
Kami masih dirumah Puput setelah selesai ziarah,kami ngobrol sekelak sampai Puput menyiapkan pakaian seragam kedalam tas ransel skolah.Karena hari mulai sore kami pamit kepada keluarga Puput,diperjalanan sebuah motor mengejar dari belakang.
"Aih sombongnya kalian lewat kampung aku enggak singgah" Ujar Hamdani sembari membawa motor.
"Dari mana kalian?" Sambung Yudi duduk dibangku tumpangan motor Hamdani.
"Kami baru siap ziarah sayang,sudah sore kali mangkannya kami pulang" balas Indar tersenyum saat Hamdani memainkan mata.
"Jangan pulang dululah ayok kesungai kami bawa gitar dan tuak ini,ayo " Balas Hamdani dengan wajah memohon kepada Indar,kami semua fokus melihat Hamdani yang berbicara.
"Ahk enggak sayang,nanti ada yang sedih" Indar melirik kearah aku sambil berfikir.
Sekelak aku berfikir dengan ucapan Imdar, sahabat aku mengerti aku tapi kenapa aku begini terus,egois sekali kalau kemauan aku saja yang dituruti.
"Ayoklah kita kesana"
Aku bersuara dan semua melihat aku dengan senyum lebar,mwreka jadi senang dan bersorak gembira "Horeee".
Kami balik arah menuju sungai bawah rumah Puput, dimana dulu sungai itu ada kenangan indah tentang kisah aku.
Tidak lupa juga Wati mengkompas orang Yudi dan Hamdani membeli makanan banyak diwarung,Merry sirakus senang dan gembira melihat jajanan beraneka ragam,mulai dari gorengan dan kue-kue lainnya.
"Wah bisa tumpur kami kalau pacaran sama kamu Wat!?" Kata Hamdani geleng kepala membayar tagihan diwarung tersebut.
"Dia cowok aku yang meminta jajan malah orang lain" Indar mencibir kepada Wati.
"Ahk bising kali kalian,entar sampai disungai muncung kalian yang makan duluan" Wati membawa makanan tersebut diatas motor.
Diperjalanan menuju bukit sampai kebawah aku diam saja,sementara yang lain ngobrol dengan momennya masing-masing, langkah aku terhenti setelah sampai kesungai cabang tersebut.
"Kan !,hei lihat sikawan ini"
Puput memperhatikan tingkah aku yang diam saja saat menyebrang sungai dangkal ini.
"Ayok Yun"
Wati menarik lengan kanan aku sampai ditepi sungai,dimana kami dahulu duduk sembari memanggang ikan.
Aku menurut saja kemauan mereka walau tidak banyak bicara,aku melihat Hamdani mulai memetik melody gitar disaat duduk berdampingan dengan Indar.
"Mau lagu apa Yun ?" ucap Hamdani karena dia tau aku hoby menyanyi.
"Rita efendi,selamat jalan kekasih" Jawab aku seadanya sembari menatap sendu semacam tak bergairah.
"Kan...,kau buat sedih aja,jadi ingat aku kita terakhir nyanyi lagu ini distadion" Indar jadi sedih mengingat malam minggu yang lalu.
"Yun...,kalau kau begini terus yakinlah kau lama-lama bisa sakit jiwa kau,ingatlah Yun kami juga sedihnya kehilangan abang kami itu,dia orang baik Yun,tapi kau enggak boleh egois kau ingat juga keluarga kamu dan kami para sahabatmu" Kata Hamdani meletakkan gitar diatas batu.
"Ih sayang aku ceramah,dewasa nya,iya aku enggak sedih juga,semangat Yun" Indar meletakan kepala dibahu Hamdani,kami semua tersenyum saja melihat Indar dan Hamdani.
"Ayo lanjutlah gitarnya,tidak apa itu sebuah lagu" sambung Yudi yang duduk disebelah Puput.
"Jreng jreng jreng ...."
