
Hubungan aku dan Prima jalan dua tahun tidak terasa,kami saling mencintai dan bertambah mesra menjalani hubungan percintaan ini,singkat cerita saja aku dan Prima melakukannya setiap hari.
"Ahhh oww"
Kadang diruang kosong,disemak-semak belakang sungai kami melukannya setiap hari tiada hentinya,baju kami sering jadi alas,gaya apapun sudah kami lakukan.
Pacaran kami udah enggak sehat demi nafsu birahi kami lupa daratan,lupa pelajaran,lupa sekeliling kami,hanya nafsu dan nafsu birahi setiap detik bila bertemu,mungkin jiwa birahi remaja ini meronta-ronta.
"Sayang kenapa setiap hari kita begini ya"
Tanya aku yang berbaring mesra bersama Prima sehabis melakukannya.
"Kamu ganas beb,aku jadu ingin terus kita sama-sama kuat" Prima membelai rambut aku yang sedikit basah karena berkeringat.
"Aku takut hamil sayang"
Aku menatap kedua bola mata besar kepunyaan Primanda.
"Tidak apa jangan takut,kalau kamu hamil aku janji tanggung jawab sayang,itukan anak aku" Kata Prima sambil menutup kancing bajunya.
"Janji ya sayang"
Aku duduk sambil memakai baju seragam ini.
"Janji"
Prima memeluk aku dengan erat,aku mendekapnya perasaan nyaman sekali.
"Cup.."
Prima kecup mesra kening ini membuat mata terpejam sekelak merasakan kehangatan yang dibuat Prima.
Hati ini terasa puas mendengar ucapan Prima karena aku sudah telat haid,aku takut bilang kepada Prima kalau aku udah telat.Tapi sekarang aku harus memberi tau Prima.
"Sayang beli tespek diapotik,aku sebenarnya sudah telat" Kata aku termenung malu mengatakannya kepada Prima.
"Hah telat berapa hari sayang?"
Prima terkejut karena baru saja dia berjanji padaku.
"Seminggu,aku belum haid,aku takut Prima"
Aki menatap wajah Prima dengan sendu.
"Baiklah ayo kita beli sayang,pakai rok kamu sekarang kita keapotik" Kata Prima memakai celananya.
Dengan tergesa-gesa aku dan Prima naik keatas motor,kami melewati kebun sawit berjalan menuju kota,aku sudah cemas apalagi Prima apa yang akan terjadi kalau aku benar-benar hamil,mungkinkah aku akan menikah?.
Sampai diapotik Prima bergegas masuk kedalam,sedangkan aku menunggu diatas kereta,terlihat Prima keluar dari apotik membawa kantungan.
-----------------------------------------------------------------------
*Esok Hari*
Pagi buta jam lima aku sudah terbangun aku tidak bisa tidur karena tidak sabar untuk mengambil air seni dipagi hari,aku berjalan masuk kedalam kamar mandi dan menampung air senin kedalam botol yang sudah aku potong bagian tengahnya.
Aku berlari masuk kedalam kamar takut ketahuan mama karena membawa air seni ini,sampai didalam kamar aku memasukan alat sensitif kedalam air seni,dengan cepat sebuah garis muncul,dengan tangan gemetar aku mengambilnya dam memastikan garis dua atau satu.
"Deg deg deg "
Jantung ini berdetak hebat,aku menelan ludah takut bercampur panik saat melihat garis yang muncul dialat tespeck itu.
"Du-dua garis"
Aku mengibas-ngibaskan alat tespeck tersebut siapa tau rusak atau salah dengan hasilnya,ternyata memang garis dua.
Aku kebingungan didalam kamar dengan rasa taku luar biasa bercampur bingung,gimana kalau orang tua aku tau,oh tuhan apalagi ini semua...?
Dengan cepat aku bergegas tergesa-gesa memakai seragam sekolah,aku takut bertemu mama tanpa sarapan aku langsung berlari keluar rumah.Didalam Bus pikiran aku kacau karena kehamilan ini.
Bus tepat berhanti didepan gerbang sekolah,aku keluar dari bus tetapi tidak masuk aku cepat-cepat masuk kedalam angkutan umum untuk menemui Primanda.
