Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 29


__ADS_3

"Dek ini minumannya"


Dodo memberikan sekantung jus jeruk,aku mengambil jus tersebut dari tangan Dodo lalu minum.


Kami masih saja menonton hiburan tersebut sembari menikmati jus jeruk,tidak berapa lama seorang anak kecil datang menghampiri aku.


"Mbak dipanggil abang itu" Ujar anak kecil tersebut yang berdiri dihadapan aku dan Dodo.


"Siapa dek?"Tanya aku heran dan penasaran, membuat aku dan Dodo saling pandang.


"Itu Mbak !"


Anak kecil menunjuk kearah belakang tempat kami duduk karena suasana sedikit gelap


aku tidak tau siapa yang manggil aku, aku hanya melihat bayangan tinggi dari kejahuan.


"Sebentar ya bang siapa tau kawan ! " ucap aku dan bangkit dari duduk.


"Jangan lama ya dek,kalau aneh-aneh bilang sama abang biar kita karate " ujar Dodo yang melihat aku berjalan menjauh dari tempat duduk kami.


Aku berjalan mendekati sesorang yang tinggi lagi berdiri dibawah pohon jambu,sedikit terkejut saat aku lihat punggung lelaki tersebut.


"Mirip dia dari belakang " gumam aku sambil perlahan melangkah seakan ini mimpi,Jantung tak bisa aku kontrol saat lelaki tersebut membalikan kepala kearah belakang.


"Wij-wijaya"


Lirih aku perlahan dan gemetar seakan ini mimpi, orang yang selama ini jadi buronan karena tidak bertanggung jawab terhadap aku,kini iya ada didepan aku.


Wijaya membalikan badan dan tersenyum menatap aku yang membatu berdiri didepan Wijaya,alamak hati aku berkecamuk saat wajahnya dan mata Wijaya menatap aku dengan sendu.


Magnet ini !, mata Wijaya seperti ada pelet,serasa ingin dekat-dekat dan menciumnya.


tapi itu tidak aku lakukan,rasa cinta rasa benci rasa sesal dan kesal bercampur padu didalam hati aku ini.


"Dek aku mau bilang sesuatu " ucap Wijaya memecah keheningan saat kami terdiam saja.


"Katakan" Jawab aku memalingkan muka dan bersuara lantang.


"Dek abang mohon cabut perkara kamu dikantor polisi,kasian mama dan bapak abang,tiap malam rumah digrebek trus,mereka jadi tidak tenang dek " ujar Wijaya perlahan mendekati aku.


"Untungnya sama aku apa !" jawab aku dengan buang muka lalu menjaga jarak.


"Untungnya mari kita menikah,abang sudah putuskan tunangan dengan Eva sejak kasus kita,Eva juga mendengar itu " jawab Wijaya dengan wajah memelas.


"Ahk kenapa baru sekarang kau akui kalau Eva tunangan kau,kemarin saat berusaha meniduri aku ambil prawan aku tidak ada tuh kau akui kalau Evaa tunangan kau " Ketus aku yang menjadi kesal dan marah.


"Sudahlah dek maafkan abang ini semua salah aku,abang sujudpun dikaki kamu sekarang " jawab Wijaya dengan nada memohon.


"Sudahlah bang,aku masih sakit ?" ucap aku buang muka.


"Lihat mata aku lihat,aku sekarang berkata jujur ayo menikah dek,setelah itu kita pergi dari kampung ini " ucap Wijaya sembari memegang kedua punda aku.


wijaya menatap aku dengan dalam,aku tidak kuasa tak terasa air mata ini jatuh mengalir saat wijaya mencium aku,dengan penuh muak dan benci aku mendorong tubuh Wijaya.


"Dek kok dilepas ciuman abang?,jujur kau masih cintakan sama aku,kau enggak akan mungkin lupa saat kita berdua waktu itu,saat pertama kali kita Melakukannya" Wijaya menggoda aku berusaha merayu diriku.


Aku berdiri diam dan buang muka,semua rasa ini bercampur padu,aku bingung harus bilang apa,ingin sekali aku tumpahkan rasa kesal ini.


