
*Sebulan kemudian*
Pacaran aku dan Raju berlangsung sampai saat ini,Raju bersabar terus membuat aku bangkit dari belenggu cinta Almarhum Raja,secara perlahan aku mulai nyaman dan bergetar bila berkencan dengan Raju.Sepertinya Raju berhasil menggaet hati aku secara perlahan.
Raja terus membawa aku tour kemana-mana dari pantai,danau dan kebun binatang,ternyata aku baru tau pacaran bukan sekedar kencan saja tetapi bisa bahagia dengan cara lain seperti jalan-jalan ketempat romantis misalnya.
Malam ini aku menunggu Raju didepan persimpangan yang tidak begitu jauh dari rumah aku,aku berdiri sendirian menunggu pria romantis tersebut.Aku mendengar suara motor Raju dari arah kanan menuju persimpangan.
"Beb nunggu kelamaan ya?,maaf sayang tadi abang mengantar pelatih dulu" Kata Raju dengan Wajah memelas.
"Sudah tidak apa beb"
Aku tidak kesal malah naik keatas motor Raju tanpa kata lain lagi.
Motor Raju berjalan terus tanpa tujuan,teman lain mungkin pada kencan aku tidak mau gabung mengganggu Indar dan teman lainnnya.
"Beb bingung kita mau kemana nih,kamu diajak makan enggak mau" Kata Raju sambil Fokus membawa motor.
"Hemm..,selama ini beb tinggal didalam mes kebun, asli orang mana beb?" Aku malah mengajak ngobrol tidak menjawab pertanyaan Raju.
"Asli kalimantan sayang"
Jawab Raju membawa motor tanpa tujuan pasti.
"Bah..Beb orang dayak?"
Aku terkejut dan kernyit dahi.
"Tebak saja sendiri sayang,kalau suku dayak emangnya kenapa?" Sambung Raju nyengir sendiri.
"Tidak apa sih beb,soal jauh betul dari sumatera" Kata aku dengan kernyit dahi.
"Kami baik-baik kok sayang enggak makan orang,oh iya gimana kalau kita main kerumah Mes aku aja ya,beb belum taukan?" Ide Raju muncul begitu saja.
"Entar ada pelatih kamu beb,aku takut kamu kena marah" Sahut aku jadi takut.
"Disana cuma ada pemain bola lain termaksud Yoga,kalau pelatih pulang kerumah bersama istirnya" Jawab Raju sambil membelokan motor kearea rumah Mes perkebunan.
"Lagian kayak nya malam ini sepi,teman lain pada tanding keluar kota beb" Sambung Raju lagi.
"Oh gitu"
Aku menjawab sekedar,sebenarnya aku penasaran seperti apa Rumah Mes kebun tersebut,aku pernah lihat dari luar saja sewaktu lewat karena searah dari stadion bola.
"Beb kok serem ya ?"
Dibelakang Mes terletak kamar-kamar berderet berjumlah sedikit, sedangkan didepannya rumah panggung kuno.
"Ini mes kata pelatih peninggalan belanda dulu,tapi kalau ada yang rusak diperbaiki"
Jawab Raju berjalan keliling area Mes tersebut.
"Kamar Beb yang mana?"
Aku penasaran letak kamar Raju karena bangunan rumah ini semua sama,hanya rumah panggung depan saja yang beda.Pohon-pohon berdiri tidak beraturan meninggalkan hawa mistis.Apalagi aku melihat pohon roda berdiri besar sekali.
Raju membuka pintu kamar yang terletak dipinggir,aku barengan masuk kedalam kamar Raju,kamar Raju sedikit berantakan tapi masih enak dipandang.
"Beb aku ganti baju ya !"
Raju membuka bajunya dengan gampang dihadapan aku.
Aku diam saja karena sudah pernah melihat lelaki bertelanjang dada,tapi saat Raju membuka baju dan membalikan badan kedepan aku mataku melotot,darah ini mendidih seketika.
"Roti sobeknya Tuhan,ideal betul"
Batin aku berkecamuk kagum dengan body Raju.
"Beb kok lihatnya gitu ?"
Raju mendekati aku padahal dia belum memakai baju.
"Be-beb body kamu"
Aku masih terkagum dan tak berkedip menatap Raju yang ada didepan aku berdiri,sementara aku duduk diatas kasur.
"Oh.. aku setiap pagi ngegym disini,tuh ada tempat fitnesnya dibelakang rumah ini"
Jawab Raju dengan tersenyum manis.
