WINTER GLOW

WINTER GLOW
Senyum Kelinci


__ADS_3

Ga ada apapun informasi tentang latar belakangnya, dia suka pindah-pindah bro alias ga netap gituh, bahkan tetangganya tempat dia tinggal sekarang ga kenal siapa dia. Dia tinggal sendiri, sorry untuk keluarganya gue ga tau cuma doi suka pindah-pindah kerja.


Mika melamun teringat kata-kata dari informannya, matanya menatap lekat rumah petak di sudut jalan dan terlihat cewe berbadan kurus mengenakan topi bergerak masuk ke rumah itu. Cewe yang sebenarnya Reca itu sangat berhasil ngebuat Mika merasa dia orang lain, bukan sahabatnya yang hilang delapan tahun lalu.


Mika berpikir sahabatnya yang periang itu tidak mungkin hidup kesepian seperti itu dan tidak mungkin sangat kurus ditambah bekas luka di sekujur tubuhnya. Ini hanya kebetulan, Reca pasti hidup di luar sana dengan sangat baik. Pasti sekarang jadi gadis yang sangat cantik, hidup sebagai ibu rumah tangga yang bahagia atau wanita karir yang sukses. Ya pasti begitu, tegas Mika dalam batinnya.


" Hi Mik." Sapa Esa di saat pagi.


" Istirahat suting kita makan yuks Mik, udah lama kan kita ga makan siang bareng." Tambahnya.


" Hmmm... maaf ya Sa, kaya nya klo hari ini ga bisa. Istirahat suting nanti mau aku pake latian gerakan adegan perkelahiannya, sama naskahnya belum semua aku baca. Ga pa-pa kan?" Mika tersenyum trus dengan lembut mengacak rambut Esa yang tergerai panjang, buat cewe cantik itu salah tingkah.


" Eh.. iya.. ga pa-pa kok." Dalam hati, sering-sering aja deh gue ngajak dia kaya gene. Biarpun kenak tolak, mau deh klo dapet elus sayangnya Mika. Senyum-senyum sendiri.


" Kamu ngapa kok liatin aku kaya gituh ah?" Esa nyaris pingsan mendapati Mika yang ngeliatin dia sedekat itu dan selama itu.


" Nanti malam gimana?" Tiba-tiba aja Mika ngomong gitu.


" PHP ah, sutingkan bisa sampe jam 3 pagi. Ngeledek ah." Makasih, sekarang Esa bete.


" Kalau besok lusa gimana? Jadwal kita kosong kan, seharian aku bisa temenin kamu."


Ya Tuhan, cewe secantik ini, sebaik ini, selalu ada buat dia kenapa masih belum bisa mencintainya? Kenapa masih terus memikirkan cinta yang tidak pernah ada? Setiap kali Mika ngeliatin muka Esa, dia selalu berpikir seperti itu. Yang sebenernya sangat kasihan melihat Esa, karena sebenarnya dia tau Esa mencintainya trus dengan sabar menunggu Mika membalas perasaannya. Bahkan sering menghujaninya kasih sayang tanpa pamrih.


Singkat cerita ne, biar cepat tamat hehehe. Tiba deh di malam yang Mika janjikan, Mika mengundang Esa makan malem romantis yang bakalan bikin wanita manapun klepek-klepek hilang kesadaran. Tempatnya di salah satu taman hotel yang dibuat khusus atas pesanan Mika, siganteng itu pengen makan berdua saja tanpa diganggu siapa pun. Dan untuk semua ini dia cukup merogoh kocek mahal, tapi ga apalah toh buat cewe secantik Esa itu layak.


" Di sini?" Esa otomatis membelalak lantaran sulit percaya, dekorasi dan suasananya mendukung banget buat cowo yang bakalan nembak cewe gebetannya dah. Eits, no, no, no Esa. Please deh ini bukan yang pertama kalinya Mika berbuat kaya gini, ini sudah kesejuta mungkin klo diitung. So ga boleh ke Ge Er-an karena pasti lo bakalan kecewa, jadi datar aja meskipun hati lo hampir meledak, percayalah ini sebenarnya hanya sikap masa bodohnya Mika yang ga pernah mikir apalagi bertanggung jawab atas akibat dari semua perbuatan yang bakalan bikin salah paham ini.


" Suka?" Dengan manis nya Mika menyiapkan kursi agar Esa bisa duduk. O ow, apalagi coba? Makin-makin aja.


" Hmm... Ka aku..."


" Cantik."


" Ha?"


" Kamu cantik banget malam ini Sa." Hampir aja Esa tereak klo aja ga cepet-cepet mengumpulkan kesadarannya.


" Ouya aku ada hadiah buat kamu."

__ADS_1


Mika berjalan pelan dengan senyum menawan. Senyum yang selalu berhasil merusak pertahanan Esa. Ga pake lama doi langsung aja ngebuka kotak perhiasan yang sejak tadi dipegangnya, tampak sebuah gelang dengan aksesoris bintang ditengahnya. Cantik sekali. Mika memasangkan gelang itu tanpa permisi, dan sekali lagi dengan perlakuan layaknya pria terhadap kekasihnya.


" Aku sengaja design khusus untuk kamu. Ini satu-satunya, ga ada dijual dimanapun. Pakek ya." Ah bodo amat, Esa ga perduli lagi apakah akhirnya mengecewakan atau tidak. Yang pasti dia ingin menikmati perasaan ini, terserah tapi ini sangat membuatnya bahagia.


" Suka?" Esa mengangguk buru-buru, tanpa sadar senyumnya diikuti tangisan haru. Mika melihatnya dan mengusapnya dengan lembut. Esa membiarkannya, sumpah perasaan ragu, kecewa yang pernah ada,


bahkan benci luruh seketika ga berbekas.