"Hentikan tolong hentikan, hentikan bang jangan bilang cinta,ya jujur aku sangat mencintai kamu sampai sekarang,aku enggak pernah lupa waktu kita jalani dulu,tapi aku juga tidak akan peenah lupa kebohongan dan kejahatan kamu meninggalkan aku ditengah pohon karet ..!!,Sumpah aku sangat benci padamu !!" Bentak aku sembari menangis tersedu-sedu.


"Satu lagi,kau juga enggak tau sakitnya jadi aku " sambung aku lagi menatap marah pada Wijaya.


aku meninggalkan Wijaya dan berputar arah kebelakang ternyata Dodo sudah lama berada dibelakang melihat pertengkaran kami,Pastinya Dodo mendengar perkataan aku.


"Dek kok lama?" ucap Dodo seakan tidak mendengar ucapan kami.


"Ayo pulang aku sudah muak" Balas aku menarik lengan Dodo,sedangkan Wijaya terdiam dan mematung saja.


Kami berdua berjalan pulangtanpa mengucap kan satu kata pun,kasian Dodo pasti dia melihat aku tadi dicium Wijaya,aku tau pasti Dodo tersakiti.


"Dek enggak laper ?" ucap Dodo memecahkan keheningan kami saat berjalan.


"Iya aku laper mau makan orang !" jawab aku sembari buang muka.


"Adek cukup marah sama dia,jangan marah juga sama abang,aku sadar dek kau belum cinta sama aku,aku sudah dengar smuanya tadi,jangan paksakan hatimu kalau masih ada dia" Dodo mengutarakan apa yang dihatinya saat ini.


"Ahk a-a aku " ucap aku lalu berdecis kesal dan buang muka pada Dodo.


Dodo pergi meninggalkan aku dijalan mungkin dia sakit hati,aku ingin memanggil Dodo,tapi kata- kata Dodo benar kalau ini semua tidak bisa dipaksakan maafkan aku Dodo.


"Tuhan gimana ini?,apa aku lapor sama ayah kalau Wijaya dikampung ini supaya polisi menangkap dia,tapi aku tidak tega orang tua Wijaya sudah tua, kenapa aku lemah begini" Batin aku jadi cemas.


Aku berjalan sendiri karena Dodo merajuk pergi,sesampai di rumah Mama sedang duduk sambil melihat televisi.


"Lho Dodo mana kok egak diantar?,biasanya izin pamit pulang " ujar Mama bingung saat melihat aku pulang sendirian.


"Ow,anu ma...ada urusan mendadak dia, titip salam katanya sama mama" Aku terpaksa berbohong tidak mungkin aku katakan yang sebenarnya pada Mama.


"Ow gitu" Balas Mama sambil berfikir dan kernyit dahi


Aku langsung kedalam kamar, kalau aku duduk nanti banyak pertanyaan mama lagi,aku malas kalau bohong terus rasa berdosa ini bisa kian bertambah.


Au baringkan tubuh aku diatas kasur, lelahnya memikirkan ini semua,aku pandang terus cincin emas yang diberikan Dodo,aku jadi merasa bersalah pada Dodo.


----------------------------------------------------------

__ADS_1


Hari ini hari senin aku mandi dan bergegas pergi kesekolah,sesampai disekolah seperti biasanya aku bergabung dengan Indar dan Merry.


"Cieee yang ultah dapat cincin,cemana sukses,sudah bisa suka sama Dodo?" ujar Indar sembari duduk dikursi kelas.


"Kacau,aku ketemu mantan" jawab aku sambil merapikan buku-buku belajar diatas meja.


"Hah !... siapa?,Riandikah?,Anto ?? atau atau Wi....." Indar terhenti saat menyebutkan nama orang yang buat geger dikampung ini.


"Ya Wijaya " jawab aku sambil mendengus kesal.


"Ahk kok bisa dia tau kau jalan sama Dodo, dimana kalian jumpa ?" ucap Indar sembari merapikan kotak pensil.


"Pas aku nonton keyboard sama Dodo,kayak hantu dia bisa tau aku ada disitu,padahal tempat itu tersembunyi" jawab aku menatap tajam Indar.


"Lalu,dia bilang apa?" Indar pengen tau lebih dalam lagi.