"Pantes badan beb keras"
Jawab aku dengan tersenyum malu lalu buang muka.
"Anunya juga keras beb"
Kata Raju dengan nyeplos.
"He m gatall"
Sahut aku jadi malu karena Raju tidak tau malu.
"Becanda ya,jangan negatif"
Kata Raju sembari membuka lemari pakaian.
Pandangan aku tidak lepas melihat punggung Raju yang kekar dan berotot,Raju melirik cermin melihat aku dari cermin,Raju membalikan badan dengan cepat.
"Dari tadi lihat-lihat,mikir mesum ya"
Raju mendekati aku karena tidak tahan dengan tatapan aku.
"Gatal"
Hanya kata itu saat Raju mulai menatap mesum aku.Aku sentuh dada Raju saat dihadapan jantung itu aku rasakan berdetak kencang didalam sana.
Raju duduk dibawah kasur sedangkan aku diatas kasur,kami saling memandang lama,
aku lebih leluasa melihat Wajah Raju,alisnya sangat tebal seperti memakai pensil alis,bulu
matanya panjang,dagu itu berbelah dalam.Aku terpesona dan tidak tahan melihat Wajah Raju yang berjarak dua inci saja dari wajah aku.
Darah aku mendidih hati ini mulai bergetar saat Raju mencumbui aku.
"Beb kau menggoda aku"
Kata aku yang lebih dulu menyudahi ciuman kami.
"Siapa yang lihat-lihat dengan mesum tadi"
Raju meniup telinga aku sehingga aku bergidik geli.
"Hemm maaf "
Aku memukul-mukul kecil dada bidang Raju yang lebar padahal dia belum pakai baju sama sekali.
Aku mulai bercumbu dengan Raju,aku dan Raju seperti dirasuki setan percumbuan kami jadi kelewat batas,akhirnya aku dan Raju melakukan permainan itu,Raju sangat lihai seperti pemain film mesum,berbagai gaya iya lakukan aku seperti diajari cara-cara itu.
Sudah lama aku tidak melakukan hal itu,baru kali ini dengan Raju mendapatkan adegan yang luar biasa,aku sampai terkulai layu tidal berdaya saat hasrat kami berdua telah selesai.
"Beb enggak marahkan,kalau mau marah tampar aja aku" Kata Raju sembari menatap Wajah aku yang penuh keringat.
"Aku enggak marah kita sama-sama suka,tapi sakit beb,besar sekali" Kata aku mengigit bibir bawah.
"Maaf sayang,mang segitu ukuran aku"
Raju nyengir saja dan terduduk dari baringan.
"Iya tidak apa"
Aku juga ikutan duduk disamping Raju sembari merangkul Raju dari samping.
Selesai begituan entah kenapa otak dan pikiran ini melihat bayangan seseorang.Aku jadi menangis dengan tergesa-gesa aku memakai baju.
"Atar aku pulang"
Kata aku dengan berurai air mata.
"Kenapa cintaku,aku salah apa?,kok kamu marah?" Raju heran dengan cepat juga memakai pakaian.
"Cepat antarkan aku pulang"
Ketus aku berjalan sembari membuka pintu kamar Raju.
Diatas motor kami diam membisu tidak ada kata yang terucap dari bibir kami berdua,Raju berfikir keras kenapa aku tiba-tiba marah sehabis gituan.
Sampai dihalaman rumah tanpa pamit aku turun dari atas motor Raju,lalu aku berjalan masuk kedalam rumah tanpa melihat Wajah Raju yang bingung karena tingkah aneh aku.
Aku langsung masuk kedalam kamar lalu aku bersujud didepan poto Raja,aku merasa bersalah telah mengkhianati Raja.
"Maafkan aku bang,maaf....maaf"
__ADS_1
Aku masih sujud menangis merasa bersalah sekali kepada Raja.
Tubuh ini lelah karena berbagai gaya dilakulan Raju kepada aku,aku geleng kepala diatas kasur,aku menyesal memberikan tubuh ini kepada Raju.
---------------------------------------------------------------------
*Esok Hari*
Pagi hari aku terbodoh didalam kamar,aku lagi malas untuk keluar kamar,aku mengurung diri didalam kamar,pikir demi pikir aku ini bodoh kenapa aku tidak pamit tadi malam dengan Raju.
"Bodoh kau Yunita,kasihan Raju diakan sudah berusaha buat kamu bahagia,kenapa kau rusak" Gumam aku sendirian yang lagi berbaring diatas kasur.
