WINTER GLOW

WINTER GLOW
Matahari yang Memergoki Bulan


__ADS_3

Sesampainya di rumah Darmawangsa menceritakan apa yang barusan terjadi pada istrinya, dan buka sang istri langsung khawatir seolah tersambar petir di siang bolong.


“ Pa… Mama takut. Udah ya jangan terlibat lagi. Tidak perduli seberapa suksesnya dongeng itu membantu polisi, itu tidak akan selamanya mulus pa. Akan ada suatu saat dimana seseorang menyadari siapa itu Muliapati, atau seseorang yang akan membocorkan rahasia dongeng-dongeng papa dan jika itu terjadi maka demi Tuhan kita dalam bahaya pa.” Melan spontan menyentuh perutnya yang sedang mengandung anak keduanya, apa yang akan terjadi Melan tidak sanggup membayangkannya.


“ Pa...”


Darmawangsa mengusap wajahnya, hatinya terus berontak untuk memenuhi kepuasan akan gairah adrenalinnya dalam membantu keadilan tapi kali ini tidaklah sama. Dia sama sekali tidak tau orang seperti apa yang hidup di dunia politik yang penuh dengan jalan hitam, sebuah kejahatan besar bagi mereka bukanlah suatu hal yang penting. Dan mereka pasti memiliki pondasi-pondasi raksasa yang akan siap menyangga agar mereka tetap berdiri meski telah dijatuhkan. Sementara di sisi lain, ada keuarga kecilnya yang mungkin akan ikut terseret dengannya jika di amelangkah lebih jauh.


“ Tidurlah ma kita lupakan saja apa yang terjadi hari ini.”


Melan memeluk suaminya dengan perasaan gelisah, begitu juga Darma dalam pelukannya yang penuh keresahan apalagi saat melihat wajah Mika kecil yang tertidur pulas. Seketika dia tidak ingin mengancurkan mimpi indah anak tampannya itu.


*****


Hati memang kadang mengalahkan pikiran, ketika hati lebih dulu tergerak kadang nalar jadi datang terlambat.


“ Bagaimana kabarnya Mas Darma? Sudah lama kita ga ketemu dari terakhir ketemu saat li buran beberapa bulan lalu.”


“ Hahaha iya ya udah lama ternyata.”


“ Dan akhirnya bisa berkunjung ke rumah ternyata tidak begitu jauh dari rumah saya.”


“ Oh istri dan anak ga ikut ne Mas Branu?”


“ Kebetulan hari ini Reca dan mamanya lagi coba hunting sekolah baru karena saya juga baru pindah tugas, jadi sedang ikut ibunya untuk melihat calon sekolahnya. Saya ga bisa nemenin karena mau ketemu klien tadi ternyata setelah saya ingat tempatnya ga jauh dari alamatnya Mika ini.”


“ Wah… kenapa ga bareng Mika aja kan mah sekolahnya?” Melan datang mendekat sambil tersenyum, dia tampak sibuk meletakkan beberapa cangkir kopi.

__ADS_1


“ Pasti akan senang sekali Mika klo bisa satu sekolah dengan Reca kan?” Tambah darma lagi.


“ Klo untuk jarak sekolah dari rumah saya ya lumayan mas Darma. Hahahaha...”


“ Iya.. iya..”


“ Oh sedang hamil anak kedua kah mbak Melan?” Branu menyadari perut Melan yang tampak lebih besar dari terakhir bertemu.


“ Iya...” melan tersenyum bahagia.


“ Wahhh… selamat ya. Bakal Rame rumah ini.”


“ Yah… semoga aja… bayi kedua kami lahir sehat dan tumbuh sehat pula hingga dewasa.”


“ Frianka harus tau kabar bahagia ini, dia pasti seneng banget.”


“ Masih lama loh itu mbak Melan, tiga bulan dari sekarang berarti dan artinya kandungan mbak Melan sudah sangat besar saat itu.”


“ Iya tapi mau gimana lagi mas Branu Mamanya Mika ini ngidamnya mau ke Finlandia mulu. Ga tau deh kenapa, dianya juga klo ditanya ga tau kenapa pengen kesana terus.” Melan hanya tersenyum mengiyakan perkataan suaminya.


“ Ngomong-ngomong rumahnya bagus banget loh ini, dan besar ya… udara dan susananya juga enak. Emang cocok banget ini untuk menambah inspirasi saat menulis.” Branu tampak tulus memuji.


" Klo mau boleh kok kita berkeliling untuk lihat-lihat."


