yun kalau kau sudah berapa kali gitu-gituan?" Tanya Wati dengan penasaran.


"Idih mau tau aja,urusan pribadi tuh,dasar otak mesum" Sambung aku sambil memukul pelan pundak Wati.


"Hemmm...bukan mesum,masalahnya aku udah lama nih Heheeh" ucap Wati dengan nyengir karena dia sudah lama jomblo.


"Wati kau bocor betul,cerita mesum cepat betul otak kamu" sambung Yudi dengan geleng kepala.


"Eleh-eleh baru ucapan aku saja udah begitu kau Yudi,apa kalian semua enggak sadar pasangan yang baru balikan sudah menghilang" Kata Wati melihat sekeliling tempat ini.


"Eh...,Iya kemana orang Indar?,kok enggak pamit ih..." Sahut aku dengan nada bingung.


"Biarin saja,kalian gitu saja terkejut,mereka udah lama enggak bercumbu" Kata Yudi yang sudah duduk disebelah Puput sembari menikmati ikan panggangan.


"Iya biarin saja,lebih baik kita makan ini" ucap Puput sambil mengunyah ikan dengan sambal saus.


"CLBK artinya cinta lama burung kembali,burung siapa yang kembali ya?" Kata aku dengan nada bercanda.


"Haahaa...,burung Hamdani kembali"


Sambung Yudi sambil tertawa renyah.


"Mesum kalian semua,sudah ahk diminum tuak ini woi nanti jadi lengkong" ucap Wati mengambil segelas Tuak.


"Kau aja kalau dipancing mesum juga"


Kata Aku sambil senggol lengan Wati.


Satu jam kemudian kami semua melihat Indar dan Hamdani datang dari kejahuan,kami saling pandang dan melontarkan senyum saja sambil minum.


"Dari mananya kalian?,habis kincit party kalian hohoho" Tanya Watu penasaran sekali.


"Mesum kau,jami habis nostalgia disungai cabang ntu" Sahut Indar menunjuk sungai cabang yang terletak dipinggir kiri.


"Seeer " jantung aku berdebar mendengar


sungai cabang,ya dulu aku dengan almarhum juga kencan disana,jadi teringat saat pertama kali kamo jadian hati ini jadi sedih rasanya.


"Masih ada ikannya woi?"


Tanya Hamdani melihat Ikan bersisa sedikit.


"Kau minum tuak ini dulu, masak tanya ikan" ucap Yudi menuangkan Tuak kedalam gelas kosong.


"Recok betul kau bah,iya aku minum"


Sambung Hamdani mengambil gelas yang dimaksud Yudi.


"Woi aku kesungai cabang dulu ya"


Kata Aku yang sudah berdiri dari duduk.


"Jangan-jangan kau mau ngapain disitu?,ahk aku enggak mau kau kesungai itu" ucap Wati dengan nada cemas.


"Sudah jangan cemas gitu,aku tidak seperti dulu kok,kalian santai saja" Sahut aku dengan berjalan.


"Awas kau aneh-aneh ya,kami tinggal kau disini kalau seperti dulu" ucap Indar dengan kernyit dahi.


"iya lho bawel ahk"


Kata aku yang berjalan kecil menuju sungai cabang.


Aku duduk ditepi batu pada saat sampai disungai cabang ini,aku elus lembut batu padas besar ini,dimana batu ini pernah ada kenangan indah saat menatap kerlingan mata cokelat Almarhum Raja.


"Enggak sanggup kalau ingat tentang kamu sayang,tetapi cuma ini yang bisa aku lakukan meratapi nasib cinta yang pernah kita bangun" Ujar aku sendiri sembari tangan tiada henti elus batu padas besar.


Sungai ini masih sama seperti dulu,bunga- bunga liar tumbuh dan bermekaran,ditambah beningnya air serta ikan-ikan kecil berenang riang didalamnya,sungguh tidak kuasa menahan kesedihan ini.


"Andai kau masih hidup,pasti kita sudah menikah seperti janji kita dulu,ahk aku hancur" Gumam aku sendiri sembari menitikkan air mata ditempat ini.


Aku berdiri dari duduk karena tidak mau berlama ditempat ini,rasanya sesak kalau ditempat ini terus dan aku memutuskan untuk kembali bergabung dengan teman-teman.


