
Hari ini hari senin
Kicauan suara burung diatas pohon jambu belakang rumah merdu sekali, ditambah sinar mentari menyapu bersih sisa embun didedauanan setiap tanaman,seperti aku yang saat ini memakai seragam sekolah dengan girang mencicipi sarapan buatan Ibunda tercinta.
Setelah semua lengkap tas dan sepatu sekolah aku pakai,akhirnya aku berangkat dengan berjalan kaki menuju sekolah yang baru,tempat yang baru mungkin dapat teman baru.
Saat aku masuk dikelas baru,wali kelas menyuruh aku memperkenalkan diriku kepada teman-teman baru.
"Ayo-ayo duduk masing-masing dikursi kalian,hari ini kita kedatangan teman baru,ayo nak perkenalkan nama kamu" Ujar Wali kelas yang sudah berdiri didepan kelas.
"Hallo nama saya Yunita Ananta srg,saya pindahan dari pondok pesantren putri Muhamaddyah dikota M, semoga teman- teman bantu saya untuk mengejar pelajaran yang ketinggalan ya" ucap aku dengan ceria dan tersenyum manis.
Semua murid tersenyum ramah kepadaku, aku jadi senang mereka menyambut hangat kedatanganku,Wali kelas mempersilahkan aku mencari kursi kosong
"Ibu guru Yunita disini saja duduk " ujar Puput saat aku sibuk mencari kursi kosong.
"Baik lah...Yunita kamu duduk dengan Puput" Ucap Wali kelas dengan senyum ramah.
Aku duduk bersama Puput,dia ramah dan bersahabat,tetapi dia sedikit cupu, madrasah kami campur dengan murid cowok, jadi banyak juga cowok yang usil satu kelas
minta berkenalan dengan aku.
" Teeeeettt ,teeeett"
Bel tanda jam istirahat pertama datang,semua murid sibuk merapikan buku pelajaran, Wali kelas juga sudah pamit untuk istirahat,aku juga sibuk bergegas kekantin untuk mencari jajanan.
" Yun Yun...Putra kirim salam sama kamu" ujar Fandi yang menghampiri aku.
"Hemmm"
Aku hanya bergumam,aku anggap clotehan yang tidak bermanfaat,Fandi kelihatan murid yang paling usil dan badung didalam kelas,katanya suka membully murid yang cupu.
Ciri-ciri fandi badan pendek,muka bulat,mata sipit ,hidung jambu,kulit sawo matang sifat kekanak-kanakan dan usil.
Sedangkan Putra murid yang tenang dan pendiam,dia tidak banyak omong suara pelan dan lembut,ciri-ciri Putra rambut cepak,mata sipit,hidung mancung besar,kulit putih kekuningan,badan tinggi kurus,sifat tenang dan pendiam.
" Enggak Yun ,enggak yun bohong itu Fandi,
awas kau ya Fandi ..." kata Putra sambil geleng kepala kepadaku.Putra mengejar Fandi sampai keluar kelas karena kesal.
"Yun ayo kita kewarung jajan,enggak usah perdulikan omongan Putra" ucap Indar yang duduk dikursi depan.
"Ayo Ndar"
Aku mengikuti Indar sampai kewarung yang jadi tempat tongkrongan mereka, ibu tukang lontong membebaskan kami duduk dirumahnya sambil makan lontong juga bisa.
mungkin biar laris kali ya lontong dan jajanan ibu pemilik warung ini.
Saat aku masuk kedalam kamar mandi,aku melihat Fandi,Putra dan Rafa dibelakang rumah sambil merokok-rokok sembari mereka bermain judi uang logam alias Tuok.
"Ndar itu memang begitu selalu dibelakang?
merokok sambil main tuok" kataku heran saat sudah keluar dari kamar mandi.
"Sudah gila mereka,biarin saja Yun,kita makan saja" jawab indar yang duduk sambil makan jajanan yang iya beli.
" Wah ada ayang aku disini" Ujar Rafa yang berjalan mendekati Indar.
"Cuihhh enggak sudi aku di panggil sayang sama kamu,kalian murid nakal" ketus Indar dengan buang muka.