"Panjang Ndar critanya,dia mohon aku cabut perkaranya kepolisi dan kami menikah " ucap aku sambil menopang kedua pipi.


"Alah jangan mau Yun,kiralah kau menikah dengan dia,nanti pas menikah dia kawin lagi sama cewek lain atau kau dipukuli,ih serem pacaran saja udah nampak aslinya sama kamu,kenapa udah gini jadi buron polisi baru dia mau bertanggung jawab?" Sambung Merry tidak setuju.


"Ahk pusinglah kawan,entar jam istirahat kita sambung lagi" Balas aku sambil berfikir.


Kami masih pada jam pelajaran,Wali kelas memanggil aku dan berbicara.


"Yun ada yang cari kamu,sana temui bentar" wali kelas saat didepan pintu.


Aku berfikir keras siapa yang mencari aku saat jam pelajaran begini,tidak biasanya, teman-teman juga merasa heran,lalu aku mendekati wali kelas saat dipintu kelas.


"Siapa bu? " jawab aku heran sembari melihat kanan kiri.


"Ibu enggk tau,orang tua laki laki " jawab Wali kelas sambil menunjuk arah gerbang sekolah.


"Hah tubang mana lagi yang naksir aku !" Gumam aku jadi heran.


Aku berjalan mendekati bapak ituyang sedang berdiri didepan gerbang sekolah,aku tidak kenal siapa dia, tapi dengan rasa penasaran aku mendekati lelaki tua tersebut,lelaki itu tersenyum ramah disaat aku sudah didepan dia.


"Yunita " Ucap pria tua itu yang pantas aku panggil kakek.


"Eh iya kek,ada apa ya ?" Jawab aku sembari garuk kepala walau tak merasa gatal.


Kakek itu mengajak aku duduk sebentar disamping sekolah, karena ada hal yang penting yang iya ingin sampaikan padaku.


"Perkenalkan saya bapak nya Wijaya " ujar kakek yang duduk disebelah aku.


Aku jadi panik dan takut tetapi aku masih aman karena ini berada didalam sekolah,walau aku terkejut ternyata dia ayah Wijaya aku berusaha tenang.


"Oh... iya nya,ada apa ya pak ?" ucap aku berusaha tenang padahal jantung ini mau copot.


"Ndok bapak minta tolong kamu menikah sama Wijaya,kami sekeluarga sudah tau dan setuju,besok malam kami kerumah kamu ya ndok,buat lamar Yunita,tolong Ndok Wijaya memang nakal tapi dia sebenarnya baik,


" seeerr"


Aku kasihan melihat lelaki tua itu menangis,rasa iba ini datang,apalagi aku melihat sepeda tua yang iya kayuh demi bertemu dengan aku,padahal kampung sebelah jauh menuju sekolah ini.


"Gimana ndok ?, maukan jadi mantu bapak?" ucap lelaki tua renta ini sembari pasang wajah memelas.


Aku juga melihat jemari lelaki tua ini tremor dengan gemetarnya membuat aku semakin kasihan,aku tidak menjawab hanya angguk kepala saja.


"Artinya mau kan dok?" Ucap lelaki itu sambil berharap kepada aku.


"Ya kek" Jawab aku sambil mengusap air mata ini.


"Alhamdulilah...makasih ya ndok,bapak pulang dulu menyiapkan lamaran,lusa bapak datang ya ndok " ucap lelaki tua tersebut sembari megang kepala aku.


"Iya pak " jawab aku sambil berdiri dari duduk.


Lelaki tua itu pulang dengan gembira


aku tidak tega,mungkin dia lah memang jodoh aku,aku coba terima lagi biarlah kalau memang berjodoh dengan Wijaya dia yang menodai khormatan aku,harus dia yang bertanggung jawab bukan pria lain.


Aku berjalan kekelas dengan seribu tanya,apa yang terjadi nanti jika keluarga Wijaya datang melamar aku.Sampai didalam kelas aku duduk dan melihat teman-teman yang sudah penasaran pada aku.


"Siapa Yun yang datang tadi? " bisik Indar pada aku,takut kedengaran wali kelas.


