Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 65


__ADS_3

Seminggu dikampung rasanya berat meninggalkan keluarga dan para sahabat aku,ya mau apalagi dibuat kalau memang harus aku pergi mencari pundi-pundi recehan dikampung orang.Hari ini aku ada jadwal show dikeyboard kampung sebelah.


Keyboard kampung sebelah paling terkenal dengan tarian ular,aku diberi tau bahwa akan melakoni tarian ular tersebut,sedikit terkejut sih tetapi mau gimana lagi memang inilah tuntutan pekerjaan aku,walau sedikit extrim aku upayakan sebisa mungkin.


Seseorang pria baya datang kerumah dan pamit kepada kedua orang tua aku,entah dari mana pria ini tau kalau aku seorang penyanyi.


"Yun kau bisakan menari alla ular?" ujar pria berprawakan hitam manis dan dia bos yang mempunyai keyboard tersebut.


"Ahk siap jangankan ular hidup,ular yang muntah enak saja aku tidak takut" Kata aku sembari tersenyum gurau.


"Hahahah mesum kau Yun"


Balas pria tersebut bernama Ewin.


Ewin pria hitam manis yang memiliki keyboard dan alat musik lainnya dia baik dan tidak ganjen seperti Yongki,aku jadi nyaman saat diajak oleh nya bergabung menyanyi.


Sekarang kami show dikampung pedalaman,


biduanita ada tiga dan aku salah satunya,aku


jadi dapat teman baru satu profesi dan mereka bernama Eka dan Rani.


"Yun,nanti malam kamu mesti hot ya !" ucap Eka saat berhadapan dengan cermin iya sangat sibuk dengan lipstiknya.


"Selow kau mbak,dipentas saja aku bisa hot apalagi sama pacar aku dikamar,heeheh" Jawab aku dengan cengengesan saat memakai baju manik-manik.


"Aih gawat,kau mesum ternyata" sambung Rani dengan menepuk dahi.


Mereka berdua lebih tua dari aku,sekitar dua tahun lebih diatas aku,entah kenapa aku paling kecil diantara usia mereka,tidak dengan Maya apalagi disini.


Aku bisa berkenalan dengan Ewin ketika aku kerja dengan Lolli saat bermain disungai wisata dahulu,ya kebetulan sekali aku mendapatkan pengalaman bisa manggung dikampung ini.


Ewin melihat cara aku bergoyang ala menikam mati,mungkin karena itu Ewin menawarkan aku menari dengan ular pyton,waduh sebenarnya inu pengalaman aku yang pertama sekali alias perdana.


"Yun bilangkan sama rodesnya suruh tuan rumah kasih jatah minum sama rokok kita, kok sedari tadi enggak datang-datang?" ucap Eka dengan kernyit dahi saat gadis ini duduk dibelakang panggung.


"Bawel betul kau,sabar kenapa sih,sini aku saja yang bilang" Tukas Rani lalu berdiri dari duduknya.


"Jo...Bejoo.. !!, tolong bilang sama tuan rumah Jo,enggak berbius ini" Teriak Rani melihat Bejo menyusun speaker keyboard.


"Bius cinta mau kau?"


Sambung Bejo merasa malas dengan celotehan Rani.


"Kampret,cepatlah udah sore ini nanti malam mau goyang" ucap Eka karena tidak sabar lagi.


"Ya..ya.. ya, bawel kalian semua Hem" Balas Bejo sembari berjalan masuk kedalam tuan rumah.


Tidak berapa lama tuan rumah menyediakan minuman dan rokok untuk kami,setelah itu show dimulai karena para undangan mulai berdatangan.


"Sudah datangkan?,coba kalian minum,aku mau lihat nanti malam goyang kalian paten apa enggak" ucap Bejo yang berprofesi sebagai rodes keyboard alias bantu-bantu angkat speaker.


"Hahah jo,jo,selowlah kau,kau saja nanti bisa aku goyang merem melek matamu itu" Tukas aku dengan mantap hati.


"Ayo nanti malam kita buktikan" sambung Bejo dengan merasa tertantang.


