
Didalam Ruko (Rumah toko)
"Sudah aku bilang putuskan Juan !, kamu lagi mabuk- mabukkan terus !" Teriak Juna saat berdiri didepan pintu kamar aku.
"Beri aku waktu,aku belum bisa melupakan dia karena hampir tiga tahun aku bersama dia,aku mohon kamu mau mengerti aku" Tukas aku bernada sedih saat berdiri dihadapan Juna.
"Entahlah mau sampai kapan begini terus,aku sudah sabar menahan cemburu terus ketika kau jalan sama pacar-pacar kamu !!, aku harus mengerti kamu sampai kapan !?" Ketus Juna sembari mendengus kesal.
"Aku sudah putuskan semua pacar aku,kalau Juan aku belum bisa,pelan-pelan pasti bisa" Balas aku lagi menatap nanar Juna.
"Terserah kamu saja"
Ucap Juna dengan wajah kecewa.
Juna meninggalkan aku begitu saja tanpa pamit,Juna benar-benar marah kepada aku dan mungkin benar Juna pantas marah karena dia sebenarnya bukan orang yang aku cintai.
"Juna ..!!,Juna ...!!"
Aku meneriaki Juna berharap jangan pergi ketika dia keluar dari rumah,tetapi Juna keras kepala dan pergi naik motor begitu saja disaat aku mengejar pria itu sampai ujung pintu rumah.
----------------------------------------------------------------------
Malam Hari
Juna benar-benar marah dia tidak chat aku juga tidak menelfon sama sekali,aku duduk termenung sepi dikasur ini dengan hati gundah gulana.
"Tring..tring"
Cepat-cepat aku meraih ponsel dari meja rias mungkin itu Juna yang menghubungi,aku melihat ternyata aku salah bukan Juna yang telfon melainkan Mama Diana.
"Datang nak kesini ada tamu"
Ucap Diana saat aku menekan tombol hijau ponsel kepunyaan aku.
"Baik mem"
Balasku dengan menyudahi telfon dari mama Diana.
Dengan cepat aku bergegas memakai baju sexy dan berhias secantik mungkin,untuk apa aku menunggu kabar Juna?,mendingan aku kerja untuk melepaskan kegundahan hati ini.
Beberapa menit kemudian aku sudah sampai diparkiran depan karaoke L.A,lalu aku turun dan masuk kedalam tempat hiburan malam yang memberikan aku kehidupan.
"Ini tamu baru nak tapi tamunya tapi berondong,kamu menari sexy dan uangnya sudah mama pegang" Ujar Mama Diana saat berjalan hendak mengantarkan aku ke ktv Dua.
"Baik mam"
Ucap aku lalu masuk kedalam ktv dua.
disaat hendak duduk disofa ktv dua ini,aku tercengang saat melihat pria berbadan gagah nan tampan dan aku mengenal pria tersebut.
"Azli,kau diktv ini juga?"
Tanyaku dengan senang saat melihat Azli.
"Hei Yunita,kamu yang mau tari bugil,oh jangan harap kamu yang menari aku tidak akan izinkan !" Tukas Azli terkejut melihat aku berada didalam ktv dua ini.
"Duh aku jadi sungkan"
Kata aku lagi dan menjadi kikuk.
Azli adalah pria perawakan pakistan dan indo hidungnya mancung,kulit putih mulus,bibir tipis nan sensual beralis tebal,Azli juga mempunyai badan yang atletis dan aku kenal Azli dimedia sosial walaupun sebenarnya aku pernah tidur dengan Azli tetapi jasaku dibayar Azli.
"Jadi aku enggak boleh show d ktv ini?"
Tanya aku karena uang show sudah sibayar aku jadi bingung sekali.
"Panggil saja cewek yang lain,uang show kamu ambil aja sayang,kamu temani aku duduk saja disini" Jawab Azli tersenyum manis saat duduk dengan aku.
"Oh makasih ya Azli"
Balas aku dengan senang hati.
Aku menghubungi mama Diana untuk mencari cewek lain yang bisa menari bugil,lalu Mama Diana memanggil adik senior aku bernama Zaskia.