Jam tujuh pagi aku sudah ada didekat rumah Prima,terlihat Prima dengan santai keluar dari pintu rumah untuk berangkat kesekolah.Aku memanggil Prima,pemuda itu langsung mendekati aku.
"Say-sayang aku udah respeck tadi pagi"
Aku gugup sambil berjalan pelan dibarengi Prima.
"Mana sayang hasilnya"
Prima mengulur tangan tidak sabar melihat hasilnya.
Langkah terhenti karena aku membuka tas ini dengan gemetar,Prima mengambil dari tangan aku alat sensitif tersebut,Wajah Prima menjadi pucat dan berkeringat sedikit melihat garis dua.
"Ka-kamu hamil sayang?"
Prima gugu langsung kelabakan,Prima mondar mandir memikirkan kehamilan aku.
"Gimana sayang?,kita harus apa?"
Aku terjongkok sambil ketakutan,rasa cemas semakin menghantui jiwa aku.
"Itu anakku,duh gimana caranya?"
Prima bingung dan cemas sambil mijat kening,dengan lemas tubuh pemuda itu bersandar ditiang listrik yang berdiri tegak.
"Aku takut dipukul mama"
Kata aku yang mulai menangis karena kebingungan.
"Ssst jangan berfikir macam-macam,aku tanggung jawab" Prima menarik lengan aku dan menatap sendu wajah aku,kami berpelukan dengan rasa cemas dan takut.
"Oh mama maafkan aku,aku memang anak uang egois,aku kebabalasan,Tuhan maafkan aku" Hati ini menjerit sekuat-kuatnya.
"Jangan nangis terus,aku janji perjuangkan anak kita ini,kita nikah" Kata Prima mebuat aku tenang apalagi dia mengusap air mata yang jatuh kepipi.
"Sekarang kita harus gimana?"
Kata aku sambil melepas pelukan Prima.
"Kerumah ayah aku,kita disana dulu,sampai aku dapat akal gimana caranya bicara sama kedua keluarga kita" Jawab Prima sambil naik keatas motor dibarengi aku.
Primanda anak broken home,Ayah Prima sudah menikah lagi,kini kami berniat inap kerumah ayah prima,diperjalanan kami diam membisu karena berfikir keras.
Sampai dirumah ayah Prima kami disambut hangat oleh Ibunda tiri Prima,lalu kami berdua duduk disofa ruang tamu rumah ayah Prima,kami hanya numpang inap sehari tanpa memberi tahu kehamilan aku.
Esok harinya kami bingung kemana lagi harus menginap,kami ditolong iyan tapi inap digubuk persawahan,sudah satu malam aku tidak pulang,aku sangat cemas memikirkan kedua orang tau aku,ingin aku pulang tapi aku tak kuasa dengan kehamilan ini.
"Lupa cabut kalian bisa kebablasan"
Kata Iyan masih bercanda.
"Cari solusi nyet,bukan ngejek kau"
Kata Prima mengacak rambutnya.
"Jadi sekarang mau kalian bagaimana?"
Kata Iyan kini berwajah serius.
"Kami berfikir dulu gimana caranya bicara sama keluarga kami,maklum kau men aku masih bingung" Kata Prima melihat aku yang sedih duduk sambil termenung.
"Kalian inap aja disini dulu,entar aku bawa makanan" Kata Iyan bardiri dari duduk.
"Ya sudah sekolah sana kau"
Kata Prima sambil memeluk aku karena aku diam saja.
"Ok men,entar pulang sekolah aku bawa makan kesini" Iyan pamit dan berjalan peelrgi dari gubuk yang akan kami tumpangi.
Waktu berlalu dengan cepat,jam satu terlihat Iyan berlari dari kejahuan menuju tempat kami,Aku dan Prima bingung melihat Iyan berlari kencang.
"Hos...Hoss...Hos"
Iyan mengambil nafas panjang setelah berlari,kini Iyan sudah dihadapan kami.
"Woi-woi mampos kalian,kalian pulang saja , udah berkasus kalian disekolah udah nyebar"
Kata Iyan dengan mimik wajah serius.
"Apa...kok bisa nyebar?"
Prima semakin bingung dan cemas.