Awalnya aku menyanyi dengan tenang,sampai direef aku mulai lepas kontrol karena air mata ini tidak bisa aku bendung lagi, tangis aku pecah seketika tanpa aturan.
"Hiksss....Hiksss...Huaaaa"
Puput jadi ikutan berlinang air mata,semua jadi terhanyut suasana melow tersebut,Hamdani jadi geleng kepala dan tanganya tak lagi memetik gitar,semua jadi pada diam.
"Lagu lain ajalah ya kan,lagu dangdut aja,kita mau heppy kesini" ucap Hamdani memecah kesunyian ini.
"Iya betul,enggak enak suasananya kalau melow terus " Sambung Indar,lalu tangan kanan Indar mendarat dikedua pipi aku dan mengusap tetesan air bening dari mata senduku.
Akhirnya suasana berubah disaat lagu diganti dengan lagu dangdut rancak,walau suara pas-pasan Merry dan Wati juga ikutan berlagu,semua mulai senang dan tertawa.
"Merokok aja Yun,biar tenang dikit "
Indar mnyodorkan sebungkus rokok filter ditangan aku,Puput biasa melarang tapi karena aku lagi stres Puput diam saja.
"Merokok saja Yun biar enggak stres,kami enggak memandang kamh negatif kok" ucap Yudi tersenyum kepada aku.
Aku menyalakan pemantik dan menghisap asap nikotin tersebut,ya aku akui sedikit hilang beban yang ada dihati dan isk kepala sedikit jernih.
"Minta segelas aja Yud, biar aku nyantai "
Dengan Wajah sedih aku meminta kepada Yudi yang lagi membawa tuak (arak batak).
"Nanti kau mabok minum tuak ini,enggak boleh" ucap Yudi geleng kepala sembari menjauhkan teko yang berisi tuak disaat aku ingin meraihnya.
"Kasih ajalah biar dia tenang "
Wati tidak mau ambil pusing,karena Wati tidak suka orang yang bikin ribet.
Akhirnya Yudi menyerah dan menuang segelas untuk aku,dengan senang hati aku minum sekali tenggak saja tanpa jeda sedikitpun,membuat teman-teman tercengang dan garuk kepala.
"Glek...Glek...."
"Jangan gitu minum Yun nanti cepat mabuk kau" ucap Hamdani menarik gelas digenggaman aku.
"Tambah lagi segelas aja aku mohon"
Aku tidak perduli mau mabuk atau apa karena aku ingin melupakan sebentar belenggu cinta ini.
Karena aku merengek pada Yudi,dia akhirnya menyerah sengan cekatan aku meminum sekali tenggak lagi kalau bahasa inggrisnya One shot.
"Sudah tidak usah dikasih lagi bang,dia baru kali ini minum" ucap Wati merebut gelas dari tangan kiri aku.
Semua melarang aku untuk minum lagi, cepat-cepat Yudi sembunyikan minumam yang bikin pusing tersebut.
"Ayo mandi saja" ucap Puput mengalihkan suasana supaya aku tidak mabuk.
"Ayo"
Semua bersorak senang untuk mandi, ada yang mengganti pakaian,Wati ajak aku untuk mandi tapi aku geleng kepala menolak,mereka mandi semua cuma aku duduk saja sendiri ditepi sungai.
Mata aku mulai sepet,kepala mulai nyut-nyut sepertinya aku mabuk,tanpa sadar aku mengoceh sendiri dan tertawa renyah.
"Hahaahahahaahh"
Aku terus tertawa,sepintas teringat wajah dan mata cokelat itu melintas dibenak seketika aku jadi sedih lagi.
"Huhuhuhuhuhu Huaaa"
Tangis aku pecah sembari terduduk diatas baru padas besar,semua uang mandi jadi memperhatikan aku.
"Woi tengok itu kawan kalian udah gila ketawa sambil nangis,aku rasa udah fly" ucap Yudi tepuk jidat bingung gimana menyadarkan aku.
"Biar kan aja dia,biar tenang" Balas Puput yang berdiri disamping Yudi.