Tidak berapa lama Zaskia langsung nongol didalam ktv dua dengan diantar mama Diana,Aku melontarkan semyuman untuk Zaskia.
"Mbak Yun,minta izin mbak karena adik show didepan mbak" Kata Zaskia yang sangat sungkan kepada aku.
"Hajar dek,jangan lupa goyang yang hot"
Ucap aku supaya Zaskia semangat menari.
Zaskia akhirnya meliuk-liuk menari didepan kami semua,Zaskia sedikit meniru gaya aku menari kata orang sih Zaskia ngefans dengan aku,walaupun tarian Zaskia tidak sesempurna tarian aku tetapi terlihat bagus saat aku menonton tarian Zaskia.
Ternyata begini menonton show stripstise buat aku jadi malu dan aku melihat tubuh Zaskia tanpa busana,ya tuhan aku ternyata begini kalau menari juga? dan aku mulai menyadarinya jadi merasa aneh sendiri.
"Kenapa bengong Yun? ,jangan banyak merokok Yun contoh aku dong enggak merokok lagi" ucap Azli dengan menarik jemari aku untuk digenggam Azli.
"Iy-iya,Hehehe aku sudah mengurangi rokok ini kok,hatiku sedang bingung saja Azli ternyata show begini sangat menjijikan"
Jawab aku dengan canggung dan kernyit dahi.
"Tampaknya sebentar lagi Allah akan membuka hatimu kamu Yun,baguslah kalau bisa kamu berhenti menari beginian"
Kata Azli sembari mengacak rambut aku.
"Hemm"
Aku hanya terdiam dan hembus nafas panjang,ucapan Azli ada benarnya juga mau sampai kapan aku begini terus hidup didunia kelam dan aku benar-benar tersesat hati.
Berbeda dengan Azli walau suka kedunia hiburan malam pria ini tidak lupa dengan agamanya,dia juga tidak perokok dan bahkan didalam ktv Azli hanya minum air mineral saja tidak seperti tamu lainnya yang harus minum alcohol.
"Kau sering sholat Azli?,kata kamu sudah bertaubat kenapa kamu ketempat ini lagi?"
Tanya aku dengan heran dan penasaran.
"Suntuk didalam kantor terus,aku hanya ingin cari hiburan saja Yun,lagian yang bayar bukan aku,teman aku noh karena ulang tahun,sebentar lagu aku mau pamit pulang" Jawab Azli sembari melihat temannya yang fokus melihat tarian Zaskia.
"Sekarang saja kita pulang yuk,aku malu nonton show ini terus" Ajak aku sembari menatap keindahan wajah Azli.
"Ayolah kita makan malam dulu,siap itu aku akan mengantar kamu pulang" Tukas Azli dengan cepat berdiri dari duduknya.
"Ayo pamit sama teman kamu"
Ucap aku tersenyum dan berdiri dari duduk juga.
Padahal tarian Zaskia belum selesai aku dan Azli pamit pulang,awalnya teman Azli tidak kasih kami pulang tetapi Azli memberikan pengertian dan kami berdua lolos keluar dari ktv dua tersebut.
"Tunggu diparkiran saja Azli,aku ingin bertemu mama Diana dulu" Ucap aku saat diluar ktv dua.
"Ok Yunita,aku duluan ya"
Ucap Azli dan berjalan keluar dari karaoke tersebut menuju parkiran.
Aku berjalan mendekati mama Diana beserta anak ayam yang iya panggil untuk tamu lain,mama Diana heran kenapa aku cepat sekali pulang.
"Mam,ini uang pulsa mami aku mau pulang" Tukas aku memberikan sejumlah uang untuk Diana.
"Enaklah kau ya tanpa show dapat uang,duh sitampan itu sepertinya aku kenal,sepertinya sering ngegym dihotel ini" Ucap Diana tersipu malu.
"Iya mam dia banget sudah lama aku kenal dia mam" sambung aku lagi.
"Tampan banget ,badannya juga bagus,kamu mau shortime sama dia nak?" Tanya Diana yang ingin tau sekali.
