
Saat aku terbangun siang hari,aku mendengar suara-suara anak indekos yang didalam kamar bawah.Terutama suara Juna yang paling menggema terdengar dari kamar lantai atas dimana tempat aku beristirahat.
"Kuatnya suara brondong jelek ini"
Gumam aku saat berbaring diatas kasur.
Merasa terganggu dengan suara Juna aku berniat turun dari lantai atas menuju kamar lantai bawah,aku menuruni satu persatu anak tangga menuju kamar bawah dengan diam-diam tanpa suara sedikitpun.
"Baaaaaa !!"
Teriak aku seperti anak kecil sewaktu berdiri didepan kamar linda lantai bawah.
"Ah bikin spot jantung aja kau Mbak" ujar Linda yang terkejut.
Juna melihat aku sambil menundukkan kepala,sepertinya Juna malu bila bertemu muka dengan aku.
"Sudah makan Mbak?"
Kata Linda lagi saat melihat aku sudah duduk didekat pintu kamar.
"Belum dek,ini mau beli makan" Jawab aku sambil berdiri dari duduk.
"Biar Juna saja mbak yang beli makan"
Kata Linda lagi sembari senggol lengan Juna.
"Ah biar sajalah dia beli sendiri"
Bisik Juna kepada Linda dan Juna merasa malas kalau bertatap muka dengan aku.
Aku mendengar bisikan Juna kepada Linda walau samar aku masih bisa mengartikan suara samar Juna.
"Cih aku juga enggak sudi menyuruh kau membeli makan" Gumam aku sambil berjalan kedepan Ruko karena ingin pergi sendiri naik motor.
Aku tidak pamit kepada mereka dan aku pergi begitu saja berniat untuk membeli makan siang untuk diriku sendiri,setelah membeli makan aku bergerak lagi untuk pulang karena ingin makan dirumah saja.
------------------------------------------------------------------------
Hari demi hari aku tidak bertegur sapa dengan Juna,kalau aku datang masuk kedalam kamar Linda pasti Juna menjauh,semakin menjauh aku jadi penasaran apa mau pria ini.
Lalu Saat Hanzi datang hendak menemui aku wajah Juna berubah jadi masam dan aku dapat membaca expresi wajah cemburu Juna,bila iwan datang muka Juna juga masam,apa Juna sudah suka kepada aku?.
Hari ini juga aku dan Wendi ada janjian untuk bertemu dan kami ingin kencan didalam kamar aku saja.
"Sayang kamu menunggu terus dari tadi?"
Tanya Wendi sambil memeluk aku ketika kami sudah berduaan.
"Banyak cakap,urus saja tante kamu itu, jangan lagi datang sama aku,paham?".
Ketus aku karena masih kecewa kepada Wendi.
"Kok kamu berbeda dari yang kemarin?,aku sudah minta maaf sama kami lho"
Sambung Wendi dengan nada bersedih.
"buaakk"
Entah kenapa Wendi berubah menjadi serigala yang hendak memakan mangsanya,Wendi memukul keras pintu kamar aku.
"Apa !!,kau mau apa !!"
Ucap aku dengan lantang dan bertolak pinggang kepada Wendi.
"Kau pikir aku enggak tau pacar kau juga banyak disini hah !! " Balas Wendi dengan mata terbelalak karena sudah naik darah.
"Suka akulah,kau juga ada tante disana,jangan egois kau mau miliki aku sepenuhnya" Balas aku dengan nada kesal dan menatap nanar Wendi.
"Sini mana uang yang aku kasih mana?"
Tanya Wendi dengan murka sekali.
"Mau apa kau !,uang yang sudah kau beri sudah aku kirim kekampung !,tinggal didompet aku sejuta lagi" Ucap aku yang sudah terpancing emosi juga.
Dengan cepat Wendi merampas dompet yang ada ditangan aku,entah setan apa yang merasuki otak Wendi sehingga lembaran uang itu terbagi dua karena ulah tangan Wendi.
"Puas kau sobek-sobek uang terakhir aku?, keluar !!,keluat kau !!" Bentak aku dengan lantang dan mendorong tubuh Wendi keluar dari kamar aku.
