Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 41


__ADS_3

Masih jam istirahat sekolah kami semua akhirnya memutuskan duduk dibangku depan teras rumah bolek lontong,kami lagi ngobrol santai dan makan lontong juga.


"Buuukk "


Tiba-tiba Rafa memukul meja dimana aku dan Indar duduk,mata Rafa melotot pada Indar,kami terkejut sekali dan bingung kenapa Rafa memukul meja.


"Kenapa kau?"


Indar buang muka dan kesal dengan perlakuan Rafa yang sengaja.


"Enggak apa pingin lihat kamu aja,mau rokok?" Jawab Rafa lalu duduk disamping Indar.


"Enggak aku bisa beli sendiri"


Tolak Indar dengan mentah.


"Hus jangan bertengkar kalian,segan dong sama bolek itu" Aku menunjuk bolek lontonf yang melihat tingkah Rafa.


Tidak mau menunggu lama Rafa menarik lengan kiri Indar untuk pergi kesuatu tempat tapi Indar tidak mau dan menarik tangan kirinya.


"Lepaskan aku enggak mau !,kan udah aku bilang sama kau lepaskan judi itu,jangan pakai narkoba" Indar dengan tegas menolak ajakan Rafa.


"Ayolah biar kita bicarakan,aku enggak tahan gini-gini aja hubungan kita" Balas Rafa yang lagi berdiri disamping kiri Indar.


"Selesaikan masalah kalian berdua lho,malu dilihat orang" Kata Puput melihat Indar dengan wajah masamnya.


Karena malas ribut Indar mau dengan ajakan Rafa,aku baru tau kenapa mereka ribut ternyata Indar memohon untuk meminta Rafa berhenti main judi dan narkoba.Menghisap racun yang memabukan alias ganja.


Dari kejauhan Rafa membawa Indar kebelakang rumah bolek lontong,kami mrndengar suara Indar yang bervolume besar.


"Udahlah kalau kau enggak mau lepaskan itu semua,mending kita putus,sudah aku bilangkan tempo hari !!" Kata Indar dengan membentak Rafa.


"Oh kau pikir aku enggak tau selama kita diam, kau jalan sama anak atas itukan, kau pikir aku enggak tau !?" Kata Rafa dengan membentak juga


"Ya aku jalan sama dia kau mau apa !!"


Kata Indar dengan wajah menantang kepada Rafa.


"Bbuooookk "


Suara seng seperti dipukul terdengar dari depan,kami semua berlari menuju belakang melihat keadaan,siapa tau Rafa khilaf pada Indar.


Aku,Merry dan Puput melihat Rafa meninju seng yang ada dibalik pintu dapur,Rafa terduduk menunduk dengan tangan yang sedikit cedera,sedangkan Indar membendung air mata dengan berdiri mematung.


"Keapa sih Rafa,ini bisa diselesaikan baik-baik" Kata aku dengan menarik lengan Indar.


"Diam kau jangan ikut campur ini urusan aku sama cewek aku,kalian semua keluar dari sini,aku masih mau bicara sama dia"


Sambung Rafa dengan kasar yang kini sudah berdiri dihadapan aku.


"Jangan kasar sama kawan-kawan aku !!! , Yun ,Merr,Puput sudah sana dulu, biar kami selesaikan maaf ya" Indar melotor kepada Rafa mulai marah.


Kamo tidak mau ikut campur lebih dalam,kini kami semua berjalan kedepan membiarkan mereka bertengkar lagi,masih terdengar suara ribut mereka kami membiarkan saja.


"Sekarang gini ya Fa, aku kasih tempo seminggu,kalau kau enggak mau berubah juga kita benar-benar putus"


Kata Indar dengan tegas dan lantang.


"Ok kalau mau putus-putus aja sekarang "


Balas Rafa nyolot dan mendekati Indar.


