
“ Ken?
Pasien Bed 3 udah lo konsulin ke Spesialis? Koreksi Natrium nya udah
keluar tuh.” dr. Indra lagi-lagi satu shift sama Kendra pagi ini di
UGD. Tapi kayanya yang diajakin ngomong ga dengerin, trus ngelamun ke
arah monitor tapi pikirannya entah melayang kemana.
“ Kendra.”
Indra sedikit ngebentak, ga jauh dari sana kebetulan
ada Raka yang baru aja ditugaskan di UGD setelah sebelumnya di
bangsal rawat inap. Raka menoleh sebentar, jarak dia berdiri
memungkinkan Raka mendengarkan pembicaraan kedua dokter jaga itu.
“ Oh
sorry Ndra gue..”
“ Kenapa
sih lo Ken, gue perhatiin neh ya semenjak lo ketemu cewe dari masa
lalu lo itu hari-hari Lo jadi ga beres kaya gini. Lo bisa tiba-tiba aja
seneng, tiba-tiba
lo sedih dalam waktu yang lama ga bisa ditentukan. Kenape sih lo?”
Raka yang denger menghentikan kerjanya sebentar saat mendengar
kalimat... Ketemu cewe dari masa lalu.
“ Entahlah
ndra gue sendiri juga ga tau kenapa gue ga bisa ngendalikan diri gue
sendiri. Entah apa juga gue ga tau, kenapa gue terus aja mikirin dia
yang kayanya klo dipikirin kaya apa ya… kaya dia tuh ga perduli
sama gue. Udah beberapa hari ini ga ada kabar, dan nomornya juga ga
bisa dihubungin.”
“ Emangnya
si Rea... eh sapa sih nama
cewe lo?”
“ Reca.”
Deg! Raka nyaris menjatuhkan jarum suntik yang dipegangnya, sulit
percaya dia mendengar nama sahabatnya yang menghilang delapan tahun
lalu.
“ Kendra
menemukannya? Bagaimana bisa? Apakah Mika tau soal ini? Tapi Kendra
kok ga cerita apapun padahal dulu Kendra pernah meminta Raka memberi
kabar jika menemukan Reca. Trus kenapa tidak berlaku sebaliknya?”
Sejuta tanya langsung menyerang kepala Raka.
Raka
kemudian
kembali tenang seolah tidak mendengar apapun, dia
ga pengen terlihat sangat terpengaruh.
Kendra menyadari Raka yang berdiri disana dan menoleh sebentar untuk
memastikan apakah Raka mendengarnya atau ga. Ngeliat Raka yang anteng
aja mengerjakan tugasnya Kendra ngerasa kayanya Raka ga denger apapun.
“ Ah
iya si Reca itu… kesehariannya ngapain sih? Sibuk banget apa sampe
ga ngabarin lo berhari-hari. Eh kalian ne pacaran ga sih?” Kendra
terdiam, yahh… hubungan mereka emang ga pernah jelas sejak awal.
Dan sekarang justru hanya kendra yang menggebu-gebu sementara Reca
datang dan pergi sesukanya, bersikap seenaknya yang membuat Kendra
salah tingkah lalu menghilang tanpa pernah bertanggung jawab atas
akibat apa yang udah dia tinggalkan.
“ Jangan
bilang…” Mata Indra menangkap seorang wanita cantik yang sangat
fashionable memasuki pintu UGD, dia celingukan nyari seseorang.
“ Kendra.”
Cewek itu tersenyum manis.
“ Sarah?”
Raka menoleh saat Kendra mengenali gadis itu, Raka juga juga
mengenalinya. Ah
Sarah yang dulu tergila-gila sama Mika. Eh tunggu, beralih ke Kendra
kah sekarang?
“ Siapa
lagi tuh Bro?”
__ADS_1
“ Oh
itu temen gue Sarah, kebetulan ortu kita juga temenan.” What? Indra syok
lahir batin,
membagongkan sekali
sikawan ne.
Gilak sok-sok berkabung, banyak cewek cantik yang deketin pun. Entah apa pun
yang dipeningkannya, Indra geleng ga habis pikir.
“ Sibuk?”
Indra dan Kendra saling bertatapan.
“ Ok
gue paham bro.” Kata Indra dalam hati, sok iyes.
“ Ga
kok bentaran lagi juga operan jaga.” Indra senyum pamer ngerasa dia
heronya rupa si Kendra berharap sebaliknya, melototlah si kawan.
Lemes di tempat, langsung berangsur-angsur kabur.
“ Bisa
kita bicara sebentar Ken.” Ucap Sarah seraya meletakkan bingkisan
yang dia bawa, emang niat dari awal nyogok gengs biar paham aja gitu
kru UGD nya.
*****
“ Makasih.”
Sarah menerima kopi pesanannya. Sekarang dia dan Kendra sudah berada
di sebuah kafe yang ga jauh dari rumah sakit.
“ Maaf
ya Sar, agak nunggu lama tadi soalnya banyak banget yang harus
dioperkan ke dinas selanjutnya.”
“ Hmmm…
iya gue ngerti kok. Lo ga usah khawatir.” Sarah tersenyum lagi.
“ Ada
perlu apa Sar? Pasti
penting neh, lo kan sibuk banget orangnya.”