"Cih,kau pacaran sama aku hanya uang sajakan?,lebih baik kita putus aku lebih nyaman sama tente Mira" ujar Wendi yang sudah diluar pintu kamar aku.
"Aku tidak sudi pacaran sama gigolo seperti kau !!,pergi sana jangan datang lagi kesini !" ketus aku dengan lantang.
"Aku juga enggak sudi pacaran sama janda" ucap Wendi dan beranjak pergi dari rumah kontrakan aku.
"Braaak"
Aku menutup pintu kamar dengan keras sekali dan aku berdiri terpaku dibalik pintu dengan hati pedih,butiran embun kini menetes dikedua kelopak mata aku,aku tidak menyesal berpisah dengan Wendi,yang aku kesalkan uang saku terakhir disobek Wendi dengan mudahnya.
"Dasar cina gila,mati saja kau sama tante kamu itu" Gumam aku sembari terduduk dipintu kamar sepi ini.
"Keterlaluan,karena mudah kau dapatkan uang enak saja sobek uang ini,cina sinting kau Wendi masih banyak orang yang bersusah payah mencari kertas ini" Ucap aku sendiri sembari memungut uang yang telah sobek berhamburan dibawah lantai.
"Pacaran cinta begini sudah enggak ada gunanya lagi,laki-laki mau dengan tubuh aku saja,aku benci kalian semua !" Tukas aku lagi melimpahkan kekesalan hati.
"Buaak"
Aku meninju pinti lemari pakaian supaya lega perasaan marah dan kecewa ini,tidak ada yang mau mengerti keadaan aku sekarang,aku sendirian saat ini ya Tuhan.
Ternyata keributan aku dan Wendi terdengar jelas sampai kelantai bawah,seseorang mengetuk pintu kamar aku.
"Mbak Yun kau kenapa?"
Suara peia dari luar pintu kamar aku.
Aku kenala suara dibalik pintu kamar aku dia adalah Yanto salah satu teman anak indekost aku,dengan langkah tertatuh dan malas aku membuka pintu kamar.
"Aku tidak apa-apa,aku kesal lihat Wendi uang semua yang ada didalam dompet dirobek Wendi" Ucap aku dengan kesal sekali.
"Gila....,ayo kita tukar uang ini mbak,masih bisa uang inu ditukar" Tukas Yanti melihat robekan uang diatas kasur tidur aku.
"Iya bisa ditukar sih,tapi seenak nya dia merobek uang,banyak orang susah mencari uang eh dia segampang itu robek uang ini" Kata aku dengan mendengus kesal.
Syukur Linda dan yang lainnya tidak ada didalam rumah ini apalagi Juna,kini aku dan Yanto pergi keluar untuk menukar uang yang sudah direbek Wendi tadi.
Memang benar uang robek bisa ditukar tetapi aku harus membayar sedikit karena aku menukarkan uang robek itu tidak dibank melainkan calo yang mengambil keuntungan dari uang robek tersebut.
Setelah menukar uang robek aku kembali pulang disaat aku hendak berbaring diatas kasur,suara dari bawah terdengar dan sepertinya linda dan teman-teman Linda sudah pulang dari bekerja.
Aku juga mendengar suara Juna lagi berbicara dengan Linda,entah kenapa Juna terus menjauh jika aku gabung kedalam kamar Linda,karena penasaran aku keluar dari kamar menuju lantai bawah.
Kini aku sudah didepan kamar Linda,entah angin apa aku menarik lengan Juna dengan paksa,pria tinggi ini menurut dan diam saja saat aku membawanya kelantai atas.
"Ada apa ya Mbak?"
Tanya Juna yang sedang berdiri didepan aku.
"Ssst janji kau enggak akan bocor?,kemarin semua anak indekost tau kalau aku mencium kamu tempo hari" Ucap aku yang menatap Juna dengan menggoda.
"Heheh maaf ya,aku keceplosan"
Balas Juna dengan cengar-cengir.
"Kamu aneh ya kalau aku mendekat kamu jaga jarak" Kata aku dengan kernyit dahi.