"Mama Yunita dan mama kau datang kesekolah,mereka mencari kalian,gempar satu sekolah" Kata Iyan dengan panik
"Ma-mama cari aku,sayang gimana ini aku takut,kasihan mama aku pasti dia bingung cari kita,aku enggak pernah bahagiakan dia" Dengan nada sedih air mata ini mengalir terus dari pelupuk mata.
"Ssst jangan nangis sayang aku ada disini kita sama-sama cari solusi,aku semakin bingungn kalau kamu menangis" Kata Prima sambil merangku aku dari samping.
Iyan mengantarkan makanan buat kami,sebenarnya aku dan Prima segan menyusahkan Iyan,tapi mau gimana lagi uang aku dan Prima semakin menipis.
Malam hari aku duduk berdua dengan Prima kebingungan,uang tinggal lima ribu perak kami pegang,tidak mau menyusahkan Iyan terus kami sudah cukup berterima kasih kepada Iyan.
"Kruuucik"
Perut aku berbunyi saat duduk dipangkuan Prima,Prima mendengar suara cacing bersahutan diperut aku.
"Katanya tidak lapar,jangan bohongi aku,ayo kita pergi dari sini" Kata prima sambil berdiri dari tidurnya.
"Kita kemana sayang?,aku bingung"
Kata Aku yang sudah berdiri.
"Kerumah mama aku,kita disana saja,aku sudah siap mengatakan kepada keluarga" Prima meraih tas ranselnya lalu menarik jemari aku berjalan melintasi persawahan.
Terlihat wajah Prima yang pucat dan gugup saat melihat rumah Keluarga prima,aku juga takut dan menebak-nebak apa yang akan terjadi kalau tau aku hamil.
__ADS_1
Sampai didepan rumah aku dan Prima habis-habisan disidang,diruang tamu kami berdua gemetar karena ocehan dan kemarahan semua keluarga Prima,termaksud adik-adik dari ibu Prima ikut campur juga.
"Kenapa kalian melakukan itu?,Prima katakan sama ibu kenapa kau culik anak gadis orang hah?" Bentak Ibunda Prima dengan nada sedih.
"Yun-yunita hamil ma"
Kata Prima tertunduk sambil genggam erat jemari aku.
"Apaa !!"
Ibunda Prima terkejut seketika menangis pilu mendengar anak lelakinya menghamili anak gadis orang,karena penuh emosi Ibunda Prima memukul-mukul dadanya hingga pingsan terduduk disofa.
Aku melihat abang Prima mirip sekali dengan Prima,tapi sauang nya idiot,Prima juga mempunyai saudara perempuan yang kini menatap nanar aku.
Prima ternyata harapan Ibundanya untuk sekolah kejenjang yang lebih tinggi,karena saudaranya tidak ada yang sarjana,apalagi Prima anak bungsu dari tiga bersaudara itu.
Semua keluarga Prima menatap nanar aku,seakan aku yang menggoda Prima,aku diam sambil tertunduk tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Gara-gara kau Mbak aku pingsan ya,dasar gadis murahan,bisa-bisanya hamil sama keponakan aku" Bibi prima sangat marah dan menghakimi aku.
"Bibi jangan memaki calon istri aku,dia bakal ibu dari anak aku ! " Bentak Prima hendak membela aku.
"Lancang....!"
Wanita paruh baya itu menapat nanar Prima,karena membela aku uang duduk diam sambol menangis.
"Plaaak"
Adik dari Ibu Prima menampar keras pipi Prima sampai terasa panas,Prima terkejut melihat ulah Bibinya.
"Masih ada otak kamu untuk berfikir waras?,apa tidak kau lihat mbak aku pingsan didalam kamar karena ulah kalian dua,masuk kau lihat Ibu kamu !!" Bentak Wanita yang berhidung bangir tersebut.
Ibunda Prima siuman langsung bangkit dari tempat tidur,berjalan cepat untuk menghakimi aku.
"Kau gadis murahan,kenapa kau goda anak aku,aku enggak setuju !!,aku enggak setuju !"
Teriak Ibunda Prima meronta-ronta didepan aku.
"Bu...,udah Ibu,tolong restui kami ini ulah kami berdua jangan salahkan Yunita" Prima merangkul aku dari samping karena aku menangis terisak-isak.
