Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 46


__ADS_3

Tidak terasa ujian kelulusan kini tiba saatnya,aku sibuk belajar dan belajar demi mendapatkan nilai bagus,karena nilai bagus aku bisa masuk sekolah negeri dikota.


Hari ini Raju menjemput aku sekolah,Raju tidak ada capek nya ikut pertandingan,latihan Raju sempatkan untuk menjemput aku pulang sekolah.Setelah aku dijemput aku dan Raju sudah janjian akan bergabung nongkrong dengan Indar dan Hamdani.


Kini kami berempat nongkrong ditempat biasa sembaru ngobrol dengan bercanda ria.


"Semangat ya beb,lusa kamu ujian"


Raju mencubit manja kedua pipi aku.


"Makasih beb aku"


Sahut aku dengan memijat hidung kancung kepunyaan Raju.


"Tenang saja bang Raju,aku tau Yunita pandai apalagi mate-matika dia jagonya" Indar tertawa mengejek kepada aku.


"Pandai juga calon istri aku ini"


Raju membelai rambut aku dengan mesra.


"Indar kau memuji apa menyindir aku,dia bercanda beb,aku paling benci matematika syukur dulu Raja membantu aku dulu" Aku nyeplos tanpa sadar dan takut.


Aku menyebut nama itu didepan Raju,semua pada diam dan saling pandang,aku takut Raju marah karena aku ingat masa lalu.


"Beb enggak marahkan?"


Kata aku karena Raju diam saja.


"Engg-enggak aku ngapai marah,tidak apa beb" Kata Raju tetapi mulutnya manyun.


"Enggak apa gimana,wajah langsung masam"


Hamdani menyambung dan melirik Raju yang cemberut.


------------------------------------------------------------------


Singkat cerita aku sudah pacaran dengan Raju hampir setengah tahun,kami tidak pernah bertengkar bahkan kami saling mengerti,kata orang pacaran belum setahun itu masih mekar-mekarnya dan hangat-hangatnya.


Sampai tiba hari dimana aku bersumpah tidak mau mengenal lelaki didunia ini,hari yang menurut aku hari sial,ketika itu aku lagi santai duduk didalam kamar,karena hari minggu aku bersantai dulu.


"Tok tok tok "


Pintu rumah aku diketuk karena tidak ada penghuni rumah yang lain,terpaksa aku dengan malas berjalan menuju pintu utama rumah.


"Aduh capeknya kesini"


Kata Indar yang berdiri didepan pintu.


"Kenapa nafas kalian ngos-ngosan,lari pagi ya?" Tanyaku dengan heran melihat kedua sahabat aku.


"Cepat kau keMess Raju dan Yoga,aku enggak mau cerita disini,panjang ceritanya" Sahut Indar yang berdiri dibelakang Wati.


"Merry juga nangis-nangis disana"


Sambung Wati sambil mengusap keringat uang bercucuran didahi.


"Tunggu aku ya,aku ganti baju"


Aku berlari masuk kedalam kamar,sedangkan Indar dan Wati menunggu didepan rumah.


Aku naik motor bersama Indar dan Wati,sesampai dihalaman rumah Mes tersebut aku berlari menuju kamar Raju dan Yoga dibarengi juga Wati dan Indar.


Saat aku sampai dikamar Raju aku tidak melihat siapapun disana,yang aku lihat Merry yang terjongkok menangis pilu dibawah pohon Kamboja ketak nya tidak begitu jauh dari kamar Raju dan Yoga.


"Kenapa kau mer ?"


Tanya aku sambil heran.


"Aku dapat surat dari Yoga katanya mereka sudah habis kontrak,Raju juga gitu,mereka udah pergi,aku berlari kesini aku tanya tukang bersih-bersih ternyata memang benar Mereka udah pulang kekampung masing-masing" Merry tertunduk layu dan tidak berdaya.


"Apa...!!, enggak mungkin,Raju enggak mungkin tinggalin aku" Aku geleng kepala serasa ini mimpi,tanpa sadar cristal bening menetes secara perlahan dikedua pipi aku.