"Hahhaah"


Eka dan Rani tertawa renyah.


Sore ini kami show dengan semaksimal mungkin hingga azan maghrib menjelang,kami semua bergegas ganti kostum dan berhias semenor mungkin.


Setelah maghrib usai musik keyboard mengalun lagi bertanda acara akan dimulai,terlihat Ewin membawa peti kebelakang panggung.


"Woi ini ularnya ganti kulit ya pasti dia sensitif kalau disentuh,mulut sudah aku isolasi ya"


Ucap Ewin sambil membuka peti yang iya bawa.


"Ahk bau amis bos"


Tukas Eka merasa jijik padahal dia yang sebelumnya menari ular.


"Hahahaah,cobaan itu,aku juga takut"


sambung Rani tertawa renyah dan menolak halus.


"Yun kamu saja yang show,orang ini takut kali ini aku pecayakan ular ini sama kamu Yun" Tukas Ewin sambil memegang ular beharap aku mau.


"Huh ujung-ujungnya aku jadi tumbal,baiklah sini-sini ularnya" Sambungku dan mengambil ular dari tangan Ewin tanpa rasa takut,padahal jantung ini sebenarnya mau copot karena baru kali ini aku memegang binatang yang extrim.


Musik remix mulai mengalun dan aku kini sudah ada didepan pangung membawa ular,aku pernah melihat biduanita mnari ular sewwaktu kecil dulu,jadi aku tidak susah lagi mencontohkan tarian ular ini.


Badanku meliuk-liuk seirama dengan musik sembari ular pyton ini diatas bahuku,terkadang mulut ular aku cium karena buat sensasi supaya para penonton kagum,karena mulut ular diisolasi aku bebas mencium kepala ular pyton yang berukuran sedikit lebih besar dari pada ukuran tubuhku.


Satu jam tiada jeda aku masih bergoyang Dengan ular ini,para penonton semakn banyak melihat aku bergoyang,ada juga yang memberi saweran kepadaku sebagai tanda takjub melihat atraksiku.


Terlihat Eka dan Rani naik keatas pentas karena aku banyak mendapatkan saweran,padahal aksi tarian sebentar lagi selesai.


"Licik juga dua orang ini,giliran aku disawer mereka beranikan diri naik kepanggung,tadi menolak nari ular" Batin aku saat melihat Rani mencoba mengambil ular dari tangan aku.


Keringat terus mengucur disekujur tubuhku karena lelah menari dengan ular,selesai menari aku turun dari atas pentas dan berjalan menuju belakang keyboard.


"Bang Ewin jangan lupa tambah-tambah ya"


Kata aku dengan tersenyum manis.


Mendengar suara aku berbicara dengan Ewin,Eka dan Rani berbisik-bisik sembari melirik aku dan menatap aku dengan sinis sekali,sebenarnya aku belum paham sifat Eka dan Rani karena aku baru mengenal mereka tadi.


"Bereslah Yun Hehehe"


Jawab Ewin yang duduk disebelah aku.


Selesai show ular kini kami menampilkan lagi show mak lampir dan sundel bolong,bagi orang kampung acara ini sangat mencekam dan lucu,apalagi para waria yang melakukan show tersebut.


Sewaktu aku masuk kedalam kamar ganti aku tidak sengaja mendengar ucapan Rani dan Eka yang mengobrol berdua,langkah ini terhenti dibalik pintu kamar.


"Ganjen ya,dekatin bos kita lagi,ih anak baru udah belagu" Suara Eka mencibir aku.


"Dih minta tambah honor,kita saja enggak ditambah tuh" Sambung Rani dengan wajah cemberut.


"Ow jadi begitu ceritanya,pantes mereka lain padaku tadi,wong aku yang capek menari sendiri,cih giliran tarian habis mereka baru ikutan,dasar penggosip" Gumam aku menggeram.


"Lihat saja apa yang akan aku lakukan"


Gumam aku sendiri sembari masuk begitu saja kedalam kamar ganti,ketika aku masuk Rani dan Eka terdiam pura-pura sibuk dengan ganti pakaian.