Aku amat sangat ketakutan,aku tidak bicara sepatah katapun,hanya menangis sambil duduk disofa,Cuma Prima yang membela aku dirumah keluarga besar Prima.
"Hamil berapa bulan kau?,apa betul itu cucu aku?" Kata Ibi Prima dengan lantang.
"Percaya bu,itu anak Prima bu,kami melakukannya setiap hari" Sambung Prima karena aku diam tertunduk saja.
"Aku enggak setuju,gugurkan..!!"
Ibunda Prima tetap bersih keras,mungkin dia tidak suka dengan aku.
"Ibu..,itu anak aku tolong restui kami"
Prima bersih keras juga dia tetap pada pendiriannya.
Ingin sekali aku berlari keluar dari rumah ini,aku tidak tahan dengan makian dan cacian keluarga Prima,aku disudutkan sekali,tapi aku tak kuasa berlari karena mengingat kehamilan ini.
"Perempuan murahan beraninya kau goda anak aku, bondon kau !" Ibu Prima seperti orang kesetanan dan menarik kuat rambut aku.
"Ampun"
Rintihku saat rambut ini ditarik Ibunda Prima,Ingin sekali aku tinju wajah Ibunda Prima tapi karena dia calon mertua aku,aku tak kuasa untuk melawan.
"Ibu jangan keterlaluan !!, jangan sakiti Yunita aku enggak terima" Prima mencengkram lengan Ibundanya karena suara rintihanku.
Paman Prima yang tidak tau apa-apa datang sepulang kerja dan melerai keributan ini,Ibunda Prima terdiam dengan kedatangan adik lelakinya.
"Kalau gitu bawa mobil antar gadis ini kerumah orang tuanya dengan baik-baik Prima juga kita bawa" ujar pamannya.
"Enggak aku enggak setuju Prima masih kelas dua SMA,bagaimana nanti kasih makan anaknya mereka masih kecil" Ujar Mama Prima dengan tegas dan geleng kepala.
Ibu Prima umur sekitar empat puluhan,raut wajahnya masih cantik,putih bersih,ya keluarga mereka cantik semua tapi mulutnya lantam-lantam dan sombong.
Kini aku sudah didalam mobil bersama Prima,tinggal keluarga aku yang kini harus kami hadapi,jantung tidak karuan,sesak saat menuju kekampung halamanku,entah apa yang akan terjadi.
Sesampai dirumah keributan juga terjadi tapi tidak sebesar dirumah Prima tadi,karena cuma ayah dan mama yang ada dirumah,jadi keluarga aku yang lain tidak ikut campur.
"Yunita mari kedapur ikut mama"
Mama menahan air mata mengetehui kehamilan aku,betapa hancurnya jati orang tua melihat anak gadis hamil diluar nikah.
Aku hanya mengikuti kemauan mama dan Prima juga ikut kedapur,jantung ini mau meledeka saja saking keras berdetak karena ketakutan sekali.
"Yunita besok mama akan kekeluarga prima
membuat keputusan tentang aib yang kau nuat bersama anak ini" Kata Mama menunjuk Prima yang diam tertunduk.
Aku tidak tau apa yang akan terjadi besok,entah keputusan apa yang mereka ambil untuk aku dan Prima,aku gelisah berbaring diatas kasur saking memikirkan hari esok.
------------------------------------------------------------------
Esok paginya keluarga aku datang kerumah Prima untuk membahas tentang aku dan Prima.Perang dingin dimulai antara keluargaku dan keluarga Prima karena tidak sepikiran.
"Kapan kita akan menikahkan mereka bu?" Ucap Indi yang duduk disofa.
"Apa tidak terlalu dini kita menikah kan mereka?" Kata Ibunda Prima.
"Tapi anak saya udah begitu,terpaksa kita menikahkan mereka,masa depan biar mereka yang menentukan" Ucap Indi dengan wajah serius.
"Prima belum kerja,mau jadi apa nanti kalau mereka menikah,gimana sih jalan pikiran anda?" Balas Ibunda Prima dengan kernyit dahi.
"Ya mending mereka sekolah dulu,setelah tamat Prima bisa kerja,setelah itu kita nikahkan mereka" Sambung Paman Prima.