"Aku awalnya enggak percaya,mangkannya aku kerumah Mes ini,ternyata memang benar Yoga sama Raju udah pergi, aku benci Yoga,aku nyesal kasih kesucian aku sama dia..


Hikss...Huaaa" Tangis Merry pecah dan memeluk aku uang terkulai layu juga,aku tidak sanggup menerima kenyataan ini.


"Merry ya Allah kenapa kau mau?,ahk parah Yoga" Indar mendengus kesal.


"Kenapa semua pria jahat,saat aku mencintai tulus mereka pergi, jahat... Raju jahat...!!" Aku membentak sambil memeluk Merry.


Wati dan Indar berdiri melihat aku dan Merry menangis dan terkulai layu,disaat hati ini pilu aku melihat seorang lelaki tua melintas dari depan kami.Aku berdiri dan berjalan mengejar kakek tua tersebut,aku ingin mencari kepastian.


"Pak saya mau tanya,orang yang didalam kamar itu ada dimana sekarang?,kok tidak ada?" Aku berdiri berhadapan dengan lelaki tua ini.


"Kamu kok nangis?,kenapa teman kamu juga nangis?" Pak tua tersebut heran dan melihat Merry yang terisak-isak.


"Kami tidak apa pak,bapak belum jawab pertanyaan aku" Aku penasaran dan kernyit dahi.


"Oh pemuda dua itu udah habis kontrak,nak Yoga pulang kebatam,nak Raju pulang kekalimantan" Pak tua itu kini berwajah serius.


Mendengar itu aku berdiri lemas dan serasa ini mimpi disiang bolong,air mata ini terus mengalir,aku juga kasihan melihat Merry yang patah hati juga.


"Kapan mereka pergi pak?!!,kami kok tidak tau,tolong katakan pak" Aku cemas dan mengusap air mata.


"Kurang tau ya dek,saya piket pagi tadi"


Pak tua itu garuk kepala sembari berfikir karena melihat aku menangis.


Pak tua itu dengan bingung meninggalkan kami,aku melihat dia sudah jauh dari hadapan aku.Kami semua memapah Merry keluar dari rumah Mes,Merry tak sanggup berjalan karena amat syock,sebenarnya aku juga syock menerima kenyataan ini tetapi aku lebih kasihan kepada Merry.


"Tega kali Yoga pergi gak bilang-bilang,Raju juga pembohong...!!,aku akan cari alamat mereka" Kata aku yang sudah berdiri dipersimpangan bersama teman-teman.


"Enggak usah Yun mungkin udah takdir aku begini" Sambung Merry yang tertunduk smebari duduk dibatu besar.


"Kenapa kau serahkan itu Merr,kapan kau lakukan itu sama Yoga?" Sambung Wati mendengus kesal.


"Set-setiap hari aku melakukannya,dibelakang stadion,dikamar Yoga,Huaaa..aku takut hamil woi" Merry menangis pilu dan menutup muka.


"Bodoh- bodoh kau Merr,aku juga bodoh"


Aku menepuk kepala aku sendiri dengan menyesal tiada tara.


"Kurang ajar Yoga dan Raju pergi begitu saja,aku benci mereka" Sambung Indar bertolak pinggang dan emosi.


Akhirnya kami putuskan untuk berkumpul distadion,Wati mondar-mandir memikirkan cara untuk selesaikan masalah aku dan Merry,sedangkan aku terdiam membisu duduk lemas,Merry tidak berhenti menangis pilu membuat Indar jadi iba.


"Gimana kalau aku panggil Hamdani saja,Hamdani kenal sama Yoga dan Raju,kita tanya saja dia" Ide Indar terlintas dipikiran.


"Pakai logika kau Ndar,kau taukan mereka rumah mereka jauh-jauh,apalagi Raju memangnya kalau kita dapat alamatnya kita bisa kesana,kalimantan juah lho" Sambung Wati geleng kepala.