Aku diam membisu tidak ramah seperti tadi siang kepada Eka dan Rani,setelah siap ganti pakaian aku berjalan sendiri keluar dari kamar ganti,sedangkan Eka dan Rani menyusul dari belakang.


"Bang ewin bang ewin,entar tambahannya kasih saja ya waktu abang antar aku,capek juga ya bang menari ular" Ucap aku dengan manja sembari melirik Eka dan Rani yang ada dibelakang.


"Aman itu dek,tenang saja kamu"


Balas Ewin sambil kedipkan mata satu.


Eka dan Rani tanpa menegur sapa dengan aku langsung masuk kedalam mobil,sedangkan Ewin sibuk menyusun peralatan pesta dan keyboard,ketika aku berjaln hendak kemobil Eka dan Rani malah menggunjing aku terus-terusan.


"Ih enggak tau diri ya itu-itu saja yang dibahas dengan bos kita,enggak malu minta tambahan dari bos,cih...kita saja penyanyi tetap disini enggak berani minta tambahan sama bos" Ucap Eka dengan nyinyir.


"Emang tuh cewek kegatelan betul,aku enggak suka sama Yunita itu" Balas Rani dengan sinis.

__ADS_1


"Tuk..tuk tuk"


Aku mengetuk pintu jendela kaca mobil zebra expres itu,emosi aku tidak terkontrol karena ucapan Rani dan Eka,sungguh dua wanita ini sudah keterlaluan menceritakan aku dari belakang.


Rani dan Eka terkejut saat melihat wajah aku muncul didepan mereka,kedua wanita itu terkejut dengan wajah pucat pasi,apalagi melihat wajah aku yang sangat marah kepada mereka.


"Woi taikk,kalau enggak senang sama aku ngomong langsung sama aku !!,aku enggak suka dari belakang-belakang !!" ketus aku sembari mata melotot kepada Eka dan Rani.


"Hei...memang kami enggak suka !,kau disini penyanyi baru malah kegenitan sama bos kami !!" Ketus Eka keluar dari dalam mobil.


Emosi aku tidak terkontrol darah ini terus saja mendidih,ketika aku akan menarik rambut Eka Ewin datang karena mendengar suara ribut aku dan Eka.


"Stop..stop...,kalian kenapa sih ribut?,enggak malu dilihatin orang banyak apa?" Ucap Ewin melihat sekeliling orang yang menonton.


"Cewek ini bos duluan,apa bos enggak lihat dia mau menarik rambut aku" Kata Eka dengan tolak pinggang.


"Dapat dari mama sih bos penyanyi kayak begini?,keganjenan !" Sambung Rani dengan sinis.


"Maaf bang aku enggak bermaksud membuat keributan ini,nih dua orang ini ceritakan aku dari belakang,hei..!!,kalau kalian dua tidak suka sama aku ngomong langsung !!" Bentak aku karena masih emosi.


"Cerita apa kalian?,ada-ada saja kalian"


Sambung Ewin dengan kernyit dahi.


"Mereka syirik bang aku minta tambahan sama abang,lagian akukan yang capek menari terus,wajar dong aku minta tambah"


Sambung aku dengan sinis.


"Ehhh cari muka kau ya !!"


Tukas Rani menunjuk muka aku dengan emosi.


"Apa kau !!"


Bentak aku dengan menantang Rani,tetapi sayang lengan ini ditarik Ewin untuk menjahui Rani.


"Sudah-sudah cukup !,Yunita masuk kedalam mobil saya, kalian berdua disini saja !!,buat malu semua" Ucap Ewin dengan nada tegas.


"Sama-sama cari makan saja syirik !"


Ketus aku sambil berjalan barengan dengan Ewin.


"Dasar Bondon cilik !"


Sambung Eka dengan geram hendak masuk kedalam mobil.


"Sudah....!,Eka kalau kau ngomong sembarangan lagi tidak usah ikut bernanyi dengan saya !" Kata Ewin dengan tegas melihat Eka dan Rani yang menundukan kepala.