"Hemm..aku takut saja"
Jawab Juna yang berbicara tanpa melihat mata aku.
"Apa yang kau takutkan?"
Tanya aku lagi penasaran padahal kami dilorong lantai atas posisi didekat anak tangga.
"Eng-enggak,sudah ya mbak aku turun kebawah saja" ucap Juna dengan canggung dan pucat pasi.
Juna tergesa-gesa pergi meninggalkan aku tanpa kata lagi,aku kesal saja kenapa aku mendekat Juna langsung menjauh seakan-akan benci kepada aku.
"Cih sudah jelek sombong lagi,awas saja kau Juna suatu hari kau akan bertekuk lutut dihadapan aku" Gumam aku sendiri dengan kesal hati.
Malam hari Linda ajak aku untuk minum dikontrakan ini,Linda mencekoki Juna minuman keras sehingga Juna sedikit oleng alias mabuk,aku juga mulai oleng karena terlalu banyak minum.
Tidak berapa lama Linda dan teman lainnya terkapar mabuk diatas kasur,sedangkan aku menarik Juna kelantai atas,dengan pikiran licik aku berniat menggoda Juna didalam kamar aku.
"Untuk apa kita kedalam kamar mbak?"
Tukas Juna sedikit sadar dan duduk diatas kasur empuk.
"Diam saja,selama ini kau macam kucing aku kejar-kejar" Ucap aku yang sebenarnya penasaran dengan Juna.
"Aku bukan takut mbak karena pacar mbak banyak betul" ucap Juna memalingkan muka saat aku membuka pakaian.
"Satu sudah aku putuskan tau,kau diam saja"
Balas aku sembari menggoda Juna terus menerus.
__ADS_1
Aku dorong tubuh Juna hingga tergeletak diatas kasur empuk,aku cium sekujur area peka kepunyaan Juna,pemuda ini tidak berkutik dan menolak saat aku goda,kini Juna trrhanyut dalam buaian nafsu yang aku buat dan akhirnya aku dapat meraih perjaka Juna malam ini.
Selesai kelimaks juna dan aku tertidur diatas ranjang ini,hingga esok hari saat aku bangun dari tidur Juna sudah tidak ada lagi didalam kamar aku.
------------------------------------------------------------------------
Esok malamnya Hanzi datang main kekontrakan aku,aku sengaja bermesraan dengan Hanzi dan terlihat Juna dengan wajah masam melirik kemesraan aku bersama Hanzi.Kelihatannya sih Juna mulai mencintai aku.
Disaat aku dan Hanzi masuk kedalam kamar seketika Linda dan Juna datang entah apa mau mereka meminta gabung bersama aku dan Hanzi padahal kami ingin bermesraan.
"Juna mau lihat mbak,jadi kami kesini"
Bisik Linda kekuping aku ketika aku duduk disamping Hanzi.
"Duh"
Gumam aku menjadi panik apalagi posisi duduk Juna dihadapan aku,ketika Hanzi genggam jemari kanan aku disaat itu juga mata Juna memancarkan kesedihan.
Hanzi tidak tau kalau aku pernah bermain dengan Juna,wajar kalau Hanzi menunjukkan kemesraan didepan Linda dan Juna,aku merasa canggung apalagi Juna tidak hentinya melirik diriku.
"Rasakan kau Juna,kemarin kau sombong"
Batin aku sendiri merasa puas.
Hanzi terus mengajak bicara Linda dan Juna, sedangkan aku pura-pura biasa saja menikmati cemilan yang dibawa Hanzi dari luar.
"Sayang kamu kok diam saja?"
Tanya Hanzi sembari membelai rambut aku.
"Hem...kalian asyik ngobrol,aku mau bicara apa?" Balas aku dengan netral tanpa beban.
"Nanti kau cium ya,sekarang ada orang"
Kata Hanzi sembari belai pipi aku dengan mesra.
"Cium saja,anggap saja kami tidak ada"
Sambung Linda yang sudah mabuk karena minuman tuak yang dibawa Hanzi.
"Ciumnya lain dong"
Kata Hanzi dengan canda dan senyum lebar.