"Bapaknya wijaya,pusing aku" jawab aku sambil mendengus pelan.


"Hah masa,untuk apa ?" jawab Indar terkejut.


Aku menceritakan kejadian tadi sama Indar,teman-teman yang lain jadi geleng kepala, saat aku menceritakan lelaki tua itu menangis mereka jadi iba juga,ternyata bukan aku saja.


"Kasihan ya Yun,pasti bapak itu capek ngayuh sepeda demi untuk jumpa sama kamu,jauh lho kampung bawah sana " Indar jadi perihatin dan geleng kepala.


"Entah lah Ndar,aku jadi bimbang,aku trima saja Ndar,mungkin memang jodoh aku,aku sudah pasrah " jawab aku sambil menatap sendu Indar.


"Ya sudahlah kau tunggu saja keluarganya datang lusa,apa jawaban dari keluarga kamu " ucap Indar.


"Iya Ndar kita lihat aja "


Sepulang sekolah seperti biasa,kaki ini serasa berat melangkah untuk pulang kerumah,aku jadi bimbang karena memikirkan keluarga Wijaya.Sesampai didepan rumah aku melihat Pak Rahmat sang polisi yang mengurus kasus aku.


"Eh Yunita sudah pulang" ucap pak Rahmat yang melihat aku melepas sepatu sekolah.


"Iya capek pak baru jalan,Yunita kekamar dulu ya" jawab aku sembari melewati ruang tamu,sedangkan pak Rahmat tersenyum ramah.


Sore harinya mama lagi duduk sendiri diruang tamu,sedangkan ayah pergi keluar ada urusan,aku berani kan diri berbicara sama mama.

__ADS_1


"Mak Yun mau bi-bilang sesuatu" Aku takut dan ngeri tapi hasrat ini tetap ingin bicara.


"Ngomong saja,mau bilang apa !" Jawab Mama sambil matanya fokus ketelevisi.


"Cabut sajalah tuntutan itu mak,nikah saja aku sama dia, dia yang buat aku jadi begini biarlah dia yang tanggung jawab" Aku tertunduk sambil berdiri walau hati ini tak tenang.


"Apa !!,sudah rusak bibir kau itu?,kau enak saja bicara begitu,mama disini malu kau buat enak saja,enggak sekali enggak ya tetap enggak " ketus mama sambil melotot pada aku.


"Ini lah mama, selalu saja keras juga,sama Anto mama enggak kasih,sama dia sekarang mama enggak suka,kalau aku sama dia nikah tetangga mau cakap apa karena dia yang buat jadi rasa malu akan hilang ma,terserahlah kalau mama tidak suka" Jawab aku sembari berjalan kedalam kamar.


"Brakkkkkk "


Pintu kamar aku tutup dengan kasar karena kesal,aku menangis tersedu-sedu sambil berbaring diatas kasur.


"Pokok nya aku tidak setuju !!" Teriak wanita setengah baya itu saat diruang tamu.


----------------------------------------------------------------------


Hari ini akhirnya datang juga,hari yang dijanjikan bapak Wijaya untuk melamar aku,sepulang sekolah sampai dirumah aku jadi keaal dan emosi tapi aku tahan saja.


"Nanti malam kalau ada yang datang,kau didalam kamar saja,jangan keluar- keluar " ucap Mama dengan ketus dan marah.


Aku diam saja,ya allah sepertinya keluarga aku sudah tau kalau keluarga Wijaya akan datang hari ini.


Malam hari telah tiba,aku yang berada didalam kamar mendengar ucapan mama yang ketus dan kasar kepada keluarga Wijaya, sedangkan pihak keluarga Wijaya bicara dengan lembut dan bersahaja.


"Intinya kami tidak setuju anak kami dengan anak kalian ! " ucap Mama dengan ketus sekali.


"Tapi kemarin aku tanya anaknya dua sudah mau setuju lagi dek,coba sini Yunita suruh kemari,tanya Yunita pasti iya mau" ucap Bapak Wijaya dengan lemas.


"Enggak,dia tidak mau dia anak labil,tolong kami tetap tidak setuju " ucap Mama dengan tegas.