Aku dengar dari Puput bercerita soal Rafa mengejar cinta Indar,tetapi Rafa kalah dengan pesona Agung yang sekarang jadi pacar Indar.Aku hanya diam saja saat Rafa terus merayu Indar yang sibuk makan jajanan.
Jam istirahat telah selesai. aku dan Indar berjalan menuju kelas kami,kami duduk sambil menunggu guru datang, setelah Wali kelas datang kami mengambil buku Matematika, lalu Guru menerangkan pelajaran tersebut.
Putra selalu curi pandang disaat aku melirik kearahnya,dia duduk disebelah kanan aku.
"Cowok gila dari tadi lihatin terus aku,sayabg nya aku enggak suka pacaran sama seumuran tau" gumam aku dihati.
"Ibu guru lihat putra lirik-lirik Yunita,lihat buk" ujar Fandi sambil menunjuk muka Putra.
"Tidak Ibu,dia bohong"
Balas Putra sambil menunjang kaki Fandi dari bawah kursi,gemuruh murid-murid tertawa membuat Putra jadi kikuk merasa dipermalukan.
"Sudah jangan berisik, buka halaman tujuh, fokus kebuku kalian" kata Wali kelas dengan tegas.
Semua murid menuruti dan terdiam,Rafa senggol siku Putra karena mereka duduk satu bangku dikelas.
"Hem baru sehari Yunita disini,kau sudah berani lirik-lirik " sambung Rafa mencibir.
"Kau lagi langsung percaya, aku mau kekamar mandi" kata Putra yang sudah terlanjur malu.
"Bu guru izin toilet" kata Putra sambil kikuk didepan kelas,lalu dia pergi berjalan kekamar mandi.
"Hahahahhah"
Semua murid tertawa lagi membuat wali kelas geleng kepala.
"Tolong diam" ucap Ibu guru wali kelas dan melanjutkan pelajarannya kembali.
Bel tanda pulang berbunyi,spontan murid- murid berhamburan keluar kelas
untuk pulang.
------------------------------
*Satu bulan kemudian*
Tidak terasa satu bulan berlalu sejak aku dengan Wijaya tidak ada kontak sama sekali,sedikit demi sedikit perasaan ini hampa dan tiada rasa,tapi luka hatiku masih saja membekas, kelihatannya tidak akan pernah hilang seumur hidup aku kejadian malam itu.Malam dimana kesucian ini hilang.
Disekolah aku semakin akrab dengan teman baru bernama Indar, Dia murid ramah tapi sifat cuek dan sedikit pemarah,pada suatu hari Indar mengajak aku sepulang sekolah untuk menemui Agung pacar Indar, ternyata Agung murid kelas dua SMA negeri satu,sekolah Agung terletak dikampung sebelah.
__ADS_1
Setelah pulang sekolah aku ikut Indar kebelakang sekolah kami untuk berjumpa
dengan Agung, lalu sesampai dibelakang sekolah Agung sudah menunggu kedatangan Indar pujaan hatinya.
"Dek maafin Abang,abang mengaku salah sama kamu Ndar" Bujuk Agung kepada Indar.
"Kita putus saja bang,jangan temui aku lagi ingat itu, !, aku enggk bisa memaafkan kamu karena aku masih sakit !" Ketus Indar saat berhadapan dengan Agung.
Sedangkan aku hanya diam saja melihat dua sejoli itu bertengkar habis,karena aku tidak tau permasalahan mereka yang sebenarnya.
"dek tolonglah"
Agung memeluk Indar,mungkin Indar terlalu sakit hati sehingga mendorong Agung sampai Agung terjatuh.
Waduh aku sedang menonton film drama percintaan anak remaja disekolah,apa yang mau aku bantu?,masalahnya saja aku tidak tau menahu.
"Ayo Yun tinggalkan dia,aku benci laki- laki penghianat sama penipu" ketus Indar dengan marah.
Indar meraih tangan aku dan pergi meninggalkan Agung,aku lihat wajah Indar menahan rasa tangis,melihat Aura matanya yang berbinar-binar.
Sambil berjalan pulang karena sedari tadi tiada sepatah kata yang terlontar dari mulut kami,aku coba beranikan diri bertanya sama Indar.
