Wanita Malam Bertaubat

Wanita Malam Bertaubat
WMB 126


__ADS_3

Akhirnya masa kontrakan aku diruko ini sudah usai dan aku sudah cari tempat baru yaitu jadi anak indekos lagi padahal aku sudah muak kalau indekos lagi tetapi apa boleh buat.


Aku juga sudah niat untuk berhenti dari pekerjaan malam ini dan Juna juga yang sudah mendukung aku dari belakang,sekarang ini aku berniat melamar jadi SPG Beer dikota ini.


 


Esok harinya aku langsung diterima kerja sebagai sales,walau jadi sales beer aku tetap nyaman dengan seragam ini,karena menjadi sales Beer aku tetap saja bekerja dimalam hari dan outlet juga dikafe remang-remang,tetapi aku sedikit bangga karena para tamu bisa menghormati seragam yang aku kenakan.


"SPG baru ya?,masuk dek"


Tukas Waitres kafe yang melihat aku saat berdiri didepan kafe dengan wajah bingung.


"Iya Mbak"


Kata aku dengan tersenyum ramah,karena jadi sales harus pandai-pandai membawa diri apalagi dibagian promosi.


"SPG dari beer binto ya?"


Tanya Waitres lagi seraya melihat seragam merah yang aku kenakan.


"Iya mbak,semoga saja saya betah disini Hehehe" Jawab aku lagi sambil berjalan masuk kedalam kafe dibareng waitres tersebut.


Kerja dari jam delapan malam sampai jam dua belas malam,aku diantar jemput Juna dan Juna terlihat senang karena aku pensiun jadi wanita malam sebagai penari mesum ditempat karaoke.Walau pendapatan aku jadi sales begitu kecil sedangkan dulu menari melebihi target aku tetap senang dengan piliham aku saat ini,semua berkat Juna.


Banyak tamu-tamu langganan kecewa dan terus mencari aku karena mereka ingin melihat aku menari bugil seperti dahulu,tetapi panggilan dari setiap karaoke secara perlaham aku tolak semua.


"Tidak menyesalkan nda ninggalin kerja yang lama,temani tamu dikaraoke ?" Tukas Juna yang sedang makan bersama aku disaat pulang bekerja.


"Tidak ah,aku enggak menyesal,sudah niat aku sewaktu puasa kemarin ayah" Jawab aku untuk Juna dengan senyum ikhlas.


"Baguah hehehe,tidak enak indekos disini nda,mama aku tawari kamu indekos dirumah aku lho ,Bunda mau ?" Tanya Juna dengan Wajah penuh harap.


"Seganla,masa aKu indekos dirumah mama kamu yah,apa kata tetangga nanti" Jawab aku dengan bingung sekali.


"Tidak apa,mama yang bilang lho nda sama aku kemarin" Ucap Juna yang sekarang tetap memanggil aku dengan sebutan Bunda.


"Aku pikir-pikir dulu ya sayang"


Balas aku dengan tersenyum manis kepada Juna.


Selesai makan aku dan Juna bergegas pulang keindekos baru aku,tetapi tidak enak rasanya sepi sekali,ibu indekos juga cerewet sekali maklum dia juga tinggal dirumah ini hanyak kamar yang iya sewakan saja kepada aku membuat aku tidak betah.


Aku jadi memikirkan perkataan Juna tadi,apakah aku harus indekos dirumah Juna?,oh rasanya janggal sekali indekos dirumah calon mertua.


 


Keesokan hari Juna datang membawa makan siang buat aku,aku menyambut hangat kedatangan kekasih terjelek aku ini.Bibir tebal Juna tersenyum manis kepadaku.


"Gimana nda?, mau indekos dirumah aku?, lebih murah lho sayang,itu kalau bunda mau" Tukas Juna yang sudah duduk disofa dekat kasur tempat tidur aku.


"Ya sudah deh,kalau lebih murah aku mau indekos dirumah kamu" Jawabku tanpa berfikir panjang lagi.


Sekali lagi Juna sangat senang dengan jawabam aku,lalu kami menyantap makan siang dengan lahap karena perut aku sudah keroncongan sekali.


Selesai makan siang aku dan Juna bergegas kumpul-kumpul barang untuk pindah kerumah Juna,hal yang paling aku tidak suka adalah pindah rumah karena malas angkat-angkat barang.


"Ayo kita angkat barang- barang kamu nda, biar enggak kena biaya banyak aku akan bawa sendiri becak mama dari pasar" Kata Juna sembari angkat televisi yang sudah iya bungkus dengan kain.


"Ya sudah aku ngikut saja mau kamu sayang"


Jawab aku dengan tersenyum manis.


