Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 37


__ADS_3

Seminggu kepergian Raja aku tetap bersekolah walau tidak fokus,mau tidak mau aku harus sekolah karena aku harus tau diri siapa yang bayar uang sekolah aku, kasihan Ayah dan mama.


Pada jam istirahat sekolah aku dan para sahabat ngumpul ditempat biasa.


"Yun makan yun,wajahmu pucat Yun,dari kemarin aku datang kerumah kamu hanya begini terus,melamun,enggak makan" Indar duduk disebelah aku dengan wajah sedih.


Puput datang ketempat kami ngumpul dikedai bolek lontong,dia heran melihat aku seperti kehilangan arah.


"Yun kok jadi gini?,ikhlaskan kepergian abanv Yun,aku adiknya udah ikhlas,biar abang disana tenang " Ujar Puput merasa prihatin melihat wajah aku yang bermata panda.


"Lihatlah put,udah kayak orang gila jadi cewek kok rapuh kali makan enggak mau kerjanya hanya melamun aja,bingung aku" Indar geleng kepala melihat aku yang diam saja.


"Aku kasih sesuatu sama kau,tapi kau janji jangan sedih " Puput duduk disebelah Indar.


"Apa itu put ?" jawab aku penasaran,sebenarnya aku malas bicara,tetapi karena penasara.


Aku bicara melihat mata Puput yang cokelat,oh pedih sekali,sesak dada ini karena mata itu sama seperti almarhum Raja,ternyata Puput memberikan aku peninggalan Raja secarik kertas yang iya tulis,walau sebenarnya surat itu hanya coret-coretan Raja saja.Tak lupa juga Puput memberikan satu poto almarhum,membuat aku menjadi sedih.


"Hiks... huaa hiks hiks "


Melihat poto almarhum Raja aku tidak dapat membendung air mata ini,aku memeluk nya tidak perduli Merry,Puput dan Indar berada disamping aku.


"Ya Allah Yun jangan lemah begini,ikhlas kalau kau begini terus aku malas berteman sama kamu" Indar sedikit kesal.


Aku diam saja saat Indar kesal pada aku,aku mengerti kenapa Indar bicara begitu mungkin supaya aku bisa mengikhlaskan Almarhum Raja.


"Sudah Yun kalau kau engfak enak badan,Izin sama ibu guru pulanglah kerumah " ucap Puput dengan menepuk bahu aku.


Memang kondisi aku saat ini seperti mati tapi hidup,sudah berapa hari aku kurang tidur karena setiap malam tidak bisa tidur,akhirnya aku diberi izin sama Ibu guru untuk pulang,lalu aku berjalan sendiri menuju rumah.


Sesampai dirumah aku langsung masuk kedalam kamar,dengan gemetar aku lihat foto Raja yang tersenyum diatas motor.


"Ah...Raja" Aku hanya menggeleng kepala saat memeluk erat poto tersebut,hanya menangis saat ini yang bisa aku kerjakan.


"Kenapalah kau cepat pergi sayang" Aku pandang lagi poto kekasih yang paling aku cintai,dengan gemetar aku elus secarik kertas bergambar itu dengan hati yang penuh sembilu,tetasan air cristal jatuh dipoto yang gemetar aku pegang.


Setelah puas aku menumpahkan kerinduan melihat Wajah Almarhum,aku coba membuka sebuah kertas yang dikasih puput tadi,ternyata coretan kertas itu sebuah perasaan Raja yang iya ungkapkan dua minggu lalu didalam kamar indekosnya.


*Bulan Februari*


"aku melihat dia disungai itu cantik sekali,suaranya merdu,matanya juga bening indah sekali,aku tau dia melihat aku tetapi aku pura- pura tidak tau,kami jadian aku bahagia sekali sampai saat ini,seandainya suatu hari tuhan mencabut nyawa aku,aku rela dilahirkan kembali asalkan berpasangan dengan dia Yunita Ananta"


"Huhuhuhu"


Aku semakin menangis tersedu-sedu membaca secarik kertas tersebut,aku sandarkan kepala ini dibawah tempat tidur karena sudah lelah menangis dari kemarin.