"Sudah siap nosgalgia mu Yun?" ejek Wati saat melihat aku berjalan mendekati perkumpulan.


"Kampret baru sebentarnya aku,sudah bising kau Wat" jawab aku sambil duduk disebalah Wati.


"Ayo menyanyi Yun,biar enjoy minumnya" ucap Yudi yang sudah memeluk gitar ditubuhnya.


"Nyanyi apa ya?,hemm dangdut rancak saja jangan yang melow,lagi minum nih nanti jadi bawa perasaan ak" ujar aku pada Yudi dan mulai menenggak segelas tuak.


"Wah Yun benar-benar berubah kau jadi lebih kuat,cahyoo" ucap ndar dengan nada girang.


"Belajar dari pengalaman pahit pasti buahnya manis" ucap Aku padahal tidak sesuai dengan logika,sama saja aku ini seorang wanita yang munafik.


Mereka semua tidak tau apa yang aku rasa saat ini,aku berusaha menutupi dilema hati dihadapan semua teman-teman,aku tidak mau terlihat merana lagi seperti dulu dan aku tidak mau dikasihani lagi seperti dulu juga.


"Benar itu Yun,semangat ya Hahaha" ucap Puput dengan senang sekali.


Melihat mata cokelat Puput kenapa serasa didada ini sesak sekali,namun perasaan rindu Almarhum dapat terobati melihat mata indah kepunyaan Puput,aku langsung tanpa sadar memeluk gadis yang pernah jadi calon ipar aku ini.


"Awas kalian lesbian Hahaah"


Kata Wati melontarkan tawa riang.


"Kami normal ya,enak saja"


Sahut Puput yang sudah melepas pelukan kepadaku


"Pikiran kotor saja kau"


Sambung aku dan menatap kesal Wati.


Jarum jam terus saja berutar seiringnya waktu,matahari mulai tenggelam yang sedari tadi memancarkan cahaya terangnya,terlihat Indar dengan kernyit dahi melihat jam tangan yang iya pakai.


"Pulang yok woi,sudah jam lima sore"


Kata Indar beranjak dari duduk.


"Ayolah,takut gelap kalau sampai kerumah " balas Wati sambil sibuk menyusun alat panggangan.


Kami semua setuju untuk pulang,sambil berjalan menuju rumah Puput tidak lupa mwngobrol sekelak.


"Eh Yun,kau kapan pulang kekota ram?"


Tanya Wati yang berjalan disamping kiri aku.


"Belom tau Wat,semalam ada keyboard daerah lima puluh sana,mereka ajak aku katanya sih alu bawa tari ular" ucap aku bernada serius.


"Bah emang kau berani Yun megang ular?"


Sambung Indar ternyata mendengar obrolan aku dan Wati.


"Eh show tari ular,mulut ularnya diisolasi jadi kami enggak takut,aku berani kok,jangankan ular asli,ular dalam celana pria saja aku berani" jawab aku sambil nyengir kepada Wati dan Indar


"Hahahaaha... mesum kau Yun"


Wati jadi merasa geli dam geleng kepala.


"Yunita sekarang udah pintar woi"


Sahut Indar juga merasa geli dengan ucapan aku.


"Hahaha maklum kalian kenapa sih" ucap aku melirih.


Setelah sampai dirumah Puput kami tidak singgah karena memang hari sudah semakin gelap,kami semua langsung pamit kepada Puput.


"Yun jangan lupakan kami- kami ya !, kau tetap kakak ipar aku" ucap Puput dengan nada sedih.


"Kan...,kau buat aku mau menangis saja lho" ucap aku sambil menahan embun cristal dipelupuk mata ini.


"Iya Yun,nanti ada waktu mainlah kemari lagi" Kata Puput penuh harap.


"Aman put,eheheh makasih ya makanannya"


Sambung aku lagi dengan tersenyum kecil.


"Sama-sama Yunita"

__ADS_1


Kata Puput lagi dan melambai disaat aku dan Indar serta Wati beranjak dari rumah Puput.


"Abang Raja kini adek pamit pulang ya sayang,aku sudah lega bang melihat adik kamu dan keluarga kamu ternyata sehat semua" Gumam didalam hatiku.


__ADS_2