Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 118


__ADS_3

Singkat cerita aku sudah setahun dengan Juan banyak kenangan manis yang kami jalani sehari-hari,suka maupun duka sudah kami jalani dan aku sudah mencintai Juan dengan sepenuh hati tanpa mengingat masa lalu yang pahit.


Hari ini opung Juan memanggil aku untuk datang kerumah mereka,aku penasaran untuk apa aku datang?,apa ada hal yang penting akan disampaikan opung juan?,aku tidak tau hanya mengikuti ajakan Juan untuk datang kerumah keluarga besar Juan.


Kini aku sudah duduk diruang tamu bersama opung Juan,terlihat wanita tua itu duduk berhadapan dengan aku.


"Opung menyuruh datang Yunita karena ingin ada yang opung sampaikan sama kamu nak" Tukas wanita tua itu dengan wajah serius.


"Mau bicara hal penting apa ya pung?,maaf kalau Yunita boleh tau?".Jawab aku dengan sopan.


"Kaliankan sudah pacaran lama,sudah setahun,opung mau disisa hidup ini Juan menikah dengan kamu Yunita". Sambung wanita tua tersebut.


"Yunita hargai keputusan opung,tapi kami beda agama pung,susah untuk bersatu".Kata aku dengan bingung.


"Nah inilah opung mau bertanya sama Yunita,maukah Yunita ikut agam kami?,biar cepat saya nikahkan kalian berdua" Ucap Wanita itu dengan menatap aku serius.


Aku terkejut batin dengan ucapan wanita tua ini,aku harus jawab apa ini semua membuat aku bingung,aku terus berfikir panjang,sementara wanita tua yang ada dihadapan aku ini menunggi jawaban aku.


"Tuhan aku harus gimana?,aku anak perempuan satu-satunya,anak kau juga ada,kalau ibuku dipanggil yang maha kuasa siapa yang akan menyolatkan dia?,hah ini tidak mungkin,aku tidak bisa".Ucap batin aku dengan gelisah dan risau.


"Maaf opung bukan Yunita tidak mau,Yunita mau benget hidup dengan Juan,tapi soal ini Yunita berfikir dulu,ini tidak gampang pung,saya juga punya keluarga dikampung,apa kata mereka kalau Yunita memutuskan sendiri" Ucap aku dengan kepala tertunduk sesekali melihat wanita tua itu yang telah membesarkan kekasih yang aku cintai.


"Hemm,aku sudah tau jawaban yang kamu ucapkan barusan,Juan tolong bawa Yunita pulang,Baiklah Yunita opung kedalam dulu" Ucap wanita tua itu dengan beranjak dari duduk langsung pergi tanpa basa-basi lagi.


Aku ingin sekali berbicara lagi tetapi apa daya wanita tua itu pergi menuju kamarnya,sedangkan Juan yang terdiam jadi pendengar obrolan kami,terlihat Juan hembus nafas panjang dan berfikir.


Aku juga melihat wajah kecewa Juan dan opung,aku mau buat apa?,aku punya keluarga bukan hidup sebatang kara didunia ini,apalagi aku mempunyai seorang anak,sedangkan wanita tua itu tidak tahu kalau aku ini seorang janda,apa reaksi wanita tua itu kalau tau tentang status aku?,ah ini sulit sekali seperti makan buah simalakama.


Juan naik keatas motor begitu juga dengan aku,kami hanya terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun diatas motor ini,mungkin Juan juga kecewa dengan jawaban yang aku berikan tadi.


Sampai didepan rumah kontrakan aku,aku turun dari atas motor sedangkan Juan tidak ikut turun membuat aku heran,Juan juga beda biasanya langsung kecup kening aku sekilas saat didepan rumah.


"Papa mau kemana?,kok enggak masuk?"


Tanya aku dengan heran melihat Juan yang membisu diatas motor.


"Maaf ma,aku mau tenangkan opung dirumah dulu,nanti chating aku kalau ada perlu apa-apa" Kata Juan dengan kernyit dahi seperti berfikir.