"Enggak mam,aku cuma diantar pulang saja kok,dulu pernah sih ngamar sama dia tapi tiga tahun lalu" Jawab aku dengan menyunggingkan senyuman.
__ADS_1
"Ow gitu,ya sudah sana nanti jamuran dia menunggu kamu" Kata Diana yang langsung pergi untuk mengantar anak ayamnya.
"Hemm"
Aku hanya bergumam saja dan geleng kepala lalu aku pergi menuju parkiran,aku melihat Azli didalam mobil dan aku ketuk kaca jendela mobil Azli.
"Maaf ya aku lama,Diana heboh ingin tau saja"
Ujar aku sembari masuk kedalam mobil Azli.
"Enggak apa kok,oh iya makan dimana kita Yun?" Balas Azli dan menyetir untuk keluar dari lokasi karaoke.
"Emang kamu tidak malu jalan sama wanita seperti aku?,kita makan apa tidak dilihat orang lain?" Tanyaku karena tidak percaya diri makan ditempat umum bersama Azli.
"Gila kamu Yun,ya enggaklah,kamu itu sama seperti wanita yang lain itu penilaian aku sendiri,ayolah jangan pesimis gitu" Sambung Azli sembari pencet hidung bangir aku.
"Baiklah Azli"
Tukas aku dengan semangat,lalu Azli meluncurkan mobil kedepan kafe resto dan bar yang tidak begitu jauh dari tempat karaoke L.A.
Azli mencari tempat duduk paling pojokan lalu aku juga duduk berhadapan dengan Azli,terkadang sebenarnya Azli sedikit membosankan karena sering berceramah didepan aku tetapi aku suka karena cuci mata melihat dekat ketampanan Azli Hehehe.
"Yun kapan kamu mau berhenti dari dunia malam ini?" Kata Azli tiba-tiba tanpa beban dan tersenyum padaku.
"Gimana ya?,sudah lama sekali aku menjanda aku belum bisa temukan pria yang pas semuanya meninggalkan aku,aku mau sih menikah tapi pria itu harus sayang sama anak dan keluarga aku" Jawab aku sembari berfikir keras.
"Sabar Yun coba kau berhenti kerja malam , kerja yang lain atau apa kek,mana tau Allah tunjukan jodoh yang sesungguhnya" Sahut Azli sembari menunggu pesanan makan yang kami pesan dengan Waitres tadi.
"Pakistan ini mulai ceramah,huh dasar"
Sambung aku sembari menjulurkan lidah kepasa Azli.
"Nah dikasih tau malah bebal,terserah kamu deh" Kata Azli menarik nafas panjang.
Tidak berapa lama makanan dan minuman yang kami pesan telah datang,lalu aku dan Azli menyantap dengan tawa ria dan cerita.
"Azli apa nama media sosial kamu yang baru,yang lama kok tidak aktif?" Tukas aku ditengah makan.
"Azli mahid khan kamu konfir ya entar aku tak media sosial kamu" Jawab Azli sembari menyeka mulut sehabis makan.
"Ok aku tunggu ya,entar aku konfir"
Balas aku sembari menguyah makanan.
Malam semakin larut dan setelah makan dan lelah berbincang dengan Azli akhirnya kami memutuskan pulang,setelah berjalan menuju parkiran kafe dan bar tersebut lalu Azli mengantarkan aku pulang kekontrakan.
"Azli sampai jumpa lagi ya,lain waktu kita ketemu" Tukas aku saat melihat mobil Azli sudah didepan kontrakan.
"Baik- baik Yun,kalau jodoh kita ketemu lagi"
Balas Azli dengan senyum indah.
"Sudahlah say jangan kasih aku uang lagi,tadi saja sudah kamu kasih" Ucap aku saat melihat Azli mengeluarkan dompet dari saku celana.
"Tidak apa Yun,nih buat kamu"
Kata Azli yang memegang beberapa uang dan menaruh ditangan aku.
"Terima kasih ya Azli"
Ucap aku dengan haru dan menerima uang dari tangan Azli.
Beruntung juga aku ketemu Azli dapat dobel uang tanpa membayar uang mucikari,sepertinya Tuhan tau kalau aku lagi pelik keuangan saat ini,aku mencium pipi kanan dan kiri kepunyaan Azli seraya akan pamit.
