Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 30


__ADS_3

beberapa bulan kemudian tidak terasa sebentar lagi kami ujian kenaikan kelas,entah kenapa Rafa dan Indar putus,aku bertanya padam mereka jawaban karena tidak cocok lagi,aku malas membahas lagi takut mencampuri urusan Indar dan Rafa.


Sewaktu kami didalam kelas pada saat jam istirahat,kami ngobrol sekelak bersama teman-teman.


"Yun aku dapat gebetan baru dikampung Puput !" ucap Indar dengan wajah seru.


"Ahk enak kau ya putus dari Rafa dapat lagi yang baru !,aku saja belum bisa move on!" ucap aku dengan kernyit dahi.


"Hahahaha ceritanya kau sama Dodo cemana?, putus apa gimana?" Balas Indar terbahak.


"Sejak kejadian malam itu,dia enggak pernah datang lagi,aku jadi merasa bersalah Ndar, cincin yang dia kasih masih aku simpan!" jawab aku sambil berfikir.


"Hem...ayo kita pulang sekolah kerumah Puput,aku mau bertemu Hamdani " ucap Indar dengan girang.


"Ayo,aku juga mau kebetulan lagi stres" Jawab aku sembari semangat.


Sepulang sekolah kami mengikuti Puput,Puput sekampung dengan pacar baru Indar jadi kami berniat main kekampung Puput.


Aku meminta izin pada mama dan juga mama Indar,kami diberi izin,Sesampai dirumah Puput kami duduk diruang tamu,Puput juga mulai ikut berhias dicermin,Mery tidak mau ikut ada urusannya yang lain.


"Put,bilang sama Hamdani,aku sudah di sini" ucap Indar yang sudah pakai lip Tint.


"Ok aku keluar bentar ya, biar aku panggil " balas Puput dengan senyum.


Kami tidak begitu dekat dengan Puput,jadi belum paham benar watak aslinya,tetapi biar begitu kami tau kalau puput anak baik.


"Oikkk sini kalian,ini sudah datang dia " ucap Puput yang berada diluar pintu rumah.


"Hamdani !" ucap Indar sambil semangat lalu keluar dari pintu rumah.


"Ayo kita kesungai bawah !" balas hamdani lamgsung menggaet jemari Indar.


Hamdani pacar baru Indar cowok manis dan imut,kulit sawo matang berambut gondrong sedikit,kelihatannya sih cowok baik.Kami bertiga jalan menuju sungai belakang rumah Puput.


"Woi aku jadi obat lah disni kampret " ucap aku sembari berjalan beriringan.


"Hahahaah sabar Yun,sayang biasanya teman kamu ikut, kok cuma sayang saja yang datang" Ucap Indar dengan manja sedikit.


"Lagi kerja sayang, entar lagi aku panggil" Balas Hamdani sembari tersenyum.


"Sudah dengar Yun,biar enggak jadi obat nyamuk kau disini ...!" balas Indar supaya aku tidak kesal.


"Iya...pasrah saja deh mau kalian, jangan lupa makan sama minum gratis !" ucap aku mulai ketularan dengan sikap Wati kalau ngumpul.


"Hahahaahah,aman itu ces,nih rokok ada kalau kau lagi stres,tapi jangan kasih tau Hamdani aku kadang merokok,kalau kau nanti merokok sewaktu kawan Hamdani datang cepat dibuang,nanti jadi jelek pikiran mreka"


ucap Indar berbisik pada aku.


Selang waktu tidak berapa lama teman-teman Hamdani datang menghampiri kesungai tersebut.


"Woi woi bro !!" kawan Hamdani memanggil kami dari sebrang sungai ini, sementara aku duduk dengan puput bercerita.


"Sayang itu kawan kamu,suruh kemari !" ucap Indar yang duduk mesra dengan Hamdani.


"Sini bro,kita manggang-mangang saja sambil mancing!" tangan Hamdani melambai sembari berdiri dari sebrang sungai.


Kedua pria tersebut menghampiri kami,aku dengan Puput berdiri dari duduk.


"Eh bro kenal kan ini kawan cewek aku satu sekolah !" ucap Hamdani dan tersenyum.