"Yuk kita kebawah Linda,entar ganggu orang ini,lagian aku sudah ngnatuk" Kata Juna dengan datar.
"Enggak ganggu kok,minuman kita belum habis" ujar Hanzi melihat minuman tuak ada setengah teko lagi.
"Sudah ko,aku sudah mabuk,enggak enak ganggu orang koko pacaran" Balas Juna dengan datar dan menarik paksa lengan Linda.
"Huh tadi minta gabung"
Ucap Linda menggerutu kesal.
"Aneh"
Gumam Hanzi dengan kernyit dahi dan berfikir keras.
"Cemburu saja bilang"
Ucap batin aku senang melihat reaksi Juna terlihat sekali.
------------------------------------------------------------------------
Keesokan harinya.
Cahaya bulan begitu terang memancarkan peson indah malam hari ini,taburan bintang diangkasa membuat nuansa indah malam yang begitu cerah,Ya aku duduk sendiri menikmati pesonanya cahaya bulan.
"Tok..tok..tok.."
Seseorang mengetuk pintu diluar kamar aku,dengan semangat aku membuka pintu ingin tau siapa yang datang.
"Mbak kami main ya kesini,kata Juna dia mau lihat mbak sebentar" Ucap Linda dengan senyum lebar.
"Buk-bukan gitu mbak,aku tidak ada bilang begitu kepada Linda" Sangkal Juna dengan wajah memerah nan malu.
"Masuklah"
Ucap aku dengan biasa saja.
Entah kenapa sejak kejadian aku memperkosa Juna,pemuda ini seperti ketagihan mencari aku,Juna mulai tersenyum dan terkadang berusaha mendekati aku terus menerus.
"Kenapa mau lihat aku mesti bawa teman,kamu bisa datang sendiri" Goda aku saat duduk disamping Linda.
" Kagak tau mbak,sedikit-sedikit cerita soal mbak,mau kesini malu kalau sendiri" sambung Linda dengan polosnya.
Linda anggukan kepala seraya mengerti maksud dan tujuan aku,sedangkan Juna diam kaku duduk didekat pintu kamar aku.
"Woi mau kemana kau,aku jangan ditinggal?"
Kata Juna dengan heran dan menarik lengan Linda saat berjalan dekat pintu kamar aku.
"Sebentar bro,kamu ngerti juga dong pacar aku sebentar lagi datang,kamu disini saja dulu" Balas Linda menampik jemari Juna.
"Jangan lama ya,awas kalau lama"
Kata Juna dengan wajah serius kepada Linda.
Linda hanya diam saja berjalan menuju lantai bawah,kini tinggal aku dan Juna diruangan ini,Juna sesekali melirik aku saja tanpa sekata apapun keluar dari mulut Juna.
"Sudah makan?"
Tanya aku memecah keheningan.
"Sud-sudah mbak"
Balas Juna dengan kaku dan risau.
"Jangan panggil mbak,panggil saja yang lain,lagian malam itu kita sudah melakukannya kan" Kata aku dengan polos tanpa beban.
"Eh iya"
Balas Juna jadi salah tingkah.
"Ini cowok pemalu atau munafik?,kaku gitu kalau berduaan dengan aku,duh jadi tambah penasaran hati ini" Batin aku sendiri saat menatap wajah Juna yang pucat.
------------------------------------------------------------------------
Hari demi hari aku jadi akrab dengan Juna,pemuda yang awalnya seperti merpati jika didekati kini mulai menempel seperti selayaknya perangko,memang Juna yang paling jelek diantar pacar-pacar aku tetapi entah kenapa aku suka menggoda Juna.
Sedangkan dengan Hanzi aku sudah jarang bertemu apalagi Iwan yang selalu menelfon malaj aku rijek,aku semakin banyak mengisi waktu bersama Juna.Linda Juga sudah pindah tempat karena ingin indekos ditempat lain.
Panas matahari sangat menyengat kulit siang hari ini,aku yang lagi santai didalam kamar sedang sendirian menikmati tiupan kipas angin didepan tempat tidur.
