Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 24


__ADS_3

Ambulance membawa aku kerumah sakit


perkebunan,sampai UGD aku divisum


Tubuh aku penuh dengan tanda kissmark,sedangkan luka hanya ringan saja dibagian dengkul dan tangan.


isi surat hasil visum


daerah mama merah-merah


visum tentang jalan lahir.


luka lama ///////////


luka baru //////////


Hanya dokter yang bisa membaca hasil visum aku,emosi Indi bercampur duka dan penuh tanda tanya.Diluar UGD Indi terus memikirkan tentang anak gadisnya yang semata Wayang itu.


"Apa salah aku selama ini !, kenapa anak gadis aku seperti ini,dosa apa yang dilakukan leluhur sampai karma menimpa keluarga kami" tangis Indi pecah bercampur malu.


Saat aku terbangun ribuan kata- kata menyelimuti hati,tangan sudah diinfus terbaring diatas berankar rumah sakit.Aku hanya melihat Mama melihat sendu diriku.


"Siapa yang membawa kamu tadi malam, cepat katakan !!?" ujar mama sambil emosi.


"Aku ...aku ....huaaa hiks hikss" kataku yang tidak tau berkata apa lagi.


Suster membawa Mama keluar dari UGD karena terus bertanya kepadaku,aku harus menjawab apa sedangkan aku bingung kenapa berada dirumah sakit.


"Sudah Ibu jangan ribut disini,pasien butuh ketenangan" Ujar Suster berusaha membuat tenang Indi diluar ruangan UGD.


Sementara dikampung gempar dan berita itu


cepat sekali merembes kemana-mana, dari kampung sebelah,kampung atas,semua satu kecamatan juga tau.


Darman tidak tinggal diam,dia melaporkan kejadian itu dipolsek terdekat,Darman harus menanggung rasa malu atas cemo'ohan Warga ketika lewat dari depan rumah Warga.


Aku dibawa suster kedalam ruangan lain,entah kenapa sebagian didalam rumah sakit tersebar berita aku diperkosa,Indi terpaksa bermuka tembok saat pasien lain berbisik-bisik.


Sewaktu Indi duduk didepan ruangan pasien sambil melamun tiba-tiba keluarga Riandi datang melabrak Indi.Wanita paruh baya itu terkejut dengan kedatangan calon besan.


"Kenapa Yunita masuk rumah sakit?,ada apa?, benar yang dibicarakan orang-orang !" ucap Ani dengan wajah sangar.


"Maaf bu,saya masih panik,saya masih syok , besok saja kita bicarakan dirumah ya ibu, jangan disini ban---------" Omongan Indi terputus karena dipotong Ani Ibu Riandi.


"Ahk sudahlah kita batalkan saja perjodohan ini !,keluarga kami tidak mau menerima Yunita, kami tidak mau menanggung aib kalian !, memang anak kalian perempuan Hina!!" Murka Ani dengan emosi yang memuncak didepan Indi.


"Ma...! , jangan bicara teriak disini malu ma ! , Rian enggak mau putus dengan Yunita, sebelum Rian bertemu dengannya,cari tau kejelasan ini mama" Ucap Riandi sambil menerobos masuk kedalam ruangan tempat aku dirawat.


"Riandi !!, riandi !!, jangan temui dia lagi !!,Riandi jangan kau jumpai gadis Kotor itu !!" Kata Ani dengan teriak.


"Hei hei hei,tolong kecilkan suara anda disini, dari tadi aku diam karena masih menghargai kamu sebagai calon besan,tapi kali ini ucapan kamu sudah keterlaluan,pergi...pergi !!" Balas Indi dengan mendorong Ani keluar ruangan teras rumah sakit.


"Aku bukan calon besan kau,ingat kau Indi sampai matipun aku tidak setuju anakku dengan anak kamu yang kotor itu, enggak tau malu keluarga kalian,Riandi cepat keluar nak !!" Teriak Ani merasa tidak terima.


Seketika Satpam dan Suster mengusir Ani dan membawa Ibunda Riandi keluar area rumah sakit,karena mengganggu kenyamanan pasien.


"Ibu Indi jangan ribut disini,ini rumah sakit ibu bukan pasar loak, tolong pasien butuh istirahat" ucap suster sedikit kesal.


"Baik Suster" Indi mendengus kesal dan terduduk sambil menangis sendirian. Sementara ruangan yang sempat ramai dengan orang karena keributan-keributan kini sudah bubar.


Mama Riandi entah kemana perginya, sedangkan Indi berjalan tak tentu arah karena malu dilihati sejumlah orang dan pasien yang melihat keributan tadi.