"Tok tok tok "


Pintu kamar aku diketuk orang,sebenarnya aku tidak ingin diganggu, tapi karena berulang kali diketuk aku jadi penasaran siapa yang datang,aku usap air mata ini lalu aku berdiri membuka knop pintu kamar.


"Kejutan !! "


Ternyata Indar,Wati ,Mery,Puput datang main kerumah,aku terkejut sekali lalu mereka masuk kedalam kamar.


"Sabar Ya Yun,ayo jalan-jalan, jangan pakek nolak kami mohon sama kamu" Wati tersenyum dengan aku.


"Aku juga disini Yun,aku mau inap dikamar kamu malam ini,aku sudah izin sama mama,lihat aja aku mana tau kau tenang Heheh" Puput melirik poto Raja yang terletak dibawah ranjang.


"Tuhan enggak adil saat aku merasakan hidup aku sempurna tapi diambil lagi" aku geleng kepala dan tertunduk.


"Hus enggak boleh gitu Yun, istighfar doakan saja Raja biar tenang,oh iya besok hari jumat bagai mana kalau kita ziarah ?" Ide Indar terlintas muncul.


"Aku mau ikut juga " ucap Merry yang duduk disebelah Wati.


Kami memutuskan hari esok akan ziarah kemakam Almarhum Raja,aku setuju sekali dan aku juga senang Puput mau inap dirumah aku.


"Ayok woi jalan jalan " ucap Wati dengan bersemangat.


"Aku lagi malas" Sambung aku yang terus murung.


"Enggak kau harus ikut" paksa Indar sembari menarik lenganku supaya aku berdiri dari duduk.


Mereka membujuk aku lama sekali supaya aku mau diajak jalan-jalan,mereka sangat sibuk Indar dan Wati menggiling cabai, sementara Merry dan Puput sibuk memotong buah,aku hanya diam menonton mereka yang mengoceh terus.


Bumbu rujak dan buah nya sudah selesai mereka buat,dan kami semua bergegas keluar rumah untuk jalan-jalan sore.


"Mau kemana kita woi?" Tanya Wati uang lagi bawa motor.


"Hei kalau bisa ketempat yang baru woi biar dia move on,kalau kita bawa kestadion apa lagi sungai nanti dia tambah sedih aku enggak mau" Bisik Indar pada Wati, Indar sudah diatas motor bersama Wati.


"Kalau gitu kita kekebun sawit aja,sambil makan rujak" Ide Indar melintas.


Puput,Merry bersama aku diatas motor kepunyaan Merry,Wati yang menuntun jalan berjalan terus melaju dikebun sawit yang terletak dekat dari kampung aku.


"Cplasss plass paaak paaaak"


Tangan Merry sibuk memukul nyamuk yang hinggap dikulitnya.


"Setan banyak nyamuk disini woi" Kata Merry sembari menggaruk lengannya.


"Sabarlah biar aku bakar dulu kulit kelapa ini" Wati sibuk mencari kayu dan dari saku Wati terdapat pemantik buat bakar-bakar.


Merry terus mengunyah sembari tepuk-tepuk nyamuk saat duduk dialas tikar bersama kami,Merry ambil lagi sepotong nanas tetapi tidak jadi karena jemari Merry ditepis Indar.


"Kau udah berapa potong taik,kami pun belum dapat,apa kau aja yang mau makan" ucap Indar yang mulai cerewet.


"pelit betul kau bah,Yunita biasa kau bela aku" Merry merengek.


Aku hanya diam sambil melihat tingkah laku teman-teman aku ini,biasanya kalau Merry atau semua bertingkah aneh aku sambung dengan tertawa,kini rasa senang itu tidak ada dihati aku saat ini.


"Yun di makanlah,capek lho aku giling bumbunya " Kata Indar sembari makan Rujak.


Karena tidak mau buat kecewa Indar dan teman lainnya,aku menghargai memakan apa yang mereka bawa,padahal aku suka sekali dengan rujak.