"Jadi anak saya harus gimana?,sekolah dengna perut begitu,aneh saja kalian?" Ucap Darma dengan wajah emosi.
"Kita gugurkan saja,toh masih muda,soal biaya biar kami uang tanggung !" Jawab Mama Prima dengan nada keras.
"Enak saja kalian bicara seperti itu,coba anak prempuan kalian begitu,apa mau kalian buang calon cucu kalian?,mikir dosa,sudah mereka berzina malah tambah dosa membunuh calom cucu kita" Kata Indi dengan tegas.
"Keluarga kami tidak ada yang seperti ini,tolong pahami perkataan dan kemauan kami,toh mereka akan kita nikahkan juga" Sambung Ibu Prima dengan kernyit dahi.
"Ya syukur kami mau menaggung nya,kalau tidak kalian mau apa?,belum tentu yang dia kandung itu darah daging kami" Kata Bibi Prima dengan nyolot.
"Hei siapa kau,jangan ikut campur ...!!" darah Indi memuncak mendengar perkataan Bibi Prima,Indi langsung bangkit dari duduk menentang mata Bibi Prima yang menatap nanar.
"Sudah...sudah,Jenny kau masuk kedalam kamar,bukan urusan kamu ini" Kata paman Prima dengan tegas menyuruh adiknya.
"Cuih...punya anak perempuan tidak dijaga,malah keponakan aku yang digoda" Bibi Prima mengumpat dengan jijik.
"Apa kau bilang ...!!, Hei jaga mulut kamu,anak aku tidak begitu..!!" Indi naik darah sekali.
"Ayo pulang saja"
Darma yang mengepal tangan sambil emosi berdiri dari duduk.
"Maafkan adik saya,bapak,ibu jangan emosi begitu mari kita selesaikan secara dingin" Kata Paman Prima.
"Besok saja kami kesini,tidak enak dicampuri orang lain" Indi sudah kadung emosi.
Aku terdiam sambil menahan airmata disaat duduk disamping rumah Prima,bersama Prima yang juga terdiam saat mendengar percakapan keluargaku dan keluarga Prima.
"Sayang gimana ini?"
Tanya aku dengan rasa takut kalau kandungan aku dibuang.
"Sabar,ayang aku tetap akan menikah dengan kamu,kita saling cinta,ini salah kita" Prima megang jemari aku dengan erat.
Mama berwajah emosi keluar dari rumah Prima,lalu lengan aku ditarik mama begitu saja untuk pergi dari kediaman rumah Prima.
Aki terdiam mengikuti kemauan Prima,kami terpisah,dari kejahuan aku melihat wajah Prima uang sedih saat mama tanpa sepatah kata pamit dengan Prima.
Esoknya mama datang kesana lagi,entah kenapa mereka memutuskan secara sepihak diluar dugaan aku dan Prima yang berencana menikah,nyatanya tidak kandungan aku akan dibuang,lalu tamat sekolah kami akan menikah.
mendengar keputusan itu aku tidak terima,aku meraih tangan Prima membawa dia kesamping,entah kenapa keluarga aku setuju dengan hal ini,air mata ini terus menetes karena hati yang kecewa.
"Aku sayang banget sama kamu, aku enggak mau dipisahkan,tapi aku takut keluargaku, aku diancam mereka,gimana kalau kita gugurkan saja kandungan kamu" Kata Prima yang berdiri dihadapan aku.
Bagai petir disiang bolong hati ini sangat kecewa mendengar perkataan Prima,Prima yang berkata akan menikahi aku kini berubah jadi terbalik,perih bagai disayat sembilu jiwa dan hati ini mendengar keputusan Prima.
"Tega betul kau mau membuang calon bayi kita,bukankah kemarin kau janji untuk bertanggung jawab?,kenapa sekarang kau berubah pikiran?,kenapa...??!!,katakan Prima aku kecewa denganmu !!" Kata aku dengan marah dan emosi.
"Aku harus gimana lagi?,mereka enggak mau kita menikah sekarang,kalau kita bersih keras aku akan dikirim keluar sumatera,aku takut kita tidak bisa bertemu" Kata Prima dengan membendung air mata.
