
Akhirnya kami jadi pindah rumah didepan jalan besar, aku juga sibuk membantu mama walau kami belum akrab.
"Awas jatuh piring aku itu,kayak mananya kau bawa piring itu? " Ujar Mama saat melihatku kesusahan bawa piring kaca satu lusin.
"Iya lho"
Jawabku sembari berhati-hati saat jalan,setelah semua barang sudah didalam rumah baru kami menjadi sangat lelah,lalu kami sekeluarga istirahat sejenak dirumah baru kami,setelah lelah hilang kami mulai menyusun barang-barang lagi.
"Kompuang braakk taar !"
Piring batu mama jatuh dan pecah
" deg deg deg " aku tidak sengaja menjatuhkan nya, aku bergidik ngeri dan panik.
"Apa itu ?"
Mama berlari kedapur melihat apa yang pecah,dia melotot dan memasang muka seram pada aku.
"Kan udah aku bilang pelan- pelan,kerjaanmu tidak pernah beres,kalo kerjain jantan baru beres kau, sudah-sudah enggak usah lagi ikut nyusun piring" ucap Mama dengan marah.Sedangkan aku memungut pecahan piring dilantai.
"Maaf "
Hanya perkataan itu yang aku lontarkan,baru saja dia mulai bicara baik padaku,aku yang bodoh ini malah membuat mama marah lagi.
Dari pada pusing aku lebih baik menyapu halaman saja.
Ketika aku sibuk menyapu halaman salah satu tetangga datang kepada aku.
"Mana mama kamu Yun?0, kau udah sehat?" Tetangga baru itu bernama Jannah.
"Dibelakang nyusun-nyusun bolek,aku udah sembuh" ucap aku sambil tersenyum kecil.
"Hemmm ya sudah bolek mau temui mama kamu dulu ya " Jannah masuk kedalam rumah.
Sore hari barang sudah tersusun rapi pada tempatnya, aku juga sudah melihat kamar baru aku yang sepetak ini,aku jadi tenang seperti membuka lembaran baru pindah kerumah ini.
"Beli dulu kekedai kau,minyak makan satu kilo gram" Mama tiba-tiba muncul dari depan pintu kamar aku.
"Aih mak malu aku " ucap aku yang masih trauma dengan gunjingan orang.
"Sudah biar saja kata orang,kalau ditanya yang aneh-aneh jawab sekedarnya, anggap saja papan ngomong sambil kentut " balas Mama yang sudah mulai cuek tentang kasus aku.
"Iya mak"
Aku jadi menurut apa kata Mama sepertinya dia mulai memaafkan aku,aku jadi semangat membeli minyak makan kekedai belakang.
Setelah keluar dari rumah aku berjalan kekedai belakang rumah.
"Yunita huhu aku kangen sama kamu lho" Ucap Indar yang ternyata berjalan searah dengan aku.
Aku jadi riang kembali karena Indar ternyata tidak menjahui aku, dia perduli tentang aku dan biasa saja sekan-akan tidak terjadi apa-apa.
"Alhamdulilah baik Indar,oh iya kau mau kemana ?" Kataku sambil tersenyum.
"Aku mau ambil baju kerumah Rafa tapi aku takut sendirian,kau mau temani aku?" kata Indar sambil tersenyum.
"Ahk aku belum berani Ndar kekampung sebelah,kau taulah keadaan aku sekarang, lagian kami baru pindah rumah baru" ucap aku yang berdiri bersama Indar.
"Ayolah ces,kau enggak mau rokok ?,biar hilang stres kamu,lagian kan malam mana tau orang kampung" ucap Indar merayu aku terus supaya mau ikut.
"Gini saja aku belikan dulu mama aku minyak makan,nanti kau jemput aku kerumah gimana?" kataku supaya Indar bisa pamit dengan Mama.
"Ayolah sekarang saja biar cepat,Rafa pasti sudah tunggui aku nanti merajuk Rafa,biar aku yang izin sama mama kamu " balas Indar merengek padaku.
"Ok lah,tapi kau enfgak apakan jalan sama aku Ndar?,aku enggak enak sama orang tua kamu entar aku bawa efek buruk" kataku jadi murung.
"Sudahlah jangan buat aku sedih,aku yang tau sifat kamu gimana,biar saja orang mau bicara aku tidak perduli" kata Indar sambil menarik lengan aku.
Aku bersama Indar membeli minyak makan, setalh itu kami berdua pulang kerumah aku.
"Woii Indar ngapai kau masih berkawan sama cewek limbah itu?" ucap salah satu pria yang lagi ngumpul dijoglo dorsmeer.
