WINTER GLOW

WINTER GLOW
Satu Tambah Satu


__ADS_3

“ Ken?


Pasien Bed 3 udah lo konsulin ke Spesialis? Koreksi Natrium nya udah


keluar tuh.” dr. Indra lagi-lagi satu shift sama Kendra pagi ini di


UGD. Tapi kayanya yang diajakin ngomong ga dengerin, trus ngelamun ke


arah monitor tapi pikirannya entah melayang kemana.


“ Kendra.”


Indra sedikit ngebentak, ga jauh dari sana kebetulan


ada Raka yang baru aja ditugaskan di UGD setelah sebelumnya di


bangsal rawat inap. Raka menoleh sebentar, jarak dia berdiri


memungkinkan Raka mendengarkan pembicaraan kedua dokter jaga itu.


“ Oh


sorry Ndra gue..”


“ Kenapa


sih lo Ken, gue perhatiin neh ya semenjak lo ketemu cewe dari masa


lalu lo itu hari-hari Lo jadi ga beres kaya gini. Lo bisa tiba-tiba aja


seneng, tiba-tiba


lo sedih dalam waktu yang lama ga bisa ditentukan. Kenape sih lo?”


Raka yang denger menghentikan kerjanya sebentar saat mendengar


kalimat... Ketemu cewe dari masa lalu.


“ Entahlah


ndra gue sendiri juga ga tau kenapa gue ga bisa ngendalikan diri gue


sendiri. Entah apa juga gue ga tau, kenapa gue terus aja mikirin dia


yang kayanya klo dipikirin kaya apa ya… kaya dia tuh ga perduli


sama gue. Udah beberapa hari ini ga ada kabar, dan nomornya juga ga


bisa dihubungin.”


“ Emangnya


si Rea... eh sapa sih nama


cewe lo?”


“ Reca.”


Deg! Raka nyaris menjatuhkan jarum suntik yang dipegangnya, sulit


percaya dia mendengar nama sahabatnya yang menghilang delapan tahun


lalu.


“ Kendra


menemukannya? Bagaimana bisa? Apakah Mika tau soal ini? Tapi Kendra


kok ga cerita apapun padahal dulu Kendra pernah meminta Raka memberi


kabar jika menemukan Reca. Trus kenapa tidak berlaku sebaliknya?”


Sejuta tanya langsung menyerang kepala Raka.


Raka


kemudian


kembali tenang seolah tidak mendengar apapun, dia


ga pengen terlihat sangat terpengaruh.


Kendra menyadari Raka yang berdiri disana dan menoleh sebentar untuk


memastikan apakah Raka mendengarnya atau ga. Ngeliat Raka yang anteng


aja mengerjakan tugasnya Kendra ngerasa kayanya Raka ga denger apapun.


“ Ah


iya si Reca itu… kesehariannya ngapain sih? Sibuk banget apa sampe


ga ngabarin lo berhari-hari. Eh kalian ne pacaran ga sih?” Kendra


terdiam, yahh… hubungan mereka emang ga pernah jelas sejak awal.


Dan sekarang justru hanya kendra yang menggebu-gebu sementara Reca


datang dan pergi sesukanya, bersikap seenaknya yang membuat Kendra


salah tingkah lalu menghilang tanpa pernah bertanggung jawab atas


akibat apa yang udah dia tinggalkan.


“ Jangan


bilang…” Mata Indra menangkap seorang wanita cantik yang sangat


fashionable memasuki pintu UGD, dia celingukan nyari seseorang.


“ Kendra.”


Cewek itu tersenyum manis.


“ Sarah?”


Raka menoleh saat Kendra mengenali gadis itu, Raka juga juga


mengenalinya. Ah


Sarah yang dulu tergila-gila sama Mika. Eh tunggu, beralih ke Kendra


kah sekarang?


“ Siapa


lagi tuh Bro?”

__ADS_1


“ Oh


itu temen gue Sarah, kebetulan ortu kita juga temenan.” What? Indra syok


lahir batin,


membagongkan sekali


sikawan ne.


Gilak sok-sok berkabung, banyak cewek cantik yang deketin pun. Entah apa pun


yang dipeningkannya, Indra geleng ga habis pikir.


“ Sibuk?”


Indra dan Kendra saling bertatapan.


“ Ok


gue paham bro.” Kata Indra dalam hati, sok iyes.


“ Ga


kok bentaran lagi juga operan jaga.” Indra senyum pamer ngerasa dia


heronya rupa si Kendra berharap sebaliknya, melototlah si kawan.


Lemes di tempat, langsung berangsur-angsur kabur.


“ Bisa


kita bicara sebentar Ken.” Ucap Sarah seraya meletakkan bingkisan


yang dia bawa, emang niat dari awal nyogok gengs biar paham aja gitu


kru UGD nya.


*****


“ Makasih.”


Sarah menerima kopi pesanannya. Sekarang dia dan Kendra sudah berada


di sebuah kafe yang ga jauh dari rumah sakit.


“ Maaf


ya Sar, agak nunggu lama tadi soalnya banyak banget yang harus


dioperkan ke dinas selanjutnya.”


“ Hmmm…


iya gue ngerti kok. Lo ga usah khawatir.” Sarah tersenyum lagi.


“ Ada


perlu apa Sar? Pasti


penting neh, lo kan sibuk banget orangnya.”