"Put sini duduk sama aku " ucap aku saat Puput duduk disebelah Merry.


"Ya aku disitu".Puput pindah duduk disebelah dengan aku,entah kenapa aku tenang kalau melihat Puput mungkin sedarah dengan Raja jadi aku bertingkah aneh.


"Bentar lagikan jadi lesbian kalian !" ucap Wati sembari senyum.


"Haahaha ******"


Indar tertawa renyah sembari geleng kepala,Puput dan Merry jadi ikutan tertawa.


"Ouuuwoo banyaknya nyamok " Sepertinya Merry tidak tahan digigit nyamuk.


"Orang ngomong lain,Mery rakus malah jawab lain" Sambung Wati sambil geleng kepala.


"Yun udah sedikit mendingan ?" Puput memegang bahu aku,karena dari tadi aku hanya diam saja.


"Iya mendingan,Ya sudah ayo kita pulang" Ujar aku yang mulai bosan.


"Enggak !, jangan pulang dulu,rujak aja belum habis " Jawab Wati dengan tersenyum.

__ADS_1


"Mungkin dia enggak enak disini, gimana kalau kita pindah tempat woi?" balas Puput menaikan alis.


"Kemana lagi?,nanti tempat lain dia tambah sedih,dimana-mana kenangan dia" jawab Indar menarik nafas panjang.


"Hem betul katamu" sahut Merry kernyit dahi.


"Antarkan saja aku kekuburan,aku ingin melihat dia" Sambung aku dengan menundukan kepala.


"Kan !,****** kau yun besok kita ziarah kesana lho,Lama-lama bisa gila kau Yun,kami semua jadi gila" Wati sembari garuk kepala sedikit kesal.


Mereka semua memaksa aku mengikuti apa yang mereka mau,aku tidak berdaya diam saja,malah mereka menuju stadion,sesampai distadion kami berlima duduk santai digurun rumput,mata Wati jeli melihat laki-laki yang melintas sedikit jauh dari tempat duduk kami.


"woiii midan !! " teriak Wati dengam berdiri sembari lengan Wati melambai kearah pria hitam manis tersebut.


"Waduhh ,kok kau panggil dia hedew mulut cowok itu bau" balas Indar.


"Biar aja mana tau cair" Sambung Wati cengengesan,aku acuh saja karena malas melihat pria lain.


"Huh...dasar" Indar mencibir Wati karena tau watak Wati tukang meras cowok.


Karena Midan mendengar seruan Wati,lelaki itu datang dan menyapa Wati dengan ramah,Puput dan Merry diam saja karena belum kenal.


"Dari mana kau bang?" Tanya Wati saat berdiri disamping motor Midan.


"Jalan-jalan say,eh ada Yunita,kayak nya Yunita kusam benar hari ini" Midan memperhatikan aku,aku malas menjawab ocehan Midan.


"Lapar dia bang,kami belum pada makan?" Pancingan Wati menuju sasaran.


"Kalau gitu kita beli makan,ayo Wat" Midan memutarkan kunci kontak seketika mesin motor hidup.


"Bentar ya woi" Wati naik keatas motor,Midan klakson dengan arti pamit sebentar dari kami,


Wati dan Midan sudah pergi untuk membeli makanan.


"Licik betul Wati itu,mau dekat sama cowok nafas bau gitu" Indar berdecis mengejek pada Midan.


"Asyik kita makan enak,biar aja Ndar lumayan lho makan gratis" sambung Merry mulut nya mulai mengecap dan menelan ludah mungkin mulai lapar.


"Merry makan saja didalam otak kamu itu " ujar Puput geleng kepala.


Asyik ngobrol kami melihat Hamdani datang dengan Yudi,kali ini Yudi ikut karena tau Puput inap dikampung kami malam ini.


"Sayang sudah lama ?" Hamdani turun dari atas motor dibarengi Yudi juga.


"Lumayan disini sayang,kamu bawa apa itu? " Indar melihat Hamdani membawa kantungan dilengan kanan Hamdani.


