Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 125


__ADS_3

Hari ini puasa terakhir bagi umat muslim yang menjalankannya,takbir akan berkumandang disetiap mesjid-mesjid,aku bersiap diri untuk pulang kekampung halaman rumah aku.Lalu aku pamit kepada Juna dengan berat hati.


"Hati-hati nda"


Ucap Juna saat melihat aku hendak pergi dengan motor aku.


"Iya sayang,nanti telfon aku ya,aku pamit ya yah" Sahut aku dengan senyum diatas motor.


Juna berlalu dari pandangan ketika motor yang aku bawa melaju pergi jauh menuju jalanan besar.Hati ini sangat riang ketika pulang ketempat kelahiran aku.


Satu jam berlalu akhirnya aku sampai berada dikampung halaman,aku menginjak pedal rem motor dan parkir didepan pintu pagar rumah lalu berjalan masuk kedalam rumah.


"Samlekom mak"


Ucap aku saat melihat mama dan ayah santai kebetulan pintu rumah terbuka lebar.


"Eee...,sudah pulang kamu Yun?, mama lagi mau goreng kacang ini" Sambut mama dengan senang hati tanpa aku tanya lagi.


"Wah mama juga masak rendang"


Kata aku saat melihat satu kuali rendang diatas kompor.


"Besok kita pergi tempat uak kamu jadi masak banyak" Sambung mama sambil memilih kacang tanah tersebut.


"Deg deg "


kerumah uak?,sudah lama aku tidak menginjakkan kaki disana apa abang Anto juga pulang kampung tahun ini?.


"Jam berapa besok kita kesana mak?"


Tanya aku dengan penasaran.


"Siang hari,ya sudah ganti baju dulu Yun,biar bantu mama goreng kacang ini" ucap Mama sudah sibuk dengan penggorengan.


"Ya mak"


Ucap aku dengan senang lalu berjalan menuju kamar.


Aku membantu mama goreng kacang tanah untuk lebaran besok dan setelah selesai aku berniat pergi keliling kampung,ingin sekali bertemu sahabqt lama tetapi aku tudak tau mereka entah kemana karena aku datang Indar dan Wati tidak ada dirumah kata orang tua mereka para sahabat aku ini merantau keluar daerah.


Aku jadi kembali dengan hasil nol tidak bertemu dengan sahabat lama,kecewa dan sepi apalagi malam ini takbir mulai bergema aku memutuskan pulang saja kerumah.


"Allahuakbar,Allahuakbar, laaa ilaha 'ilauloh hu allahu akbar" berulang kali suara takbir bergema disetiap mesjid yang ada dikampung aku,hari ini serasa nyaman dan sedih entah apa kesedihan hati jika mendengar suara takbir bergema dimalam lebaran seperti ini.


------------------------------------------------------------------------


Esokan harinya.


"Cepat Yun,pakai hijab kamu !"


Terdengar suara mama dari luar kamar aku,karena aku baru saja siap mandi dipagi hari ini.


"Iya ma sebentar !"


Teriak aku sembari sibuk memakai hijab warna merah.


Aku memakai hijab setelah sekian lama tidak mengenakannya dan rasanya aku belum pantas menutup aurat ini yang pernah selalu aku pamerkan ditempat hiburan malam,masih bisakah Allah memaafkan dosa yang pernah aku buat dimasa silam?.Entahlah hanya sang pencipta yang dapat menilainya.


Selesai aku berbenah diri dihadapan cermin aku akhirnya keluar dari kamar,lalu setelah itu aku bersalaman dengan kedua orang tua aku,menangis tersedu sembari meminta maaf kepada orang tua yang tlah membesarkan aku sampai menjadi seorang ibu.


Selesai itu kami sekeluarga pergi naik motor kerumah Uak yang ada dikota sebelah,hatiku banyak sekali menyimpan pertanyaan,apakah Anto masih seperti yang dulu?,masih ganteng dancgagah?,karena lebaran tahun berganti tahun sebelumnya kami tidak bertemu sama sekali.