"Terserah papa saja,hati-hati"


Ucap aku sembari melihat Juan pergi dari lokasi rumah kontrakan aku.


"Aku tau dia pasti kecewa,tapi aku berdoa saja supaya Juan mengerti dengan keadaan aku ini" Gumam aku saat masuk kedalam rumah dengan hati gunda gulana.


 


Malam Hari


Bintang bertaburan diangkasa,cahaya bulan juga menyinari malam ini,cuaca malam ini sangat indah dam cerah,tetapi berbeda dengan hatiku yang masih gundah gulana.


Aku terduduk diam disudut kamar ini sesekali melirik ponsel yang tidak berdering,hanya beberapa teman yang chating,tetapi yang aku harapkan tidak ada kabar sama sekali,dari tadi sore Juan tidak ada kabar,aku chating jangankan membalas,membaca chat aku saja tidak ada.


"Kluk kluk kluk"


Suara ponsel aku berdering bertanda chating masuk,dengan cepat aku meraih ponsel yang terletak diatas kasur,siapa tau Juan membalas chating aku.


"Hallo,boleh kenalan enggak?,aku fans sama embak sejak dari dulu lho,nama aku Arya" Aku membaca chat nomor asing ini dengan heran.


"Kok kamu tau pin BB aku?,dari siapa?"


Aku menulis dan membalas chat dari pria yang mengajak kenalan tersebut.


"Kluk kluk kluk"


Dengan cepat Arya membalasnya,padahal aku sangat kecewa karena bukan Juan yang chating melainkan orang lain yang belum aku kenal sama sekali.


"Dari teman mbak,maaf ya kalau aku ganggu"


Aku membaca chatingan tersebut dengan geleng kepala.


"Enggak ganggu kok,cuman heran saja,belum kenal sudah tau soal aku" Aku membalas chatingan tersebut dengan iseng-iseng.Maklum malam ini aku benar-benar kesepian.


"Oh gitu,tapi bolehkan kita ketemu suatu saat,benar mbak aku fans banget,lagian aku mau mastikan mbak sama enggak kayak difoto profil" Balasan chating Arya.


Aku klik poto profil Arya dan melihat wajah tampan Arya,aku geleng kepala saja dan malas merespon dulu pria yang baru aku kenal dari chatingan ini.


"Gila..,tolong jangan ganggu saya dulu,saya lagi gak mood" Aku membalas dengan mendengus kesal.


"Oh maaf mbak"


Chatingan terakhir Arya aku baca saja.


Memang aku sedikit goyah saat melihat foto profil Arya,lelaki ini mirip sekali dengan aktor takiya genzi,apa lelaki ini orang jepang?,ah mungkin foto menipu saja,karena banyak sekarang makhluk berkedok didalam media sosial atau pin BB,aslinya beda dengan yang didalam foto profil.


 


Seminggu kemudian


Juan tidak ada kabar sama sekali,aku sudah lelah menelfon atau chating tetapi tidak dibalas dan terkadang diread doang membuat aku kesal,entah apa mau Juan sekarang ini aku tidak tau,ingin sekali aku datang kerumah Juan untuk bertanya,tetapi harga diri ini lebih mahal daripada hasrat hati ingin sekali bertemu dengan Juan.


Aku juga mencari ditempat kerjaan Juan,hasilnya nihil,Juan tidak bekerja lagi itu membuat aku semakin heran dan ada kemungkinan pikiran Juan diracuni oleh orang tua itu.


"Mending selingkuh saja dari pada digantung kayak begini,capek banget memikirkan orang yang tidak perduli dengan perasaan aku sekarang" Gumam aku saat sendiri dikamar sepi bisu ini.


Kebetulan BB aku dichat Arya,apa mungkin dia naksir aku?,ah aku respon saja Arya supaya tidak kesepian,ketimbang aku putus sama Juan sakit hati kemudian hari,mending aku mendua saja.