"Rahman "


"Yudi "


Mereka berdua kenalan dengan aku, walau aku tau mata Rahman saat memandang aku,pasti ujung-ujungnya nanti cerita terus nembak,laki laki aku mulai paham kalian semua.


"Cepat lah sayang,sudah laper aku " ucap Indar yang melihat ikan diatas bara.


"Sabar sayang ini spesial buat kamu" sambung Hambali sambil mengkipas- kipas ikan Nila dengan bumbu yang sedap.


"Bro enggak beli tuak (arak batak)?, enak nih sore-sore gini sambil minum" ucap Yudi yang sibuk memasang mata kail.


"Pergi beli sana " Sahut Hamdani sambil mengeluarkan uang didalam saku.


"Dek kawani abang yok" ucap Yudi mengajak Puput yang duduk dengan aku.


"Ih enggak mau aku kewarung itu,nanti dilihat abang aku cemana?" balas Puput geleng kepala.


"Ahk enggak sampainya adek masuk kedalam,orang ini mau berduaan,kan sudah dua pasang disini " ucap Yudi melirik Rahman mendekati aku.


"Oh iya baru aku ngerti Yud" sambung Puput angguk kepala dan tersenyum pada aku buat aku jadi keki.


"Nah baru kau peka,Hhaha" Yudi jadi tersenyum renyah.


Yudi dan puput pergi meninggalkan kami berempat,Puput gadis periang,bermata cokelat sipit sedikit, berkulit putih kekuningan,wajah oval manis Dilihat.


Tidak berapa lama orang Ndar dan Hamdani izin pamit untuk kencan menjahui kami,aku jadi tidak nyaman karena akan berduaan dengan Rahman.


"Oik kami sana dulu ya Yun hehehe" ucap Indar cengngesan sembari menggenggam jemari Hamdani.


" Enakin aja ces,biar enggak habis ikan panggang ini" sambung aku mengerti dengan mereka.


"Huh licik kau Yun" balas Ndar dengan manyun.


Indar dan cowoknya pergi meninggalkan kami disungai ini,aku jadi berdua sama Rahman kartolo ini,matanya macam elang melirik aku terus semacam aku ini rendang daging.


"Makan ini Yun sudah matang ikannya " ucap Rahman sembari menaruh ikan panggang diatas piring.


"Iya ini mau aku makan semua sama alat panggangan ini Hehehhe" jawab aku cengengesan.


"Oh ia Yun kamu sudah ada pacar?" balas Rahman melirik ke aku.

__ADS_1


"Mulai deh sudah aku tebak semua cowok pasti begini nih,kalau aku jawab tidak punya pasti tidak lama pria ini nembak aku" Batin aku jadi kesal.


Aku berdecis kecil dan geleng kepala, sedangkan Rahman menunggu jawaban dari aku.


"Ahk entahlah soal pacar aku enggak jelas bang, semua udah lari pening aku " jawab aku sembari icipi ikan panggang tersebut.


"Ow berarti lagi single ya !?" jawab Rahman jadi girang.


Rahman sangat girang saat tau kalau aku single,sementara aku hanya tersenyum kecil sambil makan ikan duduk diatas batu.


"Emang kalau single abang mau apa?" jawab aku berterus terang karena risih Rahman terus melirik saja.


"Mau enggak jadi pacar abang,pertama lihat kamu aku sudah suka" sambung Rahman cengengesan.


"Hemmm sudah aku tebak" Batin aku jadi kesal dan berdecis buang muka.


"Nanti malam aku jawab bang,aku onap disini sama Indar" Balas aku dengan biasa saja.


"Oh dirumah Puput ?" Balas Rahman sambil angguk kepala.


"Iya lho bang Rahman ...!" Bikin aku tambah kesal dan risih.


"Ok abang tunggu jawaban kamu nanti malam Yun" Rahman seakan mendapat harapan dari aku.


"Maaf lah mungkin nanti malam aku terima siap ntu putus,siapa tau ternyata kambing bandot" Batin aku geram.


Tidak berapa lama orang Puput dan Yudi pulang membawa tuak,mereka berjalan berdua sembari menyebrang kesungai dimana kami masih duduk berdua memanggang ikan.


"Ahk lama kali kalian !" ucap Rahman sambil mendekati Yudi yang lagi berdiri.