"Emangnya kenapa sih Ndar kalian putus?" tanya aku sembari berjalan.
"Kemarin malam minggu kami janjian untuk kencan,aku tunggu lama dia engak datang, terus ada kawan aku sekampung mengadu kalau Agung kencan sama cewek lain" kata Indar yang wajahnya sangat sedih.
"Ahk baguslah kalian putus Ndar, aku setuju, sabar saja Ndar masih ada Rafa menunggu kamu Heheheh" Aku coba menghibur Ndar.
"Tapi Yun aku masih cinta sama Agung,tega banget dia selingkuh hiksss..." tangis Indar pecah sambil berjalan.
"Huss jangan menangis disini,nanti orang lewat lihat kamu begini dikira kenapa-kenapa lagi" Jawab aku sembari melihat orang lain lewat dari jalan itu.
Indar langsung paham maksud aku,lalu dia menyeka air matanya, aku berusaha buat tenang Indar,sesampai diujung simpang aku berpisah ditengah gang dengan Indar,karena rumah kami berbeda jalan.
-------------------------------
*Esok hari*
Keesokan harinya aku berangkat untuk pergi kesekolah, Indar sudah sedikit tenang berbicara,sudah mulai tersenyum padaku,kami bercerita Hal lain dan membahas pelajaran yang kami ikuti ini hari.
Jam istirahat tiba Indar, aku dan Merry berjalan menuju warung tempat bolek lontong,karena kami tidak tau nama bolek tersebut jadi kami memanggil wanita paruh baya itu dengan sebutan Bolek Lontong.
"Bolek pesan lontongnya tiga ya,kami duduk didalam Bolek " Ucap Indar tersenyum.
"Ok sabar ya,masih melayani yang lain" Balas Bolek sembari menuangkan sayur santan didalam mangkuk.
Kami duduk di ruang tamu rumah Bolek tersebut,selesai makan lontong kami bercerita dulu sambil menunggu Bel tanda masuk kedalam kelas.
"Hei ayo intip orang Rafa main Tuok yuk" tiba --tiba Indar memikirkan Rafa.
"Ayolah" kataku yang ingin melihat Indar melupakan Agung,siapa tau bisa jadian dengan Rafa. Kami bertiga berjalan menuju dapur rumah melihat Rafa dengan semua temannya.
"Woi ngapai kalian?,mau cari bukti terus ngadu sama Ibu guru" Kata Fandi yang tidak mau kami datang.
"Sana-sana sudah kalah aku ini" ketus Fandi yang mulai emosi.
Aku dan Merry hanya senyum saja berdiri melihat mereka jongkok dengan judi logam alias Tuok,Indar jadi Emosi dengan perkataan Fandi.
"Kampret kami Tengok saja enggak boleh,Sombong kali kau " sambung Indar dengan ketus.
"Mau aku sikut kau biar muntah kaleng" kata Rafa marah sama Fandi.
Fandi jadi diem saja tidak berani melawan Rafa karena dialah ketua geng mereka.Indar tersenyum merasa bangga karena dapat pembelaan dari Rafa,aku tau itu dari cara Indar yang duduk disebelah Rafa.
Ciri Rafa badannya tinggi,strong dan berisi
hidung mancung,wajah sangar tapi manis , kulit Rafa sawo matang.
Kami bertiga jadi betah duduk-duduk sambil melihat mereka berjudi uang logam, seketika Indar meminta sebatang rokok dengan Putra.
"Bagi ya Putra " ujar Indar sambil meraih sebungkus rokok filter kepunyaan Putra.
"Anak cewek enggak boleh merokok pantang" kata Rafa sambil merampas sebatang Rokok ditangan Indar.
"Sekali ini saja,aku lagi stres tolonglah " bujuk Indar sambil tangannya mengambil lagi sebatang rokok.
Rafa membiarkan Indar merokok,aku dan Merry tercengang dan geleng kepala, Merry jadi ikutan merokok dengan santainya.Aku jadi kikuk melihat kedua teman aku merokok.
"Kau enggak mau Yun,rokok ini hilangkan stres saat kita galau,enggak percaya kau Yunita,cobalah " tawar Merry padaku.