"Tumben baca chat aku?,ayo ketemuan"


Chating Arya saat aku baca.


"Ketemu dimana?"


Aku membalas chating Arya.


Arya membuat janji untuk bertemu dengan aku dikaraoke GD,dengan cepat aku berhias diri dan mengganti pakaian ini,aku penasaran dengan wajah Arya,apa sama seperti yang ada difoto profil.


Kini aku sudah naik keatas motor dan berjalan menuju karaoke G.D,sampai disana aku melihat seorang pria tinggi semampai lagi berdiri didepan karaoke G.D,tetapi aku tidak yakin kalau itu Arya karena suasana sedikit remang,hanya lampu temaram bersinar ditempar parkiran.


Aku menelfon nomor Arya,ternyata benar dugaan aku pria yang berdiri tepat didepan aku lagi menerima telfon dan melirik aku,aku tidak jadi berbicara langsung menekan tombol merah saat pria itu mendekati aku.


Oh Tuhan tampan sekali mirip dengan aktor jepang takiya genji,rambut juga sama apalagi postur tubuh ditambah mata cipit dan bibir tipis nan mungil,Hati ini tertarik apalagi Arya melihat aku dengan penuh arti.


Aku salah tingkah saat Arya berdiri dekat sekali dihadapan aku,lalu Arya tersenyum dengan bibir mungil nya itu semakin membuat aku terpesona.


"Cantik sama kayak difoto,salam kenal mbak"


Tukas Arya sembari mengulurkan tangan.


"Duh...,ja-jangan memanggil embak kayak nya kita seumuran" Ucap aku dengan canggung dan hati berdebar.


"Jadi aku memanggil apa?,eh ayo duduk nanti turun darahnya berdiri terus" Jawab Arya sambil mencari tempat duduk yang nyaman.


"Yunita saja,duduk disini saja"


Kata aku sembari masuk kedalam Hall lama Yang terletak ditepi karaoke G.D.


Arya duduk bersebelahan dengan aku,suasana disini sedikit remang karena Hall ini sudah tidak dipakai lagi dengan perusahaan karaoke G.D,tetapi terkadang dijadikan tempat nongkrong para waitres karaoke atau yang lainnya.


"Kamu orang apa?,enggak macam orang indo asli" Tanya aku dengan penasaran.


"Papa aku jepang,ibu aku cina,tapi kau lahir diindonesia kok,sama kayak kamu" Kata Arya dengan tersenyum.


"Pantas,kamu mirip banget sama aktor jepang itu,potongan rambut kamu juga sama" Sambung aku lagu dengan nyeplos.

__ADS_1


"Mirip ya?,banyak yang bilang sih,kalau boleh tau kamu sudah punya pacar apa belum?" Tukas Arya sembari menatap aku dengan teduh.


"Aku sudah ada pacar,tapi hubungan ini gantung gitu saja karena beda agama" Ucap aku dengan nada bersedih.


"Oh begitu,sudah jangan sedih,kalau kamu mau aku bisa jadi teman berbagi kamu,tapi aku boleh minta sesuatukan?" Kata Arya dengan nyengir.


"Baru ketemu minta sesuatu,kamu gila ih"


Kata aku jadi risih dan berfikiran kotor.


"Bukan hal aneh kok,aku mau ajak kamu jalan-jalan supaya kamu enggak jenuh" Sambung Arya dengan kernyit dahi.


"Oh..,kirain entah apa,ya sudah ayo jalan-jalan" Ucap aku sembaru berdiri dari duduk.


Kali ini aku tidak mau berfokus oleh satu cowok,aku harus pasang cowok lain seandainya aku berpisah dengan Juan,aku tidak akan meratapi dan menangis seperti dahulu saat dengan semua mantan-mantan aku.


Kini aku sudah duduk berdua dengan Arya diatas motor kepunyaan Arya,motor kepunyaan aku,aku titip sebentar dengan scurity karaoke G.D.Lalu sepeda motor Arya berjalan dengan kecepatan rendah menyusuri jalan perkotaan.