Ingin sekali aku keluar dan mengucapkan kata "Iya",tapi aku tak berdaya karena pintu kamar dikunci mama dari luar,aku hanya bisa menangis dan mendengar mereka diruang tamu.


"tega nya simama,aib ini tidak akan selesai kalau aku tidak menikah dengan Wijaya, kenapa keluarga aku keras sekali,aku rela menikah dari pada aib ini terus menjadi momok bagi kami" Gumam aku sambil geleng kepala dan menangis.


keluarga Wiaya pulang dengan tangan kosong,pasti mereka sangat kecewa dengan kerasnya fikiran mama,padahal ayah sudah pasrah saja kalau memang ini jalan terbaik.


----------------------------------------------------------------


Esok harinya aku tetap sekolah walau hati kacau balau,mata aku sepet dan bengkak


tidak bisa tidur karena kejadian tadi malam.


Diperjalanan menuju sekolah aku bertemu Indar,jadi kami berangkat sekolah bersama-sama.


"Kenapa wajah kamu itu kayak orang banyak utang?,oh ia kayak mana lamarannya jadi ?" ucap Indar sembari berjalan.


"Gagal dan hancur,aku saja ini kurang tidur aku males kekelas" jawab aku sambil mendengus kesal.


"Aih kenapa ...,mama kamu enggak setuju?" Indar kernyit dahi.


Aku menceritakan smuanya denga indar,dia sangat terkejut dan sembari berfikir saat mendengar keluh kesah aku.


"Sabar Yun mungkin tidak jodoh sikumbamg desa sama bunga desa " jawab Indar ingin hibur aku.


"Kampretlah kau,bisa- bisanya bercanda " jawab aku jadi manyun.


"Ayok tempat bolek lontong,kedalam rumahnya kita merokok kutemani pun kau, biar stres kamu berkurang " ucap Indar sambil berbelok arah.


"Ahk kita mau masuk kelas dodol " jawab aku tidak amu cabut sekolah.


"Bolosss sekali ini saja ...!, ayokk " ucap Indar sembari menarik jemari aku.


Kami bolos sekolah untuk sath hari ini saja, sebenarnya kami belum pernah bolos sih tetapi karena rasa malas ini terjadilah hal yang tidak kami fikirkan sebelum nya.


Saat jam istirahat sekolah kami lari sembunyi dibelakang biar jangan terlihat ,takut ada murid yang ngadu kalau kami bolos sekolah.


Aku dan Indar melihat Merry duduk sambil jajan didepan.


"Psst ssst Mer , Mer "


Panggil Indar saat melihat Merry hang lagi asyik makan lontong sayur.


Merry terkejut dan langsung berjalan ketempag kami berdua dibelakang rumah.


"Wah gila kalian dua,bolos disini" Jawab Merry sedikit kesal dan geleng kepala.


"Pssst suara kamu nanti dengar Rafa,aku takut dia marah nanti " jawab Indar menutup mulut Mery.


"Kenapa kalian boloss?,baru ini ku lihat !" tanya Merry mengecilkan volume suara.


"SiYunita stres, gara-gara cerita semalam" Jawab Indar yang sudah duduk disamping aku.


Kami menceritakan juga tentang kejadian tadi malam Merry hanya tercengang saja,Merry jadi nyantol tidak masuk kekelas juga,acara bolos jadi seru kami bertiga kumpul terus dibelakang.


Tiba-tiba ada yang datang kebelakangdengan tolak pinggang.


"Ckckckc hebat-hebat kalian bolos,biasanya anak cowok yang bandel ini terbalik " Rafa memegang pundak Indar.


"Heeheh sekali ini saja sayang,maaf besok tidak lagi,anu kami bosen sayang " jawab Indar jadi salah tingkah.


"Hem kalau gitu aku juga ikut,aling-paling guru yang kemari " sambung Rafa jadi ikutan duduk.


"Oaleh sayang , baru kali ini saja " Indar kesal dan buang muka.

__ADS_1


kami akhirnya jadi berempat bercanda ria dan bertukar fikiran walau sebenarnya tak bermutu, tapi bagi kamo kebersamaan ini sangat buat aku bahagia karena teman-teman selalu ada dikala aku pusing dan bosan.


__ADS_2