Siang hari saat aku keluar dari kamar mandi,teman-teman datang bermain,Wati dan Indar menghampiri aku.
"Yunita"
Wati tolak pinggang menatap aku lama.
"Kenapa sih? "
Aku heran kenapa Wati bertolak pinggang.
"Ngendok aja kau dirumah,lupa janji sama kami" Kata Wati dengan kernyit dahi.
"Duh maaf Wat lupa,lagian aku enggak enak badan" Jawab aku sambil teringat janjian bersama Wati dan Indar.
"Kau juga dicariin sama pacarmu"
Sambung Wati lagi dengan wajah serius.
"Pasti Raju"
Aku menebak dan berfikir bingung.
"Kau kenapa?,kalian bertengkar?"
Sambung Indar yang berdiri dibelakang Wati.
"Eng-enggak kok"
Jawab aku dengan canggung kepada kedua sahabat aku ini.
"Ayo kita temui dia"
Ajak Wati sembari berjalan keruang tamu dibarengi aku dan Indar.
Awalanya aku malas menemui Raju,tapi kedua sahabat ini memaksa aku jadi ikut saja kemauan mereka,kami bertiga naik motor meluncur kestadion dimana Raju dengan termenung duduk menunggu kedatangan aku.
Dari kejahuan Indar melihat Raju memakai kaos ketat dan celana jeans terpancar aura segar ketampanan yang Raju punya.
"Gitu strong dan gantengnya kau masih cuek sama dia?,kalau aku jadi kau pasti aku mau, salahnya dia enggak mau sama aku,maunya sama kau,pemain bola lagi" Ucap Indar masih diatas motor bersama aku dan Wati.
"Jangan bodoh Yun,Raju baik orangnya enggak kalah sama mendiang,inget Yun masa depan kamu masih panjang" Sambung Wati yang Fokus membawa motor.
"Ahk bisa aja kalian !"
Sambung aku geleng kepala.
"Pergi sana dia udah nungguin kamu dari tadi, kasihan Yun " ucap Wati sembari menginjak pedal Rem motor.
Perlahan aku mendekati Raju,mata Raju memandang aku dengan sedih,Raju langsung turun dari atas motor,kini Raju sudah berada dihadapan aku.
"Beb maaf sayang aku khilaf tadi malam,aku janji tidak akan seperti itu" Raju dengan Wajah sedih berbicara.
Aku hanya diam tidak berkata apa-apa malahan aku memeluk Raju dengan erat,dari kejahuan Indar dan Wati melihat mereka tersenyum seperti turut senang dengan kebahagiaan aku dengan Raju.
"Aku udah mulai buka hati aku sayang sama kamu beb" Ucap aku dengan nyeplos membuat Raju senang dan tersenyum.
"Tapi janji jangan khianati aku sekalipun,kalau itu terjadi aku enggak akan memaafkan kamu" Sambung aku lagi dengan tetap memeluk Raju dengan erat.
"Ya beb janji,saya juga sangat cinta sama kamu" Raju membalas pelukanku.
Kami baikan kembali Raju tidak bertanya atau mencari tau kenapa aku tadi malam jadi marah,mungkin Raju tidak mau mencari keributan baru.
Tidak berapa lama Merry muncul dengan Yoga,sedangkan Indar dan Wati pamit sebentar. Raju menyuruh Yoga membeli aneka snack rasanya tidak lengkap kalau tidak ada jajanan.
Setelah Yoga pergi aku duduk berdua dengan Merry ditempat biasa,Raju berdiri dari duduk karena sesak buang air kecil,Raju pamit kepada aku karena toilet tidak begitu jauh dari tempat nongkrong kami.
"Yun cowok kau ssmua kok ganteng-ganteng sih" Kata Merry sewaktu Raju pergi ketoilet.
"Eh Yoga juga manis lho"
Aku mengalihkan pembicaraan karena malas membahas soal pacar-pacar aku.
Kata Merry dengan tersenyum.
"Ahk enggak usah berlebihan Merr,Raju belum bisa nandingi sifat Raja,ya dalam kekuatan
Raju menang,tapi tidak sesempurna Raja yang mengajari aku dalam pelajaran,tengang beretitud yang baik,mudah-mudahan Raju seperti itu" Aku mulai berkhayal lagi.
"Hemmm Yun-Yun mereka orang berbeda Yun,intinya Raju sudah usaha buat kau bahagia" Merry geleng kepala dengan ucapan aku.