Aku dan Arya bercerita dengan canda dan tawa sembari jalan-jalan,pendekatan ini sangat akrab padahal baru bertemu sekali saja,tetapi entah kenapa hati ini jadi nyaman dengan Arya,rasa kesepian dan hampa karena Juan berkurang berkat hadirnya Arya.


Aku suruh scurity G.D mengantarkan sepeda motor aku kerumah kontrakan,sedangkan aku diantar pulang oleh Arya.


"Pamit ya,besok kalau ada waktu,ita jalan- jalan lagi". Tukas Arya ketika kami berdua sampai didepan kontrakan rumah aku.


"Ok Arya,makasih ya mau temani aku malam ini,hati-hati Arya" Sambung aku dengan tersenyum manis.


"Cupp"


Tanpa izin dariku Arya langsung nyosor dengan sekilas memcium bibir aku,aku sangat terkejut berdiri mematung,sedangkan Arya tersenyum dan pergi sambil melambai.Aku ingin marah tapi entah kenapa aku enggak bisa,seperti senang Arya kecup bibir ini walau sekilas.


Aku masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rumah,aku berjalan masuk kedalam kamar mandi hendak mencuci.Selesai mencuci muka aku keluar dari kamar mandi,saat ingin membuka pintu kamar langkah aku terhenti.


"Tok tok tok"


Pintu rumah aku diketik seseorang,aku berjalan mendekati pintu dan sebelumnya aku mengintip dijendela mencari tau siapa yang datang.


"Juan,kenapa dia baru muncul?"


Gumam aku saat melihat dari jendel.


Tuhan...,kenapa aku ingin membuka hati dengan Arya seperti terhalang,kenapa Juan datang lagi?,aku kira Juan tidak akan datang lagi,aku kira hubungan ini sudah berlalu.


Walau hati kesal karena perbuatan Juan yang tidak ada kabar,aku membuka pintu untuk Juan,Jujur hati ini masih sayang kepada pria yang kini dihadapan aku.


"Kok baru sekarang datang?,kemana saja selama ini?" Ketus aku sembari melipat tangan dan memalingkan wajah.


"Maaf ma,aku rindu sekali sama kamu ma,aku dilarang opung untuk ketemu kamu lagi,tapi aku enggak bisa,ini saja aku melarikan diri supaya bisa datang kesini ma" Kata Juan dengan wajah bersedih.


"Kalau sudah begitu mau apa lagi datang?,percuma kita lanjutin hubungan ini" Sambung aku dengan ketus tanpa melihat wajah Juan karena aku terbawa emosi.


"Jadi mama mau kita benar-benar pisah?, mama mau kita enggak bertemu lagi?"


Tanya Juan dengan suara bergetar dan membendung air mata.


"Enggak tau mau kayak mana kita sekarang,masuklah dulu jangan berdiri didepan pintu terus" Tukas aku sembari berjalan mengambil tempat duduk diatas sofa.


Ingin sekali aku memutuskan hubungan ini,tetapi aku tidak begitu karena rasa aku lebih dalam ketimbang kesal aku sekarang,apalagi Juan langsung memeluk aku dengan erat sembari meneteskan air mata.


"Jangan menangis entar aku jadi ikutan,aku masih sayang sama kamu" Kata aku sembari melepaskan pelukan hangat Juan.


"Ma...,aku enggak mau kita pisah,tolong beri aku kesempatan untuk ngomong sama opung aku supaya dia berubah pikiran,biar bisa kita bertemu seperti dulu".


"Aku capek Juan dari remaja sampai umur aku dua puluh empat tahun,aku tidak pernah merasakan kebahagiaan yang abadi,aku terus ditinggal,dilukai tanpa kejelasan sama mantan-mantan aku,aku capek pacaran tapi enggak ada serius mencintai aku" Ucap aku dengan suara bergetar.