" Sa aku..."


" Hmmm?" Saling diam tapi keduanya mengerti, jangan katakan apapun biarkan malam ini berlalu tanpa ada pernyataan apapun. Lagi pula Mika masih berusaha bukan sudah jatuh cinta.


*****


" and... action." Kalimat sutradara terdengar khas saat proses suting berlangsung.


Mika lagi take adegan di salah satu kantor, ga jauh disana ada Esa yang stanby nemenin dengan wajah secerah matahari. Muka bahagia yang dari jauh juga kelitan jelas banget.


" Cut..." Sutradara berpikir sebentar.


" Oke kita break, istirahat dulu. Entar jam 2 kita lnjut lagi ya."


" Sa, ada yang spesial ya kok dari tadi senyum-senyum terus?" Salah satu kru mengahampiri Esa, yang sejak tadi nemenin Mika suting.


" Kayanya kali ini mereka pacaran deh. Liat aja tadi pas dateng auranya emang lain banget kan?"


" Iya... sekarang aja senyum-senyum gituh. Baru jadian kali kek nya."


" Serasih sih tapi tetep aja aku ga rela." Ketawa cekikikan sambil berlalu.


Yups dari tadi Esa tidak berhenti membayangkan kembali malam kemarin. Apa yang terjadi hingga endingnya yang sukses buat perasaannya melambung ke udara. Dan selalu berhasil membuat Esa senyum sendiri ga jelas.


" Sa, tolong ambilin HP aku dong" Mika langsung duduk terus deketin mukanya ke pipi Esa, nyaris.


" E.. hm.." Hhhpp, jantung Esa mau copot sangking geroginya.


" Ihh.. ne makhluk paling bisa buat gue semaput. Manis banget lagi. Ya ampun Mika pengen banget gue masukin lo dalam kantong." Esa sibuk berperang dengan dirinya sendiri dalam hati.


Waktu tangan Mika nerima HP dari Esa ga sengaja matanya ngeliat ke tangannya Caca alias Reca alias temnen SMA nya, alias...pokoknya itu deh. Darah segar ngalir dan terlihat jelas di kulit putihnya, sepertinya Caca tau tapi mencoba nyembunyiin biar orang lain ga tau. Setiap kali ketemu orang lain dia menyembunyikan tangannya di belakang.

__ADS_1


Mika ingat sesuatu, saat suting melompat tadi Caca jatuh dengan tangan kanan yang menyentuh tanah lebih dulu, mungkin tangan itu awalnya udah terluka tapi karena terbentur jadi berdarah.


" Sa aku pergi bentar ya." Mika beralasan tanpa sebab, entah kenapa dia ga pengen ngelukain Esa sekali lagi setelah malam kemaren berusaha keras menyerahkan hatinya pada Esa.


" Kemana?"


" Bentar kok, aku mau transfer uang ke Mama sambil beli minum." Yaah...dusta banget, transfer bisa pake M-Banking trus minum disini juga banyak kali.


" Kan disini aku udah beliin minuman kesukaan kamu. Kok beli lagi?"


" Hmmm... iyah bosen aja. Bentar kok yah?" Esa mengangguk, tapi dalam hati dia pikir kok ga masuk akal ya, tapi ya udah lah. Sia-sia juga toh Mika ga bakalan ngasih tau.


Sementara itu ternyata Mika yang sembunyi-sembunyi mengawasi Caca trus menariknya, ke tempat yang ga terlihat pastinya. Cowo ganteng itu juga melotot biar si cewe yang luar biasa sombongnya ini menurut dan anteng. Doi juga mengangkat tangan Caca yang berdarah itu, buat nunjukin klo dia tau, neh cewe lagi terluka.


" Ak.." Kesakitan


" Klo terluka karena suting harus bilang." Omel Mika


Yang diajak ngomong malah malingkan muka, karena sebel. Resek banget coba, sok tau lagi, salah pulak tuh. Sebenarnya luka itu didapat bukan saat suting, tadi malam Reca pergi ke semua kantor dan diam-diam menggeledah selutuh ruangan kantor itu seolah ada yang dicarinya. Tapi aksinya di ketahui salah seorang Scurity, saat berusaha kabur tangan Reca tergores kaca jendela yang dipecahkannya sendiri untuk jalan keluar.


" Is.." Reca melepaskan tangan Mika yang memaksa untuk ikut dengannya.


" Iiih...bandel banget sih. Nurut aja ngapa." Mika menggeretnya ke mobil dan membawanya di rumah sakit.


" Tunggu sini, awas klo kabur. Aku bilang ke sutradara biar lo diganti aja alias di pecat." Reca menatap serius, yang artinya gue ga takut.


" eghhhh.." Reca mau pergi , Mika menahannya


" Susah banget emang ya." Mika teringat sesuatu trus melepas tali pinggangnya, lalu mengikatnya ke tangan Reca dan tangannya sendiri. Nah ga bisa lari kan lo?


" Apa keluhan ibunya pak?" Suster datang, Mika lupa klo itu rumah sakit yang sama dengan tempat Kendra kerja dan bener Mika mendapati Kendra yang jalan tertunduk mengarah padanya. Mika buru-buru menutup gorden pembatas bed dan menutup kepala Reca dengan selimut.


" Suster, saya ga mau dokter cowo, dokter cewe aja." Suster tampak bingung


" Bisa kan?" tanya Mika lagi


" I, iya bisa pak sebentar ya pak." Suster itu pergi dan menghadang Kendra


" Dok, kata pasiennya dia mau sama dokter yang cewe aja."

__ADS_1


" Ok, panggil dr. Nissa untuk periksa ya."


*****


__ADS_2