"Cepat betul kalian datang,enggak tau orang lagi asyik" Bisik Rahman pada Yudi,Yudi hanya nyengir saja.


"Macet bro,antri beli nya" sambung Yudi sembari meletakaan Arak batak itu diatas batu.


"Abang dicari uak tadi !" kata Puput kepada Rahman.


"Bentar lah kita minum dulu disini !" jawab Rahman sambil gerutu tak jelas.


"Yun kau enggak tau bang Rahman ini sepupu aku dari mama aku" Ujar Puput sambil menyiap kan gelas.


"Glek "


Minuman yang hampir singgah ditenggorokan hampir saja keluar lagi dari mulut aku,mendengar itu aku jadi tak nyaman untuk permainkan Rahman.Rahman emang ganteng tetapi dia bukan type aku karena kurang tinggi postur tubuh Rahman.


"Ahk iya nya,kenapa baru sekarang kau kasih tau Put?" jawab aku sedikit gugup dan melanjutkan panggang ikan.


"Sudah enggak usah bahas,cepat panggil yang kencan diatas sana,sudah datang ini tuaknya " sambung Yudi memotong pembicaraan aku dan Puput.


"Ham, Hamdani woi...sudah lah nanti malam kan jumpa lagi,paksa kali ahk !!" ucap Rahman teriaki Hamdani yang lagi kencan diatas bukit yang penuh lalang.


"Bising kali kawan kamu" Gerutu Indar sembari merapikan pakaian nya.


"Apa !, sibuk betul kau,enggak tau orang lagi diatas perut !" ucap Hamdani yang teriak dari atas bukit.


"Diatas perut ,diatas perut " Gerutu Yudi sembari meminum tuak.


"Ganggu saja" Ketus Hamdani langsung minum tuak duduk disebelah Yudi.


Setelah selesai kami balik kerumah Puput,


mama Puput pulang dari ladang dan menyapa kami dengan hangat,aku dan Indar disuruh makan setelah mama Puput masak alla sederhana.


"Makan nak,makan ini masih banyak lauknya" ucap mama Puput tersenyum ramah yang lagi sibuk memotong cabai rawit saat didapur.


"Iya bu,aru dari mana bu?" jawab aku yang duduk dimeja makan sederhana bersama Indar.


"Ahk biasalah nak baru meladang nanam ubi disamping tanah kami" jawab Mama Puput dengan suara ramah.


-------------------------------------------------------------------


Malam hari tiba kami aku,Indar dan Puput sibuk didepan cermin menghias diri, karena malam ini kami akan ketemu lagi dengan Hamdani,Kami juga izin pamit pada Mama Puput,saat melintas diruang tamu Ayah Puput duduk santai.


"Mau kemana kalian?" ujar ayah Puput yang baru pulang dari kerja.


"Kesini pak main sama bang Rahman " jawab Puput.


"Oh begitu"


Karena Rahman sepupuan,jadi ada senjata Puput beralasan jalan-jalan keluar malam,kalau tidak mungkin kami tidak akan keluar malam ini karena Ayah puput sangat posesif pada anak perempuan semata wayang nya itu.


"Bapak aku sedikit....kalian taulah,payahlah !" ucap Puput sembaru berjalan keluar area rumah.


"Kami ngerti kok,tidak apa"


Jawab aku sembari tersenyum pada Puput,kami berjalan menuju rumah Rahman,orang tua Rahman kebetulan keluar kota karena ada kerjaan,sedangkan saudara kandung Rahman sudah pada menikah.


Puput lagi duduk dibalkon teras bersama Yudi mungkin mereka akan pendekatan,sedangkan Indar kencan didalam dapur rumah Rahman mereka berdua tak bosan-bosannya menebar asrama,maklum baru jadian.


Aku merasa risih saat Rahman ajak kedalam kamarnya,baru ini aku lihat kamar cowok walau tak tersusun rapi tapi masih enak dipandang.


"Lihat Yun poto-poto aku waktu sekolah , gantengkan ?" Kata Rahman merasa bangga menunjukan bingkai Foto yang terpaku ditembok kamar.


"Hemm iya fanteng " ucap aku biasa saja merasa malas.


"Sikawan ini pasti sengaja bawa aku kesini" Batin aku tidak enak hati.


Tiba-tiba Rahman memeluk aku dari belakang membuat aku terkejut dan geram,karena kami belum resmi pacaran.


