WINTER GLOW

WINTER GLOW
Antara Mimpi dan Kenangan


__ADS_3

“ Oiya Ka, aku bawain ini buat kamu.” Esa mengeluarkan


Sesuatu dari paper bag kecil yang sejak tadi dibawanya. Dia sengaja membawa


benda itu jauh-jauh dari Amerika untuk memberikannya kepada Mika.


“ Apa ini Sa?”


“ Ini mainan kesayangan aku waktu kecil, itu loh yang


kamu liat pas kita VC-an beberapa hari lalu. Inget ga?”


Oh ini mainnya, Mika mengamati dengan seksama. Mainan


itu membuat hatinya bergetar, itu tampak sangat mirip dengan Surprise Dino Eeg


yang dia punya hanya beda warnanya aja dan ini… made in Finlandia. Seolah itu


mengklarifikasi bahwa mainan ini benar-benar sama dengan miliknya, artinya… Esa


benar-benar sahabat masa kecilnya yang selama ini dia cari-cari?


“ Kenapa mainan ini bisa sangat berarti untuk kamu Sa?”


Jika jawabannya seperti yang Mika pikirkan maka benar.


“ Hmmm… waktu aku kecil aku pernah sangat sedih


meninggalkan Finlandia saat liburan natal, lalu merengek sama papa untuk


tinggal lebih lama lagi. Tapi seorang anak laki-laki menghampiriku dan memberikan


ini, agar Esa berhenti menangis. Hahaha, so sweet kan padahal kami ga saling


kenal. Sejak saat itu ini jadi mainan favorit aku.”


“ Seperti apa anak laki-lakinya Sa? Apakah dia berasal


dari Finlandia?”


“ Emm, Esa ga inget jelas sih Ka Karen emang udah lama


bangetkan? Yang Esa inget dia tuh manis dan berasal dari Indonesia makanya kami


berdua bisa saling ngobrol saat itu.”


Ingatan Esa berbeda dengan mimpi yang sering Mika


alami, juga yang artinya berbeda dengan kenangan yang dia miliki. Seingat Mika


teman kecilnya  menangis karena terjatuh


saat bermain dan yang Mika berikan untuk menghiburnya adalah coklat bukan


mainan ini. Surprise Eeg ini Mika berikan saat akan berpisah dan mengikat janji


untuk bertemu lagi, malah bukan hanya memberikan tapi mereka saling bertukar


mainan. Tapi beberapa ingatan itu sangat sesuai, dan tempatnya juga sama.


Mungkinkah ada perbendaan karena Esa tidak terlalu mengingatnya?


“ Apakah kalian pernah bertemu setelah itu?”


“ Esa sangat ingin bertemu lagi tapi hal itu tidak


pernah terjadi. Bagaimana mungkin menemukannya Mika Indonesia kan luas,


hahahaha kamu ini.” Tidak, mereka bertemu lagi setahun setelahnya di Finlandia


waktu liburan berikutnya bahkan menjadi tradisi untuk beberapa tahun saat itu


sebelum mereka benar-benar tidak bisa bertemu.


“ Emangnya kalian ga ada tukaran no HP gitu Sa?”

__ADS_1


“ Hahahahaha… kamu ne lucu banget sih Ka. Ya


enggaklah, orang masih kecil banget juga mana ada kepikiran tukeran no telpon


ato Whats App jaman apa juga waktu itu. Android aja belum ada.” Tidak bukan


bertukar no handphone tapi Ayah Mika memberikan no Handphone itu kepada Ayah


teman masa kecilnya. Karena mereka harus buru-buru berpisah dikarenakan jam


keberangakatan pesawat, dan no itu seolah sebuah jaminan untuk mereka bisa


berkomunikasi setelah berpisah.


“ Setelah itu kamu ga ada balik lagi ke Finlandia Sa?”


“ Pengen sih tapi papa sering pindah tugas waktu itu


jadi ga sempet liburan lagi ke Finlandia, sampe akunya SMP baru kami balik lagi


kesana itupun karena akunya yang merengek ke papa. Hihihi... dengan begonia aku


berpikir bisa menemukan anak laki-laki itu lagi di Finlandia padahal udah


beberapa tahun berlalu. Bahkan ga ada jaminan kalau dia masih inget sama aku,


mungkinkah dia punya perasaan yang sama dengaku.” Ini juga salah.


“ Kalian sekedar bertemu atau berteman setelah


kejadian itu? Ga buat janji gitu untuk kembali ketemuan dimana kek, klo itu


emang sangat berkesan buat kamu Sa harusnya gitu kan?”