"deg deg "
"Astaghfirullah kamrin hinaann Ibu-Ibu usil,sekarang pemuda- pemuda disini mulai jijik sama aku,padahal dulu mereka sering menggangu aku.Batinku menjadi sakit.
Indar menghentikan langkah karena kesal dan marah pada pria yang bicara lancang tersebut.
"Siapa yang cakap tadi !!!" marah Indar sambil tolak pinggang.
"Enggak ahk kami beecanda kok " Balas pria tersebut yang bergigi mancung kedepan.
"Taik,lain kali kalau cakap pakek akal kau, biar kau tau yang mana canda yang mana serius " balas Indar sangat kesal.
"Sudah-sudah Ndar,ayo nanti jadi ramai kau yang kena " ajak aku karena malas ribut.
Pemuda itu jadi diam dan buang muka, lalu aku dan Indar melanjutkan perjalanan lagi menuju rumah.
"Jangan sakit hati ya Yun,anggap saja taik lagi ngomong" kata Indar tersenyum manis.
"Iya Indar aku sudah mulai terbiasa" jawab aku sambil membalas senyum Indar.
Sampai didalam rumah, Indar bicara pada mama untuk pamit membawa aku jalan keluar,awalnya tidak dikasih karena mama takut aku dihina orang lagi, tetapi Indar meyakinkan mama karena alasan mengambil buku sekolah dikampung sebelah.
__ADS_1
Kami berdua pergi menuju stadion untuk temui Rafa,sampai disana ternyata Rafa sudah menunggu sedari tadi.
"Lama kali lho kau sayang,aku udah karatan nunggu disini" ucap Rafa yang duduk diatas motor.
"Sabar lho sayang baru beberapa menit telat, mana baju aku?" Tanya Indar yang turun dari motor kepunyaan Indar.
"Eh Yunita apa kabar? kok enggak sekolah sekolah kau ? " ucap Rafa yang melihat aku sedari tadi, Indar langsung mencubit pinggang Rafa.
"Aduh,apanya ini cubit-cubit " ucap Rafa sambil terpekik kesakitan.
"Enggak usah tanya Yunita,nanti dia jadi kepikiran,kalau bertanya yang bermutu saja " ucap Indar jadi merepek.
"Iya bawel" kata Rafa sembari garuk kepala melihat Indar kesal.
"Enggak apa,seminggu lagi mama mau kesekolah, mana tau murid kayak aku enggak ditrima lagi disekolah kita" Ucap aku merasa kecil hati.
"Diterima itu,sebenarnya itu urusan pribadi kamu Yun, mana ada sangkut paut disekolah " ucap Indar sambil berfikir.
"Betul itu kata bini aku,bini aku ini memang bijak" sambung Rafa sambil elus kepala Indar.
"Ihi...jangan pegang-pegang" Indar menampik tangan Rafa.
"Tapi aku takut nama sekolah jadi jelek kalau ada murid yang kayak aku" Ujar aku jadi merasa tak enak.
"Alah anggap saja kentut Yun,kamu berhak sekolah,berhak belajar" Kata Indar sambil tersenyum.
"Benar itu Yun,jangan jadi pesimis dong,semangat" kata Rafa.
Aku tidak membahas lagi mungkin kata mereka benar, lega akhirnya aku dapat semangat baru dari Indar dan Rafa.semangat yang hampir sirna karena ulah Wijaya dan aku.
Kami duduk sambil ngemil makanan yang dibeli Rafa sebelumnya diwarung,walau sebenarnya aku jadi obat nyamuk mereka,aku tetap senang karena ada teman bicara.
"Sayang sudah jam delapan,ayo kita pulang, Yunita kamu jangan lupa sekolah lagi,aku sama teman-teman kecarian karena tidak ada kawan kayak kau yang gila lho" kata Indar sambil menjulurkan lidah.
"Iya aku akan semangat untuk sekolah eheheh, ayok kita pulang Ndar " Jawabku sambil cengengesan.
Kami pergi dan pisah dari Rafa,lalu Indar mengantarkan aku pulang kerumah,sesampai aku dirumah Indar akhirnya pamit padaku.
Aku duduk didepan teras rumah karena belum mengantuk, enak duduk seorang diri sepasang mata lewat menatap terus padaku,mereka sambil bisik-bisik mungkin saja membahas tentang tragedi yang aku alami.
Merasa risih aku jadi masuk kedalam rumah karena malas ribut dengan tetangga sebelah.
"Dasar biang gosip,entah apa untungnya peduli sama urusan orang" Batin aku jadi kesal dan masuk kedalam kamar.
"Tok tok tok "
Saat aku didalam kamar ada tamu yang ketuk pintu rumah, mama dari dapur berjalan membuka pintu utama.