"Awasi Wati,aku takut Yun tenggelam dia enggak pandai berenang" Kata Indar yang cemas melihat aku berjalan didalam air dengan menangis dan mengoceh tidak jelas.
"Aman itu "
Jawab Wati memantau aku terus dari kejahuan,Wati tersenyum sendiri melihat aku yang berubah Modd kadang nangis kadang tertawa.
Satu Jam berlalu tidak ada yang memperhatikan aku,aku jadi nekat berjalan menuju sungai cabang tersebut,sungai yang pernah jadi tempat saksi bisu antara aku dan Raja,sungai inilah awal mulanya cinta kami bersemi,sungguh sakit saat melihat sungai inu dada aku serasa sesak sekali.
"Raja aku datang"
Sengan santai aku nyemplung kesungai itu padahal sedikit dalam,aku seperti melihat dia senyum dan menciumku mungkin berhalusinasi karena efek minuman.
Nafas aku mulai tidak beraturan saat aku pasrah berendam didalam air,mungkin inilah ajal aku menyusul Raja itu fikiran pendek aku saat Ini,disaat aku mulai susah bernafas sebuah tangan menarik aku keluar dari dalam sungai.
"Hah..hah..hah"
Nafas aku terngah-engah saat aku sampai kedaratan,sorot mata tajam yang menolong aku jadi kesal dan marah.
"Kampret mau mati kau,kalau gini pulang aja kita,mau mati sendiri sana jangan ada kami disini,kira datang kesini mah heppy Yun bukan cari penyakit" Wati marah sekali dam menarik paksa kau untuk berdiri dari duduk.
"Maaf Wat,ak-aku kira bisa ketemu dia disini" Jawab aku yang masih mabuk.
"Kamu mabuk Yunita,ayo kita ganti baju kamu huh pusing aku" Wati menarik jemari dan berjalan barengan menuju tempat semula.
Wati yang kesal memboyong aku ketepi sungai tempat awal kami,disaat Wati lengah tidak memperhatikan aku,aku yang duduk diam-diam menenggak lagi tuak yang terletak digelas. " Glek ...glek...Glek"
Semua tidak tau kalau aku mencuri minuman tersebut,aku semakin mabuk menjadi gila.
"Nah ini ganti pakaian kamu, jangan buat aku pusing" Kata Wati memegang baju ganti untukku.
__ADS_1
"Ah sayang aku, kamu yang buka dong" sahut aku yang genit berdiri sempoyongan.
"Mabok sikuntul ini,merepotkan " Balas Wati sembari mengganti pakaian aku.
Indar heran kenapa aku tertawa sendiri dan mengoceh tidak jelas,sedangkan Wati jadi repot mengurus aku yang ngesot dipasir tepi sungai.
"Kenapa Wat,kok Yumita tertawa-tawa?" Tanya Indar yang baru datang.
"Tengok sendirilah entah apa-apa yang dibilangnya, udah fly,penger dia " ucap Wati mendengus kesal.
"Hahaahah....Raja cepat kali kau pergi,aku mencintaimu...Hikss..." Aku kadang tertawa tapi ujung-ujungnya menangis
"Biarin ajalah pusing aku lihatnya" kata Indar sembari minum air putih.
"Enggak tau kau tadi syukur aku melihatnya langsung aku tarik dia,kalau enggak dia bisa mati" Wati geleng kepala.
"Hah kenapa Wat?" Indar penasaran dan terkejut.
"Berendam dia lama disungai cabang itu , aku tarik tangan Yunita,kita pulang saja sebentar lagi" Sambung Wati dengan berfikir.
"Aku mandi dulu,entar lagi kita pulang"
Indar berjalan dan berenang lagi bersama Hamdani,terlihat mereka seperti ngobrol dari kejahuan.
Aku dan Wati berdua,Wati terus melihat aku menangis dan mengoceh tak tentu arah,Wati
geleng kepala merasa iba dengan aku.