" Wahahahahha... saya jadi ga enak ini."


Mereka pun berkeliling, Darmawangsa langsung jadi guide dadakan yang memandu tour di rumahnya itu. Dia tidak bisa menutupi berasa bangga atas dsign rumah yang dibuatnya sendiri, begitu juga halamannya. Darmawangsa terlalu menegaskan seleranya.

__ADS_1


" Ini ruangan favorit saya, karena dalam satu ruangan ini memiliki makna berbeda setiap sudutnya. Nah ini bisa dilihat..." Ruangan itu berukuran cukup besar, memiliki tema yang berbeda di keempat sudutnya. Sekilas melihatnya orang akan paham bahwa ruangan itu diciptakan untuk keluarga ini menghabiskan waktu bersama. Satu sudut terlihat kerajaan mainan yang dirangkai sedemikian rupa, menciptakan spot yang langsung dikenali bahwa itu milik Mika. Sudut satunya lagi terdapat meja kerja seorang wanita pengamat fashion yang terdapat pernak pernik soal fashion pula, lalu sebelahnya ada tempat tidur bayi yang dihias dengan super gemes menandakan sudut itu milik calon bayi yang sedang dikandung Melan. Dan terakhir sudut yang dirasa paling karismatik, yaitu sudut yang dipenuhi deretan buku yang tersusun rapi selayaknya perpustakaan pribadi. Terdapat meja kerja juga dengan beberapa alat untuk membuat sketsa gambar.


Mata Branu tambah sangat kagum dengan sudut itu, dia merasa sudut ini sangat mewakili kepribadian Darmawangsa yang selalu berhasil memberi kesan seorang pria berwawasan luar yang sangat cerdas.


" Ini..."


Mata Branu Sanjaya tidak sengaja menangkap deretan buku dongeng yang tersusun rapi tak jauh dari tempat dia berdiri, dia mengenali buku-buku itu dan juga sudah membaca beberapa diantaranya. Buku yang begitu legendaris dalam waktu singkat, buku yang terlihat sangat remeh sebelumnya tapi siapa sangka memiliki peran besar dalam menyebarkan gambar wajah target operasi kepolisian. Buku dongeng karangan Muliapati.


Dan sebagai seorang pengacara yang mendengar cerita tentang isu yang berkembang mengenai dongeng Muliapati itu secara refleks mendekati rak buku dan ingin melihat sendiri bagaimana bentuk Dongeng terlaris dipasaran saat ini.


“ Dongeng Muliapati...” Darma dan istrinya saling bertatapan, napas mereka seketika terasa seperti tidak punya kemerdekaan untuk menghirup udara dengan bebas. Apalagi saat melihat Branu mulai meraih buku-buku itu dan melihat-lihat isi dalamnya.


“ Kamu penggemarnya Muliapati kah mas… ini banyak sekali.. bahkan seri juga lengkap.”


" Ah ya... buku itu buku dongeng yang sering saya bacakan untuk Mika setiap kali dia akan tidur." Darma tersenyum beku, tidak bisa menemukan peralihan yang tepat untuk situasi canggung ini. Dia juga menyesali mengapa mengajak Branu berkeliling rumahnya trus dengan bodohnya mengajaknya ke ruangan ini, padahal sebelumnya Darma tidak Bernah mengajak kerabat dekatnya sekalipun.


Branu terpaku mata seolah memaksanya menoleh pada setumpuk sketsa diatas meja, baru sadar kalo Darmawangsa juga seorang penulis dongeng dan kelihatannya dia juga melukis ilustrasi dongengnya sendiri. Tapi saat Branu melihat seluruh isi rak buku, justru tidak ada satupun buku dongeng yang terdapat nama Darmawangsa sebagai penulisnya. Wajah Branu berubah serius.


“ Iya, dongeng karangan Muliapati sangat bagus dibacakan untuk anak-anak. Saya pernah membacanya dan itu isinya bagus sekali, banyak pesan moral yang edukatif untuk anak-anak." Darmawangsa tersenyum kikuk.


" Sejak kapan mas punya kebiasaan membacakan dongeng untuk anak sebelum tidur?"


"Ehmmm sejak Mika masih usia satu tahun lah kurang lebih." Branu kembali terdiam. Bukankah karangan Muliapati baru keluar setahun belakangan ini? Batinnya.


" Muliapati itu, anda kah? Darmawangsa Setiahaja." Branu menatap lurus ke arah Darma Yang seketika langsung keringat dingin begitu Melan istri nya.


*****

__ADS_1


__ADS_2