"Ini titipan mama Puput sayang" Hamdani tersenyum.


"Ow" Mulut Indar tampak bulat karena sudah tau isi kantungan tersebut.


"Ini dek"


Hamdani menyerahkan kantungan tersebut pada Puput,lalu Puput tersenyum dan menerima lauk pauk yang dikirim oleh mama Puput.


"Terima kasih bang" Puput melihat isi kantungan tersebut lalu Puput duduk disebelah Yunita.


Wati dan Midan sudah datang dengan membawa bakso enam bungkus,lalu Midan mematikan mesin motornya.


"Syukur aku pulang bentar tadi,jadi kita dapat mangkok dan sendok" Kata Wati sibuk menuang kuah diatas mangkuk kecil.


"Dengaren otak kau encer ?!" Indar juga sibuk menuang bakso kedalam mangkuk.


Seperti biasa Merry yang tidak sabar dengan rakus makan bakso duluan,Merry buru-buru makan sampai bakso terjatuh keatas rumput,karena tidak mau kekurangan jumlah bakso merry malah memungut bakso tersebut,buat Indar kesal.


"Belum lima menit jatuhnya berarti masih higienis,terus kau merepet,sini sama aku bakso kau" Kata Merry sambil merampas bakso dimangkuk kepunyaan Indar.


"Kampret"


Indar toyong kepala Merry karena kesal,Merry cuek saja, sedangkan Puput dan Wati Fokus makan,para cowok juga ikut makan.


"Eh Yunita senyum,begitulah baru kami senang" ujar wati yang ternyata memperhatikan aku.


Aku senyum karena lucu lihat ulah Merry dan Indar mereka kelihatan akrab,aku sangat beruntung punya teman seperti mereka.


Karena hari mulai gelap aku dan Puput diantar Merry sampai kerumah,mereka pamit dan pergi dari hadapan aku dan Puput,lalu aku dan Puput berjalan masuk kedalam kamar barengan.


"Put seandainya dia disini,apa pesan terakhir kamu ?" Tanya aku saat berbaring diatas kasur.


"Hufft"


Puput menarik nafas panjang dan menatap dalam Aku,lalu Puput memalingkan wajah melihat langit-langit atap didalam kamar ini,gadis ini juga berbaring disebelah aku


"Sudahlah Yun,aku mohon sama kamu jangan bersedih terus,abang pasti dialam sana sedih kalau kamu larut dalam kesedihan" Puput berbicara sembari kernyit dahi.


"Ya..iya maaf Put,aku semacam mimpi dengan ini semua,sepertinya dia ada dikota sedang kerja" jawab aku sembari membendung air mata.


"Kita hanya berdoa supaya abang khusnul khotimah Yun" Puput terduduk setelah berbaring.


"Amin"


Hanya kata itu yang aku jawab dari pembicaraan Puput,setelah itu kami Hendak mandi bergantian,selesai mandi kami santai dahulu didalam kamar.


"Ayo kita makan"


Puput sembari bercermin sisi rambut dan memakai bedak.


"Aku tidak selera Put"


Jawab aku sembari duduk diatas ranjang dengan tertunduk.


"Enggak ada cerita,awas kalau enggak dimakan" Puput langsung pergi kedapur ambil makanan untuk aku,aku tidak bisa menjawab hanya diam saja dan duduk didalam kamar.


Saat Puput didapur, Indi sibuk menyiapkan makanan untuk keluarga,Puput mengambil dua piring lalu mengambil nasi dan lauk pauk.


"Kayak mana dia Put?"


Kata Indi yang ternyata cemas memikirkan Yunita yang stres berat.


"Masih sama bu,masih melamun,masih nangis sendiri,kayaknya butuh hiburan" Puput bicara samar didapur.


"Hem jangan biarkan dia sendirian,ibu minta tolong suport dia nak,ibu juga sedih dengan meninggalnya abang kamu,semoga almarhum khusnul khotimah ya" Indi bicara sedikit membendung air mata.