"Aku mencintai kamu tulus ma,aku sayang sama kamu dengan tulus,tapi tolonglah kamu juga harus mengerti keadaan aku sekarang,aku harus kayak mana ma?" Ucap Juan dengan tertunduk duduk berhadapan dengan aku.


"Sudah aku lagi pusing,banyak beban yang mau aku pikirkan,ya sudah jangan bahas dulu,kalau sudah tenang kita bahas lagi" Ucap aku saat membelai rambut Juan.


Aku malas bertengkar membahas persoalan ini,lebih baik aku ikuti saja alur kemuan Juan,aku juga sudah ada Arya walau masih separuh hati.


"Mama kok lihat hp senyum-senyum,chatingan sama siapa?" Kata Juan melirik aku yang berbaring disebelahnya.


"Sama teman pa,enggak mungkin sama setan" Jawab aku sembari meletakkan ponsel diatas kasur dengan terbalik,supaya Juan tidak melihat jika ada pesan masuk.


"Ya sudah ma"


Kata Juan dengan kernyit dahi.


"Iya sudah ayo kita tidur"


Ajak aku sembari tarik selimut.


Kemesraan itu sudah hilang apalagi mendengar orang tua itu melarang aku bertemu dengan Juan,yang biasanya aku memeluk Juan tidur kadang memperkosanya kini tidak aku lakukan lagi,karena sudah malas dengan hubungan ini.


 


Esok Hari


Aku terbangun dan melihat Juan berdiri memakai pakaian yang sudah rapi,Juan pamit untuk kerja,lalu Juan kecup kening ini dengan sekilas tetapi entah kenapa rasanya hampa,entahlah emosi,kesal dan bercampur cinta yang kini aku rasakan dengan Juan.


"Nanti aku antar makan siang ya ma"


Ucap Juan saat didepan pintu dan mengelus rambut panjang aku.


"Iya pa,hati-hati"


Sambung aku yang melihat Juan naik keatas motor.


"Hiks..Hiks..Hiks"


Setelah Juan pergi entah kenapa air mata inu mengalir,aku terduduk dibalik pintu dengan rasa hampa,aku sengaja cuek dengan Juan seakan-akan aku ini tidak mencintainya,padahal hati ini masih tertambat nama Juan.


Siang hari setelah Juan mengantar makan siang buat aku,aku chatingan dengan Arya entah kenapa rasa hampa ini sedikit menghilang,apalagi Arya ingin main kerumah sore hari ini.


"Lama ya datang nya?"


Tukas aku saat membuka pintu untuk Arya.


"Panggil beb saja dong biar akrab,ini aku bawa makanan" Kata Arya langsung masuk dan meletakkan kue basah diatas meja.


"Hemm...,makasih ya"


Kata aku dengan duduk diatas sofa berdampingan sama Arya.


"Entar malam kita jalan-jalan lagi yuk"


Ajak Arya menatap aku dalam sekali.


"Boleh,beb..."


Ucap aku dengan canggung saat mengucapkan kata Beb.


"Cie senangnya aku kamu panggil Beb,tapi sekarang aku enggak bisa lama beb,ibu mimta temani belanja kepasar" Ucap Arya dengan girang sekali.


"Enggak apa beb,entar malam kita ketemu"


Sambung aku dengan tersenyum.


Kini aku sudah bermain api dengan Arya dari belakang Juan,biarlah sementara begini dulu,entah kenapa aku senang dekat dengan Arya.


 


Esok Hari

__ADS_1


Sekarang aku sudah makin dekat dengan Arya,kami terlihat akrab tadi malam saat bertemu,Arya dan aku sudah berciuman bahkan bercumbu walau kami belum tidur seranjang.


Juan sedikit curiga sewaktu aku bermain ponsel dengan tersenyum sendiri,bisa saja Juan merampas ponsel ini dan melihat apa yang aku lakukan,tetapi Juan tidak melakukan hal itu.Juan sangat penyabar tetapi aku tidak tau apa isi hati Juan sekarang.