Sekitar satu setengah jam diperjalanan,aku sekeluarga sampai juga ditempat Uak,mama dan ayah beserta adik aku sudah masuk kedalam rumah uak,aku malu untuk masuk karena ada pria yang pernah dekat dan berpacaran dengan aku.


"Yun kok enggak masuk?"


Tukas uak lelaki ayahanda Anto yang melihat aku berdiri mematung didepan pintu rumah.


"Oh iya uak sebentar lagi"


Sahut aku sembari mengambil duduk dibawah pohon rambutan berdekatan dengan pintu rumah.


Aku melihat sosok pria tinggi nan tampam keluar dan berdiri didepan pintu rumahnya,dia adalah Anto,Anto melihat aku dengan senyum khasnya dan aku membalas tatapan Anto sengan sekilas saja.


Tapi saat aku ingin melihat sekali lagi pria itu dan menoleh ternyata seorang wanita menyapa Anto dengan mesra dan mereka masuk kedalam rumah,siapa wanita itu?.


Aku penasaran dan masuk diam-diam kedalam rumah,dilorong depan rumah Anto terpampang sebuah Foto pernikahan ternyata foto pengantin itu adalah Anto dan wanita tadi yang baru aku lihat.


"Yun kok didepan pintu?"


Tanya Jaka ternyata memperhatikan aku sedari tadi.


"Iy-iya bang,ini mau masuk"


Kata aku dengan canggung dan melirik foto pengantin itu terus menerus.


"Makin cantik saja ya Yun?"


Terlontar pujian Jaka saat aku menyalam lengan Jaka.


"Biasa saja bang,mama aku kemana ya bang?" Tanya aku dengan malu dan tersipu karena pujian Jaka.


"Mereka lagi ngumpul diteras belakang,abang Anto juga datang lebaran tahun ini tapi bawa istrinya Hehehe" ujar Jaka sambil cengengesan.


"Kok kamu seperti bingung gitu Yun?,apa kamu tidak tau bang Anto sudah menikah?,oh iya kitakan baru ini ketemu lagi sekian tahun" Kata Jaka bertanya tetapi jawab sendiri sambil garuk kepala yang tidak merasa gatal.


"Iya sih bang,terkejut saja Abang Anto akhirnya menikah,ya sudah gabung sama uak saja dibelakang teras bang Jaka" Sahut aku dengan tersenyum lirih.


"Aku kebelet kok,ya sudah aku tinggal dulu Yun" Kata Jaka dengan berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi.


"Mending merokok dulu sebelum gabung"


Gumam aku sendiri sembari keluar dari rumah Uak dan mencari tempat sunyi.


Hisapan di hisapan asap mengepul dari mulut dan hindung aku,aku sangat menikmati asap rokok yang aku hisap sedari tadi dengan santai disamping rumah Anto.Sebuah tangan menyentuh bahu aku dari belakang membuat diri sangat terkejut.


Ingin melompat saja saat bahu ini dipegang lembut,aku takut jika keluarga atau yang lain melihat aku merokok,dengan cepat aku buang rokok yang masih bersisa ini.


"Kok merokok dek?,sendrian lagi,hem apa kabar?". Ternyata Anto yang pergoki aku sedang merokok.


"Hah abang, kok bisa tau aku disini?,kabar baik bang,huh...kirain entah siapa" ujar aku canggung dan kikuk.


"Sudah berubah drastis kamu ya dek?,pakai hijab tapi dibuka lalu merokok,abang dengar juga kamu sudah pisah sama suami" ujar Anto langsung duduk disebelah aku.


"Hemm,sudah lama berpisah bang mau jalan delapan tahun" Ucap aku dengan lirih tidal berani menatap Anto.

__ADS_1


"Dek sewaktu kamu mau menikah abang sedih lho,abang ingin menggantikan saat kau diatas pelaminan,tapi apa daya abang ah takut dibilang egois,abang rela kau menikah kemarin asal kau bahagia ternyata begini pisah juga,kenapa hari itu aku tidak menentang pernikahan kalian saja ya?,kalau aku yang disisi kamu pasti aku tidak akan melepaskan kamu dek" ucap Anto dengan nada sedih.


