
“ Oiya Ka, aku bawain ini buat kamu.” Esa mengeluarkan
Sesuatu dari paper bag kecil yang sejak tadi dibawanya. Dia sengaja membawa
benda itu jauh-jauh dari Amerika untuk memberikannya kepada Mika.
“ Apa ini Sa?”
“ Ini mainan kesayangan aku waktu kecil, itu loh yang
kamu liat pas kita VC-an beberapa hari lalu. Inget ga?”
Oh ini mainnya, Mika mengamati dengan seksama. Mainan
itu membuat hatinya bergetar, itu tampak sangat mirip dengan Surprise Dino Eeg
yang dia punya hanya beda warnanya aja dan ini… made in Finlandia. Seolah itu
mengklarifikasi bahwa mainan ini benar-benar sama dengan miliknya, artinya… Esa
benar-benar sahabat masa kecilnya yang selama ini dia cari-cari?
“ Kenapa mainan ini bisa sangat berarti untuk kamu Sa?”
Jika jawabannya seperti yang Mika pikirkan maka benar.
“ Hmmm… waktu aku kecil aku pernah sangat sedih
meninggalkan Finlandia saat liburan natal, lalu merengek sama papa untuk
tinggal lebih lama lagi. Tapi seorang anak laki-laki menghampiriku dan memberikan
ini, agar Esa berhenti menangis. Hahaha, so sweet kan padahal kami ga saling
kenal. Sejak saat itu ini jadi mainan favorit aku.”
“ Seperti apa anak laki-lakinya Sa? Apakah dia berasal
dari Finlandia?”
“ Emm, Esa ga inget jelas sih Ka Karen emang udah lama
bangetkan? Yang Esa inget dia tuh manis dan berasal dari Indonesia makanya kami
berdua bisa saling ngobrol saat itu.”
Ingatan Esa berbeda dengan mimpi yang sering Mika
alami, juga yang artinya berbeda dengan kenangan yang dia miliki. Seingat Mika
teman kecilnya menangis karena terjatuh
saat bermain dan yang Mika berikan untuk menghiburnya adalah coklat bukan
mainan ini. Surprise Eeg ini Mika berikan saat akan berpisah dan mengikat janji
untuk bertemu lagi, malah bukan hanya memberikan tapi mereka saling bertukar
mainan. Tapi beberapa ingatan itu sangat sesuai, dan tempatnya juga sama.
Mungkinkah ada perbendaan karena Esa tidak terlalu mengingatnya?
“ Apakah kalian pernah bertemu setelah itu?”
“ Esa sangat ingin bertemu lagi tapi hal itu tidak
pernah terjadi. Bagaimana mungkin menemukannya Mika Indonesia kan luas,
hahahaha kamu ini.” Tidak, mereka bertemu lagi setahun setelahnya di Finlandia
waktu liburan berikutnya bahkan menjadi tradisi untuk beberapa tahun saat itu
sebelum mereka benar-benar tidak bisa bertemu.
“ Emangnya kalian ga ada tukaran no HP gitu Sa?”
__ADS_1
“ Hahahahaha… kamu ne lucu banget sih Ka. Ya
enggaklah, orang masih kecil banget juga mana ada kepikiran tukeran no telpon
ato Whats App jaman apa juga waktu itu. Android aja belum ada.” Tidak bukan
bertukar no handphone tapi Ayah Mika memberikan no Handphone itu kepada Ayah
teman masa kecilnya. Karena mereka harus buru-buru berpisah dikarenakan jam
keberangakatan pesawat, dan no itu seolah sebuah jaminan untuk mereka bisa
berkomunikasi setelah berpisah.
“ Setelah itu kamu ga ada balik lagi ke Finlandia Sa?”
“ Pengen sih tapi papa sering pindah tugas waktu itu
jadi ga sempet liburan lagi ke Finlandia, sampe akunya SMP baru kami balik lagi
kesana itupun karena akunya yang merengek ke papa. Hihihi... dengan begonia aku
berpikir bisa menemukan anak laki-laki itu lagi di Finlandia padahal udah
beberapa tahun berlalu. Bahkan ga ada jaminan kalau dia masih inget sama aku,
mungkinkah dia punya perasaan yang sama dengaku.” Ini juga salah.
“ Kalian sekedar bertemu atau berteman setelah
kejadian itu? Ga buat janji gitu untuk kembali ketemuan dimana kek, klo itu
emang sangat berkesan buat kamu Sa harusnya gitu kan?”