Ternyata dibelakang kami Raju sudah berdiri mendengarkan obrolan aku dan Merry,Raju merasa kecil hati karena aku selalu memuja Raja tanpa memperdulikan perasaan Raju.
"Beb aku mau tanya?"
Raju sudah berada dihadapan aku.
"Apa beb,kok mukanya gitu"
Aku melihat wajah masam Raju.
Merry pamit kekamar mandi mungkin hanya beralasan saja supaya kami bicara lepas berdua.
"Jujurlah sama aku !, kamu udah cintakan sama aku beb?" Raju menatap aku penuh sesal.
"Kok tiba-tiba kamu bertanya gitu,tadikan aku sudah bilang sama kamu beb,kenapa diulang lagi" Aku kernyit dahi dan bingung.
"Aku bisa minta tolong ! "
Balas Raju tanpa menatap aku seperti biasanya.
"Maksudnya?"
Aku bingung dengan ucapan Raju yang setengah-setengah ini.
"Tolong lupakanlah dia beb aku mohon,aku sekarang udah ada,kenapa kamu ingin samakan aku dengan dia" Ucap Raja dengan rasa kecewa.
"ini sudah kita bahas dari awal jadian,kamu jangan paksa aku untuk melupakan dia begitu saja,tolong ngerti aku dikit,kita udah jadian lalu melakukannya apa itu kurang sama kamu?" Ketus aku menatap Raju yang marah sekali.
"Buukk"
Raju meninju dinding tembok yang terletak disamping kami berdua,aku terkejut sekali karena baru kali ini Raju marah kepada aku.
"Dengarkan aku..!,aku memang udah sama kamu,aku udah miliki tubuh kamu tapi tidak hatimu Yunita,sampai kapan kau terus dibayang-bayangi dia hah !, sampai kapan aku begini terus Yunita, Jawab !!" Tegas Raju menatap serius kepada aku.
"Jangan membentak aku,Raja saja tidak pernah kasar sama aku,kau buat aku takut !!"
Ketus aku terpancing emosi,tidak terasa butiran air ini jatuh dikedua pipi aku.
"Halah Raja lagi Raja lagi,terus bicara soal dia dari pertama jadian kita,aku ini kau anggap apa?,sadar sayang aku beda dengan dia,kamu
lihat mata aku, lihat !!" Raju mencengkram kedua bahu aku.
"Aw sakit tau"
Aku menepis kedua lengan Raju tetapi tenaga Raju lebih kuat dari aku.
Raju melihat butiran air itu terus menetes dipelupuk mataku,apalagi bahu yang iya pegang dengan erat,Raju mengkontrol emosi dan melepaskan bahu Aku.
"Kau enggak tau beb rasanya jadi aku yang berusaha membuat kamu untuk lupa sama dia !,Sedikit saja kamu memikirkan perasaan aku" Nada Raju bicara normal kembali dan menatap sendu aku.
"Keterlaluan !,mulai saat ini aku tidak ingin melihat kau lagi !!" Emosi aku tidak terkontrol lagi,hati ini bercampur aduk antara dilema dan rasa kesal.
"Ow..itu mau kamu !!"
Raju emosi lagi dan mulai membendung air mata.
"Bukk"
Tangan kanan Raju meninju tembok untuk kedua kalinya,mungkin cara itu meluapkan emosi Raju.
"Tang-tangan kamu berdarah bodoh"
Aku melihat tetesan darah ditangan Raju,aku hendak melihat jemari itu tapi Raju menolak dan menepis lengan tanganku.
"Tangan ini memang sakit "
Kata Raju masih menahan air mata,terlihat jelas mata itu berkaca-kaca.
"Tapi ini lebih sakit dibandingkan tangan aku yang berdarah,aku bukan dia" Raja memukul Dadanya sendiri mungkin dia kecewa sekali dengan aku.
__ADS_1
Aku terdiam saja tidak bisa lagi berkata apa-apa,karena aku tidak bicara Raju jadi pergi dari hadapan aku,aku berdiri mematung lalu terduduk dibalik tembok dengan menangis terisak-isak,Ingin sekali aku mengejar Raju tapi aku marah karena Raju meminta aku melupakan Almarhum begitu saja.
Disaat aku menangis terlihat Indar berjalan kearah aku,aku terduduk lemas masih berfikir keras.
"Kenapanya !!, kenapa Raju pergi matanya basah,kalian bertengkar lagi ?" Indar duduk sembari menatap mata aku yang mulai bengkak akibat menangis.
"Entah aku yang salah"
Aku geleng kepala dan menangis lagi.