Lalu aku melihat sekilas mata Anto yang sayu dan terlihat sedih,mata besar yang indah memancarkan ketampanan yang pernah aku kagumi dahulu,dia masih seperti yang dulu tampan dan gagah.


"Sudah berlalu bang,ya lagian abang sudah dapat pengganti aku yang lebih baik" Balas aku dengan tersenyum kecil.


"Iya dek,abang putuskan menikah saja,menanti kamu terus percuma tidak ada jawaban pasti,lagian abang sibuk bekerja diluar pulau,oh iya bagi rokok kamu" Kata Anto mengambil bungkusan rokok dari tangan aku.


"Sekarang aku sudah menikmati kehidupan aku bang walau pahit ya tetap dijalani,abang ngapai kesini nanti marah istri abang kalau tau kita berduaan saja" Ujar aku sambil menyodorkan pemantik kepada Anto.


"Tidak marah dek,setau istri aku kita saudaraan,tapi kamu makin cantik ya dek tapi tadi abang lihat kamu pakai hijab,kok dibuka?" Kata Anto sambil menghisap sebatang rokok.


"Panas bang,aku belum cocok pakai hijab lagian merokok,oh iya abang sudah ada momongan belum?" Jawab aku dengan garuk kepala merasa malu kepada Anto.


"Belum dek,istri abang naik kilo badannya,makin gendutan" jawab Anto dengan bingung.


"Sabar bang,aku juga dulu lama dapat momongan,tunggu usaha dulu bang,tapi apa hubungannya sama gendutan?,ada-ada saja abang". Ucap aku lagi sambil geleng kepala.


"Ade deh hubungannya,dek jangan patah semangat ya walau kita tidak jodoh,abang selalu mendukung kamu,abang ingat saat -saat kita dulu bersama" ujar Anto tertawa kecut.


"Aku juga ingat bang,lucu kalau ingat yang dulu diam-diam cari berduaan,oh iya bagaimana kabar Radit bang?" Balas Aku yang kini sedikit menatap wajah Anto walau sebenarnya masih malu dan kaku.


"Ternyata masih inget juga ya dek yang namanya Radit,abang dengar dia sudah menikah juga sudah dua anak" ujar Anto sambil memegang kepala aku dengan sekilas.


"Ow iya bang,sudah tahun berapa ini tidak mungkin Radit belum menikahkan?,Hahahah" Ucap aku sembari tertawa renyah dan senang karena sentuhan Anto walau sekilas.


"Kalau dapat jodoh lagi yang bagus ya dek, abang doakan kamu dapat jodoh yang lebih baik ya,ok adek aku sayang,sini peluk abang rindu juga sama kamu"


Tanpa aku bilang Iya atau tidak Anto menarik lengan aku dan memeluk aku dengan erat,aku takut kalau ketahuan orang tapi secara perlahan kepala ini tenggelam didada bidang Anto,serasa nyaman sekali hati ini.


Aku hanya diam dan terharu sedikit merasa tenang didalam pelukan Anto,dada Anto masih saja seperti dahulu hangat dan nyaman.


"Abang juga ya baik-baik sama istri abang juga cepat dapat momongan" Ucap aku sembari melepas pelukan erat Anto.


"Iya sayang,adekkan tau abang penyayang wanita sudah jangan sedih atuh wajah kamu, abang jadi ikutan sedih" balas Anto mengusap lembut pipi aku.


Aku melihat mata Anto berkaca-kaca,begini ternyata ketemu mantan,memang Anto mantan terindah dengan aku,kami berpisah tanpa kata putus malah bertemu masih baik -baik saja tanpa rasa benci sama sekali.


"Abang tinggal dulu ya dek nanti enggak enak,entar kamu kumpul ya dek jangan disini terus" Kata Anto menatap teduh kewajah aku.