Indar terdiam saja dan buang muka kepada Rafa,walai kini Rafa semakin dekat dihadapan Indar,mereka masih sama-sama emosi.


"Cium aku dulu,kau enggak cinta sama aku lagi ?,cium aku cepat " Paksa Rafa sembari memegang kedua bahu Indar.


"Enggak...,aku enggak mau ,aku enggak mau sebelum kau berubah" Kata Indar buang muka pada saat Wajah Rafa mendekati wajah Indar.


Rafa terus memaksa Indar untuk mencium Rafa,tetap saja Indar menolak keras lalu Indar mendorong tubuh Rafa dab setelah itu Indar berlari kearah depan dimana kami lagi duduk santai.Terlihat Indar menangis sendu dan duduk disamping Merry.


"Sabar Ndar semua bisa diselesaikan !"


Kata Merry sambil elus punggung Indar.


Rafa datang lagi dan memeluk indar sepertinya urat malu Rafa telah hilang,Rafa tidak perduli memeluk dan mencium Indar secara paksa didepan kami semua,aku dan Merry serta Puput tercengang jadi malu sendiri dan buang muka melihat adegan percintaan mereka.


"Hei dia enggak mau,kau paksa !"


Bentak aku karena melihat Indar meronta-ronta,Rafa tidak perduli dia tetap melakukan aksinya.


Indar mendorong Rafa sekuat tenaga kami semua ingin melerai tapi tidak kuasa,Rafa berjalan mundur karena dorongan kedua lengan Indar,dengan menangis tersedu-sedu Indar kesal dan marah.


"Puas kau...puas sekarang memaksa aku begini,biar dilihat teman-teman iya?,aku memang masih ada rasa sama kau,tapi kau tidak berubah juga aku tidak mau !!" Bentak Indar dengan mengusap bibir Indar akibat dicium Rafa.


"Sudahlah woi jangan bertengkar lagi nanti teman kelas lain tau,apa kalian tidak malu" Kata aku yang sudah tidak tahan pertengkaran mereka tidak usai juga.


"Biar kau tau ya Yun, aku larang dia berkawan sama Fandi dan Putra,aku tidak suka aja kalau mereka berteman enggak ada yang beres,aku tid-------" bicara Indar dengan Yunita terputus.


"Diaam !!"


Rafa memutuskan omongan Indar dengan membentak,Indar jadi terdiam dan mematung berdiri didepan kami semua.


"Kau mau bongkar aib kita disini ha!"


Rafa tidak senang dengan ocehan Indar kepada semua teman-teman dan aku.


"Aduh makin ribet kalian,sekarang intinya begini,maaf ya Rafa aku bukan ikut campur urusan kalian,aku mau tanya sama kau Rafa "


Sambung aku sudah pusing dengan percintaan mereka.


"Apa mau tanya apa?"


Rafa nelihat aku dengan nanar,aku tidak gentar sama sekali.


"Permintaan Indar sederhana lho,kau mau jahui teman yang tidak beres itu" Kata aku menatap Rafa balik dengan serius.


"Aku tidak bisa mereka teman aku dari kecil, dia pacar aku juga jangan kalian suruh aku untuk memilih" Rafa geleng kepala dan berkeras hati.


"Oh artinya kau lebih memilih teman yang ajari kau memakai narkoba,berjudi aku sudah tau jawaban kamu" Sambung Indar mengambil kesimpulan sendiri.


"Sekarang aku tanya lagi,kau masih cinta enggak sama Indar?" Pertanyaan aku membuat Rafa diam sekelak dan berfikir.


"Enggak,aku enggak cinta lagi sama dia semenjak dia pacaran sama orang yang bernaa Hamdani" Jawab Rafa dengan geleng kepala.


"Ya sudah kalau tidak cinta lagi mending udaham,simple kan,ngapai lagi dibahas"


Sahut Merry ternyata tidak tahan juga dengan percintaan mereka.