"Kluk kluk"
Suara ponsel blackberry aku berbunyi bertanda ada yang chating dan dengan cepat aku melihat siapa yang chating kepada aku.
"Sudah makan bunda?"
Ternyat chatingan Juna yang masuk.
"Enggak punya duit,jadi belum makan"
Aku membalas chatingan Juna dengan perkataan seperti itu dan membuat gambar emotion sedih.
"Sabar ya entar lagi aku datang"
Ucap Juna didalam cahtingan ponsel balckberry aku.
Aku meletakkan ponsel diatas kasur,sedangkan Ika duduk dilantai,Ika adalah adik angkat Linda yang iya tinggal dikontrakan ini,aku kasihan karena Ika lagi mengandung anak kekasihnya sendiri,tetapi sayang Kekasih Ika tidak mau bertanggung jawab jadi terpaksa Ika luntang lantung mencari tempat berteduh.
"Dek sudah bokek aku,mau makan saja susah malah tamu sepi" Ucap aku yang mulai mengeluh sembari pijat dahi.
"Sabar mbak,ini tanggal tua"
Sambung Ika yang sibuk merapikan baju aku dilemari pakaian.
Disaat mengobrol dengan Ika suara motor Juna terdengar dari luar kontrakan,dengan cepat Ika kelantai bawah untuk membuka pintu.
"Itu apa?"
Tanya aku ketika melihat Juna berjalan kedalam dapur.
"Ada ikan,sayuran juga ada,masak ini biar kita makan" Jawab Juna sembari meletakkan sayuran dan ikan mentah diatas meja makan.
"Duh baikknya,tau saja kalau aku lagi bokek" Jawab aku sembari mencet hidung Juna yang pesek.
"Masak sekarang Bunda"
Sambung Juna dengan tersenyum manis.
"Biar aku yang membersihkan sayuran ini"
__ADS_1
Kata Ika sembari membuka kantungan beisi sayuran mentah.
Aku jadi terharu oleh perbuatan Juna,entah mengapa disaat aku susah Juna selalu ada sedangkan pacar-pacar aku yang tampan entah kemana,ternyat modal tampan belum tentu membuat kita bahagia dan aku semakin ada rasa dengan perhatian Juna,walau wajah Juna tidak begitu tampan.
"Ya Allah kemana semua pacar aku?,malah cowok yang jelek ini terus berada disamping aku,kemana Juan?,kemana Hanzi?,Iwan?,Wendi juga sudah gila" Ucap aku didalam Hati menggerutu kesal.
Sekarang aku menyadari siapa yang tulus dengan aku,Hanzi atau yang lainnya hanya Nafsu doang dekat kepada aku,mereka semua mau tubuh aku saja sungguh terhina diri ini,malah pemuda yang berniat aku permainkan semakin dekat dan menunjukkan kebaikan didepan aku dialah Juna.
Juna semakin perhatian kepada aku,saat kerja aku diantar jemput olehnya terkadan badam kau dia pijat jikalau lagi sakit,intinya Juna banyak menebarkan kebaikan kepada aku,terkadang benar kata orang wajah jelek belum tentu hatinya juga jelek.
Aku terus diberikan cobaan hidup saat ini ketika kehilangan semua pacar aku,harta aku sedikit demi sedikit raib ada saja kejadian yang aku alami sepertinya Tuhan menegur aku,terkadang aku dijambret orang,kontrakan aku dibobol orang intinya satu persatu harta aku lenyap semua.
Kata orang uang yang dicari dengan jalan instant Tuhan akan mengambilnya kembali secara perlahan-lahan,kehidupan mewah yang pernah aku jalani kini sudah surut.
Hanya Juna yang menyokong aku dari belakang,memberikan suport buat aku supaya tegar,sedikit demi sedikit aku mulai sadar hasil jerih payah dari pekerjaan malam tidak diberkati Tuhan sifatnya memang sementara.
Didalam kamar ini aku dan Juna lagi duduk santai diatas kasur,sedangkan Ika sibuk dengan cucian yang iya rendam didalam kamar mandi.