"Sedih juga aku Yun sama kasus kamu dan kematian Raja,mungkin kalau aku jadi kau entah apa yang akan aku lakukan" Kata Wati sembari menepuk punggung aku, sementara aku tidak sadar dengan ucapan Wati.
Aku mulai tidak sadarkan diri,entah siapa yamg menggotong aku kerumah Puput, aku terbangun sudah ada diatas tempat tidur Puput,aku melihat Puput dan Wati duduk ditepi ranjang.
"Eh Yun udah bangun kau?"
Kata Wati tersenyum dengan manis.
"Kok kita semua ada disini?" Tanya aku dengan heran dan terduduk diatas kasur.
"Ehh taik repot kali kami urus kau, yang ketawa sendiri,acara nangis ditambah muntah-muntah" sambung Indar sambil bercermin.
"Maaf ya"
Aku pasang Wajah memelas mereka tak sampai hati,lalu mereka saling pandang dan tersenyum.
"Ayo kita makan bersama disini mama aku udah siap masak" Kata Puput lalu berdiri dari duduk nya.
"Enggak enak kali perut aku"
Ucap aku karena masih sedikit puyeng,ditambah mual berlebihan,tetapi aku tahan takut juga ketahuan ibunda Puput.
Aku,Indar,Puput, Merry dan Wati makan bersama dimeja makan sewaktu kami makan dan asyik ngobrol ibunda Puput datang
"Yang mana pacar Almarhum?" ucap Ibunda Puput buat aku susah menelan makan karena terkejut.
Puput menunjuk aku membuat aku jadi sedih ditambah malu, karena baru sekarang orang tua almarhum Raja mengetahui hubungan kami.
"Sabar doakan saja ya nak,yang terbaik buat Alamrhum anak ibu" Ibunda Puput memeluk aku dengan membendung air mata.
"Iy-iya bu" Aku sedikit gugup baru kali ini dipeluk orang tua kekasih aku,sungguh sayang mau dikata Raja sudah tidak ada lagiz butiran cristal yang hampir jatuh dipelupuk mata masih bisa kutahan.
Ibunda Puput pergu berjalan keruang tamu, Puput menepuk punggung aku, dia tau karena aku nyaris menangis,kami terdiam melanjutkan makan,setelah itu kami berencana hendaj pulang.
Jam lima sore Puput meminta izin pada kedua orang tuanya, setelah mendapat izin kami semua pamit untuk pergi dari rumah Puput.
"Woi jangan puoang dulu,kita jalan sebentar sambil lihat yang bening-bening" Ujar watu sembari naik keatas kereta dengan ide gilanya.
"Wokeh"
kami setuju dengan ide Wati,lalu kami berangkat dengan naik motor,diperjalanan saat itu Rok Indar nyangkut dilingkar ban belakang motor.
"Kreak....kreak"
"Wat-wat rok aku nyangkut nih" Kata Indar sembari menepuk bahu Wati,langsung Wati menginjak pedal Rem motor.
"Hahahaha...mangkannya naik kereta jangan pakai rok" Aku tertawa renyah karena merasa Lucu Indar jadi sexy terlihat,rok Indar separuh terkoyak.
Teman-teman semua saling pandang melihat aku tertawa renyah,karena baru ini aku mulai tertawa lagi,aku jadi malu dan berhenti tertawa.
"Sexy kali kau ya ces,memang lucu kok" Sambung Merry membuat Indar kesal lalu buang muka.
"Hajar aja lah Ndar,kau diatas kereta mana ada yang tau rok kau koyak gitu" Kata Wati sambil menghidupkan mesin motor.
Indar terpaksa ikut kemauan Wati,karena motor dengan keadaan kencang rok Indar dibelakang terkena hembusan angin,nampaklah celana dalam Indar yang berwarna biru.
"Hei koyak"
Salah satu pria melintas dekat dengan motor Wati.
"Apa yang koyak?"
Indar tau maksud pria itu,tetapi dia pura-pura tidak tau mungkin karena malu.