Barang-barang sudah kami angkat kerumah Juna,sampai dirumah Juna mama juna melontarkan senyum kepadaku,mama Juna juga tau setatus aku janda anak satu tetapi dia tidak pernah menyinggung status aku ini entah kalau dibelakang aku itu lain cerita.


"Gimana nak,nyaman kamu tinggal disini?" Tanya wanita setengah baya sewaktu melihat isi kamar aku.


"Nyaman bu,ini uang sewa kamar bu"Jawab aku sembari mengeluarkan sekocek uang dari dompet kecil dan menyerahkan kepada ibu Juna.


Setelah berbincang sedikit akrab dengan ibu Juna lalu Ibu Juna pamit pergi kedepan rumah dengan kesibukan dia sendiri,lalu aku menyusun pakaian didalam lemari tidak lupa Juna yang baru dari kamar mandi datang juga hendak membantu aku susun barang.


"Sini biar aku,biar aku angkat tempat tidur ini yan nda" Tukas Juna dengan mesra dan menatap aku dalam.


"Angkat saja sayang,oh aku jadi lapar sih"


Sahut aku dengan memegang perut ini.


"Mungkin angkat barang-barang itu bunda sayang,ya sudah selesai ini kita keluar pergi makan ya" Ucap Juna dengan senang hati.


Aku senang Juna tidak cemburuan lagi,kami jadi jarang bertengkar karena aku memang sudah betul-betul taubat dari pekerjaan kelam ini untuk kedua kalinya.


"Kita makan kemana yah?"


Tanya aku disaat barengan berjalan bersama Juna keluar dari area rumah.


"Tempat biasa saja nda"


Sahut Juna dan naik keatas motor.


"ok lah sayang"


Aku juga ikut serta naik keatas motor kepunyaan Juna,lalu motor melaju dengan kecepatan rendah menuju rumah makan tempat biasa kami nongkrong.


"Ika indekos dimana nda?"


Tanya Juna sembari fokus membawa motor.


"Sama pacarnya,tidak jauh kok dari tempat kita sayang" Jawab aku dengan melihat sekeliling orang-orang yang melintas dijalan aspal ini.


Selesai makan dan bercerita kami berdua bergegas pulang,baru saja pindah aku jadi merasa aneh ketika melewati rumah tetangga didekat rumah Juna,mata mereka menatapku dengan sinis dan seperti banyak kejanggalan kalau aku terka sendiri.


 


Hari demi hari aku semakin tidak nyaman tinggal dorumah Juna,tampaknya tetangga curiga karena aku dekat sekali dengan Juna,sampai bapak RT menegur dan bertanya tentang aku siapa dan warga dari mana.


"Aku pindah ajalah ya,sudah enggak betul ini aku takut kita jadi gunjingan orang sayang,mereka sudah tau kalau kita pacaran" Kata aku dengan nada cemas saat didalam kamar bersama Juna.


"Menikah saja kita yuk,biar mulut mereka diam" Ucap Juna tanpa beban dan bernada serius sekali.

__ADS_1


"Ka-kamu serius?,ah bercanda kamu sayang" Ucap aku dengan rasa tidak percaya dan canggung.


"Iya biar aku datang kerumah mama kamu"


Sahut Juna dengan tersenyum manis.


"Emang kamu mau menikah sama aku?,aku janda anak satu mana mungkin" Tukas aku lagi serasa Juna bercanda dengan ucapanya itu.


"Aku tidak memandang status kamu itu,mau janda atau gadis sama saja,yang penting kita suka satu sama lain" Kata Juna sembari genggam kedua tangan aku dengan erat.


Mata aku yang berkaca-kaca ini tidak lepas memandang kedua bola mata Juna,wajah Juna terlihat tulus tanpa beban saat mengucapkan pernikahan untuk aku.


 


Disaat aku terbangun dari tidur,aku hendak keluar dari kamar hendak kekamar mandi tetapi tidak jadi karena mendengar suara-suara orang mengobrol didepan ruang tamu.


Karena asyik mendengarkan obrolan keluarga juna yang aku tidak tau apa yang mereka obrolkan,aku tidak sadar kalau juna sudah ada didepan aku,dengan cepat dan lincah aku pura-pura menyapu karena sudah kepalang malu ketahuan Juna kalau aku lagi menguping.


"Keluarga aku sudah setuju bunda,aku sudah bicara dengan mama,besok aku kerumah kamu ya?" Kata Juna dengan girang sekali saat menatap aku yang pura-pura menyapu.