"Amin bu,kalau begitu Puput antar makanan Yunita dulu ya,siapa tau dia mau makan" Kata Puput sembari membawa dua piring nasi.


"Iya nak"


Indi tersenyum lega karena Yunita mau makan.


Puput berjalan masuk kedalam kamar,dan memaksa Yunita untuk makan.


"Nih makan Yun walau sesuap perut kamu harus isi,jangan sampai sakit" Puput meletakan makanan itu diatas tiolet cermin.


"Makasih Put"

__ADS_1


Aku mengambil piring berisikan makanan,mau tidak mau menghargai Puput,takut juga kalau dia kecewa.


Selesai makan walau tidak habis kelihatannya Puput senang,aku meletakkan makanan sisa dimeja hias lagi.


"Yu siap ini keluar yok cari udara "


Kata Puput sembari sisi rambut lagi.


"Terserah kamu"


Aku mulai tersenyum kecil melihat Puput bersemangat.


"Tok tok tok"


Pintu kamar aku diketuk,dengan cepat Puput membuka pintu kamar tersebut ternyata Indi mama Yunita yang mengetuk pintu.


"Yun itu ada yang datang !"


Indi berdiri didepan pintu dengan tersenyum.


" siapa ma?"


Aku kernyit dahi sembari berfikir siapa yang mencari aku malam-malam begini,kalau Wati dan Indar pasti sudah masuk saja kedalam kamar.


"Kedepan saja lihat sendiri"


Mama pergi berjalan kedapur dengan tersenyum,membuat aku penasaran.


Aku dan Puput keluar kamar melihat siapa yang datang,aku melihat Dodo duduk disofa dengan santai,padahal aku tidak ingun diganggu laki-laki kenapa Dodo muncul buat aku kesal.


"Apa kabar dek ?" ucap Dodo tersenyum melihat aku yang berdiri disamping sofa.


"Baik "


Hanya kata itu yang terlontar dari bibir ini,Puput diam saja karena tidak kenal,lalu


aku mengajak Puput dan Dodo duduk diteras depan rumah.


"Kayaknya lagi ada masalah ya dek,kok abang lihat beda ?" ucap Dodo sedikit jauh dengan aku duduk dikursi teras.


"Enggk,dia dan aku masih berduka" jawab Puput karena aku ditanya malah bengong.


"ahk maksudnya?, oh iya kita belum kenalan" Ujar Dodo sambil mengulurkan tangan.


"Puput"


Dodo kenalan dengan puput mereka berjabat tangan,Puput menceritakan tragedi kecelakaan Raja,aku jadi makin teringat waktu malam itu,malam minggu yang tragis.


"Seandainya malam itu Raja ikut kata-kataku


pasti sekarang dia duduk disini bersama aku,


ya Allah semoga Raja diterima disisi engkau dan mencium surgamu" Batin aku saat membendung air mata karena segan dengan Dodo.


Karena aku enggan bicara banyak, tidak berapa lama Dodo pamit pulang kepada aku dan Puput,tidak enak juga dengan Dodi tapi mau gimana lagi hati tidak bisa berpaling mencintai pria lain lagi.


Malam semakin larut hanya suara jangkrik yang bernyanyi diluar sana,aku bangkit dari tidur entah dari jam berapa aku bisa tidur,padahal malam sebelumnya aku susah tidur mungkin karena ada Puput disampung aku.


Aku lihat jam dinding sudah pukul satu,aku pejamkan mata ini sembari duduk diranjang Oh teringat lagi diranjang ini aku pernah bercinta dengan Raja.


"Sampai kapan aku terbelenggu cinta yang dibawa mati oleh Raja,aku putus asa Tuhan" Batin aku menjerit saat melihat poto Raja yang terletak diatas meja belajar.


Karena aku stres terus memikirkan kesedihan ini aku coba ambil air Wudhu,setelah itu aku jadi sholat tahajjud,sampai rekaat terakhir aku memejamkan mata membayangkan wajah kekasihku yang sudah disurga.