"Gimana Yun ,jawaban kamu ?,mau jadi pacar aku? " ucap Rahman masih saja memeluk aku tanpa rasa malu.


"Ok" ucap aku sambil berdiri seakan tidak mau Rahman peluk,walau begitu lelaki yang bertubuh pendek kekar itu masih saja agresif terhadap aku tidak berhenti dia hendak mencium aku,syukur aku menjaga jarak,lalu kami berdiri disamping kasur tidur tersebut.

__ADS_1


"Makasih ya Yun kami mau dengan aku" Kata Rahman yang tidak marah kalau aku tidak mau dicium.


"Iya sama-sama" jawab aku merasa risih karena tangan Rahman mulai lancang,aku menepis tangan Rahman yang mencoba masuk didalam baju aku.


"Kenapa sayang kok dihalang,aku sudah pengen kali ?" ucap Rahman yang mulai lancang membuka kancing baju aku.


"Gila ini cowok baru jadian udah minta main,memuakkan" batin aku jadi marah.


Aku dorong badan Rahman sampai dia terduduk diatas kasur,sedangkan aku berdiri dengan emosi yang memuncak.


"Kenapa?, kan kita baru mulai ?" ucap Rahman seperti buaya darat dan mata Rahman melirik saja kearah dada aku,seakan ingin memakan isi didalamnya.


"Kita baru saja jadian kau sudah aneh-aneh bang ?" ketus aku sembari berjalan mundur jaga jarak dengan buaya yang siap menerkam ini.


"Apanya yang aneh,kita kan normal " jawab Rahman seakan biasa saja,membuat aku semakin marah.


"Gatal, kita putus !!" ucap aku sambil membuka pintu kamar.


Aku berjalan dengan emosi dan marah lalu langkah ini menuju kebalkon teras dimana Puput dengan Yudi berada,sementara Rahman didalam kamar entah ngapai.


"Ayo kita pulang !,panggil Indar !" ucap aku sambil lipat tangan dan memalingkan wajah.


"Lho kok cepat kali,baru dua jam kita disini " jawab Puput terheran lalu Puput berdiri daru duduknya.


"Ayolah aku muak disini " jawab aku sudah ingin sekalo pergi dari rumah tersebut.


"Kenapa nya Yun?" sambung Yudi penasaran dan bangkit dari duduk.


"Tidak apa Yud , ayolah Puput panggil Ndar" ucap aku sambil merengek.


Rahman keluar dari kamar tapi dia bungkam dan biasa saja saat sudah berada dibalkon teras,Yudi memberi isyarat pada Rahman peria itu hanya geleng kepala saja.


"Ndar ayo kita pulang !" panggil Puput yang sudah didalam dapur.


Indar dan Hamdani menyudahi kencan mereka,lalu mereka berjalan kebalkon teras.


"Ahk cepat betuk ces kau ajak pulang,eh kenapa muka kau Yun ketat kali gitu,seperti tidak dikasih jatah Ahaha" Ujar Indar saat berdiri disamping aku.


Aku tidak menjawab perkataan Indar,malah aku tarik jemari sahabat aku,mereka jadi heran.


"Pamit ya Yud ,Hamdani" ucap aku sambil menarik pulang kawan aku keluar dari halaman rumah tersebut.


Saat diperjalanan kami hanya diam dan memikirkan sesuatu masing-masing,Indar senggol pinggang aku, sedangkan Puput berjalan lurus kedepan.


"Kenapanya Yun ?" Indar sedikit kesal karena aku mengajak pulang dengan cepat.


"Tunggu puput enggak ada akan aku critakan" bisik aku pada Ndar,Puput tidak tau itu.


Sesampai didalam rumah Puput ternyata Puput tidak bisa masuk kedalam rumah,karena Puput disuruh orang tuanya membeli rokok kesebuah warung yang berada didepan rumah,sedangkan aku dan Indar ada didalam kamar Pupu kesempatan aku bercerita pada Indar.


"Ahk taiknya itu,baru jadian sudah gitu Yun , sabar lah kau teman,mandi bunga kau besok setiap laki-laki sama kamu gitu semua Yun seperti nafsu saja !" jawab Indar yang duduk diatas ranjang.