Aku jadi terdiam mendengar itu,sedangkan Indar mengucurkan air mata terkejut dengan perkataan Rafa barusan.


"Ya udah aku udah tau jawaban kamu,kita putus sekarang,dengar ya kawan-kawan kami udah putus " Indar mengusap air matanya.


"Enggak mau "


Rafa geleng kepala sambil cengkram lengan kiri Indar.


"Aku enggak mau putus,sekarang juga putuskan cowok baru kau orang atas itu, kalau masih aku lihat dikampung ini awas saja" Rafa membelakakan mata dengan wajah serius dan sangar.


"Suruh milih enggak mau,diputuskan enggak mau juga,aku harus apa?,katakan sama aku?"


Indar jadi bingung menatap Rafa.


"Terserah sama kau,awas aku lihat lagi kau berduaan sama Hamdani"


Rafa masih saja mengancam,setelah itu Rafa berjalan pergi meninggalkan kami semua.


"Hiks..Hiks"


Indar tersedu-sedu terduduk dikursi plastik gadis itu geleng kepala dan bingung dengan ancaman Rafa.


"Sudah Ndar sabar nanti kalau Rafa udah baika,kalian selesaikan baik-baik terus bicara lagi" Aku berusaha membuat Indar tenang.


"Hamdani sebenarnya udah tau aku belum , putus sama Rafa,kalian tidak tau kalau sebenarnya sama Hamdani hanya teman mesra saja untuk buat cemburu Rafa,selama ini aku pendam,maaf ya teman-teman aku tidak jujur sama kalian" Indar geleng kepala karena sudah tidak bisa lagi menyimpan rahasia peribadinya.

__ADS_1


"Ya Tuhan ribet juga hubungan Indar,aku kira selama ini dia dengan Hamdani,ah...entahlah percintaan mereka tidak bisa ditebak" Batin aku terkejut dengan pernyataan Indar.


"Ayo udah mulai masuk kita,sabar Ndar masih ada kami disini" Kata aku sembari berdiri dari duduk dan semua teman berjalan menuju kelas.


Sampau didalam kelas kami tidak membahas lagi hanya fokus pada pelajaran,guru wali menerangkan dan kami menulis,terlihat Indar diam saja dan melamun dengan masalahnya.


Setelah jam pelajaran terakhir usai,aku dan Puput sibuk susun bangku sekolah dan kebetulan kami berdua piket hari ini untuk membersihkan kelas.


Sementara Indar dan Merry lebih dulu keluar dari kelas kami semua janjian untuk bertemu diluar halaman sekolah.


Selesai kami membersihkan kelas setelah itu aku dan Puput berjalan keluar gerbang sekolah,dari kejahuan aku dan Puput melihat keramaian,aku mendengar suara Rafa dan Hamdani saling membentak.


Aku berlari kencang bersama teman-teman untuk melihat keributan tersebut,aku melihat


Rafa berhadapan dengan Hamdani saling menatap penuh nanar,tidak ketinggalan Raju dan Yudi juga ada dikeributan tersebut.


"Kau cepat bilang !!"


Kata Rafa yang sudah mengepalkan tangan sudah siap tinju Hamdani.


"Lepaskan kawan aku !!"


Teriak Raju menangkap kepalan tangan Rafa,Hamdani juga tidak gentar diam saja sembari menatap Rafa dengan mata elang.


Karena ini masalah percintaan mereka Indar tidak tinggal diam,Indar berlari ketengah-tengah untuk melerai Rafa dan Hamdani.


"Diaaam !!"


Indar menangis sejadi-jadinya.


"Jangan bertengkar disini,tolong"


Kata Indar lagi dengan rasa takut bercampur kesal.


Tiba-tiba Fandi dan Putra datang untuk membela Rafa tetapi karena badan Raju lebih tinggi besar mereka jadi patung berdiri dan menonton saja.