"Warna biru ya"
Pria tersebut menunjuk arah belakang bokong Indar, langsung Indar menutupi dengan telapak tangan karena malu.
Indar mentepuk bahu Wati karena wajahnya memerah,dia tidak suka kalau diejek apalagi seorang cowok yang ejek Indar.
"Berhenti-berhenti,duduk disini saja apa kau tuli cowok itu bilang apa hah" Indar kesal karena Wati diam dan tersenyum sendiri.
"Hahahaha,maaf ces" Wati menepikan motor dijalan aspal tersebut,aku dan Merry serta Puput ikutan menepi juga.
"Yunita senyum-senyum,puas kali kau lihat Indar Heheheh" Puput cengengesan lalu turun dari atas motor.
"Senang lah dia" Sambung Indar dengan cemberut.
Aku mulai tersenyum kecil,mungkin dibawa bahagia aku bisa belajar ilmu ikhlas atas kepergian Raja.
"Ayo kita cuci mata lagi,Indar kau yang bawa Kereta jadi bolong celana kau enggak nampak" aku mulai kembai seperti biasa.
"Ok lah Yun,akhirnya kau bersuara lagi,demi kau ini" Indar membawa motor sedangkan Wati duduk dibangku tumpangan.
Disaat kami hendak jalan lagi,dua pria dari kejahuan melintas didepan kami,Indar melotot dan berdecis kagum.
"Wah ganteng nya" Kata Indar sembari kagum terus.
"Mana?" Aku biasa saja karena belum bisa melirik laki-laki lain.
"Wah pecahan seribu" Sambung Wati geleng kepala menutup mata.
Indar salah taksir karena dari kejahuan seperti cowok ganteng kagak taunya dari dekat Hancur lebur alias jelek.
"Mampos lah woi mereka datang,ahk sial" Indar mulai menutup mata pasang style cuek saat cowok tersebut menghampiri kami semua yang duduk ditepi jalan.
"Diam-diam aja kalau dia cakap " sambung Puput tersenyum geli.
"Brum..brum"
Suara motor GL.Pro berhenti didepan kami semua,memang sih motor nya keren tapi sayang orang nya hancur mina.
" hai,dek kok diem aja,boleh kenalan?" ucap Pria hitam dengan wajah penuh jerawat dan hidung pesek.
"Abang lihat kami ngapai !"
Balas Indar dengan jutex.
"Ih judesnya,kenalkan nama abang Roni" Roni mengulurkan tangan kepada Wati.
"Hemmm,abang udah makan?"
Wati malah bertanya bukan menyebutkan nama,Roni jadi garuk kepala bingung dan malu karena ulurang tangan mau salam tidak digubris Wati.
Wati mulai beraksi lagi padahal Roni bukan type Wati,Gadis ini mana perduli mau jelek atau tampan yang penting cowok tersebut loyal dan tidak pelit.
Roni membawa teman namanya Muji, Roni dan Wati pamit pergi untuk membeli jajanan diwarung,Warung itu tidak begitu jauh dari jalan yang kami bikin tempat nongkrong ini.
"Adek yang baju merah kok diem saja dari tadi?" Kata Muji yang ikut gabung dengan kami, dari tadi Muji melirik aku terus.
"Kayak walang kekek aja sok banyak tanya,syukur boleh gabung sama grop kami" Batin aku kesal dan diam saja.
__ADS_1
"Sombong ya,enggak jawab pertanyaan abang" Muji jadi kesal karena aku diam saja.
"Bising kali abang ini, duduk saja sudah, maaf bang aku lagi malas bicara" Jawab aku dengan jutex.
Aku kasihan lihat Muji karena aku bicara begitu,tapi aoa boleh buat aku lagi malas dekat-dekat cowok,Mood aku lagi rusak babak belur jadi jangan diganggu Lelaki.
Tidak lama kemdian Wati datang dengan Roni membawa banyak sekantung jajanan,Watu pasang wajah cemas saat turun dari motor.
"Eh kayaknya aku mau pulang nih?"