"Mama jalan-jalan yuk,kita sudah lama enggak jalan-jalan kayak dulu lagi" Tukas Juan saat duduk berdua dengan aku diatas kasur.


"Malas jalan sore pa,entar saja kalau kamu off kerja" Ucap aku tanpa melihat Juan bicara karena lagi chatingan dengan Arya.


"Asal aku datang pasti mama pegang Hp terus,chat siapa sih?,mama berubah betul"


Kata Juan dengan murung dan sedih.


"Chatingan sama Dina lho,gitu saja merajuk"


Ucap aku dengan kernyit dahi dan meletakkan ponsel diatas meja rias.


"Asal benar saja"


Gumam Juan dengan kesal dan cemberut.


Sebenarnya aku ingin sekali jalan sore-sore bersama Juan seperti dulu,tetapi aku takut kepergok Arya saat dijalan,apalagi terang hari bisa jadi hancur semuanya.


Hari mulai gelap,Juan siap-siap ingin bekerja,sementara aku memakai pakaian sehabis mandi,Juan sudah selesai memakai sepatu dan menyisir rambut alla koreanya.


"Ma cium aku,biasanya mama ciumi aku terus" Kata Juan memeluk aku dari belakang.


"Cup,cup"


Aku mencium bibir dan kening Juan sekilas,Juan terlihat senang dan mengecup aku balik,lalu Juan dan aku berjalan menuju pintu utama rumah kontrakan.


"Aku pamit ya ma,entar aku cahting mama ya sayang" Kata Juan mengelus rambut aku.


"Iya pa,hati-hati ya pa"


Sambung aku sambil melambaikan tangan ketika Juan naik keatas motor dan bersiap pergi.


Dengan tergesa-gesa aku masuk kedalam kamar dan aku lihat jarum jam menunjukkan Anga tujuh malam,lalu aku berhias diri secantik mungkin ditambah parfum aku semprotkan dibagian baju dan celana ini,aku janjian dengan Arya malam ini saat kami cahtingan tadi.


"Tok..tok tok"


Setengah jam berlalu pintu rumah aku diketuk seseorang,aku berfikir Arya yang datang,dengan cepat aku memakai lipstik dan meletakkan lipstik begitu saja diatas kasur,aku berjalan cepat membuka pintu rumah.


"Tadaa...,Aku bawa salak beby"


Ucap Arya ingin buat Ku terkejut dan membawa kantungan berisi salak.


"Makasih ya beb"


Ucap aku menerima pemberian Arya.


Arua berjalan keruang tamu dan duduk diatas sofa,aku juga begitu langsung duduk disebelah Arya sembari makan salak.


"Beb kamu enggak kerja?"


Tanya Arya yang membuka kulit salak.


"Lagi malas beb,aku ingin istirahat"


Jawab aku dengan tersenyum.


"Mending kita jalan-jalan,supaya kamu enggak bosan didalam sini". Kata Arya terlintas muncul ide barunya.


"Ok beb,aku ganti baju dulu ya"


Sambung aku dengan semangat lalu berjalan masuk kedalam kamar.


"Tunggu dulu,main pergi saja beb"


Ucap Arya menarik lengan aku ketika hendak kekamar.


"Mau apa sih,biar cepat kita jalan-jalan"


Ucap aku dengan malu membuat langkah ini terhenti.


Perlahan wajah Arya mendekati wajahku membuat jantung ini serasa ingin copot,satu inci lagi bibir kami betemu,aku membalas tatapan mata Arya,tangan Arya mulai menyelipkan rambu aku dikuping saat aku tertunduk malu seperti layaknya remaja yang lagi kasmaran.


Lama kelamaan bibir mungil milik Arya menyentuh hangat bibirku,aku membalas perlakuan Arya dengan nafas memburu begitu juga Arya yang mulai terlena dengan fist kiss dariku.


"Hos...hos..hos"


Nafas Arya memburu ketika melepaskan ciuman dahsyat ini,kening kami menyatu dan lengan Arya masih merangkul pinggangku,kedua tangan aku yang masih melingkar dileher Arya kini aku melepaskannya karena tak kuasa dilanda malu.