"Ternyata kau sama aja dengan yang lain, kau tidak jantan,aku sial mengenal kamu !! ,kau bodoh !!,baru diancam begitu kau sudah takut dan nyerah,kau tidak jantan ,jantan kamu terlihat saat kita bersetubuh saja, udah gini kau nyerah taik !!" Kata aku dengan lantang.
"Yunita...!!"
Prima memanggil aku,karena aku berlari pergi dari hadapan Prima karena kecewa.
Aku langsung naik kedalam Bus sedangkan orang tua aku sudah lebih dulu naik motor jalan pulang kerumah.Aku tidak habis fikir kenapa akhirnya jadi begini,rasanya hidup aku selalu sial.
-----------------------------------------------------------------------
*Beberapa hari kemudian*
Aku merindukan Prima ingin bertemu dengannya,aku meminta pertolongan Iyan untuk memanggil Prima dari dalam rumahnya.
"Maafkan aku Yun,kata Bibi Prima,primanya sudah..." Iyan tidak melanjutkan pembicaraan membuat aku bingung.
"Apa maksud perkataan kamu?,tolong jelaskan Iyan" aku sangat penasaran dengan membendung air mata.
"Primanda sudah pergi,keluarga mereka mengirim Primanda jauh diluad sumatera" Kata Iyan dengan wajah sedih.
"Astghfirullah"
Aku berdiri lemas sekali mendengar perkataan Iyan.
Singkat cerita keluarga Prima menitipkan uang untuk aku,supaya kandungan ini dibuang,uang berjuta-juta itu untuk apa kalau nyatanya calon bayi aku dengan Prima dibuang.
__ADS_1
"Mereka tidak suka sama kau,kalau seandainya mama memaksa kau menikah dengan Prima,pasti kau tinggal dirumah neraka itu,belum menikah saja kita sudah dihina begitu,apalagi kau sendiri dikeluarga gila itu,apa gak jadi alas kaki kau nanti" ucap mama dengan tegas.
"Duok...Buuaak"
Dengan emosi dan penuh kekecewaan aku melempar semua buku-buku belajar didalam kamar,aku melampiaskan dengan mengobrak abrik kamar.
"Tidak !,Prima ! kenapa kau tega buat aku begini,enggak aku enggak mau,akan aku besarkan anak ini " Kata aku sambil menangis histeris.
"itu salah kau,kau tanggung akibatnya"
Ucap mama dari luar kamar karena mendengar jeritan aku.
"Jangan kau hancurkan kamar itu,awas aja"
Mama dari luar pintu kamar mulai emosi.
Esoknya aku digeret mama ketempaat tukang urut untuk membuang jabang bayi ini,aku meronta-ronta menolak keras.
"Enggak mau !!"
Kata aku dengan menangis histeris.
"Prima udah pergi,sumpah Yunita aku capek kalau kau berkeras,jangan buat aib terus,tau gini dari kecil kau kubunuh saja" Mama mulai emosi,aku jadi takut.
"Mak aku memang egois sama kalian ,tapi kalian juga jangan egois,anak ini enggak salah apa-apa!" aku berkeras dan terjongkok dilantai kamar aku.
"Diam lakukan saja yang aku perintahkan, keluarga Prima sudah hina kita habis-habisan, kau kalau jadi sama dia akan disiksa keluarganya" Kata Mama.
Aku terdiam dengan ucapan mama,aku mengutuk diriku sendiri dan mengutuk Prima.
"Prima aku ternyata banci,laki-laki banci yang tidak bertanggung jawab,aku menyesal,menyesal.." Jerit batin ini dan hancur.
-------------------
Ditempat tukang urut :
" Awwww adaaaw sakit bu"
Aku merintih sambil baringan saat perut bawah aku ditekan sekuat tenaga diputar-putar.
"Tahan ya nak,kalau sudah keluar cokelat-cokelat dicelana dalam kamu,artinya dia udah pecah dan mati didalam" Kata tukang urut yang masih saja memijat perut bawah aku.
"Aaaa..adaw"
Aku menahan kesakitan ini seperti mau pingsan,ditambah hati hancur lebur karena ditinggal Prima,aku juga terpaksa putus sekolah.
"Udah sana kekamar mandi,jongkok ya nak biar keluar dia" Ibu tukang urut berhenti memijat.