“ Ga ada, karena… entahlah Ka sepertinya hanya aku
yang terkesan. Anak laki-laki itu segera pergi dari toko mainan bersama ayahnya
setelah membayar di kasir, dan aku hanya bisa menatapnya hingga dia hilang
kepikiran buat janji diusia sekecil ituh.”
Tidak, Esa bukanlah teman masa kecilnya. Karena
sekalipun Esa tidak begitu ingat tapi harusnya ada detail yang sangat sama
dengan ingatan yang Mika miliki. Jika tidak maka itu artinya ini hanya sebuah
kebetulan yang menyerupai kenangannya, itu saja tidak lebih. Atau mungkinkah
karena Mika yang terlalu berharap, maka semua fakta terlihat samar.
Malamnya Mika kembali bermimpi tentang teman masa
kecilnya…
“ Mikaaaa, kok lama banget sih ayok.”
“ Iya tunggu.”
Dalam mimpi itu mereka berlari bersama menuju sekolah
dasar sambil bergandengan tangan, lalu mereka bermain di taman dengan sangat
bahagia. Seolah film dokumenter yang singkat, mereka tau-tau udah beranjak
dewasa dan masih sering menghabiskan waktu bersama.
“ Mika aku lulus….” Mika tersenyum kemudian mereka
tertawa bersama merayakan keberhasilan itu. Mereka bahkan berpelukan, lalu
makan ice cream bersama.
Mimpi itu sangat indah, didalamnya Mika terlihat
__ADS_1
sangat bahagia menghabiskan waktu bersama dengan Yeye teman masa kecilnya
hingga mereka dewasa. Mereka mengunjungi tempat-tempat indah bersama, makan
bersama dan mengerjakan tugas sekolah bersama tapi wajahnya… tidak begitu
jelas.
“ Mika.” Dia tersenyum sambil perlahan melepaskan
tangan Mika, rambut panjangnya yang tergerai ditiup angin hingga menutupi
sebagian wajahnya. Itu bukan wajah Esa, bukan Esa… lalu siapa…
“HAHH” Mika tersentak dangan bangun dari mimpinya,
melihat sesekeliling dan menyadari bahwa dia barusan bermimpi karena nyatanya
dia sedang tidur di kamar dengan jendela terbuka. Angin malam sesekali
berhembus masuk menyisakan dingin.
Ia seolah baru sadar bahwa mimpi bukanlah ingatan yang
utuh, itu hanya bunga tidur yang sesekali datang. Ingatan yang dia miliki juga
tidak utuh, karena mimpi yang terasa nyata ini membuatnya tidak bisa memisahkan
antara ingatan sesungguhnya dengan mimpi. Jadi bisa jadi, ingatan Mika yang
salah. Esa mungkin saja benar-benar
teman masa kecilnya.
“ Pyuh..” Tidak ingin memikirkan ini lebih lama.
Biarkan waktu yang akan menjawabnya, dia harus kembali tidur karena besok ada
jadwal pemotretan.
“ Mika.” Seorang wanita masuk kekamarnya, padahal Mika
sudah hampir kembali terlelap. Rasa kantuk membuat matanya sulit terbuka,
ditambah cahaya lampu yang mati ngebuat Mika ga mengenali wanita itu.
Wanita berambut panjang tergerai, angin yang masuk
dari jendela Mika yang kebuka tadi memainkan rambut itu hingga menutupi wajah
si wanita. Ini mirip dengan yang berada dalam mimpinya, wanita ini…
“ Mika.” Suara itu juga terdengar mirip, dia juga
mengulurkan tangannya dengan sama persis. Mika terpana.
“ Yeye?” Apakah ini juga mimpi, mimpi di dalam mimpi.
Mika menarik tangan itu untuk bisa melihatnya lebih
dekat, tangan yang satunya segera menyalakan lampu meja disampingnya. Wanita
ini mengapa bisa begitu sama persis padahal dia tidak ada hubungannya sama
sekali, rasanya sulit percaya Mika melihat ini dengan kedua matanya.
“ Re?”
Reca meberikan tatapan sepolos anak kucing yang manis,
wajah tanpa dosa yang sangat imut tapi kemudian Mika sadar wajah ini tidak
mungkin orang yang sama dengan gadis dalam mimipinya. Tidak perduli seberapa
miripnya mereka.
__ADS_1
*****