"Nih ceweknya udah datang,kau tanya sendiri dia milih siapa" Kata Hamdani melirik Indar yang terdiam dan mennangis.


"Hentikan ini semua,aku tidak milih siapa-siapa, puas kalian ...!" Bentak Indar melihat Rafa dan Hamdani.


Aku tidak tahan melihat sahabat aku berdiri menangis,aku berjalan mendekati mereka dan menarik lengan Indar untuk menjauh tetapi Fandi malah tidak terima.


"Hei ratu limbah ngapai kau disini,pergi sana" Ketus Fandi berusaha mendekati aku.


"Hei jangan kasar,muka kau sudah jelek gendut,kau hina Yunita dia masih sedap dipandang kalau kau apa hah !!" Raju membela aku sedangkan aku jadi terdiam dan menunduk kepala.


"Bondon kau !!"


Fandi ngoceh sambil menarik kerah baju aku, aku melawan tetapi tangan Fandi dengan cepat ditangkap lengan Raju dan Raju mencengkram kuat tangan Fandi.


"Hei men,enggak usah kasarlah sama cewek aku" Raju marah sambil mendorong Fandi membuat Fandi berjalan mundur jauh.


Nyali Fandi jadi ciut karena Raju yang lebih tinggi dari dia,Fandi terdiam dan mematung tidak berani mengoceh lagi.


"Lihat kau dikelas besok"


Fandi berkata lagi lalu pergi begitu saja dengna Putra,Fandi tidak peduli lagi Rafa masih ada ditengah-tengah kami.


"Kau enggak apa dek?"


Kata Raju sembari memegang kedua bahu aku.


"Tidak apa bang,makasih ya"


Kata Aku sambil tersenyum pada Raju.


"Iya dek sama-sama,kalau ada apa-apa bilang saja sama saya" Kata Raju lagi yang belum sadar aku risih dipegang bahu ini.


Rafa dan Hamdani masih saja Ribut, setelah Rahu melerai lagi Hamdani terpaksa pulang, karena suara keras kami semua pemuda setempat datang menghampiri kami.


"Hei berantem jangan dikampung kami !!"


Pemuda sangar itu sudah membawa balok besar,mungkin dia tidak suka kampung dia diusik.


"Maaf bang hanya salah paham,ayo semua bubar" Raju malas melanggati orang yang tidak ada hubungan dengan pertengkaran ini.


"Pergi sana"


Kata Raju kepada Rafa,awalnya Rafa tidak mau dan tidak terima tetapi karena terpaksa Rafa akhirnya pergi juga dari kami semua.


"Awas kau main kekampung aku"


Kata Rafa sambil menunjuk kepada Raju.


Rafa akhirnya pergi bersama geng keroco mereka,Fandi dan Putra ternyata menunggu didepan jalan,sementara Indar menangis terus karena tidak tega Raju mengantar aku dan Indar, sedangkan Puput sudah naik mini bus untuk pulang begitu juga dengan Merry.


Dipertengahan jalan Hamdani lewat untuk membawa Indar menyelesaikan masalah mereka,kami diam saja setelah Indar dan Hamdani pamit pergi entah kemana.


Kini tinggalah aku berdua dengan Raju berjalan kaki menuju kerumah aku,Raju tidak membawa motor karena sebenarnya tadi Raju menumpang bersama Hamdani dan Yudi.


"Kamu tidak apakan?"


Raju buka suara karena sedari tadi kami tidak saling bicara hanya berjalan terus.


"Enggak bang,Fandi mang kayak gitu bicara sama perempuna enggak ada etika" Jawab aku yang masih berjalan barengan Raju.


"Ada ya manusia kayak gitu,oh iya entar malam,malam minggu lho,kalau boleh abang tau adik mau jalan kemana?" Raju memberanikan diri bertanya pada aku.


"Hem tanya malam minggu segala" Batin aku sembari berfikir keras.