“ He


hmmm… ngeledek neh. Elo lah


pernah.” Sarah adalah wanita karir yang dilengkapi insting berburu


secara elegan. Meskipun perkataannya terkesan mendekati pria duluan


tapi sikapnya memperlihatkan bahwa dia punya standar yang sulit untuk


dilewati. Dan dalam kasus ini Sarah melangkah lebih dulu karena


sebuah tujuan bisnis.


“ Ehmm…


maaf Sar gue…”


“ Ga


masalah gue tau kok. Secara dokter gitu kan ya sibuklah, so gue


langsung aja ya Ken?” Kan sama-sama sibuk kita kan bang, jadi langsung ajalah ya biar ga terlalu panjang gitu basa nasinya kan bang...


“ O


iya.”


“ Lo


mungkin udah tau soal kita yang…” Merujuk pada niatan kedua orang


tua yang ngejodohin mereka berdua. Kendra langsung ngangguk paham.


“ Gue


ga mau ribet atau berlelah-lelah lebih tepatnya Ken. So gue pribadi ga


menolak perjodohan ini, karena ya secara look… lo nya OK, mapan dan


sangat mendukung untuk kelangsungan hirarki politik kedua keluarga


kita. Cuma gue ga bisa lanjutin klo elo nya ga mau sama perjodohan


ini, dan gue ga sukak maksa untuk jadi istri lo Ken.” Kendra


sedikit terkejut, bagaimana bisa Sarah mengatakannya tanpa sedikitpun


rasa sungkan. Tapi Kendra menghargai sifat terbuka Sarah, iya jujur


lebih baik jadi tidak perlu berpura-pura.


“ Jadi


lo mau tanya pendapat gue Sar?”


“ Nggak.”


“ Eh?”


“ Gue


mau tanya ada orang yang lagi lo suka atau yang lagi pacaran sama lo


sekarang?”

__ADS_1


“ Apa?”


“ Jawab


aja, gue ga akan apa-apain kok.”


“ Emmm…


pacar sih belum kek nya tapi jujur… gue suka sama dia.”


“ Siapa?”


“ Haruskah


lo tau orangnya Sar?” Kita kan ga ada hubungan apa-apa, batin


Kendra.


“ Iya


gue harus tau siapa untuk ngelindungin tuh cewe.” Secara kedua ortu


mereka anggota organisasi Singa Merah, yang akan melakukan segala


cara untuk mencapai tujuannya. Dan kerikil sekecil apapun yang


menghalangi jalan mereka akan dimusnahkan, termasuk cewek penghalang


untuk perjodohan ini karena sangat besar tujuan yang ingin diraih


dibalik itu.


“ What?”


“ Hahahaha…


ampun Ken polos banget sih lo. Beneran lo ga tau?” Kendra


menggeleng bingung.


“ Okeeeyyy,


gue ga perlu jelasin karena nantinya lo bakalan tau sendiri. Klo buat


gue pribadi setidaknya gue liat gimana selera lo, layak kah bersaing


sama gue?”


“ Reca.”


Kendra mengucapkannya tanpa ragu lantaran sedikit marah. Buat Kendra,


Sarah tidak sebanding dari segi apapun dibandingkan Reca karena


mereka berada di level dan kelas yang berbeda.


“ Reca?”


Sarah tersenyum sinis, mengapa seluruh alam semesta berpusat pada tuh


cewe.


“ Not


bad but no good.” Kali ini tersenyum meremehkan.


“ Apa


lo cukup baik Sar?”


“ Lo


tau Reca itu dekat sama siapa sekarang? Gue yakin lo belum lupa siapa


yang udah menyita seluruh waktu Reca di bangku SMA, dan itu masih


orang yang sama sampai saat ini. Gue sarankan lo berpikir rasional


dan berhenti mengejar yang ga perlu.”


“ Mika?”


Sarah mengangguk.


“ Klo


lo mau buang waktu lo terserah, tapi ga dengan gue. Gue ga akan


memohon ke elo buat ngelupain dia, so hubungin gue saat lo setuju


dengan perjodohan kita yang artinya lo ga bakalan ngarepin dia lagi.


Atau lo bisa hubungin gue saat lo memutuskan menolak perjodohan ini


dan segeralah kasih tau bokap lo. Karena gue punya banyak perjodohan


lain di luar sana.” Tiba-tiba Sarah menjatuhkan


ponsel Kendra ke lantai dengan sengaja lalu buru-buru meraihnya.


Begitu juga Kendra yang reflek berniat meraih ponselnya malah jadi


megang tangannya Sarah yang langsung tersenyum puas tanpa melihat


wajah Kendra.


" Liat gue Ken." Tapi Anehnya dia menahan posisi itu beberapa detik,


lalu dari kejauhan seorang mata-mata memfoto adegan itu.


“ Lo


bisa lihat dari pantulan layar ponsel lo di arah jam lima. Itu


mata-mata bokap kita yang akan laporin aktifitas kita berdua.”


Kendra terkejut. Jadi artinya yang barusan itu Sarah emang sengaja.


“ Mata-mata?”


“ Tanya


aja bokap lo ya Ken, gue pamit dulu.” Sarah pergi tanpa menoleh


kebelakang meninggalkan Kendra yang memiliki sejuta pertanyaan


dikepalanya.

__ADS_1


__ADS_2