Tanpa mikir panjang aku jadi penasaran, aku mencobanya seketika aku mual dan pusing, tapi aku hisap sampai habis ternyata benar stres aku berkurang.
"Gimana enakkan? " kata Indar sambil tersenyum padaku.
"Lumayan tapi jadi pusing" kataku sambil mematikan Rokok tersebut.
"Woi beli kalian, jangan tau nya minta saja rokok kami" Ucap Fandi dengan ketus.
"Selow kau disitu banyak uang aku,nanti aku beli sebungkus sama kau" sambung Indar dengan ketus juga.
"Betul ya " kata Fandi seakan tak percaya dengan omongan Indar.
Betul saja Indar berjalan keluar untuk membeli sebungkus rokok lagi,dia banyak uang karena sering curi uang dikedai mama Indar.Mama Indar buka kedai bahan makanan dan sayur-mayur Merry menceritakan soal itu padaku.
Merry itu sepupu sama Viva,Mama Merry dan Mama Viva adik kakak. Tapi merry tidak punya hobby jadi penyanyi seperti Viva.
Ciri-ciri Merry,kulit kuning langsat, body semampai,jika buka hijab rambut tipis sebahu, bibir tebal ,wajahnya bulat dan terlihat Manis.
Kalau Indar badan sedikit mungil tapi padat , rambut ikal sedada,bibir kecil tebal,wajah bulat ,hidung jambu tidak cantik atau jelek
tapi sedang sedang saja.
__ADS_1
Puput tiba-tiba datang kewarung dia geleng kepala sedikit kesal pada kami, karena melihat kami lagi merokok.
"Anak cewek merokok,mau jadi apa kalian?,apa kalian enggak ingat orang tua kalian yang bayar sekolah kalian,mereka pasti kecewa kalau tau kalian kayak begini" Puput ceramah dihadapan kami.
"Dih Ibu ustadzah ceramah" kata Merry sambil memutar matanya serasa omongan Puput membuat bosan.
"Bener jug kata Puput " Bisik aku kekuping Merry.
"Sudah merokoknya kalian,anak cewek buat susah saja" Rafa jadi marah.
"Sudah jadian saja kalian, cocok bedboy sama bed girls Hahahah, aku dengar kau sudah putus dari Agung " Kata Fandi usil mulai menyebar Gosip.
"Tau dari mana kau Fandi, aku udah putus?" sambung Indar merasa bingung.
"Banyak kawan aku disekolah sebelah,mereka yang bicara sama aku tadi malam" Jawab Fandi tukang usil.
"Putra dari tadi diam saja ya,memang dia pendiam mahal sekali suara Putra,tapi mata Putra tidak pernah lepas melirik aku hem" Batinku berkata.
"Sudah Indar jadian saja sama Rafa, kalau Yunita sama Putra ,aku sama itu teman kalian yang satu lagi " Kata Fandi sambil menunjuk Merry.
"Cuiihh mana mau aku sama kau cowok usil, kekanak-kanakan,enak betul kau mau comblangin kawan aku" ketus Merry sambil lipat tangan.
"Hem sombong sekali kisanak" Balas Fandi lalu buang muka.
Puas kami mengobrol Bel tanda masuk berbunyi, kelihatan Rafa dapat lampu hijau dari Indar sebab mereka berjalan sama saat masuk kedalam kelas.
"Cuit-cuit ada yang pendekatan,ada yang jadian" Kata Fandi sambil bergoyang diatas meja kelas.
"Diam kau ,suka betul kau kami jadian,turun dari meja itu enggak sopan tau" Indar memukul badan Fandi sambil berjalan kekursi kelas.
Fandi memang over banget cowoknya, yang lebih parahnya lagi mulut Fandi tidak bisa jaga rahasia ada sedikit gosip Fandi sebar-sebar keseluruh kelas.
Sewaktu kami pulang sekolah,Rafa mengajak Indar kencan,aku terpaksa jadi obat nyamuk mereka. Kami bertiga jalan menuju pohon sawit.