"Raju tega benar kau,aku sudah sangat mencintaimu kenapa jadi gini,Merry juga kasihan" Batin aku bersedih dan menjerit.


"Tenangkan dia Wat,Merry lebih terpukul juga karena Yoga kurang ajar itu" Ucap Indar menggeram.


Merry tidak mau pulang dengan keadaan mata membengkak,jadi terpaksa aku minta izin sama orang tua Merry untuk nginap dirumah aku,Malam ini kami berencana untuk berkumpul lagi distadion karena Indar memanggil Hamdani.


"Mer,Mer udah jangan melamun, jalan satunya kita tanya Hamdani,kita tunggu dia disini" Kata aku yang berusaha buat tenang Merry.


"Sabar ya Merr,entar lagi Hamdani datang" Kata Indar menepuk manja bahu Merry.


Ada setengah jam berlangsung Hamdani muncul dengan motornya,Lalu Hamdani turun dari motor melihat kami yang duduk sama ditempat nongkrong biasa.


"Wah gadis-gadis pada ngumpul ya,Yunita sama Merry kalian kenapa?,kacau betul aku lihat kalian" Hamdani terheran dan kernyit dahi.


"Sauang tau alamat Yoga sama Raju?,mereka udah pergi enggak kasih tau kita-kita,jahat mereka berdua" Kata Indar mendengus kesal.


"Bah....aih berarti kontrak mereka disini selesai,aduh aku kenal mereka dari teman sauang orang sini,Yoga dulu teman sekolah terus pindah kebatam,tadi malam aku antar Raju dia bilang sama aku titip Yunita,aku enggak tau maksud perkataan Raju,ternyata" Kata Hamdani tepuk jidat.

__ADS_1


"Ya Allah teganya Raju sama Yoga,aku marah karena mereka enggak ada pesan,atau kasih tau kek,huh" Wati menggeram.


"Pasrah saja aku,berulang kali begini apa memang takdir aku woi...!" dengan lemah dan lirih aku bersuara.


"Sabar Yun,enggak habis fikirlah"


Kata Indar geleng kepala dan kesal.


Pembicaraan kami tidak menemukan titik terang,karena malam semakin larut kami berniat pulang kerumah,sedangkan Merry ikut dengan aku.


Kini aku dan Merry sudah didalam kamar,Merry tidak berhenti dilema dan menangis buat aku makin sedih meratapi kisha cintaku dengan Raju.


"Ini pelajaran buat kita Merr,supaya kamu tidak terjebak pria jahat kayak Yoga" Aku duduk diatas kasur bersama Merry.


"Aku enggak perawan lagi Yun"


Merry menangis tersedu-sedu dan bersandar kepala diatas bantal,aku pernah kehilangan kesucian,aku tau rasanya gimana perasaan Merry sekarang.


Merry terdiam sembari memejamkan mata diatas kasur,sedangkan aku tidak bisa memejamkan mata padahal malam semakin larut,kokok suara ayam juga terdengar ditelinga.


Dengan tangan gemetar dan berjalan lemas aku membuka laci lemari pakaian,aku mengambil poto almarhum,butiran air asin ini terus mengalir dipelupuk mata dan jatuh dibingkai poto almarhum Raja.


"Raja dia ternyata sama saja,dia pergi tanpa ucapan apapun,sakit sekali disaat hangat-hangatnya dia pergi" Ucap aku mengusap poto Raja sambil terduduk ditembok kamar ini.


--------------------------------------------------------------------


*Esok harinya*


Aku dan Merry enggan pergi sekolah,tapi karena ada ujian akhir dengan terseok kami berdua jalan menuju sekolah,sesampai digerbang sekolah Indar sudah berdiri menunggu kami.


"Ayo Merry, semangat ini ujian,jangan sedih"


Kata aku pura-pura kuat padahal sebenarnya aku juga sama seperti Merry.


"Cemana dia Yun,udah baikan"


Bisik Indar saat berjalan masuk kedalam kelas dibarengi aku dan Merry.


"Kacau kawan"


Sambung aku dengan wajah bersedih.