"Mampos,rasakan"


Ejek aku dengan suara samar,mungkin Rani dan Eka dapat mengartikan gerakan mulut aku kepada mereka berdua.


Aku masuk kedalam mobil Ewin dengan emosi yang mulai mereda,lalu Ewin masuk juga dan menghidupkan mesin mobil,mobil melaju secara perlahan meninggalkan perkampungan.


"Dek jangan jera ya ikut keyboard abang,kamj maklum saja ya,jangan diambil hati". Kata Ewin dengan fokus menyetir.


"Iya bang tidak apa-apa aku enggak apa kok".


Jawab aku dengan melontarkan senyuman.


"Entar kalau ada job lain saya masih bisakan cabut kamu jadi penyanyi saya?" Tanya Ewin dengan penuh harap.


"Kayaknya jadwal show aku dikota RAM banyaklah bang,tapi lihat nanti deh".


Jawab aku dengan berfikir.


"Netap saja dikeyboard abang dek"


"Duh lihat penyanyi syirik sama aku apa bisa gabung?,ogah sih tapi kalau aku dibayar mahal cuek saja sama Rani dan Eka" Batin aku dengan bingung.


Ewin menunggu jawaban dari aku,aku melirik saja dengan tersenyum malu apalagi tangan ini dipegang erat Ewin.


"Gimana?,kamu mau?"


Tanya Ewin lagi dengan penuh harap.


"Lihat nanti ya bang"


Jawab aku dengan ragu-ragu.


Tidak terasa mobil Ewin sudah sampai didepan jalan rumah aku,terlihat Ewin merogoh saku celana mungkin ingin memberi upah aku bernyanyi.


"Gaji kamu dek,sudah abang tambah bonus"


Kata Ewin memberiakn amplop yang tebal.


"Ok bang,terima kasih ya"


Ucap aku senang dan menerima amplop dari tangan Ewin.


Saat aku membuka pintu mobil tangan ini ditarik Ewin,aku jadi kikuk tidak tau apaaksud lelaki hitam manis ini,Ewin geleng kepala lalu aku menutup pintu mobil kembali dengan duduk disebelah Ewin.


"Jangan pulang dulu,abang mau minta sesuatu sama kamu,boleh?" Tanya Ewin dwngan senyum genit.


"Apa itu bang?"


Tanya kau penasaran dan terheran-heran.


"Boleh abang pegang ntu?,cium dan peluk kamu,abang ingin bercumbu dengan kamu,jujur abang suka sama kamu pertama kali kita bertemu,entar aku kasih tambahan besar buat kamu" Ucap Ewin tanpa beban.


"Asal uang berbicara aku enggak apa"


Jawab aku dengan tersenyum malu.


Aku bercumbu dengan Ewin pemuda itu dengan rakus hinggap diarea atas aku,hanya bagian atas saja aku tidak apa,Ewin gerepekin aku dengan lihai sekali aku nyaris terbawa birahi.


Setengah jam berlalu terlihat Ewin dengan puas bermain dengan aku,walai tidak bersetubuh tampak kalau lelaki ini sangat puas dengam cumbuan yang aku buat.


"Sudahkan bang?"


Tanya aku sembari memakai bra yang terlepas.


"Jadi berdiri adik aku sayangnya waktu kita mepet,abang harus pulang cepat kerumah hari ini,lain waktu kamu bisakan ketemu abang?,abang ingin yang lebih lagi" Kata Ewin memijat dagu aku.


"Boleh bang asal jelas"


Sambung aku dengan malu-malu.


"Kamu cantik,tau saja apa yang aku mau"


Ucap Ewin sembari lengan kirinya membukakan pintu untuk aku.


Setelah Ewin memberi tambahan uang lagi untuk aku,kini aku keluar dari mobil dan melihat mobil Ewin meluncur meninggalkan area kampung aku.


-----------------------------------------------------------------------


Esok Hari


Pagi hari aku bergegas pecking baju untuk show kekota RAM,tampak nya aki tergesa-gesa sehingga tidak pamit dengan Indar dan Wati.