"Hah...,usia aku mau kepala tiga sayang,aku malu kalau bersanding dengan kamu karena usia kamu jauh dibawah aku,aku kira semalam kamu bercanda" Kata Aku dengan terkejut batin mendengar ucapan Juna.


"Kamu tidak suka?,kamu menolak aku,apa karena aku jelek ya?" Tanya Juna jadi merasa kecil hati dan kecewa.


"Buk-bukan...duh aku senang,aku mau sayang" Jawab aku langsung mencium pipi Juna sekilas.


Aku tidak percaya ini seperti mimpi sekian lama aku berpacaran dengan siapapun baru kali ini seorang pemuda dengan cepat dan serius akan meminang dan menikahi aku.


 


Esok harinya aku dengan Juna bergegas akan pergi kekampung halaman aku,aku sedikit risau mama dan ayah akan menerima Juna atau tidak,entahlah aku hanya mengikuti insting baik saja.


Tidak berapa lama aku dan Juna sudah berada didalam rumah aku,mama dan ayah menyambut dengan hagat kedatangan Juna lalu Juna disuguhkan Teh juga.


"Dengaren nak Juna datang kemari?,ada perlu apa ya?" Tanya Mama aku yang sebelum nya pernah bertemu Juna disaat indekos diruko yang pernah aku sewa.


"Sa-saya mau melamar Yunita bu,apa ibu izinkan jika saya menikahi Yunita ?" Tukas Juna sedikit ragu takut kalau mama marah atau menolak.


"Kalian sudah berapa lama kenalan?,pacarannya sudah berapa lama?!". Sahut mama terkejut.


"Kami sudah setahun pacaran bu"


Jawab Juna dengan nada mantap.


"Kamu suku apa Juna?,kamu taukan setatus Yunita janda anak satu,apa kamu mau menerima anak Yunita juga?" Tanya ayah dengan nada tegas kepada Juna.


"Sa-saya suku batak pak,saya sudah tau status Yunita pak,itu tidak masalah,keluarga saya juga sudah setuju tentang hubungan kami pak" Jawab Juna sedikit menundukkan kepala kepada Darman selaku ayahku.


"Yunita keras kepala sifatnya,ya kalau Juna mau dengan anak ibu,sayangi jugalah anak Yunita ,jangan mau sama mamanya saja" Tukas Indi dengan tersrnyum tetapi tegas.


"Baik bu,insya Allah saya akan terima raisya sebagai anak saya,keluarga saya akan datang besok bu,kalau ibu setuju" Balas Juna dengan senyum kecil.


"Kami berdua setuju-setuju saja,bapak hanya mengingatkan jika kalian berumah tangga nanti janganlah main tangan jika bertengkar,bicaralah baik-baik kalau ada sengketa sedikit pun,kamu taukan kenapa Yunita dulu cerai sama suaminya?,apalagi kamu masih melajang Juna" Ucap Ayah dengan panjang lebar.


"Iya pak,ini sudah keputusan saya sendiri untuk menjadi suami Yunita,insya Allah saya akan menjaga Yunita suka maupun duka"


"Kamu umur berapa Juna?"


Tanya mama dengan rasa penasaran.


"Saya tahun sembilan puluh dua bu,umur sekitar 24 lebih" kata Juna garuk kepala merasa dia sangat muda.


"Wah hampir sama umur kamu dengan Anton adik Yunita" Sambung Mama dengan tersenyum.


"Umur saya memang masih muda bu,tapi sifat saya mampu membahagiakan Yunita, walau saya bukan orang kaya" sambung Juna dengan tersenyum.


"Baiklah,kalau itu yang kalian kehendaki orang bapak dan ibu menyetujuinya" ujar Ayah dengan tersenyum.


"Mari nak Juna diminum teh nya"


Sambung Mama dengan tersenyum ramah.


"Ya bu"


Juna mengambil secangkir teh yang disuguhkan mama diatas meja,sedangkan aku hanya diam dan tersenyum saja.


Selesai Juna berbincang dengan ayah dan mama kini Juna pamit pulang dengan mama dan ayah aku,sedangkan aku tinggal dirumah karena besok akan memerima lamaran dari keluarga Juna.


Mungkin memang Juna jodoh aku, biarlah jelek asal Juna mau menerima aku apa adanya dan membawa aku dari dunia hitam yang selama ini aku arungi.


 


Hari ini tanggal 8 april 2016


Tibalah Juna datang dengan keluarga besarnya,karena aku sudah pernah menikah aku tidak canggung lagi walau deg-degan sedikit aku membuat santai suasana ini.


keluarga aku dan keluarga Juna kini sudah berbicara dan menentukan tanggal pernikahan kami,aku duduk manis disebalah Mama,sedangkan Juna duduk manis disebelah ibundanya.