“ Ga ada, karena… entahlah Ka sepertinya hanya aku


yang terkesan. Anak laki-laki itu segera pergi dari toko mainan bersama ayahnya


setelah membayar di kasir, dan aku hanya bisa menatapnya hingga dia hilang


kepikiran buat janji diusia sekecil ituh.”


Tidak, Esa bukanlah teman masa kecilnya. Karena


sekalipun Esa tidak begitu ingat tapi harusnya ada detail yang sangat sama


dengan ingatan yang Mika miliki. Jika tidak maka itu artinya ini hanya sebuah


kebetulan yang menyerupai kenangannya, itu saja tidak lebih. Atau mungkinkah


karena Mika yang terlalu berharap, maka semua fakta terlihat samar.


Malamnya Mika kembali bermimpi tentang teman masa


kecilnya…


“ Mikaaaa, kok lama banget sih ayok.”


“ Iya tunggu.”


Dalam mimpi itu mereka berlari bersama menuju sekolah


dasar sambil bergandengan tangan, lalu mereka bermain di taman dengan sangat


bahagia. Seolah film dokumenter yang singkat, mereka tau-tau udah beranjak


dewasa dan masih sering menghabiskan waktu bersama.


“ Mika aku lulus….” Mika tersenyum kemudian mereka


tertawa bersama merayakan keberhasilan itu. Mereka bahkan berpelukan, lalu


makan ice cream bersama.


Mimpi itu sangat indah, didalamnya Mika terlihat

__ADS_1


sangat bahagia menghabiskan waktu bersama dengan Yeye teman masa kecilnya


hingga mereka dewasa. Mereka mengunjungi tempat-tempat indah bersama, makan


bersama dan mengerjakan tugas sekolah bersama tapi wajahnya… tidak begitu


jelas.


“ Mika.” Dia tersenyum sambil perlahan melepaskan


tangan Mika, rambut panjangnya yang tergerai ditiup angin hingga menutupi


sebagian wajahnya. Itu bukan wajah Esa, bukan Esa… lalu siapa…


“HAHH” Mika tersentak dangan bangun dari mimpinya,


melihat sesekeliling dan menyadari bahwa dia barusan bermimpi karena nyatanya


dia sedang tidur di kamar dengan jendela terbuka. Angin malam sesekali


berhembus masuk menyisakan dingin.


Ia seolah baru sadar bahwa mimpi bukanlah ingatan yang


utuh, itu hanya bunga tidur yang sesekali datang. Ingatan yang dia miliki juga


tidak utuh, karena mimpi yang terasa nyata ini membuatnya tidak bisa memisahkan


antara ingatan sesungguhnya dengan mimpi. Jadi bisa jadi, ingatan Mika yang


salah. Esa  mungkin saja benar-benar


teman masa kecilnya.


“ Pyuh..” Tidak ingin memikirkan ini lebih lama.


Biarkan waktu yang akan menjawabnya, dia harus kembali tidur karena besok ada


jadwal pemotretan.


“ Mika.” Seorang wanita masuk kekamarnya, padahal Mika


sudah hampir kembali terlelap. Rasa kantuk membuat matanya sulit terbuka,


ditambah cahaya lampu yang mati ngebuat Mika ga mengenali wanita itu.


Wanita berambut panjang tergerai, angin yang masuk


dari jendela Mika yang kebuka tadi memainkan rambut itu hingga menutupi wajah


si wanita. Ini mirip dengan yang berada dalam mimpinya, wanita ini…


“ Mika.” Suara itu juga terdengar mirip, dia juga


mengulurkan tangannya dengan sama persis. Mika terpana.


“ Yeye?” Apakah ini juga mimpi, mimpi di dalam mimpi.


Mika menarik tangan itu untuk bisa melihatnya lebih


dekat, tangan yang satunya segera menyalakan lampu meja disampingnya. Wanita


ini mengapa bisa begitu sama persis padahal dia tidak ada hubungannya sama


sekali, rasanya sulit percaya Mika melihat ini dengan kedua matanya.


“ Re?”


Reca meberikan tatapan sepolos anak kucing yang manis,


wajah tanpa dosa yang sangat imut tapi kemudian Mika sadar wajah ini tidak


mungkin orang yang sama dengan gadis dalam mimipinya. Tidak perduli seberapa


miripnya mereka.

__ADS_1


*****


__ADS_2