“ He
hmmm… ngeledek neh. Elo lah
pernah.” Sarah adalah wanita karir yang dilengkapi insting berburu
secara elegan. Meskipun perkataannya terkesan mendekati pria duluan
tapi sikapnya memperlihatkan bahwa dia punya standar yang sulit untuk
dilewati. Dan dalam kasus ini Sarah melangkah lebih dulu karena
sebuah tujuan bisnis.
“ Ehmm…
maaf Sar gue…”
“ Ga
masalah gue tau kok. Secara dokter gitu kan ya sibuklah, so gue
langsung aja ya Ken?” Kan sama-sama sibuk kita kan bang, jadi langsung ajalah ya biar ga terlalu panjang gitu basa nasinya kan bang...
“ O
iya.”
“ Lo
mungkin udah tau soal kita yang…” Merujuk pada niatan kedua orang
tua yang ngejodohin mereka berdua. Kendra langsung ngangguk paham.
“ Gue
ga mau ribet atau berlelah-lelah lebih tepatnya Ken. So gue pribadi ga
menolak perjodohan ini, karena ya secara look… lo nya OK, mapan dan
sangat mendukung untuk kelangsungan hirarki politik kedua keluarga
kita. Cuma gue ga bisa lanjutin klo elo nya ga mau sama perjodohan
ini, dan gue ga sukak maksa untuk jadi istri lo Ken.” Kendra
sedikit terkejut, bagaimana bisa Sarah mengatakannya tanpa sedikitpun
rasa sungkan. Tapi Kendra menghargai sifat terbuka Sarah, iya jujur
lebih baik jadi tidak perlu berpura-pura.
“ Jadi
lo mau tanya pendapat gue Sar?”
“ Nggak.”
“ Eh?”
“ Gue
mau tanya ada orang yang lagi lo suka atau yang lagi pacaran sama lo
sekarang?”
__ADS_1
“ Apa?”
“ Jawab
aja, gue ga akan apa-apain kok.”
“ Emmm…
pacar sih belum kek nya tapi jujur… gue suka sama dia.”
“ Siapa?”
“ Haruskah
lo tau orangnya Sar?” Kita kan ga ada hubungan apa-apa, batin
Kendra.
“ Iya
gue harus tau siapa untuk ngelindungin tuh cewe.” Secara kedua ortu
mereka anggota organisasi Singa Merah, yang akan melakukan segala
cara untuk mencapai tujuannya. Dan kerikil sekecil apapun yang
menghalangi jalan mereka akan dimusnahkan, termasuk cewek penghalang
untuk perjodohan ini karena sangat besar tujuan yang ingin diraih
dibalik itu.
“ What?”
“ Hahahaha…
ampun Ken polos banget sih lo. Beneran lo ga tau?” Kendra
menggeleng bingung.
“ Okeeeyyy,
gue ga perlu jelasin karena nantinya lo bakalan tau sendiri. Klo buat
gue pribadi setidaknya gue liat gimana selera lo, layak kah bersaing
sama gue?”
“ Reca.”
Kendra mengucapkannya tanpa ragu lantaran sedikit marah. Buat Kendra,
Sarah tidak sebanding dari segi apapun dibandingkan Reca karena
mereka berada di level dan kelas yang berbeda.
“ Reca?”
Sarah tersenyum sinis, mengapa seluruh alam semesta berpusat pada tuh
cewe.
“ Not
bad but no good.” Kali ini tersenyum meremehkan.
“ Apa
lo cukup baik Sar?”
“ Lo
tau Reca itu dekat sama siapa sekarang? Gue yakin lo belum lupa siapa
yang udah menyita seluruh waktu Reca di bangku SMA, dan itu masih
orang yang sama sampai saat ini. Gue sarankan lo berpikir rasional
dan berhenti mengejar yang ga perlu.”
“ Mika?”
Sarah mengangguk.
“ Klo
lo mau buang waktu lo terserah, tapi ga dengan gue. Gue ga akan
memohon ke elo buat ngelupain dia, so hubungin gue saat lo setuju
dengan perjodohan kita yang artinya lo ga bakalan ngarepin dia lagi.
Atau lo bisa hubungin gue saat lo memutuskan menolak perjodohan ini
dan segeralah kasih tau bokap lo. Karena gue punya banyak perjodohan
lain di luar sana.” Tiba-tiba Sarah menjatuhkan
ponsel Kendra ke lantai dengan sengaja lalu buru-buru meraihnya.
Begitu juga Kendra yang reflek berniat meraih ponselnya malah jadi
megang tangannya Sarah yang langsung tersenyum puas tanpa melihat
wajah Kendra.
" Liat gue Ken." Tapi Anehnya dia menahan posisi itu beberapa detik,
lalu dari kejauhan seorang mata-mata memfoto adegan itu.
“ Lo
bisa lihat dari pantulan layar ponsel lo di arah jam lima. Itu
mata-mata bokap kita yang akan laporin aktifitas kita berdua.”
Kendra terkejut. Jadi artinya yang barusan itu Sarah emang sengaja.
“ Mata-mata?”
“ Tanya
aja bokap lo ya Ken, gue pamit dulu.” Sarah pergi tanpa menoleh
kebelakang meninggalkan Kendra yang memiliki sejuta pertanyaan
dikepalanya.
__ADS_1