Wati mengigit bibir bawah dengan cemas.
"Kenapa Wat?" Merry kernyit dahi dan kami juga begitu penasaran kenapa Wati seperti itu.
"Iya tadi seaktu aku beli jajanan ini,mbak aku melintas kami ketemu,dia beri kabar kalau adik aku opname" Wati terlihat cemas dan panik.
"Wah pulang saja Wat" Indar jadi khawatir langsung naik keatas motor.
Muji dan Roni jadi sial karena kami langsung pulang,Wati tidak sadar membawa semua jajanan,kami berpcencar kerumah masing- masing.
Setelah aku dan Puput diantar Merry sampai didepan rumah,aku berjalan barengan dengan Puput masuk kedalam kamar.
"Yun besok disekolah,kita dijemput Yudi" Kata Puput yang baringan diatas kasur.
"Oh iya"
Aku berfikir apa maksud Puput bicara begitu,apa mau ajak aku jalan-jalan dengan Yudi.
"Kau udah bisakan sekolah?"
Puput ragu karena sebenarnya aku hampir semimggu tidak sekolah dengan izin sakit.
"Aku coba Put,semoga aku enggak galau lagi" jawab aku sambil tersenyum duduk diatas kasur disebelah Puput.
Sewaktu kami ngobrol Mama memanggil,kami berdua langsung berjalan menuju dapur,ternyata mama membuat cemilan goreng pisang.
"Dimakan ya Put"
Mama duduk didapur dengan tersenyum dan makan cemilan tersebut.
Mama pamit kedepan ruang tamu,aku masih ngobrol dengan Puput didapur.
----------------------------------------------------------------
Esok harinya kami berangkat kesekolah dan menunggu Yudi menjemput dari kampung atas,Yudi udah jadian dengan Puput aku turut senang melihat mereka.
Aku dan Puput menunggu didepan jalan aspal,tidak berapa lama terlihat Yudi dari kejahuan naik motor menuju tempat kami berdiri berdua.
"Sudah lama kalian?, maaf ya sayang tadi aku antar mama dulu " Kata Yudi sembari mematikan mesin motor.
"Lumayan Sayang,tidak apa kok, ayo kita berangkat entar telat lagi" Kata Puput langsung naik keatas motor.
Aku juga naik keatas motor duduk dibekakan Puput,sepeda motor itu berjalan menuju sekolah kami,diperjalanan kami bercerita akrab sekali.
Sesampai disekolah terlihat Indar dan Merry berdiri digerbang sekolah,tampaknya Indar sengaja menunggu kedatangan kami.
"Woi pulang sekolah kita jenguk adek Wati yuk,katanya lumayan sakitnya demam kejang" Kata Indar yang melihat aku dan Puput turun dari atas motor gede tersebut.
"Aku ikut juga ya"
Ujar Puput sembari memegang tali tas ransek yang ada dibelakang punggung Merry.
"Aku juga ikut ya"
Aju juga berseru ingin ikut kerumah sakit jenguk adik Wati.
"Tapi kita naik apa ya?"
Fikir Indar sembari melihat Yudi menghidupkan sepeda motor.
"Tidak usah pusing mikiri itu Ndar,entar aku kabari Hamdani supaya datang"
Sambung Yudi tersenyum pada Indar.
"Ok jam satu siang kita ngumpul dirumah Yunita" Balas Indar dengan semangat.
Disekolah biasa saja tidak ada yang menarik,pelajaran terakhir telah usai,kami semua pulang tergesa-gesa untuk berkumpul dirumah aku.
Tiba dirumah aku juga cepat mengambil makan siang didapur padahal seragan sekolah belum sempat aku ganti.Aku melihat Mama sibuk menukar taplak meja dimeja makan.
"Mak Yun pergi ya kerumah sakit jenguk adik Wati " Kata aku sambil melahap nasi dan lauknya.
"Lah sakit apa adik Wati?"
Mama terkejut dia ternyata tidak tau.