"Sebab apa Yun ?!,jelaskan sama aku"
Indar bingung dengan jawaban aku.
"Raju enggak mau dibanding-bandingkan,Raju mau aku melupakan Raja sepenuhnya,jujur aku belum bisa,perasaan aku bercabang"
Aku geleng kepala dan menangis histeris saat Indar memeluk aku.
"Yun-Yun aku sudah bilang tolong move on kasihan Raju,kau sedikit-sedikit cerita soal Alamarhum dia udah tenang Yum,enggak kau hargai perjuangan Raju selama ini,aku lihat perjuangan Raju dari awal sampai sekarang,kau tidak tau malam kemarin dia kena marah sama pelatih karena habis kencan sama kamu,dia bela-belain bawa kamu kepantai" Indar menatap aku dalam-dalam.
"Maaf Indar aku belum bisa,Raja masih mrnghantui aku,hati aku tetambat mati untuk Raja,aku mencintai Raja tolong ngertiin aku Imdar,aku mau pulang Hikss" Aku menangis sejadi-jadinya.
"Ya sudah kalau mau pulang"
Indar sedikit kecewa dengan aku,sebenarnya Indar mengerti dengan perasaan aku tetapi maksud Indar aku tidak mau berlarut didalam bayangan Raja.
"Wati...!!,Wati ....!!"
Indar berdiri dari jongkok dan kesal kepada aku.
Wati datang dan terkejut melihat aku yang seperti orang *****,Indar geleng kepala saja dan berwajah masam.
"Ganggu aja kau Ndar,lho kenapa Yunita?"
Wati heran dan bingung.
"Tanya sajalah sendiri aku bingung sama jalan pikiran dia,lama-lama sakit jiwa,antarkan dia mau pulang katanya" Indar memberikan kunci motor kepada Wati.
Wati mulai tau kenapa aku begini,Wati juga malas membahas panjang lebar,gadis kurus itu mengantarkan aku didepan rumah lalu pergi kembali menuju stadion.
Aku langsung masuk kedalam kamar aku bingung kenapa jadi begini.
---------------------------------------------------------------------
*Rumah Mes perkebunan*
Raju didalam kamar uring-uringan tidak menentu,sedangkan Yoga duduk santai membaca buku.
"kenapa muka kau angka sebelas aku lihat men?" Yoga menutup buku dan heran.
"Entahlah lagi malas ngomong"
Jawab Raju mendengus kesal.
Raju membuka lemari dan sibuk dengan pikiran Raju sendiri.Yoga berdiri dari duduknya dan heran melihat tingkah Raju.
"Kenapa kau kemasi baju-baju kamu,ada apa sih? kamu mau kemana,pertandingan kita lama lagi,aneh kamu" Yoga garuk kepala melihat Raju memasukan baju didalam koper.
"Aku mau pulang kekalimantan,malas disini"
Raja mengambil beberapa celana jeans dan meletakan didalam koper.
"Ingat Men kita dikontrak disini,mau kau membayar dendan,lagian jadwal pertandingan sebentar lagi" Ujar Yoga kernyit dahi.
Yoga melihat tangan Raju yang terluka,Yoga geleng kepala menebak kenapa Raju begitu.
"Pasti Yunita...tangan kamu kenapa men?"
Yoga bicara lagi dan melihat jemari kanan Raju.
"Bukan urusan kamu"
Raju menarik jemari saat dipegang Yoga.
Disaat Raju sudah siap pergi Yoga mencegah Raju saat membuka pintu kamar,mendengar keributan pelatih datang menemui Yoga dan Raju yang berada didalam kamar.
"kalau kau mau putuskan kontrak ini, kau kena denda nak, tahanlah sebentar empat kali pertandingan lagi kontrak kamu selesai"
Ujar pelatih saat melihat Raju berdiri sembari memegang koper.
"Alah Raju sama sejenis kau kejam sadis,ketemu cinta hati jadi tingky wingky" Sambung Yoga mencibir Raju dengan kesal.
"Hem..masalah hati rupanya,pikirlanlah nak"
Kata pelatih sambil menepuk bahu Raju.
Pelatih pergi meninggalkan Raju dan Yoga,Yoga mendekati Raju yang terdiam tanpa kata.
"Obati tangan kamu itu,dasar lemah"
Kata Yoga setelah itu berjalan meninggalkan kamar Raju.
Raju menghempaskan tubuh diatas kasur,Raju melihat langit-langit diatas kamar sembari berfikir keras.