"Bunda sudah lama kerja malam,entar lagi sudah habis kontrak rumah toko ini,bunda mau kemana lagi?" Tanya Juna sembari memijat lembut bahu aku.
"Aku cari indekos saja sayang,uang aku tidak ada lagi sambung kontrak rumah ini" Balas aku dengan wajah sedih.
"Setelah cari indekos,carilah kerja yang bagus nda,bunda jangan kerja malam lagi" Kata Juna sembari tersenyum kepada aku.
"Duh malah ceramah,ayo jalan-jalan bosen aku" Tukas aku sambil berdiri dari atas kasur.
"Gitu kalau dikasih tau yang benar,ya sudah jalan-jalan kerumah aku saja" Balas Juna sembari berjalan keluar kamar.
"Aku bedakan dulu"
Ucap aku sembari mendekati cermin untuk berhias diri.
Entah kenapa Juna membawa aku kerumah keluarganya sendiri,aku juga gila kenapa tidak menolak dengan ajakan Juna?.
Sekitar beberapa menit berlalu aku dan Juna sudah berada diatas motor,Ika juga minta ikut karena tidak mau ditinggal sendirian didalam kontrakan,motor Juna meluncur menuju jalanan karena rumah Juna tidak begitu jauh dari area kontrakan aku.
Aku melihat sebuah rumah sederhana berdiri rapat dengan rumah tetangga,lalu Juna berjalan menuju rumah tersebut yang ternyata rumah kontrakan ibunda Juna.
"Mama kamu tidak marah kalau bawa wanita kerumah ini?" Bisik aku kepada Juna saat berjalan masuk kedalam rumah Juna.
"Enggak marah,walau orangnya jutek dia baik kok" Kata Juna dengan tersenyum.
"Asal betul saja"
Kata aku dengan ragu dan takut masuk kedalam rumah Juna.
Kami disambut hangat dengan ibunda Juna dan kaka perempuan Juna,lalu kami disuguhkan teh hangat dan berbincang sedikit akrab.
Karena hari mulai gelap aku dan Juna serta Ika izin pamit untuk pulang,Juna juga pamit kepada ibundanya dengan alasan mengantar kami pulang kerumah.
Sesampai dikontrakan aku suara ponsel kepunyaan aku berdering,terlihat cahya memanggil sepertinya ada tamu.
"Siapa yang telfon?"
Tanya Juna penasaran sembari mendorong motor masuk kedalam kontrakan.
"Mbak cahya katanya ada tamu"
Jawab aku sembari berjalan barengan dengan Ika menuju lantai atas.
"Jangan kerja begitu lagi,aku mohon bunda" Tukas Juna dengan wajah bersedih.
"sabar dong yah,percaya saja sama aku,pelan-pelan aku pasti berhenti dari kerjaan ini" Balas aku dengan kesal dan membuka pintu kamar.
"Terserah kamu saja"
Kata Juna sembari hembus nafas panjang.
"Apalah aku ini hanya pacar,aku belum bisa punya uang untuk membahagiakan kamu" Batin Juna merasa kecil hati.
Juna terpaksa mengantarkan aku kerja,sesampai diparkiran karaoke aku turun dari atas motor kepunyaan Juna,lalu aku pamit kepada Juna untuk bekerja.
"Jangan macam-macam ya bunda"
Ucap Juna dengan nada bersedih.
"Iya janji aku,aku kerja dulu ya"
Ucap aku dengan tersenyum.
Segerombolan wanita malam lagi berdiri didepan pintu karaoke tersebut,ternyata aku jadi sorotan mereka ketika Juna mengantar kerja aku beberapa menit yang lalu.
"Yun itu pacar baru kamu?"
Tanya Lexa dengan kernyit dahi saat aku datang kepintu karaoke.
"Kenapa sama dia?"
Sahut aku yang mulai sibuk dengan rambut didepan cermin kecil yang aku bawa.
"Ennggak apa sih,aku terkejut saja sama kamu,aku lihat pacar kamu ganteng semua tapi yang ini enggak cocok sama kamu,jelek Yunita seperti pembantu kamu" Ucap Lexa dengan nyinyir dan geleng kepala.