"Daa..Azli"
Ucap aku saat keluar dari mobil dan melihat senyuman tampan Azli.
"Sampai ketemu Yunita"
Dulu aku sempat mencintai Azli tetapi perasaan ini cepat-cepat aku tepis,aku sadar tidak sepadan dengan pria pakistan itu dan kau takut kalau pacaran dengan Azli akan tersakit mending aku berteman mesra saja kepada Azli.
Lalu aku masuk kedalam kontrakanku terlihat Ika menyambut aku dengan senyuman,lalu aku mencampakkan dompet keatas kasur dan berniat ganti pakaian dengan pakaian tidur.
"Makan dek,mbak bawa makanan dari Azli"
Ucap aku meletakkan sekantung makanan keatas meja hias.
"Wah dari mana mbak dapat makan alla cafe begini?" Balas Ika dengan cepat melihat makanan enak.
"Ketemu sahabat lama,orangnya baik betul,udah gitu tampan lagi,kau tau Ika wajahnya alla pakistan" Balas aku sembari ganti pakaian.
"Wah aku percaya kalau mbak kenal yang tampan semua,oh iya tadi Juna kesini cari mbak,muka Juna masam lho mbak,apa kalian lagi ribut?" Ujar Ika yang sudah makan dilantai tanpa alas.
"Biasalah dek cemburuan,sejak kami dekat dia mulai cemburuan ih pening aku" Ucap aku sembari mendengus kesal.
"Putuskan saja cowok mbak yang alla korea itu sudah enggak jelas itu Juan mnak,Juna berjuang lho untuk dapatkan mbak,coba pikir sekali lagi mbak,dulu cowok mbak ada lima orang termaksud Juna dan sekarang siapa yang bertahan sama mbak coba?" Kata Ika panjang lebar walau sedang mengunyah makanan.
"Iya sih dek,tapi terkadang Juna keras kepala, sedikit-sedikit merajuk,ah buat mbak pusing tau" Balas aku dengan memijat dahi.
"Bunga-bunganya itu mbak,memang sih aku lihat cowok mbak tampan semuanya kecuali Juna,tapi aku nilai yang mau hidup susah cuma Juna,apalagi kemarin tuh mbak enggak ada uang cuma Juna yang perduli" Kata Ika dengan nada serius.
"Entar mbak pikirkan deh"
Ucap aku dengan menarik nafas panjang.
Aku mencerna perkataan Ika walau sebenarnya Ika tidak pantas menasehati aku,terkadang anak kecil bicaranya harus didengar walau semuanya bertolak belakang dengan apa yang aku pikirkan,Juan yang mundur secara perlahan,sedangkan Juna maju terus memberi harapan.
"Terkadang otak kamu encer juga ya"
Kata aku dengan tersenyum kepada Ika.
"Belajar dari pengalaman mbak,kita bisa pintar belajar dari apa yang pernah kita lakukan dimasa lalu,kalau kita tidak pernah mencoba pahitnya hidup ini mungkin kita enggak pernah tau artinya waspada" Ucap Ika panjang lebar yang sudah selesai makan.
"Mulai drama kayak nya nih,Hahah kampret kau dek" Ucap aku dengan tertawa renyah.
"ttin tin tin"
Suara klakson terdengar dari bawah dan obrolan aku dengan Ika terhenti.Dengan cepat aku bangkit dari kasur dan melihat kearah jendela kamar.
"Kayaknya suara motor Juna mbak"
Kata Ikat dengna kernyit dahi.
"Memang benar Juna,aku kebawah ya dek" Ucap aku yang melihat dari jendela dan berjalan keluar dari kamar untuk membuka pintu.
Kini aku sudah didepan pintu dan menekan knop pintu untuk membiarkan Juna masuk kedalam kontrakan.
"Sudah siap marahnya?"
Ucap aku saat melihat Juna masuk kedalam kontrakan.
"Siapa yang marah ih,ini aku bawa jus"
Kata Juna bermaksud mengalihkan perkataan.