"ahk entah kenapa aku bisa gila sama gadis seperti dia,padahal aku dulu playboy,aku akan buktikan kejantanan aku lihat saja Yunita kau akan tau perasaan sakit ini" Gumam gerutu sendiri Raju didalam kamar.
------------------------------------------------------------------------
*Esok Hari*
Aku lagi santai duduk mama datang menghampiri aku dengan membawa rantang.
"Yun antarkan dulu rantang ini ke rumah sebelah" Kata Mama yang sudah berdiri dihadapan aku.
"Iya mak"
Aku bangkit berdiri dan mengambil rantang dari tangan mama,aku berjalan menuju sebelah rumah
Setelah itu aku kembali berjalan kedalam rumah, aku lihat piring kotor menumpuk didapur lalu aku mencuci piring membantu mama.
"Hemm enggak biasanya kau baik hati cuci piring,biasanya disuruh baru mau" Mama lagi ngupas bawan duduk dilantai dapur.
"Mama ini lho orang niat bantu malah diledekin" Jawab aku sembari mencuci piring.
"Hem...bandalnya kau jawab aja kalau dibilang" sambung Mama geleng kepala,aku diam saja malas bicara lagi.
Pusing mmemikirkan cinta-cintaan lebih baik aku sibuk membantu mama,selesai mencuci piring aku strika baju satu ember yang terletak digudang belakang.
Entah kenapa siang ini Wati dan Indar tidak main kerumah,aku heran sambil berfikir biasanya mereka sudah nongol dipintu kamar aku.
"Mereka marah mungkin karena ulah aku semalam" Aku menarik nafas panjang dan berfikir.
Sore hari teman-teman tidak muncul juga kerumah aku,aku jadi bingung dan mengurung diri didalam kamar,aku dekap poto Alamarhum sambil berbaring.
"Sayang apa aku egois ya?,haruskah aku berhenti memikirkan kamu?,aku udah ikhlaskan kepergian kamu,tapi aku belum bisa lupakan kenangan kita Raja,tolong tunjukan jalan apa aku bisa mencintai Raju seperti aku mencintai kamu" Aku elus poto Alamrhum dengan berfikir keras.
Aku memejamkan mata dan merenung soal perjuangan Raju selama ini,aku berfikir keras menghadapa kedepan.
"Sayangku Raja maaf ya mungkin aku harus keluar dari belenggu kamu,aku ingin bebas sayang...Hiks" Aku mengusap air mata dan kecup bingkai yang beisikan poto Raja.
Aku berniat meminta maaf kepada Raju,aku dengan semangat berfikir untuk menemui Raju,aku berniat juga menemui Indar supaya bisa ketemu Raju.
Selesai mandi aku berhias diri diepan cermin, dengan secantik mungkin aku memakai bando dan menggerai rambut panjang ini.
Selama ini saat kencan hiasan aku biasa saja,kali ini aku berhias habis-habisan dan berharap Indar dapat membantu aku.
Aku sengaja duduk didepan jalan karena aku tau sore begini Wati pasti berjalan melewati Rumah aku.Satu jam aku diteras seperti orang gila sendirian,bedak ini mulai luntur aku berhias lagi didepan cermin.
Setelah aku keluar dari dalam kamar,dari jendela aku melihat Wati dan Indar melintas,dengan cepat aku berlair keluar halaman memanggil mereka.
"Woi kampret"
Tangan aku melambai padahal Indar dan Wati belum jauh dari rumah aku.
Indar menoleh kebelakang melihat aku berdiri menunggu mereka,terlihat Wati membelokan motor berbalik arah menuju halaman rumah aku.
"Wah cantik kali kau hari ini Yun"
Wati kagum saat melihat aku berhias habis-habisan.
"Mau kemana kau?,emang ada acara?"
Tanya Indar yang tidak biasa melihat aku berhias seperti dulu.
"Eh kalian dari mana?,sombong kali dari tadi enggak kerumah aku,aku suntuk bosen"
Kata aku tidak menjawab pertanyaan mereka.
"Kami tadi mau kerumah kau,tapi tidak jadi nih Mama Indar minta belikan mie lidi kekampung atas" Tutur Wati hembus nafas panjang.
"Iya Yun,kami belanja dulu nanti datang lagi jemput kau masih jam empat sore lho" Sambung Indar dengan tersenyum.
__ADS_1
"Ok..Hati-hati kalian"
Jawab aku sambil melihat Wati dan Indar pergi menuju kampung atas.