Sedangkan Darman dikampung mengawasi keadaan Rumah,takut penduduk datang kerumah lalu membakar rumah,penduduk bisa saja tidak senang karena kampung mereka jadi kotor akibat ulahku.kampung yang masih tabu dengah hal perzinahan tersebut.


Sementara didalam ruangan rumah sakit Riandi mendekati aku yang terbaring diatas berankar, perlahan aku buka mata ini,aku menahan air mata saat Riandi menatap aku dengan sendu,wajah sedih Riandi seketika


basah keringat dan airmata Riandi mulai mengalir.


"Siapa yang bikin ini,jujur sayang?" ujar Riandi dengan airmata berlinang.


"Ya Allah baru ini aku dibuat wanita menangis, sumpah Yunita kau membuat aku kecewa,tapi didalam lubuk hati yang paling dalam kau tetap cintaku" Batin Riandi didalam hati.


Aku diam saja dan tidak berani menjawab pertanyaan Riandi,tetapi Riandi dengan sabar menunggu jawaban dariku sembari menangis.


"Tolong jawab sayang,abang akan marah jika kamu diam saja" kata Riandi sambil menatap Aku dengan sendu.Airmata Riandi terus jatuh diarea tangan aku.


"Maafkan aku bang,aku tidak pantas sama kamu lagi,tinggalkan aku,aku bukan gadis baik-baik,aku tidak mencintai kamu lagi" Kataku sambil buang muka.


Sengaja mulut aku ini bicara tidak mencintai Riandi lagi supaya dia membenci aku dan mau melepaskan aku, karena aku tidak pantas dengan Riandi lagi, Riandi terlalu baik bersanding dengan aku yang hina ini.

__ADS_1


"Benar kau tidak cinta dan sayang sama aku lagi?, coba tatap mataku Yunita,aku tau kau bohong" Riandi sambil meraih jemari kanan dan mencium dengan tangis yang iya punya.


"Teganya aku telah mencampakan Riandi yang begitu tulus,Riandi yang begitu bertanggung jawab" batin aku.


"Iya aku tidak mencintai kamu lagi,pergi dari sini,aku jijik melihat kamu,aku benci kau pergi pergi....!" ketus aku mengusir Riandi.


"Ini jawaban kamu,aku tak sangka


kau permain aku, baik...semoga kau bahagia gadis nakal aku,suatu hari ingat namaku di dalam hari tua kamu, ingat aku cinta pertama kamu,aku enggak akan lupa sama kamu dek" ucap Riandi dengan sendu dan melepas genggaman jemarinya membuatku sakit.


"Bahagialah sayang,aku mencintaimu,selamat tinggal gadis nakal aku" Kata Riandi lalu mencium keningku dengan tersedu-sedu.Kini Riandi pergi dari hadapan aku untuk selamanya.


"Aaaa hua.. huaaaaa hiks hiks hikss"


Tangisku yang sedari tadi aku tahan pecah saat Riandi pergi dari ruangan ini.


"Maafkan aku Riandi aku bicara begitu supaya kau pergi,aku tidak mau dengan kamu karena aku malu,kamu memang tak pantas untuk aku, aku yakin kamu akan mendapatkan Wanita yang lebih baik dari pada aku,aku yakin itu....karena kau orang baik Riandi" Gumam aku sambil menangis tersedu-sedu.


------------------------------------------------------------------------


*Seminggu kemudian*


Sejak kepergian Riandi aku tidak mau makan dan minum,aku seperti orang gila merasa bersalah pada mantan tunanganku,kadang melamun terkadang bergumam sendiri, tak ada satu orang yang menjenguk aku disini.


"Besok sudah bisa pulang" ucap Suster saat memeriksa keadaan aku.


Aku hanya angguk kepala kepada suster,aku melamun mengingat rumah sakit ini saat pertama dengan Riandi, dirumah sakit ini cintaku diawali dan dirumah sakit ini juga berakhir dengan Riandi.


Hari esok akhirnya datang,lalu aku pulang dari rumah sakit,aku malu saat berjalan menuju rumah, mata itu...seraya menatap aku tajam


sambil berbisik-bisik. Mata tetangga yang bergosip,mencemo'oh aku, menatap aku dengan jijik seraya aku bangkai dikampung ini.


Lengan aku cepat-cepat ditarik Mama masuk kedalam rumah, dengan emosi Mama mencampakan aku kedalam kamar, diatas kasur tubuh aku terpental.


"Puas kau !, puas kau !,sudah lama aku ingin menjambak rambut kau disini !!!, kau bikin malu kami, kau coreng muka kami dikampung ini !!" murka Mama sembari menarik rambut aku.


"Aw sakit mak jangan jambak aku" aku mencengkram tangan Mama.


"Diam kalian semua !!,nanti sore kau Yunita kerumah nenek,mereka mau bicara" ucap Darman mulai emosi.