"Ada itu didalam kamar " jawab Mama sambil mempersilahkan masuk.
Ternyata Wati dan Indar datang lagi,mereka masuk kedalam kamar aku.Stres hati ini hilang karena kedua sahabat aku datang.Padahal Indar baru saja mengantar aku tadi,kini Indar datang lagi membawa Wati.
"Kami mau ajak kau jalan- jalan,ini malam minggu lagian masih jam delapan lewat" Kata Indar yang duduk diatas kasur.
"Takut Indar banyak mata yang enggak suka lihat aku,kita baru pulang tadi aku takut mama marah" ucap aku sambil berfikir keras.
"Alah pening kali kau urusi orang itu,ayolah entar aku bilang sama mama kau kalau kami ajak makan bakso,kami sudah dandan ini kau cepat juga dandan sana dicermin" Kata Wati sambil merepek.
Aku setuju karena merasa tidak enak pada mereka,mungkin dengan begini semangat aku yang hilang kembali lagi. indar dan wati minta izin sama Mama, mungkin mama mulai mengerti perasaan aku, aku ini butuh ketenangan dan hiburan Karena itu dia memberi izin pada aku.
Kami bertiga berjalan-jalan naik motor Indar,
kami kearah stadion lagi menunggu pacar mereka semua,padahal Rafa dan Wati baru saja ketemuan.
"Wat kau masih sama Beno " tanya aku yang duduk disebelah Wati.
Sementara Indar duduk didepan kami sambil makan kuaci sungguh membuatku jadi bahagia.
"Enggak Yun,tapi kau tau prinsip aku, mati satu tumbuh seribu,pacar baru aku anak pondok sebelah " balas Wati sambil meneguk minuman bersoda.
"Hem kau enggak berubah juga ya Hahaha" aku jadi terbahak-bahak.
"Kau bisa kayak aku Yun gonta-ganti, pria norak dibuang saja,dulu satu kampung ini banyak lho naksir kau tapi kau nolak" ucap Wati sambil tersenyum.
"Ya...itu dulu, sekarang beda Wat,lagian aku belum mau pacaran lagi" jawab aku yang masih takut membuka hati lagi.
"Brum brum "
suara kendaraan Rafa terdengar dari kejahuan, Indar jadi berdiri dari duduk dengan semangat empat lima.
" ayok Sayang" Suara Rafa dengan lembut memanggin Indar.
Indar pamit pada kamu,lalu pergi untuk kencan,Indar menitip motornya dengan kami.
"Lama betul siandre ini " ucap Wati mulai bosan juga.
"Oh namanya andre Wat?" ucap aku yang melihat Wati uring-uringan.
"Iya aku kenal disini juga Yu,nanti kalau andre datang dia bawa teman kamu maukan aku tinggal sebentar Yun dengan teman Andre" kata Wati merasa tidak enak dengan aku.
"Slow kau Wat ,kau kan tau aku gampang akrab sama orang,aku ngerti kok posisi kamu,aman itu " ucap aku sambil tersenyum.
"Baiklah Yun"
__ADS_1
Kami masih berdua menunggu pacar Wati tetapi Andre tidak datang juga padahal sudah satu jam kami menunggu,Wati jadi kesal dan enggak nyaman.
"Ahk taiklah cowok kampret sudah karatan kita disini Yun,Indar juga yang enak sama Rafa" ucap Wati mulai dilema.
"Sabar Wati , kau tau tempat nongkrong Andre selain disini?, kalau kau tau ayo kita kesana saja siapa tau andre disana " ucap aku yang mulai bosan duduk disini terus.
"Kadang-kadang kau encer juga" Sahut Wati sambil naik keatas motor.
"Yunita gitu lho"
Wati menghidupkan motor lalu kami pergi kesebuah warung yang dibuat Andre jadi tempat nongkrong.Sampai diwarung seperti Joglo dibelakangnya,aku dan Wati berjalan menuju joglo tersebut.
Ternyata oh ternyata
"Hei Andre enggak tau diri kau ya aku sudah tunggu kamu disana,kau disini mesra-mesra sama cewek Lain" Wati geram karena menciduk Andre bersama kekasih gelap.
Andre tercyduk tak berkutik, yang membuat Wati semakin kesal didepan mata Hendra merangkul cewek tersebut dengan mesra.
Wati menarik lengan Andre dengan kasar,lalu
Wati menarik kuat rambut panjang cewek tersebut dengan sekuat tenaga.
"Tolong sakit" Cewek tersebut merintih kesakitan,aku berlari dan melerai Wati.
"Sudah Wat,biarkan saja orang ini,ayo pergi" Ucap aku menarik lengan kiri Wati.