"Ak-aku tunggu diluar rumah ya beb"


Kata Arya dengan terbata selesai berciuman dengan aku.


Aku anggukan kepala sambil tersenyum malu langsung berjalan masuk kedalam kamar,Arya berjalan menuju pintu rumah dengan tersenyum dan gugup.


Selesai aku mengganti pakaian,aku berjalan menuju pintu rumah dan melihat Arya sudah berada diatas sepeda motor,aku naik keatas motor setelah mengunci pintu rumah ini.


Syukur ponsel aku silent supaya Arya tidak curiga jika Juan chating atau menelfon aku,kini sepeda motor kepunyaan Arya melaju dengan kecepatan normal menuju jalan raya kota ini.


Satu jam lebih aku jalan-jalan bersama arya diluar rumah,Karena semua tempat dan jalan kami kelilingi akhirnya aku dan Arya memutuskan untuk pulang.Karena aku tau jam sepuluh malam Juan sudah pulang dari tempat kerjanya.


Beberapa menit kemudian Aku dan Arya sudah berada didepan pintu rumah,dengan senang Arya kecup kening dan bibir aku dengan mesra.


"Pamit ya beb,besok ketemu lagi"


Tukas Arya saat memeluk tubuhku dengan erat.


"Hati-hati beby"


Sambungku dengan membalas pelukan Arya.


Arya melepaskan pelukan dan naik keatas motor lalu Arya pergi dari rumah kontrakan aku,dengan cepat aku membuka pintu rumah dan menguncinya kembali,aku meraih ponsel dari dalam saku takut Juan menghubungi.


Aku hembus nafas panjang melihat tiga puluh panggilan tak terjawab,juga melihat banyak pesan masuk,tampaknya Juan marah karena aku tidak menjawab telfon darinya atau membalas chatingan Juan.


"Papa aku ketiduran,maaf ya"


Ucap aku bersandiwara dengan suara lemah seakan-akan terbangun tidur.


"Pantas,ya sudah entar lagi aku kerumah mama,lagi dijalan mau kesana nih" Suara Juan dari sebrang sana.


"Duh mampos aku"


Gumam aku saat Juan mematikan telfonnya,dengan tergesa-gesa aku mengusap liptstik ini,juga mengganti pakaian tidur,tidak lupa rambut aku acak sedikit supaya terlihat natural baru terbangu dari tidur,parfum yang masih melekat dikulit tidak aku seka karena Juan tau,aku tidur juga memakai parfum.


"Tok tok tok"


Terdengar suara pintu diketuk seseorang,aku semakin kelabakan dan menaruh baju,celana jeans yang aku pakai saat bertemu Arya kedalam ember baju kotor,lalu aku berjalan membuka pintu rumah.


"Mama kok enggak kerja?"


Tanya Juan tanpa curiga saat masuk kedalam rumah.


"Ketiduran pa,Mbak Cahya telfon manggil ada tamu aku tidak angkat,kecapekan aku pa" Ucap aku berdalih.


"Ada salak,kayaknya enak,mama beli kapan salaknya?" Tanya Juan mengambil satu buah salak yang terletak diatas meja.


"Anu pa,itu ....,oh dari tetangga sebelah,iya tadi aku dikasih" Ucap aku dengan kaku dan bingung harus jawab apa,ucapan ini tanpa sadar karena takut ketahuan.


"Ya sudah,sini duduk ma,kok bengong aja berdiri disitu" Kata Juan dengan heran.

__ADS_1


"Iya pa"


Kata aku sambil duduk mendekati Juan,Lalu Juan bercerita tentang pekerjaannya aku hanya anggukan kepala saja.Juan juga makan salak yang Arya bawa tadi,kalau saja Juan tau salak itu dari siapa,mungkin Juan akan mencampakkan salak itu keluar rumah ini.


__ADS_2