"Aku senang melihat kamu Yun kau enggak rapuh seperti dulu,semangat Yun kita mau ujian" Kata Indar menepuk bahuku dengan tersenyum.


"Aku memang sakit pedih ditinggal Raju,tapi karena aku udah kebal ditinggal pria,aku mulai biasa,walau hancur aku enggak boleh egois masih ada keluarga aku" Kataku padahal hati ini hancur sekali.


"Cahyoo teman,Merry senyum dong,kita udah dikelas ini,ujian ces" Indan dengan semangat duduk disebelah Merry pada saat dibangku kelas.


Aku tidak konsen saat ujian semester terakhir,yang mana mikiri percintaan yang mana ingin dapat nilai bagus,pada saat ujian Merry melihat aku dari belakang bangku.


"Sssst Yun kasih aku contekan dong"


Merry bersuara samar takut didengar guru pengawas.


"Ya sabar"


Suara aku juga samar,berketapatan mata ujian ini pelajaran IPA,karena aku unggul dipelajaran ini.


"Yunita aku tidak tau soal nomor sepuluh ini,pilih A atau C" Indar bersuara samar juga.


"Tolor jangan bising nanti guru pengawas mendengar,kau pilih C" bisik aku tersenyum pada Indar.


"Baru satu soal aku minta tolong,entar pelajaran mate-matika aku kasih tau kau" Kata Indar uang pandai Mate-matika.


"Ya..ya"


Jawab aku samar sambil cengar-cengir saja.Lalu kami fokus sendiri mengisi soal ujian didalam selembar kertas


--------------------------------------------------------------------


Seminggu berlalu kini ujian selesai tanpa disadari,Merry sudah mulai semangat dan sedikit lupa dengan Yoga,sedangkan aku jangan ditanya didepan para sahabat aku pura-pura tegar,padahal saat didalam kamar aku sering menangis merindukan Raju yang perkasa.


Saat ini aku dan Indar serta teman lain membuat acara coret-coret baju seragam,kami senang akhirnya akan lulus dari sekolah ini.


"Woi kita coretan dimana?"


Kata Wati yang sudah datang kesekolah kami,padahal sekolah Wati tidak sama dengan kami.


"Tanda tangan kalian semua dibaju aku"


Sambung Wati membawa spidol.


"Sekolah lain enggak boleh kesini"


Puput meledek Wati.


"Kenapa enggak boleh?,kalian kawan aku,demi kalian aku tinggal kawan kelas disana Huh" Wati menjadi kesal.


"Wati sensitif Puput bercanda lho,Ayo kita maon kesungai bawah aku lihat sekolah lain banyak disana,siapa tau ada cowok tampan" Kata Indar sambil membawa spidol dan pilox.


Suasana sangat meriah didepan pasar Muda-Mudi merayakan kelulusan coret-coret,kepala kami sampai pusing melihat keramaian berlalu lalang didepan jalan.


Sekelebat angkutan kota berjibun-jibun berjalan beriringan,tampa pemuda naik berdiri dipintu mini bus tersebut,mereka semua riang gembira merayakan kelulusan.


"Woi cepat jalan kalian,lihat banyak betul anak kota, Putih-putih asyik" Wati jadi semangat untuk pergi kesungai yang dijadikan pariwisata dikampung kami.


"Ah enggak semua tampan,banyak juga yang pecah" Cibir Indar sambil cengar-cengir.


"Sok cantik kali kau Hahahah"


Aku tertawa renyah sembadi berjalan barengan teman-teman.


Sesampai disungai pariwisata aku dan teman-teman berjalan sambil cari perhatian,semua berjalan kemayu tapi beda dengan aku yang berjalan tidak bisa lenggak lenggok karena aku bukan tipe feminim.


"Sssst ssst"


segerombolan pemuda dari sekolah kota melihat kami dengan kagum.


"Sini dek gabung sama kami"


Pemuda menegur kami dengan seragam SMA yang penuh coretan.