"Iya bang,habis ini aku kesana kok"


Jawab aku dengan melontarkan senyuman kepada Anto.


Anto pergi dari pandangan aku,sempat hati ini cemburu melihat Anto dan wanita yang menjadi istrinya tetapi rasa cemburu ini aku tepis didalam hati karena aku tidak boleh egois,Anto berhak mendapatkan kebahagiaan bersama wanita lain.


Kini aku sudah berjalan masuk kedalam rumah Anto,aku melihat wanita itu tinggi berisi dan wajahnya sedang saja tidak cantik atau jelek.Wanita yang menjadi pendamping hidup pria yang pernah aku kagumi.


"Makan Yun,sedari tadi kemana?,uak perempuan mencari kamu tuh" Ucap Anto dengan berkedip mata.


"Iya bang,tadi aku pergi kewarung sebentar Heheh" Sahut aku dengan cengengesan.


Aku menjadi kikuk saat berbohong didepan semuanya,padahal tadi tidak kewarung bisa-bisanya Anto bersandiwara,ah sudahlah mungkin memang harus berbohong demi kebaikan tidak apa-apa.


Setelah kami berbincang dan salam memaafkan dihari lebaran ini,akhirnya ayah dan mama pamit untuk pulang begitu juga dengan aku,kini aku bersamalaman dengan Anto jujur rasa ini begitu aneh ketika menggenggam jemari mantan aku ini.


"Walau enggak jodoh,jangan lupakan abang ya dek" bisik Anto ketika semua orang pada sibuk dengan dirinya sendiri.


Aku hanya mberikan anggukan saja dan menyalami yang lain,istri Anto tidak curiga sama sekali padahal hati dan jantung aku ini mau copot kalau seumpama istri Anto curiga,syukur saja kamu ada ikatan saudara jadi terlihat natural dalam kecanggungan ini.


Ujar aku saat naik keatas motor bersama Anton.


"Pulang kerumah saja,nenek kamu sudah enggak ada lagi,mau kerumah opung jauh betul" Jawab mama yang sudah naik juga diatas motor bersama ayah.


"Ya sudah ma,Anton ayo jalan"


Tukas aku sembari melambai tangan kepada keluarga Anto yang berdiri semua didepan pintu rumah.


Diperjalanan pulang kerumah ponsel aku berdering,aku mengambil ponsel dari saku kanan dan melihat siapa yang menelfon.Ternyata Juna yang telfon.


"Hallo yahminal aidin walfaizin ya sayang,lagi apa sekarang?" Tukas aku saat diatas motor bersama Anton.


"Huh pacaran saja"


Gumam Anton merasa risih mendengar celotehan aku padahal Anton fokus membawa motor.


"Biarin !"


Balas aku sambil menampol kepala Anton karena kesal.


"Sama-sama nda,nih lagi ngumpul keluarga juga,kamu lagi apa nda?" Suara Juna terdengar jelas didalam ponsel aku.


"Masih diatas motor sama adik aku,kami baru dari rumah uak,hanis tuh pulang" Ucap aku lagi sambil melihat kedepan.


"Ya sudah hati-hati ya,nanti malam aku telfon lagi bunda" Ucap Juna bernada riang sekali.


"Ok deh boneng"


Aku menutup telfon dan fokus diatas motor setelah itu.


Satu jam berlalu akhirnya kami sampai juga dikampung halamanku,aku turun dari atas motor dan melihat beberapa tamu yang sepertinya teman ayah sedang menunggu didepan pintu rumah.Karena lebaran suasana jati jadi senang walau keadaan ramai dirumah aku ini.


"Mak ini kuenya ditaruh dimana?"


Tanya aku yang sibuk didapur bersama Mama.


"Diatas meja sana antar Yun,tidak mungkin kau antar dimedan,mama masih buat syrup dulu gitu aja pakai tanya lagi" Sahut Mama dwngan nyinyir.


"Huh,iya..."


Ucapku dengan mendengus kesal karena mendengar perkataan mama.