"Ya Allah tempatkan didalam surgamu,aku ingin sekali mengikhlaskan kepergian dia,tapi kenapa enggak bisa?,tenangkan jiwa aku ya Allah,ampuni juga kedua dosa orang tua hamba,jauhkan hamba dari rasa gelisah ini" Aku terus berdoa sampai Puput terbangun dari tidurnya.


Aku mengusap air mata ini sembari melepas ikatan kepala mukena ini,Puput pura-pura tidur hanya melihat aku yang mulai tenang,lalu ku coba berbaring diatas kasur dan mulai memejamkan mata dengan paksa.


-------------------------------------------------------


*Esok harinya*


Hari ini jumat berkah aku dan Puput duduk didepan teras,kami menunggu teman-teman lain untuk ziarah ,tetapi sudah pukul dua belas siang Indar dan Wati serta Merry belum datang juga.Saat Puput hendak dapur teman-teman yang lain muncul dengan naik Motor tiba dihalaman rumah.


"Ahk lama kali kalian kami udah karatan menunggu" Kata Puput sambil tolak pinggang didepan pintu rumah.


"Eh motor dipakai bapak aku,terpaksa aku menunggu bapak" Jawab Indar turun dari atas motor bersama Wati.


"Ya sudah mari kita berangkat" Wati tersenyum manis dan naik lagi keatas motor.


Merry bersama Puput dan aku diatas motor,ssdangkan Wati dan Indar berdua diatas motor juga,kami meluncur kekampung Puput dan pergi tempat pemakaman umum.


Sesampai dimakam Raja aku langsung turun dari atas motor,aku berlari menuju makam Raja,aku peluk papan nama yang masih basah,Teman-teman semua berjalan menuju makam Raja.


"Sayang aku datang, Hikss..." Tangis aku pecah memeluk papan nama itu.


"Sudah Yun ayo baca yasin" Indar meletakan bunga segar diatas tanah yang masih basah.


Setelah semua berdoa dan menabur bunga,mereka mengajak aku pulang tetapi aku tidak mau,aku ingin menemani Raja pasti dia kesepian.


"Aku disini aja woi,biarkan aku sendiri pasti dia kesepian !" Kata aku yang gemetar elus papan nama milik almarhum Raja.


"Kan...ckckc"


Indar berdecis dan geleng kepala,lalu indar berdiri dari duduknya.


"Lama-lama kau bisa sakit jiwa Yun,eh masih ada kami lho yang perduli padamu !, kau mau kami juga pergi ? kami pusing berfikir" Wati juga kesal karena ulah Yunita yang tidak mau ikhlas kepergian Raja.


"Maaf kalian belum tau rasanya gimana ditinggal orang yang paling kalian cintai, kaluan tidak mengerti !!" Aku berjalan naik keatas motor dengan kesal.


Mereka semua terdiam dengan ucapan aku, tapi mereka tidak marah dan bawa kehati,Puput dan Wati naik keatas motor dibarengin dengan Indar.


"Singgah dulu yok kerumah aku,aku mau ambil baju sekolah biar sekolah dari rumah Yunita" ucap Puput melihat aku dan tersenyum.


"Entar ada waktu adik pasti kesini lagi bang,aku tidak akan melupakan kamu sayang" Batin aku didalam hati.


kami semua kerumah Puput,diperjalanan aku diam tanpa kata Indar melirik kearah aku dengan tersenyum,aku tersenyum kecil takut juga kehilangan mereka para sahabat aku.


Sesampai dirumah Puput aku melihat bapak Puput duduk disofa ruang tamu rumah,aku takut sekali saat pria tua itu melirik dengan aku,kini tidak ada Raja mudah-mudahan dia tidak lagi melecehkan aku.


Pria tua memang mirip sekali dengan Raja,mungkin kalau Raja tua akan mirip seperti dia,hanya perbedaan sifat saja,sifat Raja seperti ibunya.


---------------------------------------------------------------


Arti percakapan sumatera.


Tengok : lihat atau melihat


Cak. : coba.


kereta : sepeda motor.


selop. : sendal.

__ADS_1


kayak. : sepertinya.


__ADS_2