Kami berhenti dan tersenyum malu,sedangkan Wati sudah salah tingkah setiap detik merapikan rambutnya uang sedikit kusut.


"Woi mereka suruh kita gabung,enggak usah jelek-jelek" Cinir Indar tersenyum menutup mulut.


"Iya enggak usah"


Sambung aku dengan nyengir.


Kami tidak menggubris panggilan mereka malah berjalan melewati mereka,sampai kami melihat geng lain yang ada disamping kedai,


mereka tampan-tampan seperti anak berada


kami tidak tinggal diam berdiri-diri pura-pura ngobrol.


"Ssst..ssst"


Tidak berapa lama geng pemuda tampan itu memanggil kami,seperti ada lampu hijau kami tersenyum malu.


"Woi duduk sini pasti nanti mereka datang" Suara samar Wati mengambil tempat duduk tepat disamping pemuda-pemuda tampan itu.


Tanpa banyak bicara aku dan yang lainnya mengikuti saran Wati,kami duduk dengan anggun tidak banyak tingkah.


Benar saja pemuda itu mendekati kami semua,Wati sibuk terus merapikan rambut tidak lupa cermin kecil Wati terletak didalam tas ranselnya.


"Kalian sekolah mana?"

__ADS_1


Kata salah sati pemuda yang berpenampilan rapi dia bernama Satria.


"Kami sekolah dikampung ini,kalian anak kota ya?" Tanya Wati dengan girang.


"Kalian SMA dimana?,tempat kami saja enak" Kata cowok berhidung mancung dia namanya Jerry.


"Iya memang kami akan melamar sekolah dikota" Sambung aku tersenyum manis.


Wati dan Merry yang paling heboh ketika mereka menawarkan makanan dan minuman gratis.


Swmua sudah mulai akrab berkenalan mereka mandi dengan girang disungi ini,cuma aku yang tidak mau mandi melihat sungai ini aku saja sedih terbayang kisah kasih dengan almarhum,susah payah aku berusaha melupakan semua kenangan tetap saja terngiang diotak ini.


"Yun-Yun sini mandi"


Wati heboh dengan keadaan basah kuyub.


"Lagi malas,entar aja"


Aku menolak padahal aku sudah duduk ditepi sungai.


"Tanda tangan Yun dibaju aku,untuk kenang- kenangan" Kata Satria menghampiri aku yang duduk dibatu padas besar.


"Wani piro?"


Aku cengar-cengir mengambil spidol didalam saku rok panjang aku.


"Aku bayar tanda tangan aku juga ya jadi balance" Sajut Satria yang sudah duduk disamping aku.


"Sama saja,licik huh"


Aku menulis tanda tangan diatas punggung Satria.


Satria cowok rambut cepak catam,kulitnya putih badannya juga berisi tapi kurang tinggi,


hidung mancung besar tapi sayang dia bukan type aku,lagian aku ingin sendiri dulu karena masih sakit dengan kepergian pacar yang aku cintai.


"Yun engak lapar?"


Satria membuka suara karena kami terdiam sekelak.


" tadi udah makan kok"


Jawab aku dengan melontarkan senyum.


"Yok mandi Yun soalnya gerah"


Ajak satria yang kini sudah berdiri dihadapan aku.


"Duluanlah aku lagi malas mandi"


Tolak aku dengan datar.


Satria tidak memaksa aku,kini pemuda manis itu gabung berendam didalam sungai,terlihat aku mereka gembira bercanda ria,tetapi hati ini kenapa hampa?,berbeda dengan Merry dia sepertinya hanya sebulan melupakan Yoga,sedangkan aku...?,ahk payah diriku ini.


"Kalian jangan lupa main kekota"


Satria hendak pamit pulang.


"Aman itu,hati-hati ya"


Wati tersenyum manis kepada satria.


"Iya Wat,kalau gitu kami semua pamit ya"


Satria beserta temannya naik kedalam angkutan umum yang mereka sewa.


Akhirnya geng Satria sudah berlalu pulang,kami bingung mau kemana lagi,karena masih pukul lima sore kami belum mau pulang.