Aku menghidupkan sepeda motor dengan susah payah menggeret Wati naik keatas motor,dengan tancap gas aku membawa Wati kearah stadion.
"Hiks hikss huaaa" Suara tangis Wati pecah dan menumpahkan kekesalan.
Bisa juga Wati menangis,ternyata sama seperti aku diluarnya saja ceria, jika kena masalah ternyata bisa mewek juga.
"Sudah diam Wat,ayo kita jalan- jalan siapa tau ada cowok ganteng lain" Sengaja aku ucap begitu supaya Wati diam diatas kereta.
"Aku enggak ikhlas dia khianati aku !, aku kira dia baik,padahal kami jalan sudah tiga bulan , sudah semua kuserahkan,syukur perawan aku enggak hilang" kata Wati menumpahkan segala isi hatinya.
" deg deg "
sakit memang saat Wati bicara kata- kata itu,tapi aku mengerti dia gak bermaksud menyakiti hati aku,cerita dia dengan aku jauh berbeda.
"Sudah sabar Wat,move on ces,ahk sikurus ini biasanya pede saja,baru dikhianati sudah ciut katanya kamu bukan kaleng-kaleng" Ucap aku ajak bercanda.
"Iya iya Wati ini bukan kaleng-kaleng"
Wati menghapus air mata dan berusaha tersenyum,kami jalan-jalan sampai kestadion lagi,ternyata ketemu sama kawan Wati satu sekolah.
Teman Wati ada tiga orang jadi ganjil kami lima orang duduk dipadang rumput yang luas.
"Wat kenalin yang disebelah kamu itu !" ucap Iwan salah satu teman sekolah Wati.
"Eh enak saja,kau pikir aku mak comblang?, sana tanya sendiri kalau mau kenalan" balas Wati dengan mencibir bibir.
Iwan menjulurkan tangan padaku,aku biasa saja dan sekedar berkenalan dengan Iwan.
"Salam kenal yah, nama aku Iwan" Tersenyum sembari menunggu balasan dari aku.
"Panggil saja aku Yunita" Aku mebalas uluran tangan Iwan kami bersalaman.
"Suah jangan lama- lama salaman itu nanti kau suka " kata Wati sambil menepis jemari Iwan.
"Hahah bawel kau Wati,kuntut kau Wati " ucap Iwan jadi salah tingkah.
Kami mengobrol sambil tertawa renyah,tidak berapa lama Indar dan Rafa datang,mereka berdua dengan wajah yang berseri-seri.
"Aih pasangan satu ini tau aja kami lapar " ucap aku yang melirik bungkusan dibawa Indar.
"Iya dong,eh Wati mana cowok kamu?,aku tidak lihat" kata Indar sambil tersenyum.
"Tolonglah critakan Yun aku males jawab pertanyaan kau Indar" ucap Wati sambil makan kue yang dibawa Indar.
Aku akhirnya menceritakan apa yang kami alami tadi dijoglo saat Andre tercyduk.Indar jadi marah pada Andre.
"Biadab itu,kalau kau belum puas Wati biar aku yang tarik rambut wanita itu" Indar geram sekali.
"Engga usahlah Ndar,aku enggak apa-apa, masih banyak kumbang disini yang mau jadi pacar aku Hahhah" ucap Wati sambil terbahak.
Tidak berapa lama Iwan dan Budi pergi,mereka pamit untuk pulang, aku tau Iwan seperti ada rasa sama aku,tapi sayang untuk saat ini aku belum mau membuka hati pada pria manapun.
Karena malam semakin larut akhirnya kami pulang,Wati dan Indar mengantar aku sampai kedepan rumah. Indar dan Wati pamit padaku saat aku turun dari atas motor.
Saat berjalan menuju teras rumah ternyata ada tamu, sepertinya polisi yang menangani kasus aku.
"Dari mana dek ?" ucap pak Rahmat yang lagi duduk disofa tamu.
"Hem jalan-jalan pak sama kawan sekolah" Jawabku sambil tersenyum.
"Enggak ajak-ajak bapak,bapak masih lajang lho " Canda pak Rahmat yang memakai jaket kulit.
"Ada-ada saja bapak ini" ucapku sambil melangkah menuju kamar.
Aku langsung masuk kedalam kamar,malas saja kalau bicara terus nanti diintrogasi lagi hal lain,gimana aku bisa melupakan tragedi itu.
Aku mendengar polisi dan ayah bicara diruang tamu,Wijaya sampai sekarang belum juga tertangkap membuat keluarga aku jadi geram dan kesal.Polisi juga sudah mengambil Poto Wijaya saat menggeledah rumah Wijaya.
__ADS_1