Ayah tidak pernah berkata kasar sekarang sudah beda,mungkin karena kejadian ini,Ayah pantas kecewa kepadaku.


adalagi yang harus aku selesaikan,untuk apa kerumah Nenek, apa aku mau dibunuh ?,Aku tau keluarga nenek bagaimana" Batin aku sendiri sambil ketakutan.


Saat maghrib aku dan keluarga pergi kerumah nenek ibu dari Wadinah,mereka keluarga yang amat fanatik dan juga sangar,kami pergi gelap hari takut tetangga bergosip lagi dan melihat kami sekeluarga


" tok tok tok "


Ayah mengetuk pintu rumah nenek,ternyata


nenek sama kakek menunggu beserta Wadinah dan adik-adik Wadinah. nenek itu yang pernah mengurus Mama dan mengasuh mama dari kecil hingga menikah dengan Ayah, karena sejak kecil mama adalah anak piatu nenek bernama Aisiyah.


Suami nenek aisiyah adalah tokoh yang disegani dikampung ini dan belum pernah satupun keluarganya menyebar aib dia bernama Suandi,mendengar aku begini mereka sangat marah dan kesal karena mencoreng nama keluarga mereka juga.


Nenek aisiyah membuka pintu, kami satu keluarga masuk dan berjalan keruang tamu,


ternyata diruang tamu sudah pada ngumpul untuk bertemu dengan keluarga aku.


"Duduk dulu Darman,Indi juga,Yunita kau kemari" nenek menyuruh aku duduk dilantai, aku mati ketakutan.


"Buat malu kalian semua !, aku malu hah di kantor,dimana-mana semua mendengar kisah anak kamu pingsan dikebun karet Darman.!" murka Suandi sangat marah.


"Yunita kau lagi !!, masih kecil sudah gatal bawah kamu !!, sampai bisanya kau dibuang dipohon karet sama laki-laki !!" ketus Aisiyah sambil menunjuk muka aku, aku hanya tertunduk sambil menangis.


"Sabar mak ini sudah terjadi,mau kayak mana lagi kita bunuh ini anak,masalahnya enggak akan selesai !!" Ucap Wadinah.


Aisiyah menatap Indi dan Darman dengan amarah, tidak juga sampai disitu suami Aisiyah Suandi juga menatap dengan penuh kebencian.


"Kau lagi Indi,Darman cemana kau mendidik anak !!, kau lihat sepupu-sepupu kau semua sarjana !!,belum pernah mereka mengulah dan membuat aib,Ahk aku enggak habis pikir cara kalian mendidik Yunita" Ceramah Aisiyah membuat Darman dan Indi menundukan kepala tidak tau ingin bicara apa lagi.


"Sekarang begini,kau sudah laporkan Darman soal kasus Yunita kepolisi ?" ucap Suandi pengganti ayah Indi.


"Su-sudah pak" jawab Darman sedikit canggung.


"Nah kau sekarang Yunita, jawab kami semua disini dengan jujur !,siapa pria yang membawa kamu malam itu ??!" tanya Suandi kakek Yunita.


Aku diam dan takut,tubuh aku gemetar dan aku tidak berani menjawab hanya suara tangisanku sembari menundukan kepala saja.


"Cepat jawaaabb !!!" Teriak Darman mulai emosi.

__ADS_1


Aku masih diam saja,mereka semakin murka saat ditanya aku diam terus, mulut aku terkunci karena aku ketakutan.


Langsung Darman dengan langkah marah menuju kedapur dan mengambil jeregen yang berisi minyak lampu,Darman kembali keruang tamu dan ingin menuangkan minyak lampu keatas rambut aku,aku menjadi ketakutan duduk dilantai ini.


"Cepat jawaaab !!!! siapaaaa !!!" Bentak Darman yang mulai terpancing emosi dan gelap mata.


Berkeras hati aku bungkam terus, aku pasrah mau dibunuh hari ini aku sudah pasrah.


"Siapa hah !" ayah menunjang punggung aku dengan kaki besarnya dan baru kali ini Ayah memukul aku.


"Ampun Ayah....sakit" aku tersujud karena tunjangan kaki itu, lalu aku bangkit duduk kembali.


"Nah baru bersuara,coba jawab siapa !" Tanya Darman sekali lagi yang masih megang minyak lampu didalam jeregen kecil ukuran lima liter.


"Kurang ajar ini anak masih diam saja !!" ketus Darman ayah Yunita, karena aku diam saja membuat ayah semakin emosi menjadi-jadi. Tubuh aku habis dipukul ayah.


Sementara keluarga Aisyah beserta Indi diam saja hanya menonton Darman yang menghajar anaknya.