Aku berjalan terseok-seok karena menahan kesakitan ini,didalam kamar mandi aku terjongkok sambil menahan peri hati dan perih perut yang melilit luar biasa,rasanya ingin buang air besar tetapi tidak,sakit sekali menusuk kesum-sum tulang.
"Tuhan tega banget Prima meninggalkan aku sendirian menahan ini" Rintih didalam relung hatiku.
Malam harinya pada pukul satu aku tidak bisa tidur karena rasa sakit ini datang lagi, sakitnya lebih dahsyat ketimbang diurut tadi,sehingga nafas ini sesak sekali.
"Adaw sakit-sakit"
Aku meringkih sakit dibawa tempat tidur,karena aku menjerit sambil menangis ayah dan mama keluar dari kamar dan melihat aku tertunduk kesakitan.
"Masih sakit?"
Kata Mama,aku tidak bisa bicara karena menahan sakit ini saja sudah tidak mampu,mama berlari kedapur memasak air panas,lalu mengambil jamu yang terletak didalam lemari makan.
Dengan jalan tertatih aku masuk kedalam kamar mandi,saat aku jongkok diatas WC muncrat dari area sensitif aku darah bergumpal yang berwadan hitam kecokelatan seperti hati ayam yang sudah direbus.
"Sakitkan?,mangkannya dibuat lagi besok-besok,baru tau kau sakitnya kayak mana,selalu saja bikin aib" ujar Mama yang sibuk mengaduk jami diatas meja makan.
Aku diam saja tidak berani bicara karena memang ini semua salah aku, aku ambil jamu diatas meja dengan cepat meminumnya.
Setelah itu aku masuk kedalam kamar.
Tanpa sadar aku membuka laci lemari mengambil sebuah foto yang tak pernah aku lihat lagi,ya..sejak aku jatuh cinta lagi dengan Prima aku tidak pernah melihat poto dia.
"Raja seandainya kau masih hidup,mungkin aku enggak begini,aku hina,salahku sendiri" aku bergumam mengelus poto itu dengan jemari gemetar.
"Raja mending aku mati saja,aku tidak mau hidup lagi" Tangis aku pilu dibawah tempat tidur ditambah sakit sehabis aborsi.
--------------------
Pagi dan siang serta malam aku tidak mau makan hanya melamun saja,pikiranku kosong jiwa ini terguncang sekali.
"Makan Yun udah sminggu kau begini terus jangan buat mama tambah susah" Mama dengan air mata hendak menyuapi aku.
Lengan mama aku tepis seraya tidak ingin makan dari tanganya.Aku lari dari rumah dan melihat Bus melintas,aku hendak naik kedalam karena tubuh ini sangat lemah seaktu aku naik Bus maju.
"Buuuk"
Aku terjatuh dan terseret diaspal,syukur sewaktu itu tidak ada motor atau mobil yang melintas.
"Ada orang jatuh,tolong !!"
seorang warga melihat aku terjatuh sewaktu hendak masuk kedalam bus.Kepala aku terbentur aspal dijalanan.
Derita ini tidak sampai disini saja,aku akhirnya dibopong kerumah sakit,mama dan ayah jadi ikut menderita karena ulah aku.
Saat aku sadar aku jadi linglung dengan amnesia,apalagi aku sehabis aborsi pasti jiwa ini semakin terguncang.
"Raja kenapa aku enggak ikut kau aja Hahaha" Aku ngedumel sendiri,kadang menangis,kadang tertawa.
"Sus sepertinya pasien kita depresi berat"
Ucap suster yang mendengar jeritan dan tangis aku didalam ruangan pasien.
"Iya berisik betul,kalau enggak salah besok dia diboyong kerehabilitasi" Jawab suster lainnya.
Dokter memriksa aku yang terkena depresi berat,dokter geleng kepala setelah periksa aku.
"Maaf anak ibu harus di bawa kerehabilitasi mahoni,dia depresi juga trauma" Dokter
mama:" apa dok !, kenapa dok harus di bawa kerehabilitasi apa anak saya jadi gila dok?"
"Jadi anak saya sudah sakit jiwa dok?" Mama terkejut dan memijat kening,dia jadi kacau anak gadisnya seperti orang gila.