"Cowok aku yang ganteng maunya diranjang semua,penghianat semua,biar Juna jelek tapi mau terima aku apa adanya,kau harus tau itu wajah ganteng belum tentu setia" Sambung aku dengan kesal.
"Benar tuh jaman sekarang cowok ganteng banyak tingkahnya,aku setuju dengan Yunita" Sambung Cahya dengan kernyit dahi.
"Iya-iya"
Ucap Lexa dengan tersenyum manis.
"Yuk pergi ,tamu kalian sudah lama menunggu diktv" Ajak Cahya dengan risau.
"Tunggu mbak,Lexa masuk saja duluan kedalam ktv,aku sakit perut" Tukas aku sembari berjalan menuju toilet.
"Ah jorok kau Yun,ayo Lexa"
Kata Chaya sembari mengantar Lexa kedalam Ktv satu.
Ada beberapa jam aku menemani tamu didalam ktv satu,setelah tamu memberi uang tips kami semua bubar keluar dari tempat karaoke tersebut.Ditempat parkir aku tidak menemukan Juna yang biasanya menjemput aku.
"Ngapai sih ini cowok?,dari tadi aku telfon aku cahting enggak ada jawaban" Gumam aku sembari berdiri ditempat parkiran.
Aku mencoba telfon nomor Juna tetapi tetap sama tidak ada respon sedikitpun,akhirnya aku menelfon nomor kepunyaan Ika.
"Hallo Ika,Juna kemana sih?,mbak sudah pulang kerja lho" Tukas aku dengan kesal sembari menelfon.
"Sepertinya dia ketiduran mbak,aku bangunkan dia mbak,sabar ya mbak tunggu disitu dulu" Balas Ika lalu menutup telfon.
"Argggh"
Gula darahku seketika naik karena Juna tidak muncul datang menjemput aku,aku sudah berjongkok didepan parkiran tidak perduli orang lain melihat tingkah aku yang sudah seperti orang gila.
Sorotan lampu sepeda motor menerangi parkiran karaoke,aku langsung berdiri dari jongkok karena motor tersebut berhenti didepan diriku.
"Lama banget,sudah karatab aku menunggu disini !!" Tukas aku kesal dengan ketus.
"Aku ketiduran nda,maaf ya"
Kata Juna dengan wajah merasa bersalah.
Dengan hati yang masih kesal aku naik keatas motor,Juna tidak tau sebenarnya aku malu jika jalan berdua dengan Juna,aku malu diejek teman seperti perkataan Lexa tadi ditempat karaoke tetapi perasaan malu itu sekarang aku tepis jauh-jauh,karena Juna berhak mendapatkan kebahagiaan dariku akibat kebaikan yang selalu iya tampilkan.
"Aku lapar"
Tukas aku yang masih kesal saat diatas motor.
"Iya nda,jangan merepet terus ya,aku tadi ketiduran" Tukas Juna yang fokus membawa motor.
"Akyu kyan kyetyiduryan lagyi"
Ucap aku dengan memonyongkan bibir dan bernada mengejek.
"Makin panjang ya"
Kata Juna saat menginjak pedal rem karena sudah sampai diwarung.
"Parah habis"
Kata aku sembari turun dari atas motor.
Juna parkirkan motor didepan warung dan aku berjalan mencari tempat duduk yang nyaman setelah itu Juna susul dari belakang.
"Mau makan apa nda?"
Tanya Juna saat duduk disamping aku.
"Mie goreng saja"
Ucap aku tanpa tersenyum.
"Nasi putih campur ikan,setiap hari mie,besok nasi goreng,makan itu yang benar entar sakit lagi perutnya gimana" Kata Juna dengan nyinyir.
"Terserah deh mau pesan makan apa"
__ADS_1
Kata aku dengan datar dan malas.
Begitulah kami setiap harinya,terkadang adu mulut dan terkadang adu pendapat tetapi aku sudah mulai nyaman jika berduaan dengan Juna, walaupun sebenarnya hati ini masih separuh sayang dengan Juna,karena separuh lagi masih ada Juan dihati aku.