"Burr byurrr byurrr "


Minyak lampu disiram Darman dari atas rambut Yunita,Yunita basah bermandikan minyak lampu.Yunita terjongkok sambil menangis tersedu-sedu.


"Kalau kau enggak mau jawab,aku akan membakar kau biar kau mati saja,bikin malu" Ujar Darman yang gelap mata karena dipenuhi Emosi liar.Darman menyalakan pemantik yang iya ambil dari dalam saku kanannya.


"Sudah sudah abang...kau mau matikan anak kamu disini ?,ini sudah kekerasan anak, tolong bukan begini caranya" Ucap Wadinah yang ternyata sedari tadi ingin membela aku tapi dicegah adik-adik Wadinah.


Wadinah menarik lengan aku supaya berdiri, dengan kaki lemas dan gemetar aku berusaha berdiri,aku tetap saja menangis sengugukan.Sementara Darman jadi terdiam mematung.


"Bukan begini caranya menanyakan anak,


sudah Yunita sekarang jujur siapa pria itu,Ibu tidak mau kamu dipukul lagi" ujar ibu Wadinah dengan lembut dan merangkul aku dari samping.


" wi-wi....wij- wijaya Ibu Hikss" ujar aku terbata- bata karena menangis tersedu,dada aku juga sesak sekali.


"Anak siapa itu ?" ujar Aisiyah sambil berfikir keras.


" aku kenal itu anak siapa, semoga polisi menangkap dia ..!" Indi buka suara yang sedari tadi menangis bersembunyi.


"Ka-kalian....a-a aku b-aru pulang dari rumah sakit ,ka-kalian sugesti aku, aku juga tidak mau begini,bu-bukan ma-mau aku,ma- maafkan aku" aku beranikan diri berbicara walau terbata-bata.


Aku jadi berlari meninggalkan mereka semua dari pintu belakang,aku sambil menangis dan terpincang-pincang akibat tunjangan kaki ayah tadi berjalan menuju rumah.


"Yunita ..... mau kemana kau !!" teriak Indi hendak mengejar aku.


"Sudahlah Mbak biarkan dia tenang,dia nanti bisa terauma mendalam lho,kejiwaannya bisa enggak stabil,hati-hati Mbak,menurut aku itu bukan mutlak kesalahan Yunita,dia masih labil,itu salah kalian" ujar Wadinah dengan kesal.


"Kenapa salah mbak?" kata Indi berkerut alis.


"Mungkin mbak terlalu keras dengan dia jadi dia begitu, tapi sudahlah maaf kalau Wadinah lancang pada mbak" Wadinah masuk kedalam kamar.


Aku sudah sampai kedalam rumah, lalu masuk kedalam kamar tiada henti aku menangis tersedu-sedu


"Ya Allah sebenarnya hari itu siapa yang menolong Aku?, kenapa aku pingsan ?, siapa yang membuka baju aku?, siapa ?, apakah Wijaya?, karena aku menolak untuk tidur dengannya,apa karena itu?, sial malangnya nasib aku,ini memang kebodohan aku dan kesialan aku" batin aku berkecamuk sekali.


Selain menahan sakit akibat dipukul Ayah badan aku masih berbau minyak lampu, aku tidak sangka baru kali ini ayah seperti kesetanan memukul aku, mungkin memang ini semua salahku,aku tidak dendam pada Ayah.Aku sayang keluargaku,aku memang pantas dipukul.


Indi dan Darman masuk kedalam rumah mereka ternyata dari kantor polisi, Anton adikku ketakutan dan mengadu pada kedua orang tua aku.


"Mbak menangis terus dikamar kasihan mak" Ucap adik aku dengan rasa iba.


"Mak...mak kenapa Mbak menangis terus dan kenapa orang-orang disebelah bilang mbak diperkosa dibuang kelimbah,Anton juga diejek kawan kata mereka Mbak diperko----" pertanyaan Anton dan ucapannya terputus saat jemari Indi menutup mulut Anton.


"Sssst Anton bobok saja,Mbak kamu enggak apa-apa dia hanya sakit, anton tau mbak baru pulang dari rumah sakit,jangan dengar apa kata orang ya nak" kata Indi sambil gendong Anton.


Indi menidurkan Anton didalam kamar, sementara Yunita terdiam sambil berbaring kearah tembok.


"Diam kau disitu jangan sampai aku dengar kau menangis lagi,apa kau tidak mendengar Anton bicara apa" Ujar Mama dengan nada samar.


Aku hanya diam sambil menangis pelan, hanya itu yang aku bisa saat ini,aku pantas dimaki,dihina,dipukul bahkan dibunuh aku juga pasrah memang ini salah aku.


-------------------------------------------------------------


jangan lupa like nya


salam autor cantik


muachh


horas horas ...

__ADS_1


__ADS_2