"Mungkin gabung indar sama Wati,adik Wati sudah sembuh aku dengar" Jawab Aku tersenyum tipis.


"Oh kita ketemuan ya dek ditempat semalam,kalau mau kamu gabung lagi" Raju garuk kepala seakan ragu mengajak aku.


"Lihat nanti malam ya bang,kalau orang Wati kesana aku juga pasti ikut" Aku ingin bilang tidak tetapi tidak bisa.


"Ok dek"


Raju dengan semangat empat lima menemani aku berjalan sampai kehalaman rumah,lalu Raju pamit pulang sedangkan aku masuk kedalam rumah dan berjalan menuju kamar.


"Adek udah pulang sayang"


Kata aku sendiri saat menatap poto Raja yang terpajang dimeja belajar,mungkin kalau orang lain melihat aku bicara sendiri dengan poto pasti dianggap aku gila,tapi dengan cara ini aku bisa menuntaskan kerinduan aku kepada Alamrhum Raja.


Entah sampai kapan aku begini terus aku juga tidak bisa memastikan cinta gila aku ini,belum ada pria yang bisa menggantikan Almarhum dihati aku.


Setelah puas aku memandang poto almarhum Raja aku berdiri dari duduk langsung mengganti pakaian seragam,setelah itu aku keluar dari dalam kamar untuk makan siang.


----------------------------------------------------------------------


*Malam Hari*


Malam ini tidak ada yang spesial bagi aku,dulu sewaktu punya kekasih aku tampil segar dan cantik,tapi entah kenapa malam ini aku ingin mengenakan liptint.Setelah berhias tipis aku menunggu kedatangan teman-teman,aku duduk didepan teras.


"Kok lama orang ini,enggak biasanya"


Kata aku bergumam sembari melihat jam dinding ternyata sudah pukul setengah delapan malam.


Karena mulai jenuh aku bangkit dari duduk, ternyata Wati muncul dari halaman rumah dengan motor kepunyaan Indar.


"Ayo semua udah ditempat biasa"


Kata Watu yang duduk diatas motor dan mesin motor sengaja tidak dimatikan.


"Lama kali kau borjong,udah luntur bedak aku" Aku kernyit dahi berjalan menuju halaman rumah yang sebelumnya menutup terlebih dahulu pintu rumah depan.


"Maaf aku dandan dulu Hahahah"


Wati tertawa renyah sembari menarik gas motor dan motor maju berjalan.


"Hem"


Aku hanya menari nafas panjang karena tidak biasanya Wati berhias lama,diperjalanan kami ngobrol sekelak.

__ADS_1


"Yun benar ya kata Ndar kalian bertengkar sama orang Rafa?" Tutur Wati yang fokus membawa motor.


"Ya gitu deh,aku benci geng mereka tidak punya etika semua,jijiklah kawan" Sahut aku dengan kesal.


"Kenapa emangmya?"


Tanya Wati kembali dengan rasa penasaran dihati.


"Bicaranya kasar sama cewek,semua rata dianggap Fandi,gara-gara cowok gendut itu aku diejek ratu limbah" Kata aku lagi kesal kalau ingat ejekan itu.


"Ehh cowok taiknya itu,udah jelek gondut, apa lagi Putra udah kurus kurang ganteng tapi banyak tingkah" Wati mulai nyinyir geram.


"Ampun dah lihat sahabat aku satu ini, bilang Putra kurus,padahal Wati sama kurusnya" Batin aku tertawa terpendam.


Tidak berapa lama aku dan Wati sampai ditempat nongkrong,ternyata semua sudah menunggu kami.


"Lama kali kalian udah mau habis makanan ini" Kata Indar sambil duduk.


"Ahk beli lagi lho, percuma ada pemain bola disini, masa enggak bisa beli lagi" Kata Wati melirik Yoga dan Raju.


"Hemmm"


Aku mendehem karena tau kelicikan Wati, Wati hanya nyengir saja.