"Sok perhatian,ayo masuk"
Ucap aku sembari berjalan membelakangi Juna.
"Hemm,besok puasa pertama lho,dia tak puasa?" Kata Juna yang ikut berjalan menuju anak tangga.
"Diriku berlumur dosa,tunggu mandi air zamzam dlu" Sambung aku yang berjalan terus tanpa memikirkan juna yang dibelakang aku.
"Engak perlu mandi air zamzam,yang penting niatnya saja,jalan kok cepat amat sih?" ujar Juna berjalan cepat untuk barengan dengan aku.
__ADS_1
"Oya...,bawel betul sekarang bapak Juna yang terhormat" Kata aku sembari menatap Juna yang tersenyum.
"Mana ika?"
Tanya Juna yang melihat isi ruangan lantai dua.
"Didalam kamar baru siap makan"
Jawab aku sembari membuka pintu kamar.
Lalu aku dan Juna duduk didepan televisi bersama Ika yang serius menonton film kesukaannya,sesekali Juna memegang erat jemari aku,aku biasa saja hanya melontarkan senyum kepada Juna.
"Harus puasa besok kita ya,jangan ada yang enggak puasa" Kata Juna dengan nada serius.
"Hei boneng,puasa itu harus niat didalam hati,bukan karena paksaan seseorang" Sambung aku dengan rasa kesal.
"Awalnya terpaksa karena orang,lama-kelamaan bisa jadi niat sendiri didalam hati,belum mencobanya sudah melawan" Balas Juna menatap serius aku.
"Bawel betul,mending nonton saja aku sampai sahur tiba" Ucap aku dengan nyinyir.
"Tidur sekarang,baru bangun sahur"
Kata Juna tidak mau kalah dengan perkataan aku.
"Duh mulai lagi deh"
Sambung Ika memutarkan mata karena bosan melihat kami berdua terus ribut.
"Aku enggak puasa,kamu lupa ya kalau aku lagi datang bulan ?!" Ketus aku sembari buang muka kepada Juna.
"Maaf deh aku lupa"
Kata Juna dengan lirih dan berusaha membujuk aku dengan menggait jemari kanan ini.
Karena hendak berpuasa Juna pamit duluan untuk tidur terlebih dahulu,sedangkan aku dan Ika masih asyik menonton televisi,sebenarnya nyaman jika ada Juna tapi kenapa hati ini payah rasanya mencintai Juna dengan sepenuhnya.
-----------------------------------------------------------------------
Esok hari
Sengatan sinar matahari membuat orang yang sedang beraktivitas pasti merasakan dahaga,mungkin itu cobaan bagi insan yang sedang berpuasa seperti Juna saat ini yang sedang rebahan karena menahan rasa lapar dan Haus.
"Dek entar kita belikan Juna takjil yuk"
Ajak aku kepada Ika yang sibuk melipat kain didalam lemari.
"Boleh mbak,sekalian saja kita jalan-jalan sore" Sambung Ika dengan semangat.
"Aku dengar lho,ikutlah biar enggak terasa laparnya" Kata Juna dengan lemas akibat berpuasa.
"Hemm,boleh"
Ucap aku dengan melontarkan senyum lebar kepada Juna.
Angka jam sudah menunjukan angka lima sore,aku dan Juna serta Ika sudah sibuk bersiap diri untuk jalan-jalan sore dan mencari takjil yang enak dijalanan.Ya maklum saja kalau bulan suci ramadhan pasti semua orang sibuk berdagang takjil disetiap jalan atau dilorong-lorong rumah.
Aku memborong semua takjil,berbagai jenis kue basah dan bubur aku beli berlebih padahal yang sedang berpuasa hanya Juna entah kenapa aku senang saja membelikan untuk Juna.
Kini kami sudah sampai didalam kontrakan bersiap diri menunggu azan maghrib berkumandang,Terlihat Juna sedang duduk didepan hidangan yang aku sediakan untuk Juna.
"Alhamdulilah akhirnya puasa pertama aku hari ini selamat tanpa godaan dari sebelah alu ini" Tukas Juna yang sudah minum seteguk dan melirik aku.