"Jadi ibu kapan kita akan melangsungkan akad pernikahan anak kita?" ucap Ayah pada keluarga Juna.


"Orang ibu yang menentukan,mau dipestakan apa tidak" Jawab salah satu keluarga Juna selaku perwakilan.


"Hari bagus sudah kami lihat,hari jumat tanggal 15 april 2016 gimana?" ujar ayah aku dengan tersenyum manis.


"Baik lah bu,tanggal 15 april kita laksanakan pernikahn anak-anak kita" ucap mama Juna dengan senyum.


Sebenarnya aku belum percaya,apakah ini beneran apa tidak?,apa memang juna jodoh aku?,aku belum terlalu mencintai dia tetapi aku percaya setelah menikah aku belajar mencintai Juna apa adanya seperti dia mencintai aku dan menerima statusku dengan tulus hati.Mungkin AllAh sudah menggariskan perjodohan aku dengan Juna.


Setelah acara lamaran selesai Juna dan keluarganya menyantap hidangan yang di sediakan keluarga aku sembari mereka ngobrol membahas hal lain.


Saat aku didapur sibuk membuatkan minumam Juna datang dan menhampiriku dengan senyum manis dan bahagia.


"Bunda sudah lihatkan?,aku serius melamar bunda,aku tidak main-main !" Tukas Juna menatap teduh wajah aku.


"Seperti mimpi aku tidak percaya Heheheh" Sambung aku dengan cengir-cengir.


"Ya sudah aku makan dulu ya nda"

__ADS_1


Balas Juna kecup kening aku sekilas lalu pergi keruang tamu untuk makan.


Setelah Juna pergi keruang tamu kini giliran mama yang datang kepada aku,membuat teh jadi terganggu aku sih tidak keberatan.


"Mak,enggak usahlah dilestakan,Yunita malu masak dua kali naik kepelaminan" Tukas aku merasa malu kalau jadi gunjingan tetangga.


"Ya tidak apa-apa lho,lagian Juna baru sekali ini menikah,kasihan jika tidak dipestakan" Sambung mama ukut membantu membuat beberapa gelas teh.


"Yasudah lah ma,kalau memang terbaik buat Yunita" Kata aku dengan pasrah dan mengikuti kemauan orang tua aku.


Matahari mulai meredup menandakan hari semakin gelap,keluarga Juna segera pamit untuk pulang.


"Sampai jumpa tanggal 15 april,ok bunda sayang" Ucap Juna pamit kepada aku.


"Hati-hati ya ayah,bye- bye"


Aku melambai saat Juna masuk kedalam mobil beserta keluarganya mereka sedikit senyum mendengar nama sebutan sayang antara aku dan Juna.


Keluarga Juna akhirnya pulang dan berlalu dari rumah aku,sementara aku tetap dikampung,aku pandangi lagi cincin yang disematkan dijari manis aku,apa benar aku akan menikah lagi?,ah tidak bisa aku percaya.


"Yun...oh Yun"


Terdengar suara mama memanggil aku dari depan ruang tamu.


"Iya mak sebentar"


Lamunan aku buyar dan bergegas jalan menuju dapur.


"Apa mak?"


Tanya aku lagi setelah sampai keruangan dapur rumah.


"eh kayak mananya kau,jangan kau biarkan baju lamaran itu diruang tamu taruh didalam kamar sana" Kata Mama dengan kernyit dahi.


"Lupa mak Hahaha,ya sudah biar Yunita beres- bereskan dulu" Sambung aku bergerak keruang tamu.


Didalam ruang tamu aku membuka parcel yang berisikan pakaian pernikahan,kebaya bercorak merah darah cantik sekali dengna payetan disekujur kebaya merah tersebut dan sangat berbeda dengan pakaian yang aku terima dulu sewaktu dilamar Arul,Arul memberikan aku kebaya bercorak ungu,pantas saja aku jadi janda Arul karena menikah dengan kebaya ungu walau sebenarnya itu takhayul.


Aku juga melihat dua pasang dalaman bercorak merah juga,aku terpekik malu dan tertawa sendiri karena Juna tau ukuran dada aku,maklum saja aku pernah memperkosa dan meraih perjaka Juna.


Aku juga memberi kabar bahagia ini kepada Raisya dengan maksud meminta persetujuan dari putri sulung aku ini.Awalnya Raisya tidak senang dengan rencana ini tetapi aku membujuk rayu Raisya den memberi pandangan tentang Juna pada akhirnya Raisya setuju juga.