__ADS_1


Setelah pecking dan berhias diri selesai,aku keluar dari kamar untuk pamit kepada Mama,sedangkan Ayah sudah pergi kerja sedari tadi.


Mama sedang sibuk memasak dan aku berjalan menuju dapur rumah.


"Mak Uun pamit dulu ya banyak jadwal nyanyi bulan ini" Ucap aku sembari kasih sejumlah uang belanja untuk mama.


"Eh cair lagi,makasih ya Nak,ingat pesan mama kalau pulang jangan bawa aib kerumah" Ucap Mama dengan senang saat mengambil sejumlah uang dariku.


"Ahk mama sekarang bisa tenang,aku sudah enggak bodoh kayak dulu lagi" Sambung aku dengan senyum sambil mencincing tas ransel yang akan aku bawa pergi.


"Iya Yun,hati-hati ya"


Ucap Mama saat aku menyalam tangan kanan mama.


"Yun pergi ya ma,daa..mama"


Ucap aku sembari berjalan menuju pintu belakang rumah.


Aku berjalan keluar rumah hendak menunggu mobil sewa yang lewat,pasti Desy sudah menunggu aku ditempat janjian.Jarak tidak begitu lama aku melihat mini bus,seketika aku memanggil mini bus tersebut dan masuk kedalam menuju perkotaan.


Dengan menaiki mink bus dua kali akhirnya aku sampai dikota RAM,aku melihat Desy lagi duduk santai didepan teras rumah Yongki,Desy melihat aku Yang sedang berjalan dihalaman rumah.


"Maya !!,adek kau sudah pulang"


Kata Desy dengan senang.


Maya keluar dari dalam kamar dan berjalan cepat menuju pintu rumah dan melihat Aku yang sudah duduk disebelah Desy.


"Sehat kau dek?,seminggu juga kau pulang kampung" Kata Maya dengan senang.


"Alhamdulilah sehat mbak,nih aku bawa sedikit oleh-oleh" Jawab aku sambil memberi kantungan berisi dodol untuk Maya dan Desy.


Desy dan Maya sangat gembira dengan oleh-oleh yang aku bawa dodol serta lemang juga ada,kini kami bertiga asyik mengobrol dengan akrab dan bercanda ria.


"Kak Des,gimana kabar Agung,apa Danu kasih kabar juga?" Tanya aku karena sangat merindukan Danu.


"Eleh tanya soal Danu,kangen ya?"


Ledek Maya melirik aku.


"Mereka sehat semua,nanti aku telfon Danu, selow saja kau Yun" Sambung Desy sembari makan lemang.


"Cerita terus bosen woi,gimana kalau kita minum ditempat biasa saja,tapi aku lagi bokek huh" Usul Maya dengan cemberut.


"Sitolor ini pakek ngajak tapi bokek"


Sambung Desy dengan kernyit dahi.


"Selow mbak,aku traktir minum kalian hari ini"


Tukasku dengan girang sekali.


Maya Dan Desy sangat senang karena aku traktir dan baru kali ini aku traktir mereka lagi,kini kami berganti pakaian bersiap-siap pergi kewarung tuak terdekat.


"Tapi May,aku takut om-om diwarung itu usil karena kita cewek semua,enggak ada Agung dan Danu". Ucap Desy yang bingung.


"Benar juga itu"


Sambung Maya dengan bingung sambil ganti celana.


"Ngapai pening,mbak ajak saja bang Madun sama rodes kita sboneng" Ucap aku dengan ide yang terlintas dipikiran ini.


"Boleh juga,aku sms mereka ya"


Ucap Maya dengan memegang ponsel untuk mengajak Madun dan siboneng karyawan keyboard kami.


Aku dan Maya serta Desy menunggu kedatangan Madun dibalkon teras rumah Yongki,lima belas menit kemudian Madun serta temanya datang dengan motor masing-masing.


"Wah tumben kalian baik sama kami?,mau ajak minum" Ucap Madun sambil mematikan mesin motor.


"Baru diajak senangnya bukan main,sudah enggak usah ulur waktu,ayo kita minum" Tukas Maya dengan semangat empat lima.