"ayo dek biar kita beli lagi makanan ini" Raju bangkit dari duduk dan mendekati aku, sementara aku terdiam berdiri mematung.


"Udah sana apa lagi gerak lho" ucap Merry yang duduk bersama Yoga.


Karena paksaan teman-teman kini aku sudah berdua diatas motor dengan Raju,motor melaju kearah warung.


"Dek peganglah pinggang abang,nanti jatuh" ucap Raju sembari bawa motor.


Mungkin karena aku diam saja Raju menambah kecepatan motor,karena takut tangan ini tanpa sadar melingkar dipinggang Raju,Punggung Raju besar enak kalau berlindung kepala ini disana,tapi itu tidak aku lakukan karena aku tidak mau memberi harapan lagi.


Setelah kami membeli makanan,kami berdua balik arah menuju tempat nongkrong kami,aku dan Raju melihat keributan ditempat nongkrong.Ternyata Rafa mencari keributan lagi dengan kami.


Dengan tergesa-gesa Raju mematikan mesin motor dan turun dari atas motor,dengan jalan cepat Raju menghampiri Rafa yang ribut dengan Indar.


"Selow bos tidak perlu emosi,aku mau bicara baik-baik sama cewek aku" Nyali Rafa ciut dengan kedatangan Raju.


"Sudah bang yang penting mereka baik-baik" Aku menarik lengan kanan Raju yang sudah mengepal,tanpa sadar aku menggandeng Raju supaya Raju meredakan emosinya.


Rafa akhirnya pergi membawa Indar entah kemana mungkin menyelesaikan masalah mereka,karena Hamdani tidak ada kata jadian sama Indar entah kenapa Wati mengajak jalan Hamdani.


Sedangkan Merry pergi kencan bersama Yoga dilapak yang lain,kini ditempat tongkrongan hanya kami berdua,Raju senyam-senyum karena aku terus menggenggam jemari Raju.


Karena sadar aku menarik jemari ini dengan canggun dan tidak berani menatap wajah tampan Raju.


"Dek"


Raju juga salah tingkah mungkin pegangan tangan tadi membuat dia malu.


"Ap-apa bang !?"


Kata aku dengan canggung pipi ini mulai merona malu.


"Adek enggak sedih lagikan?,kalau enggak sedih sama abang aja,abang siap buat Yunita bahagia" Raju mulai mengutarakan isi hatinya.


"Sudah enggak kok,aku udah mulai ikhlas atas kepergian alamrhum,aku ingin menjalani hidup ini seperti biasa" Balas aku


"Adek belum jawab pertanyaan saya,abang suka lho sama adek,maaf ya kalau saya bicara seperti ini" Raju jadi nyeplos mencurahkan apa yang iya fikirkan selama ini.


"Gimana ya bang"


Aku berfikir keras sembari melirik Raju yang menunggu jawaban.


"Maaf bang aku belum siap pacaran lagi,aku belum bisa untuk saat ini,mohon abang jangan sakit hati sama aku" Aku menolak Raju secara perlahan takut iya marah.


"Abang tunggu jawaban kamu dek,sampai hatimu terbuka untuk abang" Kata Raju sembari menatap aku dalam-dalam.


Posisi kami saat ini berdiri berhadapan,tinggi aku hanya sedada Raju,aku capek kalau memandang Raju karena mendongak kejadian ini pernah aku alami saat berdua dengan Anto.


"Terserah abang,jujur aku belum bisa memaksa hati ini berpaling sama pria lain"


Aku mendongak melihat Wajah tampan Raju yang tersenyum manis.


"Ya abang ngerti kok,abang yakin suatu hari kamu pasti membuka hati" Raju bersemangat sekali.


Aku tidak mau memberi harapan palsu kepada Raju,aku sudah pernah menjalani tanpa cinta sebelumnya bersama Dodo,aku tidak mai menyakiti Raju juga.