"Eh tadi kakak aku katanya mau kesini lho ayok pindah tempat" Ajak Wati karena takut diawasi kakaknya,serasa Wati tidak bebas kalau ketemu saudara kandungnya.


Kami pindah tempat yang lebih ujung takut kepergok kakak Wati,disana kami malah bertemu cowok-cowok resek dan bermuka pas-pasan.


"Jelek pun ih"


Indar selalu saja menghina seakan dia paling cantik.


"Kau andar dari tadi jelak- jelek,sok cantik kau ahk ,pikir aja Hamdani kamu itu" Ucap aku sembari toyong kepala indar.


"Kamikan udah jomblo semua wajar cari cowok baru,cuma kau Ndar kisahmu yang bagus nikmati saja" sambung Wati sambil mencibir.


"Hamdani enggak kesini sama aja artinya aku juga jomblo huh" sambung Indar tidak mau kalah.


Kamo lanjut mengobrol sampai matahari hampir terbenam,karena bosan kami putuskan untuk pulang saja,kami berjalan kaki menuju rumah masing-masing.


"Eh nanti malam kemana libur panjang kita lho?" Kata aku sambil berjalan barengan mereka.


"Oh iya aku belum kasih tau sama kalian,aku mau diover keluarga aku kemalaysia, ibu aku disana kita buat acara perpisahan aja nanti malam" Kata Merry sambil berwajah sedih.


"Kau kenapa baru bilang hal penting ini,pasti kami merindukan kau nanti Merr" Wati jadi cemberut.


"Sebenarnya aku tidak setuju,tapi demi bisa melupakan Yoga mending aku keluar indonesia" Sahut Merry tersenyum kecut.


"Entar aku kirim-kirim surat kok tenang saja"


Sambung Merry lagi dengan tersenyum.


"Janji ya"


Kata Indar berwajah sedih.


Langkah kami terhenti karena kami memeluk Merry tanda perpisahan,sedih juga kalau persahabatan kami berpencar jadi pecah.


"Merr udah bisa kamu lupain dia?"


Tanya aku penasaran.


"Udah Yun walau kadang inget dikit,mungkin aku pergi kemalaysia aku bisa dapat yang lebih dari Yoga" ucap Mery penuh semangat


"Cahyo Merry kamu bisa"


Indar sangat bersemangat.


"Oh ya woi tadi sewaktu kenalan sama Jerry kalian enggak lihat dia tertawa, gigi Jerry ternyata ompong,aku jadi mati rasa"


Kata wati tersenyum kecut.


"Ahk Satria juga enggak asyik,kurang seru enggak ada wangi-wanginya ahahaah"


Sambung aku tertawa renyah.


"Jangan lupa nanti malam acara kita woi acara api unggun,aku yang bayar sebagian, jam delapan aku tunggu ditempat biasa"


Kata Indar berwajah serius.


"Ok"


Kami menyahut serentak,setelah itu kami berpencar menuju rumah masing-masing.


Tersirat dihati sangat lega akhirnya aku lulus juga walau banyak rintangan yang aku jalani selama ini.


Kasus Wijaya perlahan sirna karena Wijaya tidak tetangkap juga,aku sudah melupakan kisah pedih itu,aku anggap pembelajaran supaya jadi dewasa dimasa depan.


Sampai dirumah aku buka baju seragam ini,seragam aku gantung sembari melihat coretan tanda tangan para sahabat,aku tersenyum sendiri melihat tanda tangan Wati yang berbentuk burung,dasar Wati lucu tapi sensitif.


Karena lelah aku berbaring diatas kasur,tidak ada suara hening didalam kamar ini,terlintas fikiran tentang kisah aku dengan Raju.Air mata demi air mata terus saja hadir disetiap percintaan aku.


"Mudah-mudahan sekolah SMA nanti aku jadi lebih ya Tuhan,jauhkan aku dari pria jahat" Gumam aku sendiri sambil berdoa.

__ADS_1


__ADS_2