Sampai diwarung tuak tersebut kami mengambil tempat duduk disamping warung,lalu Maya sengan mudahnya mencekoki Desy tanpa jeda sedikitpun.


"Woii kocoklah kalian,aku mabuk jadinya,Maya sudahlah aku enggak mau lagi"


Ucap Desy yang sudah teler.


"Kau yang bodoh,tapi enakkan?"


Balas Maya dengan senyum puas.


"Boneng kau minum jangan basah bibirlah,kapan mabuknya kau?". Tukas aku yang memperhatikan pria bermulut tonggos.


"Ehk aku bukan Maya,minum itu harus santai enggak baik buru-buru". Jawab pria tersebut dengan julukan nama Boneng.


"Alah,kau kikir tuh gigi kau dulu jangan bilangi aku terus".Ucap Maya mulai teler.


"Kampret kau May,biar kau tau saja May,walau aku tonggos begini,cewek aku nagih lho kalau aku cium-cium,jangan kau mencaci aku entar jatuh cinta".Sambung Boneng dengan kernyit dahi.


"Hahahah sabar Bon,Maya sudah gila,apa kau enggak lihat dia mulai meludah sembarangan?". Kata Desy menjaga jarak dari Maya.


"Ngoceh terus kalian,ayo joged"


Ajak Madun berdiri dari duduk sembari goyang mendengarkan musik disco.


"Cuih...arkk..cuih"


Tanpa sadar Maya mulai meludah,air liur tersebut terjatuh mengenai kaki Desy,sedangkan aku masih duduk sembari tertawa renyah melihat tingkah Maya.


"Kampret kau Maya,jorok banget ih"


Kata Desy sembari mentoyong kepala Maya.


"Maunya kau tadi bawa ember Des"


Ledek Madun sembari bergoyang.


"Joged sajalah kau disitu bang Madun,kayak senang kali kau lihat aku merana". Sambung Desy sembari seka kaki yang terkena air liur Maya.


"Hahahaha....parah kali kau mbak Maya"


Kata aku dengan gembira sekali.


"Hei Madun kurang ajar,kau pikir aku enggak tau apa yang kau bilang" Sambung Maya berjalan sempoyongan kearah Madun.


"Eits jangan dekat aku,aku enggak mau terkena virus" Kata Madun ketika Maya mulai membuang air liur kearah Madun.


Kami sangat kompak dan akrab hari ini,semoga seperti ini terus dan rasa jenuhku serta kerinduan aku kepada Danu sedikit hilang karena canda dan Tawa para sahabatku satu kerjaan ini.


Jarum jam menunjukan angka sembilan malam,Maya sudah susah berjalan,sedangkan Desy masih bisa berjalan walau sempoyongan dan aku mabuk setengah dewa tanpa membuat usil yang lainnya.


Madun dan Boneng mengantarkan kami pulang menuju rumah Yongki,karena kedai tuak tidak begitu jauh dari rumah Yongki dengan cepat kami sampai kerumah.


Aku dan Desy membopong Maya masuk kedalam kamar,kami melewati ruang tamu terlebih dahulu terlihat istri Yongki geleng kepala saat melihat Maya mabuk berat,istri Yongki sudah biasa melihat Maya mabuk terkapar.


Aku dan Desy meletakkan Maya diatas kasur,lalu aku berniat mengganti pakaian,sedangkan Desy terduduk diatas lantai kamar ini.


" Yun gantikan dulu baju Maya dek,tangan mbak kena ludahnya tadi" Tukas Desy dengan rasa jijik menyeka air liur dilengan kirinya.

__ADS_1


"Issh,cuci saja sana mbak,dasar mbak Maya kalau mabuk bikin repot". Sambung aku dengan geleng kepala.


Maya tidak sadarkan diri walau aku mengganti pakaian Maya,mungkin kalau Maya mabuk dengan orang yang baru iya kenal bisa saja Maya pulang dengan keadaan diperkosa,Dasar sicebol merepotkan saja.


__ADS_2