"Orang-orang semua kencan,kita kemana ya?" Raju mengalihkan pembicaraan lain.


"Tidak tau bang,aku juga bingung mau kemana" Kata aku dengan tertunduk tidak berani dengan tatapan Raju yang hangat.


Tanpa izin Raju memeluk aku dengan erat,entah kenapa jantung ini tidak berdetak kencang sedikitpun,tapi kenapa aku tidak bisa menolak dengan pelukan ini.


"Tuhan hangat sekali pelukan Raju,aku tak kuasa dan tidak bisa aku pungkiri kalau sebenarnya hidup aku sepi tanpa kasih sayang" Batin hatiku menjerit kesakitan.


"Kamu sudah tenangkan say?"


Tanya Raju dengan lembut kepada aku.


"Aku kesepian"


Aku memejamkan mata merasakan hangat tubuh kekar ini,Raju semakin erat memeluk aku.


Sekian lama kami berpelukan Raju melepas pelukan hangat ini,perlahan Raju menatap aku penuh cinta lalu pipi ini menjadi merah merona nan malu,perlahan jemari kanan Raju hinggap dirambut aku,dia membelai dengan lembut aku tertunduk malu sekali.


"Kamu pasti capek mendongak terus?" Kata Raju sembari meraih pinggang lalu angkat tubuh aku setengah.


"Aaaaa"


Aku menjerit terkejut karena tiba-tiba ini terjadi,memang lebih leluasa melihat Wajah dengan dagu yang berbelah itu.


"Manis sekali ternyata,dagunya berbelah,kumis tipis itu" Batin aku sembari buang muka.


"Sudah jelaskan dari dekat"


Kata Raju yang terus menatap aku tiada henti.


Aku diam saja dan tersenyum dengan perlakuan mesra Raju,perlahan kedua tangan kekar itu menurunkan tubuh ini,aku tersungging malu dan tertunduk.


"Dek ayo jalan kaki"


Kata Raju mengalihkan lagi suasana yang sempat canggung.


"Motornya gimana?"


Tanya aku sambil melirik motor Gl.Pro Raju yang terparkir dibawah pohon seri.


"Tinggal aja lebih enak jalan kaki"


Jawab Raju sembari menarik jemari aku untuk berjalan,aku menurut saja kemauan pria tinggi ini.


Aku mulai bicara banyak kepada Raju,entah kenapa begitu nyambung mencurahkan isi hati ini kepada Raju,dia sangat lembut dan dewasa nyaman saja kalau jalan sama dia.


Setelah lelah kami berjalan,Raju memutuskan untuk kembali ketempat nongkrong,setelah sampai aku melihat Merry dan Yoga sudah duduk mesra menunggu kami.


"Cie yang baru jadian"


Kata aku sembari duduk disebelah Merry.


"Ehem...perasaan bilangin aku,kamu tuh juga hayoo" Goda Merry kepada aku.


"Siapa yang bilang kamo jadian,kami jalan-jalan aja kok,Oh iya Indar gimana?" Aku teringat sahabat yang satu itu.


"Selow kau Rafa itu cinta mati sama Indar,tapi Rafa cuek seperti tidak cinta gitu,aku yakin mereka baik-baik saja" Kata Merry dengan tersenyum dan yakin.


Ditengah obrolan kami terlihat Wati dengan Hamdani datang dari kejahuan,Yoga dan Raju ngobrol lain,aku dan Merry melihat Wati kian mendekat.


"Hei kalian enggak tau kami kemana?"


Tanpa ditanya Wati ngomong sendiri dan turun dari atas motor.

__ADS_1


"Mana tau kami kau kemana,kau enggak gonggong" Sahut Merry kernyit dahi.


"Kami mengawasi Indar sama Rafa,nih cowok ini minta tolong sama aku" Wati menyenggol Hamdani yang masih diatas motor.


__ADS_2