"Bukan bu,anak ibu belum gila total masih bisa direhabilitasi,hasil scanning ada gumpalan darah dikepala belakang dan ditambah trauma mendalam dialami anak anda,apakah dia punya masalah?" Dokter kernyit dahi dan berfikir.
"Tid-tidak ada masalah dok, mungkin dia karena terjatuh itu kali ya" Kata mama aku seperti menutupi semuanya,mungkin malu.
"Baiklah saya pergi dulu bu,masih banyak pasien lagi" Kata dokter tersbut lalu pergi dari hadapan Mama aku.
Aku digiring kekota M,aku pasrah dan sedikit linglung,yang aku tau sekarang hanya bengong kadang tertawa kadang menangis.
Setelah sampai dikota M,aku digiring kerumah sakit rehabilitasi Mahoni.
"Dimakan"
Suters kesusahan pada saat menyuapi aku makan,aki geleng dan membungkam mulut.
"Prima...!! jahat kamu,Raja aku mau ikut kamu hikss..hiks.." ucap Aku tanpa sadar embuat suter geleng kepala.
"HahahahHHH"
Aku tertawa renyah tiba-tiba,padahal tidak ada yang diobrolkan,ini memang luka dalam aku,aku tidak ikhlas akan kepergian Prima apalagi anak yang didalam rahim aku sudah enggak ada.
Suster keluar karena aku tidak mau disuapi,aku dikurung didalam ruang kedap suara,tidak ada cermin,benda tajam hanya tempat tidur terletak dipojok ruangan sempit ini.
"Bagai mana anak saya sus?,apaa bisa sembuh?" Kata Indi sangat cemas ketika suster keluar dari ruangan aku.
"Maaf ibi Indi,saya kurang tau,rntar lagi dokter datang memeriksa" Kata suster tersenyum kecil.
"Ya allah dosa apa yang kami buat dimasa lalu,kenapa anak aku menderita begini,Ya allah sembuhkan anakku" Gumam Indi yang sangat sedih dengan membendung air mata.
Indi menunggu didepan ruangan Yunita,terlihat dokter ahli jiwa datang untuk memeriksa aku.Dokter masuk kedalam ruangan Yunita,Indi ingin tau sekali dia juga ikit masuk melihat anak sulungnya.
"Anak saya bisa sembuh dok?"
Indi diluar ruangan saat dokter selesai memeriksa Yunita.
"Bisa bu,karena dia stres berat,ada yang terjadi dimasa lalunya,atau ada masalah berat menimpa dia,jadi tolong hibur-hibur saja dia bu,saya akan memberikan resep" Jawab dokter lalu setelah itu pergi menuju ruangannya.
Indi sesekali diperbolehkan masuk kedalam ruangan aku,aku hanya terduduk melamun dengan pandangan kosong,aku hidup tapi seperti mati.
"Jahat kalian semua"
Kata aku dengan mata bengkak akibat menangis,kadang tidak ada yang lucu malah tertawa.
"Ayo makan"
Ujar Mama hendak suapi aku.
"Duaaak"
Aku menepis piring yang dipegang mama,aku tidak suka dipaksa-paksa.
"Mau sampai kapan kau begini kau pikir mama tidak capek,sadar Yunita ingat kami orang tua kau,adik kau,apa kau gak ingat kami semua !!" Bentak Indi dengan kesal sekali.
Yunita hanya bengong saja tidak merespon kata-kata Mama,yang biasanya dia amat takut kini seperti mayat hidup tanpa merespon ucapan orang
------------------------------------------------------------------------
Dari episode ini kita bisa memetik
buah dari perbuatan Yunita dan Prima
marilah kita ambil hikmahnya,
ambil positifnya jagalah anak-anak perempuan kita agar tidak seperti Yunita yang tau nya dengna ketampanan saja,tidak memikirkan buruknya pergaulan bebas,daya author tetap akan menulis kisah ini supaya anak diluar sana tau betapa bahayanya pergaulan dan aex bebas,buruk baiknya akan diterima selaku perbuatannya sendiri.
Jangan lupa like saya ya,saya author cantik dari pematang siantar menitipkan salam,horas...horas...
__ADS_1