"Iya ya Ndar kenapa ya aku selalu sial dalam bercinta,kenapa cowok didekat aku horny semua " jawab aku mendecis kesal.


"Haahaa mangkannya buat kecil tuh dada kamu,Lain kali kau tidak usah pakai kaos ketat Yun,mungkin karena itu dada kamu menantang mungkin itu kale,jadi kotor pria sama kau " jawab Indar sembari berfikir lagi.


"Ahk betul juga kata kamu,besok pulang pakai kemeja sajalah aku " jawab aku geleng kepala dan mendengus panjang.


Sewaktu aku ngobrol dengan Ndar bapak Puput ketuk pintu kamar kami,Ndar bangkit dari tidur dan membuka pintu kamar.


"Mana Puput,lama kali beli rokoknya ?" ucap lelaki tua yang bermata cokelat itu sedikit berambut putih.


"Kami enggak tau pak,mungkin sebentar lagi pulang" Jawab Indar berada didepan pintu.


Bapak Puput memandang aku dari atas kebawah dan lama menatap dada aku,sedangkan Indar kernyit dahi dan berfikir.


"Glek"


lidah seperti menelan ludah saat matanya seperti elang singgah menatap lekuk tubuh aku.


"Aduh bandot tua ini kok serem melihat aku gitu aku jadi takut berlama-lama disini" Batin Ku ngeri lalu membalikan badan pura-pura kearah cermin.


Pria tua itu tanpa kata pergi dari depan pintu, cepat-cepat Indar menutup pintu kamar tersebut, bapak Puput kerja serabutan kadang dapat kadang tidak,mama Puputlah yang habis banting tulang jadi buruh cuci dan bertani,bapak Puput itu juga pemabuk berat.


Pada saat tengah malam aku terbangun dari kamar nafas aku sesak karena suasana kamar gelap gulita,ternyata mati lampu,aku keluar meraba-raba mencari pemantik.


"Put bangun put !, mati lampu mana mancis?" aku menggoyangkan badan Puput.


"Hemmm diruang tamu mancis,kau ambil saja kedepan,aku masih ngantuk" jawab Puput yang berputar arah karena merasa diganggu.


"Ahk payah kau,ya udah biar aku ambil ke depan !" Balas aku langsung meraba kunci pintu kamar hendak membukanya.


Sambil meraba-raba dibantu cahaya bulan yang masuk dari celah rumah,aku masih dapat berjalan pelan kedepan ruang tamu.


" sreep "


Reflek aku menjerit "Aaww" Rintih aku sakit,dan aku terdiam sesaat memegang dada kiri.


"Biadab siapa ini yang memijat dada kiri aku?" Gumam aku geram dan ketakutan.


Sesosok bayangan hitam besar aku tidak tau hendak memegang lagi kepunyaan aku yang berharga ini,cepat-cepat aku menghindar dan berlari masuk kedalam kamar, nafas tersengal bercampur takut dan marah.


"Ya allah siapa pria itu yang tega betul melecehkan aku?" Ujar aku sendiri saat berbaring diatas kasur,aku ketakutan walau gelap aku paksa pejamkan mata ini,rasa ketakutan ini pernah aku alami sewaktu aku dilecehkan Jono kini terulang lagi.


---------------------------------------------------------------------


Pagi hari saat kami bangun aku ingin pulang saja karena takut,tapi aku penasaran siapa pria tadi malam aku bertanya didalam hati.


Puput dan Ndar diluar sambil jemur kain yang baru mereka cuci,sedangkan mama Puput masak didapur,bapak Puput lagi diruang tamu menikmati sebatang rokok yang iya hisap.


"Tinggi,rambut gondrong,berkumis tipis apa dia pelakunya?, adik Puput masih umur sepuluh tahun tidak mungkin" Gumam aku terus mengawasi Bapak puput.

__ADS_1


Saat Pria setengah baya itu sadar kalau aku memperhatikan dia,pria tua itu tersenyum sambil mengkedipkan mata kearah aku yang berdiri dipojok pintu dapur yang berhadapan dengan ruang tamu,aku takut laku buang muka.


Dengan langkah cepat aku menuju meja makan didapur,dugaan aku semakin kuat kalau bapak Puputlah yang melecehkan aku tadi malam.


__ADS_2