"Nanti Raisya datang ya mak kepesta mama" ucap Raisya saat aku menelfon Raisya.


"Iya nak,nanti Raisya dijemput om Anton"


Sambung aku dengan tersenyum saat santai sembari menelfon Raisya.


"Iya jangan lupa lho mak" Ujar Raisya lalu pamit dan akhiri percakapan kami ditelfon.


 


Esok harinya aku sibuk mengurus dan mengambil akte cerai dan urus surat-surat lainnya untuk pernikahan aku tanggal lima belas nanti.


Sebagian teman kerja aku sudah tau aku akan menikah,ada yang terkejut dan juga ada yang mengucapkan selamat kepada aku dan Juna,mereka kira aku akan menikah dengan Juan ternyata tidak karena berbeda keyakinan jadi pengahalang antara aku dan Juan.


Malam hari saat aku lagi santai merapikan pakaian pengantin,mama datang menghampiri aku dan membawa telfon.


"Yun,Yun ada yang mau bicara sama kamu" ujar Mama menyodorkan telfon kepada aku.


"Siapa ma?"


Tanya aku dengan penasaran dan meraih ponsel dari tangan kanan mama.


"Dengarin saja sendiri"


Sambung mama tidak mau memberi tau siapa yang telfon.


Ponsel kini aku letakkan dikuping kanan sembari berbaring santai diatas kasur,sedangkan mama sudah pergi seperti tidak mau mendengar aku telfonan dengan orang ini.


"Kenapa tidak mau menunggu aku sampai sukses,kenapa kamu mau menikah sama yang lain?" Tanya suara yang ada didalam ponsel tersebut.


"Sseerr"


Aku kenal suara ini,kenapa dia muncul lagisetelah aku mau menikah?,suara ini suara kepunyaan Andre.


"Kenapa baru sekarang ada kabar,setelah aku dilamar orang?" Tanya aku balik kepada Andre dan tidak mau menjawab pertanyaan Andre.


"Aku menunggu sukses dulu karena bisa menentukan jalan hidup aku tanpa aturan dari keluargaku may-may aku,semoga kamu bahagia ya sayang,mungkin kita tidak jodoh" Sahut Andre dengan suara bergetar.


"Ya terima kasih"


Ucap singkatku yang sebenarnya aku ingin mengucapkan kata perpisahan lain,tetapi apa daya bibir ini terkatup tidak mau bicara.


Embun cristal berjatuhan dikedua kelopak mata ini,aku tidak sangka Andre datang lagi setelah aku hendak menikah,apa ini cobaan?,ah sungguh sesak dada ini dengan pembicaraan tadi.Telfon juga aku yang tutup tidak bisa bicara banyak kepada pria yang pernah sangat aku cintai dahulu.


"Kenapa dia tau nomor mama?,kenapa dia juga tau aku mau menikah ma?" Tanya aku saat memberikan ponsel kepada mama setelah air mata ini aku seka sendiri.


"Dia sering nelfon mama,terkadang tanya kabar mama sama ayah,mama sering lupa kasih tau Yunita kalau dia selama ini sering nelfon mama,nomor mama dari dulu enggak pernah ganti Yun,wajar kalau dia tau" Jawab mama dengan kernyit dahi.


"Coba kalau mama kasih tau dulu pasti ceritanya tidak begini,ah sudahlah mungkin sudah kehendak Allah dan Andre bukan jodoh aku" Sambung aku dengan hembus nafas panjang.


"Ya sudah, mungkin kamu enggak jodoh sama Andre,memang digariskan jodoh kamu Juna" ucap Mama sembari melontarkan senyum kecil.


"Andre,kenapa kamu tidak bilang padaku biar aku menunggu kamu juga,apa memang sudah garis tangan aku menikah sama Juna" Batin aku terus berkata dan bingung seperti goyah akan menikah dengan Juna mingu depan.


Tidak sangka Andre selama ini menunggu aku,Juna sudah menerima aku apa adanya kenapa saat begini Andre datang memberi harapan,tidak...,aku akan tetap menghargai


Juna dan melepaskan Andre biarlah Andre kecewa itu kesalahan dia kenapa empat tahun tidak pernah ada kabar.


Dan kenapa Andre hanya berhubungan pada mama aku?,itu bukan kesalahan aku salah kamu Andre dan kini hatiku terus goyah mwngingat perkataan Andre didalam ponsel mama tadi.


 


Salam saya author cantik.


hallo pembaca sayang aku,beberapa episode lagi ya kita akan tamat dan bonus episode buat para pembaca aku ada juga ya.

__ADS_1


__ADS_2