Sesampai dipohon sawit Indar dan Rafa kencan berdua, sedangkan aku duduk menyendiri dipohon sawit sebelah,aku jadi teringat tempat ini,tempat dimana aku pernah berduaan dengan Wijaya.
Ternyata masih ada bekas bungkus jajanan dan permen yang kami makan dahulu,jadi sakit bila mengingat kenangan manis itu.
Serasa sial aku ketempat ini lagi.
" Sini Yun,kami enggak aneh-aneh,cuma ngobrol saja" Kata Indar yang melihatku duduk termenung sendirian.
" Selow saja kalian disitu,aku enggak apa" jawabku sambil tersenyum.
"Mending tadi bawa Putra saja biar ada kawan untuk kamu Yun" kata Rafa tersenyum padaku.
"Aman itu jangan khawatir" Balasku tersenyum.
Satu jam berlalu akhirnya Indar dan Rafa mengajak aku pulang. Dipersimpangan tiga Rafa harus pamit kepada Indar dan aku, karena rumah dia lebih jauh.
Diperjalanan pulang bersama Indar.
"Yun kenapa kau enggak jadian saja sama Putra?,kata Rafa tadi Putra sangat suka sama kamu lho " Kata Indar sambil berjalan.
"Enggak dulu Ndar,aku masih trauma sama cowok, apalagi aku enggak suka pacaran sama seumuran " jawab aku sambil geleng kepala.
"Coba dulu,iseng-iseng saja ,cinta- cinta monyet ,biar luka hatimu terobati lho"
bujuk Indar lagi.
Aku tetap menolak bujukan Indar ,aku takut dekat cowok,takut disakiti lagi seperti Wijaya kepadaku. Indar juga sahabatan dengan Wati ,
karena rumah mereka bersebelahan, jadi otomatis Indar tau ceritaku sedikit.
-----------------------------------
*Esok hari*
Hari ini tidak ada acara main judi uang logam,
karena ketua mereka lagi kencan didapur
rumah bolek lontong, aku duduk dengan Putra tetapi Putra diam membisu aku jadi cuek, Putra memang cowok dingin.
"Woi mondar-mandir kau tolor dari tadi,intip orang Rafa kencan kau?,mangkannya jangan jomblo terus" suara Putra yang mahal akhirnya keluar juga untuk Fandi.
"Psssttttt diem saja kalian yah " jawab Fandi sambil menutup mulut.
Tak lama kemudian Fandi tidak muncul dari kamar mandi,aku jadi penasaran lalu aku berjalan menuju kamar mandi.
"Ssssst " tangan Fandi kemulut pada saat aku mergoki Fandi lagi intip Indar kencan dengan Rafa.
Ternyata kamar mandi tidak ada atap jadi sangat leluasa Fandi mengintip,ketika naik keatas Bak mandi Yang terbuat dari semen Fandi bisa manjat diatasnya, aku juga ikut manjat dengan penasaran.Putra jadi ikutan juga karena penasaran.
Kami bertiga melihat indar dan rafa bercumbu mesra dan mereka melakukan sampai kearah dada,karena malu melihat itu aku jadi menutup mata,apalagi Putra tanpa sengaja disebelahku juga.
Fandi menahan Tawa melihat adegan mesum itu,seketika aku mencubit pinggang Fandi dan Putra juga mau ikut tertawa aku jadi marah, lalu aku tarik lengan mereka supaya menghentikan aksi mengintip tersebut.
"Gila ya mereka" Kata Fandi yang sudah berjalan keluar kamar mandi.
"Namanya pacaran,kau saja jomblo akut belum pernah pacaran" kata Putra mentoyong kepala Fandi.
"Alah enggak usah bicara begitulah kau, kau juga begitu belum pernah pacaran" kata Fandi sambil gantian mentoyong kepala Putra.
Aku hanya diam saja melihat perdebatan Fandi dan Putra,semoga saja Fandi tidak menyebarkan cerita kepada orang lain apa yang iya lihat tadi dibelakang.
-----------------------------------------------------
*Kata dari Author*
jangan di contoh buang negatif nya ambil positifnya saja, ayo mari yang sudah punya anak kita awasi anak-anak kita.
__ADS_1
salam saya author
muachh janga lupa like nya say ...