Aku meletakkan kue-kue kering diatas meja untuk para tamu ayah,setelah itu aku berjalan hendak duduk santai didepan teras rumah.Ketika hendak duduk aku melihat kearah jalanan depan.


"Serr"


Jantung aku melihat mantan lewat dengan istrinya,aku ingat sekali wajah berondong manis yang pernah aku sakiti dahulu dialah Nanang,Nanang tidak tamat SMA karena pacarnya hamil duluan terpaksa mereka dinikahkan,mungkin Nanang pernah merasakan yang enak-enak dari aku sudah pantas dia ketagihan dan membuat hamil kekasihnya itu.


"Yunita...,ponsel kamu bunyi itu !"


Ucap Mama dengan keras didalam rumah.


"Iy-iya mak sebentar"


Tukas aku berjalan masuk kedalam rumah dan berlari menuju kamar dimana ponsel terletak.

__ADS_1


"Kok cuma misscall saja?,siapa sih ini orang usil kali ya,ditelfon balik malah dirijek" Gumam aku sambil kernyit dahi karena kesal dengan telfon asing.


------------------------------------------------------------------------


Esok harinya


Karena Juna mau ajak jalan-jalan aku pamit saja pulang,sanak famili sudah semua aku kunjungi sekeluarga,setelah kasih mama sejumlah uang dan pamit kepada ayah dan mama aku beranjak pergi meninggalkan kampung halamanku.


Aku naik motor sendiri menuju kota PS,ada satu jam berlalu akhirnya aku sampai dirumah toko kontrakan yang aku sewa,didepan pintu aku memeriksa ponsel tidak sangka ternyata nomor asing tadi malam yang terus telfon aku.


"Hallo siapa ini?,dari tadi malam kamu nelfon trrus,siapa sih?,jangan usil ya".Ucap aku dengan ketus didalam ponsel.


"Wih galak ya ternyata,kenal enggak ini suara siapa?" Tanya seorang pria didalam ponsel aku.


"Lho...,Abang Anto nyatanya,aku kira entah siapa,dari mana abang tau nomor aku?" Tanya aku sembari parkirkan motor didepan rumah kontrakanku.


"Jangan salah paham ya dek,abang cuma ingin simpan nomor kamu saja, jangan lupa simpan nomor abang ya,kalau ada apa- apa telfon abang saja" Kata Anto bernada senang.


"Iya bang,sampai jumpa lagi ya"


Ucap aku sambil berjalan menaiki satu persatu anak tangga.


"Iya de,sudah dulu ya dek abang tutup telfon nya,jaga diri adek ya dengan baik" Ucap Anto disebrang sana.


"Ok,abang juga ya"


Kata aku dengan menutup telfon lalu membuka pintu kamar aku.


Aku baringkan tubuh lelah ini diatas kasur yang empuk,memang lelah satu jam perjalanan dengan motor,aku menarik nafas panjang menghilangkan rasa penat ini sembari menunggu jemputan Juna.


"Tin..tin..tin"


Suara klakson motor dari depan rumah aku,aku langsung bangkit dan melihat arah jendela kamar dan ternyata Juna sudah datang dengan motornya.


"Enggak lamakan nda?"


Tanya Juna yang sudah masuk kedalam rumah dengan kunci duplikat yang aku kasuh kepada Juna.


"Enggak kok sayang,lagian aku baru sampai juga" Balas aku dengan tersenyum.


"Kamu pasti lelah?,apa bisa kita jalan-jalan sekarang?" Kata Juna yang sudah kecup kening aku sekilas diatas kasur.


"Ayo,percuma aku wonder women"


Sahut aku dengan berdiri tegak dihadapan Juna.


Aku dan Juna kini sudah diatas motor,Juna bermaksud memperkenalkan aku dengan adik mama Juna dikampung sebelah.


"Wah kok kesini?,boneng enggak apa aku datang kerumah tante kamu?" ujar aku yang sudah canggung karena sudah didepan rumah tante Juna.