"Cih siboneng ini perasaan,walau aku sering godain kamu,aku masih punya hati nurani ya, dosa godain orang yang puasa" ucap aku dengan nyinyir sewaktu duduk disebelah Juna.
"Duh terus begini"
Ucap Ika melirik aku dan Juna,mungkin Ika merasa pusing melihat dan mendengar perdebatan kami sepanjang hari.
"Ayo makan,masa aku sendiri makan ini semua enggak sanggup aku" Kata Juna yang mengunyah kolak pisang.
"Ayo mbak makan saja"
Ujar Ika sambil meraih kue basah.
"Hemm"
Aku hanya bergeming saja dan buang muka dengan Juna.
Tapi sebenarnya hati ini senang dan nyaman kalau ada Juna,pertentangan beda pendapat selalu saja menyelimuti pertemuan dan obrolan kami tetapi disitulah letak pundi-pundi perasaan aku kepada Juna.
"Kenapa ngelamun,melamunin mantan ya?"
Kata Juna sembari senggol lengan aku.
"Cih,jangan berfikiran kotor ya,aku lagi berfikir kapan aku menikah" ucap aku dengan rasa kesal.
"Mangkannya tobat sana,nanti ada pemuda yang melamar dirimu,doakan saja aku banyak rezeky dan umur panjang" Jawab Juna tanpa beban.
"Percaya perkataan kamu menduakan Tuhan tau" Kata aku dengan cemberut.
"Masya Allah,enggak yakin ya"
Kata Juna sembari geleng kepala.
Sebenarnya aku sangat senang dengan perkataan Juna,tetapi aku pura-pura biasa saja walau seperti orang munafik aku tetap berusaha netral didepan Juna karena tidak mau terlalu dalam.
Selesai berbuka puasa aku dan Ika berbaring diatas kasur,sedangkan Juna sibuk dengan peci dan sarung yang bakal iya kenakan nanti saat tarawih.
"Cie rajinnya siboneng ini,pakai peci sama sarung apa mau ceramah dimesjin bapak ustad?" Kata Aku dengan canda dan menggoda.
"Bukan bersyukur dapat cowok kayak aku,biar jelek begini dek tapi hati abang sangat tampan" Sambung Juna dengan besar kepala.
"Iya lah percaya saja aku"
Kata aku dengan lirih dan melirik Juna yang sedang sibuk melingkarkan sarung diperut kepunyaan Juna.
"Bunda malam ini enggak usah kerja ya,kalau ada yang panggil untuk kerja tolak saja,aku usahakan uang belanja untuk kita" Kata Juna yang lagi berdiri disamping kasur.
"Cerewet betul sih sudah sana tarawih"
Sambung aku sembari bangkit dari atas kasur.
Aku mengantar Juna kelantai bawah dan setelah itu Juna pergi pamit kepadaku untuk tarawih,Ponsel aku tiba-tiba berdering dan aku meraih ponsel dari dalam saku celana pendek yang aku pakai.
"Hallo mak,tau enggak ma minggu lalu ayah bawa cewek lho mak,namanya ibu Jenny"
Suara Raisya terdengar dari ponsel aku.
"Ya biarlah nak,Raisya pasti senang dapat mama baru lagi" Balas aku dengan nada bercanda.
"Ih mama aku cuma satu kok ,mana mau aku punya mama baru lagi" Kata Raisya dengan nada kesal disebrang sana.
"Kalau ibu baru Raisya baik tidak apa nak,tapi kalau Raisya dipukul bilang mama ya biar kita giling orang itu" Kata aku lagi dengan nada serius.
"Ya mak,mak sudah dulu ya aku mau tarawih"
Ucap Raisya dengan senang hati.
"Ya nak,sehat-sehat disana ya,entar uang maa ada kita beli baju lebaran" Ucap aku sembari menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar.
"Iya mama aku"
Ucap Raisya dengan nada manja dan menutup telfon.
Akhrnya Arul bisa juga ya mendapat pengganti aku,biarlah dia menikah lagi dan aku memang sudah lama sekali melupakan rasa benci aku kepada mantan suamiku.
__ADS_1