"Demam kejang ma,mangkannya kami mau jenguk kerumah sakit" jawab aku dengan tersenyum.
"Oh ya sudah jenguk sana,mama titip amplop aja ya sama mama Wati" Sambung Mama yang sibuk menaruh kain kotor dikamar mandi.
"Ok mak"
Selesai makan aku berjalan masuk kedalam kamar,lalu mengganti pakaian biasa,seragam aku taruh kedalam lemari,aku melirik Poto almarhum sambil kecup bingkai poto itu.
"Abang adik pergi dulu ya,abang yang tenang disana" Aku elus Poto yang terlihat tampan itu dengan gemetar,takut sedih lagi dengan cepat aku letakkan poto almarhum dilaci meja belajar.
Pukul satu siang aku kedepan teras rumah menunggu teman-teman.Terlihat Indar dan Merry datang berjalan kaki,Indar tidak bisa membawa motor orang tua karena siang dipakai ayah Indar kerja.
"Yun aku bawa roti sama buah,Merry juga"
Indar berjalan masuk kedalam teras rumah.
"Kami bagi-bagi beli ini Heheheh" Merry cengengesan membawa dua kantung pelastik.
Mini bus berhenti didepan rumah ternyata Puput turun dari tas tersebut,kami melihat Puput berjalan pelan menuju halaman Rumah aku.
"Aku bawa ini woi"
Kata Puput yang membawa sekantung roti dari kampung Puput.
"Ya sudah aku bawa amplop ini titipan mama,ayo berangkat"
Sahut aku berdiri dari duduk.
Kami semua menunggu Hamdani dan Yudi disimpang jalan,jami cari tempat teduh karena siang ini cuaca sangat menyengat kulit. Tidak berapa lama Hamdani dan Yudi dari kejahuan muncul dengan dua motor mereka.
Merry dan Indar naik diatas motor Hamdani,sedangkan aku dan Puput bersama Yudi diatas motor Yudi,Lalu motor berjalan menuju kota T.
"Sayang pelan-pelan naik motor,jangan ngebut ih.." Kesal Puput sembari cubit pinggang Yudi,Pemuda itu kesakitan dan senyum kecil.
"Jangan bilang gitu Put,aku jadi ingat almarhum kalau suka ngebut naik kereta"
Ucapku lirih dan merasa sedih.
"Maaf Yun aku tidak,lain kali aku diam saja Heheheh" Puput menoleh kebelakang tersenyum pada aku.
"Ya sudah kita pelan saja naik motor,Hamdani juga enggak ngebut didepan kita"
Kata Yudi yang lagi fokus melihat kedepan jalan.
Aku berfikir seperti apa rumah sakit perkebunan itu,rumah sakit yang sama disaat aku mengenal cinta,rasanya pahit mengingat rumah sakit tersebut.
"Eh kayak nya motor Hamdani berhenti,pasti ban nya bocor" Yudi menghentikan motor didepan bengkel.
Ternyata ban belakang motor Hamdani bocor,terpaksa mengulur waktu sebentar untuk menempel ban motor itu.
"Jam berapa Yud?"
Tanya aku yang lagi duduk kepanasan bersama yang lain saat dibengkel tersebut.
"Ini jam Dua Yun"
Jawab Yudi melihat arloji yang ada ditangan kirinya.
"Ow masih banyak waktu kok"
Sahut aku dengan tersenyum kecil.
Ada beberapa menit ban sudah ditempel,lalu tanpa basa basi lagi kami naik keatas motor dan melanjutkan perjalanan kami.
__ADS_1
Tidak berapa lama kami tiba dirumah sakit perkebunan,Jantung aku berdegup kencang saat menginjak rumah sakit ini,jiwa kau bergejolak mengingat serpihan kenangan dulu bersama cinta pertama aku.
Tepat sekali adik Wati dirawat inap diruang anak-anak tempat yang sama disaat aku opname dulu,ternyata ruangan tersebut tidak ada yang berubah.Sesak rasanya melihat ruangan Ini.