"Ayolah tidak apa-apa,aku sudah cerita tentang hubungan kita sama tanteku,mama dan klwuarga aku juga sudah tau semua kok" Kata Juna yang turun dari atas motor.


Kini aku sudah masuk kedalam rumah tantenya Juna,aku disambut hangat dengan tantenya Juna dan keluarga Juna semua sudah tau tentang status aku yang janda beranak satu,mereka tidak pernah menyinggung soal status aku ini.Aku merasa nyaman karena tidak perlu berbohong karena Juna secara terang-terangan membuka soal status aku ini kepada keluarga besar Juna.


"Dimakan Yun kue nya"


Ujar Tante Juna yang sudah duduk diatas sofa ruang tamu.


"Iya tan"


Jawab singkatku dengan melontarkan senyum kepada tante Juna yang bernama Anna.


"Gimana nda,baik semuakan keluarga aku?"


Ucap Juna dengan berbisik kekuping aku.


"Iya baik kok"


Jawab aku dengan nada samar kepada Juna.


"Siap inu kita pamit,terus pulang ya sayang,lagian orang mama aku tidak ada dirumah" Kata Juna lagi sembari mengunyah kue kering nastar.


Karena sudah satu jam lebih aku dan Juna didalam rumah tante Anna,kami berdua akhirnya pamit pulang.Kini aku dan Juna sudah berada dijalanan menaiki motor kepunyaan Juna,Juna mengantarkan aku setelah itu kekasih terjelek aku ini juga pamit pulang.


Suara azan maghrib berkumandang tidak terasa malam akan tiba,aku cepat-cepat mandi karena Juna sebentar lagi akan datang,sedangkan adik angkat aku masih pulang kekampung halamannya.


Setelah selasi mandi aku berbenah diri berhias didepan cermin,cepat-cepat aku menyisir rambut ini karena suara klakson sepeda motor terdengat dari luar dan aku tau kalau itu Juna yang datang.


Motor Juna sudah masuk kedalam rumah kontrakan aku,lalu kami meniki anak tangga satu persatu menuju kamar aku.


"Putar horor indo nda,jangan kartun terus"


Kata Juna yang sudah duduk diatas ranjang.


" Baru saja nyampai sudah mau nonton,ya sudah biar aku cari kaset DVD horor"


Balas aku dengan cepat sibuk mencari beberapa kaset yang aku beli tempo hari.


"Lamanya ,sini aku bantu nda"


Tukas Juna turun dari ranjang dan membantu aku mencari kaset film horor.


"Tidak sabaran"


Gerutu aku sembari sibuk bersama Juna.


Akhirnya kami menonton film sembari pangkuam diatas ranjang,terlihat wajah Juna sedikit tegang dan sepertinya dia penakut,aku diam saja memperhatikan wajah lelaki yang mulai pucat karena film horor.


"Krruuyuk"


Suara perut aku berbunyi membuat malu kepada Juna,Juna langsung melirik aku dengan senyum kecil sedangkan aku membatu duduk dipangkuan Juna.


"Hehehe,laparlah aku boneng"


Kata aku dengan kikuk dan malu.


"Dari tadi bilang kek kalau bunda lapar,lagian ini masih suasana lebaran mau makan apa bunda?" Tukas Juna langsung berdiri dari duduk.


"Iya taunya aku semua pada tutup,aku bawa rendang buatan mama lho,tapi salahnya nasi putih yang tidak ada" Kata aku sambil garuk kepala sedang bingung.


"Kita masak nasi saja nda,aku keluar bentar ya beli beras" Balas Juna sembari meraih kunci motor.


"Hati-hati ya boneng"


Kata aku sembari melambai kepada Juna.

__ADS_1


Juna memang baik sekali walah wajah tidak begitu tampan tetapi Juna mau disuruh-suruh,Juna juga mau mencuci piring jika ada piring kotor,terkadang membersihkan rumah sungguh iya tidak keberatan mengerjakan pekerjaan wanita,aku turut senang.


__ADS_2